Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH HUKUM ADAT (HUKUM PERKAWINAN ADAT

MASYARAKAT BATAK TOBA)


KATA PENGANTAR

Tiap bangsa memiliki kebiasaan ( adat ) sendiri yang satu dengan yang
lainya dan tidak sama, adat istiadat ini merupakan unsur yang terpenting dalam
masyarakat adat untuk menentukan ciri mereka sendiri dan memberikan
identitas atau warna terhadap masyarakat adat tersebut dalam hal pelaksanaan
perkawinan dan sebaginya salah satunya adalah negara indonesia yang terdiri
atas beberapa sub marga dan suku yang tentu memiliki ciri atau adat
masyarakatnya masing masing.
Demikian juga halnya dalam masyarakat batak toba dalam hukum adatny
dalam kehidupan mereka sehari hari yang tidak pernah lepas dari aturan
aturan dalam kebiasaan hukum adatnya , dalam hal sapaan contohnya yang
jarang kita temui dengan memangil nama orang yang dimaksud.
Demikian juga dalam hal peraturan atau hukum adat masyarakat batak
toba dalam hal pelaksanaan perkawinan atau pernikahaan disamping
perkawinan menurut undang undang perkawinan indonesia dan peraturan
perkawinan menurut keagamaan sesuai dengan ajaran kristen. Yang memiliki
ada aturan aturan yang yang harus di penuhi oleh masyarakat adat tersebut.

BAB I
PENDAHULUAN
Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku yang
mempunyai adat - istiadatnya masing masing yang tidak ada satupun yang
sama dengan yang lainya, yang salah satunya adalah masyarakat adat batak
toba.
Masyarakat batak menurut prof. C. Van vollen hoven adalah merupakan
salah satu lingkungan hukum, dari 19 ( sembilan belas ) lingkungan hukum adat
di seluruh indonesia . oleh karena itu masyarakat batak mempunyai hukum adat
tersendiri yang berbeda beda dengan hukum adat di lingkungan indonesia.
( djisman samosir. Sh:hukum perkawinan adat batak :1980 :10)
Masalah perkawinan adalah masalah yang penting bagi semua manusia,
karna dengan perkawinan adalah cara manusia satu satunya untuk
mendapatkan keturunan, demikian juga halnya dengan suku orang batak
masalah perkawinan adalah masalah yang sakral dan yang sangat penting untuk
dapat melanjutkan keturunanya dan semua manusia menginginkan hal ini terjadi
pada dirinya untuk melangsungkan perkawinan.
Maka dengan itu di dalam melakukan suatu perkawinan haruslah terlabih
dahulu, melalui proses proses tertentu sebagai mana biasanya dilakukan oleh
orang batak dalam melaksanakan perkawinan atau pernikahan, proses ini
haruslah dilalui apabila seorang suku batak mau melakukan perkawinan.

Jadi hukum adat yang di taati oleh semua orang batak telah menetapkan bagai
mana proses yang harus dilakukan serta tindakan apa yang harus dilakukan serta
syarat syarat apa yang harus di penuhi, apabila seorang dari suku batak yang
mau melaksanakan pernikahan.
Oleh karena itu bagi masyarakat batak disamping ketentuan ketentuan
yang terdapat dalam undang undang nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinana, masih berlakuketentuan ketentuan mengenai perkawinan yang
di atur dalam hukum adat batak. ( djaren saragih. Sh.hukum perkawinan adat
batak : 1980 : 11 ).

BAB II
HUKUM PERKAWINAN MASYARAKAT BATAK TOBA
1.

PENGERTIAN

Pengertian perkawinan menurut undang undang perkawinan nomor 1


tahun 1974. Pasal 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir
batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia dan kekal
berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.
Perkawinan maksudnya adalah suatu ikatan antara dua orang yang
berlainan jenis kelamin, atau antara seorang pria dengan seorang wanita, dimana
mereka mengikatkan diri, untuk bersama bersatu dalam kehidupan
bersama.proses yang mereka lalui dalam rangka mengikatkan diri ini, tentunya
menurut ketentuan ketentuan yang terdapat dalam masyarakat. Laki laki
yang mengikatkan diri dengan seorang wanita , setelah melalui prosedur yang di
tentukan di dalam hukum adat dimana pria dan wanita mengikatkan diri dan
menjadi satu kluarga. ( hukum perkawinan adat batak : djisman samosir.sh :
1980 :27 )
Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu
dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan
untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya.
Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena
menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup
seseorang.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar
pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan
suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi
- yang biasanya intim dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan
diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan
maksud untuk membentuk keluarga. (Wikipedia bahasa Indonesia.
A. Perkawinan Dalam Masyarakat Adat Batak Toba

