Anda di halaman 1dari 26

TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI


BLOK SISTEM TUBUH II
GANJIL 2015-2016

Disusun Oleh:
AURIDHO PRASETYO PUTRA DITYA
NIM. 151610101081

LABORATORIUM FISIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I DASAR TEORI .................................................................................. 1
BAB II LANGKAH KERJA .9
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.12
BAB IV KESIMPULAN23
DAFTAR PUSTAKA..iii

ii

BAB I
DASAR TEORI
I.1. Konsep Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang memungkinkan darah mengalir
dalam pembuluh darah untuk beredar dalam seluruh tubuh. Darah berfungsi
sebagai pembawa oksigen serta zat-zat lain yang dibutuhkan oleh seluruh jaringan
tubuh supaya dapat hidup dan dapat melaksanakan masing-masing tugasnya.
Tekanan Darah Sistolik (TDS) menunjukkan tekanan pada arteri bila
jantung berkontraksi (denyut jantung) atau tekanan maksimum dalam arteri pada
suatu saat. TDS dinyatakan oleh angka yang lebih besar jika dibaca pada alat
pengukur tekanan darah. TDS normal 90-120 mmHg. Tekanan Darah Diastolik
(TDD) menunjukkan tekanan darah dalam arteri bila jantung berada dalam
keadaan relaksasi di antara dua denyutan.
Tekanan Darah Diastolik (TDD) dinyatakan dengan angka yang lebih kecil
jika dibaca pada alat pengukur tekanan darah. TDD normal 60-80 mmHg.
Tingginya TDS berhubungan dengan curah jantung, sedangkan TDD berhubungan
dengan besarnya resistensi perifer.
I.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah
1. Faktor Jenis Kelamin
Terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan perbedaan jenis
kelamin berpengaruh terhadap kerja sistem kardioaskuler. Dibandingkan dengan
laki-laki dengan usia yang sama, wanita premenopause memiliki massa ventriel
kiri jantung yang lebih kecil terhadap body mass ratio, yang mungkin
mencerminkan afterload jantung yang lebih rendah pada wanita. Hal ini mungkin
akibat dari tekanan darah arteri yang lebih rendah, kemampuan complince aorta
yang lebih besar dan kemampuan peningkatan penginduksian mekanisme
vasodilatasi. Perbedaan ini dianggap berhubungan dengan efek protektif estrogen
dan mungkin dapat menjelaskan mengapa pada wanita premenopause memiliki
resiko lebih rendah menderita penyakit kardiovaskular. Tetapi, setelah menopause

perbedaan jenis kelamin tidak akan berpengaruh pada kemungkinan terderitanya


penyakit kardiovaskular. Hal ini mungkin disebabkan karena berkurangnya
jumlah estrogen pada wanita yang sudah menopause.
2. Faktor Gravitasi
Tekanan darah akan meningkat dengan 10 mmhg setiap 12 cm di bawah
jantung karena pengaruh gravitasi . Di atas jantung, tekanan darah akan menurun
dengan jumlah yang sama. Jadi dalam keadaan berdiri, maka tekanan darah sistole
adalah 210 mmHg di kaki tetapi hanya 90 mmHg di otak. Dalam keadaan
berbaring kedua tekanan ini akan sama.
Tekanan darah dalam arteri pada orang dewasa dalam keadaan duduk atau
posisi berbaring pada saat istirahat kira-kira 120/70 mmHg. Karena tekanan darah
adalah akibat dari curah jantung dan resistensi perifer, maka tekanan darah
dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi setiap atau dan isi
sekuncup. Besarnya isi sekuncup ditentukan oleh kontraksi miokard dan volume
darah yang kembali ke jantung.
1. Berbaring
Ketika seseorang berbaring, maka jantung akan berdetak lebih sedikit
dibandingkan saat ia sedang duduk atau berdiri. Hal ini disebabkan saat orang
berbaring, maka efek gravitasi pada tubuh akan berkurang yang membuat lebih
banyak darah mengalir kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Jika darah
yang kembali ke jantung lebih banyak, maka tubuh mampu memompa lebih
banyak darah setiap denyutnya. Hal ini berarti denyut jantung yang diperlukan per
menitnya untuk memenuhi kebutuhkan darah, oksigen dan nutrisi akan menjadi
lebih sedikit.
Pada posisi berbaring darah dapat kembali ke jantung secara mudah tanpa
harus melawan kekuatan gravitasi. Terlihat bahwa selama kerja pada posisi
berdiri, isi sekuncup meningkat secara linier dan mencapai nilai tertinggi pada
40% -- 60% VO2 maksimal. VO2 max adalah volume maksimal O2 yang
diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Pada
posisi berbaring, dalam keadaan istirahat isi sekuncup mendekati nilai maksimal

