Anda di halaman 1dari 18

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Merger dan Akuisisi yang akan dilakukan oleh PT Surya Citra Media Tbk
(SCTV) terhadap PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar) telah menjadi
perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat sejak berita ini berhembus dari
tahun 2008 lalu. Seperti yang kita ketahui PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
merupakan salah satu stasiun televisi terkemuka yang berdiri pada tahun 1993,
berbekal SK Menteri Penerangan No 111/1992 SCTV melakukan siaran nasional
ke seluruh Indonesia sedangkan PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)
merupakan salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia yang tidak
kalah terkemuka dan beroperasi dari Jakarta sejak tahun 1994. Kedua perusahaan
tersebut sama-sama bergerak dalam bidang pernyiaran pertelevisian di Indonesia
dan tentu saja sepak terjang dari kedua perusahaan tersebut sudah tidak bisa
diragukan lagi.
Merger dan Akuisisi yang akan dilakukan kedua perusahaan ini diduga
dan dikhawatirkan menimbulkan monopoli karena antara SCTV dan Indosiar
dipandang memiliki pangsa lumayan besar di Indonesia. Terlepas dari
permasalahan monopoli merger dan akuisisi yang akan dilakukan kedua
perusahaan tersebut terhalang oleh Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang
Penyiaran, dimana

tidak memperbolehkan dua stasiun televisi dimiliki satu

pemilik. Dari permasalahan-permasalahan inilah untuk itu kami akan melakukan


analisis mengenai Merger dan Akuisisi SCTV terhadap Indosiar, dimana apakah
dampak dari Merger dan Akuisisi yang dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut
menghasilkan hasil positif maupun negatif dan sebagai tugas akhir dari
perkuliahan Merger dan Akuisisi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1

Temukan harga saham SCTV dan Indosiar pada tahun 2010


1

July 1, 2011

1.2.2

[BY: NOVI & LITA]

Temukan laporan keuangan perusahaan dari 3 periode terakhir (31

Desember 2008, 31 Desember 2009, 31 Desember 2010)


1.2.3

Perusahaan manakah yang berhak mengakuisisi berdasarkan laporan

keuangan dan beserta alasannya?


1.2.4

Mengapa perusahaan tersebut berencana melakukan akuisisi? (dilihat

dari segi teori dan praktik)


1.2.5

Apakah yang akan terjadi apabila hasil Merger & Akuisisi dilakukan

(dilihat dari posisi keuangan).


1.2.6

Temukan harga perusahaan (value) yang tepat dari perusahaan -

perusahaan tersebut dengan menggunakan metode yang berbeda.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1

Menganalisis perusahaan mana yang berhak melakukan merger dan

akuisisi dilihat dari harga saham masing - masing perusahaan.


1.3.2

Menganalisis perusahaan mana yang berhak melakukan merger dan

akuisisi dilihat dari laporan keuangan (31 Desember 2008, 31 Desember 2009, 31
Desember 2010)
1.3.3

Menganalisis alasan perusahaan yang berhak melakukan merger dan

akuisisi berdasarkan laporan keuangan.


1.3.4

Menganalisis rencana perusahan melakukan merger dan akuisisi

berdasarkan teori dan praktik.


1.3.5

Menganalisis yang terjadi apabila merger dan akuisisi dilakukan

berdasarkan posisi laporan keuangan.


1.3.6

Menganalisis harga perusahaan (value) yang tepat dari masing -

masing perusahaan dengan menggunakan metode yang berbeda.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1

Mengetahui dan memahami bagaimana cara menganalisis laporan

keuangan dari masing-masing perusahaan sehingga dapat mengetahui yang


berhak melakukan merger dan akuisisi
1.4.2

Mengetahui dan memahami rencana dan yang melatarbelakangi

perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi berdasarkan teori dan praktik.
2

July 1, 2011

1.4.3

[BY: NOVI & LITA]

Mengetahui dan memahami yang terjadi apabila merger dan akuisisi

dilakukan
1.4.4

Mengetahui dan memahami harga perusahaan (value) yang tepat dari

masing - masing perusahaan dengan metode yang berbeda.

