Anda di halaman 1dari 6

ILMU PENGETAHUAN BUMI DAN ANTARIKSA

(MIPA 5117)

MAKALAH

GALAKSI DAN ALAM SEMESTA MELIPUTI KOSMOLOGI, QUASAR, KOSMIK,


DAN MATERI ANTAR BINTANG

Disusun Oleh :
Nazar Mutawali, S.Pd. (A2C514037)

Dosen Pengasuh :
Dr. Suryajaya, S,Si, M.Sc, Tech

PROGRAM STUDI MAGISTER KEGURUAN IPA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
NOVEMBER 2015

I. Galaksi dan Alam Semesta


Secara etimologi, galaksi berasal dari bahaya yunani yaitu Galaxias yang berarti sesuatu
yang menyerupai susu, karena waktu itu tampak pita putih samar pada penampakannya di
angkasa. Dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi "nebula spiral" untuk objek
tertentu, lalu istilah tersebut berganti menjadi "island universe" yang berarti alam semesta pulau,
namun kata tersebut berubah menjadi "universe" (alam semesta) berarti keseluruhan jagad raya,
kemudian kata tersebut berubah menjadi galaksi.
Galaksi merupakan kumpulan sejumlah besar bintang dalam kesatuan akibat gravitasi.
Selain itu juga galaksi dapat dikatakan sebagai kumpulan bintang yang membentuk suatu sistem
dan terdiri dari banyak benda-benda angkasa berukuran besar yang dikelilingi oleh benda-benda
angkasa secara teratur. Menurut para ahli Astronomi, pengertian galaksi adalah sistem yang
terdiri atas bintang, debu dan gas yang sangat luas, dengan gaya gravitasi yang dimiliki
anggotanya. Umumnya suatu galaksi terdiri dari milliaran bintang dengan warna, ukuran, dan
karekteristik yang beragam. Benda langit yang memancarkan cahaya sendiri disebut bintang
contohnya matahari.
Galaksi memiliki beragam bentuk yang dilihat dari bentuk morfologinya tiga yaitu:
Bentuk elips, galaksi yang digolongkan kedalam bentuk ini yaitu galaksi yang berbentuk
bundar sampai galaksi yang berbentuk bola pepat.
Bentuk Spiral, galaksi ini terdiri dari sebuah piringan bintang-bintang yang berotasi, materi
antar bintang, serta tonjolan pusat yang terdiri atas bintang-bintang tua.
Bentuk tak beraturan, galaksi yang memiliki bentuk khusus. Galaksi ini memiliki anggota
yang terdiri dari bintang-bintang tua dan juga muda.
Sampai saat ini galaksi yang ditemukan bermacam-macam diantaranya galaksi bimasakti,
magellan, ursa mayor, ursa mayor, andromeda, jauh, black eye. Bumi tempat kita tinggal
sekarang terdapat pada galaksi bima sakti (The Milky Way). Kumpulan dari berbagai macam
galaksi akan membentuk sesuatu yang lebih besar lagi yaitu Alam Semesta (universe). Para ahli
astronomi menggunakan istilah alam semesta dalam pengertian tentang ruang angkasa dan
benda-benda langit yang ada di dalamnya.

Gambar 1. Galaksi Bima Sakti tempat tata surya matahari dan bumi planet kita berada

