Anda di halaman 1dari 19

I.

Perumusan Masalah
Teknologi informasi di era modern sekarang ini adalah hal yang tidak asing
lagi bagi para masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya masyarakat lebih aktif
dalam menggunakan teknologi berbasis sistem informasi agar tidak tertinggal
dalam hal informasi-informasi penting terkait berbagai aspek kehidupan. Dalam
hal sosialisasi teknologi informasi pada masyarakat luas, peran pemerintah
sangatlah vital dalam hal tersebut. Berbagai macam masalah dan tantangan harus
dihadapi oleh pemerintah dalam upaya mensosialisasikan alat teknologi informasi
yang terkait. Program teknologi informasi yang akan dibahas dalam paper ini
adalah mengenai Sistem Informasi Geografis (SIG).
Sistem Informasi Geografis sangat berguna bila dapat diaplikasikan dalam
berbagai macam bidang, seperti bidang kesehatan, transportasi, perairan,
pertanian dan bidang-bidang lainnya. Paper ini akan membahas sosialisasi
pemanfaatan Sistem Informasi Geografis terkait dengan pemetaan lahan pertanian
di kabupaten Tuban (merujuk pada proposal penelitian mahasiswa Universitas
PGRI Ronggolawe Tuban). Dengan adanya pemanfaatan Sistem Informasi
Geografis secara tepat pada lahan pertanian di Tuban akan menghasilkan dampak
positif yaitu menunjang pembangunan daerah tersebut dengan cara meningkatkan
kesejahteraan petani serta meningkatkan kualitas dan kuantitas berbagai produksi
tanaman pangan yang akan mendorong roda perekonomian kabupaten Tuban. 1
Dalam sosialisasi yang akan dilakukan oleh pemerintah kepada para petani
di kabupaten Tuban diperlukan upaya yang tidak mudah. Karena sasaran
sosialisasi sistem terkait adalah para petani yang notabene pendidikannya adalah
lulusan SD hingga SMP dan biasanya gagap teknologi (gaptek). Pemerintah harus
melakukan perencanaan terkait sosialisasi, monitoring pada tiap progress
sosialisasi, dan evaluasi bagi para petani. Tantangan lainnya adalah para sikap
petani yang kolot atau tradisional, tetap berpegang dengan cara-cara lama
sehingga tidak ingin melakukan perubahan dan adanya penolakan terhadap
teknologi baru yang masuk. Baik pemerintah maupun petani harus bekerjasama
secara sinergis karena kedua pihak tersebutlah yang akan mengoperasikan
pengelolaan Sistem Informasi Geografis. Dengan adanya kerjasama yang sinergis

1 Andik Adi Suryanto dkk, Sistem Informasi Geografis Pemetaan Lahan Pertanian di Kabupaten
Tuban Menggunakan Framework Pmapper Untuk Analisa Kebijakan Bidang Pertanian, Teknik
Informatika Fakultas Teknik, Universitas PGRI Ronggolawe Tuban, 2014, hlm. 3.

maka efisiensi dan efektifitas dari program Sistem Informasi Geografis yang ada
dapat tercapai dengan baik.
Dalam sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah sendiri terdapat
komunikasi publik yang intens antara pemerintah dengan para petani di
kabupaten Tuban. Komunikasi tersebut adalah upaya pemerintah dalam
mensosialisasikan aplikasi SIG yang ada.
Jika para petani di kabupaten Tuban dapat menerapkan aplikasi sistem
informasi geografis dengan baik maka akan mempermudah mereka dalam hal :
1. Penentuan pemetaan daerah yang diperuntukkan untuk lahan pertanian
2. Menganalisa kebijakan yang tepat dalam bidang pertanian oleh
pemerintah kabupaten Tuban
3. Menyajikan informasi data spasial dan pengolahan citra sebagai media
pendukung informasi lahan secara statis dengan peta hasil digitasi dari
RT-RW kabupaten Tuban
4. Menyajikan informasi data spasial dengan lingkup batas administrasi
kecamatan dan batas masing-masing desa
5. Menyajikan informasi tabel dan grafik yang digunakan sebagai
pengambilan informasi untuk analisa kebijakan bidang pertanian2
Identifikasi masalah pada paper ini adalah :
1. Apa strategi sosialisasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat
diterapkan pada masyarakat maupun pemerintah di kabupaten Tuban ?
2. Apa fungsi dan manfaat Sistem Informasi Geografis ?
3. Apa analisis SWOT dalam pengaplikasian Sistem Informasi Geografis ?

