Anda di halaman 1dari 7

qwertyuiopasdfghjklzxcvbn

mqwertyuiopasdfghjklzxcvb
nmqwertyuiopasdfghjklzxcv
bnmqwertyuiopasdfghjklzxc
AWAN DAN AEROSOL
MATERI MATA KLUIAH FISIKA
vbnmqwertyuiopasdfghjklzx
ATMOSFER
cvbnmqwertyuiopasdfghjklz
xcvbnmqwertyuiopasdfghjkl
zxcvbnmqwertyuiopasdfghj
klzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopas
dfghjklzxcvbnmqwertyuiopa
sdfghjklzxcvbnmqwertyuiop
asdfghjklzxcvbnmqwertyuio
pasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwert
yuiopasdfghjklzxcvbnmqwe
rtyuiopasdfghjklzxcvbnmrty
JURUSAN FISIKA FMIPA UNP

MATA KULIAH FISIKA ATMOSFER

AWAN DAN AEROSOL


1. Pembentukan Awan
Awan merupakan fasa yang penting dalam siklus air di atmosfer. Awan mempunyai
peran sebagai pengubah dari uap menjadi air. Bagaimanakah awan terbentuk? Secara
singkat awan terbentuk karena paket udara jenuh yang terangkat secara adiabatic
hingga mencapai lapisan kondensasi sehingga paket udara jenuh akan mengalami
kondensasi dan turun menjadi hujan.
1.1 Konveksi : teori parsel
Konveksi menyatakan gerak vertical elemen-elemen udara. Konveksi apung merupakan
proses yang mengarah pada pembentukan awan-awan konvektif (awan-awan cumulus).
Jika sebuah paket udara kering dengan volume V dengan temperature T dan densitas

. Paket udara tersebut memindahkan sebuah volume yang sama dari udara
lingkungan yang mempunyai temperatur T ' dan densitas ' . Gaya ke bawah pada
parsel sama dengan gaya ke bawah dari udara yang dipindahkan = V p / z . Jadi
gaya apung parsel udara kea rah atas = ' gV gV = Vg ( ' ) . Sehingga gaya
apung per satuan massa-nya adalah:
FB =

Vg ( ' )
( ' )
(T T ' )
= g
= g
.(1.1.)
V

Persamaan geraknya adalah:


d 2z
dt 2

= FB = g

(T T ' )
= gB..(1.2.)
T

di mana:
T,T ' : temperature parsel udara dan temperature udara lingkungan

, ' : densitas parsel udara dan densitas udara lingkungan


g

: percepatan gravitasi

: factor apung =

T
T'

Jika air terkondensasi berada bersama dengan parsel udara dalam bentuk tetes awan
atau tetes hujan, maka tetes akan melakukan gaya ke bawah pada paket udara dengan
berat yang sama dengan berat tetes. Sehingga factor apung B menjadi:

B=

T
T'

(1 ) (1.3.)

menunjukkan perbandingan campuran kondensat (air terkondensasi), yaitu massa


kondensat per satuan massa udara.
Jika elemen-elemen termal naik melalui awan, maka factor apungnya menjadi:
B=

T
T

'

(1 ' ) (1 ) (1.4.)

di mana:
' : perbandingan campuran kondensat dalam udara lingkungan

: perbandinagn campuran kondensat dalam parsel udara


1.2 Pembentukan tetes awan
a. Aerosol
Aerosol adalah partikel padat atu cair yang mengapung di udara. Beberapa aerosol
bersifat higroskopis dan bertidak sebagai inti kondensasi awan. Untuk memudahkan
semua jenis aerosol digambarkan berbentuk bola. Ukuran diameter partikel aerosol
mulai dari 10 nm untuk molekul-molekul sampai lebih dari 10 m untuk ukuran garam,
debu dan partikel-partikel hasil pembakaran.
b. Inti kondensasi
Proses fasa uap menjadi tetes-tetes air melalui inti kondensasi disebut pengintian
heterogen. Sedangkan pembentukan tetes-tetes dari uap dalam lingkungan murni yang
memerlukan kondisi kelewat jenuh (super saturation) disebut pengintian homogen. Awan
adalah kumpulan tetes-tetes kecil yang jumlahnya beberapa ratus per sentimeter kubik
dan mempunyai radius sekitar 10 m. endapan tumbuh jika populasi awan menjadi
labil. Ada dua mekanisme mikrostruktur awan labil, yang pertama: tumbukan (collision)
dan tangkapan (coalescence). Mekanisme kedua memerlukan interaksi antara tetes air
dan Kristal es dan terbatas pada awan yang puncaknya mencapai temperature di bawah
0OC.
Tetas akan stabil jika ukurannya melampau nilai kritis tertentu. Tetes yang lebih besar
dari ukuran kritis akan tumbuh dan tetes yang lebih kecil akan meluruh. Jika
keseimbangan terjadi antara tetes cair dan uapnya, maka kecepatan kondensasi dan
penguapan seimbang, dan tekanan uap sama dengan tekanan uap jenuh. Tekanan uap
jenuh di atas permukaan tetes bergantung pada kelengkungannya dan dinyatakan
dengan persamaan:


2
es(r) = es (~) exp
rR
v LT

(1.5.)

disebut persamaan Kelvin


di mana:
es(r)