Bagi masyarakat adat batak toba juga mengartikan perkawinan itu adalah
dimana seorang laki laki mengikatkan diri dengan seorang wanita , untuk
hidup bersama dalam satu rumah tangga dengan melalui prosedur yang di
tentukan dalam ketentuan ketentuan hukum adat batak toba. ( hukum
perkawinan adat batak : djisman samosir. Sh.1980:29 )
Laki laki yang mengikatkan diri ini disebut TUNGANE DOLI (suami )
dan wanita yang mengikatkan diri dengan laki laki ( suaminya ) itu disebut
dengan TUNGGANE BORU ( istri ). Pada masyarakat batak adat toba, seorang
laki laki di dalam menentukan siapa siapa yang pantas mennjadi TUNGGANE
BORU nya, bukanlah hanya masalah laki laki itu saja, melainkan hak
keluarga dan orang tua si laki laki pada masyarakat batak toba, karena seorang
laki laki pada masyarakat adat batak toba, adalah menjadi penerus marga,
maka suatu marga tidak menghendaki marganya di turunkan dari seorang
tungane boru ( istriu ) yang yang tidak berperilaku yang baik. Demikian juga
pihak si wanita yang mau menentukan siapa yang mau menjadi tungane doli
( suami ), bukan hanya masalahnya sendiri, tetapi dari keluarga dan orangtuanya
sangat menentukan, walaupun nantinya wanita itu tidak akan menurunkan
maraga dari bapaknya, tetapi dengan suatu perkawiunan berarti bertambahnya
suatu keluarga , bagi puhak si wanita.
Pihak keluarga, dari yang menjadi suami ( tungani doli ) dari anaknya
permpuan ( boru ) tersebut, nantinya akan menjadi boru ( sitim kekerabatan
dalam adat batak toba darin pihak boru ( anak perempuan ), bagi kelompok
marga ayah si wanita itu. Setiap keluarga masyarakat adat batak toba,
menghendaki agar boru ( HELA atau menantu ) nya adalah berasal dari
keluarga yang baik baik.
Dengan demikian perkawinan bagi masyarakat adat batak toba ,
menentukan siapa menjadi tunggane doli ( suami ) seorang wanita, dan siapa
yang menjadi tunggane boru ( istri ) seorang laki laki, oleh keluarga mereka
masing masing oleh kedua belah pihak. Karena dengan cara inim, nantinya
diharapkan terbentukalah suatu rumah tanggga baru yang rukun dan harmonis,
dan dapat menurunkan marga dengan baik.
B. Sistem Perkawinan Adat Batak Toba
Masyarakat adat batak toba adalah menarik garis keturunan dari pihak
laki laki atau di kenal dengan sistem kekerabatan Patrilineal yaitu suatu adat
masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihakayah. Cara menarik
garis keturunan yang diambil melalui laki laki ( pihak ayah ) ini biasanya
sangat mempengaruhi pada masayarakat adat pada umumnya.
Sitem perkawinan pada masyarakat adat ini pada umumnya dapat
dibedakan menjadi sebagai berikut ( djaja sembiring.sh:1980:31 ) yaitu antara
lain :
a. Sistem perkawinan Endogami.

