Anda di halaman 1dari 48

Oleh:

Rico Mardiansyah

Pokok Pembahasan

DASAR HUKUM
Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah.
Undang - Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan.
Undang - Undang Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56
Tahun 2014 tentang Klasifikasi
dan
Perizinan Rumah Sakit,

KEBIJAKAN
PEMBAGIAN URUSAN
PEMERINTAHAN
BIDANG UPAYA KESEHATAN

PEMBAGIAN URUSAN
PEMERINTAH PUSAT DAN
DAERAH

Undang-Undang No.23 Tahun 2014 Tentang


Pemerintahan Daerah
Urusan Pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan
absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan
pemerintahan umum.
Urusan pemerintahan absolut adalah Urusan Pemerintahan
yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.
Urusan
pemerintahan
konkuren
adalah
Urusan
Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah
kabupaten/kota.

PEMBAGIAN
URUSANPEMERINTAHAN
BIDANG UPAYA KESEHATAN
Pembagian urusan pemerintahan Bidang Upaya
Kesehatan
merupakan
bagian
dari
Urusan
Pemerintahan Konkuren, yang kemudian mendasari
Pembagian Perizinan Rumah Sakit.

PEMBAGIAN URUSANPEMERINTAHAN
DALAM PERIZINAN RUMAH SAKIT
PEMERINTAH PUSAT

PEMDA PROVINSI

PEMDA
KABUPATEN/KOTA

Penerbitan
izin
rumah sakit kelas A
dan
fasilitaspelayanan
kesehatan
penanaman modal
asing (PMA) serta
fasilitas
pelayanan
kesehatan
tingkat
nasional.

Penerbitan
izin
rumah sakit kelas
B dan fasilitas
pelayanan
kesehatan tingkat
Daerah provinsi.

Penerbitan
izin
rumah sakit kelas
C dan D dan
fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat
Daerah.

KEBIJAKAN
PERUMAHSAKITAN
(Peraturan Menteri Kesehatan No.56 tahun 2014
Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit)

RUMAH SAKIT
Undang-Undang 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan


kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat.
.
9

BENTUK RUMAH SAKIT


Berdasarkan
bentuknya,
dibedakan menjadi:

Rumah

Sakit

BENTUK RUMAH SAKIT


Rumah Sakit menetap
rumah sakit yang didirikan secara permanen untuk
jangka waktu lama untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perseorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan
dan gawat darurat.
Rumah Sakit bergerak
Rumah Sakit yang siap guna dan bersifat sementara
dalam jangka waktu tertentu dan dapat dipindahkan
dari satu lokasi ke lokasi lain.
# ContohBus, kapal laut, karavan, gerbong kereta api,
atau kontainer.

BENTUK RUMAH SAKIT


Rumah Sakit lapangan
Rumah Sakit yang didirikan di lokasi tertentu
selama kondisi darurat dalam pelaksanaan
kegiatan tertentu yang berpotensi bencana
atau selama masa tanggap darurat
bencana.
Rumah Sakit lapangan dapat berbentuk
tenda di ruang terbuka, kontainer, atau
bangunan permanen yang difungsikan
sementara sebagai Rumah Sakit.

KEPEMILIKAN RUMAH SAKIT

Rumah Sakit dapat


diselenggarakan oleh:

didirikan

dan

RUMAH SAKIT
PEMERINTAH
Rumah Sakit yang didirikan dan diselenggarakan oleh
Pemerintah merupakan unit pelaksana teknis dari instansi
Pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya di bidang
kesehatan ataupun instansi Pemerintah lainnya.
Instansi Pemerintah lainnya meliputi:
a.Kepolisian;
b.Tentara Nasional Indonesia; dan
c.Kementerian atau lembaga pemerintah non kementerian.

RUMAH SAKIT SWASTA


Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta harus berbentuk
badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di
bidang perumahsakitan.
Badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di
bidang perumahsakitan Dikecualikan bagi Rumah Sakit
publik yang diselenggarakan oleh badan hukum yang
bersifat nirlaba.

Sifat Nirlaba dibuktikan dengan laporan


keuangan yang telah diaudit oleh akuntan
publik.

