Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah angka mengenai
pengaruh pemberian ektrak kedelai (Glycine max L.) pada peningkatan
jumlah eritosit dan kadar hemoglobin. Penelitian dilakukan dengan metode
eksperimen dan menggunakan 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3
kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari enam ekor tikus.
Setiap kelompok tikus diberikan perlakuan berupa pemberian ekstrak
kacang kedelai dengan dosis yang berbeda setelah penyuntikan anilin
selama dua hari berturut-turut
Kelompok perlakuan D0 (kontrol) merupakan kelompok yang
hanya diberikan aquabides dan tidak diberi ekstrak kacang kedelai.
Kelompok perlakuan D1 diberi ekstrak kacang kedelai 2000 mg/kg
bb,sedangkan kelompok perlakuan D2 diberi ekstrak kacang kedelai 2250
mg/kg bb. Adapun kelompok perlakuan D3 merupakan kelompok tikus yang
diberi ekstrak kacang kedelai 2500 mg/kg bb. Pemberian ekstrak kacang
kedelai dilakukan 1 hari setelah penyuntikan anilin selama 2 hari berturutturut. Pengambilan sampel darah dilakukan selama 7 hari. Dari sampel
darah diperoleh data sebagai berikut.
a. Jumlah eritrosit

30

31

Hasil analisis penelitian diperoleh data mengenai rata-rata persentase


peningkatan jumlah eritrosit yang dihitung dari tiap sampel darah tikus
selama 7 hari yang kemudian dicari rata-ratanya.Perhitungan rata-rata
dilakukan pada semua perlakuan yaitu perlakuan D0 (kontrol), perlakuan
D1 (2000 mg/kg bb), D2 (2250 mg/kg bb) dan perlakuan D3 (2500 mg/kg
bb) yang dapat dilihat tabel 2 dibawah ini.
Tabel. 2
Jumlah eritrosit dalam darah Tikus
Dosis
mg/kg bb

Mean

Std. Deviation

Minimum

Maximum

0 (kontrol)

5.1197E6

2.32577E5

4834285.71

5397142.86

2000

6.0583E6

1.58895E5

5912857.14

6362857.14

2250

6.2831E6

2.30560E5

5992857.14

6627142.86

2500

7.4755E6

2.02427E5

7180000.00

7780000.00

24

6.2342E6

8.78834E5

4834285.71

7780000.00

Total

32

Gambar 5. Grafik rata-rata peningkatan eritrosit


b. Kadar Hemoglobin
Penghitungan kadar hemoglobin dari penelitian diperoleh data
mengenai rata-rata peningkatan kadar hemoglobin yang dihitung dari tiap
sampel darah tikus selama 7 hari yang kemudian dicari rata-rata dari
pemberian ekstrak kacang kedelai dengan perlakuan D0

(kontrol),

perlakuan D1 (2000 mg/kg bb), D2 (2250 mg/kg bb) dan perlakuan D3


(2500 mg/kg bb) dapat dilihat tabel 3.
Tabel 3
Kadar Hemoglobin dalam darah Tikus
Dosis
Mg/kg bb

Mean

Std. Deviation

Minimum

Maximum

0 (kontrol)

12.1638

.53734

11.28

12.85

2000

10.6150

.38146

10.14

11.00

2250

10.7350

.27877

10.28

11.00

2500

11.9725

.62216

11.28

12.85

Total

24

11.3716

.84168

10.14

12.85

33

Gambar 6. Grafik rata-rata peningkatan kadar hemoglobin

2. Uji Prasyarat Penelitian


a. Uji Normalitas
1. Jumlah eritrosit
Uji normalitas data menggunakan SPSS versi 21.0 dengan kriteria
pengujian jika nilai sign > dari 0.05 maka data tersebut normal, tapi
sebaliknya jika data sign < 0.05 maka data tersebut tidak normal.
Hasil pengujian normalitas dengan menggunakan uji kolmogorovSmirnov diperoleh nilai signifikan0,816 yang lebih besar dari 0,05, oleh
karena itudapat disimpulkan bahwa data jumlah eritrosit darah
berdistribusi normal
2. Hemoglobin

