Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

GETARAN P1
Getaran Teredam

Disusun oleh :
Haris Dwi Happy Putra

(2413 100 001)

Asisten:
Ainun Nadiroh

(2412 100 063)

JURUSAN TEKNIK FISIKA


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2015
iii

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

GETARAN P1
Getaran Teredam

Disusun oleh :
Haris Dwi Happy Putra

(2413 100 001)

Asisten:
Ainun Nadiroh

(2412 100 063)

JURUSAN TEKNIK FISIKA


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya

2015

ABSTRAK
Getaran adalah gerak bolak balik melalui titik
kesetimbangan. Getaran teredam ada tiga jenis yaitu getaran
kurang teredam, getaran teredam kritis, getaran teredam lebih.
Untuk menentukan jenis getaran ini, harus mengetahui nilai besar
rasio redamannya. Ketika rasio redamannya di antara 0 dan 1
maka termasuk getaran kurang teredam, rasio redamannya sama
dengan 1 maka getaran teredam kritis, dan rasio redamannya
lebih dari satu maka disebut getaran teredam lebih. Berdasarkan
dari hasil percobaan, didapatkan besar konstanta pegas pertama
sebesar 53.9 N/m dan konstanta pegas kedua sebesar 57.07 N/m.
Nilai rasio redaman pegas pertama di udara sebesar 0.000692 dan
rasio redaman di oli sebesar 0.057. Berdasarkan hasil perhitungan
dan grafik dari matlab dapat disimpulkan bahwa pegas pertama di
udara dan oli termasuk jenis getaran kurang teredam.

Kata kunci : getaram, rasio redaman, pegas

iii

ABSTRACT
Vibration is back and forth motion from equilibrium.
Vibration damped there are 3 kind that is under damped,
critically damped, over damped. To know what kind of that
vibration, must know value of damping ratio. If damping ratio
between 0 and 1 is under damped. If damping ratio equal 1 is
critically damped. If damping ratio more than 1 is called over
damped. From the experiment, we get the spring constant of the
first spring is 53.9 N/m and the second spring is 57.07 N/m. Value
of damping ratio of the first spring in air is 0.000692 and
damping ratio in oil is 0.057. From the result of calculating and
graphic from mat lab we get the conclusion that the first spring in
air and oil that include under damped.

Keywords : vibration, damping ratio, spring

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Resmi Praktikum
Getaran P1 ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan kali ini penyusun mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Asisten laboratorium Vibrasi yang telah membimbing
dalam pelaksanaan praktikum P1
2. Rekan-rekan yang telah membantu terlaksananya
kegiatan praktikum ini.
3. Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam
pembuatan laporan ini baik dari segi materi maupun
penyajian. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat
bagi penulis sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surabaya,

Penulis

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................... i


ABSTRAK ...................................................................................iii
ABSTRACT .................................................................................. v
KATA PENGANTAR .................................................................vii
DAFTAR ISI ................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR .................................................................xiii
DAFTAR TABEL ....................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................ 1
1.1
Latar Belakang .............................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah ......................................................... 1
1.3
Tujuan Pratikum ............................................................ 2
1.4
Sistematika Laporan ...................................................... 2
BAB II DASAR TEORI ............................................................... 3
2.1
Getaran .......................................................................... 3
2.2
Getaran Harmonik Sederhana ....................................... 3
2.3
Getaran Teredam ........................................................... 4
2.3.1
Getaran Kurang Teredam ...................................... 5
2.3.2
Getaran Teredam Kritis ......................................... 6
2.3.3
Getaran Teredam Lebih ......................................... 7
2.4
Frekuensi Natural .......................................................... 7
2.5
Getaran Bebas System 1 DOF Teredam........................ 8
2.6
Rasio Redaman .............................................................. 8
2.7
Konstanta Pegas ............................................................ 9
BAB III METODOLOGI ........................................................... 11
3.1
Alat dan Bahan ............................................................ 11
3.2
Prosedur Percobaan ..................................................... 11

ix

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ................. 13


4.1
Analisis Data ............................................................... 13
4.1.1
Data Hasil Perhitungan ........................................ 14
4.1.2
Grafik Menggunakan Matlab .............................. 15
4.2
Pembahasan ................................................................. 19
BAB V PENUTUP ...................................................................... 21
5.1
Kesimpulan.................................................................. 21
5.2
Saran ............................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Getaran harmonis sederhana ..................................... 3