II. Kosmologi, Quasar, Kosmik, dan Materi Antar Bintang


A. Kosmologi
Kosmologi merupakan ilmu atau kajian tentang sifat, evolusi, asal alam semesta. Manusia
sebagai makhluk tuhan yang berakal budi dan sebagai penghuni alam semesta selalu tergoda oleh
rasa ingin tahunya untuk mencari penjelasan tentang makna dan hal-hal yang diamati. Dengan
ditemukannya beberapa fakta dan beraneka ragam cahaya dari benda-benda langit yang sampai
dibumi timbullah beberapa teori yang mengungkapkan tentang terbentuknya alam semesta. Teori
yang berkembang sampai saat ini dan di percaya ada tiga.
1) Teori keadaan tetap (Steady-state theory)
Teori ini berdasarkan prinsip kosmologi sempurna yang menyatakan bahwa alam semesta
dimanapun dan bilamanapun selalu sama. Berdasarkan prinsip tersebut alam semesta terjadi pada
suatu saat tertentu yang telah lalu dan segala sesuatu di alam semesta selalu tetap sama walaupun
galaksi-galaksi bergerak saling menjauhi satu sama lain. Teori ini ditunjang oleh kenyataan
bahwa galaksi baru mempunyai jumlah yang sebanding dengan galaksi lama. Dengan demikian
teori ini secara ringkas menyatakan bahwa tiap-tiap galaksi terbentuk (lahir), tumbuh, menjadi
tua, dan akhirnya mati. Jadi, teori ini beranggapan bahwa alam semesta itu tak terhingga
besarnya dan tak terhinggga tuanya.
Dengan diketahui kecepatan radial galaksi-galaksi menjauhi bumi yang dihubungkan
dengan jarak antara galaksi-galaksi dengan bumi dari hasil pemotretan satelit, maka disimpulkan

bahwa semakin jauh jarak galaksi dengan bumi, makin cepat galaksi tersebut bergerak menjauhi
bumi.
2) Teori dentuman besar (Big-bang theory)
Teori ini berlandaskan dari asumsi adanya massa yang sangat besar dan juga mempunyai
massa jenis yang sangat besar, karena adanya reaksi inti kemudian meledak dengan hebat. Massa
tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan. Massa tersebut
akan membentuk galaksi di alam semesta dan akan terus memuai menjauhi pusat ledakan. Teori
ini didukung oleh fakta bahwa galaksi terus mengembang dan saling menjauhi satu sama lain.
3) Teori osilasi
Dalam teori osilasi dikemukakan bahwa sekarang alam semesta tidak konstan, melainkan
berekspansi yang dimulai dengan dentuman besar, kemudian beberapa waktu yang akan datang
gravitasi akan mengatasi efek ekspansi ini sehingga alam semesta akan mulai mengempis.,
akhirnya mencapai titik koalisensi (gabungan) asal. Keadaan ini akan mengakibatkan
temperature dan tekanan tinggi akan memecahkan semua materi ke dalam partikel-pertikel
elementer (dasar) sehingga terjadi dentuman besar baru dan ekspansi mulai lagi.
B. Quasar
Thomas Matthews dan Allan Sandage pada tahun 1960 menemukan sebuah benda seperti
bintang redup yang disebut benda quasar (quasi-stellar). Kata kuasi dapat diartikan mirip
sebuah bintang padahal bukan bintang. Quasar merupakan okbjek mirip bintang jauh yang
memancarkan cahaya sebanyak cahaya diseluruh galaksi bintang.
Quasar suatu objek (benda) memancarkan lebih banyak cahaya dari pada sebuah bintang,
tetapi tidak jauh lebih besar dari pada bintang. Quasar bermula ditemukan karena emisi radio
yang kuat.gelombang radio berasal dari spektrum radiasi quasar. Quasar adalah sumber
gelombang radio yang kuat sehingga tampak seperti bintang. Ahli astronomi radio menemukan
inti galaksi Bimasakti merupakan pemancar radio raksasa, mereka juga menemukan sumber
radio yang kuat diluar galaksi kita. Sampai sekarang lebih dari 200 quasar telah ditemukan.
Karena keterbatasan kepekaan alat-alat astronomi, maka hanya quasar-quasar yang paling
terang yang tampak pada jarak yang jauh, sehingga para ilmuan sulit untuk mengambil
kesimpulan evolusi semua quasar dari kekilapannya.