II.

Definisi Konsep
1. Konsep Komunikasi Publik sebagai Upaya Sosialisasi SIG
Komunikasi publik merupakan suatu komunikasi yang dilakukan di
depan banyak orang. Dalam komunikasi publik pesan yang disampaikan dapat

2 Ibid, hlm. 4-5

berupa suatu informasi, ajakan, gagasan. Sarananya, bisa media massa, bisa
pula melalui orasi pada rapat umum atau aksi demonstrasi, blog, situs jejaring
sosial, kolom komentar di website/blog, e-mail, milis, SMS, surat, surat
pembaca, reklame, spanduk, atau apa pun yang bisa menjangkau publik. Yang
pasti, Komunikasi Publik memerlukan keterampilan komunikasi lisan dan
tulisan agar pesan dapat disampaikan secara efektif dan efisien.3
2. Konsep Sistem Informasi Geografis
a. Data dan Informasi
Menurut Pustaka (Its86) 1986, data merupakan bahasa mathematical,
dan simbol-simbol pengganti lain yang disepakati oleh umum dalam
menggambarkan objek manusia, peristiwa, aktivitas, konsep, dan objek-objek
penting lainnya sesuai dengan kenyataannya. Sedangkan informasi adalah data
yang ditempatkan pada konteks yang penuh arti oleh penerimannya. 4
Seringkali antara data dengan informasi disamaartikan, karena terdapat
hubungan yang berkaitan dalam pengertiannya.
Pada sebuah data yang memuat informasi dapat digolongkan menjadi 2 model,
yaitu informasi formal dan informasi informal. Dalam informasi formal antara
lain mencangkup aturan pemerintah dan undang-undang, surat perjanjian atau
kontrak, prosedur akuntansi, persyaratan perencanaan, anggaran organisasi,
permintaan pekerjaan dan lamaran, persyaratan komunikasi, kebutuhankebutuhan pengendalian dan kontrol, dan proses-proses pengambilan
keputusan yang umum. Informasi informal antara lain mencangkup
pendapatan-pendapatan, pengesahan, intuisi, firasat, prasangka, dugaan, kabar
desas-desus, pengalaman pribadi, rules of thumb, gosep, anggapan atau asumsi
dan lain sebagainya.5 Sehingga dalam suatu informasi yang ada maka dapat
digolongkan informasi tersebut cenderung informasi formal atau informal.
Akan tetapi dalam ranah pemerintahan, informasi yang disediakan untuk
masyarakat adalah infomasi formal. Hal tersebut karena dalam memberikan
informasi kepada masyarakat, diperlukan sebuah data empiris, akuntabel, dan
3 http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_publik diakses pada tanggal 6 April 2015 pukul 0.02 WIB
4 Prahasta, Eddy.2001.Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.Bandung:CV Informatika
5 Ibid.

