Anda di halaman 1dari 82

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Kualitas anak masa kini merupakan penentu kualitas sumber daya manusia (SDM)
di masa yang akan datang. Pembangunan manusia masa depan dimulai dengan
pembinaan anak masa sekarang. Untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas di
masa yang akan datang maka anak perlu dipersiapkan agar bisa tumbuh dan
berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Pertumbuhan anak
dipengaruhi oleh faktor internal (genetik) dan eksternal (lingkungan, penyakit, dan
status gizi dalam hal ini pemberian makanan). Seorang anak dapat tumbuh dengan
baik dan sesuai dengan rata-rata anak seusianya bila memiliki genetik yang baik dan
sesuai, tidak menderita suatu penyakit (terutama penyakit kronik), dan menerima
masukan makanan yang sesuai (baik dari segi kualitas maupun kuantitas). 1 Masalah
gizi anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, untuk sebagian masyarakat yang kurang
mampu disebabkan karena masukan makanan yang kurang atau karena infeksi yang
berulang, atau kombinasi keduanya.2
Infeksi cacing usus merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
cukup penting di negara tropis yang sedang berkembang. Infeksi cacing
mempengaruhi kesehatan, gizi, produktivitas penderita, dan secara ekonomis
menyebabkan kerugian, karena menyebabkan banyak kehilangan karbohidrat,

protein, dan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. 3 Infeksi
cacing juga menghambat perkembangan fisik, kecerdasan, dan menurunkan
pertahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lain. 4 Hal ini juga berhubungan
dengan kemiskinan yang pada akhirnya mengakibatkan terhambatnya tumbuh
kembang anak dan meningkatnya kejadian kurang energi protein (KEP).5,6
Cacing usus umumnya tidak menyebabkan penyakit berat, sehingga sering
diabaikan. Tetapi dalam keadaan infeksi berat, cenderung memberikan kesan keliru
kearah penyakit lain dan tidak mustahil juga kadang-kadang dapat berakibat fatal. 7
Infeksi cacing usus dapat mengurangi nafsu makan, gangguan absorpsi dan
pencernaan makanan, yang menimbulkan kehilangan zat-zat makanan seperti zat besi
dan protein pada infeksi kronik. Hal ini akan menyebabkan gangguan status gizi anak
walaupun pada keadaan ringan, tetapi terjadi dalam waktu yang lama.5
Cacing usus merupakan cacing bulat (nematoda) yang penularannya melalui tanah
yang tercemar tinja penderita cacingan, sehingga dikenal sebagai soil transmitted
helminthiasis (STH).8 Telur yang ada di dalam tinja, pada tanah yang lembab atau
basah akan tumbuh dan siap memasuki badan manusia melalui mulut dengan
perantaraan tangan atau makanan dan minuman yang tercemar.3
Hasil survei infeksi cacing usus di sekolah dasar di beberapa propinsi pada tahun
1986-1991 menunjukkan prevalens infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah
masih cukup tinggi yaitu sekitar 60-80%.4 Hal ini disebabkan karena Indonesia
sebagai negara tropis dengan kelembaban tinggi merupakan lingkungan yang baik

untuk perkembangbiakan cacing, terutama cacing usus yang ditularkan melalui


tanah.9 Juga karena belum memadainya sanitasi lingkungan dan kebersihan pribadi,
keadaan sosial ekonomi, serta kepadatan penduduk.4
Dari beberapa negara yang dilaporkan, prevalens infeksi cacing gelang, cacing
cambuk, dan cacing tambang pada anak usia prasekolah (0-7 tahun) di Kelantan
Malaysia masing masing sebesar 47,5%, 33,9%, dan 10,9%.10 Kemudian penelitian
yang dilakukan pada anak sekolah dasar di Portoviezo, Ekuador didapatkan prevalens
infeksi cacing gelang 13%, cacing cambuk 10%, dan cacing tambang 1,4%. 11
Penelitian di daerah kumuh Bungoma Kenya pada anak usia 24-59 bulan, prevalens
infeksi cacing pada anak usia 2 tahun 10%, anak 3 tahun 11%, dan anak 4 tahun
16%.12
Menurut hasil penelitian Chairulfattah dan Azhali pada anak usia kurang dari 14
tahun di daerah perkebunan Desa Taraju Kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 384 anak
(83,1%) menderita infeksi

cacing yang ditularkan melalui tanah, yaitu 68%

menderita infeksi cacing gelang, 52,8% cacing cambuk, dan 5,8% cacing tambang.
Prevalens terendah ditemukan pada kelompok usia 0-1 tahun (43%) dan tertinggi
didapatkan kelompok usia 5-14 tahun (86,7%).13 Penelitian yang dilakukan Ruskawan
terhadap 469 anak usia 2-6 tahun di Kelurahan Sukapura Kecamatan Kiaracondong,
Kodya Bandung sebanyak 132 anak (28%) menderita infeksi cacing gelang dan
cacing cambuk, baik sebagai infeksi tunggal maupun campuran. Cacing gelang
terdapat pada 81 anak (17%) dan cacing cambuk pada 85 anak (18%). 14 Penelitian

Bandawangsa di panti sosial asuhan anak kota Bandung, mendapatkan infeksi cacing
gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang masing-masing sebesar 12,8%, 20,8%,
dan 2%.15
Dua faktor utama yang menyebabkan tingginya infeksi cacing pada suatu daerah
adalah faktor iklim serta ekologi dan faktor manusia. Faktor manusia menyangkut
manusia sebagai sumber infeksi dan faktor perilaku yang menyebabkan pencemaran
tanah di sekitarnya.16
Tingkat sosial ekonomi sangat mempengaruhi timbulnya infeksi cacing tambang.
Determinan utamanya antara lain adalah kemelaratan, tingkat pendidikan yang
rendah, kepadatan penduduk, kurangnya fasilitas sanitasi, dan rendahnya pengetahuan
kesehatan. Penurunan insidens penyakit cacing tambang di beberapa negara yang
mengalami kemajuan ekonomi seperti Jepang, Korea, dan Taiwan merupakan bukti
yang kuat bahwa standar hidup merupakan determinan penting pada infeksi cacing
tambang. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Naquira di Sao Paulo menunjukkan
hubungan yang bermakna antara tingkat sosial ekonomi dan prevalens cacing
tambang.16
Status sosial ekonomi mempunyai hubungan timbal balik dengan taraf pendidikan.
Status sosial ekonomi yang rendah merupakan kendala bagi seseorang untuk
mendapatkan pendidikan yang baik, selanjutnya tingkat pendidikan yang rendah
mengurangi kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang baik. Tingkat
pendidikan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku kesehatan melalui pengaruhnya

terhadap pengetahuan penduduk tentang kebersihan, kesehatan, cara penularan, dan


bahaya suatu penyakit.16 Sehubungan dengan hal ini Headlee seperti dikutip oleh
Depary mengemukakan hubungan antara infeksi parasit usus, sanitasi, pendidikan,
dan keadaan sosial ekonomi sebagai suatu lingkaran setan di daerah pedalaman
Amerika Serikat bagian Selatan.7
Pertumbuhan anak usia pra sekolah sering disebut masa laten atau tenang.
Keadaan ini berbeda dengan pada masa bayi dan remaja pertumbuhannya sangat
pesat. Masa ini merupakan puncak kejadian defisiensi vitamin A dan KEP. Hal ini
disebabkan pada umumnya anak sudah mulai disapih, sedangkan makanan tambahan
yang diberikan sering kurang bergizi. Selain itu pada masa ini anak seringkali sulit
makan, anak banyak bermain, atau karena faktor kejiwaan.1 Anak usia < 5 tahun
mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya beberapa infeksi termasuk infeksi
cacing. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengetahui infeksi cacing pada
anak usia prasekolah penting, karena infeksi cacing pada usia ini akan menyebabkan
anemia atau mempeberat anemia dan pengobatan pada anak dengan jumlah telur yang
rendahpun menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang nyata. 17 Alasan lain anak
usia 24-60 bulan dipilih sebagai subjek dalam penelitian ini, karena pada usia ini
belum banyak dilakukan di Indonesia.
Suatu kawasan diindikasikan sebagai kawasan kumuh umumnya dilihat dari
kriteria fisik yaitu kepadatan penduduk dan bangunan relatif tinggi, suplai air bersih
tidak memadai, sanitasi buruk, drainase buruk, jalan lingkungan becek dan kotor,

serta tidak memiliki akses terhadap jasa pembuangan sampah. Analisis terhadap
tingkat kekumuhan kelurahan di Kota Bandung menghasilkan 4 tingkat kekumuhan,
yaitu sangat kumuh, kumuh, agak kumuh, dan tidak kumuh. Desa Babakan Surabaya
Kecamatan Kiara Condong termasuk kelurahan sangat kumuh di Kota Bandung.18
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan yang rendah, status sosial
ekonomi yang kurang, sanitasi lingkungan yang buruk, terbatasnya jamban, dan
pengelolaan limbah yang buruk berhubungan dengan terjadinya infeksi cacing.19
Cara diagnosis yang termudah untuk menentukan infeksi cacing usus ialah dengan
menemukan telur dan larva dalam tinja secara mikroskopis. 20 Dengan gejala klinis
yang tidak khas, perlu dilakukan pemeriksaan tinja untuk menentukan diagnosis
dengan menemukan telur cacing tersebut. Jumlah telur dapat dipakai sebagai patokan
untuk menentukan berat ringannya infeksi, dilakukan dengan metode Kato-Katz.3

1.2 Identifikasi Masalah


Bedasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Berapa besar prevalens dan derajat infeksi cacing usus yang ditularkan
melalui tanah pada anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan?
2. Apakah terdapat hubungan antara infeksi cacing usus yang ditularkan
melalui tanah dan status gizi anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh
perkotaan?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian


1.3.1

Maksud Penelitian.

Memeriksa tinja untuk mencari telur cacing usus yang ditularkan malalui tanah
dari anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan.
1.3.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui prevalens dan derajat infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah pada anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh
perkotaan.
2. Untuk mengetahui hubungan antara infeksi cacing usus yang ditularkan
melalui tanah dan status gizi anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh
perkotaan.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat ilmiah: dapat diketahui adakah hubungan antara infeksi cacing
yang ditularkan melalui tanah dan status gizi anak usia 24-60 bulan di
daerah kumuh perkotaan.
2. Manfaat praktis: dapat digunakan sebagai data apakah perlu dilakukan
pengobatan rutin dalam upaya pemberantasan infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah pada anak gangguan gizi.

1.5 Kerangka Pemikiran, Premis, Hipotesis


Kurang energi protein terjadi jika kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau
keduanya tidak terpenuhi oleh masukan makanan. Penilaian status nutrisi seseorang
bisa berdasarkan pemeriksaan fisis, laboratorium, dan antropometri.21
Seperti diketahui seseorang membutuhkan zat makanan, seperti protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral untuk kehidupan, pertumbuhan, dan
kesehatan. Zat makanan tersebut diatas diperlukan dalam jumlah yang lebih banyak
pada golongan yang sedang mengalami masa pertumbuhan, misalnya pada anak. Pada
golongan ini infeksi misalnya oleh virus, bakteri atau parasit, dapat menyebabkan
kurangnya zat makanan yang terus menerus dalam jangka waktu lama

dan

menimbulkan gejala apatis, tidak bergairah, selanjutnya akan timbul kelainan akibat
kurang gizi yang lebih berat.22
Kehilangan nafsu makan merupakan gejala umum yang sering dijumpai pada
berbagai penyakit, tidak hanya berasal dari kelainan gastrointestinal. Hilangnya nafsu
makan akibat diperantarai oleh satu atau lebih sitokin (contoh: interleukin 1 dan
tumor nekrosis faktor) yang dikeluarkan oleh limfosit sebagai respons tubuh terhadap
invasi atau adanya kerusakan jaringan. Meskipun demikian individu yang terinfeksi
parasit sering juga disertai keluhan seperti mual, muntah, nyeri perut, kembung, dan
diare.5,17
Akibat infeksi cacing terjadi kerusakan sel mukosa saluran pencernaan, vili
menjadi lebih pendek atau atrofi sehingga permukaan absorpsi berkurang. Makanan

di usus halus tidak seluruhnya dicerna dan diabsorpsi sehingga terjadi fermentasi di
usus besar dengan manifestasi klinis terjadinya diare. 5,17
Percepatan kehilangan zat makanan akibat infeksi cacing usus merupakan
mekanisme yang paling penting dan akan mempengaruhi status nutrisi pejamu yang
rentan, hal ini dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Kehilangan zat
makanan secara langsung karena parasit menembus jaringan dan menghisap darah
yang mengandung zat makanan, sedangkan lesi yang diakibatkan proses penghisapan
dan kerusakan mukosa terus mengeluarkan darah dan cairan jaringan walaupun
parasit tersebut telah berpindah. Kehilangan zat makanan secara tidak langsung
berasal dari mekanisme inflamasi dan imunologis pejamu yang berguna untuk
menghambat

infeksi dan memperbaiki kerusakan jaringan

di tempat terjadinya

inflamasi lokal parasit menempel, sering disertai infiltrasi leukosit dan menyebabkan
kerusakan lebih lanjut. Hal ini yang akan memperberat maldigesti, malabsorpsi, dan
kehilangan zat makanan dengan bertambahnya kerusakan sel. Pada saat respons fase
akut akan terjadi aktivasi sistem inflamasi yang merupakan reaksi umum tubuh
terhadap invasi patogen atau kerusakan jaringan. Hal tersebut merupakan akibat dari
respons katabolik yang diperantarai sitokin. Jaringan otot dipecah untuk
menghasilkan substrat glukoneogenesis dan perbaikan sel yang rusak sehingga
terjadilah keseimbangan nitrogen negatif.5,17
Dari penelitian klinis diketahui adanya pengaruh infeksi parasit terhadap status
nutrisi pejamu. Hadju dkk melakukan penelitian terhadap 330 anak sekolah dengan