Dalam sitem ini, seseorang di haruskan kawin dengan orang lain yang
berasal dari kalanya sendiri, ataupun dari keluarganya sendiri.
b. Sistem perkawinan Exogami.
Dalam sitem ini, seseorang harus kawin dengan orang lain yang berasal
dari klan yang berlainan. Dengan kata lain bahwa orang orang yang berasal dari
klan atau suku yang sama atau semarga dilarang untuk mekakukan perkawinan.
c. Sistem perkawinan Eleutheregami.
Sitem ini tidak mengahruskan adanya perkawinan di dalam klan yang
sama ataupun perkawinan antara klan yang berlainan. Dalam sitem ini larangna
perkawinan lebih di tonjolkan masalah pertalian ikatan kekeluargaan.
Dari ketiga sistim ini, yang kita jumpai pada masyarakat adat batak
adalah sistim perkawinan yang exogami, yaitu yang pada prinsipnya orang
batak harus kawin dengan marga yang lain, atau dengan kata lain bahwa pada
prinsipnya perkawinan antara marga yang saama adalah tidak diperbolehkan
dalam lingkungan masyarakat adat batak.
Sistim exogami yang di jumpai pada masyarakat adat batak toba
mempunyai kekhususan tersendiri. Antara paerkawinan yang sama , tidak
diperbolehkan, bukan berati pula tidak selamnya diperbolehkan perkawinan
antara nmarga yang berbeda. Dengan kata lain bahwa tidak selalu bahwa marga
yang berbeda diperbolehkan untuk melaksanakan perkawinan.
Didalam masyarakat adat batak dikenal istilah asimentris connubium,
yaitu tidak diperbolehkanya perkawinan secara timbal balik. (djisman samosir
sh:1980:32), misalnya seorang laki laki bermarga simbolon kawin dengan
seorang wanita berrmarga tambunan. Dalam hal ini jelas bahwa laki laki yang
mau kawin berasal dari marga yang berbeda, dengan marga si wanita. Dalam hal
seperti ini wanita yang bermarga tambunan , mempunyai saudara laki laki,
maka saudara laki laki dari wanita tersebut tidak di perbolehkan kawin dengan
seorang wanita yang saudara dari simbolon tersebut. Walaupun laki laki dalam
hal ini berbeda marga dengan dengan perempuan, tetapi mereka mereka tidak
diperbolehkan untuk kawin.
Hal inilah yang dinamakan asimentris connubium.oleh karena itu sistem
perkawinan pada masyarakat batak, disamping menganut sistem exogami, yaitu
tidak diperbolehkan perkawinan dalam satu marga, juga tidak diperbolehkan
perkawinan timbal balik.
Apabila terjadi perkawinan dalam satu marga maka perkawinanya disebut
KAWIN SUMBANG. Apabila hal ini terjadi biasanya para pihak pihak yang
melakukan perkawinan akan dihukum oleh pemuka pemuka adat. Perkawinan
exogam marga pada masyarakat toba sudah tidak seketat pada masyarakat batak
simalungun. Pada masyarakat batak toba, marga marga yang besar, sudah
banyak yang dipecah pecah menjadi beberapa sub marga yang lebih kecil. Sub

sub marga yang lebih kecil ini sudah boleh saling kawin, tetapi tidak
diperbolehkan mengunakan marga besarnya. Misalnya marga Tambunan
dipecah menjadi 4 ( empat ) sub marga yang lebih kecil yakni, lumban gaol ,
lumban pea, baruara, dan pagar aji.
Kalau diantara sub marga ini mengadakan perkawinan , maka biasanya kalau
ditanya marga istrinya maka dia akan menyebutkan nama sub marganya.
Akan tetapi sanmapi sekarang ini masih ada marga yang masih utuh atau
belum terpecah menjadi sub sub yang kecil yang tida di perbolehkan untuk
kawin dengan satu sub marga yang yang besar tersebut, yaitu adala sub marga
parna dalam masyarakat adat toba sampai sekarang ini belum ada yang
melakukan itu.
Oleh karena itu pada masyarkat adat batak toba perkawinan dengan
sistem exogam marga sudah tidak murni lagi. Hal hal ini juga banyak
dipengaruhi oleh perkembangan jaman. Pada masa sekaranng ini apabila terjadi
kawin sumbang , maka diadakanlah suatu pesta yang disebut pesta MANOPPAS
BONG BONG. Pada pesta ini dikumpulkan semua anggota marga dan raja
raja adat, serta memotong tujuh ekor kerbau, pada pesta inilah kedua belah
pihak memohon maaf kepada raja raja adat dan khalayak ramai.
Dalam masyarakat adat batak toba biasanya seorang anak laki laki akan
dianjurkan kawin dengan PARIBAN ataui BORU NI TULANGNA ( paman ).
Adan apabila hal ini terjadi maka hal inilah yang disebut dengan istilah
MANGUDUTI ( menyambung ) dengan tujuan agar ikatan kekeluargaan
dengan pihak wanita tetap tersambung terus menerus serta harta warisan dari
orang tua tidak kepada orang lain.
C. Bentuk Dan Cara Perkawinan Adat Masyarakat Adat Batak Toba.
Setiap perkawinan akan selalu menyangkut dua belah pihak, yaitu pihak
antara laki laki dengan pihak wanita. Maka kedua pihak ini akan mengikatkan
diri dengan satu sam lainyauntuk hidup dalam Satu keluarga. Di dalam
mengikatkan diri ini tentu ada hal hal yang harus dilaksanakan oleh kedua
belah pihak, hal hal apa yang haraus dilaksankan oleh kedua pihak ini adalah
merupakan masalah yang akan dibicarakan dalam bentuk perkawinan ini.
Masalah yang pertama yang harus dibicarakan sebelum melaksankan
perkawinan dalam masyarkat adat batak adalah masalah MARHATA
SINAMOT yang artinya harta yanng di peroleh dari hasil MANSAMOT
( bekerja dengan tekun ).
Oelh karena itu, dalam masyarakat adat batak toba pihak keluarga silaki
laki harus menyerahkan sinamot kepada pihak keluarga si wanita. SINAMOT
yang di beriakn itu biasanya berupa uang tetapi kadang kadang dapat juga
berupa barang. Sedangkan jumlahnya selalu merupakan dari hasil kata ssepakat

