Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunianya sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok mahasiswa Tingkat I Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Mataram dalam mata kuliah Komunikasi Dalam Keperawatn yang
merupakan rangkaian dari proses Kegiatan Belajar Mengajar.
Kami menyadari bahwa karena keterbatasan waktu dan pengetahuan yang kami
miliki, dalam pemaparan makalah ini masih terdapat kekurangan, untuk itu kami sangat
mengharapkan saran dan masukan yang bersifat membangun guna memperbaiki laporan ini
agar menjadi lebih baik sehingga dapat memberi manfaat bagi kami maupun orang lain.

Mataram, 29 Mei 2011


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................... 1
DAFTAR ISI........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................3
LATAR BELAKANG................................................................................................ 3
TUJUAN............................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................4
PENGERTIAN SOSIAL........................................................................................... 4
MASALAH MASALAH SOSIAL............................................................................. 4
PERAN PERAWAT DALAM MENGATASI MASALAH SOSIAL INDIVIDU......................8
BAB III PENUTUP............................................................................................... 11
KESIMPULAN.................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 12

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Manusia merupakan mahkuk holistic yaitu mahluk yang utuh secara biopsikososial
dan spiritual. Sehingga manusia tidak lepas dari yang namanya bersosialisasi. Manusia butuh
bersosialisasi, karena bersosialisasi merupakan salah satu dari tangga kebutuhan manusia
seperti apa yang telah diteorikan maslow. Oleh karena itu, jika kebutuhan tersebut tidak
terpenuhi maka seorang individu akan memperoleh gangguan yang dikatakan sebagai
masalah social.
Dalam dunia kesehatan, pemenuhan kebutuhan sosiologis tersebut merupakan salah
satu kewajiban tim kesehatan, salah satunya adalah perawat dengan tujuan membantu
individu tersebut memnuhi kebutuhan sosiologisnya. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan
dibahas tentang cara cara perawat membantu individu memenuhi kebutuhan sosiologisnya
dengan jalan komunikasi.
TUJUAN
1. Mengetahui pengertian social
2. Mengetahui masalah masalah social
3. Mengetahui sirtuasi komunikasi yang seharusnya diterapkan dalam membantu
individu memenuhi kebutuhan sosiologisnya

BAB II
3

PEMBAHASAN
PENGERTIAN SOSIAL
Definisi Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat
kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata dilihat dan dirasakan, namun juga bisa
hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap bertemu orang meskipun hanya melihat atau
mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial.
MASALAH MASALAH SOSIAL
Blumer (1971) dan Thompson (1988) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang
berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada
sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan
bersama. Entitas tersebut dapat merupakan pembicaraan umum atau menjadi topik ulasan di
media massa, seperti televisi, internet, radio dan surat kabar.
Jadi yang memutuskan bahwa sesuatu itu merupakan masalah sosial atau bukan,
adalah masyarakat yang kemudian disosialisasikan melalui suatu entitas. Dan tingkat
keparahan masalah sosial yang terjadi dapat diukur dengan membandingkan antara sesuatu
yang ideal dengan realitas yang terjadi (Coleman dan Cresey, 1987).
Contohnya adalah masalah kemiskinan yang dapat didefinisikan sebagai suatu standar
tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau
segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku di masyarakat
yang bersangkutan (Suparlan, 1984)
Dan untuk memudahkan mengamati masalah-masalah sosial, Stark (1975) membagi masalah
sosial menjadi 3 macam yaitu :
1. Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok,
pelecehan seksual dan masalah lingkungan.
2. Perilaku menyimpang, seperti : kecanduan obat terlarang, gangguan mental,
kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan.
3. Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan
(seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual.