10

memberikan obat cacing pirantel, albendazol dan placebo, dilakukan pemeriksaan


derajat infeksi cacing dan antropometri pada saat awal penelitian, kemudian
dilakukan pemerisaan ulangan untuk infeksi cacing dan antopometri pada bulan ke-3,
6, dan 12. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
penurunan derajat infeksi cacing A. lumbricoides dengan penambahan tinggi badan
pada bulan ke-12, juga penurunan derajat infeksi cacing T. trichiura dengan
penambahan lingkaran lengan atas pada bulan ke-3 dan 12.23 Pemberian obat cacing
secara rutin diikuti dengan pemberian makanan tambahan akan memperbaiki satus
gizi anak. Ismid dkk. melakukan penelitian terhadap anak SD negeri Sagalas, Kota
Madya Mataram, Lombok Nusa Tenggara Barat dengan memberikan obat cacing dan
pemberian

makanan tambahan anak sekolah (PMTAS), dengan pembanding SD

Cakranagara yang belum pernah mendapat program PMTAS dan program


pemberantasan cacing. Bobot badan murid SD Sagalas meningkat setelah 3 bulan
pengobatan, sedangkan di Cakranagara terjadi penurunan berat badan sesudah
pengobatan, namun masih dalam batas status gizi baik24 Dari penelitian Beltrame dkk
secara statistik menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara stunting (Z-score <
-2) dan derajat infeksi cacing.25 Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Asfaw dan
Goitom di Desa Aynalem, Ethiopia terhadap 330 anak balita menunjukkan bahwa
malnutrisi dan infeksi cacing usus tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. 26
Juga penelitian yang dilakukan oleh Lai dkk terhadap 353 anak sekolah di Kuala

11

Lumpur Malaysia dengan memberikan obat mebendazol dan pirantel palmoat secara
teratur selama 3 bulan ternyata tidak menunjukkan perbaikan pertumbuhan.27
Cacing dewasa A. lumbricoides pada umumnya tidak menimbulkan kelainan
kecuali pada infeksi yang berat. Sejumlah cacing yang menutupi mukosa usus halus
akan menghambat absorpsi zat gizi ke dalam jaringan tubuh. A. lumbricoides dalam
usus menyebabkan hiperperistaltik, sehingga dapat menimbulkan diare. Akibatnya
akan terjadi keseimbangan protein yang negatif dan asam amino dilepaskan dari otot.
Proses ini dapat berlangsung selama beberapa hari, bahkan sampai beberapa minggu.
Sekitar 7% protein yang terdapat dalam diet akan hilang pada infeksi

A.

lumbricoides sedang sampai berat.5 Gangguan absorpsi karbohidrat dalam bentuk dsilosa ditemukan Tripathy dkk. pada 8 anak yang terinfeksi A. lumbricoides setelah
diberikan piperazin. Absorpsi d-silosa meningkat, juga ditemukan adannya steatore
ringan pada beberapa anak yang terinfeksi A. lumbricoides dan menunjukkan adanya
gangguan absorpsi lemak.28
Malabsorpsi vitamin A ditemukan pada 70% penderita askariasis. Setelah
diberikan piperazin absorpsi vitamin A meningkat. Askariasis di masyarakat yang
disertai dengan vitamin A yang sedikit di dalam makanannya, memberikan peluang
terjadinya defisiensi vitamin A secara klinis seperti hemeralopia dan seroftalmia.
Sampai dimana vitamin A dan karoten digunakan dan dihancurkan oleh cacing tidak
begitu jelas, namun dampak klinis defisiensi vitamin tersebut pada penderita
askariasis dapat lebih berat.8,29

12

Penyakit yang disebabkan oleh cacing tambang (ankilostomiasis dan nekatoriasis)


merupakan penyakit infeksi menahun (kronik). Biasanya orang yang terinfeksi cacing
ini sering tidak menunjukkan gejala akut. Pada anak dengan infeksi berat dapat
mengakibatkan kemunduran fisis dan mental. Tinja penderita mengandung sejumlah
darah, kadang-kadang darah yang tidak bisa dilihat mata biasa (occult blood). Apabila
diperhatikan dari aspek hematologis, biokimia, gejala, dan terapinya, anemia yang
disebabkan oleh cacing tambang (A. duodenale dan N. americanus) tergolong anemia
defisiensi besi. Di daerah tropis kadang-kadang anemia yang disebabkan infeksi
cacing tambang dapat bersifat dimorfik, karena selain ada defisiensi besi juga terjadi
defisiensi zat lainnya.30
Teori mengenai terjadinya anemia yang disebabkan infeksi cacing tambang terjadi
sebagai berikut. Luka yang terjadi pada waktu cacing tambang menghisap darah di
dalam usus dianggap sebagai penyebab anemia, sehingga terjadi perdarahan usus
menahun serta kehilangan protein. Kehilangan darah oleh A. duodenale sampai 0,34
cc perhari, sedangkan oleh N. americanus 0,1 cc perhari, karena kerusakan mukosa
usus yang disebabkan gigi A. duodenale lebih berat dibandingkan kerusakan oleh
benda pemotong N. americanus. Selain itu diduga A. duodenale memproduksi zat
antikoagulan yang lebih kuat daripada N. americanus. Kebiasaan A. duodenale
berpindah tempat di dalam usus lebih sering apabila dibandingkan dengan

N.

americanus, sehingga menyebabkan lebih banyak tempat-tempat di usus yang


mengeluarkan darah. Pada penderita dengan angka telur pergram (TPG) tinja lebih

13

dari 5.000, dapat ditemukan gangguan absorpsi asam folat. Anemia tersebut tidak
dapat dikurangi hanya dengan pemberian zat besi tetapi harus disertai pemberian
asam folat.5,12
Umumnya infeksi T. trichiura gejalanya ringan sehingga tidak banyak
menimbulkan perhatian. Sekali-kali dijumpai infeksi berat dengan diare terus
menerus disertai darah dalam tinja. Adanya kasus diare yang berlangsung selama
berbulan-bulan menyebabkan pertumbuhan anak tidak memuaskan, berat badan
berkurang, dan tidak sesuai dengan usia. Pada kasus infeksi berat dapat menimbulkan
intoksikasi sistemik dan disertai anemia. Pernah dilaporkan anemia yang menyertai
infeksi T. trichiura dengan kadar Hb serendah 3 g/dL. Rupanya cacing ini juga
menghisap darah pejamu. Kira-kira 0,005 ml darah setiap harinya terbuang akibat
dihisap seekor cacing ini.17,31
Sudah banyak dilaporkan anak sekolah di negara berkembang mengalami banyak
gangguan dalam kegiatan belajar di sekolahnya, sehingga kognitif mereka kurang
dapat berfungsi secara normal. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti lingkungan
sekolah, status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, dan masalah kesehatan.
Penyakit kronik, kurang gizi, infeksi cacing, dan anemia defisiensi zat besi berperan
penting dalam mempengaruhi fungsi kognitif, sehingga dapat menurunkan kualitas
sumber daya manusia.32 Meskipun demikian penelitian yang dilakukan Dikson dkk
terhadap 15.000 anak dari 17 negara dari benua Afrika, Asia, Amerika Tengah, dan
Amerika Selatan dengan pemberian obat cacing ternyata hanya sedikit pengaruh

14

terhadap pertumbuhan dan perbaikan kognitif anak di negara berkembang. 6 Anak usia
prasekolah adalah masa yang rentan untuk terjadinya infeksi cacing, mempunyai
risiko tinggi untuk terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat nutrisi Memberikan
perhatian dengan pengobatan infeksi cacing merupakan langkah yang bijaksana
karena akan mempersiapkan mereka dalam keadaan sehat saat memasuki usia
sekolah.17 Penelitian yang dilakukan di Brazil pada anak usia prasekolah
menunjukkan bahwa infeksi cacing usus dalam 2 tahun pertama kehidupan akan
mempengaruhi pertumbuhan.32
WHO (1987) membuat kriteria untuk menentukan derajat infeksi cacing. Untuk A.
lumbricoides jumlah telur per gram ringan 1-4.999, sedang 5.000-49.999, berat
50.000. T. trichiura jumlah telur per gram ringan 1-999, sedang 1.000-9.999, berat
10.000, cacing A. duodenale dan N. americanus jumlah telur per gram ringan 11.999, sedang 2.000-3.999, dan berat 4.000.4
Dalam penanggulangan penyakit cacing usus yang ditularkan melalui tanah, cara
penanggulangan yang paling penting adalah dengan peningkatan higiene perorangan
dan perbaikan kesehatan lingkungan sehingga diharapkan lingkungan menjadi bersih
dan terbebas dari kemungkinan tercemar oleh telur cacing.33,34 Di negara yang sedang
berkembang tanah yang terkontaminasi oleh tinja penderita cacingan merupakan
masalah kesehatan lingkungan yang serius, diperkirakan 3 juta anak meninggal
karena penyakit saluran pencernaan juga mudah untuk mendapat infeksi cacing.35

15

Lingkungan yang kotor, sanitasi lingkungan yang buruk dan perilaku sehari-hari
memegang peranan penting untuk terjadinya penularan infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah.36,37

Penelitian yang dilakukan oleh Carneiro dkk. di

Carparao dan Alto Carparao Brazil didapatkan prevalens infeksi A. lumbricoides


tinggi pada anak dengan indeks higiene yang rendah, tidak adanya sumber air, dan
lingkungan yang padat. Anak yang tidak mempunyai sumber air yang baik
mempunyai risiko 4,6 kali terinfeksi A. lumbricoides, dan sosioekonomi yang rendah
mempunyai risiko terinfeksi A. lumbricoides 2,5 kali.35 Hasil penelitian Nur dkk. di
Kotamadya Padang seperti dikutip oleh Anwar menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna antara prevalens A. lumbricoides dengan tingkat pendidikan orang tua.34
Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa pendidikan yang rendah, status sosial
ekonomi yang kurang, sanitasi lingkungan yang buruk, terbatasnya jamban, dan
pengelolaan limbah yang buruk berhubungan dengan terjadinya infeksi cacing. 19
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Naquira di Sao Paulo menunjukkan hubungan
yang bermakna antara tingkat sosial ekonomi dan prevalens cacing tambang.16 ?????????
Pada penelitian ini, peneliti mengambil populasi di daerah kumuh Kelurahan
Babakan Surabaya Kecamatan Kiara Condong dengan pertimbangan daerah tersebut
merupakan golongan masyarakat yang rentan untuk terjadinya infeksi cacing usus.
Seperti kita ketahui bahwa infeksi cacing usus erat kaitannya dengan perilaku hidup
bersih dan sehat, sanitasi lingkungan, dan kepadatan populasi.

16

Berdasarkan keterangan di atas dapat dideduksi menjadi premis-premis sebagai


berikut:
Premis 1
Anak usia prasekolah mempunyai risiko untuk terjadinya infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah.15,17
Premis 2
Infeksi cacing usus akan menurunkan nafsu makan.5,17,22
Premis 3
Infeksi cacing usus menimbulkan kerusakan sel mukosa saluran pencernaan 17,22,32
Premis 4
Infeksi cacing usus menimbulkan malabsorpsi, maldigesti17,22,,26,28,32
Premis 5
Infeksi cacing usus akan menurunkan masukan makanan seperti energi, protein, besi,
vitamin A, folat, vit B-12, dan seng.17,22,26
Premis 6
Infeksi cacing usus akan memudahkan kehilangan zat-zat makanan.5,17,25
Premis 7
Adanya persaingan mendapatkan zat makanan antara pejamu dengan parasit.17, 22,25
Berdasarkan premis-premis tersebut diatas dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis

17

Terdapat hubungan antara infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah dan
status gizi anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan (Premis 1,2,3,4,5,6,7)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Soil transmitted helminthiasis (STH) adalah infeksi cacing usus yang penularannya
melalui tanah yang telah tercemar tinja penderita cacingan. Dalam siklus hidupnya
cacing usus tersebut membutuhkan tanah untuk pematangan telur atau larva yang

18

tidak infektif menjadi telur atau larva yang infektif. Spesiesnya banyak ditemukan di
daerah tropis dan tersebar di seluruh dunia (kosmopolit). Seluruh spesies cacing ini
bersifat uniseksual (gonodoik) sehingga ada jenis jantan dan betina. Cacing betina
ukurannya lebih besar daripada cacing jantan. Spesies yang paling sering dijumpai di
Indonesia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale.3
Manifestasi klinis yang ditimbulkan oleh cacing usus ini tergantung dari stadium
cacing yang menghinggapi, lokasi, jenis cacing, kemampuan mengambil cairan tubuh
hospes definitif, dan lamanya infeksi. 5,17
Pencegahan infeksi oleh cacing usus dapat dilakukan dengan menghindarkan diri
dari tanah, air maupun makanan yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung
telur cacing, pengobatan individu maupun masal dan pemahaman arti pentingnya
pendidikan higienis dan sanitasi yang bersih dan sehat.3,4,16

2.1 Ascaris lumbricoides


2.1.1 Hospes dan Nama Penyakit
Satu satunya hospes definitif cacing ini adalah manusia. Penyakit yang disebabkan
cacing ini disebut askariasis.7,8
2.1.2 Distribusi Geografis

19

Karena parasit ini terdapat di seluruh dunia, maka bersifat kosmopolitan.