1.5 Sistematika Penulisan


Untuk memperoleh gambaran yang cukup jelas mengenai pembahasan dalam
penelitian ini maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini dibahas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian
dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORETIS
Bab ini membahas pengertian-pengertian objek penelitian, yang dijadikan
dasar untuk melakukan pengolahan data, pembahasan masalah, serta penarikan
kesimpulan.
BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas analisis hasil penelitian berdasarkan teoritis dan praktis.
BAB IV KESIMPULAN
Berisi simpulan dari hasil analisis penelitian dari pengumpulan dan
pengolahan data pada bab-bab sebelumnya, serta mengenai saran-saran
yangbermanfaat.

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1. Pengertian Merger dan Akuisisi


Merger adalah penggabungan dua perusahaan menjadi satu, dimana
perusahaan yang me-merger mengambil atau membeli semua assets dan liabilities
perusahaan yang di-merger dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki
paling tidak 50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan
mengaburkan identitas yang dimilikinya, sedangkan perusahaan yang dominan
dibanding dengan perusahaan yang lain akan tetap mempertahankan identitasnya.
Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan membeli
saham atau aset perusahaan tersebut, namun perusahaan yang dibeli tetap ada.

2.2. Jenis-Jenis Merger dan Akuisisi


Berdasarkan hubungan usaha serta jenis perusahaan yang bergabung, merger
atau akuisisi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
2.2.1. Horizontal merger adalah penggabungan dua jenis perusahaan atau lebih
ketika dua perusahaan tersebut

bergerak di bidang industri yang sama dan

bergabung. Contohnya, Restoran cepat saji menggabungkan diri dengan


perusahaan peternakan ayam.
2.2.2. Vertikal merger adalah penggabungan dua jenis perusahaan atau lebih yang
terjadi ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan supplier atau
customernya. Contohnya, pabrik komputer yang gabung dengan pabrik komputer.
2.2.3. Congeneric merger adalah penggabungan dua jenis perusahaan atau lebih
yang terjadi ketika perusahaan yang bergerak dalam idustri yang sama tetapi tidak
dalam garis bisnis yang sama dengan supplier atau customernya. Keuntungannya
adalah perusahaan dapat menggunakan penjualan dan distribusi yang sama.
2.2.4. Conglomerate merger terjadi ketika perusahaan yang tidak berhubungan
bisnis

melakukan

merger.

Keuntungannya

adalah

dapat

mengurangi

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

resiko. Contohnya,

perusahaan

pengobatan

alternatif

bergabung

dengan

perusahaan operator telepon seluler nirkabel.

2.3. Alasan perusahan melakukan merger dan akuisisi


Menurut gitman (2003,p.714-716), ada beberapa alasan perusahaan yang perlu
kita keahui mengapa melakukan penggabungan baik melalui merger maupun
akuisisi, yaitu :

2.3.1. Pertumbuhan atau diversifikasi


Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar
saham, maupun diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi.
Perusahaan tidak memiliki resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan
ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka perusahaan dapat mengurangi
perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan.
2.3.2. Sinergi
Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi
(economies of scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya
overhead meningkatkan pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan
perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang
melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi dan tenaga kerja
yang berlebihan dapat dihilangkan.
2.3.3. Meningkatkan dana
Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi
internal, tetapi dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal.
Perusahaan tersebut menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki
likuiditas tinggi sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan
penurunan kewajiban keuangan. Hal ini memungkinkan meningkatnya dana
dengan biaya rendah.
2.3.4.Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi
Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya
efisiensi pada manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak
dapat mengefisiensikan manajemennya dan tidak dapat membayar untuk
5

