Anda di halaman 1dari 9

Makalah psikotropika

PSIKOTROPIK
ANTIPSIKOSIS, ANTISEITAS, ANTIDEPRESI

Oleh : DICKY RANDA


Kelas : PSIK Reg A5
NPM :11142013406
Dosen pembimbing : DRA.Kisdaryeti APT MARS

PALEMBANG TAHUN 2011/2012


SEKOLAH TINGGI ILMU KESHATAN
BINA HUSADA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Psikotropik
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang psikotropik.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Palembang, 17 juli 2012

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..............................................................................................
Daftar isi
.............................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan ........................................................................................
a. Latar Belakang ............................................................................ 4
b. Tujuan ......................................................................................... 4

a.
1.
2.
b.
1.
2.
c.
d.

Bab II Tinjauan Pembelajaran ...................................................................... 5


Antipsikotik ................................................................................ 5
Klorpromazin (CPZ) dan Derivat Fenotiazin.................. 5
Butirofenon Haloperidol = Haldol ................................. 6
Antiansietas ................................................................................ 7
Dibenzoxazepin ............................................................. 8
Dibenzodiazepin > Benzodiazepin ................................ 8
Antidepresi ................................................................................. 9
Litium(Antimatik)....................................................................... 11
Bab III Penutup ............................................................................................ 13
Daftar Pustaka .............................................................................................. 15

2
4

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Psikotropik adalah obat yang bekerja dan mempengaruhi fungsi psikik dan proses
mental. Psikotropik terbagi 4 bagian yaitu Antipsikosis(gangguan
mental),Antiansietas(perasaan cemas),Antidepresi(perasaan putus asa), dan
Psikotogenik(halusinasi). Antipsikosis adalah dapat mengobati gangguan mental pada
penderita skizoprenia mengatasi agresivitas,hiperaktivitas dan labilitas emosinal pasien
psikosis. Antipsikotik menghambat dopamin pada otak sehingga memulihkan gejala psikotik
dan menghambat daerah pemicu kemoreseptor dan pusat muntah(emetik) pada otak sehingga
menghasilkan efek antiemetik. Dosis besar tidak menyebakan anestesi/koma. Antiansietas =
sedatif-hipnotik yang berguna dalam pengobatan sistomatik penyakit psikoneurosis yang
didasari perasaan cemas dan ketegangan mental. Antidepresi adalah obat untuk mengatasi
depresi mental yang biasanya mendadak dan adanya kejadian pencetus. Psikotogenik adalah
obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku rasa takut disertai
halusinasi,ilusi,gangguan cara fikir dan perubahan alam perasaan jadi dapat menimbulkan
psikosis
B. TUJUAN
Untuk menyelesaikan makalah Farmakologi
Untuk mengetahui pengertian obat psikotropik
Untuk mengetahui guna obat psikotropik
Untuk mengetahui macam-macam obat psikotropik
BAB II
TINJAUAN PEMBELAJARAN
ANTIPSIKOTIK
Klorpromazin (CPZ) dan Derivat Fenotiazin. CPZ merupakan fenotiazin pertama
yang digunakan untuk pengobatan perilaku psikotik klien rumah sakit jiwa berefek sedasi
kuat menurunkan tekanan darah yang disertai sikap kecekapan dan daya fikir berkurang,
aktivitas motorik terganggu, menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramid). CPZ
dapat mencegah muntah yang disebabkan kelainan saluran cerna, rangsangan chemoreceptor
trigger zone. Sedangkan fenotiazin dapat mempengaruhi ganglia basal sehingga
menimbulkan efek ekstarpiramidal. CPZ dapat menghambat ovulasi dan menturasi, dapat
menghambat sekresi Acetil kolin dan menimbulkan hipotensi karena CPZ berefek alfa bloker
inotropik negatif jantung.

Efek farmakokinetik > diabsorbsi dengan baik bila diberikan per oral dan parenteral,
penyebaran luas kesemua jaringan dengan kadar tinggi di paru-paru, hati, dan limpa.
Efek samping > batas keamanan cukup besar dan cukup aman, gejala ekstrapiramidal,
distonia akut(wajah menyeringai, akastisia(gelisah, terus bergerak), parkinsonisme, sindrom
neuroleptik malignat( demam, tekanan darah tidak stabil), tremor, mulut dan tenggorokan
kering dan diskenesia tardif ( mulut dan wajah distonia meluas). Indikasi utama fenotiazin
untuk pengobatan skizoprenia gangguan psikosis terutama ketegangan hiperaktivitas,
halusinasi, susah tidur, anoreksia, perhatian diri sangat buruk dan negativisme.
Farmakodinamika : efek hipotensi dan mual maka setiap pengobatan diberikan
bersama obat hipertensi dan antasida agar mengurangi laju absorbsi dari kedua obat tersebut.