sedangkan pada kerja terdapat hanya sedikit peningkatan. Nilai pada posisi
berbaring dalam keadaan istirahat hampir sama dengan nilai maksimal yang
diperoleh pada waktu kerja dengan posisi berdiri. Jumlah isi sekuncup pada orang
dewasa laki-laki mempunyai variasi antara 70 -- 100 ml. Makin besar intensitas
kerja (melebihi batas 85% dari kapasitas kerja) makin sedikit isi sekuncup; hal ini
disebabkan memendeknya waktu pengisian diatole akibat frekuensi denyut
jantung yang meningkat (bila mencapai 180/menit maka 1 siklus 6 jantung hanya
berlangsung selama 0,3 detik dan pengisian diastole merupakan bagian dari 0,3
detik tersebut).
2. Berdiri
Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang
kembali ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan
adanya peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi
duduk atau berbaring ke posisi berdiri (Ganong, 2002). Pada posisi berdiri, maka
sebanyak 300-500 ml darah pada pembuluh capacitance vena anggota tubuh
bagian bawah dan isi sekuncup mengalami penurunan sampai 40%. Berdiri dalam
jangka waktu yang lama dengan tidak banyak bergerak atau hanya diam akan
menyebabkan kenaikan volume cairan antar jaringan pada tungkai bawah. Selama
individu tersebut bisa bergerak maka kerja pompa otot menjaga tekanan vena pada
kaki di bawah 30 mmHg dan alir balik vena cukup (Ganong, 2002). Pada posisi
berdiri, pengumpulan darah di vena lebih banyak. Dengan demikian selisih
volume total dan volume darah yang ditampung dalam vena kecil, berarti volume
darah yang kembali ke jantung sedikit, isi sekuncup berkurang, curah jantung
berkurang, dan kemungkinan tekanan darah akan turun. Jantung memompa darah
ke seluruh bagian tubuh. Darah beredar ke seluruh bagian tubuh dan kembali ke
jantung begitu seterusnya. Darah sampai ke kaki, dan untuk kembali ke jantung
harus ada tekanan yang mengalirkannya. Untuk itu perlu adanya kontraksi otot
guna mengalirkan darah ke atas. Pada vena ke bawah dari kepala ke jantung tidak
ada katup, pada vena ke atas dari kaki ke jantung ada katup. Dengan adanya
katup, maka darah dapat mengalir kembali ke jantung. Jika pompa vena tidak

bekerja atau bekerja kurang kuat, maka darah yang kembali ke jantung berkurang,
memompanya berkurang, sehingga pembagian darah ke sel tubuh pun ikut
berkurang. Banyaknya darah yang di keluarkan jantung itu menimbulkan tekanan,
bila berkurang maka tekanannya menurun. Tekanan darah berkurang akan
menentukan kecepatan darah sampai ke bagian tubuh yang dituju. Ketika berdiri
darah yang kembali ke jantung sedikit. Volume jantung berkurang maka darah
yang ke luar dan tekanan menjadi berkurang.
3. Duduk
Sikap atau posisi duduk membuat tekanan darah cenderung stabil. Hal ini
dikarenakan pada saat duduk sistem vasokonstraktor simpatis terangsang dan
sinyal-sinyal saraf pun dijalarkan secara serentak melalui saraf rangka menuju ke
otot-otot rangka tubuh, terutama otot-otot abdomen. Keadaan ini akan
meningkatkan tonus dasar otot-otot tersebut yang menekan seluruh vena cadangan
abdomen, membantu mengeluarkan darah dari cadangan vaskuler abdomen ke
jantung. Hal ini membuat jumlah darah yang tersedia bagi jantung untuk dipompa
menjadi meningkat. Keseluruhan respon ini disebut refleks kompresi abdomen.
Pada beberapa individu terutama orang tua, perubahan posisi yang cepat
misalnya dari berbaring ke berdiri bisa menyebabkan tubuh menjadi pusing atau
bahkan pingsan. Karena gerakan cepat ini membuat jantung tidak dapat memompa
darah yang cukup ke otak.
Saat terjatuh atau pingsan sebaiknya berada dalam posisi berbaring, yang
mana merupakan posisi menguntungkan bagi jantung karena efek gravitasi
berkurang dan lebih banyak darah yang mengalir ke otak.