Penyebaran parasit ini terutama berada di daerah tropis yang tingkat kelembabannya
cukup tinggi. 7,8
2.1.3 Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa mempunyai ukuran paling besar diantara cacing usus yang lain.
Bentuknya silndrik dengan ujung anterior lancip. Bagian anterior dilengkapi oleh tiga
bibir (triplet) yang tumbuh dengan sempurna. Cacing jantan berukuran 15-25 cm x 3
mm dan betina 25-35 cm x 4 mm. Cacing betina mempunyai masa hidup 1-2 tahun
dan mampu menghasilkan 200.000 telur/hari.38,39 Cacing jantan ujung posteriornya
lancip dan melengkung ke arah ventral, dilengkapi papil kecil dan dua buah spekulum
berukuran 2 mm, sedangkan pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan
lurus, dan pada 1/3 pada anteriornya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna
putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang bergaris
halus.40
Telur mempunyai empat bentuk, yaitu tipe dibuahi (fertilized), tidak dibuahi
(afertilized), matang, dan dekortikasi (seperti pada gambar 1,2,3,4). Telur yang
dibuahi besarnya 60 x 45 mikron, dinding tebal terdiri dari dua lapis. Lapisan luarnya
terdiri dari jaringan albuminoid, sedangkan lapisan dalam jernih. Isi telur berupa
masa sel telur. Telur yang tidak dibuahi berbetuk lonjong dan lebih panjang daripada
tipe yang dibuahi, besarnya 90 x 40 mikron, dan dinding luarnya lebih tipis.40

20

Telur-telur dikeluarkan melalui tinja individu yang terinfeksi dan dalam kondisi
lingkungan yang baik akan matang dalam 5-10 hari menjadi bentuk infektif. 39 Setelah
tertelan oleh manusia menetas menjadi larva di usus halus. Larva menembus dinding
usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe kemudian terbawa oleh darah
sampai ke jantung menuju paru-paru. Larva di paru-paru menembus dinding alveolus,
masuk ke rongga alveolus dan naik ke trakea. Dari trakea larva menuju ke faring dan
menimbulkan iritasi. Penderita akan batuk karena adanya rangsangan larva ini. Larva
di faring tertelan dan terbawa ke esofagus, terakhir sampai di usus halus dan menjadi
dewasa. Mulai dari telur matang yang tertelan sampai menjadi cacing dewasa
membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan.38,41

Gambar 1. Telur A. lumbricoides


Tidak Dibuahi

Gambar 2. Telur A. lumbricoides


Dibuahi

21

Gambar 3. Telur A. lumbricoides


(Dekortikasi)
Dikutip dari Jangkung 42

Gambar 5. Siklus Hidup A. lumbricoides.


Dikutip dari Schwartman 43

Gambar 4. Telur A. lumbricoides


(Berembrio)

22

2.1.4 Epidemiologi
Infeksi cacing gelang merupakan helmintiasis pada manusia yang paling sering
dengan perkiraan terjadi 1 milyar kasus di seluruh dunia, terutama pada anak prasekolah dan sekolah dasar,38 sedangkan prevalensnya di beberapa daerah di Indonesia
lebih dari 70%.44 Prevalens pada 12.100 anak sekolah dasar di 10 propinsi dari 15
lokasi di Indonesia pada tahun 1990 dan 1991 didapatkan 5,7-69,5%.45 Prevalens
infeksi cacing gelang pada balita di daerah Jakarta Barat tahun 1983, yaitu di Joglo
dan Jembatan Besi masing-masing sebesar 73,2% dan 73,9%.46 Prevalens cacing
gelang pada anak yang berusia 9 bulan-15 tahun (umumnya usia 2-6 tahun) di Desa
Namo Rambe di pinggiran kota Medan sebesar 76,2%. 7 Prevalens cacing gelang
anak usia 0-14 tahun di Desa Taraju Kabupaten Tasikmalaya 68% 13, prevalens cacing
gelang anak usia 2-6 tahun di Kelurahan Sukapura Kecamatan Kiaracondong Kodya
Bandung 17,3%,14 prevalens cacing gelang

di panti sosial anak kota Bandung

sebesar12,8%. 15
Di daerah endemis prevalens askariasis meningkat secara tajam pada usia 2-3
tahun pertama, maksimum pada usia 4-14 tahun, kemudian menetap atau sedikit
menurun.44
Askariasis merupakan suatu infeksi yang ditularkan melalui tanah yang tergantung
pada penyebaran telur ke dalam kondisi lingkungan yang sesuai untuk maturasinya.
Buang air besar secara sembarangan dan penggunaan kotoran manusia sebagai
pupuk merupakan hal yang tidak higienis yang terpenting terhadap endemisitas

23

askariasis. Cara penyebaran pada manusia adalah dari tangan ke mulut, yaitu jari
yang terkontaminasi tanah. Jenis-jenis makanan terutama yang dikonsumsi bahan
mentahnya tercemar oleh pupuk kotoran manusia atau lalat. Endemisitas cacing
gelang dibantu oleh pengeluaran telur cacing yang banyak dari cacing cacing dewasa
dan resistensi telur terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Telur telur tetap
infektif dalam tanah selama beberapa bulan dan dapat bertahan hidup dari cuaca
dingin (5-10C) selama 2 tahun. Penyebaran askariasis dapat terjadi sepanjang tahun
yang tergantung dari kondisi tanah untuk pematangan telur.39
2.1.5 Manifestasi Klinis
Patogenesis infeksi Ascaris lumbricoides berhubungan erat dengan respons umum
hospes, efek migrasi larva, efek mekanik cacing dewasa, dan defisiensi gizi. Infeksi
cacing gelang relatif ringan, sering tidak menunjukkan gejala kilnis sampai penderita
mengeluarkan cacing ini bersama-sama dengan tinja. Tetapi pada kasus infeksi berat
dapat timbul gejala-gejala selama fase dini dan malabsorpsi usus dan bahkan dapat
terjadi obstruksi usus pada tahap lanjut.47
Waktu larva mengadakan migrasi melalui aliran darah ke paru-paru, bagi orang
yang pernah tersensitisasi dapat menimbulkan gejala alergi berupa urtikaria dan asma.
Keluhan lain yang mungkin ditemukan adalah panas, batuk, wheezing dan sesak nafas
karena produksi sputum, kadang-kadang disertai sputum bersemu darah dan
eosinofilia.39,43

24

Apabila larva masuk kedalam sirkulasi sistemik, larva mungkin dapat mencapai
otak, mata, atau retina sehingga menimbulkan jaringan granuloma.8
Adanya cacing dewasa di dalam usus dapat menimbulkan keluhan sebagai berikut:
1. Cacing dewasa dalam usus halus berada dalam lipatan mukosa sehingga
menimbulkan iritasi (rangsangan) yang menyebabkan rasa tidak enak pada
perut mual, muntah, anoreksia, dan diare.43
2. Bila infeksinya berat, jumlah cacing banyak sekali sehingga membentuk
gulungan cacing yang menyumbat usus. Keluhan yang terjadi tiba-tiba disertai
kolik abdomen yang berat dan muntah-muntah berwarna empedu. Gejalagejala ini dapat berkembang dengan cepat dan mengikuti suatu perjalanan
penyakit yang sama dengan obstruksi usus akut karena sebab lain.39
3. Bila cacing terangsang oleh demam, anestesi, obat (befenium) maka akan
bergerak ke tempat lain (erratic migration) menyebabkan obstruksi atau
perforasi saluran empedu, kolangitis, abses hati, obstruksi saluran pankreas
disertai pankreatitis dan apendisitis, kemudian juga ke dubur lalu keluar dari
badan, cacing naik ke atas ke dalam lambung lalu keluar melalui mulut,
hidung atau telinga tengah.8,43,44
4. Menyebabkan kekurangan vitamin A sehingga dapat terjadi rabun senja yang
membaik setelah pengobatan.8 Pada infeksi berat dapat terjadi gangguan
absorbsi lemak, protein, dan karbohidrat terutama laktosa. 41,43

Hilangnya

beberapa zat makanan disebabkan oleh penyerapan yang buruk yang

25

disebabkan oleh cacing dalam usus. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan


penyerapan yang buruk adalah karena zat makanan yang masuk diperlukan
untuk pertumbuhan dan perkembangan cacing itu sendiri, terdapatnya anti
enzim dan toksin yang dikeluarkan oleh cacing, serta letak tubuh cacing yang
memanjang dapat menutupi permukaan usus.48
2.1.6 Diagnosis
Dari gejala klinis saja sering kali sukar untuk menegakkan diagnosis, sehingga
diperlukan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis askariasis ditegakkan berdasarkan:
1.

Ditemukannya telur cacing dalam tinja (melalui pemeriksaan hapusan tinja


langsung; jika diperlukan kuantitas telur dilakukan dengan metode Kato-Katz
atau metode konsentrasi.39

2.

Larva dalam sputum atau aspirat lambung.44

3.

Cacing dewasa yang keluar melalui mulut, anus, atau hidung.39,44


Menurut WHO apabila diperlukan untuk menentukan berat ringannya infeksi,

maka harus diperiksa jumlah telur dalam setiap gram tinja. Dikatakan infeksi ringan,
sedang, dan berat apabila didapatkan jumlah telur masing-masing sebanyak 1-4.999,
5.000-49.999, dan > 50.000 per gram tinja.4

26

2.1.7 Pengobatan
Beberapa obat anthelmentika yang dapat dipergunakan untuk askariasis adalah:
1.

Garam piperazin (sitrat, adipat atau fosfat), diberikan 50-75 mg/kgbb/hari


dengan dosis maksimal 4 gram untuk orang dewasa dan 2 gram untuk anak
dengan berat badan dibawah 20 kg, diberikan selama 2 hari. Piperazin ini
menyebabkan paralis neuromuskular dan dengan cepat akan mengeluarkan
cacing sehingga merupakan obat pilihan pada kasus obstruksi usus dan
saluran empedu.39,41,44 Efikasinya 70-80% apabila diberikan hanya satu kali,
sedangkan apabila diberikan se!ama 2 hari berturut-turut efektivitasnya lebih
dari 90%.44 Kadang-kadang ditemukan efek samping berupa urtikaria,
gangguan pencernaan, dan pusing.43

2.

Pirantel pamoat, diberikan dosis tunggal sebanyak 10 mg/kgbb (maksimum 1


gram),41,43 memberikan angka penyembuhan lebih dari 90%,44

dan

95,2-96,8%.49 Cara kerja pirantel pamoat berupa neuro-muscular bloking


agent, sehingga cacing akan mati dalam keadaan paralisis spastis. 50,51
Kadang-kadang ditemukan efek samping berupa mual, muntah, diare, nyeri
perut, ruam, panas badan, perasaan ngantuk, sakit kepala, pusing, dan
lemah/lesu.43,50,51 Efek samping biasanya ringan dan bersifat sementara, dapat
terjadi pada 4-20% penderita yang mendapat obat.50 Obat ini tidak diberikan
pada anak usia kurang dari 2 tahun.41

27

3.

Albendazol, diberikan dengan dosis tunggal 400 mg

8,43

memberikan

penyembuhan hampir 100%.43,52 Obat ini mempunyai efek ovisidal, larvasidal


dan secara selektif memblok pengambilan (uptake) glukosa oleh cacing.50,51
Albendazol tidak diberikan pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun.41
4.

Mebendazol, diberikan dengan dosis 100 mg/hari, sehari dua kali dan
diberikan selama 3 hari berturut-turut,39 memberikan efikasi 84-100%.44
Mebendazol 500 mg dosis tunggal, memberikan angka penyembunan sebesar
96,1% dan angka penurunan jumlah telur sebesar 99,8%.53 Kadang-kadang
didapatkan efek samping berupa diare, sakit perut, dan leukopenia. 43
Kontraindikasi pada wanita hamil,8 dan tidak dianjurkan untuk anak yang
berusia < 2 tahun.41

5.

Pemberian oksantel pirantel pamoat 10 mg/kgbb dosis tunggal memberikan


angka penyembuhan sebesar 90,4% dan penurunan jumlah telur sebesar
99,7%.54

6.

