Anda di halaman 1dari 8

KARAKTERISTIK LUMPUR

LAPORAN
IV

OLEH
HILAL ABDULLAH
071.13.219

LABORATORIUM INTERPRETASI LOGGING


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

LEMABARAN PENGESAHAN

Nama

: Hilal Abdullah

NIM

: 071.13.219

Kelompok

: A5

Partner

: Afrizal Rasyid
Nyimas Annisa Sholihah

Tgl Praktikum

: 9 Oktober 2015

Tgl Penyerahan

: 16 Oktober 2015

Asisten

: Mochamad Bintang Alfath


Faisal Destrian
Naufaldy Obianka

Nilai

: ..

Tanda tangan

Tanda tangan

Asisten

Praktikan

RESISTIVITAS FORMASI
LAPORAN
V

OLEH
HILAL ABDULLAH
071.13.219

LABORATORIUM INTERPRETASI LOGGING


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

LEMABARAN PENGESAHAN

Nama

: Hilal Abdullah

NIM

: 071.13.219

Kelompok

: A5

Partner

: Afrizal Rasyid
Nyimas Annisa Sholihah

Tgl Praktikum

: 9 Oktober 2015

Tgl Penyerahan

: 16 Oktober 2015

Asisten

: Mochamad Bintang Alfath


Faisal Destrian
Naufaldy Obianka

Nilai

: ..

Tanda tangan

Tanda tangan

Asisten

Praktikan

BOREHOLE ENVIRONMENT

Dalam kegiatan pemboran, akan digunakan suatu lumpur pemboran


khusus (mud filtrate) yang digunakan dan diinjeksikan selama pemboran
berlangsung. Lumpur pemboran ini memiliki berbagai fungsi, yaitu guna
memindahkan cutting, melicinkan dan mendinginkan mata bor, dan menjaga
tekanan antara bor dan formasi batuan. Densitas lumpur tersebut dijaga agar tetap
tinggi supaya tekanan pada kolom lumpur selalu lebih besar daripada tekanan
formasi. Perbedaan tekanan ini menyebabkan terdorongnya sebagian lumpur
untuk merembes ke dalam formasi batuan. Rembesan fluida lumpur tersebut
kemudian mengakibatkan adanya tiga zona di sekitar lubang pemboran yang
mempengaruhi pengukuran log, khususnya pengukuran log yang berdasarkan
prinsip kelistrikan (log SP, dan log Resistivitas). Tiga zona tersebut, yaitu :
a. Zona Terinvasi (Flushed Zone)
Merupakan zona infiltrasi yang terletak paling dekat dengan lubang bor
serta terisi oleh filtrat lumpur yang mendesak kandungan semula (seperti gas,
minyak, maupun air). Air formasi atau hidrokarbon yang terdapat pada formasi

terdesak kedalam oleh filtrat lumpur pemboran. Daerah ini disebut daerah
terinvasi dengan tahanan jenisnya dan kejenuhan airnya
b. Zona Peralihan (Transition Zone)
Merupakan zona infiltrasi yang lebih dalam dari zona terinvasi, dimana
dalam zona ini ditempati oleh campuran dari filtrat lumpur dengan kandungan
semula. Karena zona ini posisinya semakin jauh dari lubang bor maka semakin
berkurang filtrasi dari lumpur pemboran.
c. Zona tak terinvasi (Uninvaded Zone)
Merupakan zona yang terletak paling jauh dari lubang bor, dimana dalam
zona ini seluruh pri batuan terisi oleh kandungan semula dan sama sekali tidak
dipengaruhi oleh adanya air filtrat Lumpur.
Zona hidrokarbon yang terdiri dari minyak dan gas, pergerakan hidrokarbon yang
terdesak lebih cepat daripada air formasi terutama yang terjadi pada zona annulus
yang mempunyai kejenuhan air formasi tinggi.
Formasi yang terdiri dari batuan yang retak-retak dimana filtrate lumpur
mengalir melalui celah-celah retakan dan berhenti pada bagian yang tidak retak
dan keluludannya rendah. Dalam hal ini hanya sebagian kecil dari cairan formasi
yang dipindahkan oleh filtrate lumpur pemboran sehingga hubungan antara tahana
jenis dan kejenuhan (saturasi) dengan rumus Archie tidak berlaku.

MUD CAKE

Ketika terjadi kontak antara lumpur pemboran dengan batuan porous,


batuan tersebut akan bertindak sebagai saringan yang memungkinkan fluida dan
partikel-partikel kecil melewatinya. Fluida yang hilang kedalam batuan disebut
filtrate, sedangkan lapisan partikel-partikel besar tertahan dipermukaan batuan
disebut filter cake. Proses filtrasi diatas hanya terjadi apabila terdapat perbedaan
tekanan positif kearah batuan. Pada dasarnya ada dua jenis filtration yang terjadi
selama operasi pemboran, yaitu static filtration dan dynamic filtration. Static
filtration terjadi jika lumpur berada dalam keadaan diam dan dynamic filtration
terjadi ketika lumpur disirkulasikan.Apabila filtration loss dan pembentukan mud
cake, tidak dikontrol, maka ia akan menimbulkan berbagai masalah, baik selama
operasi pemboran maupun dalam evaluasi formasi dan tahap produksi. Mud cake
yang tipis akan merupakan bantalan yang baik antara pipa pemboran dan
permukaan lubang bor. Mud cake yang tebal akan terjepit pipa pemboran sehingga
sulit diangkat dan diputar, sedangkan filtratnya akan menyusup ke formasi dan
dapat menimbulkan damage pada formasi.

Kita perlu menganalisa filtration loss untuk memperkirakan jumlah filtrat yang masuk ke
formasi dan juga memperkirakan ketebalan mud cake.Filtration loss terjadi ketika terjadi kontak
antara lumpur dengan batuan berpori, dimana batuan akan bertindak sebagai saringan yang
memungkinkan fluida dan partikel kecil melaluinya. Fluida yang hilang ke dalam batuan disebut
filtrat, sedangkan lapisan yang tertahan disebut filter cake/mud cake.Penyebanya adalah tekanan
hidrostatis lumpur terlalu besar dan mud cake terlalu tipis sehingga filtrat lumpur dapat masuk ke
dalam formasi. Cara menanggulanginya dengan mengganti jenis lumpur yang digunakan, atau
menambahkan additif pada lumpur tersebut. Filtration loss hanya terjadi jika terdapat perbedaan
tekanan yang positif kearah batuan.
Static filtration ketika lumpur dalam keadaan diam
Dynamic filtration ketika lumpur disirkulasikan
Keuntungan dan kerugian:
Mud cake tebal memperkecil filtration loss, tapi dinding lubang bor menjadi tebal.
Mud cake tipis jadi bantalan pipa yang baik
Filtrat terlalu banyak tidak akan terjadi well kick, merusak formasi, ketemu clay bisa swelling
dan pipe sticking, kesulitan dalam melakukan logging karena terlalu banyak media yang hilang.
Filtrat sedikit terbentuk mud cake yang tipis, mencegah formation damage, mud cake yang
terbentuk bisa jadi terlalu tipis sehingga kurang baik sebagai bantalan drill pipe