I.3.Cara Mengukur Tekanan Darah


Metode pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk menentukan
tekanan darah pasien adalah metode tak langsung, metode auskultasi
menggunakan stetoskop dan sfigmomanometer. Bagian alat yang digunakan untuk
diikatkan pada lengan berisi kantong karet yang dapat mengembang (Rhonda M.
Jones, 2008).
4

Kantongnya terhubung ke manometer (Gambar 5-7). Karena manometer aeroid


mudah hanyut, maka harus dikalibrasi paling sedikit sekali setahun dan harus
ditinggalkan pada keadaan nol. Karena lingkar lengan berbeda-beda, maka juga
tersedia berbagai macam ukuran pengikat lengan (misalnya untuk anak-anak,
dewasa, dan orang dewasa yang besar). Untuk menentukan ukuran pengikat
lengan ini bandingkan panjang kantong pengukur tekanan darah tadi dengan
lingkar lengan pasien. Anda harus merasakan kantong di dalam pengikat lengan
tadi. Untuk pengukuran yang paling akurat, panjang kantong harus paling sedikit
80% lingkar lengan (Gambar 5-8) (Rhonda M. Jones, 2008).

Gambar 57 Pengikat lengan dan sfigmomanometer.


Pengukuran tekanan darah dianggap tak langsung, kaena tekanan dalam
pembuluh darah secara tidak langsung diukur dengan melihat tekanan dalam
pengikat lengan. Ketika udara dipompakan ke dalam pengikat lengan, tekanan
dalam pengikat lengan tersebut akan meningkat. Ketika tekanan dalam pengikat
lengan tadi melebihi tekanan arteri brakhial pasien, arteri akan tertekan dan aliran
darah akan berkurang dan akhirnya berhenti. Bersamaan dengan mengeluarkan
udara dari pengikat lengan, kantong akan mengempis dan tekanan pada pengikat
lengan berkurang. Ketika tekanan dalam pengikat lengan sama dengan tekanan
arteri, darah akan mulai mengalir kembali. (Gambar 5-9) (Rhonda M. Jones,
2008).

Gambar

58

Penentuan

pengkikat

lengan

untuk

ukuran
mengukur

tekanan darah.
Panjang lengan harus paling sedikit 80%
lingkar lengan.
Gambar

59

Suara

Korotkoff

dan

pengukuran tekanan darah. (Diadaptasi


dari Jarvis C. Physical Examination and
Health Assessment, 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders, 2000;192)
Aliran darah dalam arteri menghasilkan suara yang spesifik, yang disebut suara
Korotkoff yang terjadi dalam 5 fase:
Fase I

: lemah, jelas dan ketuk (tekanan sistolik)

Fase II

: swooshing

Fase III

: nyaring (crisp), lebih intensif (tapping)

Fase IV

: muffling (pada dewasa hal ini menunjukkan keadaan hiperkinetik


jika

fase

ini

terus

berlangsung

selama

pengikat

lengan

mengempis).
Fase V

: hilangnya suara (pada dewasa, tekanan diastolik) (Rhonda M.


Jones, 2008).
Suara-suara ini digunakan untuk mengidentifikasi tekanan darah sistolik

dan diastolik. Agar dapat mengukur dengan sangat akurat, ikuti langkah-langkah
berikut:
1. Tanyakan kepada pasien apakah pasien merokok atau mengkonsumsi
kafein dalam 30 menit sebelum pemeriksaan. Jika ya, catat informasi ini;
2. Pasien harus didudukkan pada kursi dengan punggung tersangga dan
lengan kosong dan disangga pada keadaan paralel setara jantung;
3. Pengukuran dimulai paling sedikit setelah 5 menit beristirahat;
4. Tentukan ukuran pengikat lengan yang sesuai untuk pasien (lihat Gambar
5-8);
5. Palpasi arteri brakhial sepanjang lengan atas bagian dalam;

6. Posisikan agar kantong yang ada pada pengikat lengan di tengah di atas
arteri brakhial, kemudian ikat pengikat lengan tadi agar pas melingkari
lengan, usahakan ujung tepi bawah pengikat lengan tersebut 1 inci di atas
antekubital (Gambar 5-10) (Rhonda M. Jones, 2008).
Gambar 510 Penempatan pengikat lengan dan
stetoskop yang tepat untuk mengukur tekanan
darah.

7. Posisikan manometer agar lurus terhadap pandangan mata;


8. Instruksikan pada pasien untuk tidak berbicara selama pengukuran;
9. Tentukan tingkat inflasi maksimum. (Sembari palpasi nadi radial, pompa
pengikat lengan hingga ke titik di mana nadi tidak lagi terdengar,
tambahkan 30 mmHg pada pembacaan ini);
10. Dengan cepat kendurkan/biarkan udara keluar dari kantong lengan dan
tunggu 30 detik sebelum memompanya kemabali;
11. Sisipkan ujung stetoskop; cek agar mengarah ke depan pada tempatnya;
12. Tempatkan bel stetoskop tanpa menekan, tapi cukup erat hingga kedap
udara, di atas arteri brakhial (lihat Gambar 5-10). Lihat bahwa diafrgama
stetoskop juga dapat digunakan; namun, bel akan leih sensitif untuk
mendengan suara frekuensi rendah (tekanan darah) dan sedapat mungkin
bel digunakan jika memungkinkan. Ketika pertama kali belajar
mendengarkan tekanan darah, mungkin lebih mudah menggunakan
diafragma daripada bel;