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

mengembangkan teknologinya, dapat menggabungkan diri dengan perusahaan


yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli.
2.3.5. Pertimbangan pajak
Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau
sampai kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak
dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk
memanfaatkan kerugian pajak. Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan
menaikkan kombinasi

pendapatan setelah

pajak dengan mengurangkan

pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun


merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari
tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik.
2.3.6. Meningkatkan likuiditas pemilik
Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang
lebih besar. Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan
saham lebih mudah diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan
perusahaan yang lebih kecil.
2.3.7 Melindungi diri dari pengambilahlian
Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang
tidak bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai
pengambilalihannya dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban
perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk ditanggung oleh bidding firm yang
berminat
2.4. Taktik taktik Merger dan Akuisisi
Menurut Gitman (2003, p.729-730), ada beberapa taktik yang digunakan untuk
melakukan merger adalah sebagai berikut :

2.4.1. Tender offer


Tender offer adalah suatu penawaran formal untuk membeli sejumlah saham dari
sebuah perusahaan dengan harga tertentu. Penawaran diajukan kepada semua
pemegang saham dengan nominal yang berada diatas harga pasar. Pada umumnya
pengakuisisi akan mengadakan two - tier - offer atau penawaran dua tingkat, yang
6

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

berarti penawaran tersebut akan lebih aktraktif bagi mereka yang menjual
sahamnya lebih awal.
2.4.2.
Jika

Taktik - taktik bertahan


manajemen

dari

target

firm

tidak

menginginkan

merger,

atau

mempertimbangkan bahwa harga yang ditawarkan dalam proses merger terlalu


rendah.maka mereka akan cenderung bersikap defensive. Takeoffer defense atau
pertahanan terhadap pengambilahlian pada dasarnya adalah strategi - strategi
yang dijalankan oleh target firm untuk bertahan terhadap pengambilahlian
paksa.cara - cara yang digunakan antara lain :
2.4.2.1.

White Knight

Strategi pertahanan terhadap pengambilahlian dimana target firm menemukan


pengakuisisi lain yang lebih dapat diterima olehnya ketimbang pengakuisisi yang
terdahulu. Dengan demikian, kedua perusahaan pengakuisisi tersebut akan
berkompetisi untuk mengambil ahli target firm.
2.4.2.2.

Poison pills

Strategi pertahanan terhadap pengambilahlian dimana perusahaan akan


menerbitkan sekuritas - sekuritas yang memberikan kepada para pemegangnya
sebuah hak yang akan berlaku efektif pada waktu terjadi proses pengambilahlian.
Hal ini membuat perusahaan kurang disukai oleh perusahaan pengakuisisi.
2.4.2.3.

Shark repellents

Sebuah amandemen anti pengambilahlian yang dilakukan corporate charter, yang


membatasi kemampuan perusahaan untuk mengalihkan control manajerial ke
perusahaan pengakuisisi, yang biasanya terjadi pada saat merger.

2.5. Kelebihan dan Kekurangan Merger dan Akuisisi


2.5.1. Kelebihan Merger
Menurut Harianto dan Sudomo, 2001, p.641, merger pada dasarnya memiliki
kelebihan yaitu pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan lebih murah
dibanding pengambilalihan yang lain.

2.5.2. Kekurangan Merger


7

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

Menurut Harianto dan Sudomo, 2001, p.641, dibandingkan dengan akuisisi,


merger memiliki beberapa kekurangan, yaitu harus ada persetujuan dari para
pemegang saham masing-masing perusahaan,sedangkan untuk mendapatkan
persetujuan tersebut diperlukan waktu yang lama.