bersifat formal mengikat. Informasi formal tersebut diperlukan untuk adanya


kesamaan presepsi pada setiap masyarakat, agar terhindar dari permasalahan
yang akan berpotensi dalam menimbulkan konflik.
b. Sistem Informasi
Menurut Prahasta 2001, suatu konsep sistem dapat didefinisikan
sebagai sekumpulan objek, ide, berikut saling keterhubungannya (inter-relasi)
dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama. 6 Lalu pengertian sistem
informasi adalah entity (kesatuan) formal yang terdiri dari berbagai
sumberdaya fisik maupun logika. Dengan pengertian tersebut, maka dapat
dikatakan bahwa semua organisasi pasti memiliki sistem informasi
Adapun tujuan dari sistem informasi menurut Budi : 95 dalam Prahasta
2001 adalah untuk menyediakan dan mensistematikkan informasi yang
merefleksikan seluruh kejadian atau kegiatan yang diperlukan untuk
mengendalikan operasi-operasi organisasi.7 Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa sistem informasi tersebut memiliki kepentingan yang bersifat positif
dalam suatu pemerintahan, lembaga, ataupun organisasi swasta. Sistem
infomasi tersebut kemudian dapat dipetakan menjadi 2 bagian, yaitu sistem
informasi tanpa dukungan komputer dan sistem informasi yang dengan
dukungan komputer. Yang dengan dukungan komputer mencakup beberapa
hal, salah satunya adalah sistem informasi geografis.
c. Sistem Informasi Geografis
Sistem infomasi geografis (Geographic Information System) atau
disingkat SIG adalah suatu teknologi baru yang menjadi tools (alat) yang
sangat esensial dalam menyimpan, memanipulasi, menganalisis, dan
menampilkan kembali kondisi-kondisi alam dengan bantuan data atribut dan
spasial.
Definisi SIG selalu berkembang dan bervariasi dalam perkembangan
jaman. Berikut merupakan sebagian dari definisi SIG8 :
a) SIG adalah sistem komputer yang digunakan untuk memasukan
(capturing),
6 Ibid.
7 Ibid.
8 Ibid.

menyimpan,

memeriksa,

mengintegerasikan,

memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data-data yang


berhubungan dengan posisi-posisi di permukaan bumi (Rice20)
b) SIG adalah kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer
yang memungkinkan untuk mengelola (manage), menganalisa,
memetakan informasi spasial berikut data atributnya (data deskriptif)
dengan akurasi kartografi (Basic20)
c) SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan
spasial dan mampu mengitegerasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan
karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut.
SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang
dipertemukan, yaitu data spasial, perangkat keras, perangkat lunak, dan
struktur organisasi (Gistu94)
d) SIG adalah suatu fasilitas untuk mempersiapkan, mempresentasikan
dan menginterpretasikan fakta-fakta (kenyataan) yang terdapat di
permukaan bumi (definisi umum). Untuk definisi yang lebih sempit,
SIG adalah konfigurasi perangkat kerasdan perangkat lunak komputer
yang

secara

khusus

dirancang

untuk

proses-proses

akusisi,

pengelolaan, dan penggunaan data kartografi (Tomlin90)


e) SIG adalah sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data
yang tereferensi secara spasial atau koordinat geografi. Dengan kata
lain SIG, merupakan sistem basis data dengan kemampuankemampuan khusus dalam menangani data yang tereferensi searah
spasial, selain merupakan sekumpulan operasi-operasi yang dikenakan
terhadap data tersebut(Star90)
Sehingga secara umum, pengertian SIG adalah suatu komponen yang
terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, sumber daya manusia, dan data
yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukkan, menyimpan,
memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengitegerasikan,
menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.9
-

Tahapan SIG
a. Tahap Input Data

9 Bappeda Prov. NTB

Merupakan tahapan kritis dimana tahap ini menghabiskan 60% waktu


dan biaya. Tahap input data meliputi proses perencanaan, penentuan
tujuan, pengumpulan data, serta memasukkan data ke komputer.
b. Tahap Pengolahan Data
Merupakan kegiatan klasifikasi dan stratifikasi data, kompilasi, serta
geoprosesing (clip, merge, dan dissolve). Tahap ini menghabiskan 20%
waktu dan biaya.
c. Tahap Analisis Data
Merupakan tahap menganalisa keruangan meliputi buffer, overlay, dan
lain-lain. Pada tahap ini menghabiskan 10% waktu dan biaya.
d. Tahap Output
Merupakan tahap akhir yang berkaitan dengan penyajian hasil analisa
yang telah dilakukan, baik berupa hardcopy, tabulasi data, CD sistem
informasi maupun bentuk situs web.
-