Levamisol, diberikan dosis tunggal sebanyak 150 mg untuk orang dewasa dan
5 mg/kgbb untuk anak, efikasinya 77-96%.44

28

2.2 Trichuris trichiura


2.2.1 Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif cacing ini adalah manusia. Cacing ini lebih sering ditemukan
bersama dengan Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa hidup didalam usus besar
manusia, terutama di daerah sekum dan kolon. Cacing ini juga kadang ditemukan di
apendiks dan ileum bagian distal.40
2.2.2 Distribusi Geografis
Cacing tersebar luas di daerah beriklim tropis yang lembab dan panas, namun juga
dapat ditemukan diseluruh dunia (kosmopolit), termasuk Indonesia.7
2.2.3 Morfologi dan Daur Hidup
Cacing ini ukurannya jauh lebih kecil dari pada A. lumbricoides. Cacing dewasa
betina panjangnya 35-50 mm, sedangkan cacing dewasa jantan panjangnya 30-45
mm. Cacing dewasa jarang ditemukan dalam tinja. Parasit ini sering disebut cacing
cambuk karena bagian anteriornya (kepala) panjang dan sangat halus, sedangkan
bagian ujung posterior (ekor) lebih tebal.55
Ukuran telur 50-54 x 32 mikron. Bentuknya seperti tempayan (tong) dan kedua
ujungnya dilengkapi dengan tutup (operkulum) dari bahan mukus yang jernih. Kulit
luar berwarna kuning tengguli dan bagian dalam jernih. 54 Telur berisi sel telur dalam
tinja segar (seperti gambar 6,7,8). 42

29

Telur yang sudah dibuahi di alam dalam waktu 3 sampai 6 minggu akan menjadi
matang. Untuk melanjutkan perkembangannya, telur ini membutuhkan tanah liat yang
lembab dan terhindar dari matahari.55
Infeksi terjadi karena tertelannya telur cacing cambuk yang sudah matang. Telur
dikeluarkan melalui tinja dari individu yang terinfeksi, setelah 2-4 minggu jika
kondisi kelembaban dan suhu tanah optimal selanjutnya telur akan menjadi matang.
Setelah tertelan, telur menetas dan larva melakukan penetrasi ke dalam vili usus kecil,
kemudian tinggal selama 3-10 hari sebelum bergerak turun dengan lambat dalam usus
dan mengalami maturasi menjadi cacing dewasa.56 Larva cacing cambuk tidak
melakukan penetrasi tetapi menenetap pada usus halus selama 1 minggu. 41,57 Habitat
akhir Trichuris trichiura dalam sekum dan kolon asendens. Cacing tetap berada di
dalam usus dengan melekatkan bagian anterior tubuhnya pada mukosa usus. Deposit
telur oleh cacing betina yang matang terjadi 1-3 bulan setelah infeksi. Ukuran telur 50
x 22 m.8,56 Usia cacing rata-rata 5 tahun dan cacing betina dewasa menghasilkan
2.000-14.000 telur per hari yang keluar bersama tinja.57

Gambar 6. Telur T. trichiura


(Dibuahi)

Gambar 7. Telur T. trichiura


(Berembrio)

30

Gambar 8. Telur T. trichiura (Stadium Morula)


Dikutip dari Jangkung 42

Gambar 9. Siklus hidup T. trichiura.


Dikutip dari Pearson 55
2.2.4 Epidemiologi
Cacing cambuk merupakan salah satu penyebab dari infeksi cacing yang paling
sering pada manusia, diperkirakan 500-700 juta kasus terjadi diseluruh dunia.4156-58
Infeksi lebih sering ditemukan di daerah tropis, tetapi dapat pula ditemukan di daerah

31

subtropis.57,58 Infeksi cacing cambuk lebih sering ditemukan di daerah hangat dan
lembab.54,57 Di Asia prevalensnya kira-kira 63%, di Afrika 11% dan di Amerika
sebesar 14%.57 Prevalens cacing cambuk pada anak yang berusia 2-6 tahun, di Desa
Talapeka dan Namo Rambe pinggiran kota Medan, masing-masing sebesar 57,1%
dan 77,2%.7
Derajat infeksi cacing cambuk berbeda disetiap daerah di dunia. Di Polandia pada
anak sekolah yang terinfeksi ditemukan lebih dari 5.000 telur/gram tinja, di Vietnam
dari 3% remaja yang terinfeksi ditemukan lebih dari 10.000 telur/gram tinja. Di El
Salvador dari 0,6% orang dewasa dan 1,2% anak yang terinfeksi ditemukan lebih dari
20.000 telur/gram tinja.57 Prevalens cacing cambuk anak usia 0-14 tahun di Desa
Taraju Kabupaten Tasikmalaya 52,8%,13 prevalens cacing cambuk anak usia 2-6 tahun
di Kelurahan Sukapura Kecamatan Kiaracondong Kodya Bandung 18,1%, 14 prevalens
cacing cambuk di panti sosial anak kota Bandung 20,8%.15
Manusia merupakan penjamu primer, prevalensnya dan derajat infeksi tertinggi
terjadi pada anak.53 Didapatkan paling sering pada anak berusia 5-14 tahun, tetapi
mungkin juga pada usia yang lebih dini dan bayi, sedangkan angka kejadian pada
orang dewasa biasanya lebih rendah.57 Penularan telur-telur yang mengandung embrio
terjadi melalui kontaminasi tangan, makanan atau minuman. Telur dapat pula terbawa
oleh lalat atau serangga lainnya. 56 Telur di dalam tanah menjadi infektif setelah 1
bulan dan dapat bertahan dalam beberapa bulan. Telur akan mati pada suhu >40C
selama 1 jam dan pada suhu <-8C.57

32

2.2.5 Manifestasi Klinis


Kelainan patologis yang disebabkan oleh cacing dewasa terutama terjadi karena
kerusakan mekanik di bagian mukosa usus dan respons alergi. Keadaan ini erat
hubungannya dengan jumlah cacing, lama infeksi, usia, dan status kesehatan umum
dari pejamu.55
Sebagian besar individu yang terinfeksi bersifat asimtomatis. Walaupun demikian
dapat ditemukan keluhan abdomen berupa kolik dan distensi. Cacing dewasa
menghisap darah sekitar 0,005 ml/hari. Hanya infeksi yang berat pada anak
menyebabkan anemia ringan, dan diare berdarah, 17,32,38,41,55,56

sakit perut dan

tenesmus,42,45,58 serta prolaps rektum walaupun keadaan ini jarang terjadi,41,56 sakit
epigastrik, muntah distensi, anoreksia serta berat badan yang menurun.8
Secara klinis, anemia hipokrom dapat terjadi pada kasus infeksi yang lama.
Anemia ini terjadi karena penderita mengalami malnutrisi dan kehilangan darah
akibat kolon yang rapuh disamping cacing ini juga diduga menghisap darah.
Penderita dengan kasus disentri, dalam tinjanya ditemukan kristal charcot-Leyden
dan eosinofil, namun pada sediaan apus darah tepi eosinofil tidak selalu terlihat. 55
2.2.6 Diagnosis
Pada pemeriksaan langsung dari hapus tinja ditemukan telur cacing cambuk, 56 atau
cacing dewasa mungkin ditemukan pada anus yang prolaps. 8,57 Menurut WHO

33

dikatakan infeksi ringan, sedang, dan berat bila didapatkan jumlah telur pergram
tinja, berturut-turut: 1-999,1.000-9.999, dan >10.000.4
2.2.7 Pengobatan
1.

Mebendazol merupakan obat pilihan untuk penderita trikuriasis. 58 Diberikan


100 mg dua kali sehari selama tiga hari berturut turut. Obat ini memberikan
angka kesembuhan sebanyak 7-90% dan menurunkan produksi telur sebanyak
90-99%.56 Pemberian obat ini tidak memerlukan penyesuaian dosis
berdasarkan berat badan, karena obat ini sedikit diabsorbsi.41 Menurut satu
penelitian dengan pemberian 500 mg dosis tunggal pada pengobatan masal
yang diberikan pada anak dengan berat badan > 10 kg, efikasinya kira-kira
75%.55 Pemberian 500 mg dosis tunggal memberikan angka penyembuhan dan
angka penurunan jumlah telur masing-masing sebesar 44,7% dan 89,7%.53

2.

Oksantel-pirantel pamoat diberikan 20mg/kgbb sehari selama 2 hari,


efektivitasnya lebih dari 90%. Sedangkan pada pemberian dosis tunggal,
didapatkan angka penyembuhan tidak lebih dari 76%. 57 Pemberian 15
mg/kgbb dosis tunggal memberikan angka penyembuhan sebesar 93,4% dan
angka penurunan jumlah telur masing masing sebesar 93,4% dan 97,4%.54

3.

Flubendazol diberikan 20-600 mg dosis tunggal, efektif menurunkan jumlah


telur lebih dari 90%, tetapi angka penyembuhannya 65% atau kurang.55

4.

Pemberian

albendazol

400

mg

dosis

tunggal,

memberikan

angka

penyembuhan sebesar 59,3%.51 Sedangkan penurunan jumlah telur cacing

34

cambuk per gram tinja setelah diberi albendazol 400 mg dosis tunggal sebesar
71,4%.51 Pada infeksi yang berat albendazol diberikan dengan dosis 400 mg
selama 3 hari.56 Dari hasil penelitian Abidin dkk.

efek samping obat

ditemukan pada 2 kasus (6%), yaitu diare, sifatnya ringan dan sembuh sendiri
tanpa pengobatan.53

2.3 Necator americanus dan Ancylostoma duodenale


2.3.1 Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif kedua cacing ini adalah manusia. Cacing ini tidak mempunyai
hospes perantara. Tempat hidupnya dalam usus halus terutama jejenum dan
duodenum.40
2.3.2 Distribusi Geografis
Kedua parasit ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit). Penyebaran yang paling
banyak di daerah tropis dan subtropis. Lingkungan yang paling cocok adalah habitat
dengan suhu dan kelembaban tinggi, terutama di daerah pertambangan dan
perkebunan.40
2.3.3 Morfologi dan Daur Hidup
Dua genus utama cacing tambang menyebabkan infeksi pada manusia. Cacing
tambang dan genus Ancytostoma mencakup cacing tambang antropofilik utama
Ancylostoma duadenale, yang menyebabkan infeksi cacing tambang klasik, dan
spesies zoonotik yang kurang umum A. ceylanicum, A. caninum, dan A. braziliense.

35

Necator americanus satu-satunya contoh dari genus tersebut, juga merupakan cacing
tambang ankopofilik utama dan menyebabkan infeksi cacing tambang klasik.59,60
Stadium larva infektif dari cacing tambang antropofilik hidup di dalam keadaan
perkembangan yang terbatas pada tanah yang hangat, lembab, dan berair. Larva-larva
ini menyebabkan infeksi pada manusia dengan cara menembus melalui kulit
(Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) atau jika mereka termakan
(Ancylostoma duodenale). Larva yang memasuki manusia dengan cara penetrasi kulit
mengalami migrasi ekstra intestinal melalui sirkulasi vena dan paru sebelum mereka
tertelan, sedangkan larva yang termakan melalui oral dapat mengalami migrasi ekstra
intestinal atau tetap di dalam saluran cerna. Larva yang kembali kedalam usus halus
mengalami dua bentuk fase sampai menjadi dewasa, yaitu cacing jantan dan betina
yang matur secara seksual dengan panjang berkisar 5-13 mm. Kapsul bukal dari
cacing tambang dewasa dipersenjatai dengan gigi (Ancylostoma duodenale) atau
lempeng pemotong (Necator americanus) untuk mempermudah penempelan pada
mukosa dan submukosa usus halus. Cacing tambang dapat menetap berada dalam
intestinum selama 1-5 tahun, mereka kawin dan menghasilkan telur. Meskipun lebih
kurang 2 bulan diperlukan untuk stadium larva cacing tambang untuk mengalami
migrasi ekstra intestinal dan berkembang menjadi dewasa matur, larva Ancylostoma
duadenale dapat tetap tertahan perkembangannya selama beberapa bulan sebelum
berkembang normal pada intestinum.60 Daur hidup kedua cacing tambang ini dimulai
dari larva filariform yang menebus kulit manusia, kemudian masuk ke kapilar darah

36

dan berturut-turut menuju jantung kanan, paru-paru, bronkus, trakea, laring, dan
terakhir dalam usus halus sampai menjadi dewasa.59
Cacing dewasa berbetuk silindrik. Ukuran cacing betina 9-13 mm dan cacing
jantan 5-10 mm. Bentuk N. americanus sepeti huruf S, sedangkan A. duodenale
seperti huruf C, rongga mulut kedua spesies cacing ini lebar dan terbuka. Pada N.
americanus mulut dilengkapi gigi kitin, sedangkan A. duodenale dilengkapi dua
pasang gigi berbentuk lancip. Kedua cacaing ini, yang jantan ujung ekornya
mempunyai bursa kopulatriks, sedangkan yang betina ujung ekornya lurus dan lancip.
Kedua spesies cacing dewasa ini secara morfologis mempunyai perbedaan yang nyata
(terutama bentuk tubuh, rongga mulut, dan bursa kopulatriksnya).40,59
Telur kedua cacing ini keluar bersama tinja. Didalam tubuh manusia, dalam waktu
1-1,5 hari telur telah menetas dan mengeluarkan larva rabditiform yang panjangnya
kurang lebih 250 mikron, rongga mulut panjang dan sempit, esofagus mempunyai
dua bulbus yang terletak 1/3 panjang tubuh bagian anterior. Selanjutnya dalam waktu
kira-kira 3 hari, larva rabditiform berkembang menjadi larva filariform (bentuk
infektif) yang panjangnya kira-kira 500 mikron, rongga mulut tertutup, dan esofagus
terletak panjang tubuh bagian anterior. Larva filariform dapat tahan di dalam tanah
selama 7-8 minggu. Infeksi pada manusia terjadi apabila larva filariform menembus
kulit atau tertelan.40,59
Cacing betina Ancylostoma duodenale matur memproduksi 25.000-30.000 telur/24
jam sedangkan produksi telur harian oleh Necator americanus kurang dari 10.000/24

37

jam. Telur-telur tersebut berselubung tipis dan berbentuk ovoid, berukuran kurang
lebih 40 x 60 mikron.59,60

Gambar 10. Telur Cacing Tambang


(Stadium 8 sel)

Gambar 11. Telur Cacing Tambang


(Stadium Morula)

Gambar 12. Telur Cacing Tambang


(Stadium Embrio)

Gambar 13. Telur Cacing Tambang


(Stadium Rabditiform)

Gambar 14. Telur cacing tambang (Stadium Filariform)


Dikutip dari Jangkung 42

38

Gambar 15. Siklus Hidup Cacing Tambang.


