Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI 1

ANALGETIKA DAN HUBUNGAN DOSIS-RESPON

Oleh Kelompok 6 BD
Nur Rizqiatul Aulia
Geraldi

1113102000016
1113102000037

Elok Faikoh
Sagita Praja

1113102000077
1113102000031

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIFHIDAYATULLAH JAKARTA
APRIL / 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat
mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala)
atau

memperhebatnya,

tetapi

dapat

pula

menghindarkan

sensasi

rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan subjektif pribadi dan


ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. batas nyeri untuk
suhu adalah konstan, yakni pada 44-45oC (Tjay, 2007).
Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran. nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas tubuh.
Nyeri juga sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh
dan merupakan proses dari penyembuhan ( inflamasi ).
Ada dua jenis analgetik, analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. Selain
berdasarkan struktur kimianya, pembaian di atas juga didasarkan pada nyeri yang dapat
dihilangkan. analgetik narkotik dapat menghilangkan nyeri dari derajat sedang sampai hebat
(berat), seperti karena infark jantung, operasi (terotong), viseral (organ), dan nyeri karena
kanker.
Analgetik non narkotik berasal dari golongan anti inflamasi non steroid (AINS) yang
menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Disebut AINS karena selain sebagai
analgetik, sebagian anggotanya memiliki efek antiinflamasi dan penurun panas (antipiretik),
dan secara kimiawi bukan steroid. Oleh karena itu AINS sering disebut (analgetik, antipiretik
dan antiinflamasi) atau 3A.

2. TUJUAN
Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi cara eksperimental efek analgesik suatu

obat.
Mampu mengobservasi dan menyimpulkan perubahan respon akibat pemberian

berbagai dosis analgetik.


Mampu membuat kurva hubungan dosis respon.

3. MANFAAT

Dapat mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi cara eksperimental efek analgesik

suatu obat.
Dapat mengobservasi dan menyimpulkan perubahan respon akibat pemberian

berbagai dosis analgetik.


Dapat membuat kurva hubungan dosis respon.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nyeri merupakan suatu pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan,
berhubungnan

dengan

adanya

potensi

kerusakan

jarinngan

atau

kondisi

yang

menggambarkan kerusakan tersebut. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri, misalnya

emosi dapat menimbulkan sakit kepala atau memperhebatnya, tetapi dapat pula
menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri yang dimilliki setiap orang berbeda-beda.
Batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni 44-450 C. Mediator nyeri antara lain
mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujungujung saraf bebas dikulit, mukosa, dan jaringan lainnya. Nouceptor ini terdapat di seluruh
jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui
jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang sangat banyak melalui
sumsum tulang belakang, sumsum lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus impuls
dilanjutkan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri.
Adapun mediator nyeri yang disebut juga autakoid antara lain serotonin, histamine,
bradikinin, lekotrien dan prostaglandin. Bradikinin merupakan polipeptida (rangkaian asam
amino) yang diberikan dari protein plasma .Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkatan
dimana nyeri dirasakan untuk yang pertama kali. Jadi, intensitas rangsangan yang terendah
saat seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang, ambang nyeri adalah konstan.
Obat yang digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, dan akhirnya
memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita disebut dengan analgetik. Analgetik
juga merupakan zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghalangi
kesadaran.
Berdasarkan efek farmakologisnya, analgetika dapat dibagi dalam 2 kelompok besar :
1. Analgetika perifer (non-nakotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik
dan tidak bekerja sentral. Obat Analgesik Non Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga
sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Penggunaan Obat
Analgetik

Non-Narkotik atau Obat

Analgesik

Perifer ini

cenderung

mampu

menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf
pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik NonNarkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik
Narkotik).
2. Analgetika sentral (narkotik), khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat,
seperti

pada

froctura

kelompok obat yang

dan

memiliki

kanker.

Obat

Analgetik

sifat opium atau morfin.