Butirofenon Haloperidol = Haldol


Diabsorbsi baik melalui mukosa gastrointestinal mempunyai waktu paruh panjang dan
tinggi berikatan dengan protein sehingga obat dapat diakumulasi dan sebagian besar diekresi
dalam urin. Obat ini untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi pada
orang dewasa dan anak-anak. Untuk usia lanjut dosisnya dikurangi karena berkurangnya
fungsi hati dan efek samping yang mungkin timbul. Bisa juga digunakan untuk anak
hiperaktif. Berefek antikolinergik dan harus hati-hati pada pasien riwayat glaukoma.
Pemakaian jangka panjang dapat berakibat fotosensitifitas pada kulit dan diskrasia darah =
gangguan sel darah. Perlu diawasi adanya ekstraparamidal symptoms = EPS. Efek samping
yang merugikan : mulut kering, meningkatkan denyut jantung, retensi urin, konstipasi,
tekanan darah turun, gejala ekstrapyramidal symtomps, sedasi, akatisia, distonia, diskinesia,
mual, rasa tidak enak pada abdomen, sakit kepala, muntah tetapi tidak menimbulkan efek
teratogenik. Efek kardiovaskuler dapat siatasi dengan pemberian awal rendah bertahap dosis
dinaikkan, sebaiknya tidak baik diberikan pada wanita hamil. Obat ini dapat menyebabkan
pandangan kabur (blurring of vision) dan dapat menyebabkan hipotensi tetapi tidak sehebat
CPZ. Interaksi obat : pasien yang memakai antikonvulsi tidak boleh memakai fenotiazin
alifatik dan tiosantin > menurunkan ambang serangan kejang > harus diberikan antikonvulsi
dosis tinggi untuk mencegah serangan kejang.

ANTIANSIETAS
Obat yang digunakan untuk pengobatan ansietas adalah sedatif terutama pada
golongan Benzodiazepin. Golongan Benzodiazepin yang di anjurkan adalah

Klordiazepoksid(Librium), Diazepam(Valium), Oksazepam(Serax), Klorazepat (Tranxene),


Lorazepam(Ativan), Prazepam(Centrax), Alprazolam(Xanax) dan Halozepam(Paxipam).
Benzodiazein digunakan untuk antikonvulsi, antihipertensi,sedasi-hipnotik, obat-obat
preoperasi dan antiansietas. Benzodiazepin larut dalam lemak diabsorbsi si saluran
gastrointestinal dan berkaitan dengan protein > 80%, sisa metabolisme obat ini masih
terdapat dalam urin selama beberapa hari. Efek samping : pada penggunaan terapi timbul
kantuk,serasi, pusing, sakit kepala, mulut kering, penglihatan kabur dan konstipasi. Reaksi
yang merugikan adalah lekopenia (menurunnya jumlah sel darah putih), gejala demam, nyeri
tenggorokan dan ketergantungan fisik. Tidak boleh dihentikan mendadak, gejala putus obat
ini seperti sedatif-hipnotik(menyebabkan tidur) = agitasi, gelisah, kejang otot, berkeringat >
gejala ini lambat setelah 2-10 hari dapat berminggu-minggu. Menghentikan harus bertahap
tidak boleh bersamaan alkohol > dapat terjadi depresi pernafasan. Tidak boleh diberikan pada
wanita hamil > dapat terjadi efek teratogenik pada janin. Efek yang lain adalah perangsang
nafsu makanan yang ditimbulkan oleh derivat benzodoazepin. Toksisitas rendah dijumpai
ketidak teraturan menstruasi dan kegagalan ovulasi pada wanita yang sedang menggunakan
Benzodiazepin ini.
Librium
> untuk efek sedatif = penenang
Diazepam
> waktu paruh panjang dan lebih aman.
Meprobamat >lebih sering dan disukai karena efek samping rendah untuk merendahkan
ansietas dan pelemas otot serta alkohol harus di hindari. Hidroksizin hidroklorida ( Atrax,
Vistarif) dan Difenhidramin Hidroklorida (Benadry) > merupakan anti histamin >
menimbulkan kantuk mempunyai efek sedatif dan meredakan ansientas jangka pendek.
Buspiron hidroklorida (Buspar) > meredakan ansietas > efek sedasi, ketergantungan fisik dan
psikologis, tidak efektif setelah pemakaian terus menerus selama 1-2 minggu.
Dibenzoxazepin
Efek farmakologi sama dengan fenotiazin, butirofenon, dan tiosanten. Termasuk
deruvat Loksapin yang memiliki efek antiemetik, sedatif, antikolinergik dan antiadrenergik
yang berguna untuk mengunakan skizofrenia dan psikosis lainnya. Efek samping : reaksi
ekstrapiramidal dan harus hati-hati digunakan pada pasien riwayat kejang. Diarbsorbsi baik
peroral, kadar puncak plasma dipuncak 1 jam IM dan 2 jam per oral.
Dibenzodiazepin > Benzodiazepin
Klozapin menunjukan efek antipsikosis lemah, mempengaruhi fungsi syaraf dopamin
yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental. Klozapin efektif untuk mengontrol
gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif maupun yang negatif. Penggunaannya
dibatasi karena dapat menimbulkan resisten sehingga selama menggunakan obat ini perlu di
pantau jumlah sel darah putihnya setiap minggu. Efek samping dan intoksikasi :
menimbulkan agranulositosis,kantuk,pusing kepala, hipersaliva, depresi nafas,