Dikutip dari Schad

59

2.3.4 Epidemiologi
Infeksi cacing tambang merupakan salah satu jenis cacing infeksius dan sering
pada manusia, diperkirakan satu milyar individu diseluruh dunia terkena. Anak yang
terinfeksi berat menderita kehilangan darah intestinal yang mengakibatkan defisiensi
besi, sehingga terjadi anemia dan dapat terjadi malnutrisi protein.60

39

Karena memerlukan tanah yang yang cukup lembab, teduh dan hangat. infeksi
cacing tambang biasanya terjadi di daerah pedesaan, terutama bila kotoran manusia
digunakan untuk pupuk atau sanitasi yang tidak adekuat. Atas alasan tersebut, cacing
tambang merupakan suatu infeksi yang terkait dengan perkembangan ekonomi rendah
dan kemiskinan diseluruh negara tropis dan subtropis.60 Prevalens infeksi cacing
tambang bervariasi dari 80-90% di daerah pedesaan yang tidak mempunyai sanitasi
yang baik dan lembab, misalnya di Benggala Barat sampai 10-20% di daerah-daerah
yang relatif kering dan sanitasi yang buruk, misalnya di Irak dan Pakistan. 59 Prevalens
cacing tambang anak usia 0-14 tahun di Desa Taraju Kabupaten Tasikmalaya 5,8%,13
sedangkan prevalens cacing gelang di panti sosial anak kota Bandung 2%.15
2.3.5 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi cacing tambang dapat dipahami dalam kaitan dengan
siklus hidupnya baik bentuk larva atau cacing dewasa. 59 Gejala permulaan timbul
setelah larva menembus kulit adalah rasa gatal biasa. Apabila larva menembus kulit
dalam jumlah banyak, rasa gatal semakin hebat dan kemungkinan terjadi infeksi
sekunder. Apabila lesi berubah menjadi vesikular akan terbuka karena garukan.
Gejala ruam papuloeritematosa yang berkembang akan menjadi vesikel. Hal ini
terjadi karena banyaknya larva filariform yang menembus kulit dan disebut ground
itch.59,61

40

Disamping itu dapat terjadi batuk pada infeksi cacing tambang bila larva
bermigrasi melalui paru untuk menyebabkan laringotrakeobronkitis, biasanya lebih
kurang satu minggu sesudah terpajan, juga dapat terjadi faringitis.61
Infeksi cacing tambang intestinal dapat tejadi tanpa disertai keluhan saluran cerna
yang spesifik, meskipun nyeri, anoreksia, dan diare dapat menyertai adanya infeksi
cacing tambang. Eosinoflia sering yang pertama diperhatikan dalam keadaan infeksi
asimtomatik. Manifestasi klinis utama penyakit ini akibat secara langsung oleh
penempelan cacing tambang dewasa pada mukosa duodenum dan jejunum, berupa
kehilangan darah intestinal.59,60 Anak yang terinfeksi berat memperlihatkan tanda dan
gejala anemia defisiensi besi dan malnutrisi protein. Pada beberapa kasus, anak yang
mengalami penyakit cacing tambang kronis tampak warna kulitnya kuning-hijau yang
dikenal sebagai klorosis.59 Pada kasus berat, nilai hemoglobin dapat mencapai 3-8
g/dL. Dari apus darah tepi terlihat eritrosit hipokrom mikrositer, sedangkan hitung
retikulosit biasanya normal. Terdapat kehilangan besi dari cadangan sumsum tulang,
kadar besi serum rendah sampai tidak ada, dan kadar albumin serum rendah, hitung
sel darah putih biasanya normal, kecuali eosinofilia ringan sekitar 7-14%. Jarang
terjadi anemia akut yang disebabkan oleh perdarahan gastrointestinal.59
Gejala klinis yang disebabkan oleh cacing tambang dewasa dapat berupa:
-

Nekrosis jaringan usus: keadaan ini diakibatkan dinding jaringan usus yang
terluka oleh gigitan cacing dewasa.59

41

Gangguan gizi: penderita banyak kehilangan karbohidrat, lemak dan terutama


protein, bahkan banyak unsur besi (Fe) yang hilang sehingga terjadi malnutrisi.30

Kehilangan darah: darah yang hilang itu dikarenakan dihisap langsung oleh
cacing dewasa dapat menimbulkan perdarahan terus menerus karena sekresi zat
anti koagulan oleh cacing dewasa tersebut. Setiap ekor Necator americanus dapat
mengakibatkan hilangnya darah antara 0,05 cc sampai 0,1 cc per hari, sedangkan
setiap ekor Ancylostoma duodenale dapat mencapai 0,08 cc sampai 0,34 cc
perhari. Penderita biasanya menjadi anemia hipokrom mikrositer sehingga daya
tahan dan prestasi kerja menurun.26

Suatu bentuk infantil Ancylostomiasis yang diakibatkan oleh infeksi berat


Ancylostoma duodenale pada bayi, tampak gejela diare, melena, gagal tumbuh,
dan anemia berat. Penyakit ini mempunyai mortalitas yang signifikan.59

2.3.6 Diagnosis
Anak yang menderita cacing tambang dan melepaskan telurnya dapat dideteksi
dengan pemeriksaan feses langsung. Telur Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus secara morfologis tidak dapat dibedakan.59
Banyak cara pemeriksaan telur dalam tinja disamping pemeriksaan tinja langsung
dengan pengecatan sederhana, yaitu pemeriksaan kuantitatif menurut modifikasi Kato
atau dengan biakan menurut Harada Mori.47 Menurut WHO dikatakan infeksi ringan,
sedang, dan berat bila didapatkan jumlah telur per gram tinja, masing-masing
1-1.999, 2.000-3.999, dan 4.000.4

42

2.3.7 Pengobatan
Tujuan terapi ini adalah menghilangkan cacing tambang dewasa dengan suatu obat
anthelmintika sebagai tambahan terhadap pemberian nutrisi untuk anak yang
mengalami defisiensi besi dan malnutrisi protein yang terkait dengan cacing tambang.
Anthelmintika benzimidazol, mebendazol, dan albendazol sangat efektif untuk
mengeliminasi cacing tambang dari intestinum. Suatu dosis tunggal albendazol (400
mg peroral) untuk anak dan dewasa mencapai derajat kesembuhan sampai 95%,
meskipun cacing tambang dewasa Necator americanus kadang-kadang lebih kebal
dan memerlukan dosis tambahan. Mebendazol 100 mg 2x sehari selama 3 hari, atau
500 mg dosis tunggal untuk anak dan dewasa sama efektifnya. Karena benzimidazol
telah dilaporkan bersifat embriotoksik dan teratogenik pada hewan percobaan
laboratorium, keamanannya untuk anak masih perlu penelitian lebih lanjut. Pirantel
pamoat (11 mg/kgbb sekali sehari selama 3 hari, maksimum 1 gram) tersedia dalam
bentuk cairan dan merupakan alternatif yang efektif. 60
Terapi pengganti dengan suatu preparat garam besi sering diperlukan untuk
mengkoreksi defisiensi besi karena cacing tambang. Suplemen besi yang diberikan
dalam bentuk fero sulfat (300 mg) diantara waktu makan 3 kali sehari. Hemoglobin
akan meningkat 1 g/dL dalam seminggu. Pengobatan harus dipertahankan selama 3
bulan sesudah perbaikan kadar hemoglobin normal untuk menambah cadangan besi.51
2.4 Pencegahan

43

Upaya pengendalian diarahkan untuk mengurangi beban cacing pada manusia


dengan kemoterapi masal secara periodik.41 Kemoterapi masal akan menurunkan
jumlah telur cacing sehingga akan mengurangi kontaminasi terhadap lingkungan.59
Karena angka reinfeksi tinggi, pengobatan untuk infeksi cacing harus diulang dengan
interval 3-6 bulan.39 Sangat sulit untuk mencegah tejadinya reinfeksi, karena telur
cacing dapat bertahan bertahun-tahun dalam tanah pada kondisi yang sesuai.43
Praktek sanitasi diarahkan untuk penanganan tinja manusia sebelum digunakan
sebagai pupuk dan fasilitas pembuangan salurah limbah yang higienis merupakan
tindakan pencegahan jangka panjang yang efektif terhadap penyakit cacing yang
ditularkan melalui tanah.39 Mencuci tangan sebelum makan, memasak makanan,
sayuran, dan penyediaan air bersih merupakan salah satu contoh pencegahan
individual. Kontrol yang efektif untuk infeksi cacing berupa pengobatan masal
disertai perbaikan sanitasi lingkungan, pendidikan, dan penyuluhan kesehatan.44
Pengobatan masal dilakukan apabila prevalens infeksi cacing >30% diberikan obat 3x
setahun, prevalens 20-30% dilakukan 2x setahun, prevalens 10-20% dilakukan 1x
setahun, dan bila prevalensnya <10% diberikan pengobatan secara selektif (hanya
yang positif mendapat pengobatan). Obat yang dipilih untuk infeksi cacing harus
aman, mudah pemberiannya, harganya murah dan efektif (hanya yang positif
mendapat pengobatan). Obat yang dipilih untuk infeksi cacing harus aman, mudah
pemberiannya, harganya murah, dan efektif, untuk program digunakan pirantel
pamoat 10 mg/kgbb. Apabila infeksi cacing gelang telah rendah dan infeksi cacing

44

cambuk menjadi masalah di daerah tersebut, dianjurkan menggunakan mebendazol


500 mg atau albendazol 400 mg dosis tunggal.4

45

BAB III
SUBJEK DAN METODE PENELTIAN

3.1

Subjek Penelitian
Populasi target adalah balita usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan.
Populasi terjangkau adalah daerah kumuh kelurahan Babakan Surabaya
Kecamatan Kiara Condong.

3.2

Metode Penelitian

3.2.1

Bentuk dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian analitik dengan rancangan cross sectional.

3.2.2

Penentuan Sampel Penelitian

a. Untuk studi deskriptif: mencari prevalens dan derajat infeksi cacing usus yang
ditularkan melalui tanah pada anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan.
Besar sampel ditentukan berdasarkan perkiraan angka prevalens infeksi
cacing usus yang ditularkan melalui tanah pada anak sebesar 20%. Memilih taraf
kepercayaan 95% dan presisi 5%. Rumus besar sampel untuk menaksir prevalens
yaitu:
n = p (1-p) Z/22
d

46

dengan

p = taksiran prevalens (0,2)


Z/2 = nilai z yang didapat dari tabel distribusi normal standar, untuk taraf
kepercayaan 95% = 1,96
d = presisi 5% (0,05)
n = 0,2 (0,8)

1,96
0,06

n = 246
Jumlah sampel minimal 246 dibulatkan 280

b. Untuk studi analitik: untuk mengetahui hubungan antara status gizi anak usia 24-60
bulan dan derajat infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah di daerah kumuh
perkotaan.
Dasar perhitungan ditentukan berdasarkan taraf kepercayaan 95%, power test
80% dan besarnya odds ratio yang secara klinis bermakna ditentukan 3,0. Serta
besarnya proporsi kejadian gizi kurang pada anak balita sehat menurut Susenas 1995
sebesar 40%. Dengan menggunakan rumus besar sampel untuk menguji perbedaan
dua proporsi:
n = Z 2 p (1-p) + Z p1(1-p1) + p2(1-p2) 2
(p1 - p2 )2
Dengan p2 =0,4 untuk mencari p1 menggunakan rumus:
p1= OR X p2
1 + p2(OR-1)

3 X 0,4
1 + 0,4 (2)

= 1,2 = 0,67
1,8

47

p = 0,4 + 0,67 = 0,53


2
n = 1,96 2 (0,53) (0,47) + 0,84 0,4(0,671X0,33) + (0,4X0,6) 2
(0,67-0,4 )2
= 1,38 +0,958 2
0,27
= 76 perkelompok
Dari hasil perhitungan didapat n perkelompok 76. Besar sampel ini sudah mencukupi
besar sampel untuk perhitungan prevalens diatas. Jadi besar sampel untuk penelitian
sesuai dengan perhitungan untuk studi deskriptif diatas yaitu 280.

3.2.3

Cara Kerja

Semua subjek yang terpilih dicatat identitasnya meliputi nama, usia, jenis kelamin,
kemudian dilakukan pengukuran, meliputi berat badan dan panjang badan/tinggi
badan. Mencatat data: pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan
keluarga. Pencatatan dan penimbangan oleh peneliti dibantu oleh kader yang telah
dilatih sebelumnya.
Sebelum dimasukkan dalam penelitian, subjek yang bersedia dimintakan izin
kepada orang tua/wali, setelah diberitahukan maksud, tujuan dan cara-cara penelitian
dengan jelas. Orang tua atau wali diminta menandatangani formulir izin.