Fungsi Sistem Informasi Geografis


a. Aplikasi SIG
Dari penggunaan SIG, maka ada banyak aplikasi-aplikasi yang dapat
ditangani oleh SIG dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
contoh-contohnya antara lain10 :
1.) Dalam budang sumber daya alam : inventarisasi, manajemen dan
kesesuaian lahan untuk peranian, perkebunan, kehutanan, perencanaan
tataguna lahan, analisis daerah rawan bencana alam, dsb
2.) Di bidang perencanaan : perencanaan pemukiman transmigrasi
perencanaan tata ruang wilayah, perencanaan kota, perencanaan lokasi
dan relokasi industri, pasar, pemukiman, dsb
3.) Di bidang kependudukan : penyusunan data pokok, penyediaan
informasi kependudukan/sensus dan sosial ekonomi, dsb
4.) Di bidang lingkungan : pemantauan pencemaran sungai, danau, laut;
evaluasi pengendapan lumpur/sedimen baik sekitar danau, sungai, atau
pantai; pemodelan pencemaran udara, limbah berbahaya, dsb
5.) Di bidang pertanahan : manajemen pertanahan, sistem informasi
pertanahan, dsb
6.) Di bidang utility : inventerisasi dan manajemen informasi jaringan pipa
air minum, sistem informasi pelanggan perusahaan air minum,
perencanaan pemeliharaan dan perluasan jaringan pipa air minum,

10 Prahasta, Eddy.2001.Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.Bandung:CV Informatika

kemudian begitu pula listrik, gas, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya


seperti tempat pembuangan limbah/sampah, WC umum, dsb
7.) Di bidang pariwisata : inventarisasi daerah pariwisata dan analisis
potensi daerah unggulan untuk pariwisata
8.) Di bidang ekonomi, bisnis, dan marketing : penentuan lokasi-lokasi
bisnis yang prospektif untuk bank, pasar swalanyan/supermarket,
mesin ATM, kantor cabang, showroom, counter, outlet, gudang, dsb
9.) Di bidang perpajakan : penaksiran potensi pendapatan dari sektor pajak
PBB, dsb
10.) Di bidang geologi, pertambangan dan perminyakan : inventarisasi,
menajemen dan perijinan dan evaluasi kesesuaian lokasi-lokasi
pertambangan, geologi, dan perminyakan
11.)Di bidang transportasi dan perhubungan : inventarisasi jaringan
transportasi analisis kesesuaian dan penentuan rute-rute alternatif
transportasi, manajemen dan pemeliharaan dan perencanaan perluasan
jaringan transportasi, dsb
12.)Di bidang pendidikan : penentuan kesesuaiaan lokasi pendidikan,
sistem informasi pendidikan/akademis, dan sistem sebagai alat bantu
pemahaman pembelajaran untuk masalah-masalah geografi untuk siswa
13.)Di bidang kesehatan : penyediaan data atribut dan data spasial yang
menggambarkan distribusi penderita suatu penyakit, pola atau model
penyebaran penyakit, distribusi unit-unit pelayanan kesehatan
14.)Di bidang militer : penyediaan data spasial untuk analisis rute-rute
perjalanan logistik, peralatan perang, dan sebagai tools untuk
kebutuhan war game.
15.)Dan di bidang-bidang lain sebagainya.
-

Manfaat Sistem Informasi Geografis


Melihat dari banyaknya aplikasi penggunaan SIG dalam berbagai
bidang tersebut, maka dapat dikatakan bahwa SIG dapat menjadi tools
dalam menentukan kebijakan yang tepat pada suatu keadaan. Yang
kemudian kebijakan tersebut dapat memberikan manfaat yang banyak bagi
masyarakat. Untuk itu penggunaan SIG perlu untuk ditingkatkan dalam
pemerintahan sehingga kebijakan-kebijakan dapat langsung dirasakan oleh
masyarakat.

III.

Kerangka Teoritik
1. Teori Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan


atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah
kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai
teori mengenai peranan (role theory).
2. Teori Perubahan untuk Perancangan Komunikasi Publik
Objek ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan
juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap umum (public
attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan
peranan yang amat penting. Bahkan dalam definisinya secara khusus,
disebutkan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain
(Effendy, 1990).

Komunikasi massa ditujukan kepada massa melalui media massa.