hipertermia,takikardi,sedasi, aritmia dan kejang. Farmakokinetika : diabsorbsi secara cepat


pada pemberian peroral, dimetabolisme sempurna dan diekskresi leawat tinjaudan urin.

ANTIDEPRESI
Depresi adalah gangguan yang heterogen. Obat ini dapat memperbaiki
suasana jiwa(mood) dan dapat meringankan gejala murung yang tidak disebabkan oleh
kesulitan sosial ekonomi, obat atau penyakit. Pada antidepresi digunakan klasifikasi
Diagnostik And Statistical Manual Of Disorders Revised yang dikeluarkan oleh ikatan Ahli
Psikiatri Amerika. Menurut klasifikasi tersebut depresi major dan distrimia (minor)
merupakan sindrom depresi murni, sedangkan gangguan bipolar dan gangguan siklotik
memperlihatkan depresi yang diselingi dengan mania. Klasifikasi depresi adalah :
1. Depresi Eksogen = reaktif = sekunder > biasanya di mulai mendadak dan adanya pencetus
(karena penyakit dan kesedihan) > respon terhadap obat (efek samping) anti hipertensi,
kortikosteroid, pil anti hamil, biasanya diresepkan Benzodiazepin long akting.
2. Depresi Endogen = Melacholia =Vistal > merupakn gangguan biokimia yang ditentukan
secara genetik, bermanifestasi sebagai ketidak mampuan untuk mengatasi stres. Terjadi
gangguan psikomotor lenyapnya motivasi berperasaan seolah-olah waktu berjalan sangat
lambat cenderung ingin bunuh diri, depresi yang dalam disebut disporia.
3. Depresi Afektif Bipolar = Mania > merupakan antara dua mood, manik (euforia) dan depresi
(disforia) obatnya Litium. Depresi afektif bipolar > karena depresi post nasal (post partum),
perubahan hormonal > post menapause, usia lanjut >70 tahun.

Mekanisme Kerja :
Depresi endogen berhubungan dengan kekurangan Narodrenalin & Serotonin dalam otak.
Antidepresi > menghambat Reuptake Amin kedalam lambung presinaptik.

Antidepresi dibagi dalam beberapa kelompok yaitu :


1. Penghambat enzim MAO (Mono Amin Oksidase) > untuk mengatasi depresi tetapi
penggunaannya sangat terbatas karena toksik, hipertensi karena terlepasnya norepineprin dari
ujung syaraf, hipertensi disebabkan tertimbulnya katekolamin. Obat ini tidak lagi digunakan
karena ada obat yang lebih aman. Contoh : Isokarboksazid, Nialamid, Moklobemid, Tranilsi
promin.
2. Antidepresi Trisiklik (ATS), obat ini lebih banyak dipakai pengganti penghambat MAO.
Diberikan pada malam hari untuk mengurangi efek sedasi yang timbul. Menghentikan ATS
harus bertahap dikurangi untuk menghindari mual, muntah, ansietas dan akatisi. Contoh :
Imipramin, Desipramin, Trimipramin, Opipramol, Dibenzepin, Amitriptolin dan Doksepin.

