Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

DIARE
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : KIE & Swamedikasi
Dosen Pengampu : Drs. Jamaluddin Al J Ef., Apt.

Disusun oleh:
Analistiana

NPM. 0540017912

Nurul Inayah

NPM. 0540018012

Ainal Hana

NPM. 0540018312

Mia Sari Zulfiati

NPM. 0540018312

Kelas Farmasi A
Semester V

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


FAKUTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2015 / 2016
KATA PENGANTAR

19

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Diare dengan
baik, untuk memenuhi tugas mata kuliah KIE & Swamedikasi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu
mata kuliah KIE & Swamedikasi yaitu bapak Drs. Jamaluddin Al J Elf., Apt yang telah
membimbing dan memberikan pengarahan pengarahan dalam penyusunan makalah ini, dan
kepada teman-temanku yang selalu mendukung.
Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan pikiran dan dapat menambah
wawasan ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Pekalongan, November 2015

Penulis

DAFTAR ISI
19

Halaman
Cover.....................................................................................................................
Kata pengantar......................................................................................................
Daftar isi................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
C. Maksud dan Tujuan.........................................................................
D. Manfaat...........................................................................................
E. Metode Penulisan............................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi.............................................................................................
B. Jenis Jenis Diare............................................................................
C. Faktor Faktor Pencetus Diare........................................................
D. Penyebab Diare.................................................................................
E. Gejala Penyakit Diare ......................................................................
F. Cara Penularan Diare........................................................................
G. Cara Pencegahan Diare.....................................................................
-

Pencegahan Primer

Pencegahan Sekunder

Pencegahan Tertier

H. Pengobatan terhadap Penyakit Diare.................................................


BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................
B. Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
19

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Padahal
berbagai upaya penanganan, baik secara medik maupun upaya perubahan tingkah laku
dengan melakukan pendidikan kesehatan terus dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut
belum memberikan hasil yang menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini masih
menduduki peringkat atas, khususnya di daerah-daerah miskin.
Diare menyerang siapa saja tanpa kenal usia. Diare yang disertai gejala buang air
terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap dianggap bisa sembuh dengan sendirinya,
tanpa perlu pertolongan medis. Memang diare jarang sekali yang berakibat kematian, tapi
bukan berarti bisa dianggap remeh. Penyakit yang juga populer dengan nama muntah
berak alias muntaber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Indonesia, artinya
terjadi secara terus-menerus di semua daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan,
khususnya di daerah-daerah miskin. Di kawasan miskin tersebut umumnya penyakit diare
dipahami bukan sebagai penyakit klinis, sehingga cara penyembuhannya tidak melalui
pengobatan medik. Kesenjangan pemahaman semacam ini merupakan salah satu
penyebab penting yang berakibat pada lambatnya penurunan angka kematian akibat diare.
Lingkungan yang buruk disertai rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk
berperilaku sehat menjadikan kawasan kumuh sebagai kawasan yang rawan akan
penyebaran penyakit. Lingkungan yang buruk menjadi penyebab berkembangbiaknya
berbagai virus penyakit menular. Karena itu berbagai infeksi penyakit sering terjadi pada
para penghuni kawasan kumuh. Penyakit menular yang sering dijumpai adalah diare,
diikuti dengan penyakit infeksi lainnya seperti thypoid, ispa, penyakit kulit, campak,
leptospirosis, demam berdarah dengue (DBD). Kelangkaan air bersih menjadi sebab
utama pemicu penyakit ini. Gaya hidup yang jorok, tidak memperhatikan sanitasi
menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare.
Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, berkembangnya perilaku pencegahan
ini sangat tergantung pada kondisi pribadi masing-masing individu, termasuk persepsi
individu bersangkutan dalam memandang diare. Dengan kata lain jika seseorang
mempersepsikan diare adalah penyakit yang membahayakan maka yang bersangkutan
dapat diproyeksikan akan semakin berusaha keras untuk melakukan pencegahan agar
tidak terserang diare. Sebab, upaya pencegahan penyakit ini bersumber pada seluruh
aktivitas manusia yang berkaitan dengan upaya preventif.
19

