Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Makanan Pendamping ASI
1. Pengertian
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan
kepada bayi selain ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI
diberikan mulai umur 6-24 bulan dan merupakan makanan peralihan
dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI
harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlah. Hal ini
dimaksudkan untuk menyesuaikan kemampuan alat cerna bayi dalam
menerima MP-ASI (Depkes RI, 2004). Makanan tambahan adalah
makanan untuk bayi selain ASI, sebagai penambah kekurangan ASI
(Husaini, 2001). Pemberian makanan tambahan adalah memberi
makanan lain selain ASI untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan
nutrisi dengan jumlah yang didapat dari ASI (Rosidah, 2004).
Makanan pendamping ASI berarti memberi makanan lain selain
ASI dimana selama periode pemberian makanan tambahan seorang
bayi terbiasa memakan makanan keluarga. MP-ASI merupakan proses
transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan
yang semi padat. Proses ini membutuhkan ketrampilan motorik oral.
Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap menjadi
menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan
makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.
Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap
baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai

dengan kemampuan

pencernaan bayi. Pemberian MP-ASI yang cukup dalam hal kualitas


dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan
kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini (Ariani,
2008).

2. Manfaat dan Tujuan Pemberian Makanan Tambahan


Manfaat MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi
yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan
bayi secara terus-menerus. Pertumbuhan dan perkembangan anak
yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi pertambahan
berat badan seorang anak, jika anak tidak mengalami peningkatan
maka menunjukkan bahwa kebutuhan energi bayi tidak terpenuhi
(Diah, 2000).
Tujuan pemberian makanan tambahan adalah untuk mencapai
pertumbuhan

dan

perkembangan

yang

optimal,

menghindari

terjadinya kekurangan gizi, mencegah risiko malnutrisi, defisiensi


mikronutrien. Anak mendapat makanan ekstra yang dibutuhkan untuk
mengisi kesenjangan energi dengan nutrien, memelihara kesehatan,
mencegah penyakit, memulihkan bila sakit, membantu perkembangan
jasmani, rohani, psikomotor, mendidik kebiasaan yang baik tentang
makanan dan memperkenalkan bermacam-macam bahan makanan
yang sesuai dengan keadaan fisiologis bayi ( Husaini, 2001).
Indikator bahwa bayi siap untuk menerima makanan padat
adalah kemampuan bayi untuk mempertahankan kepalanya untuk
tegak tanpa disangga, menghilangnya refleks menjulurkan lidah, bayi
mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan cara
membuka mulut, lalu memajukan anggota tubuhnya ke depan untuk
menunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau
membuang muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan
(Ariani, 2008).

10

3. Waktu Pemberian MP-ASI


Air Susu Ibu memenuhi seluruh kebutuhan bayi terhadap zat-zat
gizi yaitu untuk pertumbuhan dan kesehatan sampai berumur enam
bulan, sesudah itu ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bayi.
Makanan tambahan mulai di berikan pada umur enam bulan satu hari,
pada usia ini otot dan syaraf di dalam mulut bayi cukup berkembang
unutk mengunyah, menggigit, menelan makanan dengan baik, mulai
tumbuh gigi suka memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dan
berminat terhadap rasa yang baru (Rosidah, 2004).
Waktu yang baik dalam memulai pemberian makanan tambahan
pada bayi adalah umur 6 bulan. Pemberian makanan bayi sebelum
umur tersebut akan menimbulkan resiko sebagai berikut (Ariani,
2008) :
a. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan pada umur
kurang dari 6 bulan. Makanan tersebut dapat menjadi pengganti
ASI, sehingga apabila makanan diberikan, maka anak akan
minum ASI lebih sedikit dan ibu akan memproduksi ASI nya
lebih sedikit sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi.
b. Anak mendapat faktor pelindung ASI lebih sedikit sehingga
resiko infeksi meningkat.
c. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak
sebersih ASI
d. Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer
sehingga mudah dicerna bayi, makanan ini memang membuat
lambung penuh tetapi memberikan nutrient sedikit.
Akibat dari tidak diberikannya ASI eksklusif dan pemberian
makanan pendamping ASI yang terlambat :
a. Anak tidak mendapat makanan tambahan yang dibutuhkan untuk
mengisi kesenjangan nutrient dan energy.

11

b. Anak akan berhenti pertumbuhan nya atau lambat.


c. Pada anak resiko malnutrisi dan defisiensi mikro nutrien
meningkat.