48

3.2.4

Cara Pengukuran

3.2.4.1

Pengukuran Berat Badan (BB)

Penimbangan dilakukan oleh peneliti dibantu kader yang telah dilatih terhadap subjek
dalam keadaan telanjang/pakaian dalam yang ringan, dengan menggunakan
timbangan berdiri platform balance scale, dengan ketepatan 100 gram.
3.2.4.2

Pengukuran Tinggi Badan (TB)

Pengukuran dilakukan oleh peneliti dibantu kader yang telah dilatih sebelumnya
dalam posisi berdiri dengan menggunakan alat microtoire.

3.2.4.3

Penentuan Status Gizi

Status gizi ditentukan berdasarkan indeks berat badan/tinggi badan untuk


menggambarkan keadaan akut, dan disebut gizi baik bila 2 SD baku WHO-NCHS
dan gangguan gizi/wasted: < 2 SD baku WHO-NCHS, sedangkan untuk
menggambarkan keadaan kronik menurut tinggi badan/usia, dan disebut gizi baik bila
2 SD baku WHO-NCHS dan gangguan gizi/stunted: < 2 SD baku WHO-NCHS.
3.2.4.4 Pemeriksaan Tinja
Pengambilan spesimen tinja dilakukan oleh kader yang sudah dilatih sebelumnya,
sebanyak 50 sampel tinja setiap hari untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium.

49

Pengambilan sampel hanya 50 sampel tinja setiap hari untuk menghilangkan


kesalahan pada pemeriksaan.
Spesimen dimasukkan ke dalam pot plastik tanpa pengawet, diberi label nomor
penelitian, nama, dan tanggal pengambilan. Selanjutnya pada hari itu juga sampel
tinja yang terkumpul diambil oleh peneliti dibantu dengan seorang paramedis lalu
dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Propinsi Jawa Barat pada hari yang sama.
Semua sampel tinja diperiksa untuk menentukan ada tidaknya telur cacing, baik
sebagai infeksi tunggal atau campuran dan jumlah telur cacing pergram tinja dengan
menggunakan metode Kato-Katz untuk menentukan jenis dan banyaknya telur
cacing.
Untuk sampel tinja yang hasilnya positif mengandung telur cacing, diberikan obat
mebendazol dosis 2 x 100 mg selama 3 hari berturut-turut.
3.2.5.5

Pemeriksaan Laboratorium
Di laboratorium, semua sampel tinja diperiksa dengan menggunakan Kato
Katz untuk menentukan jenis dan banyaknya telur cacing.

Bahan yang diperlukan:

Lidi (5 cm)

Gelas objek

Tutup botol dari karet

Kertas saring (tissue paper)

Selofan sebesar 2,5x 3 cm

50

Larutan untuk memulas selofan:


-

100 bagian akuades

100 bagian gliserin

1 bagian larutan hijau malachit (3%)

Rendamlah selofan sebesar 2,5 x 3 cm dalam larutan selama 18 jam

Kawat saring

Karton (card board) yang sudah dilubangi

Kertas minyak yang sudah dipotong ukuran 10 x 10 cm

Sarung tangan (handschoen)

Spidol

Tinja yang akan diperiksa

Cara kerja:

Pakailah sarung tangan untuk mengurangi infeksi

Tulislah nomer kode pada gelas objek

Letakkan kertas minyak di atas meja

Dengan lidi, taruhlah tinja di atas kertas minyak sebesar ruas jari
tangan. Mis: 40 mg (miligram)

Letakkan kawat saring di atas meja dan tekan dengan dua batang lidi
sehingga naik keatas melalui kawat saring

51

Letakkan karton di atas gelas objek

Pindahkan tinja yang sudah di atas kawat saring ke dalam lubang


karton yang diletakkan di atas gelas objek

Ratakan tinja dengan permukaan karton (pakai lidi)

Angkat karton dan usahakan agar tinja tetap tinggal di atas gelas objek

Letakkan selofan di atas tinja, usahakan perekat selofan menghadap


tinja di atas gelas objek

Ratakan tinja keseluruh penjuru di bawah selofan dengan tutup botol


(gelas objek) hingga cukup tipis

Biarkan sediaan selama 20-30 menit

Periksa dengan pemeriksaan lemah (10 x) dan hitunglah telur-telur


cacing dengan zig-zag sampai seluruh lapangan pandangan selesai

Jumlah telur pergram tinga (EPG) adalah perkalian jumlah telur yang
diperoleh (X) x 1.000 per jumlah (gram) tinja yang diperiksa
Atau

X x 1.000 mg
40 mg tinja

3.2.5 Variabel Penelitian


Variabel independen: infeksi cacing usus.
Variabel dependen: status gizi.
Variabel pengganggu yang akan diperhitungkan: pendidikan orang tua, penghasilan
orang tua.

52

3.2.6 Pengolahan dan Analisis Data


Seluruh data yang diperoleh, dicatat dan ditabulasi. Selanjutnya pengolahan data
dilakukan dengan menggunakan komputer piranti lunak SPSS versi 10. Untuk
mengetahui prevalens kejadian infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah
akan dinilai persentase dengan taraf kepercayaan (confidence interval) 95%. Untuk
melihat hubungan antara status gizi dengan infeksi cacing usus yang ditularkan
melalui tanah dilakukan analisis analisis univariat dengan menggunakan uji ki
kuadrat. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian


3.3.1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di kelurahan di kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiara
Condong, pemeriksaan tinja dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Propinsi
Jawa Barat.
3.3.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan bulan Desember 2003-Februari 2004.

3.4 Batasan Operasional


Usia:

53

Usia anak dinyatakan dengan satuan bulan (dilihat dari tanggal lahir anak)
Infeksi cacing:
Yang dimaksud penderita infeksi cacing yaitu apabila pada tinja ditemukan telur
cacing.7,8
Cacing yang ditularkan melalui tanah: cacing yang perkembangan bentuk
infektifnya terjadi di tanah yang sesuai. Dalam penelitian ini yaitu

Ascaris

lumbricoides, Trchuris trchiura, Necator americanus dan Ancilostoma duodenale.7,8


Derajat infeksi cacing (berdasarkan jumlah telur per gram): 4
A. lumbricoides: ringan 0-4.999, sedang 5.000-49.999, berat 50.000.
T. trichiura: ringan 0-999, sedang 1.000-9.999, berat 10.000.
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus: ringan 1-1.999, sedang 2.0003.999, dan berat 4.000.
Gizi baik: patokan BB/TB, TB/U 2 SD baku WHO-NCHS.2
Gangguan gizi /KEP: BB/TB, TB/U < 2 SD baku WHO-NCHS.2
Kawasan kumuh: dilihat dari kriteria fisik yaitu kepadatan penduduk dan bangunan
relatif tinggi, suplai air bersih tidak memadai, sanitasi buruk, drainase buruk, jalan
lingkungan becek dan kotor, serta tidak memiliki akses terhadap jasa pembuangan
sampah.18
Penghasilan keluarga
Jumlah penghasilan keluarga sebulan dibagi menurut BPS 1994:
1. < Rp 100.000,-

: sangat rendah

54

2. Rp 100.000,- sampai dengan Rp 250.0000,-

: rendah

3. > Rp 250.000,- sampai dengan Rp 500.000,-

: menengah

4. > Rp 500.000,-

: tinggi

Pendidikan
Klasifikasi tingkat pendidikan ayah dan ibu berdasarkan lamanya pendidikan,
ditentukan menurut batasan BPS 1994, sebagai berikut:
1.

< 6 tahun

: tidak sekolah atau SD tidak tamat

2. 6 - < 9 tahun

: SD tamat atau SLTP tidak tamat

3. 9 - < 12 tahun

:SLTP tamat atau SMU tidak tamat

4. 12 tahun

:SMU tamat atau perguruan tinggi

3.5 Alur Penelitian


Alur penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Pendataan anak usia 24-60
bulan
di
kelurahan
Babakan Surabaya Kec
Kiara Condong

Tahap 1

Simple random sampling

Anak usia 24-60


bulan n = 280

Tahap 2

55

Status Gizi

Pemeriksaan tinja dengan


metode Kato-Katz di
Laboratorium Kesehatan
Provinsi JABAR

Jumlah telur cacing /gram

Gambar 16. Alur Penelitian


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2003 di kelurahan Babakan


Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, Kodya Bandung. Dimulai dengan melakukan
pendataan semua balita usia 24-60 bulan yang ada diwilayah tersebut (terdiri dari 15
Analisis statistik
RW) oleh kader setempat dan didapatkan 910 balita. Dari hasil pendataan awal
kemudian dilakukan

simple random sampling sebanyak 280 subjek. Pada bulan

56

Januari sampai Februari 2004 peneliti dengan dibantu kader melakukan pengisisan
kuesioner, pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan tinja dengan cara Kato-Katz
dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Propinsi Jawa Barat.

4.1 Karakteristik Subjek Penelitian


Dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1 bahwa dari 280 balita yang
diteliti laki-laki 52% dan perempuan 48%, atau hampir sama banyak, kelompok usia
24-35 bulan paling banyak (40%), dan kelompok usia 48-60 bulan paling sedikit
(22%). Status gizi kurang berdasarkan BB/Tb sebanyak 20%, TB/U sebanyak 30%.

Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian


Karakteristik
1. Jenis kelamin
Laki- laki
Perempuan
2. Usia (bulan)
24-35
36-47
48-60
3. Status Gizi
BB/TB
Gizi baik
Gizi kurang

145
135

52
48

113
105
62

40
38
22

224
56

80
20

57

(wasted)
TB/U
Gizi baik
Gizi kurang

196
84

70
30

(stunted)
Keterangan: status gizi baik > 2 SD
status gizi kurang < -2 SD

Tabel 4.2 Karakteristik Orang tua Subjek Penelitian


Karakteristik
1. Pendidikan ayah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana
2. Pekerjaan ayah
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil &
wiraswasta lainnya
PNS/ABRI
3. Pendidikan ibu
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana muda

1
68
65
126
20

0,4
24,3
23,2
45,0
7,1

15
70
177

5,4
25,0
63,2

17

6,4

9
68
76
109
18

3,2
24,3
27,1
38,9
6,4

58

4. Pekerjaan ibu
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil &
wiraswasta lainnya
PNS/ABRI
5. Penghasilan keluarga
< Rp. 100.000
Rp. 100-250.000
Rp. 250-500.000
Rp. 500-1 Jt
> Rp. 1 Jt

239
14
21

85,4
5,0
7,5

2,1

22
42
82
90
44

7,9
15,0
29,3
32,1
15,7

4.2 Karakteristik Orang tua Subjek Penelitian


Dari tabel karakteristik orang tua terlihat pendidikan ayah paling banyak adalah SMA
45%, dan paling sedikit adalah tidak tamat SD 0,4%, pekerjaan ayah yang paling
banyak adalah pedagang 63%, demikian juga pendidikan ibu paling banyak adalah
SMA 39%, dan 85% ibu tidak bekerja. Penghasilan keluarga Rp 500.000-1 juta
32,1%.

Tabel 4.3 Karakteristik Lingkungan Subjek Penelitian


Karakteristik
1. Lantai rumah
Semen
Tegel

103
177

36,8
63,2

59

2. Sumber air minum


Sumur
Ledeng
Sejenis Aqua
3. Jamban keluarga
Ada
Tidak /WC umum

25
236
19

8,9
84,3
6,8

261
19

93,2
6,8

4.3 Karakteristik Lingkungan Subjek Penelitian


Dari tabel diatas terlihat lantai rumah yang memakai tegel (63%), sumber air minum
terbanyak yaitu ledeng (84%), juga terlihat banyak yang telah mempunyai jamban
keluarga sendiri (93%).

4.4 Prevalens Infeksi Cacing


Dari 280 subjek yang diteliti, 12 anak (4%) dengan konfiden interval 95% (1,96,7) mengandung telur cacing pada tinjanya, 7 anak mengandung telur cacing gelang,
1 anak mengandung telur cacing cambuk, 1 anak mengandung telur cacing tambang,
1 anak mengandung telur cacing cambuk dan tambang (campuran), dan 2 anak
mengandung telur cacing gelang dan cambuk (campuran).
Prevalens infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah pada penelitian ini
jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Ruskawan pada anak usia 2-6
tahun di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiara Condong, Kodya Bandung yaitu
sekitar 28,8%,14 hasil penelitian Chairulfatah dkk. pada kelompok usia 1-5 tahun, di
Desa Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, sebesar 66,7%.13 Demikian pula dengan hasil

60

penelitian Dapary dkk pada anak usia antara 2-6 tahun di luar Kota Medan, yaitu di
Desa Tapaleka sebesar 77,1% dan di Desa Nambo rambe sebesar 81,1%.7 Penelitian
yang dilakukan Zulkifli pada anak usia prasekolah (0-7 tahun) di Kelantan Malaysia
sebesar 90,9%,10 penelitian yang dilakukan Wamae dkk. di daerah kumuh Bungoma
Kenya pada anak usia 24-59 bulan, pada anak usia 2 tahun didapatkan 10%, 3 tahun
11% dan, 4 tahun 16%. 12
Pemeriksaan infeksi cacing dengan menggunakan metode Kato-Katz menunjukan
derajat infeksi yang ringan.
Lebih kecilnya prevalens dan ringannya derajat infeksi cacing pada penelitian ini,
mungkin karena lokasi penelitian ini dilakukan di daerah kota yang masyarakatnya
telah sadar akan pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya.
Dari hasil penelitian ini subjek yang minum obat cacing dalam 3 bulan terakhir
terdapat sebanyak 17,1%. Ternyata dari 12 orang subjek yang ditemukan telur cacing
dalam tinjanya terdapat 3 orang telah minum obat cacing dalam 3 bulan terakhir.