Gambar 2. 2 Getaran harmonis teredam ........................................ 5
Gambar 2. 3 Getaran Kurang Teredam ......................................... 6
Gambar 2. 4 Getaran Teredam Kritis ............................................ 6
Gambar 2. 5 Getaran Teredam Lebih ............................................ 7
Gambar 2. 6 Pegas di beri F .......................................................... 9
Gambar 3. 1 Susun Pegas ............................................................ 11
Gambar 4. 1 Grafik Getaran Pegas Pertama di Udara ................. 17
Gambar 4. 2 Grafik Getaran Pegas Pertama di Oli ..................... 17
Gambar 4. 3 Grafik Getaran Pegas Pertama di Udara ................. 18
Gambar 4. 4 Grafik Getaran Pegas Pertama di Oli ..................... 18

xiii

DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1 Data Hasil Percobaan Menggunakan Pegas Pertama . 13
Tabel 4. 2 Data Hasil Percobaan Menggunakan Pegas Kedua .... 13
Tabel 4. 3 Konstanta Pegas Pertama dan Kedua ......................... 14
Tabel 4. 4 Nilai Rasio Redaman Pegas Pertama ......................... 14

xv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bergetar atau peristiwa getaran bolak balik disekitar daerah
keseimbangan merupakan gejala fisis yang terjadi di kebanyakan
sistem fisis.ada banyak sekali getaran yang terjadi di alam ini
misal getaran pada bandul yang diayunkan atau pun pegas yang
bergetar. Namun pada kenyataannya bila dianalisa secara fisis
maka akan menimbulkan beberapa jenis getaran. Dalam sistem
fisis tersebut secara garis besar getaran digolongkan menjadi
getaran harmonik sederhana dan getaran teredam dan getaran
paksa.
Namun pada kali ini yang akan ditinjau yakni getaran
teredam , getaran teredam sendiri merupakan getarann yang
secara nyata ada karena dialam ini kebanyakan getaran suatu
benda itu teredam alias akan berhenti pada waktu tertentu.
Sehingga untuk memeahami hal tersebut perlu dilakukan
percobaan mengenai getaran teredam ata osilasi teredam tersebut
yang akan mendasari terjadinya praktikum ini.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah sebagai
berikut :
a. Bagaimana nilai konstanta pegas dan rasio redaman pada
suatu sistem pegas?
b. Bagaimana perbandingan rasio redaman dari jenis damper
yang digunakan?
c. Bagaimana jenis-jenis peredaman dalam sistem pegas
tersebut?