C. Kosmik
Dalam astrofisika, sinar kosmik adalah radiasi dari partikel bermuatan berenergi tinggi
yang berasal dari luar atmosfer Bumi. Sinar kosmik dapat berupa elektron, proton dan
bahkan inti atom seperti besi atau yang lebih berat lagi. Kebanyakan partikel-partikel tersebut
berasal dari proses-proses energi tinggi di dalam galaksi, misalnya seperti supernova. Dalam
perjalanannya, sinar kosmik berinteraksi dengan medium antar bintang dan kemudian atmosfer
Bumi sebelum mencapai detektor.
Fisikawan membagi sinar kosmik menjadi dua kategori: primer dan sekunder. Sinar
kosmik utama berasal jauh di luar atmosfer bumi. Sinar kosmik sekunder adalah partikel yang
dihasilkan dalam atmosfer bumi sebagai akibat dari tabrakan antara sinar kosmik primer dan
molekul di atmosfer.
Selain memicu terjadinya reaksi inti pada atmosfer bumi, sinar kosmis juga
mengionisasikan gas-gas yang ada di lapisan atmosfer tinggi, menghasilkan suatu lapisan yang
bermuatan listrik. Lapisan tersebut dikenal dengan ionosfir. Lapisan ionosfir berfungsi sebagai
lapisan pelindung bumi terhadap radiasi sinar kosmik yang membahayakan manusia dan sebagai
pemantul gelombang radio yang dipancarkan dari bumi, sehingga membantu komunikasi lewat
radio. Intensitas sinar kosmik pada lapisan atas atmosfer bervariasi rata-rata sekitar 15 % selama
satu siklus matahari yaitu dengan rentang 5% untuk daerah dekat dengan ekuator magnetik bumi
sampai 50% untuk daerah di kutub Bumi.
D. Materi Antar Bintang
Sekalipun massanya hanya beberapa persen dari massa bintang, materi antar bintang
memainkan peranan penting dalam pembentukan bintang dan juga kegunaannya dalam menjejak
distribusi massa dalam Bima Sakti. Pada dasarnya materi antar bintang bintang adalah debu antar
bintang dan gas antar bintang. Debu memiliki peran penting karena partikel sub-mikron dalam
debu menghamburkan cahaya tampak sedemikian efisien sehingga absorpsi antar bintang
mempengaruhi hampir seluruh pengamatan optik. Materi antar bintang juga berperan dalam
pembentukan Awan Molekular Raksasa (GMCs, Gas Molecular Clouds), di mana sebagian besar
pembentukan bintang terjadi.
Debu antar bintang adalah materi yang jauh lebih kecil kelimpahannya dibandingkan
dengan gas antar bintang, namun pengaruhnya terhadap berkas cahaya visual lebih besar. Hal ini

disebabkan ukuran partikelnya yang besar (dalam orde 1/1000 mm), bandingkan dengan panjang
gelombang cahaya tampak (1/20000 mm), sehingga materi ini cenderung untuk menyerap dan
menghamburkan berkas cahaya. Debu antar bintang ini tersusun dari partikel-partikel es, karbon,
atau silikat. Karakteristik debu ini menghasilkan bermacam efek terhadap cahaya bintang.
Gas antar bintang memiliki penyusun utama adalah Hidrogen dengan sedikit Helium.
Kepadatan gas dalam suatu ruang antar bintang biasanya mencapai 1 atom/cm3 , sementara di
beberapa tempat, kepadatan partikel gas antar bintang dapat mencapai 105 atom/cm3 . Namun
kerapatan ini masih jauh lebih rendah daripada kepadatan gas di Bumi, 1019 atom/cm3.
Di dalam gas antar bintang terdapat beberapa molekul organik yang disebut molekul
antar bintang. Molekul-molekul organik yang telah diketahui adalah molekul yang menjadi dasar
kehidupan seperti hidroksil radikal, amonia, air, metil alkohol, metil sianida, formaldehid,
hidrogen sianida, dan karbon monoksida. Kelimpahan molekul-molekul ini jauh lebih kecil dari
hidrogen.
Daftar Pustaka
Aly Abdullah, & Eny Rahma. 2011. Ilmu Alamiah Dasar. Bumi Aksara. Jakarta.
Baskoro Aldino A, Clara Y Yatini, & Dhani Herdiwijaya. Pengaruh Sinar Kosmik Terhadap
Pembentukan Awan Total Dan Awan Atas Wilayah Indonesia Dalam Periode 1979-1995.
LAPAN. Bandung
Tjasyono Bayong. 2015. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Rosda. Bandung