B. Rumusan Masalah
Beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan makalah ini
adalah:
1. Apa diare itu?
2. Apa faktor pencetus diare?
3. Apa penyebab diare?
4. Bagaimana cara penularan diare?
C. Maksud dan Tujuan
Sesuai dengan masalah yang dirumuskan diatas maksud dan tujuan inipun dirumuskan
guna memperoleh suatu deskripsi tentang:
1. Definisi Diare
2. Faktor pencetus diare
3. Penyebab diare
4. Cara penularan diare
D. Manfaat
Dalam penyusunan makalah ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak. Adapun manfaat penyusunan itu diantaranya :
1.Berfungsi sebagai literatur-literatur bagi mahasiswa mahasiswi yang ingin
memperdalam wawasan tentang masalah kesehatan, khususnya tentang penyakit diare
2.Para pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang penyakit diare.
E. Metode Penulisan
Dalam makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan yakni dengan
membaca buku buku yang berkaitan dengan judul makalah. Dan mecari literaturliteratur di internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Diare
19

Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan
konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak
lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam 1 hari).
Diare seringkali disertai kejang perut dan muntah-muntah, diare disebut juga
muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor. Diare menyebabkan
cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Jika tinja atau kotoran tersebut mengandung
lendir dan darah, penderita telah mengalami fase yang disebut disentri. Diare dapat terjadi
dalam kadar yang ringan maupun berat. Biasanya terjadi secara mendadak, bersifat akut,
dan berlangsung dalam waktu lama. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai hal dan
kadang diperlukan pengobatan khusus. Namun sebagian besar diare dapat diobati sendiri
di rumah, meskipun kita tidak yakin penyebab yang menimbulkannya. Diare tak pernah
pandang bulu, ia dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita, baik orang tua
maupun muda. Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat
global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya.
B. Jenis-Jenis Diare
Berikut jenis-jenis diare yaitu antara lain :
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7
hari ). Gejala dan tanda sudah berlangsung < 2 minggu sebelum datang berobat.
Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama
kematian bagi penderita diare.
b. Diare kronik, yaitu diare yang gejala dan tanda sudah berlangsung > 2 minggu
sebelum datang berobat atau sifatnya berulang.
c. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat dari disentri adalah
anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadi komplikasi pada
mukosa.
C. Faktor pencetus diare
1. Tangan yang kotor.
2. Makanan dan minuman yang terkontaminasi virus dan bakteri.

19

3. Ditularkan oleh binatang peliharaan.


4. Kontak langsung dengan feses atau material yang menyebabkan diare ( cara
membersihkan diri yang tidak benar setelah ke luar dari toilet ).
D. Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan dari faktor lingkungan atau dari menu makanan. Faktor
lingkungan dapat menyebabkan anak terinfeksi bakteri atau virus penyebab diare.
Makanan yang tidak cocok atau belum dapat dicerna dan diterima dengan baik oleh anak
dan keracunan makanan juga dapat menyebabkan diare. Kadang kala sulit untuk
mengetahui penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh infeksi pada perut atau usus.
Peradangan atau infeksi usus oleh agen penyebab diare antara lain :
1. Terinfeksi bakteri , virus, atau parasit ( jamur, cacing , protozoa)

Virus (penyebab diare tersering dan umumnya karena Rotavirus), dengan gejala :
Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.Virus
penyebab diare Viral gastroenteritis atau yang dikenal sebagai "stomach virus",
virus perut.

Bakteri,

dengan gejala : Berak-berak dengan darah/lendir , sakit perut.

Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.

Parasite (Giardiasis), dengan gejala : Berak darah dan lendir, sakit perut. perlu
antiparasite. Parasit cryptosporidium atau microsporidium menyebabkan diare yang
terjadi pada banyak Odha. Kejadian infeksi parasit ini sudah menurun di AS sejak
terapi antiretroviral (ART) dipakai.

Macam-macam bakteri dan parasit yang biasa menyerang perut :


1.

E. Coli bacteria

2.

Salmonella enteritidis bacteria

3.

Compylobacter bacteria

4.

Shigella bacteria

5.

Giardo parasite

6.

Cryptosporidium parasite

19

2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan


kimia. Misalnya :

Obat ARV: Beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha dapat menyebabkan diare.
Hal ini sering berlaku dengan nelfinavir, ritonavir, Kaletra, ddI, foskarnet,
tipranavir dan interferon alfa.

Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotika Bila diare terjadi saat anak
sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.

Terlalu banyak makan buah mentah atau makanan berlemak.

3. Kekurangan gizi, misalnya : kelaparan, kekurangan zat putih telur.


Gizi yang buruk. Keadaan ini melemahkan kondisi tubuh penderita, sehingga timbulnya
diare akibat penyakit lain menjadi sering dan semakin parah.
5. Tidak tahan terhadap makanan atau obat-obatan tertentu, misalnya :

Alergi susu => Alergi terhadap susu , si anak tidak tahan meminum susu yang
mengandung lemak atau laktosa diare biasanya timbul beberapa menit atau jam
setelah minum susu tersebut, biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk
yang terbuat dari susu sapi.

Alergi obat tertentu => Penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak dapat diterima
oleh jaringan tubuh akan menyebabkan penyakit sampingan berupa diare.
6. Gangguan fungsi usus , misalnya Penyakit Intestinal, Penyakit inflamasi usus atau
penyakit abdominal dan gangguan fungsi usus lainnya, seperti sindroma iritasi usus
dimana usus tidak dapat bekerja secara normal.
7. Adanya reaksi obat yang dapat menyebabkan diare, misalnya : Laksatif
penyalahgunaan obat-obatan pencahar sebagai obat menurunkan berat badan juga
menyebabkan diare, Antasida yang mengandung magnesium, Antineoplastik,
Antibiotik seperti klindamisin, tetrasiklin, sulfonamide dan beberapa antibiotic
spectrum luas, Antihipertensi seperti reserpin, guanetidin, metildopa, guanabenz,
guanadrel, Kolinergik seperti betanecol, neostigmin, Senyawa yang mempengaruhi
jantung seperti kuinidin, digitalis, digoxin, Obat AINS, Prostaglandin, Kolkisin

19

E. Gejala Penyakit Diare


Pada diare hebat yang sering kali disertai frekuensi buang air besar melebihi normal,
kotoran encer / cair, sakit / kejang perut, pada beberapa kasus, demam dan muntah, pada
beberapa kasus. Adapun gejala pada anak meliputi :

Dehidrasi ringan/sedang; gelisah, rewel, mata cekung, mulut kering, sangat haus, kulit

kering
Dehidrasi berat, lesu, tak sadar, mata sangat cekung, mulut sangat kering, malas/tidak
bisa minum, kulit sangat kering

F. Cara Penularan Diare


Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,
seperti :
-

Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh
serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.

Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan
tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan
udara sampai beberapa hari.

Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar.

Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.

Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau
membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan
alat-alat yang dipegang.

G. Cara Pencegahan Diare


Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni:
- Primary Prevention (promosi kesehatan dan pencegahan khusus)
- Secondary Prevention (diagnosis dini serta pengobatan yang tepat)
- Tertiary Prevention (pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi)
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor penyebab dan
lingkungan.
a. Penyediaan Air Bersih
Air dapat juga menjadi sumber penularan penyakit. Peran air dalam
terjadinya penyakit menular dapat berupa, air sebagai penyebar mikroba patogen,
19

sarang insekta penyebar penyakit, bila jumlah air bersih tidak mencukupi, sehingga
orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik, dan air sebagai sarang
hospes sementara penyakit.
Untuk mencegah terjadinya diare maka air bersih harus diambil dari sumber
yang terlindungi atau tidak terkontaminasi. Sumber air bersih harus jauh dari
kandang ternak dan kakus paling sedikit sepuluh meter dari sumber air. Air harus
ditampung dalam wadah yang bersih dan pengambilan air dalam wadah dengan
menggunakan gayung yang bersih, dan untuk minum air harus di masak.
Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai resiko
menderita diare lebih kecil bila dibandingkan dengan masyarakat yang tidak
mendapatkan air besih.
b. Tempat Pembuangan Tinja
Untuk mencegah kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan
kotoran manusia harus dikelola dengan baik. Suatu jamban memenuhi syarat
kesehatan apabila memenuhi syarat kesehatan: tidak mengotori permukaan tanah,
tidak mengotori air permukaan, tidak dapat di jangkau oleh serangga, tidak
menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara, dan murah.
Tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan
meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar dua kali
lipat dibandingkan keluarga yang mempunyai kebiasaan membuang tinjanya yang
memenuhi syarat sanitasi.
c. Status Gizi
Status gizi didefinisikan sebagai keadaan kesehatan yang berhubungan
dengan penggunaan makanan oleh tubuh. Penilaian status gizi dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai metode, yang tergantung dan tingkat kekurangan
gizi. Metode penilaian tersebut adalah:
1) konsumsi makanan
2) pemeriksaan laboratorium
3) pengukuran antropometri
4) pemeriksaan klinis
Metode-metode ini dapat digunakan secara tunggal atau kombinasikan untuk
mendapatkan hasil yang lebih efektif.
d. Kebiasaan Mencuci Tangan
Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan dengan
penerapan perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare
ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara

19

air atau bahan yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme patogen
dengan melalui air minum. Pada penularan seperti ini, tangan memegang peranan
penting, karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar
kuman penyakit masuk ke tubuh manusia.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah menderita diare
atau yang terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan
pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan
komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian
oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh banyak
faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang. Pengobatan yang diberikan
harus disesuaikan dengan klinis pasien. Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama
kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasit,
obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu
menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan. Sebaiknya jangan
mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan
menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya misal bakteri, parasit.
Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan sebaiknya diminum sesuai
petunjuk dokter.

3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami
kecatatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini penderita diare
diusahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis semaksimal mungkin. Pada tingkat
ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari
penyakit diare. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi
makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan. Rehabilitasi juga dilakukan
terhadap mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut
memberikan dukungan secara mental kepada anak. Anak yang menderita diare selain
diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan kebutuhan
sosial dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan.
H. Cara Menanggulangi Diare

19

Apabila seseorang terkena diare berarti jumlah cairan dalam tubuh yang dapat
diserap sangat sedikit. Hal ini menimbulkan kondisi kekurangan cairan atau dehidrasi.
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengganti cairan tubuh yang hilang
dengan minum bayak air dan oralit. Tindakan lain yang dapat dilakukan bila seseorang
terkena diare adalah:
Makan sup bening. Hindari kopi, teh, dan susu. Pada bayi ASI boleh tetap diberikan
tetapi untuk susu formula harus dibuat lebih encer sampai dua kali lipat. Hindari
makanan padat ganti dengan bubur, roti ataupun pisang selama 1-2 hari.
Memeriksa penyebab diare sehingga terjadinya diare kembali dapat dihindari.
Cuci tangan tiap selesai BAB untuk mencegah penularan.
Menjaga kebersihan diri, makanan yang akan dikonsumsi dan lingkungan.
Bila diare berlanjut lebih dari 2 hari, bila terjadi dehidrasi, feses berdarah,

atau terus-

menerus kejang perut periksakan ke dokter terutama bila terjadi pada anak-anak/bayi.
I.

Pengobatan Terhadap Penyakit Diare


Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara
mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. Cairan
rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer,
sup wortel, air perasan buah, dan larutan gula garam

(LGG). pemakaian cairan ini lebih

dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila terjadi dehidrasi
sedang atau berat sebaiknya diberi minum oralit. Oralit merupakan salah satu cairan
pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi dengan
elektrolit, sehingga dapat menggantikan elektrolit yang ikut hilang bersama cairan.
Metode Penggobatan
Pengobatan diare berdasarkan 3 macam :
1.

Kemoterapeutik
Yakni untuk terapi kausal, yaitu memusnahkan bakteri penyebab penyakit
digunakan obat golongan sulfonamida atau antibiotik.
Contoh obat : Metronidazole,Cotrimoxazole ( trimetropim + sulfametoxazole),
Tetrasiklin

2.

Spasmolitik
Yakni zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot perut pada diare
misalnya Atropin sulfat
Contoh obat : Atropin sulfat,Extrak baladonae,Papaverin,Paracetamol,
Ibuprofen,bismutt

19

3.

Obstipansia (Gejala)
Yakni untuk terapi simptomatis dengn tujuan untuk menghentikan diare, yaitu
dengan cara:
a.

Menekankan peristaltik usus, misalnya loperamid

b. Menciutkan selaput usus, contohnya tannin


c.