Dibandingkan dengan jenis-jenis komunikasi lainnya, maka komunikasi massa
mempunyai ciri-ciri khusus yang disebabkan beberapa komponen, antara lain :
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah
2. Komunikator pada komunikasi massa berada pada satu lembaga yang
jelas
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
4. Media komunikasi massa menimbulkan keseragaman waktu bertindak
5. Komunikasi massa bersifat heterogen
Agar komunikasi efektif, pesan yang merupakan salah satu faktor
kunci dari komunikasi hendaknya mendapat perhatian yang cukup.
Banyak perencana komunikasi publik menganut gagasan untuk
menggunakan teori perubahan (theory of change) sebagai panduan untuk
merancang

strategi

komunikasi

publik.

Teori

perubahan

merupakan

representasi dari apa yang perlu diterapkan untuk mempuat perubahan tertentu
terjadi. Kata change atau perubahan merujuk pada tujuam pokok dari
komunikasi publik, apakah itu mengubah perilaku individu atau mengubah
kebijakan dan kehendak masyarakat (public will). Teori perubahan
mengidentifikasi strategi-strategi kunci yang harus digunakan dan apa saja
hasil yang dikeluarkan.
Gambar diatas menjelaskan aplikasi teori perubahan dalam praktik
komunikasi publik untuk mencapai tujuan perubahan perilaku individu atau
perubahan kebijakan dan kehendak publik (public will).
Pemahaman terhadap teori-teori ilmu sosial yang berhubungan dengan
komunikasi dapat membantu pemahaman dalam kegiatan penyebaran
informasi melalui kegiatan sosialisasi, komunikasi publik, dan teori-teori
tentang perubahan.11
11 Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan
Pertahanan. Hlm. 120

3. Teori Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis


Sistem Informasi Geografis merupakan kombinasi manajemen
database dalam mengumpulkan dan menyimpan sejumlah data geospasial
yang besar,

bersama-sama dengan kemampuan analisis spasial untuk

mengetahui hubungan geospasial antara entitas dari masing-masing data yang


digunakan, ditambah dengan peta layar yang berfungsi menggambarkan
hubungan data geospasial dalam dua dan tiga dimensi dalam bentuk peta (T.
Nyerges:2009).
Sistem Informasi Geografis dapat didefinisikan sebagai kombinasi
perangkat keras dan perangkatlunak komputer yang memungkinkan untuk
mengelola (manage), menganalisa, memetakan informasi spasial berikut data
atributnya (data deskriptif) dengan akurasi kartografi (Basic, 2000 dalam
Prahasta, 2002). Dari definisi ini dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem
yaitu data input, dasa output, data manajemen, dan data manipulasi dan
analisis. Jika subsistem SIG di atas diperjelas berdasarkan uraian jenis
masukan,proses, dan jenis keluaran yang ada di dalamnya, maka subsistem
SIG juga dapat digambarkan seperti tersaji pada Gambar 1.

Gambar 1. Uraian Subsistem-Subsistem SIG (Prahasta, 2002)

SIG memiliki keunggulan dalam menyajikan data-data spasial tersebut


sehingga lebih mudah untuk dianalisis dan diketahui polanya. Salah satu
keunggulan yang dimiliki oleh SIG adalah kemampuan untuk melakukan
overlay atau tumpeng tindih dari data-data atribut suatu wilayah. Proses
overlay atau tumpang tindih ini biasa digunakan untuk menganalisis dan
menghasilkan informasi baru berdasarkan data-data spasial dan atribut yang
telah ada. Misalnya dalam menghasilkan peta kesesuaian lahan untuk tanaman
tertentu, overlay dari beberapa data atribut seperti elevasi lahan, kemiringan
lereng, dan data curah hujan dapat digunakan untuk menentukan kesesuaian
lahan untuk ditanami jenis tanaman tertentu.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data
pada suatutitik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan
akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan
data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan
lokasi yang memiliki sistem koordinattertentu, sebagai dasar referensinya.
Sehingga aplikasi SIG dapat menjawabbeberapapertanyaan seperti; lokasi,
kondisi, trend, pola dan pemodelan.Kemampuan inilah yang membedakan SIG
dari sistem informasi lainnya. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam
SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis,
memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai
dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi
lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut ini:
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik
koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk
diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi
yangmemiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya,
contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.
Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan
kode penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya.
Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format,
yaitu:
o Data Raster

Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang
dihasilkan dari sistem penginderaan jauh. Pada data raster, obyek geografis
direpresentasikansebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel
(picture element).Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung
pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan
ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel
pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan
oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk
merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis
tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya.
Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin
tinggi resolusi gridnya semakin besar pula ukuran file-nya dan sangat
tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia.
o Data vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam
kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan
berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik
perpotongan antara dua buah garis). Keuntungan utama dari format data
vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan
garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan
ketepatan posisi, misalnya pada basis data batas-batas kadaster. Contoh
penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan pasial dari
beberapa

fitur.

Kelemahan

data

vektor

yang

utama

adalah

ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.


4. Teori Pembangunan Daerah
Pembangunan daerah adalah suatu upaya yang terencana untuk
meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah sehingga tercipta suatu
kemampuan yang andal dan profesional dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat dan mengelola sumber daya ekonomi daerah.Pembangunan daerah
juga merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat di seluruh daerah
sehingga, terciptanya suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat untuk
menikmati kualitas kehidupan yang lebih sejahtera dan memperluas pilihan

yang dapat dilakukan masyarakat bagi peningkatan harkat, martabat, dan harga
diri.
Perencanaan Pembangunan Daerah
Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa
depan yang tepat melalui serangkaian pilihan-pilihan.
1. Menentukan : Menemukan (mengungkapkan dan meyakinkan).
2. Tindakan : Spesifik dan berkaitan dengan persoalan pelaksanaan
3. Tepat : Dikaitkan dengan tindakan pilihan-pilihan :
- Pemilihan tujuan dan kriteria
- Identifikasi seperangkat alternatif yang konsisten dengan preskripsi
dengan pemilihan alternatif yang memungkinkan
- Arahan tindakan mengenai tujuan yang telah ditentukan
Secara umum perencanaan pembangunan daerah di definisikan sebagai
proses dan mekanisme untuk merumuskan rencana jangka panjang, menengah,
dan pendek di daerah yang dikaitkan pada kondisi, aspirasi, dan potensi daerah
dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam rangka menunjang
pembangunan nasional. Secara praktis perencanaan pembangunan daerah di
definisikan sebagai suatu usaha yang sistematis dari berbagai pelaku (aktor),
baik umum (publik), atau pemerintah, swasta maupun kelompok masyarakat
lain pada tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling kebergantungan
dan

keterkaitan

aspek-aspek

fisik,

sosial-ekonomi,

dan

aspek-aspek

lingkungan lainnya dengan cara : (1) secara terus menerus menganalisis


kondisi dan pelaksanaan pembangunan daerah; (2) merumuskan tujuan-tujuan
dan kebijakan-kebijakan pambangunan daerah; (3) menyusun konsep strategistrategi bagi pemecahan masalah (solusi); (4) melaksanakannya dengan
menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia; dan (5) sehingga peluangpeluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah dapat di
tangkap secara berkelanjutan.
IV.

Kebijakan Penanganan Masalah

Dalam proses sosialisasi terdapat strategi-strategi dari pemerintah yang


digunakan untuk menyebarkan informasi pengaplikasian SIG terhadap para
petani. Strategi-strategi yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah, antara lain :
1. Adanya metode sosialisasi berupa wawancara terstruktur dan Focus
Grup Discussion (FGD)
Wawancara terstruktur

digunakan

untuk

mengetahui

tingkat

pengetahuan objek kajian yaitu pemerintah kabupaten Tuban dan


kalangan petani terhadap materi sosialisasi berupa aplikasi SIG di
bidang pertanian.
FGD dilakukan untuk mendapatkan konfirmasi dan masukan dari
kedua objek sosialisasi atas rancangan strategi dan materi SIG yang
akan disosialisasikan
2. Strategi yang dibuat dan diujicobakan untuk sosialisasi SIG, antara lain
-

