Anda di halaman 1dari 4

Reaksi Senyawa Kompleks Etilendiamin

Sopi Widianingsih, Fathnisa Ihsannurika Hasnah


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Jenderal Achmad Yani
Abstrak
Telah dilakukan praktikum reaksi senyawa kompleks etilendiamin. Tujuan praktikum ini yaitu untuk mempelajari pengaruh
ion logam dan rasio mol M(II) : en terhadap sifat dan karakter dari senyawa kompleks etilendiamin. Senyawa kompleks merupakan
senyawa yang tersusun dari suatu ion logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya
kepada ion logam pusat. Etielendiamin atau disingkat dengan en,merupakan ligan khelat yang cukup banyak dikenal mudah membentuk senyawa
kompleks dengan logam transisi , sehingga logam yang digunakan pada praktikum ini yaitu logam Ni (II) dan Cu (II), dengan dasar
pengaruh ion logam Ni (II) dan Cu (II) dalam etilendiamin. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai absorban terhadap logam Ni (II)
dalam etliendiamin sebesar 0,14 A, 0,19 A, dan 0,36 A dan terhadap Cu (II) dalam etilendiamin sebesar 1,56 A, 1,63 A dan 1,23 A.
Pendahuluan
Dalam pelaksanaan analisis anorganikkualitatif banyak
digunakan reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan kompleks.
Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom(ion)
pusat dan sejumlah ligan yang terikat eratdengan atom (ion)
pusat itu. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi,
suatu angka bulat yang menunjukan jumlah ligan (monodentat
)yang dapat membentuk kompleks stabil dengan satu atom pusat.
Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang
tersedia sekitar atom atau ion pusat dalam apa yang disebut
bilangan korrdinasi,yang masing-masingnya dapat dihuni oleh
satuligan (monodentat). Susunan logam sekitar ion pusat
adalah simetris. Jadi, suatu kompleks denga nsatu atom pusat
dengan bilangan koodinasi enam, terdiri dari ion pusat,
dipusat suatu oktahedron, sedang keenam ligannya menempati ruangruangyang dinyatakkan oleh sudut-sudut octahedron tersebut.
(Svehla, 1979)
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang
tersusun dari suatu ion logam pusat dengan satu atau lebih
ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya
kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan
kepada ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen
koordinasi sehingga senyawa kompleks juga disebut senyawa
koordinasi.(Cotton dan Wilkinson, 1984 )
Atom pusat biasanya ion-ion logam transisi yang
berfungsi sebagai penerima pasangan electron bebas dari
ligan. Kemampuan suatu ion logam untuk berikatan dengan
sejumlah ligan dinyatakan oleh bilangan koordinasinya. Ligan
yang dapat menyumbangkan lebih dari satu pasang elektron
(mempunyai lebih dari satu atom donor) disebut ligan
polidendat. (Cotton, 1988).
Nikel merupakan salah satu logam transisi deret
pertama yang terletak pada periode empat dan golongan VIII
B, memiliki nomor atom 28 massa atom 58,71 g/mol. (Huheey
and Keiter, 1993).
Nikel dalam keadaan nikel (II) lebih stabil daripada
nikel (0), nikel (I), nikel (III) dan nikel (IV). Nikel (I) dan
nikel (0) tidak stabil dan mudah teroksidasi, nikel (III) mudah
tereduksi menjadi nikel (II) dan nikel (IV) jarang ditemukan.
(Cotton, 1988).
Pada metoda spektrofotometri, sampel menyerap
radiasi ( pemancaran ) elektromagnetis, yang pada panjang
gelombang tertentu dapat terlihat. Larutan tembaga misalnya
berwarna biru karena larutan tersebut menyerap warna
komplementer, yaitu kuning. Semakin banyak molekul
tembaga per satuan volum, semakin banyak cahaya kuning
yang diserap, dan semakin tua warna biru larutannya.
( Alaerts, 1987 )

