Anda di halaman 1dari 35

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia saat ini berkembang begitu pesat, hal

ini terlihat dari banyaknya perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Menurut data
dari Badan Pusat Statistik (2012) dalam Tarwaka (2014) tercatat sebanyak 23.257
perusahaan dari berbagai macam bidang beroperasi di Indonesia. Meskipun
demikian tingkat pencapaian penerapan kinerja K3 pada perusahaan di Indonesia
masih sangat rendah. Dari data ILO (2003) dalam Tarwaka (2014) dari 15.017
perusahaan hanya 2% (sekitar 317 buah) perusahaan yang sudah menerapkan K3
dengan baik. Sedangkan sisanya 98% (sekitar 14.700) perusahaan belum
menerapkan K3 secara baik. Dari data tersebut tentunya dapat menjadi tolak ukur
pencapaian kinerja K3 di Indonesia. (Tarwaka, 2014)
Untuk menjamin suksesnya perkembangan industri aspek keselamatan kerja
memegang peranan dalam meminimalkan risiko bahaya yang ada di tempat kerja.
Dalam hal ini keselamatan kerja haruslah mendapat perhatian utama demi
berhasilnya

program-program

perusahaan

dalam

rangka

meningkatkan

produktivitas bagi perusahaan. Keselamatan dan kesehatan kerja juga akan dapat
menciptakan keamanan dan kenyamanan kerja serta mempunyai peranan penting
dalam usaha mencegah dan menanggulangi adanya resiko kecelakaan, serta
pengamanan aset perusahaan.
Salah satu pekerjaan yang mengandung unsur resiko tinggi yang dapat
menyebabkan kerugian adalah pekerjaan yang berhubungan dengan ketinggian.
Banyak masalah yang timbul ketika pekerja bekerja di ketinggian misalnya
pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (Full Body Harness), lanyard tidak
dicantolkan ke handrail, bekerja tidak mematuhi prosedur bekerja di ketinggian.
Salah satu upaya agar dapat meminimalkan risiko perusahaan menggunakan

prosedur bekerja pada ketinggian dan dengan menggunakan scaffolding.


Scaffolding hanya diperlukan pada waktu pengerjaan yang lama dan tidak
terdapat ruangan (space) untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan.
Berdasarkan laporan Labour Force Survey (LFS2) UK, Salah satu penyebab
terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak pada cidera serius dan kematian
adalah terjatuh dari atas ketinggian (31%) dan sebagian besar terjadi pada pekerja
bidang konstruksi (11%). Sedangkan data dari Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Depnakertrans) RI menunjukan bahwa pekerjaan konstruksi yang
dilakukan di ketinggian memiliki risiko paling tinggi terjadi kecelakaan kerja.
Pada rentang 2002 hingga akhir 2005 lalu, tercatat sebanyak 78.000 kasus
kecelakaan

dan

menyebabkan

5.000

orang

pekerja

meninggal

dunia.

(http://www.hse.gov.uk/statistics/causinj/kinds-of-accident.htm - di akses tanggal


18-10-2015)
PT Holcim Indonesia Tbk dikenal sebagai pelopor dan inovator di sektor
industri semen yang tercatat sebagai sektor yang tumbuh pesat seiring
pertumbuhan pasar perumahan, bangunan umum dan infrastruktur. Ketika pertama
kali berdiri pada tahun 1971, perusahaan ini bernama PT Semen Cibinong, dan
merupakan perusahaan pertama yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Jakarta
pada tahun 1977 dan berganti nama menjadi PT Holcim Indonesia Tbk pada tahun
2006.
PT Holcim Indonesia Tbk mengoperasikan tiga pabrik semen masingmasing di Narogong, Jawa Barat, di Cilacap, Jawa Tengah, dan di Tuban Jawa
Timur dengan total kapasitas gabungan per tahun 11 juta ton semen. Didalam
pengolahan pembuatan semen yang berkualitas dibutuhkan peralatan yang
canggih agar proses produksi bisa berjalan dengan baik oleh karena itu
penggunaan mesin dan berbagai macam alat berat tidak dapat terhindarkan.
Berbagai macam karakter tenaga kerja juga dapat menciptakan suatu kondisi yang

memungkinkan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Perlindungan terhadap tenaga


kerja sangat diperlukan agar tercipta suasana yang aman, nyaman serta sehat bagi
para tenaga kerja yang sedang bekerja.
Sebagai penunjang kelancaran pekerjaan, bekerja di ketinggian harus
memiliki sistem pencegahan dan pengendalian bekerja di ketinggian yaitu dengan
memiliki sertifikat WAH, mengerti prosedur kerja di ketingian, menggunakan
APD dan perancah. Prosedur Bekerja Pada Ketinggian, Pencegahan
Jatuh,