13. Pompa dengan cepat pengikat lengan sampai maksimum (seperti yang
telah ditentukan sebelumnya);
14. Perlahan biarkan udara keluar (deflate/kempiskan pengikat lengan) dengan
penurunan tekanan teratur sebesar 2-3 mmHg/detik;
15. Catat pembacaan tekanan ketika pertama kali terdengan dua suara
berturutan (Korotkoff Fase 1). Ini adalah tekanan darah sistolik;
16. Catat pembacaan tekanan ketika suara terakhir terdengar (Korokoff Fase
V). Ini adalah tekanan diastolik;
17. Tetap dengarkan sampai 20 mmHg di bawah tekanan diastolik, kemudian
dengan cepat kempeskan pengikat lengan;
18. Catat tekanan darah pasien dengan angka genap beserta posisi pasien
(misalnya, duduk, berdiri, berbaring), ukuran pengikat lengan, dan lengan
yang diukur;
19. Tunggu 1-2 menit sebelum mengulangi kembali pembacaan menggunakan
lengan yang sama (Rhonda M. Jones, 2008).

BAB II
LANGKAH KERJA

Pengukuran Tekanan Darah


Tahap pemeriksaan:
1. Istirahatkan dulu orang coba selama 5 menit
2. Lakukan pengukuran tekanan darah 2 kali dengan sphygmomanometer
terbuka. Jika berdasar hasil pengukuran tekanan darah terdapat selisih
tekanan darah >10 mmHg pada penukuran ke-1 dan ke-2 pada sistolik dan
atau pada diastolik, lakukan pengukuran ke-3
3. Naikkan tekanan sampai kira-kira 20 mmHg di atas tekanan sistole
normal, jaga samai nadi A. Brachialis di lengan kanan tidak teraba pada
cara palpasi atau hilangnya suara pada cara auskultasi
4. Ukurlah tekanan sistole dan diastole dengan cara palpasi dan auskultasi.
Turunkan tekanan menset dengan membuka klep pompa secara perlahan.
Perhatikan dengan seksama suara bising nadi (K-1) dan tentukan tingkattingkat suara dari Korotkoff sampai suara melemah/menghilang (K-4 / K5)
5. Catat hasil percobaan Anda
Pengukuran Tekanan Darah pada Lengan Kiri
1. Ulangi percobaan butir 1 sampai 4 pada 2.3.1 di atas dengan lengan tangan
kiri
2. Catat hasil percobaan Anda

Pengukuran Tekanan Darah dengan Berbagai Tensimeter


1. Ulangi percobaan butir 1 sampai 4 menggunakan tensimeter aneroid da
digital (pada lengan kanan)
2. Catat hasil percobaan Anda

Pengaruh Posisi Tubuh pada Tekanan Darah dan Denyut Nadi


Setiap anggota kelompok memilih satu orang untuk percobaan ini, sesuai
dengan urutan tahap pemeriksaan di atas.
1. Berbaring terlentang,
Ukurlah secara palpasi dan auskultasi tekanan darah dan denyut nadi orang
coba sampai 3 kali berturut-turut dan ambillah nilai rata-ratanya
2. Duduk,
Perintahkan orang coba duduk tenang selama 5 menit, kemudian ukurlah
secara palpasi dan auskultasi tekanan darah dan denyut nadinya 3 kali
berturut-turut dan ambillah nilai rata-ratanya
3. Berdiri,
Perintahkan orang coba berdiri dengan tenang dalam sikap bersiap
selama 5 menit, kemudian ukurlah tekanan darah dan denyut nadinya 3
kali berturut-turut dan ambillah nilai rata-ratanya
4. Catat hasil pengukuran
Pengaruh Latihan Pada Tekanan Darah Dan Denyut Nadi
Pilih salah satu orang coba untuk masing-masing kelompok.
(1)

Menset tensimeter aneroid dipasang dan tekanan darahnya diukur dalam


keadaan duduk dan mencatat denyut nadinya dengan tensimeter aneroid.

(2)

Dengan manset tetap terpasang, orang coba melakukan aktivitas naik turun
bangku dengan kecepatan 10 kali per menit selama 2 menit.

(3)

Segera setelah naik turun bangku berakhir, ukur tekanan darah dan catat
frekuensi nadinya.

(4)

Teruskan mengukur tekanan darah dengan interval 3 menit sampai menjadi


normal kembali.

(5)

Ukur tekanan darah dan denyut nadi sebelum dilakukan percobaan


berikutnya.

(6)

Dengan manset tetap terpasang, orang coba melakukan aktivitas naik turun
bangku dengan kecepatan 15 kali per menit selama 2 menit.

