Anda di halaman 1dari 3

Nur Atmi Pertiwi

3333141858
Utami Damayanti 3333140248
Optimisasi kelas B

RESUME
PERBAIKAN SISTEM DISTRIBUSI DAN TRANSPORTASI
DENGAN MENGGUNAKAN DISTRIBUTION REQUIREMENT
PLANNING (DRP) DAN ALGORITMA DJIKSTRA
(STUDI KASUS : DEPOT PERTAMINA TASIKMALAYA)
Sumiharni Batubara1, Rahmi Maulidya2, Irma Kusumaningrum3, Jurnal Teknik Industri,
Volume 1 Nomor 1, Maret 2013, Universitas Trisakti.
Persaingan di industri perminyakan sangat ketat. Perusahaan yang mampu bertahan
adalah perusahaan yang dapat memenuhi permintaan konsumen secara tepat waktu.
Perusahaan harus memperhatikan kelancaran sistem distribusi sehingga dapat memenuhi
permintaan konsumen secara terus menerus dan tepat waktu. Masalah yang sering dihadapi
oleh industri minyak bumi adalah keterlambatan pengiriman BBM dari depot ke SPBU. Hal
ini disebabkan oleh tidak diketahuinya permintaan jumlah minyak, terbatasnya jumlah mobil
tangki untuk bahan bakar dan kesalahan akurasi, penentuan kecukupan bahan bakar untuk rute
pengiriman dari depot ke SPBU. Jurnal ini dibuat untuk membantu Industri Minyak untuk
menentukan sistem distribusi bahan bakar dan penentuan rute pengiriman dengan tujuan
meminimalkan biaya pengiriman dan jadwal pengiriman untuk menentukan bahan bakar dari
depot ke toko eceran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perencanaan
Kebutuhan Distribusi atau biasa dikenal dengan Distribution Requirement Planning (DRP)
untuk menentukan hubungan jumlah pengiriman bahan bakar dari depot ke SPBU dengan
jumlah kebutuhan harian masing-masing pompa.
Penelitian pada jurnal ini diawali dengan peramalan permintaan untuk bahan bakar
di 81 SPBU untuk beberapa periode mendatang. Berdasarkan metode DRP, peramalan di
setiap stasiun gas untuk satu minggu ke depan akan menemukan hasil peramalan kebutuhan
untuk bahan bakar yang akan dipasok oleh Depot Tasikmalaya. Sehingga Depot dapat
memperkirakan jumlah bahan bakar yang harus dikirim ke setiap outlet pengecer di periode
mendatang. Selanjutnya Algoritma Djikstra digunakan untuk menentukan rute pengiriman
bahan bakar dari depot ke SPBU. Rute yang dipilih adalah rute dengan jarak yang lebih
pendek dan biaya pengiriman minimal. Setelah penjadwalan tugas mobil dilakukan dengan
menggunakan waktu penjadwalan perjalanan terpanjang (Longest Processing Time), untuk
mendapatkan waktu akhir pengiriman bahan bakar yang hampir sama pada setiap mobil yang
ditugaskan.

Dengan menggunakan metode DRP, tugas dan penjadwalan, serta algoritma


Djikstra, jumlah tangki mobil dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan Depot SPBU
Tasikmalaya di periode mendatang sehingga pasokan depot bahan bakar sesuai dengan
persyaratan, baik dari segi kuantitas dan waktu,

selain itu dapat juga digunakan untuk

menentukan rute pengiriman dengan biaya pengiriman paling murah, waktu pengiriman tepat
waktu dan beban kerja tangki mobil yang hampir sama.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam kelancaran suatu proses distribusi antara lain
sistim distribusi, penentuan rute distribusi dan alat transportasi. Transportasi mencerminkan
seberapa cepat dan seberapa tepat produk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang
lain. Distribusi melibatkan perpindahan produk jadi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Permasalahan