:
Menciptakan kegiatan sosialisasi SIG yang lebih komunikatif
Konsep perancangan pesan yang sederhana, jelas, dan sistematis serta
disajikan melalui pesan visual maupun tekstual dengan tetap
memperhatikan

kedalaman

materi

aplikasi

SIG

yang

akan

disosialisasikan
Konsep pemasaran sosial yang mengadopsi konsep pemasaran umum

dengan membuat toolkit kebutuhan sosialisasi


Konsep jaringan komunikasi yang baik di tiap daerah dalam kabupaten
Advokasi media, pengorganisasian dan mobilisasi masyarakat,
penyertaan para pembuat kebijakan, pemberitaan media, penulisan

artikel dan berbagai macam jurnal tentang SIG


Menjalankan mekanisme penyebaran informasi dengan workshop

regional, pelatihan, interview, dan diskusi dengan pemerintah terkait


Kerjasama dengan kalangan akademisi dan praktisi terkait
Pemanfaatan media tradisional dan karakteristik lokal

12

V.

Resensi Kelebihan dan Kekurangan Kebijakan


Pada kelebihan dan kekurangan kebijakan terkait hal sosialisasi SIG
terhadap para petani maupun pemerintah maka dibuatlah analisis SWOT
sebagai berikut :

12 Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan
Pertahanan. Hlm.121

Strength
1. Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait dengan Sistem Informasi
Geografi dan tata guna lahan
2. Tenaga pengelola Sistem Informasi Geografi pada pemetaan lahan pertanian
sudah mulai tersedia pada tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
3. Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi tersedia di semua Provinsi dan
hampir seluruh Kabupaten/Kota
4. Telah ada sistem pengumpulan data secara rutin yang bersumber dari Badan
Pertanahan Nasional tentang alih fungsi lahan
5. Diseminasi data dan informasi telah dilakukan, contohnya hampir semua Provinsi
dan Kabupaten/Kota dan Pusat menerbitkan data tentang perkembangan lahan
Weakness
1. Sistem Informasi Geografi pada pemetaan tata guna lahan belum terintegrasi dan
dikelola berbagai pihak sehingga menyebabkan pemetaan data yang beragam
2. Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung Sistem Informasi Geografi
dalam pemetaan lahan
3. Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus Sistem Informasi Geografi pada
pemetaan lahan
4. Tenaga pengelola Sistem Informasi Geografi umumnya masih kurang diakui
perannya, pengembangan karir tidak jelas dan belum ada jabatan fungsionalnya
5. Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi dan komunikasi khususnya
untuk pemeliharaan
6. Indikator yang digunakan sering kurang menggambarkan subjek yang diwakili
7. Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi, dan audit Sistem Informasi
Geografi pada pemetaan lahan
8. Penggunaan data atau informasi oleh pengambil keputusan dan masyarakat masih
sangat rendah
9. Kualitas data masih bermasalah seperti tidak akurat, tidak lengkap, dan tidak
tepat waktu
Opportunities
1. Kesadaran akan permasalahan kondisi Sistem Informasi Geografi pada pemetaan
lahan mulai meningkat pada pemangku kepentingan terutama pada tingkat
manajemen Badan Pertanahan Nasional
2. Telah ada pertauran perundang-undangan terkait dengan informasi dan kebijakan
alih fungsi lahan
3. Terdapat jenjang pendidikan informasi pada bidang pertanahan yang bervariasi
dari diploma hingga sarjana pada perguruan tinggi

4. Kebutuhan akan data berbasis bukti meningkat khususnya untuk anggaran yang
berbasis kinerja
5. Harga jual tanah semakin mahal sehingga banyak investor mencari lahan yang
sesuai untuk aset dan investasi bidang properti
6. Para donor menitikberatkan program pengembangan Sistem Informasi Geografis
pada pemetaan lahan
Threats
1. Dengan Otonomi Daerah terkadang pengembangan Sistem Informasi Geografi
pada pemetaan lahan tidak menjadi prioritas
2. Komputerisasi data mengenai lahan meningkatkan risiko terhadap keamanan dan
kerahasiaan sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi
3. Kondisi geografis Indonesia sangat beragam dimana infrastruktur masih sangat
lemah di daerah terpencil sehingga menjadi hambatan modernisasi Sistem
Informasi Geografis pada pemetaan lahan
VI.