atau kesepakatan dari kadua belah pihak keluarga laki laki dan pihak keluarga
wanita.
Dari sini juga terbukti bahwa masalah perkawinan itu dalam masyarakat
adat batak toba maslah perkawinan itu bukan hanya masalah masalah orang
yang mau menikah tetapi melainkan jjuga merupakan maslah dari keluarga dari
masing masing kedua belah pihak.
Dalam pemikiran umum dalam arti sinamot yang kita kenal sehari hari
adalah bahwa kata sinamot selalu diartikan dengan BOLI atau TUHOR, seolah
olah wanita itu dibeli oleh keluarga si laki laki, maka dengan itu kalau sudah
di beli berarti hubungan dengan keluarganya sudah putus, sehingga oranng tua
si wanita tidak mempunyai hak lagi terhadap BORU ( anak perempuan ) nya,
pengertian yang demikian sebenarnya kurang tepat karena kalau kita melihat
struktur DALIHAN NATOLU, pihak keluarga si wanita adalah HULA HULA
yaitu pihak yang sangat di hormati oleh keluarga dari pihak laki laki dalam
masyarakat adat batak.
Oleh karena itu, maka pengertian dari pemberian dari kata sinamot adalah
merupakan penghormatan kepada keluarga dari pihak perempuan ( HULA
HULA ) berupa persembahan, agar memberikan anak perempuanya sebagai istri
dari anak laki laki pilihab hati dari anak perempuanya tersebut. Maka dengan
diterimanya sinamot tersebut tadi maka BORU ( anak perempuan ) nya tersebut
dilepaskan dari golongan sanak marga ayahnya. Istialah dari ini bukan berati
merupakan putusnya hubungan keluarga dari si wanita tersebut dengan pihak
keluarganya, artinya disini dimaksudkan adalah apabila nantinya siwanta
tersebut nantinya melahirkan seorang anak maka anak yang dilahirkan nantinya
adalah bukan lagi mengikuti marga dari bapak siwanita itu, akan tetapi akan
mengikuti marga dari suami si wanita tersebut, pemberian sinamot tersebut
kapada pihak keluarga wanita tersebut juga mengakibatkan adanya pergeseran
harta kekayaan dari pihak keluarga anak laki laki kepada pihak keluarga
perempuan tersebut.
Bentuk dan cara perkawinan adat masyarakat adat batak toba ada
beberapa bagian yaitu sebagai berikut :
1. Mangalua
Mangalua adalah suatu bentuk perkawinan yang di kenal dalam adat
masyarakat batak toba, dimana seorang anak laki laki dengan wanita pilihanya
mau lawin sama sama dengan cara melarikan diri, dengan menghilangkan
peraturan peraturan yang dikenal biasanya.
Artinya tanpa dengan membayar sinamot terlebih dahulu, pada jaman
dulu mangalua ini sering disebabkan karena besarnya sinamot yang diberikan
oleh pihak keluarga dari wanita kepada pihak laki laki, sehingga pihak dari