Teori medan kristal tentang senyawa koordinasi


menjelaskan bahwa dalam pembentukan kompleks terjadi
interaksi elektrostatik antara ion logam (atom pusat) dengan
ligan. Jika ada enam ligan yang berasal dari arah yang
berbeda, berinteraksi dengan atom/ion logam pusat, langsung
dengan ligan akan mendapatkan pengaruh medan ligan lebih
besar dibandingkan dengan orbital-orbital lainnya. Akibatnya,
orbital tersebut akan mengalami peningkatan energi dan
kelima sub orbital d-nya akan terpecah (splitting) menjadi dua
kelompok tingkat energi. Kedua kelompok tersebut adalah : 1)
Dua sub orbital (dx2-dy2, dan dz2) yang disebut dy atau eg
dengan tingkat energi yang lebih tinggi, dan 2) Tiga sub
orbital (dxz, dxy, dan dyz) yang disebut de atau t2g dengan
tingkat energi yang lebih rendah. Perbedaan tingkat energi ini
menunjukkan bahwa teori medan kristal dapat menerangkan
terjadinya perbedaan warna kompleks (Hala, 2008).
Dengan menggunakan Asam Klorida otoionisasinya
sedikit tetapi banyak senyawaan organik dan beberapa
senyawaan anorganik melarut. Sedangkan Asam Nitrat
bereaksi hampir dengan semua logam kecuali Au, Pt, Rh, dan
Ir serta beberapa logam lain yang cepat menjadi pasif (tertutup
oleh lapisan oksida yang merintangi) seperti Al, Fe, dan Cu.
(Cotton, 1984).
Penggunaan asam yang terlalu pekat dapat pula
menyebabkan gangguan dalam analisis dengan SSA. Di mana
kepekatan terlalu asam akan menyebabkan nilai absorbansi
menjadi lebih rendah dari pada yang semestinya dan akan
mengakibatkan konsentrasi sampel (bahan) yang dianalisis
akan berkurang nilai serapannya dari nilai yang sebenarnya.
(Tambunan, 1998)
Eksperimen
Disiapkan larutan NiCl2.6H2O 0,1 M sebanyak 100 ml,
(dihitung massa yang diperlukan). Disiapkan larutan CuCl 2 0,1
M sebanyak 100 ml (dihitung massa yang diperlukan).
Disiapkan larutan etilendiamin 0,1 M sebanyak 100 ml
(dhitung massa yang diperlukan). Diambil 15 ml masingmasing larutan logam dan dipindahkan dalam 3 gelas kimia 50
ml yang berbeda, diberi label misalnya Ni-1, Ni-2, Ni-3, dan
seterusnya. Ditambahkan 15 ml larutan en ke dalam larutan
logam pertama (Ni-1, Cu-1) dan diaduk hingga homogen.
Ditambahkan 30 ml larutan en ke dalam larutan logam kedua
(Ni-2, Cu-2) dan diaduk hingga homogen. Ditambahkan 45
ml larutan en ke dalam larutan logam ketiga (Ni-3, Cu-3) dan
diaduk hingga homogen. Diukur absorbansi setiap larutan
tersebut dengan spectronic-20 pada panjang gelombang
maksimum (penentuan panjang maksimum disiapkan oleh
asisten). Dicatat dan dibandingkan data absorbansi dari ke-6
larutan logam tersebut. Ditambahkan tetes demi tetes larutan

HCl 37% (di lemari asam) ke setiap larutan logam yang sudah
diukur hingga warna larutan kembali seperti warna larutan
logam awal (kualitatif), dicatat banyaknya tetesan yang
ditambahkan.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Perlakuan
15 ml Ni-1 0,01 M + 15 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

15 ml Ni-2 0,01 M + 30 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

15 ml Ni-3 0,01 M + 45 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

15 ml Cu-1 0,01 M + 15 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

15 ml Cu-2 0,01 M + 30 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

15 ml Cu-3 0,01 M + 45 ml
etilendiamin, diukur absorban
+ HCl 37%

Hasil Pengamatan
Larutan berubah warna dari
hijau toska menjadi merah
muda, dengan absorban 0,14
A dan HCl sebanyak 8 tetes
warna menjadi bening.
Larutan berubah warna dari
hijau toska menjadi merah
muda, dengan absorban 0,19
A dan HCl sebanyak 7 tetes
warna menjadi bening.
Larutan berubah warna dari
hijau toska menjadi merah
muda, dengan absorban 0,36
A dan HCl sebanyak 6 tetes
warna menjadi bening.
Larutan berubah warna dari
biru muda menjadi ungu,
dengan absorban 1,56 A dan
HCl sebanyak 22 tetes warna
menjadi bening.
Larutan berubah warna dari
biru muda menjadi ungu,
dengan absorban 1,63 A dan
HCl sebanyak 32 tetes warna
menjadi bening.
Larutan berubah warna dari
biru muda menjadi ungu,
dengan absorban 1,23 A dan
HCl sebanyak 42 tetes warna
menjadi bening.

