Anda di halaman 1dari 14

LIMBAH KULIT KOPI SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK ALTERNTIF

MAKALAH
BAHAN PAKAN ALTERNATIF

Oleh:
Kelompok 19
Kelas B
Jenal Abidin

200110130143

Diki Purnomo

2001101300301

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2015

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak merupakan suatu alternatif
dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku penyusun ransum. Tanaman kopi adalah
salah satu komoditi pertanian yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, Kopi
merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan limbah sampingan dalam proses
pengolahannya yakni kulit kopi. Limbah kulit kopi belum dimanfaatkan secara optimal
misalnya untuk pakan ternak. Ketidaktahuan peternak akan kandungan kulit kopi
menjadi salah satu penyebab tidak dimanfaatkannya kulit kopi sebagai pakan ternak.
Untuk meningkatkan penggunaan limbah kulit buah kopi atau meningkatkan
kualitas dari limbah pertanian diperlukan teknologi pengolahan, salah satunya adalah
teknologi fermentasi. Makalah ini mendiskusikan peluang pemanfaatan kulit kopi
untuk komponen pakan ternak sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif.
1.2

Identifikasi Masalah
1. Bagaimana potensi perolehan kulit kopi ?
2. Apa keunggulan kulit kopi sebagai bahan pakan altrenatif ?
3. Apa kelemahan kulit kopi sebagai bahan pakan alternatif ?
4. Bagaimana pengolahan kulit kopi sebagai bahan pakan alternatif ?
5. Bagaimana kualitas pasca pengolahan kulit kopi sebagai bahan pakan
alternatif ?
6. Bagaiamana performa ternak yang diberikan pakan alternatif dari limbah
kulit kopi ?

1.3

Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui potensi perolehan kulit kopi
2. Mengetahui keunggulan kulit kopi sebagai bahan pakan altrenatif
3. Mengetahui kelemahan kulit kopi sebagai bahan pakan alternatif

4. Mengetahui pengolahan kulit kopi sebagai bahan pakan alternatif


5. Mengetahui kualitas pasca pengolahan kulit kopi sebagai bahan pakan
alternatif
6. Mengetahui performa ternak yang diberikan pakan alternatif dari kulit kopi

II
TINJAUAN PUSTAKA
Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap
produktivitas ternak. Apabila kekurangan pakan, baik secara kualitas maupun kuantitas
dapat menyebabkan rendahnya produksi ternak yang dihasilkan. Hal ini disebabkan
oleh banyaknya alternatif bahan pakan yang kualitas dan kuantitasnya belum jelas.
Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencari suatu ahan pakan alternatif
yang berpotensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Untuk mengatasi
permasalahan di atas maka dilakukan upaya mencari pakan alternatif yang potensial,
murah, mudah diperoleh dan tidak bersaing dengan manusia. Ada berbagai limbah
perkebunan seperti pelepah sawit, bungkil inti sawit, kulit kakao, kulit kopi dan lainlainnya yang bisa dijadikan sebagai pakan alternatif dan sampai saat ini belum
dimanfaatkan secara maksimal. Penggunaannya sebagai pakan ternak akan
memberikan makna ganda yakni menambah variasi persediaan pakan dan mengurangi
pencemaraan lingkungan. Salah satu bahan pakan alternatif yang dapat digunakan
sebagai bahan pakan untuk ruminansia adalah kulit buah kopi.
Berdasarkan publikasi oleh Loka Penelitian Domba Galang Sumatera Utara,
Perkebunan kopi di Nasional mencapai 1.310.000 ha dengan produksi 686.768
ton/tahun. Limbah kulit daging buah kopi adalah 40-45% sebanyak 752,6-846,7
ton/hari. Nilai nutrisi kulit kopi adalah PK 10,4%, SK 17,2%, EM 14,34 MJ/Kg. Dilihat
dari kandungan serat kasar beserta zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya, kulit
buah kopi mempunyai potensi untuk dijadikan bahan pakan ternak ruminan, namun
pemanfaatan kulit buah kopi mempunyai faktor pembatas karena mengandung tanin,
kafein dan lignin. Berdasarkan publikasi dari Institusi Fakultas Peternakan Undip
(2005), Salah satu kendala pemanfaatan kulit kopi sebagai pakan ternak adalah
kandungan serat kasarnya yang tinggi (33,14%), sehingga tingkat kecernaannya sangat