: tekanan uap jenuh di atas permukaan tetes berbentuk bola

: jejari tetes

: tegangan permukaan tetes (sekitar 7.5 x 10-2 N/m = 75 dyne/cm)

: densitas tetes

: temperature

Rv

: konstanta gas untuk uap air

es(~)

: tekanan uap jenuh di atas air datar

Jika tekanan uap lingkungan e > es(r), maka tetes dengan jari-jari r akan tumbuh,
sebaliknya jika e < es(r), maka tetes akan meluruh. Ukuran kritis tets (r c) dapat
ditentukan dengan persamaan:
e - es(rc) = 0
atau
e = es(rc), subtitusikan pada persamaan (1.5), diperoleh

2
e = es(~) exp
rc R v L T

atau rasio jenuh S adalah:


S=

e
= exp
e s (~)

2
r R T
c v L

atau

2
Ln S =
r
R
c v LT

atau
rc =

2
.(1.6.)
Rv L T ln S

Agar tetes yang terbentuk stabil, maka tetes harus tumbuh pada jejari dengan besar
lebih dari rc.

c. Zat larut

Jika jejari tetes larutan r tidak terlalu kecil, maka persamaan tekanan uap jenuh tetes
larutan es ' (r) dapat didekati dengan persamaan:

e ' (r )
a b
a b
1 3 atau S = 1 3 .(1.7.)
e s (~)
r r
r r
Dalam hal ini, a/r dapat disebut suku lengkungan yang menyatakan kenaikan rasio jenuh
sebuah tetes terhadap permukaan datar. Suku b/r3 disebut suku larutan yang
menunjukkan penurunan tekanan uap akibat adanya zat terlarut. Secara numeric, nilai a
dan b masing-masing adalah:

a=

3,3 xM s
3,3 x10 5
(cm 3 )
(cm) dan b =
ms
T

Untuk nilai-nilai T, Ms, dan ms persamaan (1.7) menggambarkan ketergantungan rasio


jenuh (S) pada ukuran sebuah tetes larutan seperti yang digambarkan dalam kurva
Kohler berikut:

Nilai jejari kritis rc dan rasio jenuh kritis Sc dapat diturunkan dari persamaan (1.7) dengan
mendeferensiasi S terhadap r kemudian disamadengankan nol.

a b
dS
0 dengan S = 1 3 , sehingga diperoleh:
dr
r r
rc =

3b
a

dan Sc = 1+

4a 3
(1.8)
27b

d. Mikrostruktur awan

Jenis sebuah awan tumbuh secara kontinu, maka puncak awan melewati isotherm 0 OC.
Meskipun demikian sebagian tetes awan berbentuk cair yang disebut tetes awan
kelewat dingin, dan sebagian lagi berbentuk padat atau Kristal-kristal es bila tetes
bertemu dengan inti pembekuan. Tetes kelewat dingin yang tidak menemukan inti
pembekuan akan menjadi beku pada temperature sekitar -40 OC atau lebih rendah. Di
bawah ketinggian isotherm 0OC, semua tetes awan berbentuk cair. Mikrostruktur awan
seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

1.3. Pertumbuhan tetes awan


Misalkan M adalah kadar air awan per satuan volume, yaitu massa semua butiran yang
terkandung dalam satuan volume. Pertambahan massa tetes secara empiris ditulis
dengan persamaan berikut:
dm
EM ( R r ) 2 (u ( R ) u ( r )) ..(1.9)
dt
di mana:

: kadar air cair awan dalam satuan mass ape satuan volume

R,r

: jejari tetes dan butiran

u(R), u(r)

: kecepatan terminal tetes dan butiran

E adalah nilai rata-rata efektif efisiensi koleksi atau factor koreksi untuk populasi

butiran,

yaitu

perkalian

efisiensi

kolisi/tumbukan

(E1)

dengan

efisiensi

koalisensi/tangkapan (E2). Jika ukuran tetes mendekati 100 m , maka efisiensi


koalisensi dinggap mendekati satu sehingga efisiensi koleksi identik dengan efisiensi
kolisi atau E = E1.E2 = E1
Jika massa tetes m dinyatakan dengan radius R, maka persamaan (1.9) menjadi:
dR
EM
r

(1 ) 2 (u ( R ) u (r )) ..(1.10)
dt
4 L
R

Untuk R >> r, maka (u(R) >> u(r)), sehingga persamaan (1.10) menjadi:
dR
EM

u ( R ) ..(1.11)
dt
4 L

di mana L adalah densitas air


1.4.

Distribusi ukuran tetes hujan

Distribusi ukuran tetes (kecuali untuk ukuran yang sangat kecil), dapat didekati dengan
persamaan:
N(D) = N0 e D .(1.12)
N(D) dD adalah jumlah tetes per satuan volume dengan diameter antara D dan D+

dD , dan merupakan faktor kemiringan yang bergantung pada intensitas hujan,


dengan persamaan:

(R) = 41 R0,21
mempunyai satuan cm-1 dan R (intensitas hujan) dalam mm/jam dan N0 = 0,08 cm-4
***ooo****
Sumber: awan dan aerosol disarikan dari: buku Meteorologi Terapan (Bayong Tjasyono
HK, Penerbit ITB, tahun 2008), Cloud Dynamics (Steven Rutledge, bahan presentasi
remote sensing symposium, tahun 2009) dan materi-materi lain mengenai cloud
micropysics.