34

Uji normalitas data menggunakan SPSS versi 21.0 dengan kriteria


pengujian jika nilai sign > dari 0.05 maka data tersebut normal, dan
sebaliknya jita data sign < 0.05 maka data tersebut tidak normal.
Hasil pengujian normalitas dengan menggunakan uji kolmogorovSmirnov diperoleh nilai signifikan 0, 379 lebih besar dari 0,05, oleh karena
itu dapat disimpulkan bahwa data peningkatan kadar hemoglobin darah
berdistribusi normal
b. Uji Homogenitas
1.

Jumlah eritrosit
Uji homogenitas variansi dilakukan untuk mengetahui homogenitas

keempat variansi data jumlah eritrosit dengan menggunakan SPSS versi


21.0 dengan kriteria pengujian jika nilai sign > dari 0,05 maka varians
sampel tersebut homogen, dan sebaliknya jika data sign < 0,05 maka
varians sampel tersebut tidak homogen. Hasil menggunakan uji (Lavenne
test) diperoleh nilai signifikan 0,569 > 0,05. Data uji homogenitas keempat
variansi menunjukkan bahwa jumlah eritrosit bervariasi homogen (pada
lampiran 5)

Test of Homogeneity of Variances


HASIL
Levene Statistic
.690

2.

df1

df2
3

Kadar Hemoglobin

Sig.
20

.569

35

Uji homogenitas variansi dilakukan untuk mengetahui homogenitas


keempat variansi data jumlah eritrosit dengan menggunakan SPSS versi
21.0 dengan kriteria pengujian jika nilai sign > dari 0,05 maka varians
sampel tersebut homogen, dan sebaliknya jika data sign < 0,05 maka
varians sampel tersebut tidak homogen. Hasil menggunakan uji (Lavenne
test) diperoleh nilai signifikan 0,088 > 0,05. Data uji homogenitas keempat
variansi menunjukkan bahwa jumlah eritrosit bervariasi homogen (pada
lampiran 6)
Test of Homogeneity of Variances
HASIL
Levene
Statistic
2,301

df1

df2
5

18

Sig.
,088

3. Uji Hipotesis
a. Jumlah eritrosit
Memalui uji prasyarat data jumlah eritrosit berdistribusi normal
dan homogen sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan uji One
way ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian
ekstrak kacang kedelai terhadap jumlah eritrosit dalam darah tikus
putih. Dari perhitungan uji ANOVA maka didapat hasil sebagai berikut.

Tabel 4.
Rangkuman uji Anova data jumlah eritrosit

36

Sum of Squares
Between Groups
Within Groups
Total

Df

Mean Square

11.799

3.933

4.495

20

.225

16.294

23

F
17.498

Sig.
.000

Dari tabel diatas didapat F hitung sebesar 17.498dengan tingkat


signifikan 0,000, artinya probabilitas atau tingkat signifikansi sebesar
17.498 > 0,05, maka dari uji Anova terlihat ada perbedaan yang bermakna
pada jumlah eritrositdari keempat kelompok penelitian. Berdasarkan hasil
uji statistik Anova dilanjutkan dengan uji Post Hoc.
Uji Post Hoc dilakukan untuk mengetahui kelompok mana yang
berbeda dan yang tidak berbeda. Hal ini dapat dilakukan bila F hitung
menunjukkan adanya perbedaan.
Tabel 5
Uji Post Hoc

37

Multiple Comparisons

95% Confidence Interval

(J)
(I)

PERL

Mean

PERLAK AKUA Difference (IUAN

T0

T1

-9.38595E5 1.20234E5

.000

-1.1894E6 -687791.7260

T2

-1.16336E6 1.20234E5

.000

-1.4142E6 -912553.8688

T3

-2.35574E6 1.20234E5

.000

-2.6065E6

-2.1049E6

T0

9.38595E5 1.20234E5

.000 687791.7260

1.1894E6

T2

-2.24762E5 1.20234E5

.076 -475565.6550

26041.3694

T3

-1.41714E6 1.20234E5

.000

T0

T1

T2

T3

J)

Std. Error

Sig.