0,01 M ditambahkan 30 ml etilendiamin, diukur absorban dan


ditambahkan HCl 37% dihasilkan larutan berubah warna dari
biru muda menjadi ungu, dengan absorban 1,63 A dan HCl
sebanyak 32 tetes warna menjadi bening, dan pada pada 15
ml Cu-3 0,01 M ditambahkan 45 ml etilendiamin, diukur
absorban dan ditambahkan HCl 37% dihasilkan larutan
berubah warna dari biru muda menjadi ungu, dengan absorban
1,23 A dan HCl sebanyak 42 tetes warna menjadi bening. Hal
ini terjadi dikarenakan pada perubahan warna menjadi merah
muda dan ungu menandakan adanya ikatan senyawa kompleks
antara logam Ni, logam Cu sebagai atom pusat dengan
senyawa etilendiamin sebagai ligan, dimana ligan memiliki
pasangan elektron tak berikatan yang aktif pada tingkat energi
paling luar. Pasangan elektron tak berikatan inilah yang
digunakan untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ion
logam. Pelekatan ligan pada ion logam merupakan efek dari
energi orbital-orbital d. Sinar yang diserap sebagai akibat dari
perpindahan elektron diantara orbital d yang satu dengan yang
lain. Serta asal mula munculnya warna pada ion-ion logam
transisi (Ni dan Cu) yaitu ketika sinar putih melewati larutan
yang berisi dari salah satu ion tersebut, sinar putih
direfleksikan oleh larutan tersebut, sehingga beberapa warna
dari sinar dapat diabsorpsi (diserap) oleh larutan, dan warna
yang dapat dilihat oleh mata adalah warna yang tertinggal
(tidak diabsorpsi), sedangkan ligan-ligan direduksi menjadi
titik yang bermuatan. Interaksi muatan-muatan titik ini dengan
elektron dalam orbital d ion logam akan menaikkan energi
semua orbital d, tetapi tidak lagi memiliki energi yang sama.
Sehingga senyawa kompleks memliki warna tertentu karena
zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region
juga dikarenakan energi sinar di daerah tampak cocok untuk
perpindahan elektron yang ada di orbital d, dari energi rendah
ke energi tinggi. Besarnya energi untuk perpindahan,
tergantung dari ion pusatnya dan tergantung dari jenis ligan.
Karena itu, senyawa kompleks mempunyai warna berbeda
beda seperti Ni dengan etilendiamin menghasilkan warna
merah muda dan Cu dengan etilendiamin menghasilkan warna
ungu. Reaksi yang dihasilkan :
NiCl.6H2O + en

[Ni(en)(H2O)5Cl2] + H2O

Pembahasan
CuCl2 + en
Pada data pengamatan hasil percobaan 15 ml Ni-1 0,01 M
ditambahkan 15 ml etilendiamin dan diukur absorbannya serta
ditambahkan HCl 37% dihasilkan larutan berubah warna dari
hijau toska menjadi merah muda, dengan absorban 0,14 A dan
HCl sebanyak 8 tetes warna menjadi bening, begitu pula 15
ml Ni-2 0,01 M ditambahkan 30 ml etilendiamin dan diukur
absorbannya serta ditambahkan HCl 37% dihasilkan larutan
berubah warna dari hijau toska menjadi merah muda, dengan
absorban 0,19 A dan HCl sebanyak 7 tetes warna menjadi
bening, dan dengan penambahan 45 ml etilendiamin pada 15
ml Ni-3 0,01 M, diukur absorban serta ditambahkan HCl 37 %
dihasilkan larutan berubah warna dari hijau toska menjadi
merah muda, dengan absorban 0,36 A dan HCl sebanyak 6
tetes warna menjadi bening. Sedangkan pada 15 ml Cu-1 0,01
M ditambahkan 15 ml etilendiamin, diukur absorban dan
ditambahkan HCl 37% dihasilkan larutan berubah warna dari
biru muda menjadi ungu, dengan absorban 1,56 A dan HCl
sebanyak 22 tetes warna menjadi bening. pada 15 ml Cu-2

[Cu(en)(H2O)5Cl2] + H2O

Sedangkan perbedaan nilai absorban dikarenakan


semakin banyak ligan yang terikat maka semakin pekat warna
cahaya sehingga semakin besar nilai absorbannya, dimana
absorban sebagai penyerapan cahaya. Namun pada 15 ml Cu3 dengan 45 ml etilendiamin terjadi penurunan nilai absorban
yaitu menjadi 1,23 A, hal ini terjadi dikarenakan adanya
kesalahan pada praktikum, yaitu karena kuvet yang digunakan
dalam keadaan masih kotor, sidik jari yang dapat menyerap
radiasi ultraviolet, penempatan kuvet yang tidak tepat
posisinya, dan ketidaktepatan dalam pembuatan larutan. Pada
penambahan HCl yang berbeda-beda banyak tetesan HClnya
dan terjadi perubahan warna menjadi bening terjadi karena
asam kuat dapat menyebabkan ligan yang terikat pada atom
pusat akan lepas sehingga warna akan berubah, banyak tetesan
HCl bergantung kepada banyaknya ligan yang terikat pada
atom pusat, seharusnya pada Ni-1, Ni-2, Ni-3 HCl yang
diteteskan semakin banyak namun pada kenyataannya tetesan

HCl yang digunakan semakin kecil untuk merubah warna


larutan, hal ini dikarenakan kurang ketelitian saat melihat
perubahan warna pada larutan saat penambahan HCl.
Kesimpulan
1.
2.
3.
4.

