Anda di halaman 1dari 6

Besi (Fe)

Pada

praktikum

uji

biokimia

khususnya

pemeriksaan

kadar

hemoglobin, setiap anggota kelompok diperiksa kadar hemoglobinnya


dengan menggunakan hemoglobinmeter merek hemocue. Pemeriksaan
hemoglobin dimaksudkan untuk mengetahui apakah subjek menderita
anemia gizi besi atau tidak.
Menurut Supariasa (2002), hemoglobin ialah senyawa pembawa
oksigen pada sel darah merah sekaligus merupakan parameter yang
digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Akan tetapi,
Garby et al. dalam Supariasa (2002) menyatakan bahwa penentuan anemia
tidak cukup dengan hanya melakukan pemeriksaan hemoglobin sehingga
dibutuhkan pemeriksaan yang lain misalnya pemeriksaan hematokrit
dan/atau pemeriksaan serum ferritin
Berdasarkan hasil praktikum penilaian status gizi secara biokimia, dari
8 sampel didapatkan 1 sampel perempuan anemia yaitu 11,2g/dl dan 7
sampel dengan kadar Hb normal yang terdiri dari 3 laki-laki dengan nilai Hb
13,6g/dl, 15,1g/dl, 15,2g/dl dan 4 perempuan dengan nilai Hb 12,3g/dl,
12,6g/dl, 14,1g/dl, 12,7g/dl. (Pria = 13-16 g/dl dan Wanita 12-14 g/dl).
Menurut teori yang ada (Citrakesumasari, 2011), anemia gizi bisa
disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti
molekul hemoglobin sebagai unsur utama eritrosit. Anemia gizi dapat
mengakibatkan

terjadinya

pengecilan

ukuran

hemoglobin,

rendahnya

kandungan hemoglobin, serta berkurangnya jumlah sel darah merah.


Anemia gizi besi biasanya ditandai dengan menurunnya kadar
hemoglobin total di bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah
merah yang lebih kecil dari ukuran biasanya/ukuran normal (mikrositosis).
Tanda-tanda ini biasanya mengganggu metabolisme energi yang dapat
menurunkan produktivitas. Secara umum, orang yang menderita anemia gizi
akan terlihat pucat, lemas, merasa pusing, kurang nafsu makan, kurang fit,

imunitas

menurun,

mengalami

gangguan

penyembuhan

luka

(Citrakesumasari, 2012).
Ada beberapa faktor determinan penyakit anemia gizi besi. Husaini
(1989) dalam Citrakesumasari (2011) mengelompokkan penyebab anemia
gizi besi menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.
Penyebab tidak langsung anemia gizi besi meliputi ketersediaan zat besi
dalam bahan makanan yang tidak memadai, praktek pemberian makanan
kurang gizi, status sosial-ekonomi yang rendah, komposisi makanan yang
kurang beragam, konsumsi makanan yang mengandung zat-zat penghambat
absorpsi zat besi, faktor fisiologis: pertumbuhan fisik dan masa kehamilan
dan menyusui, perdarahan kronis, parasit, infeksi, serta pelayanan kesehatan
yang rendah. Sedangkan faktor penyebab langsung anemia gizi besi meliputi
jumlah Fe dalam makanan yang tidak cukup, rendahnya absorpsi zat besi,
meningkatnya kebutuhan akan zat besi, serta kehilangan banyak darah.
Karena ketersediaan Fe dalam bahan makanan yang tidak adequat
merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi, maka perlu diketahui jenisjenis makanan yang kandungan Fe-nya memadai. Menurut Almatsier (2009),
sumber baik zat besi ialah dari makanan hewani, seperti daging, ayam, dan
ikan. Sumber baik lainnya ialah telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan,
sayuran hijau, dan beberapa jenis buah. Di samping jumlahnya, perlu
diperhatikan kualitas zat besi di dalam bahan makanan, yang disebut dengan
ketersediaan biologik (bioavailability). Pada umumnya, besi di dalam daging,
ayam, dan ikan memiliki ketersediaan biologik yang tinggi, besi dalam
serealia dan kacang-kacangan memiliki ketersediaan biologik yang sedang,
dan besi di dalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung
asam oksalat tinggi, seperti bayam, memiliki ketersediaan biologik rendah.
Sebaiknya, kombinasi makanan sehari-hari diperhatikan, yakni yang
terdiri atas campuran sumber besi hewani dan nabati, sumber gizi lain yang
dapat membantu penyerapan, serta menghindari konsumsi makanan yang

mengandung zat penghambat absorpsi bersamaan dengan konsumsi


makanan sumber zat besi.
Penyerapan zat besi terjadi di dalam lambung dan usus bagian atas
yang masih bersuasana asam, banyaknya zat besi dalam makanan yang
dapat dimanfaatkan di dalam tubuh tergantung pada tingkat absorpsinya.
Tingkat absorpsi zat besi dapat dipengaruhi oleh pola menu makanan atau
jenis makanan yang menjadi sumber zat besi. Misalnya, zat besi yang
berasal dari makanan hewani dapat diabsorpsi sebanyak 20-30% sedangkan
zat besi yang berasal dari makanan nabati hanya dapat diserap sekitar 5%
(Citrakesumasari, 2012).