Lower Bound Upper Bound

-1.6679E6

-1.1663E6

1.16336E6 1.20234E5

.000 912553.8688

1.4142E6

T1

2.24762E5 1.20234E5

.076 -26041.3694 475565.6550

T3

-1.19238E6 1.20234E5

.000

T0

2.35574E6 1.20234E5

.000

2.1049E6

2.6065E6

T1

1.41714E6 1.20234E5

.000

1.1663E6

1.6679E6

T2

1.19238E6 1.20234E5

.000 941577.2261

1.4432E6

-1.4432E6 -941577.2261

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Hasil uji Post Hoc menunjukkan bahwa jumlah eritrosit tiap-tiap


perlakuan tidak adaperbedaan nyata. Hal tersebut dikarenakan pemberian
tiap-tiap perlakuan tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap
peningkatan eritrosit. Maka data peningkatan eritrosit tidak memiliki
perbedaan yang signifikan.

b. Kadar Hemoglobin

38

Memalui uji prasyarat data jumlah eritrosit berdistribusi normal dan


homogen sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan uji One way
ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian ekstrak
kacang kedelai terhadap jumlah eritrosit dalam darah tikus putih. Dari
perhitungan uji ANOVA maka didapat hasil sebagai berikut.
Tabel 6.
Anova kadar Hemoglobin
ANOVA

Sum of
Squares
Between

Df

Mean Square

1.690E13

5.632E12

Within Groups

8.674E11

20

4.337E10

Total

1.776E13

23

F
129.869

Sig.
.000

Groups

Dari tabel diatas didapat F hitung sebesar 0.491dengan tingkat


signifikan 0,779 artinya probabilitas atau tingkat signifikansi sebesar
0,491> 0,05, maka dari uji Anova terlihat ada perbedaan yang bermakna
antara kadar hemoglobin ketiga perlakuan. Dan pada uji analisis Post hoc
tampak ada perbedaan bermakna tersebut antara kelompok perlakuan
dengan D0

Tabel 7
Uji Post Hoc

39

Multiple Comparisons

(I)

95% Confidence Interval

PERL (J)
AKUA PERLAK

Mean
Difference (I-

UAN

T0

T1

1.54883*

.27371

.000

.9779

2.1198

T2

1.42883*

.27371

.000

.8579

1.9998

T3

.19133

.27371

.493

-.3796

.7623

T0

-1.54883*

.27371

.000

-2.1198

-.9779

T2

-.12000

.27371

.666

-.6910

.4510

T3

-1.35750*

.27371

.000

-1.9285

-.7865

T0

-1.42883*

.27371

.000

-1.9998

-.8579

T1

.12000

.27371

.666

-.4510

.6910

T3

-1.23750*

.27371

.000

-1.8085

-.6665

T0

-.19133

.27371

.493

-.7623

.3796

T1

1.35750*

.27371

.000

.7865

1.9285

T2

1.23750*

.27371

.000

.6665

1.8085

T1

T2

T3

J)

Upper
Std. Error

Sig.

Lower Bound

Bound

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Hasil uji Post Hoc pada kadar hemoglobin menunjukkan bahwa


kadar hemoglobin tiap perlakuan memiliki perbedaan nyata atau
signifikan. Antara T0 dan T3 tidak ada perbedaan sedangkan T1 dan T2
tidak terjadi perbedaan.Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak
kacang kedelai mampu mempengaruhi kadar hemoglobin darah tikus
putih.