rendah. Bukan hanya itu, amoniasi kulit kopi juga dapat meningkatkan kadar protein
serta menghilangkan aflatoksin.
Menurut publikasi dari Institusi Fakultas Peternakan Padjadjaran oleh Novi
Mayasari, I Nyoman P. Aryantha, Ana Rochana T, dan Tidi Dhalika, Untuk
menurunkan faktor pembatas itu, diperlukan pengolahan lebih lanjut, salah satunya
menerapkan proses amoniasi dengan urea agar tingkat kecernaan kulit kopi bisa
ditingkatkan. Material baru produk amoniasi umumnya memiliki kualitas yang lebih
baik daripada asalnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian terhadap kulit buah
kopi produk amoniasi dalam ransum ternak ruminan. Dengan Pemanfaatan Amoniasi
Kulit Daging Buah Kopi Sebagai Ransum ternak ruminan yang menjadi sumber protein
dan serat diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi VFA (volatyle fatty acid) dan
NH3 (amonia) yang merupakan indikasi adanya penambahan populasi mikroba rumen.

III
PEMBAHASAN
3.1 Potensi Perolehan Limbah Kulit Kopi
Perkebunan kopi yang dikelola oleh rakyat sampai saat ini terus berkembang di
beberapa propinsi di Indonesia sehingga perluasannya terus meningkat. Luas
perkebunan kopi diIndonesia 1,31 juta hektar, dari luasan tersebut dapat diproduksi
buah kopi sebanyak 686.768 ton (KOMPAS, 2008). Produksi buah kopi diIndonesia
menempati urutan ke empat terbesar di dunia setelah Kolumbia, Brazil danVietnam.
Kulit luar kopi yang merupakanl imbah hasil pengolahan buah kopi memiliki proporsi
40 45%, sehingga jumlah limbah tersebut adalah sebanyak 752,6 846,7ton/hari.
Kopi termasuk tanaman yang menghasilkan limbah hasil sampingan yang
cukup besar dari hasil pengolahan. Limbah sampingan tersebut berupa kulit kopi yang
jumlahnya berkisar antara 50 - 60 persen dari hasil panen. Bila hasil panen sebanyak
1000kg kopi segar berkulit, maka yang menjadi biji kopi sekitar 400-500kg dan sisanya
adalah hasil sampingan berupa kulit kopi. Limbah kulit kopi belum dimanfaatkan
petani secara optimal. Padahal kulit kopi bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar
pembuatan pupuk kompos (Puslitkoka, 2005) dan cukup potensial untuk digunakan
sebagai bahan pakan ternak ruminansia baik itu ruminansia kecil maupun ruminansia
besar karena kulit kopi mempunyai kecernaan protein sebesar 65% dan 51,4% untuk
kulit biji (Azmi dan Gunawan, 2006)..
3.2 Keunggulan Kulit Kopi Sebagai Bahan Pakan Altrenatif
Kulit kopi sebagai hasil sampingan perkebunan merupakan bahan yang paling
mudah untuk diperoleh, sebab hasil sampingannya tersedia dan melimpah untuk jangka
waktu yang lama. Selain itu kandungan nutrisinya masih tinggi dan dapat memenuhi
kebutuhan pokok ternak dan untuk meningkatkan produksinya.

