Anda di halaman 1dari 3

5.

Etiologi dan Epidemiologi :


A. Etiologi :
1. Streptococcus pneumonie
2. Neisseria meningitidis
3. Grup B streptococcus atau Streptococcus agalactiae
4. L. monocytogenes
5. H. influenza
6. Staphylococcus aureus
Pada umur 18-50 tahun sering disebabkan oleh S. Pneumoniae, M.
Meningitidis, L. Monocytogenes, Aerobic gram-negative bacilli.
B. Epidemiologi
Frekuensi
Amerika Serikat. Insiden meningitis bervariasi sesuai dengan agent
etiologi spesifik. Meningitis bakterial masih merupakan penyebab
signifikan morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Angka serangan di
Ameriksa Serikat pertahun dilaporkan 0.6-4 kasus per 100.000 populasi.
Sebelumnya, 3 kasus yang paling patogen dengan kasus mencapai
80%, yaitu H. influenzae type B (HIB), N meningitidis, dan S.
Pneumoniae. Lebih dari dua dekade lalu, epidemiologi telah mengalami
perubahan secara substansial oleh karena berbagai perkembangan.
Internasional. Insiden meningitis diperkirakan lebih tinggi pada negara
yang sedang berkembang oleh karena kurangnya akses pelayanan
pencegahan seperti vaksinasi. Angka insiden 10 kali lipat lebih tinggi
terjadi di negara sedang berkembang.
Menurut data dari berbagai sumber, angka penderita
meningoenscephalitis di Indonesia mencapai 18-40% dengan angka
kecacatan 40-50%. Meningitis bakterial masih merupakan penyebab
signifikan morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia.

Mortalitas dan morbiditas


Mortalitas meningitis bervariasi tergantung agent spesifik.
- Angka mortalitas untuk meningitis virus (tanpa encephalitis) kurang
dari 1%. Pada pasien dengan defisiensi imunitas humoral (misalnya,
agammaglobulinemia), enterovirus meningitis dapat memberikan
-

hasil yang fatal.


Meningitis bakterial umumnya fatal sebelum era antimicrobial.
Dengan adanya terapi antimikrobial, keseluruhan angka mortalitas
meningitis bakterial menurun tapi masih mengkuatirkan. Laju
mortalitas diperkirakan 25%. Diantara penyebab yang sering dari
akut bakterial meningitis, angka mortalitas tertinggi ditemukan

pada pneumococcus. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk tiaptiap organisme spesifik adalah :
1. 19-26% untuk S. Pneumoniae meningitis
2. 3-6% untuk H. influenzae meningitis
3. 3-13% untuk N. Meningitidis meningitis
4. 15-29% untuk L. Monocytogenes meningitis

Ras dan jenis kelamin :


Semua ras tanpa terkecuali dapat terkena. Di Amerika Serikat, kulit
hitam pria dilaporkan 3.3 kasus per 100.000 populasi dibandingkan
dengan 2.6 wanita per 100.000 populasi. angka serangan untuk
meningitis bakterial dilaporkan 3.3 kasus pria per 100.000 populasi
sedangkan wanita 2.6 kasus per 100.000 populasi.

9. Komplikasi dan prognosis :


A. Komplikasi :
1. Syok
2. DIC
3. Perubahan status mental sampai koma
4. Gangguan pernapasan
5. Kejang
6. Peningkatan tekanan intrakranial
7. SIADH (Syndrome of Inappropriate antidiuretic hormone)
B. Prognosis :
- Pasien-pasien dengan meningitis virus biasanya prognosisnya baik
-

untuk pemulihan.
Prognosis buruk pada pasien dengan umur ekstrim (yaitu < 2 tahun, >

60 tahun) dan mereka dengan komorbiditas dan imunodefisiensi.


Pasien yang menunjukkan gangguan level kesadaran, meningkatkan

perkembangan neurologic sequela atau kematian.


Kejang selama episode meningitis juga menjadi faktor resiko

mortalitas atau neurologic sequelae.


Meningitis bakterial akut adalah kondisi medis darurat dan
keterlambatan memulai terapi antimikroba yang efektif meningkatkan

morbiditas dan mortalitas.


Adanya peositas level rendah (< 20 sel) pada pasien meningitis

bakterial diduga memberikan hasil buruk.


Meningitis yang disebabkan oleh S. pneumoniae, L. monocytogenes,
dan basil gram negatif memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi

dibandingkan dengan meningitis yang disebabkan oleh bakteri lain.


Prognosis meningitis yang disebabkan oleh patogen oportunistik,
tergantung pada patogen oportunistik, juga tergantung pada fungsi
imun yang mendasari host.

Pasien mungkin memiliki status mental atau bahkan koma. Pasien


mungkin hadir dalam syok. Sekitar 15% dari pasien anak yang menderita
meningitis pneumokokus mengalami syok. Syok dan/atau koagulasi intravaskular
diseminata (DIC) yang sering berhubungan dengan meningitis meningokokus.
Apnea dan/atau kegagalan pernafasan/gangguan dapat terjadi dengan
meningitis bakterial, terutama bayi. Kejang terjadi pada sekitar sepertiga dari
pasien yang memiliki bakteri meningitis. Kejang yang menetap (lebih dari 4 hari)
atau mulai akhir cenderung berhubungan dengan gejala sisa neurologis. Kejang
fokal membawa prognosis yang lebih buruk dari kejang umum. Kejang fokal
harus melaporkan hal tersebut untuk komplikasi seperti empiema subdural,
abses otak, atau tekanan intrakranial meningkat, dan menyarankan kebutuhan
untuk neuroimaging.
Efusi subdural, yang umum (terjadi pada sepertiga dari pasien anak),
umumnya tanpa gejala, menyelesaikan secara spontan, dan tidak memiliki
gejala sisa neurologis permanen.
The syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH) dapat terjadi,
sehingga elektrolit dan status cairan harus dipantau secara ketat.
Semua komplikasi seperti syok, DIC, perubahan status mental sampai
koma, gangguan pernapasan, kejang, peningkatan tekanan intrakranial, SIADH,
dan gejala lain harus dikelola dengan terapi yang biasa.