2.6.3. Kelebihan Akuisisi


Menurut Harianto dan Sudomo, 2001, p.643-644, akuisisi memiliki keuntungan
baik dari segi keuntungan akuisisi saham maupun akuisisi aset adalah sebagai
berikut:
2.6.3.1 Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara
pemegang saham sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran
Bidding firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak menjual kepada pihak
Bidding firm.
2.6.3.2.Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan
langsung dengan pemegang saham perusahaan yang dibeli dengan melakukan
tender offer sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen perusahaan.
2.6.3.3.Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris
perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan
yang tidak

bersahabat (hostile takeover).

2.6.3.4.Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak


memerlukan mayoritas suara pemegang saham seperti pada akuisisi saham
sehingga tidak ada halangan bagi pemegang saham minoritas jika mereka tidak
menyetujui akuisisi.

2.6.4. Kekurangan Akuisisi


Menurut Harianto dan Sudomo, 2001, p.643, terlepas dari keuntungan yang
dimiliki akuisisi, akuisisi juga memiliki kerugian baik dari segi kerugian akuisisi
saham maupun kerugian akuisisi asset yang dimiliki seperti yang dijelaskan
sebagai berikut :
2.6.4.1.Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui
pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. Pada umumnya anggaran
8

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

dasar perusahaan menentukan paling sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara
setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi.
2.6.4.2.Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka
terjadi

merger.

2.6.4.3.Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara
hukum dibalik nama sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.

2.6. Latar Belakang PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)


SCTV (awalnya singkatan dari Surabaya Central Televisi) mengudara pertama
kali pada tanggal 24 Agustus 1990 di Surabaya, Jawa Timur, dengan jangkauan
wilayah Surabaya dan sekitarnya (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, dan
Lamongan). Pada tahun 1991, pancaran siaran SCTV meluas mencapai Bali dan
sekitarnya.Sejak itu kepanjangan SCTV menjadi Surya Citra Televisi. Pada
tanggal 1 Januari 1993, berbekal SK Menteri Penerangan No. 111/1992, SCTV
mengudara secara nasional. Secara bertahap, bertahap mulai tahun 1993 sampai
dengan 1998, SCTV memindahkan basis operasi media siaran nasionalnya dari
Surabaya ke Jakarta. Saat ini, melalui 47 stasiun transmisi, SCTV mampu
menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial
pemirsa.
Sejak Januari 2005, SCTV mengubah logo dan slogannya menjadi "Satu
Untuk Semua". sebelumnya Slogan SCTV adalah "SCTV ngetop" .Saat ini kantor
pusat SCTV terletak di SCTV Tower, Senayan City, Jalan Asia Afrika Lot 19,
Jakarta Pusat.
Sebelum 23 November 2007, kantor pusat SCTV berada di Jalan Gatot
Subroto Kavling 21 Jakarta. SCTV juga memiliki studio penta di Jalan Raya
Perjuangan No. 3-4 Komplek Kawasan RCTI, Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta
Barat. Saat ini kepemilikan SCTV dikuasai oleh grup Elang Mahkota Teknologi
melalui Surya Citra Media (SCM).
Sejak pertengahan 1990-an, SCTV yang semula satu manajemen dengan RCTI
akhirnya keduanya berpisah manajemen. Melalui 47 stasiun transmisi, SCTV
mampu menjangkau 240 kota dan menggapai sekitar lebih dari 175 juta potensial
pemirsa. Dinamika ini terus mendorong SCTV untuk selalu mengembangkan
9

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

profesionalisme sumber daya manusia agar dapat senantiasa menyajikan layanan


terbaik bagi pemirsa dan mitra bisnisnya.
SCTV telah melakukan transisi ke platform siaran dan produksi digital, yang
merupakan bagian dari kebijakan untuk

secara konsisten mengadopsi

kecanggihan teknologi dalam meningkatkan kinerja dan efsiensi operasional.


Dalam semangat yang sama, kebijakan itu telah meletakkan penekanan yang
kokoh pada pembinaan kompetensi individu di seluruh aspek untuk mempertajam
basis pengetahuan seraya memupuk talenta, kreativitas dan inisiatif. Inilah kunci
untuk memperkuat posisi SCTV sebagai salah satu dari stasiun penyiaran
terkemuka di Indonesia.