RUMAH SAKIT
PENANAMAN MODAL ASING
Rumah Sakit penanaman modal asing merupakan Rumah Sakit
dengan pelayanan spesialistik dan subspesialistik (Rumah Sakit
Kelas A atau Kelas B)
Peraturan Presiden N0.39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang
Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan
Persyaratan di Bidang Penanaman Modal
Rumah Sakit Penanaman Modal dari Seluruh Dunia kecuali
Asean Maksimal 67% dan dapat dilakukan di seluruh
Indonesia
Rumah Sakit Penanaman Modal Asing dari Negara Asean
Maksimal 70% dapat dilakukan Diseluruh Ibukota Provinsi
Indonesia Timur, kecuali Makassar dan Manado

PERIZINAN RUMAH SAKIT


Rumah sakit wajib memiliki izin

Izin Mendirikan Rumah Sakit


izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada
instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah atau badan swasta
yang akan mendirikan bangunan atau mengubah fungsi
bangunan yang telah ada untuk menjadi rumah sakit

Izin Operasional Rumah Sakit


izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai kelas
rumah sakit kepada penyelenggara/pengelola rumah sakit untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan di rumah sakit setelah
memenuhi persyaratan dan standar yang berlaku

PENGAJUAN IZIN MENDIRIKAN


DAN IZIN OPERASIONAL

Dalam hal ini Rumah Sakit dimungkinkan dikelola oleh


Badan Hukum lain yang ditunjuk oleh Pemilik Rumah Sakit.

KEWENANGAN PEMBERIAN
IZIN RUMAH SAKIT SWASTA
Undang-Undang No.44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit
Pasal 26 ayat (1)
Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit
Penanaman Modal Asing atau Penanaman Modal
Dalam Negeri diberikan oleh Menteri setelah
mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi.

PENDELEGASIAN WEWENANG

Menteri mendelegasikan pemberian Izin Mendirikan dan Izin


Operasional Rumah Sakit kelas B penanaman modal dalam negeri
kepada pemerintah daerah provinsi setelah mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada
Pemerintah Daerah kabupaten/kota.

Menteri mendelegasikan pemberian Izin Mendirikan dan Izin


Operasional Rumah Sakit kelas C dan Rumah Sakit kelas D
penanaman modal dalam negeri kepada pemerintah daerah
kabupaten/kota setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
kabupaten/kota.

Dengan demikian atas Pendelegasian tersebut Kementerian


Kesehatan dapat melakukan pengkajian terhadap kesesuaian
pemberian izin dan klasifikasi bagi suatu Rumah Sakit.

KELASIFIKASI
RUMAH SAKIT UMUM

KLASIFIKASI
RUMAH SAKIT KHUSUS

PENETAPAN KELASIFIKASI
RUMAH SAKIT

Penetapan klasifikasi Rumah Sakit


didasarkan pada:
pelayanan;
sumber daya manusia;
peralatan; dan
bangunan dan prasarana.

SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber Daya Manusia Rumah Sakit terdiri dari:

a.Tenaga Medis;
b.Tenaga Kefarmasian;
c.Tenaga Keperawatan;
d.Tenaga Kesehatan Lain; dan
e.Tenaga Non Kesehatan.

TENAGA MEDIS
Klasifikasi
RS

Medik
Dasar

Gigi dan
Mulut

Spesialis
Dasar

Spesialis
Penunjang

Spesialis
Lain

Subspesialis

Spesialis
Gigi dan
Mulut

18 dr
umum

4 drg
umum

6 dr
spes/yan
spes dasar

3 dr
spes/yan
spes
penunjang

3 dr
spes/yan
spes lain

2 dr
subspes/
yan
subspes

3 drg
spes/yan
spes gilut

12 dr
umum

3 drg
umum

3 dr
spes/yan
spes dasar

2 dr
spes/yan
spes
penunjang

1 dr
spes/yan
spes lain

1 dr
subspes/
yan
subspes

1 drg
spes/yan
spes gilut

9 dr
umum

2 drg
umum

2 dr
spes/yan
spes dasar

1 dr
spes/yan
spes
penunjang

1 drg
spes/yan
spes gilut

4 dr
umum

1 drg
umum

1 dr
spes/yan
spes dasar

TENAGA KEFARMASIAN
Klasifi
kasi
RS

Ka Inst
Farmasi

Rawat
Jalan

Rawat Inap

IGD

ICU

1 orang
apoteker

5 orang
apoteker

5 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

4 orang
apoteker

4 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang
apoteker

2 orang
apoteker

4 orang
apoteker

1 orang
apoteker

1 orang apoteker
(merangkap)