4. Syarat Makanan Tambahan


Persyaratan makanan tambahan untuk bayi antara lain :
mengandung nilai energi dan protein yang tinggi, memiliki suplementasi
yang baik, yaitu mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang
cukup, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, harganya relatif
murah, sebaiknya dapat diproduksi dari bahan-bahan yang tersedia secara
lokal, dan jenis MP-ASI disesuaikan dengan jenis sasaran (Depkes RI,
2006).
Makanan tambahan bagi bayi dapat menghasilkan energi setinggi
mungkin, sekurang-kurangnya mengandung 360 kkal per 100 gram bahan.
Syarat makanan tambahan bagi bayi yaitu bersifat padat gizi dan
mengandung serat kasar serta bahan lain yang sukar dicerna diberikan
seminimal mungkin, sebab serat kasar yang terlalu banyak jumlahnya akan
mengganggu pencernaan.
Selain itu beberapa zat gizi yang yang terkait erat dengan tumbuh
kembang anak yang perlu diperhatikan antara lain ( Depkes,2006) :
a. Kepadatan Energi/Densitas
Tidak kurang dari 0,8 Kal per gram
b. Protein
Tidak kurang dari 2 gr per seratus Kalori dan tidak lebih dari 5.5 gr
per seratus Kal dengan mutu protein tidak kurang dari 70% Kasein
standar. Nilai Protein Energi % mempunyai range antara 10 18
c. Lemak
Kandungan Lemak mempunyai jarak antara 1,5 gr 4,5 gr per 100
Kal.

12

Pemberian Makanan Tambahan ASI (MPASI) akan berkontribusi


pada perkembangan optimal seorang anak bila dilakukan secara tepat.
Sebagai panduan pemberian MPASI Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mensyaratkan empat hal berikut ini:
a. Saat yang tepat pemberian makanan pada bayi merupakan upaya
pengenalan bertahap, mulai dari makanan murni cair (ASI),
makanan lunak (bubur susu), kemudian makanan lembek (tim
saring), agak kasar, hingga makanan padat (makanan orang
dewasa) pada usia di atas 12 bulan. Pemberian yang terlalu dini
akan mengganggu penyerapan zat gizi. Sebaliknya, pengenalan
yang terlambat akan meningkatkan risiko kesulitan makan pada
anak di fase berikutnya. Informasi mengenai waktu pengenalan
makanan yang dianjurkan bisa diperoleh tidak hanya dari tenaga
kesehatan, tapi juga dari internet, majalah dan buku mengenai
pemberian makan pada anak, serta informasi yang tercantum pada
KMS.
b. Adekuat (mencukupi).
Makanan yang diberikan sebaiknya mengandung kalori, protein,
dan mikronutrien (zat besi, vitamin A, dan lain-lain) yang cukup
karena dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak
secara optimal. Secara sederhana, ini berarti memberikan
makanan yang tidak hanya sekedar mengenyangkan anak, tetapi
secara seimbang juga memberikan kecukupan zat gizi lain untuk
pertumbuhan dan perkembangannya. Misalnya pemberian nasi
dan kerupuk saja, walaupun secara kalori tidak berkekurangan
dan tidak akan membuat, namun nilai gizinya perlu dipertanyakan
karena asupan protein dan mikronutrien terabaikan.
c. Bersih dan Aman.
Pemilihan bahan makanan maupun cara pengolahannya penting
untuk menjamin nutrisi yang baik bagi anak.

13

d. Suasana psikososial yang menyenangkan.


Pemberian makan pada anak bukan hanya untuk memberikan
asupan nutrisi, tetapi juga merupakan bentuk kasih sayang. Di
samping itu pengenalan beragam jenis makanan baik bentuk,
tekstur, bau, dan rasa adalah bagian dari upaya memberikan
stimulasi/rangsangan pada anak. Lebih jauh lagi, kemampuan
makan adalah bagian dari tahapan perkembangan seorang anak,
sehingga dapat dikatakan bahwa pengenalan dan pola pemberian
makan adalah suatu proses pembelajaran,

anak belajar

mengunyah serta mengulum, juga mengenal aroma dan rasa. Oleh


karena fungsi makan tidak sesederhana memberikan asupan
nutrisi saja, dan kegagalan pemberian makanan bisa berdampak
buruk di kemudian hari, maka suasana psikososial yang
menyenangkan mutlak diperlukan oleh seorang anak pada waktu
makan. Dengan kata lain, waktu pemberian makan sebaiknya
tidak menjadi waktu yang menegangkan bagi ibu atau pengasuh
dan anak (Lely, 2005).
5. Cara Pemberian Makanan Pendamping ASI
Menurut Djitowiyono (2010)