Pemberian adsorben untuk menyerap racun atau bakteri misalnya, carbo


adsorben, kaolin

d. Pemberian mucilago untuk melindungi selaput lendir usus yang luka


contoh obat : Carbo adsorbens,Kaolin pectin,Oralit,Attalpugit

kemoterapeutik

Obstipansia (gejala)

Metronidazole

Atropin sulfat

Carbo adsorbens

Cotrimoxazole

Extrak baladonae

Kaolin pectin

( trimetropim +

Papaverin

Oralit

sulfametoxazole)

Paracetamol

Attalpugit

Tetrasiklin

Ibuprofen

bismutt

1.

Spasmolitik

Pengobatan Menggunakan Obat Sintesis


Pada umumnya obat antidiare terbagi atas 4 macam yaitu : antimotilitas
(difenoksilat, loperamid, paregoric, tinctur opium, difenoxin), adsorben (Kaolin pectin,
Polikarbofil, Attapulgit), antisekresi (Bismut subsalisilat, enzim laktase, Lactobacillus),
dan oktreotid.
a. Oralit
Komposisi oralit 200 mL :
- Glukosa anhidrat

4g

19

- Natrium klorida
0,7 g
- Natrium sitrat dihidrat0,58 g
- Kalium klorida
0,3 g
Serbuk dilarutkan dalam 200 mL atau 1(satu) gelas air matang hangat
Takaran pemakaian oralit pada diare antara lain sebagai berikut :
Keadaan diare
Tidak ada
dehidrasi

Umur < 11

Umur 1 - 4

Umur 5 12

tahun

tahun

tahun

Dewasa

Setiap kali BAB beri oralit

Terapi A
(mencegah

100 mL
(0,5 gelas)

200 mL
(1 gelas)

300 mL
(1,5 gelas)

400 mL
(2 gelas)

dehidrasi )
Dengan Dehidrasi

Terapi B

3 jam pertama beri oralit

300 mL
(1,5 gelas)

600 mL
(3 gelas)

1,2 L
(6 gelas)

2,4 L
(12 gelas)

Mengatasi
dehidrasi

Selanjutnya setelah BAB beri oralit

100 mL
(0,5 gelas)

200 mL
(1 gelas)

300 mL
(1,5 gelas)

400 mL
(2 gelas)

Kegunaan oralit :
Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang keluar
bersama tinja.
Oralit 200 adalah campuran gula, garam natrium dan kalium
o Kontraindikasi: Obstruksi atau perforasi usus
o Peringatan dan Perhatian:Pengemudi kendaraan bermotor dan operator
mesin berat jangan minum obat ini sewaktu menjalan kan tugas.
o Efek Samping:HipernatremiaLoperamide

19

b.
Kaolin
Indikasi : diare
Dosis : Dewasa 15-45 mL, Childn 6-12 thn 10-20 mL. Digunakan setelah setiap
buang air besar atau seperti yang diarahkan. Maksimal 2 hari.
Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
Peringatan, interaksi : menurunkan absorpsi dan diflunisal,

azitromisin,

siprofloksasin, isoniazid, nitrofurotoin, norfloksasin, ofloksasin, rifampisin, dan


sebagian besar golongan tetrasiklin, gabapentin, fenitoin, itrakonazol, ketokonazol,
kloroquin, fenotiazin, fenasin, besi oral.
Kontra indikasi : Obstruksi usus, kondisi usus spastik. Anak <6 tahun.
Efek yang tidak diharapkan : Sangat jarang, sembelit parah yang dapat
menyebabkan impaksi feses pada anak dan lansia.
Kategori pada kehamilan : B
Kombinasi Kaolin (1g) dan Pektin (50 mg)
c.
Attapulgit (Magnesium aluminium silikat)
Indikasi : Gejala pengobatan diare nonspesifik.
Dosis : Dewasa 2 tab setelah buang air besar awal dan 2 tablet setelah buang air besar
berikutnya, dosis harian maksimum 12 tab. Anak-anak 6-12 thn dosis dewasa, dosis
harian maksimal 6 tab.
Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
Kontra indikasi : GIT lesi pulmonalis. Demam tinggi.
Terapi khusus : Terapi tidak boleh melebihi 2 hari atau demam. Anak-anak < 6
tahun. Insufisiensi ginjal parah.
Interaksi obat : Dapat mempengaruhi penyerapan GI dari tetrasiklin.
Indikasi
: terapi simptomatik untuk diare non spesifik (penyebab
diare belum pasti) dengan mengabsorbsi toksin dan virus penyebab diare
Kontraindikasi
: hipersensitif terhadap attapulgit, demam tinggi, stenosis
(penyempitan) pada saluran cerna.
Peringatan
: jangan digunakan lebih dari 2 hari atau bila disertai
demam tinggi. Tidak untuk anak < 6 th, insufisiensi ginjal berat.
d.
Karbo adsorben
Kegunaan : mengurangi frekuensi buang air besar, memadatkan tinja, menyerap
racun pada penderita diare
Perhatian : penderita harus meminum oralit karena obat ini bukan pengganti oralit,
tidak boleh diberikan pada anak usia dibawah 5 tahun.
Aturan pakai :