Kulit kopi cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak
ruminansia baik itu ruminansia kecil maupun ruminansia besar. Kandungan nutrisi
kulit kopi non fermentasi seperti protein kasar sebesar 8,49%,(Hasil analisa proksimat
Balitnak, 2013) relatif sebanding dengan kandungan zat nutrisi rumput.
3.3 Kelemahan Kulit Kopi Sebagai Bahan Pakan Altrenatif
Kuli buah kopi termasuk kategori limbah basah (wet byproducts) karena masih
mengandung kadar air 75 80%, sehingga dapat rusak dengan cepat apabila tidak
segera diproses. Perlakuan melalui pengeringan membutuhkan biaya yang relatif
tinggi, sehingga perlu dikembangkan melalui teknologi alternatif lain agar produk
tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih efisien. Kulit kopi yang diberikan langsung
dalam bentuk basah, kadar air yang cukup tinggi sehingga mudah rusak dan kurang
disukai ternak.
Kulit kopi memiliki kelemahan berupa kandungan serat kasar yang tinggi
(18,20%-21,40%) dan zat anti nutrisi berupa kafein dan tannin sebesar 2,8% dari bahan
kering dapat mengganggu pencernaan ternak jika diberikan dalam jumlah banyak
(Guntoro dkk. 2003, Londra dkk. 2007 dan Murni 2008. Salah satu cara untuk
meminimalkan faktor pembatas tersebut, kulit kopi diolah terlebih dahulu sebelum
diberikan kepada ternak. Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah
teknologi fermentasi. Fermentasi mampu meningkatkan kandungan protein kasar,
mempertahankan nilai nutrisi selama penyimpanan dan menghilangkan zat anti nutrisi
(Sudaryani 1994 dalam Handajani 2007) serta meningkatkan kualitas rasa, aroma dan
daya cerna.
3.4 Pengolahan Kulit Kopi Sebagai Bahan Pakan Altrenatif
Kualitas bahan pakan tidak hanya ditentukan oleh profil nutriennya, tetapi juga
dipengaruhi oleh proses produksi dan penanganannya. Pada prinsipnya kulit kopi
diperoleh sebagai hasil sampingan dalam proses produksi biji kopi, Kulit kopi memiliki

kandungan serat kasar yang tinggi dan zat anti nutrisi berupa kafein dan tannin dari
bahan kering, oleh kerena itu diperlukan teknologi pengolahan untuk mengatasi
antinutrisi tersebut, Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah
teknologi fermentasi.

(Gambar 1 proses fermentasi kulit kopi )


Dalam pembuatan fermentasi kulit kopi dibutuhkan ruangan yang nyaman
artinya terhindar dari sinar matahari langsung dan hujan. Kulit kopi yang digunakan
adalah yang masih baru dan kering, Penggunaan molasses diganti dengan
menggunakan gula merah. Gula merupakan substrat bagi bakteri penghasil asam laktat

yang akan menghasilkan asam yang berfungsi sebagai pengawet bahan yang akan
difermentasikan (KHAN et al, 2004)
3.5 Kualitas Pasca Pengolahan

Berdasarkan tabel tersebut kulit kopi yang difermentasi dapat memberikan


suatu refrensi baru bagi peternak bahwa kulit kopi memilki potensi yang besar apabila
dijadikan sebagai bahan pakan alternative karena memiliki energi metabolisme yang
cukup tinggi. Namun pemakaiannya dalam ransum harus dibatasi karena mempunyai
serat kasar yang sangat tinggi
3.6 Pemanfaatan Dalam Ransum
Penggunaan kulit buah kopi sebagai pakan ternak masih terbatas karena
tingginya kandungan serat kasar dan rendahnya nilai gizi yang dibutuhkan ternak.
Muryanto, dkk (2004) menyatakan bahwa pemberian 5% kulit buah kopi yang
mengurangi penggunaan jagung pada ransum memberikan pengaruh berbeda tidak
nyata terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler.
Hasil penelitian Oktavianus (2012) bahwa campuran ransum hasil fermentasi
kulit kopi dengan komposisi 70% dan 30% ampas tahu (C:N = 9:1) dapat meningkatkan

protein kasar sebesar 42.62% (13.77% menjadi 19.64%) dan menurunkan serat kasar
sebesar 28.45% (25.68% menjadi 17.94%).
Berdasarkan penelitian Kiston Simanihuruk tahun 2010, Pertambahan bobot
badan tertinggi dicapai pada kambing yang mendapat perlakuan pakan (Konsentrat
60% + Rumput 20% + Silase kulit kopi 20%) yaitu 80,88 g/ekor/hari
3.7 Performa Ternak
Pertambahan bobot hidup merupakan suatu refleksi dari akumulasi konsumsi,
fermentasi, metabolisme dan penyerapan zat-zat makanan di dalam tubuh. Pada
pemeliharaan ternak muda pertumbuhan merupakan salah satu tujuan penting yang
ingin dicapai. Kelebihan makanan yang berasal dari kebutuhan hidup pokok akan
digunakan untuk meningkatkan bobot badan. Pertambahan bobot badan ternak
merupakan cerminan kualitas dan nilai biologis pakan yang diberikan kepada ternak.
Berdasarkan penelitian Kiston Simanihuruk tahun 2010,Tidak adanya
perbedaan yang nyata terhadap pertambahan bobot hidup harian terkait dengan
konsumsi bahan kering yang juga tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Disamping
itu juga diduga komposisi kimiawi pakan pada semua perlakuan penelitian relatif sama,
sehingga ketersediaan kandungan nutrien untuk kebutuhan tubuh juga relatif
sebanding. Pertambahan bobot badan tertinggi dicapai pada kambing yang mendapat
perlakuan pakan (Konsentrat 60% + Rumput 20% + Silase kulit kopi 20%) yaitu 80,88
g/ekor/hari