10

(7)

Segera setelah naik turun bangku berakhir, ukur dan catat tekanan darah
denyut nadinya kembali.

(8)

Teruskan mengukur tekanan darah dengan interval 3 menit sampai dengan


normal kembali.

(9)

Dengan manset tetap terpasang, orang coba melakukan aktivitas naik turun
bangku dengan kecepatan 20 kali per menit selam 2 menit.

(10) Masukkan hasil yang diperoleh ke dalam tabel berikut yang meliputi
tekanan sistole dan diastole.
(11) Lakukan percobaan 1-10 dengan termometer aneroid dan digital.
(12) Masukkan hasil yang diperoleh ke dalam tabel berikut yang meliputi
tekanan sistole dan diastole dan denyut nadi.
(13) Gambarkan dalam kertas milimeter grafik hasil pengukuran frekuensi nadi
dengar tekanan sistole dan diastole, masing-masing pada absis dan ordinat.

Pengaruh Stress : Cold Pressure Test


Masukkan satu tangan ke dalam panci selama waktu tertentu, maka akan
terlihat bahwa suhu berpengaruh terhadap tekanan darah dan denyut nadi. Test ini
merupakan suatu test yang baik untuk menentukan labilitas tekanan darah.
Pilihlah orang coba untuk masing-masing kelompok.
1. Perintahkan orang coba untuk duduk tenang selama 5 menit, kemudian
ukur tekanan darah dan denyut nadinya dengan tensimeter air raksa sampai
didapatkan hasil yang sama 2 kali berturut-turut.
2. Perintahkan orang coba memasukkan tangan kirinya ke dalam bak air es
(4oC) sampai 15 cm diatas fovea decubitus, selama 60 detik.
3. Ukurlah tekanan darah pada detik ke-60 di dalam air es.
4. Ukurlah tekanan darah dan denyut nadi setelah perendaman dengan
interval 2 menit sampai tekanan darah dan denyut nadi menjadi kembali
normal.
5. Catat hasilnya.

11

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1. JAWABAN PERTANYAAN PERCOBAAN


1.

Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan dengan


tensimeter konvensional dan digital?
Terdapat perbedaan.

2.

Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan pada lengan


kanan dan kiri?
Terdapat perbedaan.

3.

Apakah ada perbedaan hasil pengukuran darah dilakukan dengan


tensimeter konvensional dan digital?
Terdapat perbedaan.

4.

Apakah ada perbedaan hasil pengukuran A. Radialis dan A. Brachialis?


Perbedaan ada tapi hanya sedikit hal ini disebabkan karena kenaikan
tekanan sistole pada arteri distal lebih tinggi sedangkan kenaikan
tekanan diastolenya lebih rendah

5.

Apakah ada perbedaan tekanan darah yang diukur dengan perbedaan


posisi? Jelaskan mengapa?
Ada perbedaan tekanan pada perbedaan posisi hal ini dipengaruhi dari
jarak dengan pusat gravitasi dan perbedaan posisi tentu terdapat
aktivitas otot yang berbeda seperti berdiri yang melibatkan kontraksi
otot yang tentunya akan meningkatkan tekanan darah. Lalu Semakin
jauh dari pusat gravitasi maka semakin besar pula tekanan darahnya.

6.

Sebutkan faktor apa saja yang mempengaruhi tekanan darah?


Factor fisilologis yang mempengaruhi:
1. Pengembalian darah melalui vena/jumlah darah yang kembali ke
jantung melalui vena.
2. Frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung
3. Resistensi perifer

12

4. Elastisitas arteri besar


5. Viskositas darah
6. Kehilangan darah
7. Hormon
7.

Jelaskan kemungkinan yang dapat terjadi di bidang kedokteran gigi


jika pada penderita tidak dilakukan pengukuran tanda-tanda vital
terlebih dahulu?
Bisa terjadi pendarahan hebat misal dikarenakan tekanan darah pasien
yang tinggi apabila melakukan tindakan medis missal mencabut yang
berkaitan dengan keluarnya darah bisa saja darah mengalir dengan
deras sehingga tindakan medis yang kita harapkan terkendala yang
tentunya membahayakan pasien itu sendiri.

8.

Mengapa mahasiswa kedokteran gigi harus mengukur denyut nadi


sebelum melakukan tindakan operatif?
Denyut nadi bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat kesehatan
atau mengetahui kebugaran seseorang secara umum. Jadi denyut nadi
sangat diperlukan untuk data pasien sebelum melakukan tindakan,
karena denyut nadi bisa mempengaruhi tindakan apa yang akan
dilakukan.

9.

Faktor apa saja yang mempengaruhi denyut nadi?


