Anda di halaman 1dari 11

I.

Identitas Resume
Judul Resume

Prinsip

Pembelajaran

Pendekatan
Saintifik

dengan

Kontekstual
dalam

dan

Pembelajaran

Biologi
Keperluan ditulisnya resume

Untuk

memenuhi

tugas

matakuliah PBM Biologi I


Nama Penulis

: Kiki Taurista / S2 (140341808621)

Tempat dan waktu penulisan


II.

: Malang, 13 Juni 2015

TOPIK-TOPIK BAHASAN
A. Prinsip Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Inovasi pendidikan telah banyak dihasilkan melalui kajian
secara teoretis dan empiris, tetapi diseminasi dan sosialisasinya
masih belum berhasil mengubah praktik pembelajaran. Salah satu
inovasi pendidikan tersebut adalah strategi pembelajaran yang
dapat mendorong siswa membangun pengetahuan yang dikenal
dengan
Learning).

pendekatan
Strategi

kontekstual
ini

masih

(Contextual

bertentangan

Teaching
dengan

and

praktik

pembelajaran yang selama ini berlangsung, yaitu strategi yang


mendorong siswa menghafal seperangkat fakta atau konsep, di
mana guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi siswa.
Kata kontekstual diambil dari Bahasa Inggeris yaitu
contextual kemudian
diserap ke dalam

Bahasa

Indonesia

menjadi

kontekstual.

Kontekstual memiliki arti berhubungan dengan konteks atau dalam


konteks. Konteks membawa maksud keadaan, situasi dan kejadian.
Secara umum, kontekstual memiliki arti:

1. Berkenaan dengan, releven, ada hubungan atau kaitan langsung,


mengikut
konteks; dan
2. Membawa maksud, makna dan kepentingan (meaningful).
Berdasarkan makna yang terkandung dalam

kata

kontekstual tersebut, maka terbentuk kaidah kontekstual. Kaidah


kontekstual yaitu kaidah yang dibentuk berasaskan pada maksud
kontekstual

itu

sendiri.

Dalam

pembelajaran

yaitu

mampu

membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran (penguasaan


materi pembelajaran) yang berkenaan atau releven bagi mereka,
dan bermakna dalam kehidupannya.
Pendekatan kontekstual memiliki landasan pada falsafah
belajar yakni konstruktivisme. Konstruktivisme menekankan bahwa
belajar

tidak

hanya

sekedar

menghafal,

melainkan

siswa

mengkonstruksi pengetahuan di benaknya. Pengetahuan tidak


dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang
terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Artinya, pendekatan kontekstual bersifat pragmatis (Hasnawati,
2006).
Pembelajaran dengan CTL sebagai alternatif strategi
belajar, siswa didiarahkan belajar melalui 'mengalami', bukan
'menghapal'. Hal ini dikemukakan Zahorik ( 1995):
Knowledge is contructed by humans. Knowledge is not a set of
facts, concepts, or laws waiting to be discovered. Its is not
something that exists independent of a knower. Humans create or
construct knowledge as they attempt to bring meaning to their
experience. Everything that we know, we have made. Knowledge is
konjectural and fallible. Since knowledge is a construction of
humans constantly undergoing new experiences, knowledge can
never by stable. The understandings that we invent are always
tentative and incomplete. Konwledge grows through exposure.
Understand becomes deeper and stronger if one test it against new
encounters.
Menurut hasil penelitian Dewey (1916), siswa akan belajar
dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah
diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan
terjadi disekelilingnya. Pendekatan kontekstual merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam


kehidupannya, siswa berperan sebagai: anggota keluarga, siswa,
dan warga masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
diharapkan

lebih

bermakna

bagi

siswa.

Dengan

kata

lain,

pendekatan kontekstual menekankan pada dua kemampuan, yaitu:


(1) kemampuan menghubungkan materi pembelajaran dengan
dunia nyata; dan (2) kemampuan aplikatif dalam kehidupan siswa.
Dalam konteks pembelajaran, siswa perlu mengerti apa
makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan
bagaimana

cara

mencapainya.