Narkotik merupakan

Meskipun

memperlihatkan

berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk
meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh,

jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat
Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat,
seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.
Prinsip pengujian efek analgetik secara eksperimental pada hewan percobaan adalah
mengukur kemampuan obat untuk menghilangkan atau mencegah kesadaran sensasi nyeri
yang ditimbulkan secara eksperimental, yang timbul dengan cara-cara fisik ataupun caracara kimia. Metode yang digunakan pada percobaan kali ini adalah metode jentik ekor
(Tail Flick) dan metode pelat panas (Hot Plate).Obat analgetik yang digunakan adalah
tramadol.
Tramadol
Tramadol adalah analog kodein sintetik yang meruapakan agonis reseptor yang lemah.
Sebagian dari efek analgetiknya ditimbulkan oleh inhibisi ambilan norepinefrin dan
serotonin. Tramadol sama efektif dengan morfin atau mepedrin untuk nyeri ringan sampai
sedang, tetapi untuk nyeri berat atau kronik lebih lemah. Untuk nyeri persalinan tramadol
sama efektif dengan mepedrin dan kurang menyebabkan depresi pernapasan pada neonates.
Bioavailabilitas tramadol setelah dosis tunggal secara oral 68% dan 100% bila digunakan
secara IM. Afinitas terhadap reseptor hanya 1/6000 morfin, akan tetapi metabolit utama
hasil demetilasi 2-4 kali lebih poten dari obat induk dan berperan untuk menimbulkan efek
analgetiknya. Preparat tramadol merupakan campuran rasemik, yang lebih efektif dari
masing-masing enansiomernya. Enansiomer (+) berikatan dengan reseptor dan
menghambat ambilan serotonin. Enansiomer (-) menghambat ambilan norepinefrin dan
merangsang reseptor 2- adrenergik. Tramadol mengalami metabolism di hati dan eksresi
oleh ginjal, dengan masa paruh eliminasi 6 jam untuk tramadol dan 7,5 jam untuk metabolit
aktifnya. Analgesia timbul dalam 1 jam stetelah penggunaaan secara oral, dan mencapai
puncak selama 2-3 jam. Lama analgesia selama sekitar 6 jam. Dosis maksimum per hari yang
dianjurkan adalah 400 mg.
Efek samping yang umum terjadi adalah mual, muntah, pusing, sedasi, mulut kering, dan
sakit kepala. Depresi pernapasan nampaknya kurang dibandingkan dengan dosis
ekuianalgetik morfin, dan derajat konstipasinya kurang daripada dosis ekuivalen kodein.
Tramadol dapat meyebabkan konvulsi atau kambuhnya serangan konvulsi. Depresi napas
akibat tramadol dapat diatasi oleh nalokson akan tetapi penggunaan nalokson meningkatkan
risiko konvulsi. Analgesia yang ditimbulkan oleh tramadol tidak dipengaruhi oleh nalokson.
Hubungan Dosis-Respon

Respon obat masing-masing individu berbeda-beda. Respon idiosinkratik biasanya


disebabakan oleh perbedaana genetic pada metabolism obat atau mekanisme-mekanisme
imunologik, termasuk rasa alergi. Empat

mekanisme umum yang mempengaruhi

kemampuan merespon suatu obat :


1. Perubahan konsentrasi obat yang mencapai reseptor.
2. Variasi dalam konsentrasi suatu ligan reseptor endogen.
3. Perubahan dalam jumlah / fungsi reseptor-reseptor.
4. Perubahan-perubahan dalam komponen respondastal dari seseptor.
A. Hubungan dosis obat persen responsif :
Untuk menimbulkan efek obat dengan intensitas tertentu pada populasi dipelukan satu
kisaran dosis. Jika dibuat distribusi frekuensi dari individu yang responsif (dalam 10%) pada
kisaran dosis tersebut (dalam log dosis) maka akan diperoleh kurva distribusi normal.
B. Hubungan antara dosis obat dengan respon penderita
- Potensi obat : Potensi suatu obat dipengaruhi oleh absorbsi, distribusi, biontransformasi,
metabolisme, ekskresi. Kemampuan bergabung dengan reseptor dan sistem efektor. Atau
-

ukuran dosis obat yang diperlukan untuk menghasilkan respons.