Tabel 4.4. Prevalens dan Derajat Infeksi Cacing Usus


Jenis cacing

Derajat
infeksi
ringan

1. Cacing gelang

58,3

2. Cacing cambuk

8,3

ringan

3. Cacing tambang

8,3

ringan

4. Cambuk + Tambang

8,3

ringan

61

5. Gelang + Cambuk
Total

16,6

12

100

ringan

4.5 Karakteristik Subjek Penelitian dan Prevalens Infeksi Cacing Usus


Dari penelitian ini karakteristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, dan
kelompok usia dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.5 Distribusi Infeksi Cacing Usus Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kelompok Usia

Karakteristik
anak
1. Jenis kelamin
Laki laki
Perempuan
2.Kelompok usia
24-35 bulan
36-47 bulan
48-60 bulan

Infeksi cacing usus


+
Jumlah
%
Jumlah

X2

3
9

2,1
6,8

142
126

97,9
93,3

3,603

0,078

1
7
4

0,9
6,7
6,5

112
98
58

99,1
93,3
93,5

5,346

0,069

Tabel diatas memperlihatkan prevalens infeksi cacing usus pada anak laki-laki
sebanyak 2,1%, dan anak perempuan 6,75%. Prevalens infeksi cacing berdasarkan

62

kelompok usia memperlihatkan pada anak usia 24-35 bulan sebesar 0,9%, usia 35-47
bulan terdapat 6,7%, dan usia 48-60 bulan sebesar 6,5%.
Berdasarkan jenis kelamin ternyata telur cacing lebih banyak ditemukan pada
anak perempuan. Hal ini berbeda dengan penelitian Bandawangsa yang menyebutkan
laki-laki 1,27 kali lebih banyak dibandingkan wanita.
Berdasarkan kelompok usia didapatkan mulai usia lebih dari 35 bulan lebih
banyak ditemukan telur cacing pada tinjanya. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang
dilakukan oleh Zulkifli dkk10 dan Asfaw dkk26 bahwa prevalens infeksi cacing usus
yang ditularkan melalui tanah berhubungan dengan usia, karena anak mulai bermain
di tanah dengan teman sebaya.
Tabel 4.6 Distribusi infeksi cacing usus dengan karakteristik lingkungan
Karakteristik
+
1. Lantai rumah
Semen
Tegel
2. Sumber air minum
Sumur
Ledeng
Sejenis Aqua
3. Jamban keluarga
Ada
Tidak /WC umum

Infeksi cacing usus


-

7 (58,3%)
5 (41,7%)

96 (35,8%)
172 (64,2%

3 (25,0%)
8 (66,7%)
1 (8,3%)

22 (8,2%)
228 (85,1%)
18 (6,7%)

9 (75,0%)
3 (25,0%)

252 (84,0%)
16 (6,0%)

63

Tabel 4.7 Hubungan antara karakteristik orang tua dengan status gizi
berdasarkan TB/U
Karakteristik orang tua
1. Pendidikan ayah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana
2. Pekerjaan ayah
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil/
wiraswasta
lainnya
PNS/ABRI
3. Pendidikan ibu
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana
4. Pekerjaan ibu
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil/
wiraswasta
lainnya
PNS/ABRI
5. Penghasilan keluarga
<Rp. 100.000
Rp. 100-250.000

Status gizi TB/U


baik
kurang
1 (0,5%)
44 ( 22,2%)
41 (20,9%)
92 (46,9%)
18 (9,2%)

0 (0%)
24 (28,6%)
24 (28,6%)
34 (40,5%)
2(2,4%)

10 (5,1%)
46 (23,5%)
128 (65,3%)

5 (6,0%)
24 (28,6%)
49 (58,3%)

12 (6,1%)

6 (7,1%)

6 (3,1%)
44 (22,4%)
51 (26,0%)
79 (40,3%)
16 (8,2%)

3 (3,6%)
24 (28,6%)
25 (29,8%)
30 (35,7%)
2 (2,4%)

162 (82,7%)
12 (6,1%)
16 (8,2%)

77 (91,7%)
2 (2,4%)
5 (6,0%)

6 (3,1%)

0 (0%)

18 (9,2%)
25 (12,8%)

4 (4,8%)
17 (20,2%)

64

Rp. 250-500.000
Rp. 500-1 Jt
>Rp. 1 Jt

53 (27,0%)
63(32,1%)
37 (18,9%)

29 (34,5%)
27 (32,1%)
7 (8,3%)

Tabel 4.8 Hubungan antara karakteristik orang tua dengan status gizi
berdasarkan BB/TB
Karakteristik orang tua
1. Pendidikan ayah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana
2. Pekerjaan ayah
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil/
wiraswasta
lainnya
PNS/ABRI
3. Pendidikan ibu
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Sarjana
4. Pekerjaan ibu
Tidak bekerja
Buruh
Pedagang kecil/
wiraswasta
lainnya
PNS/ABRI
5. Penghasilan keluarga
<Rp. 100.000

Status gizi BB/TB


baik
kurang
0 (0%)
51 (22,8%)
53(23,7%)
102 (45,5%)
18 (8,0%)

1 (1,8%)
17 (30,4%)
12 (21,4%)
24 (42,9%)
2 (3,6%)

8 (3,6%)
55 (24,6%)
145 (64,7%)

7 (12,5%)
15 (26,8%)
32 (57,1%)

16 (7,1%)

2 (3,6%)

7 (3,1%)
49 (21,9%)
60 (26,8%)
91 (40,6%)
17 (7,6%)

2 (3,6%)
19 (33,9%)
16 (28,6%)
18 (32,1%)
1 (1,8%)

189 (84,4%)
10 (4,5%)
19 (8,5%)

50 (89,3%)
4 (7,1%)
2 (3,6%)

6 (2,7%)

0 (0%)

14 (6,3%)

8 (14,3%)

65

Rp. 100-250.000
30 (13,4%)
Rp. 250-500.000
68 (30,4%)
Rp. 500-1 Jt
73 (32,6%)
>Rp. 1 Jt
39 (17,4%)
Tabel 4.9 Hubungan antara infeksi cacing usus

12 (21,4%)
14 (25,0%)
17 (30,4%)
5 (8,9%)
yang ditularkan melalui tanah

dengan status gizi berdasarkan BB/TB, TB/U pada anak usia prasekolah
didaerah kumuh perkotaan.
Infeksi cacing usus
+
1.BB/TB(berat/tinggi)
Baik
Kurang (wasted)
2. TB/U (tinggi/umur)
Baik
Kurang (stunted)

X2

7(3,1%)
5 (8,9%)

217 (96,9%)
51 (91,1%)

3,678

0,055

5 (2,5%)
7 (8,3%)

191 (97,4%)
77 (91,7%)

4,793

0,028

Dari tabel diatas dengan menggunakan perhitungan

chi-quadrat, ternyata

tidak terdapat perbedaan bermakna antara prevalens infeksi cacing dengan gizi baik
dan kurang menurut berat/tinggi badan (p=0,055) dengan rasio prevalens sebesar
2,86, dan interval kepercayaan 0,94-8,67. Terlihat perbedaan bermakna antara gizi
kurang dan baik menurut tinggi/umur dengan infeksi cacing (p=0,028) dengan rasio
prevalens sebesar 3,27, dan interval kepercayaan 1,70-10. Hal ini karena nfeksi
cacing usus dapat mengurangi nafsu makan, gangguan absorpsi dan pencernaan
makanan, yang menimbulkan kehilangan zat-zat makanan seperti zat besi dan protein
pada infeksi kronik. Hal ini akan menyebabkan gangguan status gizi anak walaupun
pada keadaan ringan, tetapi terjadi dalam waktu yang lama.5

66

Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Asfaw dkk. tahun 1997
yang menunjukan tidak adanya hubungan antara gangguan gizi (BB/TB dan TB/U)
dengan infeksi cacing usus.
Pada penelitian kami dan penelitian yang dilakukan oleh Asfaw dkk. ada
perbedaan dalam karakteristik sampel, kami meneliti mulai dari usia 24-60 bulan,
sedangkan Asfaw dkk. usia 0-60 bulan.

4.10 Pengujian Hipotesis


Hipotesis: Terdapat hubungan antara infeksi cacing usus yang ditularkan melalui
tanah dan status gizi anak usia 24-60 bulan di daerah kumuh perkotaan
Penunjang: Terlihat perbedaan bermakna antara gizi baik dan kurang menurut
tinggi/umur dengan infeksi cacing (p=0,028) dengan rasio prevalens
sebesar 3,27, dan interval kepercayaan 1,70-10.
Kesimpulan: Hipotesis diterima

67

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Prevalens infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah di kelurahan
Babakan Surabaya, kecamatan Kiara Condong, Kotamadya Bandung adalah
4,3% dengan derajat infeksi yang ringan.
2. Adanya perbedaan bermakna antara gizi baik dan kurang menurut tinggi
badan/umur dengan infeksi cacing di daerak kumuh perkotaan.

5.2 Saran
Pemberian obat cacing pada anak dengan gangguan gizi di daerah kumuh
perkotaan.

68

DAFTAR PUSTAKA
1. Watson EH, Lowrey GH. Growth and development of children; edisi ke-4.
Chicago: Year book Medical Publishers Inc.; 1962.
2. Onis M, Monteiro C, Akre J, Clugston G. The worlwide magnitude of
protein-energy malnutrition:an overview from the WHO global database
on child growth. Bull WHO 1993;71:703-12.
3. Oemijati S, Iswadi E. Tatalaksana pengendalian kecacingan di Indonesia
melalui usaha kesehatan sekolah dengan pendekatan kemitraan. Jakarta:
Dirjen PPMPLP Depkes RI Tim Pembina UKS Pusat; 1996.
4. Ditjen PPM dan PLP. Pedoman program pemberantasan penyakit
kecacingan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 1998.
5. Lunn FG. Parasitism. Dalam: Sadler MJ, Starin JJ, penyunting.
Encyclopedia of human nutrition. San Diego: Academic Press; 1999. h.
1515-24.
6. Dikson R, Awesthi S, Williamson P, Demellweek C, Garner P. Effects of
treatment

for intestinal

infection

on growth

and cognitive

in

children:systematic review of randomised trials. BMJ 2000;320:1697-701.


7. Depary AA. Soil tramsmitted helminthiases. Medika 1985;10(11):1000-5.
8. Manson PEC, Bell DR. Mansons tropical diseases, edisi ke-19. London;
Baillire Tindal; 1987.

69

9. Hartono E, Widiarsa IBP, Banjar IBN. Prevalens infestasi cacing usus


yang ditularkan melalui tanah pada murid sekolah dasar di desa talaga
bali. Medika 1988;8(14):73-6.
10. Zulkifli A. The prevalence and intensity of soil transmitted helminthiasis
among pre-scholl children in orang asli resettlement vilages in Kelantan.
Med J Malaysia 1999;54(8):453-8.
11. Andrade C. Prevalence and intensity of soil transmitted helminthiasis in
the

city

of

Portoviejo

(Equador).

Mem

Inst

Oswaldo

Cruz

2001;96(8):1075-9.
12. Wamae CN. Palmar pallor as an indicator for anthelmenthic treatment
among

ill

children

aged

2-4

years-Western

Kenya.

MMWR

2000;49(13):278-81.
13. Chairulfatah A, Azhali MS. Penggunaan mebendazole, pirantel palmoat
dan levamisole pada anak-anak yang menderita infeksi cacing gelang,
cacing cambuk dan cacing tambang. Laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran UNPAD/RSHS; Tesis 1986.
14. Ruskawan. Efektivitas albendazol dan pirantel pamoat pada infeksi
campuran cacing gelang dan cacing cambuk pada anak usia 2-6 tahun.
Laboratorium/

UPF

Ilmu

Kesehatan

Anak

Fakultas

Kedokteran

UNPAD/RSHS; Tesis 1997.


15. Bandawangsa B. Prevalens infeksi cacing usus yang ditularkan melalui
tanah pada anak dan pengasuh di panti sosial asuhan anak kota Bandung.

70

Laboratorium/

UPF

Ilmu

Kesehatan

Anak

Fakultas

Kedokteran

UNPAD/RSHS; Tesis 2002.


16. Bakta IM. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan infeksi cacing
tambang penduduk dewasa Desa Jagapati, Bali. Laboratorium/UPF Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Denpasar; 1995.
17. Stephenson LS, Latham MC, Ottesen EA. Malnutrition and parasitic
helminth infection. Parasitology 2000;121:s23-38.
18. BAPEDA Kota Bandung. Penyusunan konsep kebijakan penanganan
kawasan kumuh di Kota Bandung; 1999.
19. Smith HM, DeKaminsky RG, Niwas S, Jolly PE. Prevalence and intensity
of infection of ascariasis lumbricoides and trichuris trichiura and
associated

socio-demografic

variables

in

four

rural

honduran

communities. Mem Inst Oswaldo Cruz 2001;96(3):303-14.