Dengan

demikian,

mereka

menyadari bahwa kegiatan pembelajaran (materi) yang diikutinya


berguna bagi kehidupnya. Apabila kondisi tersebut telah terbentuk,
maka siswa akan termotivasi untuk mengikuti dan berpartisipasi
dalam kegiatan pembelajaran, sehingga tujuan akan tercapai
secara optimal.
Siswa sangat menyadari pentingnya kehadiran guru
dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru dalam pembelajaran
bukan sebagai demonstrator,

melainkan sebagai pembimbing

(fasilitator) bagi kelancaran proses dan pencapaian hasil belajar.


Namun demikian, pendekatan kontekstual lebih mengedepankan
strategi pembelajaran dari pada hasil. Pendapat tersebut berangkat
dari asumsi bahwa apabila kegiatan pembelajaran sesuai kaidah
kontekstual, maka tujuan pembelajaran (hasil) dengan sendirinya
akan tercapai. Pendekatan kontekstual memandang bahwa cara
belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan pemahamannya
sendiri secara aktif.
2. Penerapan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran bukan sekedar memberikan pengetahuan,
nilai

atau

pelatihan

ketrampilan,

melainkan

berfungsi

mengaktualisasikan potensi dan mengembangkan kemampuan


siswa. Setiap siswa memiliki potensi dan pengetahuan awal
(pengalaman), maka peran guru memberdayakan siswa agar
potensi

dan

pengetahuannya

tersebut

bermanfaat

bagi

kehidupannya. Untuk itu, peran guru mengembangkan strategi


pembelajaran yang dapat memberdayakan potensi siswa sangat

penting dilaksanakan. Salah satunya adalah pembelajaran dengan


pendekatan

kontekstual.

Pendekatan

kontekstual

bertujuan

membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat


diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan ke permasalahan
lain, dari suatu konteks ke konteks lain. Pembelajaran berbasis
masalah (problem-based learning), dapat membekali siswa dengan
kemampuan menyelesaikan masalah.
Apabila, kegiatan pembelajaran

dilaksanakan

secara

berkelompok, maka
siswa didorong untuk belajar bekerja sama, saling menghargai, dan
saling membantu. Dengan demikian, akan tertanam rasa empati,
simpati, dan solidaritas antar siswa sehingga kondisi kelas akan
lebih harmonis. Sebagai gambaran umum, berikut ini disajikan
perbandingan antara pendekatan kontekstual dengan pendekatan
konvensional. Perhatikan Tabel 1 berikut.

Tabel 1
Perbandingan

Pendekatan

Kontekstual

dengan

Pendekatan

Konvensional (Hasnawati, 2006)

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pendekatan CTL

Pendekatan
Konvensional
Siswa terlibat aktif dalam
Siswa hanya menerima
proses
informasi
pembelajaran
(student dalam Siswa
secarabelajar
pasif (teacher
center)
Siswa
belajar bersama
secara individual
kerja
dan diskusi kelompok
Pembelajaran
dikaitkan
Pembelajaran terlalu abstrak dan
dengan
teoritis
kehidupan nyata atau
didasarkan perilaku siswa Perubahan perilaku siswa
Perubahan
dibangun atas kesadaran diri dibangun
atas kebiasaanketerampilan
Memperoleh keterampilan
Memperoleh
yang
yang
dikembangkan yang
dari
dikembangkandiberikan
atas dasar
Penghargaan
Penghargaan
dalam
diberikan
bentuk
berupatidak
kepuasan
diri jelek
angka/nilai
Siswa
berprilaku
Siswa
tidak rapor
berprilaku jelek
karena dia sadar dan
karena
merugikanyang
takut hukuman
Bahasa
Bahasa
yang disampaikan
disampaikan
terkesan
komunikatif
satu arah
(struktural)
Belajar
dari apa yang sudah Belajar
dari
sesuatu yang asing
atau
dikenal siswa
tidak dikenal siswa

10. Adanya kemampuan proses


11.
12.
13.
14.
15.