Koordinator
Koordinator
Penerimaan dan
Produksi
Distribusi

1 orang apoteker
(merangkap)

1 orang apoteker
(merangkap)

TENAGA KEPERAWATAN
Klasifikasi
Rumah Sakit Umum

Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan

Sama dengan jumlah TT pada rawat inap

Sama dengan jumlah TT pada rawat inap

2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur

2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur

TENAGA KESEHATAN LAIN


DAN
TENAGA NON KESEHATAN

Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan


tenaga non kesehatan disesuaikan dengan
kebutuhan pelayanan Rumah Sakit
Peran Tenaga Non Kesehatan
Sesuai dengan perkembangan Kebutuhan kesehatan dan tuntutan
terhadap suatu Standar dan Kualitas Pelayanan Kesehatan yang baik
serta semakin terbukanya Informasi Publik, maka akan sangat mungkin
untuk memunculkan permasalahan/perselisihan antara Pasien dengan
Rumah Sakit. Maka peran Perangkat Kehumasan dan Perangkat
Bagian Hukum di Rumah Sakit memerankan peran penting dalam
meminimalisir permasalahan/perselisihan di Rumah Sakit.

PROSES PERIZINAN RUMAH


SAKIT SEBELUM
DITETAPKANNYA PERMENKES
NO.56 TAHUN 2014

1 (satu) tahun

5 (Lima) tahun

IZIN MENDIRIKAN

IZIN MENDIRIKAN
Izin Mendirikan diberikan untuk mendirikan
bangunan baru atau mengubah fungsi
bangunan lama untuk difungsikan
sebagai Rumah Sakit.
Pendirian bangunan dan pengalihan fungsi
bangunan harus dimulai segera setelah
mendapatkan Izin Mendirikan.

PERSYARATAN
IZIN MENDIRIKAN
1. fotokopi akta pendirian badan hukum yang
sah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecuali instansi
Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
2. studi kelayakan;
3. master plan;
4. Detail Engineering Design;
5. dokumen pengelolaan dan pemantauan
lingkungan;

LANJUTAN...
6. izin undang-undang gangguan (Hinder
Ordonantie/HO);
7. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
8. Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
9. rekomendasi dari pejabat yang berwenang di
bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
provinsi/kabupaten/kota
sesuai
dengan
klasifikasi Rumah Sakit.
10.fotokopi sertifikat tanah/bukti kepemilikan
tanah atas nama badan hukum pemilik
rumah sakit;

PERSYARATAN
IZIN OPERASIONAL
1. Izin Mendirikan Rumah Sakit, bagi permohonan
Izin Operasional untuk pertama kali;
2. profil Rumah Sakit, meliputi visi dan misi, lingkup
kegiatan, rencana strategi, dan struktur organisasi;
3. isian instrumen self assessment sesuai klasifikasi
Rumah Sakit yang meliputi pelayanan, sumber daya
manusia, peralatan, bangunan dan prasarana;
4. gambar desain (blue print) dan foto bangunan serta
sarana dan prasarana pendukung;
5. izin penggunaan bangunan (IPB) dan sertifikat laik
fungsi;

LANJUTAN...
6. dokumen
pengelolaan
lingkungan
berkelanjutan;
7. daftar sumber daya manusia;
8. daftar peralatan medis dan nonmedis;
9. daftar sediaan farmasi dan alat kesehatan;
10. berita acara hasil uji fungsi peralatan kesehatan
disertai kelengkapan berkas izin pemanfaatan
dari instansi berwenang sesuai dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
untuk peralatan tertentu; dan
11. dokumen administrasi dan manajemen.