2.7. Latar Belakang PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)


PT Indosiar Visual Mandiri (Perseroan) adalah salah satu dari sederetan televisi
swasta nasional di Indonesia yang terbilang sukses menjadi stasiun televisi
terkemuka dengan tayangan berkualitas yang bersumber pada in-house
production, kreativitas dan sumber daya manusia yang handal. Didirikan pada
tahun 1991 dan mulai beroperasi dengan menayangkan siaran perdana pada
tanggal 11 Januari 1995, Perseroan merupakan televisi termuda dari 4 televisi lain
yang sudah ada pada masa itu. Kehadiran Perseroan telah memberikan
pencerahan bagi industri pertelevisian Indonesia lewat serangkaian terobosan dan
inovasi baru yang mengutamakan kepuasan stakeholders serta kepedulian
terhadap lingkungan sekitar. Tidak heran jika dalam kurun waktu 5 tahun
kemudian Perseroan mampu mensejajarkan diri bahkan memimpin dalam
perolehan rating dan share pemirsa.
Perseroan sejak dulu dikenal terdepan dalam menyajikan program-program
produksi sendiri baik dalam bentuk drama, non drama maupun pemberitaan.
Sebanyak 45% dari seluruh program yang ditayangkan Perseroan diproduksi
secara in-house dan lebih dari separuhnya disiarkan secara langsung. Didukung
sumber daya manusia yang terampil dan berpengalaman di bidangnya, Perseroan
senantiasa menyajikan program-program yang tidak hanya menarik bagi pemirsa
namun juga berkualitas, sehingga setiap tahunnya Perseroan memperoleh
penghargaan bertaraf nasional maupun internasional. Penghargaan terkini yang
10

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

diperoleh Perseroan adalah Asian Television Awards 2005 untuk program


Misa Malam Natal dan The Bells A Christmas Concert.
Agar program yang ditayangkan Perseroan dapat dinikmati oleh seluruh
pemirsa hingga pelosok tanah air, Perseroan telah memiliki 34 stasiun relai pada
akhir tahun 2005 dengan jangkauan siaran yang mencapai 80% dari total
penduduk Indonesia. Saat ini Perseroan sedang membangun stasiun pemancar
baru di Jakarta dengan tinggi kurang lebih 400 meter untuk meningkatkan
kualitas penerimaan siaran di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya yang terganggu
akibat perkembangan pembangunan gedung-gedung tinggi yang sangat cepat
selama 5 tahun terakhir.
Dalam tiap aksi korporasinya sejak awal berdiri, Perseroan selalu
menempatkan kepuasan stakeholders sebagai prioritas utama, khususnya dalam
hal memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan investor. Aksi
korporasi

Restrukturisasi

Perseroan

yang

ditempuh

akhir

tahun

2004

memungkinkan Pemegang Saham Perseroan memiliki saham baru perusahaan


induk PT Indosiar Karya Media yang berpeluang lebih besar dalam melakukan
diversifikasi usaha.
Konsistensi upaya Perseroan dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang
sahamnya selama 5 tahun berturut-turut membawa Perseroan kembali meraih
penghargaan The Value Creator Award dari Majalah SWA Sembada di akhir
tahun 2005. Di tengah kondisi makro ekonomi yang dibayangi krisis baru dan
ambruknya pasar obligasi, Obligasi Perseroan berhasil masuk dalam daftar
peringkat Obligasi Korporasi Terbaik 2005 versi Majalah Investor.
Penghargaan-penghargaan tersebut menunjukkan kepercayaan dunia usaha
terhadap Perseroan dan mendorong Perseroan untuk menciptakan value added
bagi pemegang saham secara konsisten dan berkesinambungan di tahun-tahun
mendatang.
Kesuksesan dalam mengarungi kancah pertelevisian tidak membuat Perseroan
lupa pada misi sosial yang diembannya. Kegiatan sosial Peduli Kasih dan Kita
Peduli yang digalakkan dengan mengumpulkan dana dari para pemirsa secara
sukarela adalah salah satu bentuk kepedulian Perseroan terhadap penderitaan
rakyat kecil. Penyaluran dana dilakukan secara transparan dan bertanggung
11