Absorbansi Ni-1, Ni-2, dan Ni-3 yang dihasilkan adalah


0,14 A, 0,19 A, dan 0,36 A.
Absorbansi Cu-1, Cu-2, dan Cu-3 yang dihasilkan
adalah 1,5 A, 1,63 A, dan 1,23 A.
Banyaknya tetesan HCl pada Ni-1, Ni-2, dan Ni-3 adalah
8 tetes, 7 tetes dan 6 tetes.
Banyaknya tetesan HCl pada Cu-1, Cu-2, dan Cu-3
adalah 22 tetes, 32 tetes dan 42 tetes.

Daftar Pustaka
Alaerts. 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional :
Surabaya.
Cotton, F. A dan Wilkinson. G.1984. Kimia Anorganik Dasar.
Penerbit UIPress: Jakarta.
Cotton, F.A, dan G. Wilkinson. 1988. Advanced Ionrganic
Chemistry Fifth Edition. John Willey and Sons Inc: New
York.
Hala S. Saad El-Dein, Ali Usama F. 2008. Production and
Partial Purification of Cellulase Complex by Aspergillus
niger and A. nidulans Grown on Water Hyacinth Blend.
Journal of Applied Sciences Research, 4(7): 875-891.
Huheey,J.E, R.L. Keither. 1993. Inorganic Chemistry Fourth
Edition. Hamper Collies College Publisher: New York.
Svehla.1979. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. PT Kalman Media Pustaka: Jakarta.
Tambunan, Hotmian Dame. B. M.1998. Studi Pengaruh pH
Terhadap Penentuan Logam-Logam Cd, Pb, Cu, Co dan
Ni dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri
Serapan Atom (SSA). Skripsi Jurusan Kimia. FMIPAUSU
Lampiran
1. Perhitungan
Diketahui : Volume etilendiamin 0,01 M : 250 ml
Konsentrasi etilendiamin : 0,1 M
Konsentrasi etilendiamin : 0,01 M
Ditanyakan : Volume etilendiamin 0,1 M?
Jawaban :
V1 . M1 = V2 . M2
250 . 0,01 M = V2 . 0,1 M
V2 =

2,5
0,1

= 25 ml

Diketahui : Volume CuCl2 0,01 M : 100 ml


Konsentrasi CuCl2 : 0,1 M
Konsentrasi CuCl2 : 0,01 M
Ditanyakan : Volume CuCl2 0,1 M?
Jawaban :
V1 . M1 = V2 . M2
100 . 0,01 M = V2 . 0,1 M
V2 =

1
0,1

= 10 ml

Diketahui : Volume NiCl2.6H2O 0,01 M : 100 ml

Konsentrasi NiCl2.6H2O : 0,1 M


Konsentrasi NiCl2.6H2O : 0,01 M
Ditanyakan : Volume NiCl2.6H2O 0,1 M?
Jawaban : V1 . M1 = V2 .
100 . 0,01 = V2 . 0,1 M

1
0,1

V2 =

= 10 ml

2. Tugas
1. Tuliskan reaksi yang terjadi pada percobaan ini!
2. Jelaskan peran HCl dalam percobaan ini! Apakah
dapat digunakan asam kuat lainnya, misalnya asam
nitrat atau asam sulfat?
3. Mengapa terjadi perubahan warna ketika larutan
logam ditambahkan en dan HCl?
Jawaban :
1. NiCl.6H2O + en
[Ni(en)(H2O)5Cl2] + H2O
CuCl2 + en
[Cu(en)(H2O)5Cl2] + H2O
2.

Peranan HCl adalah sebagai asam kuat yang dapat


mepelepaskan ligan yang terikat pada senyawa
kompleks karena logam bereaksi dengan HCl. Dapat
digunakan asam nitrat dan asam sulfat karena
merupakan asam kuat yang dapat bereaksi dengan
logam logam.

3.

Karena dengan en akan membentuk senyawa


kompleks dimana dapat menyerap sinar di daerah
tampak atau visible region dan juga karena energi
sinar di daerah tampak cocok untuk perpindahan
elektron yang ada di orbital d, dari energi rendah ke
energi tinggi. Besarnya energi untuk perpindahan,
tergantung dari ion
pusatnya
dan
tergantung dari jenis
ligan,
sehingga
menghasilkan warna
yang berbeda-beda.
Saat
penambahan
HCl berubah karena
ligan terlepas dari
atom
pusat
menyebabkan warna
kembali ke asal.
3. Dokumentasi

Laruran NiCl2 0,01 M.

Mengukur transmitan aquades.


Larutan CuCl2 0,01 M.

Hasil campuran laruran NiCl2 dan CuCl2 dengan larutan


etilendiamin.

Menambahkan HCl 37% pada larutan NiCl 2 dengan


etilendiamin.