Tingkat aktivitas fisik, Tingkat kebugaran, Suhu udara, Posisi tubuh
(berdiri atau berbaring, misalnya), Emosi, Ukuran tubuh, Konsumsi
obat-obatan

10. Apakah ada perbedaan pengukuran denyut nadi pada berbagai posisi
tubuh? Jelaskan mengapa!
Sebenarnya tidak ada perbedaan karena tubuh selalu mengusahakan
agar tekanan darah normal jika tidak ada aktivitas apapun, dalam hal ini
berkaitan dengan posisi tubuh, berbaring, duduk, dan beridiri jika
dilakukan tanpa aktivitas maka didapatkan hasil yang hampir serupa
jika tidak ada faktor eksternal lain yang mempengaruhi tetapi pada saat
perpindahan posisi tubuh pada saat itu atau bisa dikatakan mendadak

13

inilah yang menyebabkan tekanan darah berubah akan tetapi setelah itu
akan kembali normal jika pengukuran dilakukan sekitar 5 menit
setelahnya tergantung waktu recovery masing-masing individu.
11. Mengapa saat bekerja denyut nadi meningkat?
Frekuensi nadi akan meningkat bila kerja jantung meningkat, saat
bekerja paru-paru bekerja keras mengolah oksigen, sedangkan jantung
berdetak cepat memompa darah ke seluruh tubuh membawa oksigen
hasil olahan dari paru-paru dengan kecepatan tinggi. Ketika selesai
bekerja, jantung dan paru-paru tidak bisa begitu saja langsung bergerak
pelan seperi saat keadaan tidak berlari, ini dikarenakan tubuh masih
membutuhkan suplai oksigen lebih. Maka untuk beberapa saat, darah
masih akan mengalir di tubuh dengan kecepatan tinggi, sambil
menunggu keadaan tubuh kembali normal . Dengan meningkatnya
denyut nadi diharapkan suplai oksigen ke jaringan otot terutama yang
berkaitan dengan aktivitas itu sehingga aktivitas bisa tetap dilakukan
untuk melakukan respirasi aerob.
12. Bagaimana cara menentukan denyut nadi maksimal dan optimal?
DNM adalah denyut nadi maksimal yang dihitung berdasarkan rumusan
DNM = 220 - Umur, kemudian dikalikan dengan intensitas membakar
lemak 60-70 persen DNM.

14

III.2. HASIL
PENGUKURAN TEKANAN DARAH
Orang Parameter Sphygmomanometer
I

II

Aneroid
III

Rerata

II

III

Digital
Rerata

II

III

Rerata

Ke-1

Tangan
Kanan

110/80 112/78 110 111/80


/82

120/9 122 122 121/87


0
/90 /92

100 102 103 102/6


/78 /64 /56 6

pria

Tangan
Kiri

114/75 113/74 115 114/75


/75

122/8 122 120 121/80


0
/90 /88

112 104 108 108/8


/94 /70 /89 4

Ke-2

Tangan
Kanan

79/62

80/60

80/
60

80/61

90/70 90/
70

90/
70

90/70

90/
56

88/
54

88/
55

87/55

wanita Tangan
Kiri

90/70

90/70

92/
72

91/71

90/70 90/
70

90/
70

90/70

84/
54

82/
54

84/
54

81/54

15

PENGUKURAN POSISI TUBUH


Berbaring
Param
Orang
eter
I
II
III
Ke 1
Berbar 90/60
90/65
90/60
(Wanita)
ing
Duduk
Berdiri
Ke 2
(Pria)

Berbar
ing
Duduk
Berdiri

110/75

110/75

110/75

Duduk
Rerata
90/60

I
90/70

II
90/70

III
90/70

Rerata
90/70

I
100/
80

Berdiri
II
III
90/8 100
0
/80

110/75

110/81

110/81

110/81

110/81

110/
83

110/
83

110
/83

Rerata
96/80

110/83

16

PENGARUH LATIHAN
PRIA 10X/MENIT
Keterangan

Nadi

Sistol

Diastol

Pre test

93

116

78

Post tes

102

122

75

3 menit

93

112

72

6 menit

92

112

69

Nadi

Sistol

Diastol

Pre test

93

116

78

Post tes

109

136

86

3 menit

92

107

74

6 menit

93

123

97

PRIA 15X/MENIT
Keterangan

17

WANITA 10X/MENIT
Keterangan

Nadi

Sistol

Diastol

Pre test

105

93

53

Post tes

113

102

63

3 menit

113

90

57

6 menit

106

93

55

WANITA 15X/MENIT
Keterangan

Nadi

Sistol

Diastol

Pre test

105

93

53

Post tes

113

102

63

3 menit

113

90

57

6 menit

106

93

55

18

Pengaruh Stress : Cold Pressure Test


Orang

Parameter

Sistole (mmHg)

Diastole (mmHg)

Ke-1

Pra-stress dingin/normal

108

80

(Wanita)