keluarga laki laki tidak sanggup untuk menyerahkan sinamot kepada pihak
keluarga tersebut.
Akan tetapi pada masa saat sekarang ini masalah sinamot bukan lagi
maslah yang menghalang bagi kedua laki laki dengan perempuan itu untuk
melangsungkan perkawinan. Kadanag kadang mangalua dilakukan dengan
sepengetahuan orang tua kedua belah pihak, karena dimingkinkan salah satu
keluarga ada hal hal tertentu yang mengakibatkan tidak dapat melangsungkan
pesta perkawinan. Maka supaya perkawinan tetap terlaksana maka ditempuhlah
dengan cara mangalua, akan tetapi pada umumnya mangalua ini sedapat
mungkin sangat dihindarkan oleh kedua belah pihak karena alasan tadi.
Setelah mangalua terjadi, maka keluarga silaki laki datang kerumah
orang tua si wanita untuk memberitahukan bahawa anak perempuanya ( boru )
sudah menjadi PANIARAN ( istri salah dari salah satu DONGAN TUBU atau
SAUDARA ) mereka. Kedatangan dari pihak keluarga laki laki ini biasanya
akan membawa makanan adat berupa daging yang di sebut dengan IHUR IHUR. Dan apabila bapak dari si wanita tersebut tidak menerimanya maka
makanan adat tersebut akan dibawa kepada salah seorang saudara dari ayah
siwanita tersebut dan harus menerimanya dikarenakan makanan adat tersebut
tidak boleh dibwa klembali, setelah itu kira kira setelah berselang waktu kira
- kira setelah ada sekitar seminggu, maak kedua pengantin itu datang kerumah
orang tua sigadis tersebut untuk minta maaf atas kesalahan mereka dan supaya
mereka diterima kembali sebagaai anaknya. Kedatanagan mereka ini biasanya
disebut dengan istilah MANURUK MANURUK, dan kalau anak sigadis juga
tidak mau menerimanya maka mereka akan pergi kesalah satu keluarga saudara
dari ayah si wanita tersebut, maka setelah mereka diterima maka berarti mereka
sudah diterima kembali sebagai anaknya.
Setelah upacara menuruk nuruk selesai dilakukan maka perkawinan
kedua mempelai akan segera diadatkan. Masalah pelaksanaan dan waktu pesta
perkawinan tersebut tergantung atas persetujuan dari keluarga kedua belah
pihak , dan pada upacara PANGADATION ( pesta perkawinan ) inilah pihak
keluarga silaki laki membayar kewjiban kewajibanya berupa membayar
sinamot, jadi dalam dalm bentuk mangalua inilah sinamot dibayar, setelah
perkawinan dilaksanakan.
2. Mangabing
Mangabing dalamarti perkawinan adat batak toba adalah anak laki laki
melarikan seorang gadis, untuk menjadi istrinya. Didalam melarikan ini
biasanya si gadis tidak menyetujui si laki laki tersebut menjadi suaminya.
Akan tetapi kadang dalam bentuk ini orang tua dari wanita tersebut sudah
menyetujui bahwa laki laki tersebut
boleh menjadi suami daru borunya.
Tetapi ada kemungkinan orang tua siwanita tersebut tidak setuju. Apabila
terjadi perkawinan dengan cara mangabing maka pihak dari laki laki harus