2
1.3 Tujuan Pratikum
Tujuan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. Menentukan Konstanta pegas dan rasio redaman pada
suatu sistem pegas.
b. Membandingkan rasio redaman dari jenis damper yang
digunakan.
c. Menentukan jenis peredaman dalam sistem pegas.
1.4 Sistematika Laporan
Pada laporan praktikum ini berisi lima bab, yakni
pendahuluan, dasar teori, metodologi percobaan, data dan
pembahasan, dan penutup. Pendahuluan meliputi latar belakang,
permasalahan, tujuan dan sistematika penulisan., Dasar Teori
meliputi hal-hal yang berkaitan dengan jaringan computer secara
umum. Metodologi Percobaan, meliputi peralatan yang
dibutuhkan selama kegiatan praktikum serta bagaimana prosedur
pelaksanaan praktikum. Data dan pembahasan berisi data dan
resume masing-masing praktikan tentang praktikum yang
dilakukan dan analisis tentang masalah-masalah yang ditemui
selama praktikum. Bagian penutup berisi kesimpulan secara
keseluruhan dan saran untuk praktikum kedepan.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Getaran
Gerakan periodik atau getaran merupakan gerakan sebuah
objek secara berulang ulang yang dimana objek secara berulang
ulang yang dimana objek kembali ke posisi awal setelah beberapa
waktu. Dalam identifikasi kehidupan sehari-hari misal posisi
bumi ketika setelah mengelilingi matahari. Dan pada suatu kasus
khusus terdapat gejala getaran pada suatu sistem mekanik yang
diakibatkan oleh sebuah gaya pemulih dari sebuah objek tersebut
yang selalu mengembalikan objek keposisi semula dan gerakan
itu disebut getaran harmonis sederhana.
2.2 Getaran Harmonik Sederhana
Bentuk dari getaran harmonik sederhana yakni ketika sebuah
pegas digetarkan maka pegas tersebut akan berosilasi disekitar
daerah keseimbangan . hal ini dikarenakan terdapat gaya pemulih
yang melawan arah pergerakan pegas tersebut sehingga sistem
akan berulangulang atau bersoilasi. Dan secara umum persamaan
harmonik sederhana diturunkan dari sistem berikut ini. [1]

Gambar 2. 1 Getaran harmonis sederhana [1]

4
Dan bila dianalisa dengan persaman hukum newton ke II di
hasilkan persamaan sebagai berikut.

m x sx ................................................................. (2.1)
Dimana, percepatan merupakan

d 2x
.................................................................... (2.2)
dt 2

Persamaan 3 tersebut memberikan bahwa

m x sx 0

s
x x 0 ............................................................... (2.3)
m
Persamaan 5 merupakan persamaan diferensial getaran
harmonik. Dalam persamaan terhadap s/m dapat ditulis yang
berarti frekuensi angular yang dimiliki sistem.
2.3 Getaran Teredam
Pada awalnya setelah getaran harmonic sederhana dimana
total energi yang dihasilkan konstan dan perubahan simpangan
berupa kurva sinusoidal dan untuk waktu tek hingga. Namun pada
kenyataannya terdapat energi yang terbuang akibat hambatan atau
kekentalan misal sebuah bandul yang diayunkan maka lamakelamaan akan berhenti akibat energi yang hilang.
Karena adanya energi yang hilang dalam geraknya, berarti
bahwa adanya gaya lain yang aktif, yang sebanding dengan
kecepatannya. Adanya gaya pergeseran pada sistem sehingga
menyebabkan persamaan Hukum II Newton menjadi

m x r x sx 0 ...................................................... (2.4)
Dimana r merupakan konstanta kesebandingan dengan
kecepatan. m, r, dan s merupakan nilai yang konstan. Pernyataan
getaran teredam digambarkan dengan gambar 2.2

Gambar 2. 2 Getaran harmonis teredam [1]


Dari Hukum II Newton pada persamaan 6

m x r x sx 0 ...................................................... (2.5)
Dengan :

r
m

, yang merupakan faktor redaman

s
m
s
0
, yang merupakan frekuensi natural
m

0 2

Sehingga, persamaan 7 dapat ditulis

2
x x 0 x 0 .................................................... (2.6)

Persamaan diatas merupakan persamaan diferensial getaran


dengan redaman.
2.3.1 Getaran Kurang Teredam
Ketika damping rasio dalam range 0 < < 1, sistem getaran
kita
sebut
underdamped.
Benda
yang
mengalami underdamped biasanya melakukan beberapa osilasi
sebelum berhenti. Benda masih melakukan beberapa getaran
sebelum berhenti karena redaman yang dialaminya tidak terlalu
besar. Contoh benda yang mengalami underdamped ditunjukkan
pada gambar di bawah.