Salah satu penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah pemenuhan akan
kebutuhan hidup (Etzioni, 1976). Artinya jika seorang anggota masyarakat gagal memenuhi
kebutuhan hidupnya maka ia akan cenderung melakukan tindak kejahatan dan kekerasan.
Dan jika hal ini berlangsung lebih masif maka akan menyebabkan dampak yang sangat
merusak seperti kerusuhan sosial. Hal ini juga didukung oleh pendapatnya Merton dan Nisbet
(1971) bahwa masalah sosial sebagai sesuatu yang bukan kebetulan tetapi berakar pada satu
atau lebih kebutuhan masyarakat yang terabaikan.
Dengan menggunakan asumsi yang lebih universal maka tangga kebutuhan dari
Maslow dapat digunakan yaitu pada dasarnya manusia membutuhkan kebutuhan fisiologis,
sosiologis, afeksi serta aktualisasi diri, meskipun Etzioni (1976) menjelaskan bahwa
masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain terkait dengan cara memenuhi kebutuhan
hidupnya. Karena seorang individu pada dasarnya merupakan hasil bangunan budaya
dimana individu itu tumbuh.
Hadley Cantrill (dalam Etzioni, 1976) melakukan penelitian di 14 negara dengan
menanyakan harapan, aspirasi dan pangkal kebahagian kepada masyarakat di 14 negara
tersebut diantaranya Brazil, Mesir, India, Amerika Serikat dan Yugoslavia. Hasilnya adalah
hampir semua responden menyatakan bahwa faktor ekonomilah yang menempati urutan
teratas terkait dengan harapan, aspirasi dan kebahagian bila dibandingkan dengan unsur-unsur
lainnya.
Sebab lain adalah karena patologi sosial, yang didefinisikan oleh Blackmar dan Gillin
(1923) sebagai kegagalan individu menyesuaikan diri terhadap kehidupan sosial dan
ketidakmampuan struktur dan institusi sosial melakukan sesuatu bagi perkembangan
kepribadian. Hal ini mencakup : cacat (defect), ketergantungan (dependent) dan kenakalan
(delinquent).
Para penganut perspektif patologi sosial pada awalnya juga beranggapan bahwa
masalah sosial dapat dilakukan dengan cara penyembuhan secara parsial berdasarkan
diagnosis atau masalah yang dirasakan. Tetapi akhirnya disadari bahwa penyembuhan parsial
tidak mungkin dilakukan karena masyarakat merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan
permasalahan bersifat menyeluruh.
Jika ruang lingkup masalah patologi sosial lebih mikro dan individual, maka dari
perspektif disorganisasi sosial menganggap penyebab masalah sosial terjadi akibat adanya
5

perubahan yang cukup besar di dalam masyarakat seperti migrasi, urbanisasi, industrialisasi
dan masalah ekologi
Dengan memperhatikan perbedaan lokasi suatu daerah, Park (1967), menemukan
bahwa angka disorganisasi sosial dan timbulnya masalah sosial yang tinggi ada pada wilayah
yang dikategorikan kumuh akibat arus migrasi yang tinggi, dan hal ini diperkuat dengan
pendapat Faris dan Dunham (1965), bahwa tingkat masalah sosial lebih tinggi di pusat kota
secara intensitas dan frekuensi dibandingkan daerah pinggiran.
Disamping itu industrialisasi-pun (selain memberikan dampak yang positif) juga
memberikan dampat yang negatif pada suatu masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh
Mogey (1956) menjelaskan bahwan pertumbuhan industri kendaraan bermotor di kota Oxford
menjadikan biaya hidup di kota tersebut menjadi tinggi yang pada akhirnya akan mendorong
buruh menuntut peningkatan upah kerja.
Perlu ditambahkan juga disini, bahwa masalah sosial tidak hanya karena kesalahan
struktur yang ada di dalam masyarakat atau kegagalan sistem sosial yang berlaku namun juga
dari tindakan sosial yang menyimpang atau yang dikenal sebagai perilaku menyimpang
yaitu menyimpang dari status sosialnya (Merton & Nisbet, 1961).
Misalkan seseorang yang sudah tua bertingkah laku seperti anak-anak atau orang
miskin bertingkah laku seperti orang kaya dan lainnya. Dengan demikian, seseorang itu
disebut berperilaku menyimpang karena dia dianggap gagal dalam menjalankan
kehidupannya sesuai harapan masyarakat. Namun demikian, Heraud (1970) membedakan
lagi jenis perilaku menyimpang ini, apakah secara statistik, yaitu berlainan dengan
kebanyakan perilaku masyarakat secara umum ataukah secara medik, yang lebih menekankan
kepada faktor nuture atau genetis.
Ketidakmampuan seseorang dalam melakukan transmisi budaya juga dapat
menyebabkan permasalahan sosial. Cohen dalam bukunya Delinquent Boys : The Culture of
the Gang (1955) memaparkan hasil penelitiannya. Ia memperlihatkan bahwa anak-anak
kelas pekerja mungkin mengalami anomie di sekolah lapisan menengah sehingga mereka
membentuk budaya yang anti nilai-nilai menengah. Melalui asosiasi diferensial, mereka
meneruskan seperangkat norma yang dibutuhkan melawan norma-norma yang sah pada saat
mempertahankan status dalam gangnya.

BEBERAPA CONTOH MASALAH SOSIAL YANG TIMBUL DI BERBAGAI


KALANGAN DAN CARA MENGATASINYA
1. Individu keluarga dan masyarakat
Biasanya masalah yang terjadi di individu keluarga dan masyarakat adalah kurangnya
berinteraksi dengan orang sekitar kita bahkan dengan sebangsa sehingga banyak sekali yang
tidak peduli dengan orang orang sekitar kita atau dengan masyarakat luas, dan kita hanya
bersosialisasi dengan orang orang tertentu saja sehingga akan tercipta pandangan yang
menyatakan bahwa kita tertutup untuk umum, oleh karena itu ada beberapa cara
mengatasinya yaitu dengan cara kita berbicara dengan orang lain dan kalau kita malu
berbicara dengan orang lain kita juga bisa menggunakan facebook, twitter, friendster, dan
web sosial lainnya, dengan menggunakan itu kita bisa berkenalan dengan orang orang yang
belum kita kenal dan untuk yang sudah kita kenal mempermudah kita untuk berkomunikasi
dengan mereka.
2. Pemuda dan sosiallisasi
Pemuda dan sosiallisasi biasanya masalah yang terjadi adalah kurangnya waktu untuk
bertemu dan jaraknya jauh dan banyaknya biaya yang di gunakan untuk berkomunikasi dan
adanya rasa malu berbicara. Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah sosial
pemuda dan masyarakat adalah dari dalam diri sendiri, dan lingkungan.Cara mengatasi
masalahnya adalah kita bisa juga menggunakan web yang berfungsi untuk bersosiallisasi
misalnya Facebook, twitter, friendster dan yang lainnya, dengan itu kita bisa mengurangi rasa
kurangnya percaya diri dalam bersosiallisasi dan mengurangi biaya yang keluar untuk
bersosialisasi.
3. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan
Biasanya masalah yang terjadi di masyarakat pedesaan dalam bersosialisasi adalah
kurang sarana untuk bersosialisasi dan yang ada sarananya hanya sarana yang sederhanan
kurang modern dan hanya menyangkup jarak jarak tertentu atau hanya masyarakat yang
satu desa dan kurangnya pendidikan yang mendidik masyarakat pedesaan untuk mengenal
saranan komunikasi yang modern. Cara mengatasinya adalah kita harus mensosialisasikan
sarana komunikasi yang modern dan pemerintah segera menyediakan sarana komunikasi
modern ke pedesaan secara merata.