ada beberapa cara memberikan

makanan tambahan kepada bayi, antara lain sebagai berikut :


a. Makanan bayi diberikan sedikit demi sedikit secara perlahan dari
bentuk encer ke bentuk yang lebih kental secara bertahap.
b. Makanan diperkenalkan satu persatu sampai bayi dapat menerimanya.
c. Makanan yang dapat menimbulkan alergi diberikan paling terakhir
dan harus dicoba terlebih dahulu, misalnya telur berikan kuningnya
terlebih dahulu setelah tidak ada reaksi alergi, maka hari berikutnya
boleh diberikan putihnya.
d. Makanan pada bayi diberikan hanya ketika bayi merasa lapar.

14

Tabel 2.1 Daftar Pemberian Makanan Bayi

Umur
( Bulan)
06
68
8-10
10-12
12-24

Jenis
Makanan
ASI
ASI
Bubur Susu
ASI
Bubur susu
ASI
Nasi tim
ASI
Buah
Makanan keluarga

Pemberian
dalam Sehari
(Kali)
Sekehendak
1
2
1
2
3-4
3
2-3
1
3

Sumber : Djitowiyono, 2010

6. Jenis Makanan Tambahan


Cara memberikan makanan tambahan bagi bayi adalah dari makanan
berbentuk cair ke kental lalu bertahap menjadi keras seiring dengan proses
dan umur juga perkembangan bayi, sehingga usus bayi pun terlatih dengan
sendirinya terhadap makanan yang diterimanya. Adapun jenis-jenis
makanan tambahan (Chintia, 2008) :
a. Makanan lunak yaitu semua makanan yang termasuk yang disajikan
dalam bentuk halus dan diberikan pada bayi yang pertama kali,
misalnya bubur susu dan sari buah.
b. Makanan lembek yaitu makanan peralihan dari makanan lunak ke
makanan biasa seperti nasi tim.
c. Makanan biasa yaitu termasuk makanan orang dewasa yang disajikan
seperti nasi.
Makanan padat pertama yang diberikan kepada anak harus mudah
dicerna dan bukan makanan yang mempunyai risiko alergi yang tinggi.
Makanan yang diberikan kepada bayi sebaiknya tidak diberikan tambahan
apapun seperti garam dan gula karena garam dapat merusak ginjal bayi,

15

sedangkan gula dapat membuat bayi menyukai makanan manis yang dapat
merusak gigi (Luluk, 2005).
7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian MP-ASI
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Indriyawati (2010) faktor
yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI antara lain
pengetahuan gizi ibu dan pendidikan ibu, sedangkan status pekerjaan ibu dan
sikap ibu tidak mempengaruhi faktor pemberian MP ASI.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Simandjuntak (2001)
antara lain pengetahuan ibu tentang dampak pemberian MP-ASI dini pada
bayi dan pemberian ASI pertama kali atau inisiasi menyusui merupakan
faktor yang dominan pengaruhnya terhadap pemberian Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI) dini.

B. Pengetahuan
1. Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan merupakan hasil dari
tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu
objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni
indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Menurut Rahman (2003) pengetahuan adalah hasil dari aktivitas
mengetahui, yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa
sehingga tidak ada keraguan terhadapnya.
2. Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang tercakup dalam
domain kognitif mempunyai enam tingkatan yakni :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan adalah mengingat

16

kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu
adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang objek yang telah diketahui, dan dapat menginterpretasi
materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen. Tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk meletakkan penilaian
terhadap satu materi atau objek.
Menurut

Notoatmodjo

(2007),

belajar

adalah mengambil

tanggapan-tanggapan dan menghubungkan tanggapan-tanggapan dengan


mengulang-ulang. Tanggapan-tanggapan tersebut diperoleh melalui
pemberian stimulus atau rangsangan-rangsangan. Makin banyak dan
sering diberikan stimulus maka memperkaya tanggapan pada subjek
belajar.

17

Menurut Petersen (2004), cara orang belajar itu berbeda-beda


antara yang satu dengan yang lain. Faktor-faktor internal yang
berpengaruh

diantaranya

kemampuan

intelektual,

kemampuan

konsentrasi, daya ingat, emosi, kepercayaan, nilai, dan status sosial.


Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh diantaranya gaya mengajar
guru, lingkungan, hadiah (reward). Menurut Triarso (2009), ada faktorfaktor yang mempengaruhi proses belajar meliputi:
a. faktor internal : fisiologis (kondisi fisik sehat atau sakit, pancaindra),
psikologis (kecerdasan, minat, bakat).
b. faktor eksternal : lingkungan sosial sekolah (guru, administrasi,
teman-teman sekelas), lingkungan sosial masyarakat (tempat tinggal
siswa), lingkungan sosial keluarga ( ketegangan di dalam keluarga,
sifat orang tua, pengelolaan keluarga), lingkungan alamiah (kondisi
udara), faktor instrumental (gedung sekolah, alat belajar, peraturan
sekolah, buku panduan), faktor materi (bahan yang akan diajarkan,
metode dan kondisi siswa).
3. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pengetahuan
Faktor yang berpengaruh dalam tingkat pengetahuan seseorang
menurut Nasution (1999) dalam Notoatmodjo (2003) antara lain :
a. Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula
tingkat pengetahuan seseorang.
b. Informasi
Seseorang yang mempunyai banyak sumber informasi dapat
memberikan

peningkatan terhadap tingkat pengetahuan orang

tersebut. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui media massa


seperti majalah, koran, berita televisi dan salah satunya juga dapat
diperoleh melalui penyuluhan atau pendidikan kesehatan.

18

c. Budaya
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan
seseorang. Hal ini dikarenakan informasi yang baru akan disaring
sesuai dengan budaya dan agama yang dianut.
d. Pengalaman
Pengalaman

merupakan

salah

satu

faktor

yang

dapat

mempengaruhi pengetahuan yang berkaitan dengan umur dan


pendidikan individu. Hal ini mengandung maksud bahwa semakin
bertambahnya

umur

dan

pendidikan

yang

tinggi,

maka

pengalaman seseorang akan lebih jauh lebih luas.


e. Sosial Ekonomi
Dalam mendapatkan informasi yang memerlukan biaya (misalnya
sekolah), tingkat sosial ekonomi merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Semakin
tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, maka orang tersebut
akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi.
f. Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Pengukuran tingkat

pengetahuan dapat

dilakukan dengan

wawancara langsung atau dengan angket yang menanyakan


tentang isi materi yang ingin diukur dari responden atau subjek
penelitian. Kedalaman pengetahuan responden yang ingin diukur
atau diketahui, dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dari
responden.
C. Karakteristik Ibu Menyusui
Karakteristik ibu menyusui antara lain :
a. Umur
Adalah hidup, nyawa (Em Zul Fajri, 2001). Umur adalah
lamanya usia seseorang sejak lahir sampai sekarang. Dengan
bertambahnya umur atau usia seseorang maka akan bertambah

19

pula pengetahuannya. Kematangan organ reproduksi dan siap


untuk mengalami kehamilan menurut Departemen Kesehatan
adalah umur 20 tahun sampai 35 tahun, karena semua organ
reproduksi wanita pada usia tersebut dianggap telah siap untuk
hamil baik secara fisik maupun mental, emosional, dan psikologi.
Pada wanita umur lebih dari 35 tahun sudah mulai terjadi
penurunan fungsi organ reproduksi terutama yang berakibat
terjadinya komplikasi pada kehamilan dan persalinan, karena
pada umur 35 tahun ke atas, biasanya penyakit-penyakit
degeneratif seperti tekanan darah tinggi, atau diabetes sudah
sering muncul. Penyakit pada pembuluh darah seperti tekanan
darah tinggi, penyempitan dan pengapuran, dari segi psikologi
perkembangan bahwa sekitar umur 20 tahun merupakan awal
dewasa dan berlangsung sampai sekitar umur 45 tahun. Pada
masa dewasa ini seorang mulai menggunakan pemikiran
operasional formalnya sehingga mampu merencanakan dan
menyusun suatu pemecahan masalah.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah proses dan pengubahan sikap dan
perilaku

sesorang

atau

kelompok

orang

dalam

usaha

mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan


dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan
seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang
diperlukan dalam kehidupannya (Em Zul Fajri, 2002). Pendidikan
adalah segala upaya yang di rencanakan untuk mempengaruhi
orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (
Notoatdmojo, 2003). Keterbatasan pendidikan / keterampilan
yang dimiliki menyebabkan keterbatasan kemampuan untuk
masuk dalam dunia kerja (Ahmadi, 2003).