Hanya berlaku pasif menerima


dalam
informasi
pembelajaran
Pengetahuan yang ada
Pengetahuan didasarkan
dibangun
pada
dan dikembangkan sendiri
penangkapan serangkaian
fakta, didasarkan pada
Didasarkan pada
Tidak
pengalaman
pengalaman
siswabelajar diukur
siswabelajar hanya diukur dari
Hasil
Hasil
berdasarkan
hasil
proses
tes
Pembelajaran
tidak terbatas Pembelajaran
hanya terjadi di
pada
ruang
ruang kelas
kelas ada upaya pemecahan
Adanya
upaya pemecahan
Tidak
masalah
masalah
Berdasarkan Tabel 1 tersebut, maka kelima belas

pernyataan tersebut dapat dikatakan sebagai keunggulan atau


kebaikan yang dimiliki pendekatan kontekstual. Namun demikian,
pelaksaannya memerlukan kemauan dan keterampilan guru. Guru
harus mempersiapkan instrumen untuk mengukur hasil belajar
siswa berdasarkan proses pembelajaran. Selama ini, guru membuat
instrumen

penilaian

untuk

mengukur

hasil

belajar

sisiwa

berdasarkan test akhir. Selain itu, guru harus membiasakan diri


tidak menjadi sumber informasi melainkan sebagai fasilitator.
Menurut Direktorat Pendidikan lanjutan Pertama (2002: 3-5) bahwa
pendekatan konstektual mendasarkan diri pada kecenderungan
pemikiran tentang belajar yaitu: proses belajar, transfer belajar,
siswa sebagai pembelajar, dan
pentingnya lingkungan belajar. Pembelajaran dikatakan kontekstual
apabila pembelajaran tersebut menerapkan ketujuh komponen CTL,
yaitu: konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, inkuiri, terbentuk
masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian yang otentik. Untuk
itu, sebelum pembelajaran kontekstual dilaksanakan, guru terlebih
dahulu harus menyusun rencana pembelajaran (RPP) berbasis
kontekstual.
3. Penerapan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And
Learning) dengan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses sains terdiri dari keterampilan proses
sains dasar dan terintregasi. Keterampilan proses sains dasar
meliputi

aspek

observasi,

klasifikasi,

prediksi,

mengukur,

menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan


proses terintegrasi terdiri dari aspek mengidentifikasi variabel,
membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik,
menggambarkan

hubungan

mengolah

menganalisa

data,

antarvariabel,
penelitian,

mengumpulkan
menyusun

dan

hipotesis,

mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian


dan melaksanakan eksperimen. Semua aspek keterampilan proses
sains, baik yang dasar maupun yang terintegrasi tidak dapat
muncul secara keseluruhan pada setiap proses pembelajaran.
Akar masalah yang menyebabkan masih kurangnya
keterampilan proses sains yang dimiliki siswa karena pendekatan
pembelajaran yang digunakan masih bersifat tradisional (teacher
centered), guru kurang memberikan kesempatan pada seluruh
siswa untuk ikut berpartisipasi dalam proses pelajaran, kurang
memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan hanya
mengandalkan metode ceramah tanpa melaksanakan pembelajaran
biologi

kepada

hakikat

biologi,

yaitu

pembelajaran

yang

menekankan pada proses, produk, dan sikap ilmiah.


Pendekatan CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran
yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk

dapat

menemukan

materi

yang

dipelajari

dan

menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga


mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran

kontekstual

mengharapkan

siswa

tidak

hanya

menerima pelajaran akan tetapi proses mencari dan menemukan


sendiri materi pelajaran. Dengan proses mencari dan menemukan
materi maka siswa dapat menghubungkan antara pengalaman
belajar dengan kehidupan nyata. Sehingga materi yang dipelajari
akan tertanam kuat dalam memori siswa dan tidak mudah
dilupakan.
Menurut Kartikasari (2006), melalui CTL ini siswa mampu
untuk mengungkap dan menemukan fakta dan konsep serta
menumbuhkan sikap ilmiah yang diperoleh siswa dari pengamatan
maupun

pengalaman

langsung

di

kehidupan

nyata.