Efikasi maksimal : Efek maks obat dinyatakan sebagai efikasi (kemanjuran) maksimal /
disebut saja dengan efikasi.
Efikasi tergantung pada kemampuan obat tersebut untuk menimbulkan efeknya setelah
berinteraksi dengan reseptor. Efikasi dapat dibatasi timbulnya efek yang tidak
diinginkan, sehingga dosis harus dibatasi. Yang berarti bahwa efek maksimal tidak
tercapai. Tiap obat mempunyai efikasi yang berbeda. Misalnya : Morphin, mampu
menghilangkan semua intensitas nyeri, sedangkan aspirin hanyan menghilangkan nyeri
ringan sampai sedang saja.

BAB III
METODELOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat

Jarum suntik
Hot plate
Gelas beker
Termometer
Timbangan

Obat : Tramadol (inj). Konsentrasi 50 mg/ml


Alkohol 70 %

Bahan

Hewan Uji
Mencit jantan 3 ekor
3.2 Cara Kerja
Metode Jentik Ekor (Tail Flick)
1. Mimbang masing-masing mencit, memberi nomor, dan
mcatat berat badannya

2. Menyiapkan air di dalam gelasbeker lalu panaskan air


sampaisuhu 55C
3. Sebelum diberikan obat (sebagai control) masukkan ekor
mencit ke air tersebut, lalu catat waktu dengan
menggunakan stopwatch. Pengamatan dilakukan 3x selang
2 menit.
4. Menyiapkan obat dengan konsentrasi yang sesuai.
5. Menyuntikan obat secara intra vena kepadamasing-masing
mencit (dosis sudah dikonversikan sesuai dengan dosis
mencit)
6. Pengamatan dilakukan pada menit ke 5, 7, 15, 17, 30, 32,
60, 62 setelah pemberianobat
7. Membuat tabel hasilpengamatan denganlengkap
8. Menggambarkan suatu kurva hubungan antara dosis yang
diberikan terhadap respon mencit untuk stimulus nyeri.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.Hasil
Metode Jentik Ekor

menghitung nilai voa


Hewan

Jenis

BB (kg)

kelami

Dosis

VAO (ml)

(mg/kg)

n
Mencit

Mencit

Mencit

Jantan

Jantan

Jantan

0,0447

50

0,04472kg x10,278 mg/kg =

0,032 ml

0,0464

50 mg/ml
0,04646kg x 15,42 mg/kg =

75

0,028 ml

0,0487

50 mg/ml
0,04877kg x 20,56 mg/kg =

100

0,028 ml
50 mg/ml

Kontrol.
No.

Waktu Mencit
Menjentikkan Ekor

1.

1 detik

2.

2 detik

3.

4 detik

Setelah penyuntikkan tramadol.


No.

Rentang waktu

Waktu Mencit Menjentikkan Ekor (detik)


I

II

(dosis 50 mg)

(dosis 75
mg)

III
(dosis 100
mg)

1.

2.

15

3.

30

4.

60

metode jentik ekor


8
7
6
mencit 50mg

5
respon

mencit 75mg
mencit 100mg

4
3
2
1
0
0

15

30

60

b.Pembahasan
Mekanisme nyeri sendiri adalah ketika rangsangan diterima oleh
reseptor nyeri, diubah dalam bentuk impuls yang dihantarkan ke pusat
nyeri di korteks otak. Setelah di proses dipusat nyeri,impuls dikembalikan
ke perifer dalam bentuk persepsi nyeri. Obat analgesik adalah obat yang
mempunyai efek menghilangkan atau mengurangi nyeri tanpa disertai
hilangnya kesadaran atau fungsi sensorik lainnya.
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum). Obat
analgesik bekerja dengan meningkatkan ambang nyeri, mempengaruhi emosi, menimbulkan
sedasi atau sopor, atau mengubah persepsi modulitas nyeri.
Pada praktikum kali ini kelompok kami menggunakan tramadol
sebagai obat untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri pada mencit.
Tramadol adalah campuran rasemik dari dua isomer, salah satu obat
analgesik opiat (mirip morfin), termasuk golongan aminocyclohexanol,
yang bekerja secara sentral pada penghambat pengambilan kembali
noradrenergik

dan

serotonin

neurotransmission.