Gambar 2. 3 Getaran Kurang Teredam [1]


2.3.2 Getaran Teredam Kritis
Ketika = 1, sistem getaran kita sebut critically damped.
Getaran ini lebih cepat mendekati kesetimbangan daripada
getaran kurang teredam. Grafik teredam kritis seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 2. 4 Getaran Teredam Kritis [1]

7
2.3.3 Getaran Teredam Lebih
Ketika > 1, sistem getaran kita sebut overdamped.
Getaran ini menuju kesetimbagan bahkan tidak berisolasi. Untuk
grafik teredam ini seperti dibawah ini.

Gambar 2. 5 Getaran Teredam Lebih [1]


2.4 Frekuensi Natural
Untuk getaran translasi 1 DOF, frekuensi natural n
didefinisikan [2]

n 2f n

k
..................................................... (2.7)
m

dimana k adalah kekakuan pegas dan m adalah massa. Untuk


getaran translasi dengan arah vertikal, frekuensi natural dapat
didefinisikan [2]

n 2f n

st

..................................................... (2.8)

dimana st adalah defleksi statik.

8
Sedangkan untuk getaran rotasi 1 DOF, frekuensi natural

n didefinisikan [2]

n 2f n

kt
..................................................... (2.9)
J

dimana kt adalah kepegasan torsi dan J adalah momen


inersia.
2.5 Getaran Bebas System 1 DOF Teredam
Persamaan gerak getaran bebas tak teredam untuk getaran
translasi didefinisikan sebagai [2]

m x c x kx 0 .................................................... (2.10)
Getaran 1 DOF seperti Gambar 2.2.
2.6 Rasio Redaman
Rasio redaman adalah tolak ukur untuk menentukan jenis
getaran yang terjadi. Jika 0 < < 1 merukapan getaran kurang
teredam. Jika = 1 merupakan getaran kritis. Dan jika > 1
termasuk getaran teredam lebih. Untuk mengetahui besar rasio
redamannya, perlu di cari besar nilai peluruhan logaritmiknya
dengan persamaan berikut.

1
n

ln(

An
)
An1 ........................................................ (2.11)

Dimana :
n = bilangan bulat untuk menyatakan urutan amplitudo
satu gelombang (1,2,3..)
A = amplitudo (m)
Setelah mendapatkan nilai peluruhan logaritmik, kemudian
mencari nilai rasio redamannya dengan menggunakan persamaan
berikut.

2
4 2 2 ..................................................... (2.12)

Sehingga didapatkan nilai rasio redamannya. Dan juga rasio


redaman memiliki persamaan seperti ini.

c
2 km .............................................................. (2.13)

2.7 Konstanta Pegas


Konstanta pegas merupakan besaran dari kekuatan pegas
tersebut. Untuk mencari nilai besar konstanta menggunakan
persamaan.

m.g kx .............................................................. (2.14)

Dimana :
m = massa pegas + massa beban (kg) = 495 gr
g = gravitasi bumi, 9.8 m/s2
k = konstanta pegas (N/m)
x = simpangan (m)
Sehingga didapatkan besar konstanta pegas.

Gambar 2. 6 Pegas di beri F [1]

10

Halaman ini sengaja dikosongkan

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Adapun peralatan yang digunakan dalam melaksanakan
percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Statif
2. Pegas
3. Damper
4. Beban
5. Kertas
6. Oli
7. Air
8. Kamera perekam
3.2 Prosedur Percobaan
Prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Bahan dan alat disiapkan, lalu disusun seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 3. 1 Susun Pegas

11

12

2. Pada sistem pegas diberi simpangan tertentu.


3. Secara perlahan beban dilepaskan, getaran ditunggu
hingga steady.
4. Langkah (2) sampai (3) di dilakukan di media udara dan
oli
5. Langkah (2) sampai (4) di ulangi untuk jenis peredam
yang lain
6. Konstanta pegas dan rasio redaman dihitung dari data
yang didapatkan.
7. Hasil perhitungan dianalisa dan jenis getaran masingmasing ditentukan.