Status Seng (Zn)


Pada praktikum uji biokimia khususnya pemeriksaan status seng,
setiap anggota kelompok diperiksa status sengnya dengan menggunakan
larutan ZnSO4. Pemeriksaan status seng dimaksudkan untuk mendiagnosa
kadar seng (Zn) dalam tubuh dan kebutuhan seng dalam tubuh.
Test Kecap Smith dapat menentukan konsentrasi seng yang
ditemukan pada lidah, sehingga kekurangan seng berpengaruh pada
janringan ini. Metode kecap smith ini dilakukan dengan memberikan senyawa
seng sulfat yang disemprotkan ke dalam mulut responden dengan
menggunakan alat suntik tanpa jarum (spoit). Cairan seng sulfat tersebut
dibiaskan dalam mulut selama beberapa saat (10 detik), kemudian dibuang
dan ditanyakan pada responden tentang apa yang dirasakan.
Berdasarkan pemeriksaan status seng yang dilakukan, diperoleh
bahwa 8 sampel masuk dalam kategori menderita defisiensi Seng/Zinc (Zn)
(kategori 2) dan 1 sampel masuk dalam kategori normal (kategori 3). Hal ini
didasarkan pada prinsip yang digunakan dalam pemeriksaan metode Kecap
Smith. Seng (Zn) berperan pada molekul penerima rasa pada lidah. Tingkat
ketajaman rasa dapat menggambarkan apakah seseorang mengalami
defisiensi seng atau tidak. Seng Sulfat akan merangsang molekul penerima
rasa pada lidah sehingga ketajaman rasa dapat diukur.
Senyawa seng sulfat adalah kristal tak berwarna yang larut dalam air
dalam bentuk terhidrasi. Menurut Smith, orang normal dapat cepat
merasakan sesuatu, seperti rasa kecut dan manis, sedangkan penderita
defisiensi seng tidak atau kurang cepat merespon rasa dan responsif
terhadap suplementasi seng. Seng sulfat (ZnSO 4) di dalam mulut akan
menimbulkan rasa kesat yang kuat dan mengganggu, hal tersebut
menunjukkan responden tidak mengalami defisiensi zat gizi seng (Zn)
(Tarmidzi, 2010). Absorbsi seng dalam tubuh diatur oleh metalotioni yang
disintesis di dalam sel dinding saluran cerna. Bila konsumsi seng tinggi, di

dalam sel dinding saluran cerna sebagian diubah menjadi metalotionin


sebagai simpanan, sehingga absorbansi berkurang (Almatsier, 2004).
Hal-hal yang dapat menyebabkan defisiensi seng antara lain adalah
kurangnya konsumsi makanan yang banyak mengandung zat seng seperti
sumber pangan hewani terutama daging, hati, kerang, dan telur. Serealia
tumbuk, kacang-kacangan juga merupakan sumber yang baik, namun
mempunyai ketersediaan biologik yang rendah. Probandus yang mengalami
defisiensi

seng

ini

dikarenakan

berhubungan

jenis

pangan

yang

dikonsumsinya. Secara tidak langsung inhibitor mineral seng adalah fitat dan
serat, yang banyak pada biji-bijian dan sayur-sayuran berserat dibandingkan
dengan responden ataupun probandus yang berkategori normal
Sumber yang paling baik untuk seng (zinc) adalah sumber protein
hewani, terutama daging, hati, kerang, dan telur.Serealia tumbuk dan kacangkacangan

juga

merupakan

sumber

yang

baik,

namun

mempunyai

ketersediaan biologic yang rendah (Almatsier 2004). Makanan yang


mengandung seng banyak terdapat pada makanan yang sering dan mudah
kita temui. Beberapa bahan makanan yang dapat meningkatkan penyerapan
zinc adalah asam askorbat dan sitrat (pepaya, jambu biji, pisang, mangga,
semangka, pir, jeruk, lemon, apel, jus nenas, kembang kol, danlimau), asam
malak dan tartrat (wortel, kentang, tomat, labu, kol, dan lobak cina), asam
amino sistein (daging, kambing, daging babi, hati, ayam, danikan), dan
produk-produk fermentasi (kecap kacang kedele, acar/asinan kubis).
Beberapa makanan yang dapat menghambat penyerapan zinc adalah fitat
(beras, terigu, gandum, kacang kedele, susu coklat, kacang dan tumbuhan
polong), polifenol (teh, kopi, bayam, kacang, tumbuhan polong, rempahrempah), kalsium dan fosfat (susu dan keju) (Gillespie, 1998).

Supariasa, 2009. Penilaian Status Gizi. ECG:Jakarta.


Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Buku
Ajar Anemia Gizi. Yogyakarta : Kalika.
Sunita Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta
Gillespie, S.R. 1998. Major Issues in The Control of Iron Deficiency. The
Micronutrient Inititative.Unicef. Canada.
Almatsier S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta:
EGC

Graha, K.C. 2010. Kolesterol. PT Elex Media Komputido: Jakarta.


Murray, R.K dkk.2006. Biokimia Harper. Jakarta: EGC