B. Pembahasan

40

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambran mengenai


pengaruh pemberian ekstrak kacang kedelai sebanyak satu kali terhadap
peningkatan jumlah eritrosit dalam pengambilan sampel darah selama 7
hari. Hasil penelitian menunjukkan paling tinggi yaitu pada perlakuan D3
(2500 mg/kg bb). Hasil pengujian kadar hemoglobin yang didapat kurang
dari nilai normal yaitu sebesar 14-18 gr/dL, hal ini disebabkan kekurangan
menggunakan hemometer metode sahli. Data jumlah peningkatan jumlah
eritrosit dan kadar hemoglobin ini kemudian dianalisis dengan uji satistik.
Pertama-tama yang dilakukan adalah analisis terhadap normalitas
dan homogenitas data dan hasil yang diperoleh yaitu data tersebut
menunjukkan hasil yang normal . Kemudian perhitungan dilanjutkan untuk
mengetahui homogenitas setiap kelompok perlakuan yaitu 0,569 untuk
eritrosit dan 0,088 sehingga data berdistribusi homogen
Kemudian perhitungan perbedaan antara kelompok perlakuan degan
kontrol (D0), diolah menggunakan metode one way analysis of variance
(ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antar
kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Hal ini terjadi karena
pemberian ketiga perlakuan dapat meningkatkan jumlah eritrosit dan kadar
hemoglobin. peningkatan ini disebabkan adanya kandung zat besi (Fe)
yang tinggi didalam kacang kedelai.
Muchtadi (2008) menyatakan bahwa zat besi mempunyai peran
penting dalam tubuh, yaitu membawa oksigen dan karbon dioksida untuk
pembentukan darah. Harper (2006) menambahkan bahwa jika tidak
terdapat cukup besi dalam tubuh, maka jumlah hemoglobin dalam sel

41

darah merah berkurang dan keadaan tidak sehat timbul yang dikenal
sebagai anemia (kurang darah).
Defisiensi besi biasanya terjadi dalam beberapa tingkat sebelum
menjadi anemia. Pertama adalah keadaan cadangan zat besi dalam dalam
hati menurun, tetapi belum sampai penyediaan zat besi untuk pembentukan
sel-sel darah merah terganggu. Tahap kedua adalah terjadi defisiensi
penyediaan zat besi tidak cukup untuk pembentukan sel-sel darah merah,
tetapi kadar hemoglobin (Hb) belum lagi terpengaruh. Tahap ketiga adalah
terjadi penurunan kadar Hb, yang disebut anemia (Agung, 2003).
Piliang dan Al-Haj (2006), menyatakan bahwa hemoglobin
merupakan pigmen merah pembawa oksigen yang terdapat di dalam sel
darah merah. Sedangkan besi dalam darah berada dalam bentuk
hemoglobin yang terdapat di dalam butir-butir darah merah (erythrocyte)
dalam bentuk tranferin di dalam plasma darah dan dalam bentuk ferritin.
Pemberian ekstrak kacang kedelai yang mengandung zat besi (Fe)
berpengauh terhadap peningkatan eritrosit dan kadar hemoglobin.
Terjadinya peningkatan tersebut dikarenakan Fe yang diserap didalam usus
diangkut oleh darah dan distribusikan keseluruh tubuh dalam keadaan
terikat pada protein

transferin. Fe tersebut digunakan untuk sintesis

enzim-enzim (respiratory enzymes) ke dalam jaringan. Sedangkan Fe


dalam plasma darah, digunakan untuk produksi hemoglobin dan sel darah
merah dalam tulang, hati dan limfa.
Muchtadi (2008) menambahkan juga, bahwa Fe berfungsi dalam
pembentukan sel darah merah, Hemoglobin (Hb) merupakan komponen
esensial sel-sel darah merah (erirosit). Eritrosit dibentuk dalam sumsum