Dari

pengamatan langsung dalam kehidupan nyata siswa akan memiliki


keterampilan-keterampilan yang meliputi, melakukan observasi,

mengklasifikasi,

memprediksi,

berhipotesis,

merencanakan

percobaan, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan. Keterampilan


tersebut dapat diperoleh siswa melalui pembelajaran kontekstual
yang merupakan aspek dalam keterampilan proses. Oleh karena itu,
penerapan

pendekatan

CTL

diharapkan

dapat

meningkatkan

keterampilan proses sains siswa.


Kegiatan eksperimen merupakan kegiatan ilmiah yang
dalam menemukan konsep yang dilakukan melalui percobaan dan
penelitian ilmiah. Metode eksperimen memberi kesempatan siswa
untuk mengamati sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati
suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan begitu, siswa
dituntut untuk mengalami sendiri, mencari suatu kebenaran,
mencoba mencari data baru, mengolah sendiri, membuktikan suatu
hukum atau dalil dan menarik kesimpulan atas proses yang
dialaminya.

Proses

penemuan

keterampilan-keterampilan

yang

konsep
mendasar

ilmiah dapat dilaksanakan dan

yang

melibatkan

melalui

percobaan

ditingkatkan melalui kegiatan

laboratorium maupun di alam terbuka.


Penerapan pendekatan CTL dalam metode eksperimen
merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan keterampilan
proses sains siswa dalam pembelajaran biologi, yang selama ini
pembelajaran biologi hanya mencatat, mendengar dan menghafal.
Pembelajaran CTL memberikan kesempatan siswa untuk mencari
dan menemukan konsep sendiri materi yang dipelajari dengan
aspek-aspek keterampilan proses yang dilakukan.
B. Prinsip Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
1. Pengertian Pendekatan Saintifik
Pendekatan Saintifik adalah
konsep
dasar
mewadahi,
pemikiran

menginspirasi,
tentang

menguatkan,

bagaimana

metode

dan

yang
melatari

pembelajaran

diterapkan berdasarkan teori tertentu. Kemendikbud (2013)


memberikan
(scientific
mencakup

konsepsi tersendiri
approach)
komponen:

dalam

bahwa pendekatan

ilmiah

pembelajaran di dalamnya

mengamati,

menanya,

mencoba/mencipta, menyajikan/mengkomunikasikan.

menalar,

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi


atas

suatu

atau

memperoleh

beberapa

pengetahuan

fenomena

baru,

atau

atau

gejala,

mengoreksi

dan

memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut


ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis
pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris,
dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.
Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian
aktivitas pengumpulan
ekperimen,

data

mengolah

melalui

informasi

atau

observasi

atau

data, menganalisis,

kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.


Pembelajaran dengan pendekatan saintifik
proses

pembelajaran

adalah

yang dirancang sedemikian rupa agar

peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau


prinsip

melalui

mengidentifikasi
masalah,

tahapan-tahapan

mengamati

atau menemukan masalah),

mengajukan

atau

(untuk

merumuskan

merumuskan

hipotesis,

mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis


data,

menarik

kesimpulan dan

mengomunikasikan

konsep,

hukum atau prinsip yang ditemukan. Pendekatan saintifik


dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta
didik

dalam mengenal,

menggunakan

memahami

pendekatan

ilmiah,

berbagai

materi

bahwa informasi

bisa

berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada


informasi searah
pembelajaran

dari

yang

guru.

diharapkan

Oleh

karena

itu

kondisi

tercipta diarahkan

untuk

mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai


sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
2. Prinsip Pembelajaran dan Penerapan Pendekatan Saintifik
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah
proses

pembelajaran

yang dirancang sedemikian rupa agar

peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau


prinsip

melalui

mengidentifikasi
masalah,

tahapan-tahapan

mengamati

atau menemukan masalah),

mengajukan

atau

merumuskan

(untuk

merumuskan
hipotesis,

mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis


data,

menarik

kesimpulan dan

mengomunikasikan

hukum atau prinsip yang ditemukan.