Saat 60 detik es

135

65

2 menit

111

75

4 menit

113

74

Ke-2

Keadaan normal

102

68

(Pria)

Pra-stress dingin

116

74

2 menit

97

62

4 menit

99

63

19

III.3. PEMBAHASAN
Pada percobaan yang kami lakukan didapat data dengan 2 cara
pengamatan yakni palpasi dan auskultasi dan menggunakan berbagai macam
tensimeter mulai dari tensimeter tertutup, tensimeter terbuka, dan tensimeter
digital. Kami melakukan pemeriksaan awal sesuai teori yakni mencari berbagai
arteri yang bisa ditensi yang kemungkinan distorsinya sangat kecil, antara lain ada
A.Brachialis, A. Radialis, A. Karotis komunis, A.Temporalis superfisial, A.
Fasialis, A. Femoralis, A.Popliteal, dan A. Foot dorsal, 8 arteri tersebut dapat
dilakukan palpasi dan untuk menyesuaikan dengan manset hanya beberapa arteri
yang dipilih diantaranya sesuai prosedur menggunakan arteri brachialis dalam hal
ini kami menentukan titik arteri dan ditandai lalu memasang manset 2 jari diatas
fovea cubiti dan melakukan percobaan sesuai prosedur dengan bermacam-macam
alat tensimeter.
Kemudian melihat dari data yang kami dapatkan terdapat beberapa hal
yang perlu dibahas diawali dengan percobaan pengukuran darah. Pada percobaan
ini dilakukan dengan 3 macam tensimeter dan didapatkan hasil antara satu
tensimeter dengan tensimeter lain terdapat perbedaan pengukuran masingmasingnya > 10mmHg contohnya pada pengukuran tangan kanan orang pertama
pria untuk tensimeter terbuka didapatkan rata-rata 111/80 kemudian tensimeter
tertutup didapatkan rata-rata 121/87 dan dengan tensimeter digital didapatkan
102/66. Seharusnya yang didapatkan adalah hasil yang sama dalam arti range
yang tidak terlalu jauh. Hal ini bisa disebabkan karena pada saat pengukuran
orang coba tidak dalam keadaan benar-benar istirahat bisa saja beraktifitasi
meskipun hanya berdiri sebentar dan yang kami amati adalah aktivitas tangan
serta sesuatu yang menuntut untuk berpikir yakni kinerja otak menganggu
pengukuran seperti adanya pertanyaan dari teman tentang praktikum tersebut hal
ini mendorong suplai darah lebih meningkat, selain itu bisa juga kesalahan
pembacaan alat ukur dikarenakan kelelahan dari orang yang mengukuru karena
bisa berdampak pada konsentrasi. Selanjutnya adalah tekanan darah dari kanan
dan kiri yang pada tiap pengukuran 3 macam tensimeter didapatkan hasil yang
tidak jauh beda seperti tangan kanan 111/80 tangan kiri 114/75, seharusnya
20

memang didapatkan hasil yang tidak terlalu jauh seperti itu, perbedaan bisa
diakibatkan karena perbedaan aktivitas tangan kanan dan tangan kiri, biasanya
karena lebih dominan tangan kanan pada fase istirahat dalam percobaan pun
tangan kanan terkadang beraktivitas sehingga aliran darah menuju tangan yang
aktivitas tinggi lebih besar dan didapatkan hasil tekanan darah yang berbeda pula.
Kemudian masih pada percobaan pertama pada orang kedua yakni
perempuan untuk pengukuran berbeda tensimeter didapatkan hasil yang hampir
sama akan tetapi dalam hal ini didapatkan data yang merujuk pada hipotensi
contohnya rata-rata tekanan darah tangan kiri tensimeter digital adalah 81/54. Hal
ini belum dapat langsung divonis bahwa teman kami menderita hipotensi, ada
kriteria tertentu dengan range waktu tertentu untuk menentukan sesorang
menderita hipotensi atau tidak, kemudia hasil yang didapatkan seperti itu bisa
diakibatkan karena percobaan kami lakukan terakhir kali sore hari dimana pada
waktu ini tekanan darah menurun selain itu faktor kelelahan dan kondisi
mengantuk menyebabkan tekanan darah menurun.
Selanjutnya adalah pembahasan mengenai percobaan kedua yakni
Pengukuran posisi tubuh. Dimana pada percobaan ini menggunakan 2 orang
objek dengan 1 orang melakukan posisi berbaring telentang, duduk, dan berdiri.
Pada percobaan orang pertama yakni wanita didapatkan hasil rata-rata berturutturut 90/60, 90/70, 100/80. Apabila disesuaikan dengan teori seharusnya pada
posisi berdiri didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan posisi sebelumnya
hal ini bisa saja terjadi perubahan tekanan darah karena waktu pengukuran
tekanan darah dilakukan terlalu cepat atau mendadak karena memang pada saat
perubahan posisi tubuh tekanan darah berubah tetapi tubuh akan merespon untuk
menormalkannya kembali asalkan tidak ada aktivitas ataupun faktor eksternal lain
pada saat posisi tubuh tertentu.. Untuk orang coba kedua adalah pria dan
didapatkan hasil berturut-turut 110/75, 110/81, dan 110/83. Dalam hal ini bisa
dikatakan sesuai untuk sistolnya akan tetapi seharusnya diastole mempunyai hasil
yang tidak terlalu jauh hal ini bisa diakibatkan karena kesalahan pengukuran, atau
ada aktivitas lain yang dilakukan orang objek dll.

21

Selanjutnya adalah pembahasan pengaruh latihan dimana dalam percobaan


ini terdapat 2 orang coba yakni pria dan wanita dengan melakukan step test
hardvard dan masing-masing melakukan 10x dan 15x tiap menit dengan
pengukuran awal, setelah step test dan masa recovery sampai normal pada menit
ke 3 dan 6. Hal yang perlu dibahas adalah hasil dari orang coba perempuan
dimana pada percobaan 10x dan 15x tiap menit pada menit ke 3 dan 6 didapatkan
denyut nadi yang konstan, hal ini seharusnya menurun sampai normal akan tetapi
hal ini bsia saja terjadi dikarenakan orang coba jarang melakukan olahraga
sehingga waktu recovery yang dibutuhkan bisa saja lebih lama daripada orang
yang sering melakukan olahraga.
Selanjutnya adalah percobaan pengaruh stress dengan cold pressure test.
Dengan memasukkan tangan orang coba kedalam bak air berisi es selama 1 menit
dan diukur tekanan darah pada menit pertama kemudian 2 menit setelah menit
pertama dan 4 menit setelah menit pertama. Pada percobaan pertama orang coba
wanita mengalami peningkatan tekanan darah setelah cold pressure test hal ini
dikarenakan pressure tersebut dianggap stress oleh tubuh sehingga dengan
mekanisme dari hipotalamus akibat rangsangan tersebut mengeluarkan hormone
stress dan hasilnya meningkatnya tekanan darah , akan tetapi didapatkan hasil
sampai menit ke 4 belum kembali ke tekanan darah awal diakibatkan interval
waktu recovery yang dibutuhkan lebih dari 4 menit pada orang coba tersebut bisa
saja karena pengaruh stressnya masih ada.

22

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang kami dapatkan dalam percobaan kami adalah ada banyak
faktor yang mempengaruhi tekanan darah seseorang antara lain latihan atau
aktivitas fisik, pengaruh stress, jenis kelamin, posisi tubuh. Dimana pada posisi
tubuh saat perpindahan atau perubahan posisi tubuh secara mendadak akan terjadi
perubahan tekanan darah tetapi setelah beberapa lama tubuh akan menormalkan
tekanan darahnya kembali selama tidak ada faktor eksternal yang mempengaruhi
seperti aktivitas selama posisi tertentu,dll. Selain itu juga ada faktor eksternal
yang berpengaruh terhadap ke telitian hasil pengamatan tekanan darah antara lain
konsentrasi dan ketelitian pengamat, keakuratan alat ukur, kondisi fisiologis orang
coba, sehingga dalam menentukan tekanan darah seseorang beberapa hal harus
diperhatikan untuk mendapat tekanan darah yang akurat seperti waktu istirahat
selama 5 menit sebelum ditensi dan aktivitas selama istirahat itu disesuaikan serta
membuat orang coba tidak banyak berpikir.

23

DAFTAR PUSTAKA
Assa, Cicilia.2011 Perbandingan Pengukuran Tekanan Darah Pada
Lengan Kiri Dan Lengan Kanan Pada Penderita Hipertensi Di Ruangan Irina C
Blu Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran.Universitas Sam Ratulangi Manado.
Kusmiyati. 2009. Mengenal Tekanan Darah dan Pengendaliannya. Vol.
10 No.1, hal 40-41. Biologi PMIPA FKIP : Unram.
Sarosa, Hadi. 2009. Perbedaan Tekanan Darah setelah Pemaparan Cold
Pressure Test antara Mahasiswa Tanpa dan dengan Riwayat Hipertensi di
Keluarga. Sains Medika, Vol. 1, No. 1, Januari Juni.
Sharon, Cindy, 2009. Prevalensi Hipertensi Essensial Pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan Uji Saring Cold
Pressure Test.
Veronika, Maria.2009. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Dalam
Berbagai Posisi Dengan Spigmomanometer Aneroid Pada Mahasiswa
Keperawatan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, Universitas Pelita
Harapan,.

iii

Anda mungkin juga menyukai