42

tulang. Bila jumlah sel darah merah berkurang, hormon eritpoietin yang
diproduksi oleh ginjal, akan menstimulir pembentukan sel darah merah.
Karena sel darah merah tidak mengandung inti sel (nucleus), maka sel
tersebut tidak dapat mensintesis enzim untuk kelangsungan hidupnya.
Kehidupan sel darah merah hanya sepanjang masih terdapatnya
enzim yang masih berfungsi (untuk membawa O 2 dan CO2), dan biasanya
hanya sekitar 4 bulan. Kecepatan penghancuran sel darah merah akan
meningkat bila tubuh kekurangan vitamin C, vitamin E atau vitamin B12
(yang membantu pembentukan sel-sel darah merah). Karena kehidupan
eritrosit hanya berlangsung sekitar 120 hari, maka 1/120 sel eritrosit harus
diganti setiap hari, yang memerlukan sekitar 20 mg zat besi (Fe) per hari.
Karena tidak mungkin menyerap Fe dari makanan sebanyak itu per hari,
maka konversi Fedalam tubuh sangat penting dilakukan.
Patimah (2007) juga menambahkan bahwa sebagian zat besi terikat
hemoglobin yang berfungsi khusus mengangkut oksigen untuk keperluan
metabolisme dalam jaringan. Proses metabolism zat besi digunakan untuk
biosintesa hemoglobin, dimana zat besi digunakan secara terus-menerus.
Sebagian besar zat besi yang bebas dalam tubuh akan digunakan kembali,
dan hanya sebagian kecil saja yang dieksresikan melalui air kemih, feses
dan keringat. Sekitar 96% dari molekul hemoglobin ini adalah globulin
dan sisanya berupa heme, yang merupakan suatu kompleks persenyawaan
protoporfirin yang mengandung Fe ditengahnya.
Kebutuhan zat besi (Fe) sangat penting dalam tubuh kita, yaitu
menjaga kestabilan penyaluran oksigen keseluruh jaringan dan digunakan
untuk biosintesa hemoglobin. mengkonsumsi makanan yang mengadung

43

Fe sangat dibutuhkan. Bahan makanan yang menjadi sumber zat besi dapat
berasal dari hewani seperti hati, danging, sumsum tulang, ayam, ikan dan
telur. Sedangkan yang berasal dari nabati yaitu sayuran berwarna hijau,
biji-bijian, buah-buahan dan bubuk coklat. Dengan mengkonsumsi kacangkacang seperti kacang kedelai maka kebutuhan akan zat besi dalam tubuh
akan terpenuhi dan dapat mencegah terjadinya anemia.
Pada orang normal, presentase hemoglobin hampir selalu mendekati
maksimum dalam setiap sel. Namun, bila pembentukan hemoglobin dalam
sum-sum tulang berkurang, maka presentase hemoglobin dalam sel dapat
turun sampai nilai bawah nilai normal dan volume sel darah merah juga
menurun, karena hemoglobin untuk mengisi sel berkurang (Guyton dan
Hall, 1997)
Menurut Deddy Muchtadi (2001) zat besi merupakan komponen
hemoglobin yang berfungsi sebagai pengangkut (carrier) oksigen didarah
ke sel-sel yang membutuhkannya untuk metabolisme glukosa, lemak, dan
protein menjadi energi (ATP). Besi juga merupakan bagian dari mioglobin
yaitu molekul yang mirip dengan hemoglobin yang terdapat di sel-sel otot,
yang juga berfungsi mengankut oksigen. Mioglobin yang berkaitan dengan
oksigen inilah yang membuat danging menjadi merah. Di samping sebagai
komponen hemoglobin dan mioglobin, besi juga merupakan komponen
dari enzim oksidasi, yaitu sitokrom oksidasi, xanthine oksidase, suksinat
dehidrogenase, katalase, dan perioksidase (Agung, 2003)

44

Keseimbangan zat besi di dalam tubuh perlu dipertahankan, yaitu


jumlah zat besi yang dikeluarkan bagi tubuh sama dengan jumlah zat besi
yang diperoleh tubuh dari makanan. Bila zat besi dari makanan tidak
mencukupi, maka dalam waktu lama akan mengakibatkan anemia.
Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa zat besi (Fe)
yang terkandung dalam kacang kedelai mampu meningkatkan jumlah
eritrosit dan kadar hemoglobin. Dimana zat besi merupakan unsur yang
terdapat dalam hemoglobin berfungsi sebagai pengantar oksigen keseluruh
tubuh.