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

jawab. Perseroan juga turut berperan aktif membantu program pemerintah


mencerdaskan

kehidupan

bangsa

khususnya

dalam

mengarahkan

dan

menyalurkan kreativitas seni melalui pendidikan broadcast yang diselenggarakan


oleh Akademi Teknologi Komunikasi dan Informasi (ATKI) yang berada di
bawah naungan Yayasan Indosiar.

12

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1. Analisis Teoritis
Dalam bab ini, penulis akan mengadakan dua analisis yaitu analisis secara
teoritis dan analisis secara praktis. Dalam analisis secara teoritis penulis akan
meneliti untuk menjawab pertanyaan akhir, perusahaan mana yang berhak
mengakuisisi berdasarkan analisis terhadap harga saham, value laporan keuangan,
penilaian ratio serta menghitung value perusahaan bila terjadi akuisisi.

3.1.1 Harga saham


Adapun harga saham dilihat dari harga close perusahaan masing-masing, yaitu
sebagai berikut:

a. PT Surya Citra Media Tbk (SCTV), pada tahun 2010 dari bulan JanuariAgustus

13

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

b. PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar), pada tahun 2010 dari bulan JanuariAgustus

3.1.2. Value Perusahaan berdasarkan Laporan Keuangan


Berdasarkan Laporan Keuangan (dilampirkan) maka kita dapat menilai
perusahaan mana yang berhak mengakuisisi perusahaan lainnya dengan
menghitung seberapa besar value perusahaan. Value Perusahaan dihitung dari
total kewajiban ditambah total ekuitas.
a. Value Perusahaan PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
Tahun 2008 = 966.341.449.000,00 + 1.355.960.452.000,00

= 2.322.301.901.000,00
Tahun 2009 = 964.172.183.000,00 + 1.395.664.398.000,00
= 2.359.836.581.000,00
Tahun 2010 = 1.028.801.124.000,00 + 1.486.766.263.000,00
= 2.515.567.387.000,00
b. Value Perusahaan PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)
Tahun 2008 = 930.374.977.771,00 + 281.846.622.254,00

= 1.212.248.821.518,00
Tahun 2009 = 857.778.950.293,00 + 290.359.769.962,00
= 1.158.365.676.344,00
Tahun 2010 = 652.892.999.099,00+ 298.655.062.552,00
14

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

= 961.775.329.680,00
Berdasarkan perhitungan value perusahaan, maka perusahaan yang berhak
mengakuisisi adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCTV) dimana value
perusahaannya lebih tinggi.

3.1.3. Value Perusahaan Setelah Merger dan Akuisisi


Jika terjadi akuisisi antara SCTV dengan Indosiar maka posisi laporan keuangan
akan menjadi sebagai berikut:
Total
Asset

10.007.294.516.903

Total
Liablilities

6.529.951.800.223

Total
Equity

310.369.096.844

3.1.4. Penilaian Ratio


Cash Ratio
PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
Tahun 2008 = 69.2 %
Tahun 2009 = 70 %
Tahun 2010 = 166.5 %

PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)


Tahun 2008 = 6.6 %
Tahun 2009 = 5.9 %
Tahun 2010 = 9.6 %
Artinya current asset dapat menutupi current liabilities sebanyak xx %.