siap menanggung resikonya, sinamot yang di minta oleh keluarga keluarga dari
orang rua si gadis harus di penuhi, dan apabila sinamot sudah dilunasi maka
perkawinan sudah dapat dikasanakan secara adat.
3. Pareakhon
Perkawinan seperti ini adalah suatu perkawinan antara adik laki laki
suami yang meninggal dengan wanita istri dari suami tersebut ( jandanya ). Di
dalam bentuk perkawinan seperti ini tidak perlu lagi melakukan pembayaran
sinamot, karena si janda masih dianggap sebagai keluarga si suami.
4. Maningkat Rere
Perkawinan ini adalah suatu perkawinan seorang laki laki dengan adik
istrinya, dikarenakan istrinya sudah miniggal dunia. Dalam bentuk perkawinan
seperti ini sinamot tidak perlu lagi oleh keluarga si wanita karena istri yang
kedua ini adalah menggantikan kedudukan kakaknya.
5. Mangalap Tungkot
Perkawinan ini terjadi apabila salah satu keluarga yang sudah lama kawin,
tetapi belum mempunyai keturunan sama sekali. Maka untuk melanjutkan
keturunan, maka atas persetujuan istri pertama si suami di perbolehkan mencari
istri lagi. Istri kedua ini di sebut TUNGKOT, istri kedua ini boleh dari dalam
keluarga istrinya, tetapi dapat juga dari keluarga lain. Apabila hal ini terjadi
maka sinamot tetap di serahkan oleh pihak dari keluarga laki laki kepada
keluarga si wanita.
6. Maroroan
Maroroan adalah suatu perkawinan dimana anak laki laki maupun
perempuan masih anak anak. Tetapi walaupun demikian syarat penyerahan
sinamot tetap harus di laksanakan oleh pihak keluarga laki laki kepada pihak
keluarga wanita.

BAB III
PELAKSANAAN PERKAWINAN MENURUT HUKUM ADAT
BATAK TOBA
Perkawinan dalam suatu masyarakat mempunyai arti yang sangat luas,
yang meliputi mulai dari proses yang terjadi sebelum upacara perkawinan itu
sampai selesainya acara perkawinan. Dalam proses sebelum upacara
perkawinan di langsungkan disini adalah masa yang sangat pentig di karenakan

bukan hanya membicarakan masalah proses perkawinan tetapi juga menyangkut


sesudah dan sebelum perkawinan itu dilangsungkan.
Pada masyarakat adat batak toba saat sebelum upacara dan saat sesudah
upacara perkawinan di langsunngkan adalah ini adalah hal yang sangat penting
karena apakah perkawinan itu sudah berjalan sesuai dengan aturan hukum adat.
Oleh karena itu saya akan menguraikan beberapa proses perkawinan yang
di kenal dalam masyarakat adat batak toba yang antara lainya sebagai berikut :
1. Proses Sebelum Upacara Perkawinan Dilaksanakan.
Proses proses yang terjadi sebelum upacara perkawinan dalam
masyarakat adat batak toba antaran lain adalah :
a. Martandang
Kata martandang dalam masyarakat adat batak toba artinya adalah
berkunjung kerumah orang lain. Hal ini biasanya dilakukan oleh muda muda (
DOLI DOLI ) ke rumah wanita pada masyarakat adat batak toba. Dalam
martandang ini anak si laki laki keluar dari rumahnya dan berkunjung
kerumah si gadis untuk berkenalan, pada martandang inilah sering di lakukan
MANGARIRIT BORU ( memilih orang yang di cintainya oleh anak laki - laki )
Oleh karena itu pada martandang ini, termasuk juga tujuan laki laki
untuk memilih si gadis untuk menjadi istrinya. Acara martandanng ini biasanya
dilakukan pada malam hari, dan kalau seorang laki laki susah untuk memilih
si gadis untuk calon istrinya, maka si laki laki tersebut akan mencari boru ni
tulang ( anak pamanya ) . boru tulang sebagai istri dari anak laki laki adalah
sangat di setujui oleh ibu si laki laki, dan ayah si wanita itu juga, dan jarang
untuk menolaknya.
b. Mangalehon tanda
Managalehon tanda artinya adalah memberi tanda, hal ini terjadi apabila
si laki laki itu sudah menemukan si gadis sebagai calon istrinya, dan sigadis
itu sudah menyetujui bahwa si laki laki akan menjadi calon suaminya. Maka
kedua belah pihak akan saling memberi tanda, dari pihak laki laki biasanya
menyerahkan uang kepada wanita itu sebagai tanda, sedangkan dari pihak
wanita itu akan menyerahkan kain sarung, ataupun ulos sitolon tuho kepada si
laki laki. Maka setelah pemberian tanda dilakukan maka anak si laki laki
dengan si wanita itu sudah mempunyai ikatan, maka si laki laki ini akan
memberitahukan hal ini kepada orang tuanya. Maka orang tua si laki laki
mnyuruh perantara yang di sebut DOMU DOMU untuk memberitahukan
kepada pihak ayah si wanita bhawa anak laki laki mereka sudah mengikat
janji dengan putri yang empunya rumah, apabila orang tua sigadis