yang

dihadapi

oleh

Depot

Pertamina

Tasikmalaya

adalah

keterlambatan pengiriman BBM dari Depot Tasikmalaya ke SPBU. Hal ini disebabkan oleh
jumlah kebutuhan BBM pada setiap SPBU tidak diketahui, jumlah mobil tanki yang
terbatas.Bila permasalahan ini tidak segera diatasi maka akan menimbulkan permasalahan
yang lebih besar, karena pada tahun 2013 telah terjadi peningkatan jumlah SPBU dari 50
SPBU menjadi 81 SPBU dan hanya memiliki mobil tanki 22 armada.
Peramalan menggunakan model Time Series, metode kuantitatif dengan memilih
metode yang sesuai dengan pola data, yaitu : Moving Average, Exponential Smoothing dan
Regresi Linier. Pemilihan metode peramalan menggunakan MSE (Mean Square Error) dan
pengujian hasil peramalan menggunakan Tracking Signal.
Konsep Distribution Requirement Planning (DRP) menawarkan alternatif dengan
keuntungan mengembangkan penjadwalan, seluruh sumber permintaan dapat dijadikan satu
atau dikoordinasi. Distribusi melibatkan perpindahan produk jadi untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Sebuah produk ketika diproduksi berada pada satu titik yang memiliki nilai
terendah untuk konsumen, kecuali jika dipindahkan pada satu titik dimana produk tersebut
dapat berguna bagi konsumen.
Mengenai algoritma djikstra sampai saat ini, sudah banyak algoritma mencari
lintasan terpendek. Algoritma lintasan terpendek (shortest path) yang paling terkenal adalah
algoritma djikstra (penemunya, Edsger Wybe Djikstra). Algoritma Djikstra diterapkan untuk
mencari lintasan terpendek pada graf berarah. Namun, algoritma ini tetap benar untuk graf
yang tak-berarah. Algoritma ini menerapkan strategi greedy dalam pengerjaannya.
Memilih

metode

peramalan terbaik, dilakukan dengan cara menghitung MSE

pada masing masing metode yang digunakan. Metode dengan nilai MSE terkecil merupakan
metode yang terpilih. Setelah menghitung nilai MSE dilanjutkan

dengan

uji

verifikasi

menggunakan Tracking Signal dimulai dari metode dengan nilai MSE terkecil. Jika pengujian
Tracking Signal berada dalam batas kontrol, maka metode tersebut merupakan metode
terpilih.
Hasil matriks DRP berupa perencanaan kebutuhan pada masing- masing SPBU yang
ada, sehingga Depot Pertamina Tasikmalaya dapat memenuhi semua kebutuhan SPBU. Hasil
perhitungan peramalan sesuai dengan kebutuhan harian pada masing-masing SPBU, menjadi
input untuk membuat matriks DRP pada masing-masing SPBU. Sebagai keseluruhan, Depot
Pertamina Tasikmalaya dapat melakukan perhitungan kebutuhan total Bahan Bakar Premium
dan Solar pada semua SPBU yang berada di bawah pengawasan Depot Pertamina
Tasikmalaya. Hasil perhitungan DRP akan membantu Depot Pertamina Tasikmalaya untuk
memenuhi kebutuhan harian pada seluruh

SPBU.

Depot

Pertamina Tasikmalaya dapat

memprediksi kebutuhan pada masing-masing SPBU, sehingga Depot Pertamina Tasikmalaya


dapat memperkirakan kebutuhan BBM yang harus disediakan. Pertamina Cilacap, akan
mengirim BBM melalui pipa, berdasarkan pada peramalan kebutuhan, sehingga tidak terjadi
penumpukan BBM yang terlalu lama dan diharapkan tidak terjadi kekurangan BBM yang
akan dikirimkan.
Pengiriman dilakukan berdasarkan kebutuhan SPBU mana yang paling
mendesak dengan keadaan stock BBM pada SPBU tersebut paling sedikit. Informasi
didapatkan dari media SMS yang terhubung ke Depot Pertamina Tasikmalaya. Kebutuhan
pada tanggal 1 September 2013 pada masing-masing SPBU berjumlah sekitar 8KL dan 16
KL. Kapasitas armada tanki sebesar 16 KL pada setiap kali pengiriman. Pengiriman
kebutuhan masing-masing SPBU dilakukan berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh supir
dan perusahaan Pengangkutan BBM. Dengan sistem distribusi yang ada, seringkali
perusahaan tidak memahami rute yang dapat dilalui dengan adanya 2 jalur, yang diperkirakan
akan lebih dekat sehingga tidak memakan waktu yang lama.
Untuk penerapan Algoritma Djikstra, data kebutuhan Bahan Baku Solar di SPBU
dikelompokkan atas, SPBU dengan kebutuhan sekitar 8 KL dan 16 KL. Hal ini perlu
dilakukan karena kapasitas angkut mobil tanki yang dimiliki sebesar 16 KL. SPBU dengan
kebutuhan 16 KL, rute yang dilalui (Depot SPBU Depot), untuk kebutuhan 8 KL, rute
yang dapat dilalui (Depot SPBU 1 SPBU 2 Depot). SPBU dengan kebutuhan 8 KL,
menggunakan Algoritma Dijkstra, untuk mendapatkan jarak terpendek antara Depot ke SPBU
atau SPBU ke SPBU lainnya.