Tramadol

mengikat

secara stereospesifik pada reseptor di sistem syaraf pusat sehingga


memblok sensasi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu
tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari syaraf aferen
yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat..
Pada pengujian kali ini kami memakai metode jentik ekor (tail flick)
yaitu dengan cara mencelupkan ekor mencit ke dalam air yang
dipanaskan pada suhu 50 C dan menghitung waktu sampai dia
memberikan respon yaitu dengan cara mengangkat ekornya. Kami
memakai 3 ekor mencit dengan pemberian dosis yang berbeda- beda,
pada mencit satu kami memberikan dosis 50 mg/KgBB sedangkan pada
mencit 2 dan tiga diberikan dosis masing-masing 75 dan 100 mg/KgBB.
Hasil pengamatan kontrol, diketahui bahwa mencit 1,2 dan 3 memberikan
efek nyeri masing masing pada waktu 1 ,2 dan 4 detik. Dan setelah
pemberian obat, data yang diperoleh bahwa pada waktu 5 menit mencit
1 dan 2 masing-masing memberikan efek nyeri setelah 2dan 6 detik ini
dikarenakan efek analgetik belum terlihat, karena proses absorpsinya
belum sempurna. Dan pada waktu 15 menit efek dari analgetik sudah
timbul, hal ini dapat dilihat pada pengamatan yang menunjukkan ada
peningkatan waktu bertahan mencit 1,2 dan 3 yaitu selama7, 6 dan 5
detik, hal ini dikarenakan karena tramadol sudah muncul di dalam plasma
selama 15 sampai 45 menit dan menimbulkan efek. Sedangkan pada
waktu 30 menit efek dari analgetik sudah mulai berkurang pada mencit
satu yang diberi dosis tramadol 50 mg yang hanya bertahan 4 detik , hal
ini disebabkan karena efek obat sudah mengalami proses eliminasi.
Sedangkan pada mencit 2 dan 3 tetap bertahan selama 6 dan 5 detik.
Pada waktu 60, efek yang ditimbulkan berlangsung konstan pada semua
sampel mencit mekipun tidak sama dengan kontrol tetapi mendekati.Dari
hasil praktikum dapat dilihat bahwa mencit yang diberikan dosis paling
kecil yaitu mencit 1 mengalami eliminasi obat paling cepat daripada
mencit 2 dan 3 ini membuktikan bahwa pemberian dosis yang berbeda
akan berefek pada lama obat dalam tubuh. Onset dari tramadol sendiri
dalam literatur adalah 1 jam atau 60 menit , Bioavailabilitas tramadol juga lebih

baik, yaitu pada dosis tunggal secara oral 68% dan 100% bila digunakan secara IM.Namun
pada prakteknya efek obat tramadol maksimum ada pada terhadap obat
beragam, ada yang bekerja cepat terhadap obat tersebut juga ada yang
lambat yang berkaitan dengan metabolisme individu yang berbedabeda.Namun dalam metode jentik yang kami lakukan, obat diberikan
melalui intravena sehingga obat dapat langsung berada pada sirkulasi
darah dan bekerja sesuai efek terapeutiknya.

BAB V
KESIMPULAN
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan.
Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran. nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas
tubuh.
Analgetik ada 2 kelompok yaitu analgetik non narkotik dan narkotik.
Tramadol digunakan selain karena efek yang cukup kuat, tramadol juga
Bioavailabilitas yang lebih baik, yaitu pada dosis tunggal secara oral 68% dan 100%
bila digunakan secara IM.
Dalam metode jentik

ini,kami

mengunakan

rute

pemberian

intravena sehingga obat dapat langsung berada pada sirkulasi


darah dan bekerja sesuai efek terapeutiknya.
Respon individu terhadap tramadol berbeda-beda dikarenakan antar
individu mempunyai metabolisme yang berbeda pula.

Daftar Pustaka
Mycek, J. Mary dkk.1995.Farmakologi Ulasan Bergambar.Jakarta: Widya Medika .

2007.Farmakologi dan Terapi.Jakarta : Gaya Baru


Alfred Goodman Gilman,Goodman & Gillmans the Pharmacological Basis of
Therapeutics
Division,2006.

11th

Edition

.New

York,Mc-Graw

Hill

Medical

Publishing

Anda mungkin juga menyukai