20

1) Unsur-unsur pendidikan antara lain ( Notoadtmojo, 2003) :


a) Input
Sasaran

pendidikan

(individu,

kelompok,

atau

masyarakat) dan pendidik (pelaku pendidikan).


b) Proses
Upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang
lain.
c) Output
Melakukan apa yang diharapkan/perilaku.

2) Metode pendidikan
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

suatu

proses

pendidikan disamping masuknya sendiri juga metode materi


atau

pesannya,

pendidikan

atau

petugas

yang

melakukannya, dan alat-alat bantu atau peraga pendidikan.


Agar dicapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor
tersebut harus bekerja sama secara harmonis. Hal ini berarti
bahwa masukan ( sasaran pendidikan ) tertentu juga harus
menggunakan cara tertentu pula, materi juga harus di
sesuaikan dengan sasaran, demikian alat bantu pendidikan
juga disesuaikan.
c. Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin
hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan (Bobak, 2005). Paritas
berasal dari kata para yang artinya jumlah kehamilan yang
menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim 28 minggu
atau

lebih.

Pengelompokkan

paritas

menurut

jumlahnya

kelahirannya terdapat 3 kelompok yaitu nullipara, primipara dan


multipara, yang dimaksud dengan nullipara adalah seorang wanita
yang belum pernah melahirkan dengan usia kehamilan lebih dari

21

28 minggu. Dalam hal ini seorang dikatakan nullipara apabila


wanita tersebut belum pernah melahirkan janin yang mampu
hidup di luar rahim. Sedangkan yang dimaksud dengan primipara
adalah seorang wanita yang baru pertama kali melahirkan dengan
janin mencapai umur kehamilan 28 minggu atau lebih, multipara
adalah seorang wanita yang sudah mengalami hamil dengan usia
kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah
kehamilannya dua kali atau lebih.

d. Pekerjaan
Pekerjaan adalah perbuatan melakukan suatu kegiatan yang
dilakukan untuk mendapat hasil (Arman, 2002). Pekerjaan
berpengaruh terhadap penghasilan dan waktu ibu, dimana tidak
ada waktu ibu untuk menyusui maka ibu akan memberinya
makanan buatan (MP ASI) bisa berupa susu formula atau
makanan. Status pekerjaan adalah kebutuhan sesorang di dalam
melakukan pekerjaan, yaitu apakah orang tersebut berkedudukan
sebagai buruh atau karyawan perusahaan dengan dibantu pekerja
keluarga atau buruh tidak tetap, buruh dibantu oleh karyawan
tetap, pekerja keluarga tanpa upah atau sebagai pekerja social (
Hasibuan, 2003 ).
e. Penghasilan
Penghasilan yaitu seluruh penerimaan baik berupa uang
maupun barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri,
jadi yang dimaksud dalam penelitian ini aadalah suatu tingkat
penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan
sampingan dari orang tua. Pendapatan keluarga yang memadai
akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat
menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun
sekunder.

22

D. Kerangka Teori Penelitian


Mengacu pada tinjauan pustaka yang telah dipaparkan kerangka teori
dalam penelitian ini adalah :

Faktor yang berpengaruh


dalam tingkat pengetahuan :
-

Tingkat pendidikan
Informasi
Pengalaman

Sosial/ekonomi
Budaya
Pekerjaan
Penghasilan

Tingkat Pengetahuan Ibu

Ketepatan pemberian
makanan pendamping ASI

Sumber: Notoadtmojo (2003) dan Nasution (1999)

23

E. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian maka kerangka konsep dalam
penelitian ini adalah :
variabel bebas

variabel terikat

Tingkat pengetahuan ibu

Ketepatan pemberian
makanan pendamping ASI
variable perancu :

Ket :

Sosial ekonomi
Pekerjaan ibu
Pendidikan ibu

: variable bebas dan terikat


: variable perancu

Skema 2.2

Kerangka Konsep penelitian Hubungan Tingkat Pengetahuan


Ibu dengan Ketepatan Pemberian Makanan Pendamping ASI
Di Desa Plantaran dan Desa Sukomulyo Kecamatan
Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal Tahun 2012.

F. Variabel Penelitian
1. Variabel Independent (bebas)

Variabel bebas penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu.


2. Variabel Dependent (terikat)

Variabel terikat penelitian ini adalah ketepatan pemberian makanan


pendamping ASI.

G. Hipotesis Penelitian
Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap ketepatan pemberian
makanan pendamping ASI di Desa Plantaran dan Desa Sukomulyo
Kecamatan Kaliwungu Selatan tahun 2012.