Anda di halaman 1dari 8

HAMA TANAMAN KUBIS

Sayuran merupakan bahan pangan penting bagi penduduk Indonesia yang diperlukan
setiap hari. Di antara sayuran yang ditanam, kubis (Brassica oleracea var. capitata L.) banyak
diusahakan dan dikonsumsi karena sayuran tersebut dikenal sebagai sumber vitamin (A, B dan
C), mineral, karbohidrat, protein dan lemak yang amat berguna bagi kesehatan. Seperti
beberapa jenis sayuran lainnya, kubis memiliki sifat mudah rusak, berpola produksi musiman
dan tidak tahan disimpan lama. Sifat mudah rusak ini dapat disebabkan oleh daun yang lunak
dan kandungan air cukup tinggi, sehingga mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan
hama/penyakit tanaman.
Kehilangan hasil kubis yang disebabkan oleh serangan hama dapat mencapai 10-90
persen. Ulat daun kubis P. xylostella bersama dengan ulat jantung kubis Crocidolomia
pavonana F. mampu menyebabkan kerusakan berat dan dapat menurunkan produksi kubis
sebesar 79,81 persen. Kondisi seperti ini tentu saja merugikan petani sebagai produsen kubis.
Oleh karena itu upaya pengendalian hama daun kubis ini sebagai hama utama tanaman kubis
perlu dilakukan untuk mencegah dan menekan kerugian akibat serangan hama tersebut.
Petani pada umumnya mengatasi gangguan ulat kubis dengan menggunakan insektisida
kimia sintetik. Ditinjau dari segi penekanan populasi hama, pengendalian secara kimiawi
dengan insektisida memang cepat dirasakan hasilnya, terutama pada areal yang luas. Tetapi,
selain memberikan keuntungan ternyata penggunaan insektisida yang serampangan atau tidak
bijaksana dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.
A. Hama Tanaman Kubis
1. Hama Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Klasifikasi Hama
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthrophoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Lepidopthera

Famili

: Pluetelidae

Genus

: Plutela

Spesies

: Plutela xylostella

Gambar Plutella xylostella


(Kalshoven, 1981)

Bioekologi Hama
Hama ulat daun kubis Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae)
merupakan salah satu jenis hama utama di pertanaman kubis. Apabila tidak ada tindakan

pengendalian, kerusakan kubis oleh hama tersebut dapat meningkat dan hasil panen
dapat menurun baik jumlah maupun kualitasnya. Serangan yang timbul kadang-kadang
sangat berat sehingga tanaman kubis tidak membentuk krop dan panennya menjadi
gagal. Kehilangan hasil kubis yang disebabkan oleh serangan hama dapat mencapai 1090 persen (Kalshoven, 1981).
Telur kecil bulat atau oval ukuran 0,6 x 0,3 mm, berwarna kuning, diletakkan
secara tunggal atau berkelompok di bawah daun kubis. Namun, di laboratorium bila
ngengat (dewasa) betina dihadapkan pada tanaman muda maka mereka bertelur pada
bagian batang. Stadium telur antara 3-6 hari (Kalshoven, 1981).
Larva (ulat) terdiri dari 4 instar, berwarna hijau, lincah, dan bila tersentuh larva
akan menjatuhkan diri.. Larva instar pertama setelah keluar dari telur segera menggerek
masuk ke dalam daging daun. Instar berikutnya baru keluar dari daun dan tumbuh
sampai instar keempat. Pada kondisi lapangan, perkembangan larva dari instar I-IV
selama 3-7; 2-7; 2-6; dan 2-10 hari. Larva atau ulat mempunyai pertumbuhan
maksimum dengan ukuran panjang tubuh mencapai 10-12 mm. Larva Plutella xylostella
memiliki tipe alat mulut penggigit, umumnya mudah dibedakan dengan larva serangga
hama lainnya karena larva ini tidak mempunyai garis membujur pada tubuhnya. Ketika
larva (ulat) muda menetas dari telur, maka larva akan mulai untuk menyerang tanaman
dengan cara mengorok daun kubis selama 2-3 hari. Selanjutnya memakan jaringan
bagian permukaan bawah daun atau permukaan atas daun dan meninggalkan lapisan
tipis/transparan sehingga daun seperti berjendela dan akhirnya sobek serta membentuk
lubang-lubang kecil. Apabila tingkat populasi larva tinggi, maka seluruh daun akan
dimakan dan hanya tulang daun yang ditinggalkan (Sari, 2009).
Prepupa berlangsung selama lebih kurang 24 jam, setelah itu memasuki stadium
pupa. Panjang pupa bervariasi sekitar 4,5-7,0 mm dan lama umur pupa 5-15 hari. Pupa
terletak pada daun atau batang, seperti jalinan benang berwarna putih sehingga nampak
seperti kumparan benang (Sari, 2009).
Serangga dewasa berupa ngengat (kupu-kupu) berukuran kecil, berbentuk
ramping, berwarna coklat-kelabu, panjangnya 1,25 cm, sayap depan bagian dorsal
memiliki corak khas yaitu tiga titik kuning seperti berlian, sehingga hama ini terkenal
dengan nama ngengat punggung berlian (diamondback moth). Nama lain dari serangga
tersebut adalah ngengat tritip dan ngengat kubis (cabbage moth). Aktif pada malam hari
(nocturnal), dapat berpindah-pindah dari satu tanaman ke tanaman lain atau daerah ke

daerah lain dengan bantuan hembusan angin. Siklus hidup berlangsung sekitar 2-3
minggu mulai dari telur hingga menjadi dewasa (Kalshoven, 1981).