menyetujuinya, maka dia akan memberitahukan kepada perantara tersebut,


untuk diteruskan kepada orang tua si laki laki.
c. Marhusip
Marhusip ( berbisik ) pada acara ini yang masing masing pihak yang
masih di wakili perantara, yang dilakukan secara diam diam, pihak laki laki
menanyakan kepada pihak wanita, berapa kira kira jumlah sinamot yang harus
di sediakan oleh pihak keluarga si laki laki, dan juga memberitahukan kepada
keluarga pihak si wanita kira kira kemampuan pihak laki laki. Hal ini
dilakukan agar kedua belah pihak mengetahui dan mengerti bagaimana keadaan
masing masing kedua belah pihak, marhusip ini dilakukan di rumah
kediaman si wanita, dan dalam hal ini orang tua kedua belah pihak belum ikut
campur.
Dalam marhusip ini juga ditentukan kapan orang tua si laki laki
akan datang kerumah orang tua si wanita untuk membicarakan keinginan orang
tua dari anak si laki laki itu kepada orang tua si wanita secara resmi.
d. Marhata Sinamot Dan Manjalo Sinamot
Seperti yang telah di kemukakan di atas, pada waktu marhusip di
bicarakan kapan keluarga si laki laki secara resmi akan datang kerumah
keluarga si wanita, untuk membicarakan keinginan dari anaknya, sekaligus
membicarakan berapa sianmot yang merekaa harus serahkan.
Pada waktu yang telah mereka tentukan rombongan pihak laki laki
datang kerumah orang tua si perempuan, dengan membawa makanan adat. Pada
masyraka adat batak toba, pembicaraan baru akan di laksanakan setelah mereka
makan makanan yang di bawa oleh keluarga pihak laki laki secara bersama di
rumah keluarga wanita. Setelah makan bersama selesai barulah di adakan acara
MARHATA SINAMOT artinya membicarakan jumlah besarnya sinamot yang
harus diserahkan oleh pihak laki laki, biasanya dalam pembicaraan ini
biasanya terjadi tawar menawar yang gesit, yang nantinya akan jatuh ke pada
jumlah yang telah di tetapkan pada waktu marhusip, walauipun tidak persis
sama tetapi biasanya tidak bebrepa jauh bedanya.
Sinamot pada masyarakat adat batak toba biasanya terdiri dari uang dan
hewan. Sinamot yang terdiri dari uang biasanya di serahkan pada orang tua si
wanita pada saat marhata sianamot, oleh karena itu untuk pihak orang tuasi
wanita di sebut MANJALO SINAMOT ( menerima akat nikah ). Sedangkan
sinamot yang berupa hewan akan di serahkan kemudian.
Pada waktu marhata sinamot inilah yanng di bicarakan semua hal hal
yang penting didalam pelaksanaan perkawinan, misalnya kapan pelaksanaan
perkawinannya dan bagaimana bentuknya, di marhata sinamot ini jugalah saat
perkenalan resmi antara orang tua si laki laki dengan keluarga orang tua si
wanita.