20. Abidin SAN, Ilahude HD. Pentingnya pemeriksaan tinja untuk diagnosis
infeksi cacing usus. Maj Parasitol Ind 1992;5(1):21-7.
21. Stalings VA, Hark L. Nutrition assesment in medical prevtice. Dalam:
Morison G, Hark L, penyunting. Medical nutrition and disease; edisi ke-1.
Cambridge: Blackwell Science; 1996. h. 3-31.
22. Rumsah R, Abidin SA. Pengaruh infeksi Ascaris lumbricoides terhadap
pencernaan dan penyerapan zat makanan hospes. MKI 1987;37(2):13843.

71

23. Hadju V, Satrio, Abadi K, Stephenson LS. Relationship between soiltransmitted helminhiases and growth in urban slum schoolchildren in
Ujung Pandang, Indonesia. Int J Food Sci Nutr 1997;48(2):85-93.
24. Ismid I, Margono S, Abidin A, Suyono D, Listiawati. Infeksi cacing yang
ditularkan melalui tanah pada murid sekolah dasar peserta program
pemberian makanan tambahan anak sekolah dasar di Mataram, Lombok,
Nusa Tenggara Barat. Maj Parasitol Ind 1999;12(1):14-7.
25. Beltrame A, Scolary C, Torti C, Urbani C. Soil transmitted helminth
(STH) infections in an indigenous community in ortigueira, Parana, Brazil
and relationship with its nutritional status. Parasitologia 2002;44(3):137-9.
26. Asfaw ST, Goitom L. Malnutrition and enteric parasitosis among underfive children in Aynalem Village, Tigray. Ethioph J Health Dev
2000;11(1):67-75.
27. Lai KP, Kaur H, Mathias RG, Ow-yang CK. Ascariasis and trichuris do
not contributeto growth retardation in primary school children. Southeast
Asian J Trop Med Public Health 1995;26(2):322-8.
28. Tripathi K, Duque E, Bolanos O, Lotero H, Mayoral LG. Malabsorption
syndrome in ascariasis. Am J Clin Nutr 1972;25(11):1276-81.
29. Jalal F, Nesheim MC, Agus Z, Sanjur D, Habictht. Serum retinol
concentrations in children are affected by food sources of -carotene, fat
intake and anthelmentic drug treatment. Am J Clin Ntr 1998;68:623-9.

72

30. Crompton DW, Whitehead RR. Hookworm infections and human iron
metabolism. Parasitology 1993;107:s137-45.
31. Steketee RW. Pregnancy, nutrition and parasitic disease. J Nutr
2003;133:1661S-7S.
32. Guerant

RL,

Lima

AM,

Davidson

F.

Micronutrients

and

infection:interaction and implications with enteric and other infection and


future priorities J Inf Dis 2000;182(suppl):S134-8.
33. Scolary C, Torti C, Beltrame A, Matteeli A, Castelli F, Gulleta M.
Prevalence and distribution of soil transmitted helmint (STH) infections in
urban and indigenous schoolchildren in Ortigueira state of Parana, Brazil:
implication for control. Trop Med Intern Health 2000;5:302-7.
34. Anwar M. Pengetahuan dan sikap orang tua murid sekolah dasar dalam
pemberantasan penyakit cacing perut di Tanjung Priok Jakarta Utara. Bul
Penelit Kesehat 1989;17(3):33-41.
35. Carneiro FF, Cifuentes E, Tellez-Rojo MM, Romieu I. The risk of Ascaris
lumbricoides infection in children as an environmental health indicator to
guide preventive activities in Caparao and Alto Caparao, Brazil. Bull
WHO 2002;80(1):40-4.
36. Leo H. Environmental determinants of infectious and parasitic disease.
Mem Ins Oswaldo Cruz 1998;93(1):7-12.

73

37. Ulukanligil M, Aeyrek A, Aslan G, Ozbilge H, Atay S. Environmental


polution with soil transmitted helminths in Sanliurfa, Turkey. Mem Inst
Oswaldo Cruz 2001;96(7):903-9.
38. Ash RL, Orihel TC. Imtestinal helmints. Dalam: Murray PR, penyunting.
Manual of clinical microbiology; edisi ke-6. Washington D.C: Asm Press;
1995. h. 1229-35.
39. Kazura JW. Ascariasis. Dalam: Behrman RE, penyunting. Nelson textbook
of pediatrics; edisi ke-16. Philadelphia: WB Saunders CO; 2000. h. 10645.
40. Plorde JJ. Intestinal nematodes. Dalam: Ryan KI, penyunting. Sherris
medical microbiology, edisi ke-3. Washington: Appleton & Lange; 1994.
h. 685-98 .
41. Katz M. Nelmanthelminthes. Dalam: Feigin RD, penyunting. Textbook of
pediatric infectious diseases, edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders CO;
1992. h. 2081-5
42. Jangkung SO. Parasitologi medik helmintologi. Jakarta: EGC; 2002.
43. Schwartzman JD. Intestinal nematodes that migrate throught lung
(ascariasis). Dalam: Warrant KS, penyunting. Tropical medicine, edisi ke7. Philadelphia: WB Saunders CO; 1991. h. 697-700.
44. Pawlowski ZS, Arfaa F. Ascariasis. Dalam: Warren KS, penyunting.
Tropical and geographical medicine. Newyork: Mc Graw-Hill Book CO;
1984. h. 347-56.

74

45. Sutoto, Indriyono. The current prevalence rate of soil-transmitted


helmonthiasis in Indonesia. Pediatr Indones 1992;32:304-11.
46. Margono SS. Aspek medik, penyebaran dan penanggulangan cacing usus.
Maj. Kes. Masyarakat Indonesia 1995;23:696-9.
47. Rampengan TH, Laurentz IR. Penyakit infeksi tropik pada anak. Jakarta:
ECG; 1997. h. 205-31.
48. Rasad R, Abidin SAN. Pengaruh infeksi ascaris lumbricoides terhadap
pencernaan dan penyerapan makanan hospes. MKI 1987;37:138-42.
49. Munaf S, Azis S, Chaidir J, Asyori I, Tjekyan S. Studi efektivitas antara
pirantel palmoat produk PMDN dengan pirantel palmoat produk PMA
terhadap ascaris lumbricoides pada anak usia sekolah dasar. MKI
1988;38:195-9.
50. Goldsmith RS. Chemotherapy of helminthic infections. Dalam: Katzung
BG, penyunting. Basic and clinical parmacology, edisi ke-3. California:
Appleton & Lange; 1987. h 641-62.
51. Webster LT. Drug use in the chemoteraphy of helminthiasis. Dalam
Goodman and Gilmans, penyunting. The pharmacological baisis of
therapeutics, edisi ke-10. New York: Mc Graw-Hill; 1996. h. 1009-25.
52. Abidin SAN, Mochtar A, Margono SS, Rukmono B. Albendazole in the
treatment of intestinal helminthiasis. MKI 1986;36:30-5
53. Abidin San, Rasad R. Pengobatan infeksi nematoda usus dengan
mebendazol 500 mg dosis tunggal. Medika 1990;3:192-7.

75

54. Pasaribu S. Efikasi oxantel-pirantel dosis tunggal pada soil transmitted


helminhiasis. Medika 1993;2:37-40.
55. Pearson RD, Schwartzman JD. Nematodes limited to the intestinal tract.
Dalam: Stricland GT, penyunting. Tropical medicine, edisi ke-7.
Philadelphia: WB Saunders Company;1991. h.689-96.
56. Levinson WE, Janet E. Nematodes. Dalam Levinson WE, Jawet E,
penyunting.

Medical

microbiology

&

immunology,

edisi

ke-5.

Connecticut: Appleton & Lange;1998. h.303-9.


57. Kazura JW. Trichuriasis. Dalam: Behrman RE, penyunting. Nelson
textbook of pediatrics, edisi ke-16. Philadelphia: WB Saunders CO; 2000.
h. 1073.
58. Pawlowski ZS. Trichuriasis. Dalam: Warren KS, penyunting. Tropical and
geographical medicine. Newyork: Mc Graw-Hill Book CO; 1984. h. 3804.
59. Schad GA, Banwell. Hookworms. Dalam: Waren KS, penyunting.
Tropical and geographical medicine. New York: Mc Graw-Hill Book CO;
1984. h.359-70.
60. Hotez PJ. Hookworms. Dalam:

Behrman RE, penyunting. Nelson

textbook of pediatrics, edisi ke-16. Philadelphia: WB Saunders CO; 2000.


h. 1065-7.

76

61. Pearson RD,Guerrant RL. Intestinal nematodes that migrate throught skin
and lung. Dalam: Stricland GT, penyunting. Tropical medicine, edisi ke-7.
Philadelphia: WB Saunders Company; 1991. h. 700-6.

77

Lampiran 1
FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH MENDAPAT PENJELASAN
(ONFORMED CONSENT) BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJAJARAN
RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: ___________________________________________________

Usia

: ___________________________________________________

Alamat

: ___________________________________________________

Setelah mendapat penjelasan secukupnya serta menyadari tujuan, manfaat dan risiko
yang mungkin terjadi dalam penelitian yang berjudul :
HUBUNGAN INFEKSI CACING USUS YANG DITULARKAN MELALUI
TANAH DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA PRASEKOLAH DIDAERAH
KUMUH PERKOTAAN
Dengan sukarela menyetujui anak /anak perwalian saya yang bernama :
Diikutsertakan dalam penelitian tersebut dan akan memenuhi semua ketentuan yang
berlaku, dengan catatan apabila sewaktu-waktu merasa dirugikan dalam bentuk
apapun., saya berhak untuk mengundurkan diri dari persetujuan ini.
Bandung, 20003
Mengetahui
Peneliti

Yang menyetujui
Orang tua / wali

(Nina Susanti, dr)


saksi :
1..(
2..(

(
)
)

78

Lampiran 2. Formulir Penelitian


HUBUNGAN INFEKSI CACING USUS YANG DITULARKAN MELALUI
TANAH DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA PRASEKOLAH DIDAERAH
KUMUH PERKOTAAN
1. No inklusi

2. Nama

3. Jenis Kelamin

4. Tanggal lahir /usia


5. Berat badan

6. Tinggi badan :

gram

7. Ayah :

cm

- Nama :
- Usia

- Pekerjaan : 1. Tidak bekerja


2. Buruh

3. Pedagang
4. PNS
5. Lain-lain (sebutkan)
- Pendidikan :
1. <6 tahun

: tidak sekolah atau SD tidak

tamat
2. 6-<9 tahun

: SD tamat atau SLTP tidak

tamat
3. 9-<12 tahun

:SLTP tamat atau SMU tidak

tamat
4. 12 tahun

:SMU

tinggi
8. Penghasilan keluarga

tamat

atau perguruan

79

1. <Rp 100.000,-

2. Rp 100.000,--Rp 250.0000,3. >Rp 250.000,--Rp 500.000,4. >Rp 500.000,9. Ibu


- Nama :
- Usia

___________

- Pekerjaan : 1. Tidak bekerja


2. Buruh

3. Pedagang
4. PNS
5. Lain-lain (sebutkan)
- Pendidikan
1. <6 tahun

: tidak sekolah atau SD tidak

tamat
2. 6-<9 tahun

: SD tamat atau SLTP tidak

tamat
3. 9-<12 tahun

:SLTP tamat atau SMU tidak

tamat
4. 12 tahun

:SMU

tamat

atau perguruan

tinggi
10. Berat badan anak waktu lahir:
1. < 2500 gram
2. >2500 gram

11. Pernah menderita penyakit kronis :


a.diare kronis (mencret lebih dari 2 minggu) :
1. ya
b. TBC/batuk lama

2. tidak

80

Apakah

pernah

dirontgent

dada

dan

dikatakan dokter menderita TBC ?


1. Ya

Apakah

2. tidak
pernah

berobat

lama

ke

dokter/Puskesmas dan mendapat obat yang


membuat kencing berwarna merah ?
1. Ya

2. Tidak

Kelainan saraf :
1. Ya

2. Tidak

12. Pernah mendapat obat cacing dalam 3 bulan


terakhir
1. Ya

2. Tidak

81

RIWAYAT HIDUP
Nama

: Nina Susanti, dr

Tempat/tamggal lahir : Bandung, 19 Januari 1970


NPM

: MSG 99017/L2S03077

Status

: Menikah, 1 anak

Alamat

: Jl. Batununggal Permai II No 38 Bandung

Riwayat Pendidikan :
- SD Negeri 1 Jatiwangi Majalengka

: Lulus 1982

- SMP Negeri 1 Jatiwangi Majalengka

: Lulus 1985

- SMA Negeri Jatiwangi Majalengka: Lulus 1988


- Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran bandung: Lulus 1995
- Mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I FK UNPAD/Perjan RSHS mulai
1 Juli 1999
- Mengikuti Program Pendidikan Pasca Sarjana Combined Degree mulai Agustus
2003
Riwayat Pekerjaan :
-

Kepala Puskesmas Buah Dua (Dokter PTT), di Kabupaten Sumedang, Jawa


Barat

Riwayat persentasi Karya Ilmiah:


1. Perubahan toraks foto penderita TBC anak sebelum dan setelah terapi obat
anti tuberkulosis di poli rawat jalan perjan RSHS (sebagai co-author), pada
PIT I di Palembang, 2001
2. Laporan kasus: Penderita paska operasi hernia difragmatika yang bertahan
hidup di RSHS (sebagai co-author), pada Konika XIII di Denpasar, 2002.
3. Perubahan FEV1 sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator pada
penderita asma yang mendapat tes provokasi histamin (sebagai co-author),
pada Konika XIII di Denpasar, 2002.

82