Gejala Serangan
Stadium yang membahayakan adalah larva (ulat) karena
menyerang permukaan daun dan melubangi daging daun (epidermis).
Gejala serangan yang khas adalah daun berlubang-lubang seperti
jendela yang menerawang dan tinggal urat-urat daunnya saja. Akibat
serangan hama ini, kehilangan hasil dapat mencapai 58%-100%,
terutama di musim kemarau (Hermintato, 2010).

Tanaman Inang
Selain menyerang tanaman kubis, hama P. xylostella juga
ditemukan menyerang berbagai jenis tanaman yang masih termasuk
famili Brassicaceae (Cruciferae) seperti : lobak, lobak cina, petai,
brokoli, kembang kol, dan mustard. Tanaman brassica liar seperti
misalnya B. elongata, B. fruticulosa, Roripa sp. dan lainnya juga
menjadi inang ulat kubis (Hermintato, 2010).

2. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Klasifikasi Hama
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Noctuidae

Genus

: Agrotis

Spesies

: Agrotis ipsilon
(Kalshoven, 1981)

Bioekologi
Telur diletakkan satu-satu atau dalam kelompok. Bentuk telur seperti kerucut
terpancung dengan garis tengah pada bagian dasarnya 0,5 mm. Seekor betina dapat
meletakkan 1.430 - 2.775 butir telur. Warna telur mula-mula putih lalu berubah menjadi
kuning, kemudian merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada puncaknya. Titik
hitam tersebut adalah kepala larva yang sedang berkembang di dalam telur. Menjelang

menetas, warna telur berubah menjadi gelap agak kebiru-biruan. Stadium telur
berlangsung 4 hari (Kalshoven, 1981).

Larva menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di permukaan tanah kirakira sedalam 5 - 10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari untuk
menggigit pangkal batang. Larva yang baru keluar dari telur berwarna kuning kecoklatcoklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1 - 2 mm. Sehari kemudian larva mulai
makan dengan menggigit permukaan daun. Larva mengalami 5 kali ganti kulit. Larva
instar terakhir berwarna coklat kehitam-hitaman. Panjang larva instar terakhir berkisar
antara 25 - 50 mm. Bila larva diganggu akan melingkarkan tubuhnya dan tidak bergerak
seolah-olah mati. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari (Kalshoven, 1981).
Pembentukan pupa terjadi di permukaan tanah. Pupa berwarna cokelat terang
atau cokelat gelap. Lama stadia pupa 5 6 hari.

Imago, umumnya ngengat famili noctuidae menghindari cahaya matahari dan


bersembunyi pada permukaan bawah daun. Sayap depan berwarna dasar coklat keabuabuan dengan bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna
dasar sayap belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap
depan berkisar 16 -19 mm dan lebar 6 - 8 mm. Ngengat dapat hidup paling lama 20 hari.
Apabila diganggu atau disentuh, ngengat menjatuhkan diri pura-pura mati.
Perkembangan dari telur hingga serangga dewasa rata-rata berlangsung 51 hari
(Kalshoven, 1981).

Gejala serangan
Larva merupakan stadia perusak yang aktif pada malam hari untuk mencari
makan dengan menggigit pangkal batang. Tanaman yang terserang adalah tanamantanaman muda. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping
menggigit pangkal batang, larva yang baru menetas, sehari kemudian juga menggigit

permukaan daun. Ulat tanah sangat cepat pergerakannya dan dapat menempuh jarak
puluhan meter. Seekor larva dapat merusak ratusan tanaman muda (Sasmito, 2010).

Tanaman inang
Selain menyerang tanaman tomat, ulat tanah juga menyerang tanaman jagung,
padi, tembakau, tebu, bawang, kubis, kentang dan sebagainya (Kalshoven, 1981).

B. Teknik Pengendalian Hama Tanaman Kubis


Pengendalian yang digunakan oleh Pak Sudarmanto adalah insektisida dengan
merek endure dengan bahan aktif spinetoram 120 g/L. Selain insektisida Pak Sudarmanto
juga mengaplikasikan fungisida dengan merk Daconil dengan bahan aktif klorotalonil 75%
dan kedua pestisida tersebut digunakan sesuai dengan kebutuhan, jika terlihat ada hama
maka dilakukan penyemprotan, namun jika tidak, tidak dilakukan penyemprotan dan
pengamatan lahan dilakukan tiap tiga kali sehari.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari hasil diskusi yang telah dilakukan didapat kesimpulan bahwa hama yang
terdapat di Lahan Pak Sudarmanto ada 2 jenis yaitu ulat kubis (Plutella xylostella) dan ulat
tanah (Agrotis ipsilon), serangan kedua hama ini dapat berdampak kerugian yang sangat
besar dengan tingkat kerusakan 10-90 %, walaupun sebenarnya masih ada hama yang biasa
menyerang tanaman kubis tetapi tidak ditemukan saat pencarian di lahan. Pak Sudarmanto
menggunakan pestisida sebagai pengendali populasi hama yang ada di lahan kubis salah
satunya Green Tone.

DAFTAR PUSTAKA
Hermintato. 2010. Hama ulat daun kubis Plutella xylostella L. Dan upaya
pengendaliannya. Tersedia dalam
http://www.gerbangpertanian.com/2010/08/hama-ulat-daunkubis-plutella.html. 28 Februari 2013
Kalshoven, L.G.E., 1981. Pest of Crops in Indonesia. Rev. By Van Der Laan.
Ichtiar Bani Van Boeve, Jakarta.
Sari, 2009. Ulat Daun Kubis. http://sarimanis.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 10 Oktober 2015.
Sasmito, 2010. Aplikasi Sistem Pakan Untuk Simulasi Diagnosa Hama dan
Penyakit Tanaman

Bawang Merah dan Cabai Menggunakan

Forward Chaining dan Pendekatan

Berbasis Aturan. Program Pasca

Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang.