Anda di halaman 1dari 12

01/10/2015

BAB III
SUMBER SUMBER ETIKA
(MENURUT AGAMA, FILSAFAH, YURIDIS)

DEFINISI ETIKA
Menurut K. Bertens, arti etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:
1. Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau
suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama
Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan
etika di sini sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini berfungsi dalam
hidup manusia perorangan maupun sosial.
2. Kumpulan asas atau nilai moral (kode etik).
Contoh : Kode Etik Jurnalistik
3. Ilmu tentang yang baik atau buruk.

01/10/2015

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis


(asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan
buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan
sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu
penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya
dengan filsafat moral.

Etika adalah bidang kajian filsafat yang terkait dengan persoalan


nilai moral perilaku manusia. Nilai moral adalah kualitas
perilaku baik dari manusia. Sebagai bagian dari kajian filsafat,
etika merupakan pemikiran filosofis tentang nilai moral, bukan
nilai moral itu sendiri. Ajaran tentang bagaimana berperilaku
dengan kualitas baik adalah moralitas atau akhlak.

01/10/2015

Maka etika adalah ilmu atau lebih tepatnya pengetahuan


filosofis, dan bukan merupakan ajaran (normatif) sebagaimana
moralitas atau akhlak.
Setiap moralitas atau akhlak menghendaki supaya manusia
berperilaku baik sesuai dengan yang diajarkan.
Etika menghendaki supaya manusia melakukan tindakan baik itu
dengan kesadaran dan kepahamannya. Sadar dan paham atas apa
yang dilakukannya, atas sumber dari mana petunjuk perbuatan
itu, atas alasan kenapa perbuatan itu dilakukannya, dan atas apa
konsekuensi perbuatan itu jika benar-benar dilakukannya.

Sehingga ada dua macam kajian etika:


etika deskriptif yaitu etika yang terlibat analisis kritis tentang
sikap dan perilaku manusia dan (nilai) apa yang ingin dicapai dalam
hidup ini. Dengan tanpa terlibat upaya memberikan penilaian,
etika ini membicarakan tentang perilaku apa adanya, yaitu perilaku
yang terjadi pada situasi dan realitas konkrit yang membudaya.
etika normatif yaitu etika yang menetapkan berbagai sikap dan
perilaku ideal yang seharusnya dimiliki dan dijalankan manusia,
serta tindakan apa yang seharusnya diambil untuk menggapai
sesuatu yang bernilai dalam hidup ini.

01/10/2015

Dalam etika, ukuran baik-tidaknya akhlak seseorang atau nilai


perilaku manusia dapat dibedakan dari dua sudut pandang:
Pertama, dari sudut tujuannya (teleologis). Teleologis adalah
paham etika yang menekankan moral pada nilai intrinsik sebagai
konsekuensi suatu perbuatan.
Kedua, dari sudut prosesnya (deontologis). Deontologi adalah
suatu paham etika yang menekankan perbuatan moral bukan pada
nilai intrinsik dari konsekuensi perbuatan baik dan bijak karena
perbuatan itu sendiri.

Kekacauan dalam melihat dua hal (tujuan dan proses) ini,


mengakibatkan apa yang dimaksud dengan akhlak itu menjadi kabur.
Misalnya:
Seseorang yang ingin menyantuni anak yatim, membantu fakirmiskin, atau memberi nafkah keluarga, memberi sumbangan pada
masjid atau madrasah; semua ini jelas merupakan tujuan yang baik.
Tetapi jika tujuan baik ini diwujudkan dengan cara-cara yang salah,
seperti: memasang lotre, mencuri, korupsi, menipu, dan lain
sebagainya, tentu semua ini tidak bisa disebut perbuatan yang baik
atau berakhlak.

01/10/2015

A. ETIKA MENURUT AGAMA


Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang
dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah
tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar,
buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan
self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari
dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.

Etika disebut juga filsafat moral, merupakan cabang filsafat yang


berbicara tentang tindakan manusia. Etika tidak mempersoalkan
keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia
harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacammacam norma, diantaranya norma hukum, norma moral, norma
agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum
dan perundang-undangan; norma agama berasal dari agama; norma
moral berasal dari suara hati; dan norma sopan santun berasal dari
kehidupan sehari-hari.

01/10/2015

Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal


yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama
menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan
tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat
memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi.
Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:
1.

Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia


tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu,
tetapi ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya.
Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.

2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan


interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.
3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara
langsung tidak disinggung-singgung dalam wahyu. Misalnya bayi
tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.
4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika
mendasarkan

diri

pada

argumentasi

rasional

semata-mata

sedangkan agama pada wahyunya sendiri.

01/10/2015

B. ETIKA MENURUT FILSAFAT


Pada umumnya, kata etika mempunyai makna yang tetap berada
pada seputar perbuatan-perbuatan kategori akhlaki seperti:
kebiasaan, tingkah laku, kesusilaan dan semisalnya.
Pengertian kata moral, yang secara etimologis berasal dari bahasa
Latin mos (jamaknya: mores) berarti kebiasaan dan adat.
Namun dalam bahasa Indonesia, kata Suwito, pada umumnya kata
moral diidentikkan dengan kata etika.
Adapun secara istilah, pengertian etika tampak berbeda dengan
moral, dan juga dengan akhlak. Moral lebih dekat dengan akhlak.

Karakteristika akhlak adalah bersifat agamis, dan ini tidak ada pada
moral. Etika lebih menunjuk pada ilmu akhlak, sedangkan moral
lebih merupakan perbuatan konkrit realisasi dari kekuatan jiwa.

Etika bersumber dari pemikiran manusia terutama filsafat Yunani.


Ilmu akhlak, meski juga merupakan hasil pemikiran, tetapi ia
bersumber dari wahyu yakni al-Quran dan al-Hadis (dalam Agama
Islam).

01/10/2015

Akhlak dan moral, sama-sama menunjuk pada perbuatan. Namun


bila dilihat dari objeknya, dua istilah itu tidak identik.
Sifat akhlak adalah teorsentris, karena segala perbuatan yang
ditunjuk oleh istilah akhlak dilihat dalam konteksnya dengan
Tuhan, baik perbuatan dalam hubungannya dengan Tuhan maupun
dengan sesama manusia.
Sifat moral adalah antroposentris, karena hanya menunjuk pada
perbuatan dengan sesama manusia, tidak menunjuk pada yang
dengan Tuhan, dan tujuannya hanya sebatas untuk kepentingan
manusia.

C. ETIKA MENURUT YURIDIS


Hukum dalam pengertian peraturan perundang-undangan, tidak
memberikan ruang secara eksplisit terhadap etika. Ruang eksplisit
yang dimaksud adalah bunyi teks atau pasal-pasal yang terdapat
dalam peraturan perundang-undangan. Etika dapat menjadi asas yang
mendasari pengaturan dalam bahasa teks peraturan. Artinya etika
sudah membaur atau dibaurkan dalam bunyi teks peraturan.
Pembauran menempatkan etika menjadi nyawa dari pasal per pasal
yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.

01/10/2015

Dari perspektif demikian etika adalah meta yuridis. Etika bukan


peraturan perundang-undangan, tetapi menjadi dasar dari bahasa
teks peraturan perundang-undang. Peraturan perundang-undangan
menjadi aktualisasi yuridis dari etika yang menjadi pedoman
berperilaku. Aktualisasi yuridis atau positivisasi etika menjadi
kaidah berperilaku yang berwatak yuridis. Tanpa positivisasi etika
yang semula hanya norma perilaku, etika tidak akan dapat
ditegakkan dengan menggunakan sanksi hukum.

Etika yang bertransformasi menjadi kaidah hukum baru merupakan


hukum dalam peraturan perundang-undangan. Transformasi melalui
positivisasi meletakkan etika menjadi hukum. Etika menjadi hukum
(peraturan perundang-undangan) ketika ditempatkan dalam bunyi
pasal atau menginspirasi pembentukan pasal tersebut.
Etika tidak selalu sama dengan hukum. Etika bisa tetap sebagai etika
ketika etika tidak mengalami positivisasi untuk menjadi teks
peraturan perundang-undangan. Etika mengalami transformasi
menjadi peraturan perundang-undangan, apabila pembentuk undangundang (DPR dan hakim) menempatkan etika menjadi bunyi teks
atau dimuat dalam putusan hakim.

01/10/2015

D. IMPLEMENTASI KEHIDUPAN AGAMA,


FILSAFAT, YURIDIS.
Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan
mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan


filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Etika tidak dapat
menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk
memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi
dasar kehidupan dalam agamanya.

a. Hubungan Etika dengan Hati Nurani


Hati nurani merupakan suara hati manusia yang paling dalam.
Setiap manusia memiliki hati nurani. Dengan adanya hal tersebut
maka dapat melandasi setiap tindakan konkrit pada manusia. Hati
nurani juga mempengaruhi kesadaran manusia.
b. Hubungan Etika dengan Kebebasan Bertanggung Jawab
Kebebasan itu sangat diperlukan karena dapat membuat orang
merasa lebih hidup, senang, dapat berbuat sesuai dengan apa yang
mereka inginkan, bebas berekspresi, dan lepas. Namun kebebasan
tersebut harus diikuti dengan tanggung jawab dalam prakteknya.
Sehingga bangsa dan negara menjadi aman dan tertib.

10

01/10/2015

3. Hubungan Etika dengan Nilai dan Norma

Nilai adalah suatu yang memiliki arti atau harga. Sedangkan Norma
adalah peraturan dasar yang mengatur kehidupan masyarakat. Nilai
dan Norma sangat penting untuk membentuk suatu etika. Dengan
adanya nilai dan norma yang merupakan kelanjutan dari suatu
budaya, dapat membuat lingkungan yang menganut nilai dan norma
tersebut bertindak sesuai dengan apa yang telah diatur. Dengan kata
lain dapat bertindak sesuai etika yang berlaku dalam lingkungan
masyarakat

4. Hubungan Etika dengan Hak dan Kewajiban


Hak adalah segala sesuatu yang harus kita dapat dan miliki.
Sedangkan kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dijalankan.
Dalam kehidupan, haruslah terdapat keseimbangan antara hak dan
kewajiban. Sehingga akan tercipta suatu timbal balik yang baik dan
tidak berat sebelah antara pihak yang menuntut haknya dengan
pihak yang menuntut kewajibannya

11

01/10/2015

Pentingnya Etika dalam Kehidupan Sehari-hari dan


Kehidupan Ilmiah
Pertama, pandangan-pandangan moral yang beraneka ragam yang
berasal dari berbagai suku, kelompok, daerah, dan agama yang
berbeda dan yang hidup berdampingan dalam suatu masyarakat dan
Negara.
Kedua, modernisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan
besar dalam struktur masyarakat yang akibatnya dapat bertentangan
dengan pandangan-pandangan moral tradisional.
Ketiga, munculnya berbagai ideology yang menawarkan diri sebagai
penuntun kehidupan manusia dengan masing-masing ajarannya
tentang kehidupan manusia.

Selamat Belajar...
Semoga Sukses selalu.........
Sumber: http://agung-theraider.blogspot.com/2012/11/artikel-tentang-sumbersumber-etika_7774.html

12