saintifik

dimaksudkan

untuk

Pendekatan

memberikan

pemahaman

kepada peserta didik dalam mengenal, memahami


materi

menggunakan

pendekatan

konsep,

ilmiah,

berbagai

bahwa informasi

bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung


pa da informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi
pembelajaran

yang

diharapkan

tercipta diarahkan

untuk

mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai


sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran
melibatkan

keterampilan

mengklasifikasi,

proses

mengukur,

seperti

meramalkan,

mengamati,

menjelaskan,

dan

menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut,


bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut
harus

semakin

dewasanya
Pembelajaran

siswa

berkurang
atau

dengan

dengan

semakin

semakin

tingginya

bertambah
kelas

siswa.

metode saintifik memiliki karakteristik

sebagai berikut:
1) berpusat pada siswa.
2) melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi
konsep, hukum atau prinsip.
3) melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam
merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan
berpikir tingkat tinggi siswa.
4) dapat mengembangkan karakter siswa.
Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) pembelajaran berpusat pada siswa
2) pembelajaran membentuk students self concept
3) pembelajaran terhindar dari verbalisme
4) pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengasimilasi
prinsip
5) pembelajaran

dan mengakomodasi konsep, hukum, dan


mendorong

terjadinya

peningkatan

kemampuan berpikir siswa


6) pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan
motivasi mengajar guru

7) memberikan

kesempatan

kepada

siswa

untuk

melatih

kemampuan dalam komunikasi


8) adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip
yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
3. Langkah-Langkah
Saintifik
Proses
semua

meliputi

pada

(saintifik).
approach)

menggali

dengan

kemudian

menyajikan

data

dalam

mengolah

atau

menalar,

Pendekatan
2013

untuk

menggunakan

Langkah-langkah

informasi melaui

percobaan,

dengan

Kurikulum

dilaksanakan

ilmiah

(scientific

menganalisis,

Pembelajaran

pembelajaran

jenjang

pendekatan
ilmiah

Umum

proses

pendekatan
pembelajaran

pengamatan,

bertanya,

data

informasi,

informasi,
kemudian

atau

dilanjutkan

dengan

menyimpulkan,

dan

mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu,


sangat mungkin pendekatan ilmiah
diaplikasikan

secara

prosedural.

ini
Pada

tidak

selalu

kondisi

tepat

seperti

ini,

tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilainilai atau sifat-sifat ilmiah dan

menghindari

nilai-nilai

atau

sifat-sifat nonilmiah.
PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING HASIL RESUME
1) Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menciptakan
pembelajaran bermakna dengan pendekatan saintifik?
2) Bagaimana aplikasi pembelajaran dengan pendekatan saintifik pada
materi yang bukan eksperimen?
3) Bagaimana metode penilaian yang digunakan dalam pembelajaran
pendekatan kontekstual?

DAFTAR PUSTAKA
Hasnawati.
2006.
Pendekatan
Contextual
Teaching
Learning
Hubungannya dengan Evaluasi Pembelajaran. Jurnal Ekonomi &
Pendidikan, Volume 3 Nomor 1, April 2006. Yogyakarta: FBS.
Kartikasari, R. 2011. Penerapan Pendekatan Kontekstual (Contextual
Teaching And Learning) Dengan Metode Eksperimen Untuk
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas VIII C SMP

Negeri 14 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi.


Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Negeri Sebelas Maret.
Lampiran IV. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 81a Tahun 2013. Tentang Implementasi
Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran.
Lazim, M. 2015. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Kurikulum 2013. http://file.upi.edu. Diakses tanggal 14 Juni 2015.
Zahorik, Jhon A. 1995. Constructivist Teaching (Fastback 390).
Bloomington Indiana: Phi Delta Kappa Educational Fundantion.