DER
PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
Tahun 2008 = 1,403 kali
15

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

Tahun 2009 = 1,447 kali


Tahun 2010 = 1,445 kali

PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)


Tahun 2008 = 0,302 kali
Tahun 2009 = 0,338 kali
Tahun 2010 = 0,457 kali

Artinya modal dapat menutupi hutang sebanyak xx kali pada tahun tersebut.
Sales Growth
PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
Tahun 2009 = 3.97 %
Tahun 2010 = 65 %

PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)


Tahun 2009 = 1.17 %
Tahun 2010 = - 11.8 %

Artinya pertumbuhan penjualan sebanyak xx% dari tahun sebelumnya.

Price Earning
PT Surya Citra Media Tbk (SCTV)
Tahun 2008 = 0.27 kali
Tahun 2009 = 0.38 kali
Tahun 2010 = 15.9 kali

PT Indosiar Karya Media Tbk (Indosiar)


Tahun 2008 = 12.2 kali
Tahun 2009 = 5.2 kali
Tahun 2010 = 16.9 kali
Artinya keuntungan setiap lembar saham sebanyak xx kali dari sebelumnya.

16

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

3.2. Analisis Praktis


Meskipun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menilai rencana korporasi PT Elang
Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang mengambil alih PT Indosiar Karya Media
(IDKM), berpotensi melanggar peraturan perundang-undangan. Potensi pelanggaran
undang-undang yang dimaksud adalah UU Penyiaran Nomor 32 tahun 2002 pasal 18
ayat (1) dan pasal 34 ayat (4) tentang pembatasan pemusatan kepemilikan dan lembaga
penyiaran swasta (LPS) oleh perorangan atau satu badan hukum dan larangan
pemindahtanganan izin penyelenggaraan penyiaran.
Persaingan industri media televisi yang terlalu ketat akan memicu biaya tinggi bagi
pengelola stasiun televisi. "Bayangkan, persaingan tinggi akan memicu rate card (tarif
iklan) yang tinggi antar stasiun televisi, sehingga biaya yang dikeluarkan akan tinggi pula
EMTK menguasai 86 persen saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang memiliki
99 persen saham SCTV. EMTK berencana mengambil alih keseluruhan saham PT Prima
Visualindo (PV) di PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) yang memegang 99 persen
saham PT Indosiar Visual Mandiri (IVM).

Dalam langkah konsolidasi kedua perusahaan televisi nasional ini, opsi merger
memang sempat menyeruak, selain pilihan akuisisi. Hal ini dipertegas
keterbukaan informasi beberapa waktu lalu, dimana manajemen EMTK dan
SCMA mengakui telah mengantongi persetujuan dari dewan komisaris untuk
melakukan merger maupun akuisisi atas IDKM.
Namun setelah melalui beberapa pengkajian, akuisisilah yang menjadi
pilihannya. Lebih baik akuisisi memang, karena jika melakukan merger akan
lebih sulit, terkait kondisi keuangan dan manajemen kedua perusahaan.

17

July 1, 2011

[BY: NOVI & LITA]

BAB IV
KESIMPULAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan mengenai merger dan akuisisi dapat
disimpulkan bahwa:
1. PT Surya Citra Media Tbk memiliki value perusahaan yang lebih tinggi dari
PT Indosiar Karya Media Tbk.
2. PT Surya Citra Media Tbk secara teoritis berhak mengakuisisi PT Indosiar
Karya Media Tbk.
3. Berdasarkan analisis teoritis harga saham, nilai saham PT Surya Citra Media
Tbk lebih besar daripada PT Indosiar Karya Media Tbk.
4. Jika kedua perusahaan tersebut melakukan akuisisi maka value perusahaan
sebesar Rp 10.007.294.516.903
5. Jika kedua perusahaan tersebut melakukan akuisisi maka ada kemungkinan
terjadinya monopoli sehingga sampai saat ini masih ada pemeriksaan dari pihak
KPPU.
6. Menurut penulis akuisisi kedua perusahaan ini layak dilaksanakan sebagai
bentuk efisiensi dalam biaya usaha.

18