Masalah yang terjadi di masyarakat perkotaan adalah biasanya banyak dari mereka
yang menyombongkan diri sehingga banyak yang tidak mau berkenalan atau bercengkrama
dengan masyarakat pedesaan karena menganggap masyarakat pedesaan merupakan
masyarakat yang kurang gaul atau kurang mengenal yang modern. Cara mengatasi masalah
tersebut adalah dengan cara mengubah cara berpikir kita tentang masyarakat pedesaan dan
kita harus mau mengajarkan mereka atau mengenalkan mereka dengan sarana komunikasi
yang modern, sehingga akan tercipta rasa bekerjasama dalam mengembangkan SDM atau
sumber daya manusia, sehingga negara kita akan menjadi negara maju bukan hanya sedang
berkembang.
jadi semua masalah yang terjadi di masyarakat dalam bersosialisasi yaitu adanya rasa
kurang percaya diri, kesombongan, ketidakmauan, dan kurangnya pengetahuan tentang
teknologi.
PERAN PERAWAT DALAM MENGATASI MASALAH SOSIAL INDIVIDU
Perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang mengemban tugas merawat
individu sebagai manusia yang holistic dari berbagai ganggugan dan memenuhi kebutuhan
biopsikososial individu tersebut. Sehingga masalah social yang dimiliki klien merupakan
salah satu tugas perawat untuk memberikan solusi mengingat salah satu peran perawat adalah
sebagai konsultan klien, yaitu tempat klien berkonsultasi.
Perawat dapat memberikan solusi dari masalah social yang dimiliki individu dengan
memperhatikan factor penyebab dari timbulnya masalah social tersebut. Menurut etzioni,
salah satu penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah pemenuhan akan kebutuhan
hidup (Etzioni, 1976). Dan salah satu metode yang dapat digunakan oleh seorang perawat
dalam mengatasi masalah social klien yang merupakan kewajiban dari perawat itu sendiri
adalah dengan memenuhi kebutuhan tangga kebutuhuan klien (maslow) yang berupa
kebutuhan fisiologis, sosiologis, afeksi, serta aktualisasi diri.
Dan dalam memenuhi kebutuhan individu tersebut, seorang perawat tidak lepas dari
proses komunikasi. Karena tahap proses keperawatan tidak akan terlaksana dengan baik bila
tidak terjalin komunikasi yang baik antara perawat dengan klien, perawat dengan keluarga,
atau orang yang berpengaruh dengan klien.
Dalam berkomunikasi dengan tujuan memenuhi kebutuhan individu, salah satunya
kebutuhan sosiologisnya, perawat harus memerhatikan sikap sikap individu dalam situasi
8

komunikasi. Karena Dari segi psikologis, individu dalam situasi komunikasi mempunyai
sikap-sikap tertentu yaitu :
1. Komunikasi adalah sutu pengetahuan yang diinginkan oleh individu itu sendiri, maka
seseorang tersebut tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang
lebih muktahir.
2. Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus manusia punya
perasaan dan pikiran.
3. Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan
menerima akan belajar banyak karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan
reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
Sehingga perawat harus memerhatikan suasana komunikasi dengan adanya factor
tersebut untuk mencapai tujuan yang maksimal dengan beberapa cara, yaitu :
1. Suasana saling Hormat menghormati akan mampu berkomunikasi dengan baik
apabila pendapat pribadi individu tersebut dihormati, ia lebih senang kalau ia lebih
turut berfikir dan mengemukakan fikirannya.
2. Suasana Saling Menghargai Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, system nilai
yang dianut perlu dihargai. Meremehkan dan menyampingkan harga diri mereka akan
dapat menjadi kendala dalam jalannya komunikasi.
3. Suasana Saling Percaya. Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar
adanya akan dapat membawa hasil yang diharapkan
4. Suasana Saling Terbuka. Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk
mendengarkan orang lani, Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternative dapat
tergali.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
9

Masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu
entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak
kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui
kegiatan bersama. Entitas tersebut dapat merupakan pembicaraan umum atau menjadi topik
ulasan di media massa, seperti televisi, internet, radio dan surat kabar. Dan perlu adanya
komunikasi diantara perawat dengan klien dalam hal pemenuhan kebutuhan sosiologis klien
dengan tujuan menatasi masalah social klien.

DAFTAR PUSTAKA

10

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/masalah-sosial-dan-bagaimana-mengatasimasalah/
http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/
http://jrpatrickgaskins.blogspot.com/2010/09/komunikasi-keperawatan-pada-tingkat.html

11