e. Maningkir Lobu
Seperti yang telah saya uraikan tadi di atas bahwa sianmot itu dapat
berupa uang, barang , dan serta hewan peliharaan. Oleh , karena itu pada saat
yang di tentukan keluarga si wanita yang biasanya di wakili oleh adik atau
kakak dari ayah si gadis datang MANINGKIR LOBU ( melihat hewan
peliharaan ke kandang ) yang telah di janjikan, ketempat keluarga si laki laki.
Kemudian setelah acara makan bersama, perutusan keluarga si wanita itu akan
membawa hewan itu ketempat keluarga si wanita, hewan yang biasanya di
gunakan sebagai sinamot adalah kerbau atau lembu.
f. Martonggo Raja
Perkawinan pada masyarakat adat batak toba bukanlah hanya urusan dari
ayah atau ibu si laki laki saja, melainkan urusan semua keluarga, oleh karena
itu orang tua si laki laki akan mengumpulkan semua keluarganya terutama
yanng menyangkaut dalihan natolu, untuk berkumpul di rumah orang tua si laki
laki, dan membicarakan menegenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
pelaksanaan perkawinan. Jadi, martonggo raja ini adalah merupakan suatu rapat
untuk mengadakan pembagian tugas.
2. Upacara Perkawinan
Upacara perkawian yang dimaksud disini adalah pengertian upacara
perkawinan sejak di pertemukanya calon pengantin pria dan calon pengantin
wanita, menurut hukum adat dan sejak adanya pemberitahuan calon mempelai
kepada pegawai pencatat sipil perkawinan sampai terlaksananya perkawinan
menurut agamnya masing masing.Di dalam masyarakat adat pada umumnya
upacara perkawinan itu menyangkut dua hal yaitu upacra menurut adat dan
upacara menurut agamanya masing masing.
Proses proses yanng di jumpai dalam hukum adat, sebelum sampai
kepada upacara perkawinan, seperti martandang, mangalehon tanda, marhusip,
marhata sinamot, maningkir lobu, dan martonggo raja. Setelah selesai semua
acara ini, maka pada waktu yang telah di tetapkan pihak keluarga laki laki
datang kerumah orang tua si wanita dengan membawa makanan adat. Makanan
adat ini di bawa dalam bahul bahul ( bakul, ampang ) dan dibawa oleh seorang
yang di sebut boru si hunti ampang, rombongan ini sudah di tunggu oleh
keluarga si wanita di rumah kediaman oranng tua si wanita tersebut. Setelah
makan bersam maka mereka akan bersam sama mengantarkan kedua calon
pengantin ini, untuk melangsungkan perkawinan secara agama di gereje, seusai
upacara perkawinan melalui agama ini selesai maka semua keluarga bersama
pengantin pergi ketempat pesta yang telah di tentukan.

Bagi masyarakat adat batak toba perkawinan biasanya harus dilakukan


dengan suatu pesta, diamana besar kecilnya pesta tersebut dengan sendirinya
disesuaikan dengan kemampuan kedua belah pihak, pesta peresmian
perkawinan ini dapat dilakukan di tempat pihak keluarga laki laki dan dapat di
lakukan di tempat keluarga wanita ( NANIALAP NI SANGGUL ). Kalau pesta
upacara perkawinan di lakukan di tempat pihak keluarga laki laki, maka
setelah upacara perkawinan dari gereja, maka si wanita di bawa ke rumah
keluarga si lakai laki,maka pesta perkawinan dilangsungkan di sana.dan
perkawinan seperti ini di kenal dengan istilah NA DI TARUHON NI
SANGGUL, semua pembagian JAMBAR ( bagian adat ) bagi yang berhak di
serahkan pada saat pesta tersebut.
Dan apabila pesta perkawinan di lakukan di tempat pihak keluarga si
wanita, setelah acara perkawina selesai dari gereja di laksanakan maka kedua
pengantin di bawa kerumah orang tua si wanita ata langsung ke tempat pesta
( tempat upacar perkawinan secara adat di lakukan. Upacara perkawinan seperti
ini di kenal dengan istilah NANI ALAP NI SANGGUL. Kemudian setelah pesta
baru si wanita di bawa ke tempat kediaman keluarga si laki laki. Dan pada
pesta inilah di berikan JAMBAR adat bagi yang berhak menerimanya.
3. Setelah upacara perkawinan
Walaupun pesta upacara perkawinan selesai di lakukan, dalam masyarakat
adat batak toba bukan berarti sudah selesai proses proses yang yang harus di
laksanakan oleh kedua belah pihak di dalam rangka perkawinan mereka,ada
acara acara yang tertentu yang masih harus di laksanakan, dan tidak boleh di
tinggalkan begitu saja. Sebagai mana yang biasanya di lakukan oleh masyarakat
adat batak toba, adapun acara acara yang dilakukan setelah upacara
perkawinan di laksanakan adalah sebagai berikut :
a. Mebat atau Paulak Une
Mebat atau paulak une artinya adalah setelah kira kira satu minggu,
maka kedua pengantin dengan beberapa orang keluarganya datang kerumah
orangtua si wanita. Sebelum mebat ini mak si wanita dengan suaminya belum
boleh untuk bekunjung kerumah orang tua si wanita tersebut. Pada acara ini
biasanya adalah untuk kesempatan bagi kedua orang tua untuk memberikan
nasehat nasehat kepada kedua suami istri yang baru tersebut.