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data
Dari hasil percobaan langsung, diperoleh data pada pegas
pertama dan kedua yaitu panjang awal sistem, simpangan awal,
Amplitudo ke-1 dan ke-2 dan diketahui juga massa dari pegas ini
yaitu 0.495 kg, lebih jelasnya tabel dibawah ini.
Tabel 4. 1 Data Hasil Percobaan Menggunakan Pegas
Pertama
Pegas 1
Udara
Oli
Kondisi Awal 19 cm
Kondisi Awal 19 cm
Simpangan
28 cm
Simpangan
26 cm
awal
awal
Amplitudo
11.5 cm
Amplitudo
16.5 cm
ke-1
ke-1
Amplitudo
11.45 cm
Amplitudo
11.5 cm
ke-2
ke-2
Tabel 4. 2 Data Hasil Percobaan Menggunakan Pegas
Kedua
Pegas 2
Udara
Oli
Kondisi Awal 18 cm
Kondisi Awal 19 cm
Simpangan
26.5 cm
Simpangan
25 cm
awal
awal
Amplitudo
16.5 cm
Amplitudo
17 cm
ke-1
ke-1
Amplitudo
- cm
Amplitudo
- cm
ke-2
ke-2

13

14
4.1.1 Data Hasil Perhitungan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat dihitung nilai konstanta
pegasnya dan damping rasionya.
Konstanta Pegas
Konstanta pegas dari kedua pegas tersebut dapat dihitung
menggunakan persamaan (2.14). Sehingga didapatkan besar
konstanta pegas masing-masing pegas yaitu :
Tabel 4. 3 Konstanta Pegas Pertama dan Kedua
Pegas 1
Pegas 2

k1

k2

9 cm

53.9 N/m

8.5 cm

57.07 N/m

Rasio Redaman
Rasio redaman dari masing-masing pegas ketika di udara
dan minyak dapat dihitung dengan mencari nilai peluruhan
logaritmik terlebih dahulu dengan menggunakan persamaan
(2.11). Setelah mendapatkan nilai peluruhan logaritmik,
kemudian mencari nilai rasio redamannya dengan
menggunakan persamaan (2.12) Sehingga didapatkan nilai
rasio redamannya sebagai berikut
Tabel 4. 4 Nilai Rasio Redaman Pegas Pertama
Pegas 1
Udara
Oli
0.00435
0.361

0.000692
0.057

15
4.1.2 Grafik Menggunakan Matlab
Di matlab mencari bentuk grafik getaran untuk menentukan
jenis getarannya dengan menggunakan syntax berikut.
clc
clear all
m=0.495;
c=0.6;
k=57.07;
x0=0.26;
v0=0;
%jika massa hanya dilepas saat disimpangkan awal,maka
kecepatan awal = 0
Durasi=2;
zeta=c/(2*sqrt(k*m));
wn=sqrt(k/m);
t=0:Durasi/1000:Durasi;
if zeta==1;
% respon gerak dg karaktersitik critically
damped
a1=x0;
a2=x0;
x=a1.*exp(-wn*t)+a2.*t.*exp(-wn*t);
elseif zeta>1;
% respon gerak dg karaktersitik overdamped
a1=(-v0+((-zeta+sqrt(zeta^21))*wn*x0))/(2*wn*sqrt(zeta^2-1));
a2=(v0+((zeta+sqrt(zeta^2-1))*wn*x0))/(2*wn*sqrt(zeta^2-1));

16
x=(exp(-zeta*wn*t)).*((a1.*exp(-wn*t*sqrt(zeta^2-1)))
+(a2.*exp(wn*t*sqrt(zeta^2-1))));
elseif zeta~=0;zeta<1; % respon gerak dg karaktersitik
underdamped
wd=wn*sqrt(1-zeta^2);
a=sqrt((wn*x0*zeta+v0)^2+(x0*wd)^2)/wd;
phi=atan2(wd*x0,v0+zeta*wn*x0);
x=a.*exp(-zeta*wn*t).*sin(wd*t+phi);
end
plot(t,x);
title(['Respon gerak sistem dg zeta=',num2str(zeta(1))]);
xlabel('waktu (t)');
ylabel('Simpangan (m)');
grid on
Didalam syntax tersebut, untuk menentukan jenis getarannya
mengubah nilai m, c, k, x0.
Dimana:
m = massa pegas
c = besaran dari persamaan (2.13)
k =konstanta pegas
x0 = simpangan awal