Tablet Norit 250 mg

19

Dewasa : 3 4 tablet (750 1000 mg), 3 kali sehari (setiap 8 jam)

Kombinasi kaolin Pektin dan Attapulgit

(Setiap tablet mengandung 600 mg atapulgit)


Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar,
maksimal 12 tablet selama 24 jam.
Anak-anak 6 - 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar,
maksimal 6 tablet selama 24 jam.
Efek samping : Efek samping

: muntah, konstipasi, feses hitam

e.
Loperamid hidroklorida
Indikasi : tambahan terapi rehidrasi pada diare akut pada dewasa dan anak-anak lebih
4 tahun; diare kronik hanya pada dewasa.
Peringatan, kontraindikasi : kram abdomen dan reaksi kulit termasuk urtikaria;
ileus paralitik dan perut kembung.
Dosis : diare akut, dosis awal 4 mg diikuti dengan 2 mg setelah habis buang air besar.
Diare kronik pada dewasa, dosis awal 4 mg, diikuti 2 mg setiap buang air besar. Dosis
tidak melebihi dari 16 mg sehari. Pemberian harus dihentikan bila tidak ada perbaikan
setelah 48 jam.
Kategori pada kehamilan : B
f.
Co-Fenotrop
Komposisi : difenoksilat hidroklorida dan atropine sulfat
Indikasi : tambahan terapi rehidrasi pada diare akut; kolitis ulseratif ringan dan
kronis
Peringatan, Kontraindikasi, Efek samping : anak-anak terutama rentan terhadap
overdosis dan gejala-gejala mungkin tertunda sehingga pengamatan dilakukan paling
tidak selama 48 jam setelah penggunaan; adanya dosis subklinis atropine dapat
menimbulkan efek samping atropine pada individu yang rentan atau pada overdosis.
Interaksi :
Alkohol : menaikkan efek sedative dan efek hipotensif
Antibakteri : kadar plasma siprofloksasin

19

Antidepresan : eksitasi atau depresi SSP (hipertensi atau hipotensi) apabila

menerima MAOI (termasuk moklobemid)


Antiulkus : simetidin menghambat

metabolism

analgetik

opioid

(meningkatkan kadar plasma).


g.
Bismuth subsalisilat
Indikasi : Pengobatan gejala diare akibat racun dan virus. Meredakan gangguan
pencernaan, mulas, mual.
Dosis : Dewasa 1 - 2 tab sekaligus. Max: 11 tab sehari. Anak-anak 9-12 thn - 1
tab, max: 5 tab sehari, 6-9 tahun tab, max: 4 tab sehari.
Kontraindikasi : Anak yang baru saja sembuh dari cacar air atau flu, hipersensitivitas
terhadap aspirin, neonatus, lemah dan pasien geriatri.
Efek yang tidak diinginkan : Lidah dan feses berwarna gelap
Interaksi obat : Doxycycline.
Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
Kategori pada kehamilan : C
h.
Kombinasi dan Pectin
Indikasi : simptomatik diare non spesifik
Kontraindikasi : Obstruksi intestinal, hipersensitif terhadap kaolin dan pektin.
Konstipasi.
Peringatan : jangan digunakan lebih dari 2 hari, pasien demam, anak< 3th
i.

Kombinasi attalpugite dengan kaolin

Kontraindikasi : pasien konstipasi, obstruksi usus, hipersensitif terhadap obat ini.