LANJUTAN....
Dokumen administrasi dan manajemen meliputi:
1. badan hukum atau kepemilikan;
2. peraturan internal Rumah Sakit (hospital
bylaws);
3. komite medik;
4. komite keperawatan;
5. satuan pemeriksaan internal;
6. standar prosedur operasional
7. surat izin praktik atau surat izin kerja tenaga
kesehatan;

DOKUMEN PENDUKUNG
AKREDITASI KARS & JCI

Pengaturan Yang Baik pada HOSPITAL BYLAWS akan


memberikan Landasan Hukum yang jelas bagi
penyelenggaraan Rumah Sakit dan mempengaruhi
terciptanya Good Governance dan Patient Safety di
Rumah Sakit

KETENTUAN
IZIN OPERASIONAL
Izin Operasional berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
Dalam hal masa berlaku Izin Operasional berakhir dan
pemilik Rumah Sakit belum mengajukan perpanjangan
Izin Operasional, Rumah Sakit harus menghentikan
kegiatan pelayanannya kecuali pelayanan gawat
darurat dan pasien yang sedang dalam perawatan
inap.
Apabila Rumah Sakit tetap menyelenggarakan pelayanan
tanpa Izin Operasional, maka dikenakan sanksi pidana
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

ALUR DAN BATAS WAKTU


PENERBITAN IZIN

IZIN OPERASIONAL

ALUR DAN BATASAN WAKTU


IZIN OPERASIONAL
Tim visitasi melakukan visitasi dalam rangka penilaian kesiapan
dan kelaikan operasional Rumah Sakit paling lama 14 (empat
belas) hari kerja sejak penugasan.
Tim visitasi harus menyampaikan laporan hasil visitasi paling lama
7 (tujuh) hari kerja setelah visitasi dilakukan.
Rekomendasi diberikan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak
laporan tim visitasi diterima.
Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak rekomendasi
diterima, Menteri, Pemerintah Daerah provinsi atau Pemerintah
Daerah kabupaten/kota sebagai pemberi izin harus menetapkan
untuk memberikan atau menolak permohonan Izin Operasional.

PENETAPAN
IZIN OPERASIONAL
pemberi izin menerbitkan Izin Operasional berupa surat
keputusan dan sertifikat yang memuat kelas Rumah Sakit
dan jangka waktu berlakunya izin.
KEPUTUSAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA
NOMOR : .....
TENTANG
IZIN OPERASIONAL RUMAH SAKIT _______
SEBAGAI RUMAH SAKIT UMUM/KHUSUS KELAS A/B/C/D

PERUBAHAN
IZIN OPERASIONAL
Setiap Rumah Sakit yang telah memiliki Izin
Operasional dapat mengajukan permohonan
perubahan Izin Operasional secara tertulis apabila
terjadi perubahan.

KEBIJAKAN ALOKASI
TEMPAT TIDUR
Pelayanan rawat inap harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai
berikut:
jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
Pemerintah;
jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 20% (dua
puluh persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
swasta;
jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima
persen) dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik
Pemerintah dan Rumah Sakit milik swasta

PENAMAAN RUMAH SAKIT


Penamaan Rumah Sakit tidak boleh menggunakan kata
internasional, international, kelas dunia, world class, global
dan/atau yang disebut nama lainnya yang bermakna
sama.
Penamaan Rumah Sakit milik pemerintah dan pemerintah
daerah dilarang menggunakan nama orang yang masih
hidup.
Penamaan Rumah Sakit harus memperhatikan nilai dan
norma agama, sosial budaya, dan etika

REGISTRASI DAN AKREDITASI


&
KETERBUKAAN INFORMASI
Setiap Rumah Sakit yang telah mendapakan
Operasional harus diregistrasi dan diakreditasi.

Izin

Registrasi dan akreditasi merupakan persyaratan


untuk perpanjangan Izin Operasional dan Perubahan
kelas.

Sebagai ketebukaan informasi bagi Masyarakat maka,


Sertifikat Izin Operasional Rumah Sakit harus dipasang
di ruang yang mudah terlihat oleh masyarakat.

PENUTUP
Akses
terhadap
Fasilitas
Pelayanan
kesehatan yang layak dan berkualitas
merupakan hak setiap orang yang dijamin
dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945,
Dengan demikian untuk meningkatkan mutu
pelayanan rumah sakit dan kepastian
layanan
bagi
masyarakat,
dilakukan
penyempurnaan terhadap sistem perizinan
dan klasifikasi rumah sakit

rico.mardiansyah@gmail.com
08176544824