3. Antidepresan generasi kedua: Senyawa lain > obat-obat ini merupakan antodepresi yang
relatif baru. Efek sampingnya lebih ringan dari antidepresan lainnya. Contoh : Amoksapin,
Fluoksetin, Bupropion, Nomifensin, Trazodon dan Maproptilin.

LITIUM (Li) = ANTIMATIK


Litium (Li) merupakan logam alkali yang paling ringan yang mirip sifatnya dengan
Natrium dan Kalium. Yang berguna mengobati gangguan afektif bipolar atau manik depresi.
Obat ini mudah ditera dengan menggunakan Flame Photometer dan Atomic Absorbption
Spectro Photometer.
Farmakologi :
Tidak bersifat sedatif, depresif atai euforian
Penyebaran menembus membran relatif kecil tidak seperti Na & K. Sangat toksik untuk

kelenjar tiroid, SSP dan ginjal. Mempengaruhi metabolisme karbohidrat menyebabkan


leukositosis dan reaksi alergi.
Gangguan efektif bipolar, paling efektif dalam mengendalikan fase manik-depresi.
Efek menenangkan tanpa menganggu aktivitas intelektual.
Mengendalikan lonjatan isi pikir (fight of ideas) dan hiperaktivitas.
Litium memperbatas terapeutik serum > 0,8 -1,5 mEq/L
Kadar Litium serum yang lebih dari 1,5 -2,0 mEq/L bersipat toksik maka harus dipantau.
Lebih dari 95% Litium diabsorbsi melalui gastrointestinal. Waktu paruh 24 jam dan untuk

usia lanjut > 36 jam.


Litium dimetabolisme di hati dan dieksresikan dalam bentuk tidak diubah melalui urin.

Efek samping Litium :


Sakit kepala, mengantuk, letargi, pusing, tremor, sulit bicara, mulut kering, anoreksia,
muntah, diare, hipotensi, nyeri abdomen, bertambahnya pengeluaran urin dan kelemahan
otot.
Kontra indikasi :
Penyakit hati dan ginjal yang berat, kehamilan, penyakit jangan berat, dan dehidrasi
Reaksi yang merugikan : Aritmia jantung dan kolaps sirkulasi
Interaksi :
Diuretik > Metil Dopa, Haloperidol, Teifilin, Natrium Bikorbonat, Fenotiazin bertambah bila
dimasukkan Natrium.

Tidak semua penderita depresi memerlukan antidepresi, depresi ringan biasanya dapat
sembuh dengan sendirinya atau cukup dengan psikoterapi. Bila pengobatan antidepresi
selama 3-4 minggu tidak memberikan perbaikan klinis maka pengobatan harus ditinjau
kembali dan dipertimbangkan tindakan lain misalnya dengan Electro Convultion Therapy
(ECT) dan dengan pemberian MAO (Mono Amino Oksidase).

BAB III
PENUTUP

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kesimpulan :
Psikotropik adalah obat yang bekerja dan mempengaruhi fungsi psikik dan proses mental.
Psikotropik terbagi 4 bagian yaitu Antipsikosis(gangguan mental), Antiansietas(perasaan
cemas), Antidepresi(perasaan putus asa), dan Psikotogenik(halusinasi).
Antipsikosis adalah dapat mengobati gangguan mental pada penderita skizoprenia mengatasi
agresivitas,hiperaktivitas dan labilitas emosinal pasien psikosis.
Antiansietas = sedatif-hipnotik yang berguna dalam pengobatan sistomatik penyakit
psikoneurosis yang didasari perasaan cemas dan ketegangan mental.
Antidepresi adalah obat untuk mengatasi depresi mental yang biasanya mendadak dan
adanya kejadian pencetus.
Psikotogenik adalah obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku rasa takut disertai
halusinasi,ilusi,gangguan cara fikir dan perubahan alam perasaan jadi dapat menimbulkan
psikosis.

Saran :
Semoga setelah membaca makalah ini anda lebih mudah untuk memahami tentang
psikotropik

Semoga ini dapat anda gunakan sebagai materi dalam membuat makalah yang menggunakan
pembahasan psikotropik.

Daftar Pustaka

Kisdaryeti.2012.Bahan Ajar Farmokologi.STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan


Kisdaryeti.2012.Psikotropik.STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan
Kisdaryeti.2012.Sedatif-Hipnotik. STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan