Anda di halaman 1dari 17

Presentasi Kasus

GLAUKOMA SEKUNDER
e.c. Miopia tinggi
Oleh:
RR Ardianti Rachma W.
(1102011247)
Pembimbing:
dr. Nasrudin Sp.M

Kepaniteraan Klinik Mata


7 September 10 Oktober 2015
RSUD. Pasar Rebo
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Jakarta

Identitas Pasien
No. Rekam Medik
: 63-39-49
Nama Pasien
: Ny. SA
Umur
: 38 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Cipayung
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Agama
: Islam
Tanggal Pemeriksaan : 16 September 2015

Anamnesis
Keluhan utama : Pusing kepala sebelah kiri
Keluhan tambahan :
Mata terkadang gatal
Ada bayangan hitam yang hilang timbul, ikut bergerak saat mata
bergerak

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang keluhan sakit kepala pada sebelah kiri, dimulai
dari bagian mata menjalar ke pelipis kiri. Pasien mengaku bahwa
pasien memiliki (minus) -9 D pada mata kiri dan -5 pada mata
kanan. Saat merasa pusing, pasien mengaku ada bayangan
hitam yang ikut bergerak saat mata bergerak sejak 3 tahun yang
lalu. Bayangan hitam tersebut menghilang dengan sendirinya dan
timbul kembali saat sakit kambuh. Pasien kontrol kembali 1
minggu setelah diberikan obat, dan menyakatakan rasa sakit
kepalanya sudah berkurang dibandingkan seminggu yang lalu.
Pada tahun 1998 pasien menyakatan bahwa ia didiagnosis
menderita Glaukoma tetapi tidak rajin meminum obat yang
diberikan dokter. Pasien menyatakan mulai rajin minum obat
pada tahun 2000 awal.

Riwayat penyakit dahulu : Pasien menyangkal adanya


riwayat hipertensi dan penyakit gula.
Riwayat penyakit keluarga: Pasien menyatakan ayahnya
memiliki penyakit hipertensi. Pasien juga menyatakan
keluarganya memiliki miopia (minus).

Status generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Kepala
Mata

: Baik
: Kompos Mentis
:120/ 80 mmHg
: 86 x/menit
: 37,5C
: Norcephal
: Liat status oftamologi

Status Oftalmologi
OD

OS

Visus tanpa koreksi


Visus dengan koreksi

1/6
6/15 s 5,50 c -2,00

50/60
6/40 s -9,00 c -1,00

TIO palpasi
Tonometri (7,5)

N/P
Pemeriksaan I: 10 =
10,9
Pemeriksaan II: 13,5
= 5,6

N/P
Pemeriksaan I: 4 =
30,4
Pemeriksaan II: 10 =
10,9

Kedudukan bola mata ortoforia

ortoforia

Gerakan otot
ekstraokuler

Bebas ke segala arah

Bebas ke segala arah

Segmen anterior

Tidak ditemukan
kelainan

Tidak ditemukan
kelainan

Segmen posterior

Sulit untuk dinilai

Sulit untuk dinilai

Diagnosis kerja
Glaukoma sekunder e.c. Miopia tinggi

Diagnosis banding
Glaukoma sudut terbuka akut primer

Pemeriksaan penunjang
Tonometri schiotz
Oftalmoskopi
Pemeriksaan lapang pandang

Terapi
FARMAKOLOGI:
Glaukoma: Timolol, Asetazolamide

NON FARMAKOLOGI:
Edukasi:
Memberikan pemahaman pada pasien bahwa obat yang
diberikan dapat menjaga agar tidak munculnya gejala glaukoma.
Memberi pemahaman tentang pentingnya terus memakai
kacamata agar kerja lensa mata tidak terlalu berat yang nantinya
akan menimbulkan gejala glaukoma.

Prognosis
Ad Vitam
Ad Sanationam
Ad Functionam
Ad Cosmetican

: ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang
ditandai oleh pencekungan (cupping) diskus optikus dan
pengecilan lapangan pandang, biasanya diserati
peningkatan tekanan intraokular. Pada sebagian besar
kasus, glaukoma tidak disertai dengan penyakit mata
lainnya.
Peningkatan tekanan intraokular yang merupakan
manifestasi dari penyakit mata lain disebut glaukoma
sekunder. Penatalaksanaan dilakukan untuk mengontrol
tekanan intraokular medikamentosa dan bedah, juga
mengatasi penyakit yang menyebabkannya. Glaukoma
sekunder dapat disebabkan oleh perubahan lensa, kelainan
uvea, trauma, bedah, rubeosis, steroid, dan lain-lain.

Definisi dan Patofisiologi


Glaukoma fakomorfik, seperti yang digambarkan oleh
terminologinya (fako: lensa; morfik: bentuk) merupakan
glaucoma yang berkembang sekunder dikarenakan oleh
perubahan bentuk lensa.
Glaukoma dengan terhalangnya pupil dikarenakan oleh
perubahan pada ukuran dan posisi permukaan anterior
lensa. Sudut tertutup merupakan akibat dari mekanisme
terhalangnya pupil, atau karena diafragma lensa-iris yang
salah penempatannya (luksasi).

Etiologi dan Faktor Predisposisi


Beberapa faktor predisposisi glaukoma fakomorfik adalah:
Katarak intumesen
Katarak traumatika
Perkembangan katarak senilis yang cepat

Glaukoma fakomorfik lebih umum terjadi pada mata hiperopia


yang kecil dengan lensa yang besar/cembung dan sudut bilik
mata yang dangkal.
Serangan akut sudut tertutupnya dapat dicetuskan oleh dilatasi
pupil pada penerangan yang suram. Dilatasi menjadi midposisi
merelaksasikan iris perifer sehingga menjadi terdorong ke
depan, berkontak dengan jaringan trabekular, mengakibatkan
terhalangnya pupil. Sudut tertutup juga dapat difasilitasikan oleh
penekanan yang berasal dari posterior lensa dan pembengkakan
lensa. (Dapat terjadi pada miopia)
Kelemahan zonular yang merupakan akibat dari ekfoliasi, trauma
atau faktor usia juga berperan dalam menyebabkan glaukoma
fakomorfik.

Gejala dan Tanda


Pasien yang menderita glaukoma fakomorfik mengeluh nyeri
yang akut, pandangan kabur, melihat bayangan seperti
pelangi (halo) disekitar cahaya, mual, dan muntah.
Pasien secara umum mengalami penurunan visus sebelum
episode akut dikarenakan adanya riwayat katarak.
Tingginya tekanan intraokuler (TIO) lebih dari 35 mmHg
Pupil mid dilatasi, ireguler.
Edema kornea
Injeksi konjungtiva dan silier
Bilik mata depan yang dangkal
Pembesaran lensa dan letak lensa yang lebih ke depan
Pembentukan katarak yang tidak equal pada kedua mata

Tata Laksana
Penatalaksanaan glaukoma fakomorfik bertujuan untuk
menurunkan tekanan intraokuler secara cepat untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut pada saraf optik, kornea,
dan untuk menjegah terbentuknya sinekia. Penurunan
tekanan intraokuler penting dalam mempersiapkan tindakan
iridotomi laser, yang dapat memulihkan terhalangnya pupil
yang mengakibatkan glaukoma.
Penatalaksanaan inisial harus ditujukan pada pemulihan
sudut tertutupnya yaitu dengan beta-blocker, alpha 2adrenergic agonists, dan carbonic anhydrase inhibitor.
Penatalaksanaan sekunder dimulai dengan iridotomi laser
untuk memulihkan terhalangnya pupil.

Terima Kasih