IV
KESIMPULAN & SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Limbah Kulit kopi sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan
ternak ruminansia baik itu ruminansia kecil maupun ruminansia besar
karena kulit kopi mempunyai kecernaan protein sebesar 65%
2. Kulit kopi sebagai hasil sampingan perkebunan merupakan bahan yang
paling mudah untuk diperoleh, sebab hasil sampingannya tersedia dan
melimpah untuk jangka waktu yang lama. Selain itu kandungan nutrisinya
masih tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan pokok ternak dan untuk
meningkatkan produksinya
3. Kulit kopi memiliki kandungan serat kasar yang tinggi dan zat anti nutrisi
berupa kafein dan tannin dari bahan kering,

diperlukan teknologi

pengolahan untuk mengatasi antinutrisi tersebut, Salah satu proses


pengolahan yang dapat dilakukan adalah teknologi fermentasi.
4. kulit kopi yang difermentasi dapat memberikan suatu refrensi baru bagi
peternak bahwa kulit kopi memilki potensi yang besar apabila dijadikan
sebagai bahan pakan alternative karena memiliki serat kasar yang besar dan
energi metabolisme yang cukup tinggi.
5. Penggunaan kulit buah kopi sebagai pakan ternak masih terbatas karena
tingginya kandungan serat kasar dan rendahnya nilai gizi yang dibutuhkan
ternak.
6. Tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap pertambahan bobot hidup
harian terkait dengan campuran ransum kulit kopi. sehingga ketersediaan
kandungan nutrien untuk kebutuhan tubuh juga relatif sebanding.

4.2 Saran
Limbah kulit kopi dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif yang
membantu peternak dalam menyediakan bahan

pakan untuk keberlangsungan

pemberian pakan secara kontiue, selain itu penggunaan limbah kulit kopi juga dapat
mengurangi pencemaran lingkungan, akan tetapi penggunaannya harus di proses
terlebih dahulu melalui teknologi fermentasi, penggunaannya juga harus dibatasi
karena limbah kulit kopi memiliki serat kasar yang sangat tinggi serta memiliki
antinutrisi berupa kafein dan tanin.

DAFTAR PUSTAKA
Azmi dan Gunawan, 200. Hasil-hasil Penelitian Sistem Integrasi Ternak-Tanaman.
Prosiding Lokakarya Hasil Pengkajian Teknologi Pertanian, Balai Besar
Pengkajian ddan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang Pertanian
bekerja sama dengan Universitas Bengkulu. Halaman 91-95.
Khan, M.A., M. Sarwar And M.M.S. Khan. 2004. Feeding value of urea treated
corncobs ensiled with or without Enzose (corn Dextrose) for lactating crossbred
cows. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 8: 1093 1097.
Kiston Simanihuruk Dan J. Sirait, 2010, Silase Kulit Buah Kopi Sebagai Pakan Dasar
Pada Kambing Boerka Sedang Tumbuh, Loka Penelitian Kambing Potong Po.
Box 1, Sei Putih, Galang 20585, Sumatera Utara.

KOMPAS. 2008. Indonesia Ingin Meningkatkan Produksi Kopi pada tahun 2008
(Serial online). http://www.kompas.com. (6 Mei 2009).
Puslitkoka, 2005. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. Agromedia Pustaka, Jakarta.
S . Prawirodigdo, 2007, Peluang Mendayagunakan Kulit Kopi Sebagai Bahan Pakan
Dalam Sistem Integrasi Tanamanternak Ruminansia, Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jawa Tengah Laboratorium Klepu, Jl. Soekarno-Hatta 10 A,
Bergas Kabupaten Semarang 50552, Jawa Tengah
Zul Efendi Dan Linda Harta, 2011, Kandungan Nutrisi Hasil Fermentasi Kulit Kopi
(Studi Kasus Desa Air Meles Bawah

Kecamatan Curup Timur), Bptp

Bengkulu, Jl Irian Km 6,5 Kota Bengkulu 38119