Efek samping : konstipasi, impaksi feses (dalam dosis besar)
Peringatan : tidak untuk anak < 6 th, demam tinggi, dehidrasi. jangan diberikan
lebih dari 2 hari, demam tinggi, anak < 6 th, hamil dan menyusui.
Interaksi obat : Dapat mempengaruhi penyerapan GI dari tetrasiklin.

Interaksi obat
1. Metronidazole menghambat metabolisme warfarin dan dosis antikoagulan kumarin
lainnya harus dikurangi. Metronidazole meningkatkan risiko efek samping
antikoagulan kumarin.
2. Pemberian alkohol selama terapi dengan metronidazole dapat menimbulkan gejala
seperti pada disulfiram yaitu mual, muntah, sakit perut dan sakit kepala.
3. Dengan obat-obat yang menekan aktivitas enzim mikrosomal hati seperti simetidin,
akan memperpanjang waktu paruh metronidazole
4. Kotrimoksazol dapat menambah efek dari antikoagulan dan memperpanjang waktu
paruh Fenitoin juga dapat mempengaruhi besarnya dosis obat-obat hipoglikemia.

19

5. Pernah dilaporkan adanya megaloblastik anemia apabila kotrimoksazol diberikan


bersama-sama dengan obat yang dapat menghambat pembentukan folat misalnya
Pirimetamin.
6. Pemberian kotrimoksazol

bersama

dengan

diuretik

meningkatkan kemungkinan terjadinya trobositopenia.

19

terutama

Tiazid

dapat

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diare adalah suatu keadaan dimana tinja menjadi lunak hingga cair dan terjadi
berulang-ulang (lebih dari 3x dalam sehari-hari). Diare dapat terjadi pada siapa saja, baik
dewasa maupun anak-anak. Penyakit diare ini tidak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak
diatasi dengan baik akibatnya sangat berbahaya bagi tubuh, bahkan bisa menyebabkan
kematian. Menurut WHO, Diare menyebabkan kematian hingga 2 juta anak didunia setiap
tahunnya.

Begitu

berbahayanya

penyakit

ini

sehingga

orang

tua

harus

waspada. ????????????????????
B. Saran
Diharapkan kepada seluruh masyarakat desa x agar lebih memperhatikan kesehatan nya
serta didukung oleh pelayanan dan penyuluhan kesehatan oleh tenaga kesehatan di
puskesmas jeuram sehingga mampu merubah kebiasaan prilaku yang tidak baik, dan lebih
memperhatikan sanitasi lingkungan mereka.??????????????????????
DAFTAR PUSTAKA
1. Sukandar, Elin Y. 2009. ISO Farmakoterapi. Ed. II. PT. ISFI Penerbitan. Jakarta. 349353, 372-377.
2. Tan HT, Rahardja K. 1993. Swamedikasi. Gramedia. Jakarta, 101-109, 111-118.
3. Holt GA dan Edwin LH. 1986. The Pros and Cons of Self-medication. Dalam Journal of
Pharmacy Technology, September /October: 213-218. Available as PDF file
4. McEwen J. 1979. Self-medication in The Context of Self-care: A review. Dalam: nderson,
J.A.D (ed). Self Medication. The Proceedings of Workshop on Self Care, London: MTP
Press Limited Lancaster, 95-111. Available as PDF file
5. Rosenstock IM. 1974. The Health Belief and Preventive Health Behavior. Health
Education Monograph, 2(4): 354. Available as PDF file

6. Tan HT, Rahardja K. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya. Ed. V. Gramedia. Jakarta, 270-294.

19

7. Wells BG. 2006. Pharmacotherapy Handbook. 6th Edition. McGraw-Hill. Available as


PDF file.

8. Anderson JAD. 1979. Historical Background to Self-care. The Proceedings of Workshop


on Self Care. London: MTP Press Limited Lancaster, 10-18. Available as PDF file.

9. http://www.mims.com/
10. http://ObatHerbalAlami.com/Obat_Herbal_Untuk_Diare, diakses 28 Oktober 2012

11. http://wapedia.mobi/id/konstipasi, diakses 28 Oktober 2012


12. http://blogkita.info/antidiare, diakses 28 Oktober 2012
13. http://obatdiare.co.cc/herbal, diakses 28 Oktober 2012

19