17
Berdasarkan dari data hasil percobaan, didapatkan grafik
pegas pertama di udara dan oli selama 2 detik seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 4. 1 Grafik Getaran Pegas Pertama di Udara


selama 2 detik

Gambar 4. 2 Grafik Getaran Pegas Pertama di Oli


selama 2 detik

18
Jika waktu terjadinya getaran di perlama, misalnya getaran
pegas pertama di udara diperlama menjadi 10 menit supaya hasil
plot getarannya jelas sehingga didapatkan grafiknya yaitu.

Gambar 4. 3 Grafik Getaran Pegas Pertama di Udara


selama 10 menit.
Dan getaran pegas pertama di oli, hasil plot dalam selang
waktu 10 detik sudah cukup jelas grafiknya yaitu.

Gambar 4. 4 Grafik Getaran Pegas Pertama di Oli


selama 10 detik

19
4.2 Pembahasan
Dari analisa data, didapatkan nilai konstanta pegas pertama
yaitu 53.9 N/m dan konstanta pegas kedua yaitu 57.07 N/m. Dan
nilai rasio redaman dari pegas pertama ketika di udara sebesar
0.000692 dan ketika di oli sebesar 0.057. Dimana kedua kejadian
tersebut termasuk getaran kurang teredam jikalau dilhat dari nilai
rasio redamannya yaitu 0 < < 1. Dan nilai rasio redaman pada
pegas kedua tidak dihitung dikarenakan besar amplitudo kedua
tidak dapat di lihatdikarenakan amplitudo kedua langsung menuju
kesetimbangan. Berdasarkan dari grafik matlab, didapatkan grafik
pegas pertama di udara gambar 4.3 sesuai dengan grafik getaran
kurang teredam gambar 2.3 dan juga sesaui dengan hasil
perhitungan tabel 4.4 dimana getaran pegas pertama di udara
termasuk getaran kurang teredam (under damped). Pada grafik
pegas pertama di oli gambar 4.4 sesuai dengan gambar 2.3 dan
juga sesuai dengan hasil perhitungan tabel 4.4 dimana getaran
pegas pertama di oli termasuk getaran kurang teredam (under
damped). Akan tetapi tidak sesuai dengan teori yang ada dimana
ketika pegas di celupkan ke oli akan membuat getaran menjadi
getaran teredam lebih (over damped). Mungkin ini dikarenakan
pegas yang digunakan terlalu lentur, dan kurang ketelitian
praktikan dalam mengambil data.

20

Halaman ini sengaja dikosongkan

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum P1 Getaran
antara lain :
1. Konstanta pegas pertama sebesar 53.9 N/m dan konstanta
pegas kedua sebesar 57.07 N/m.
2. Getaran pegas pertama di udara memiliki rasio redaman
sebesar 0.000692 dan rasio redaman di oli sebesar 0.057.
3. Getaran pegas pertama di udara dan oli termasuk getaran
kurang teredam berdasarkan hasil perhitungan dan hasil
grafik dari matlab.
5.2 Saran
Saran untuk praktikum P1 Getaran antara lain :
1. Beban pegas di kondisikan seimbang supaya ketika
dipegaskan menjadi getaran yang teratur.
2. Wadah untuk olinya kurang besar supaya olinya tidak
ikut keluar dari wadah ketika dipegaskan
3. Asistennya terlalu baik.

21

22

Halaman ini sengaja dikosongkan

DAFTAR PUSTAKA
[1] Keysha Wellviestu Zakri, "Getaran Teredam," Gejala Osilasi
Teredam, 2014.
[2] ITS, Buku Getaran 1 DOF. Surabaya, Jawa Timur, Indonesia:
Teknik Mesin, 2015.