Kesimpulan dan Rekomendasi


1. Kesimpulan
- Aplikasi teknologi SIG perlu disosialisasikan terhadap dua pihak, yaitu
pemerintah kabupaten Tuban dan kalangan petani dalam upaya
-

meningkatkan produksi pertanian yang menunjang pembangunan daerah


Sosialisasi SIG perlu dilakukan secara efektif dan efisien dengan
memilih media dan substansi materi sosialisasi yang tepat bagi
kelompok sasaran sosialisasi (pemerintah kabupaten Tuban dan para

petani)
1.1 Pemerintah Daerah
Perlu dilakukan sosialisasi yang intens secara formal (melalui instansi
vertikal) dan secara informal (toolkit dan media massa; koran, acara
televisi dan radio)
1.2 Kelompok petani
Media sosialisasi yang digunakan untuk para petani perlu disesuaikan
dengan karateristik dan budaya mereka. Misal dengan cara menggunakan
media umum yang dilihat orang banyak seperti memasang majalah dinding
di tempat umum dan tempat ibadah, pengumuman melaui tempat ibadah.
Selain itu dapat pula dilakukan teknik sosialisasi dengan mengadopsi

sistem kader yang infrastrukturnya telah tersedia sampai tingkat Rukun


Tetangga (RT)13
2. Rekomendasi
Berdasarkan hasil kajian strategi-strategi sosialisasi yang diajukan dapat
dipahami bahwa tiap-tiap komponen strategi saling berkaitan satu sama lain
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Beberapa rekomendasi penting yang
ingin disampaikan yaitu antara lain :
- Pengembangan identitas komunikator yang baik, matang, dan konsisten
-

untuk subyek kajian SIG


Advokasi media adalah aspek penting dalam meningkatkan awareness
para pihak terhadap adanya pengaplikasian SIG. Advokasi media

mempengaruhi kuantitas dan kualitas masalah-masalah pemberitaan SIG


Pengembangan toolkit lengkap berupa buku informasi tentang SIG dan
material-material terkait lainnya14

13 Ibid, Hlm. 122


14 Ibid, Hlm. 123

DAFTAR PUSTAKA
Prahasta,

Eddy.2001.Konsep-Konsep

Dasar

Sistem

Informasi

Geografis.Bandung:CV Informatika
Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata
Ruang dan Pertahanan. Artikel dalam Jurnal Info Kajian Bappenas
http://www.academia.edu/8354936/PROPOSAL_PENELITIAN_SISTEM_INF
ORMASI_GEOGRAFIS_PEMETAAN_LAHAN_PERTANIAN_DI_KABUPATEN_T
UBAN_MENGGUNAKAN_FRAMEWORK_PMAPPER_UNTUK_ANALISA_KEBI
JAKAN_BIDANG_PERTANIAN diakses pada tanggal 1 April 2015
Tutorial

Arcgis.10

oleh

Bappeda

Prov

NTB

dalam

web

http://bappeda.ntbprov.go.id/wp-content/uploads/2013/09/Bab01_Konsep-dasarGIS.pdf diakses pada tanggal 2 April 2015


http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_publik diakses pada tanggal 6 April 2015

http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi diakses pada tanggal 2 April 2015


http://taoefiq-oke.blogspot.com/2009/12/teori-pembangunan-daerah.html
diakses pada tanggal 2 April 2015

https://www.academia.edu/8354936/PROPOSAL_PENELITIAN_SISTEM_I
NFORMASI_GEOGRAFIS_PEMETAAN_LAHAN_PERTANIAN_DI_KABUPATE
N_TUBAN_MENGGUNAKAN_FRAMEWORK_PMAPPER_UNTUK_ANALISA
_KEBIJAKAN_BIDANG_PERTANIAN diakses pada tanggal 2 April 2015
https://www.academia.edu/7207737/Aplikasi_GIS_untuk_Menganalisis_Kese
suaian_Lahan_untuk_Tanaman_Jagung_di_DAS_Krasak diakses pada tanggal 2 April
2015

Anda mungkin juga menyukai