APD

dan

perancah

tersebut

terhadap

patut dicermati, mengingat masalah

keselamatan (safety) merupakan landasan pokok untuk setiap pekerjaan yang


dilakukan di PT Holcim Indonesia Tbk.
1.2

Tujuan Pelaksanaan Magang


1.2.1. Tujuan Umum Pelaksanaan Magang
Untuk memperoleh pengalaman, keterampilan, penyesuaian sikap,
dan penghayatan, pengetahuan di dunia kerja dalam rangka meningkatkan
pengetahuan, sikap dan ketrampilan di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja, serta melatih kemampuan kerja sama dalam tim sehingga dapat
memberikan manfaat baik bagi mahasiswa maupun bagi perusahaan.
1.2.2. Tujuan Khusus Pelaksanaan Magang
1. Mengidentifikasi prosedur bekerja pada ketinggian di PT. Holcim
Indonesia Tbk. Tuban Plant
2. Mengidentifikasi pelaksanaan prosedur bekerja pada ketinggian di

1.3

PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant


Manfaat Pelaksanaan Magang
2.3.1. Manfaat Bagi Perusahaan
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan
masukan bagi PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant mengenai sistem
dan implementasi, kebijakan, pengendalian bahaya kecelakaan kerja pada
ketinggian.
2.3.2. Manfaat Bagi Mahasiswa

Dapat menambah wawasan guna mengenal, mengetahui dan


memahami tentang sistem pengendalian bahaya kecelakaan kerja pada
ketinggian di PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Hukum
Dasar hukum dalam bekerja pada ketinggian (Work at Height) di Indonesia
adalah sebagai berikut:
1) UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
2) UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/ 1996 tentang Sistem
Manajemem Keselamatan dan Kesehatan Kerja
4) DJPPK Direktur Jendral Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No
KEP. 45/DJPPK/IX/2008 Pedoman K3 Bekerja di Ketinggian dengan
menggunakan akses tali (Rope Access)
5) Kepmenakertrans No Kep 325/Men/XII/2011 tentang penetapan rancangan
standar kompetensi kerja nasional Indonesia di sector ketenagakerjaan
bidang keselamatan dan kesehatan kerja sub bidang bekerja di ketinggian
6) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor
PER.01/Men/1980 tentang K3 pada Konstruksi Bangunan
7) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

RI

Nomor

PER.05/Men/1985 tentang Pesawat Angkat Angkut.


8) Kepmenakertrans dan Menteri Pekerjaan Umum No Kep 174/MEN/1986
dan No Kep 104/KPTS/1986 tentang KeselamatanKerja pada Tempat
Kegiatan Konstruksi
9) Permenakertrans No PER.08/Men/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.
2.2 Bekerja Pada Ketinggian (Work at Height)
Menurut Sekretaris Jenderal Depnakertrans dalam Draft Konvensi
Rancangan standar kompetensi kerja nasional Indonesia bekerja pada ketinggian.
Bekerja pada ketinggian adalah kegiatan kerja pada tempat atau titik kerja yang
bila seorang bekerja ditempat tersebut, mempunyai potensi bahaya jatuh karena
adanya

perbedaan

elevasi.

Pengertian

lainnya

adalah

pekerjaan

yang

membutuhkan pergerakan tenaga kerja untuk bergerak secara vertikal naik,


maupun turun dari suatu platform.
Secara umum terdapat dua sistem bekerja pada ketinggian. Sistem yang
pertama disebut sistem pasif, bahwa saat bekerja tidak mensyaratkan perlunya
penggunaaan peralatan pelindung jatuh (fall protection devices) karena telah
terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system). Sistim yang
kedua disebut dengan sistim Aktif, dimana saat naik dan turun (lifting / lowering),
(traverse) pekerja harus menggunakan peralatan untuk mencapai suatu titik kerja
karena tidak terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system).
(Depnakertrans,2010)
Bekerja di Ketinggian adalah tempat/platform kerja dimana orang mungkin
terjatuh dari ketinggian 1.8 m atau lebih. Hal ini juga berlaku pada
tempat/platform kerja yang memiliki resiko terjatuh kurang dari 1.8 m jika di sana
ada hal yang membahayakan keselamatan pekerja dan jika peraturan perundangan
di sana mensyaratkan sarana perlindung jatuh tanpa melihat ketinggiannya
(Holcim, 2014)
Menurut Asosiasi Ropes Access Indonesia (2009) bekerja pada ketinggian
(work at height) adalah bentuk kerja dengan mempunyai potensi bahaya jatuh
(dan tentunya ada bahaya-bahaya lainnya).
Menurut Rope and Work Corporation yang dimaksud bekerja diketinggian
adalah pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi (high risk activity) yang
memerlukan pengetahuan serta ketrampilan khusus untuk melaksanakan pekerjaan
sebenarnya.
Menurut Slamet (2010) bekerja pada ketinggian dapat dikategorikan sebagai
berikut:
a. Bekerja di ketinggian 4 feet (1.24 meter) atau lebih dari atas lantai atau
tanah.
Contoh: Pekerjaan sipil (civil work), pekerjaan electrical atau pemasangan
kabel, pemasangan panel-panel, pekerjaan bangunan (building atau

structural work) seperti pemasangan atap, pembangunan jembatan.


Pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan baik oleh karyawan sendiri ataupun
oleh kontraktor.
b. Bekerja pada ketinggian 6 feet (1.8) atau lebih pada pinggiran atau sisi
yang terbuka.
Contoh: Bekerja pada atap datar (flat roof), puncak tangki timbun.
c. Bekerja di ketinggian 10 feet (3.1 meter) atau lebih pada pinggiran atau
sisi yang terbuka dengan menggunakan peralatan mekanis.
Bekerja di ketinggian 2 meter (6 kaki) atau lebih diatas permukaaan tanah
tidak boleh dilakukan kecuali:
a. Dengan mempergunakan anjungan yang kokoh dengan pengaman atau
pegangan tangan yang disetujui oleh personil yang berwenang atau
b. Dengan mempergunakan fall arrest equipment (peralatan penangkap
barangbarang yang jatuh) yang mampu menopang beban bergerak
sekurang-kurangnya seberat 2275 kg (5000 lbs) per orang dan memiliki:
1) Jangkar yang diikatkan dengan benar, lebih baik disebelah atas.
2) Full Body Harness dengan pengait sentak mengunci otomatis
berkancing ganda pada setiap sambungan.
3) Tali serat sintetis.
4) Peredam goncangan.
c. Fall arrest equipment membatasi jatuh bebas dari ketinggian 2 meter (6
kaki) atau kurang
d. Pemeriksaan visual fall arrest equipment dan system sudah dilakukan
dan setiap peralatan yang rusak atau yang dinonaktifkan sudah
disingkirkan
e. Orang yang bersangkutan mampu melaksanakan pekerjaan
Bekerja dalam posisi di ketinggian memang memerlukan penanganan
khusus yang dikarenakan kondisinya yang tidak lazim.
Pada dasarnya ada 4 terpenting yang harus diperhatikan dalam menangani
pekerjaan pada posisi di ketinggian yaitu: pelaku atau pekerja, kondisi lokasi (titik
atau lokasi pekerjaan), teknik yang digunakan, dan peralatan.
Bekerja pada ketinggian menuntut para pekerja untuk mengetahui
bagaimana pekerja dapat melakukan pekerjaannya pada ketinggian dalam keadaan

safety, menguasai lokasi pekerjaan terutama mengenai tingkat risiko yang dapat
ditimbulkannya, memiliki teknik yang dapat mengantisipasi risiko bekerja di
ketinggian serta didukung peralatan safety yang disesuaikan dengan kebutuhan
atau spesifikasi pekerjaan yang akan dilakukan. Namum demikian, hal yang
terpenting dalam melakukan suatu pekerjaan adalah kualitas dari hasil pekerjaan
yang dilaksanakan.

Sumber Holcim 2014

Gambar 2.1 Contoh bekerja di ketinggian di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban


Plant
2.3 Bahaya bekerja di ketinggian
Berdasarkan New British Standard (2005), beberapa bahaya yang ada pada
saat bekerja di ketinggian antara lain tejatuh (falling down), terpeleset (slips),
tersandung (trips), dan kejatuhan material dari atas (falling object). Dari keempat
bahaya yang ada, yang merupakan faktor terbesar penyebab kematian di tempat
kerja dan merupakakan salah satu penyebab terbesar cidera berat adalah terjatuh
dari ketinggian (Anizar, 2009).
2.4 Pengendalian bahaya terjatuh
Untuk mendapatkan langkah pencegahan yang relevan dalam bekerja di
ketinggian harus mengacu pada hirarki kontrol yang ada. Hirarki control
sederhana ini dipakai untuk mengelola dan menentukan peralatan/ perlengkapan

yang

dipakai

dalam

bekerja

di

ketinggian

(HSE

UK.

2007)

Gambar 2.2 Hirarki kkontrol (HSE UK, 2005)


Workplace Safety and Health Council Singapura berkolaborasi dengan
Kementrian Tenaga Kerja Singapore (2008) hirarki kontrol risiko dalam bekerja di
ketinggian adalah sebagai berikut:
1. Eliminasi
Menghilangkan kebutuhan untuk bekerja di ketinggian adalah cara
yang paling efektif untuk memastikan orang tidak jatuh dari ketinggian.
Dengan memindahkan pekerjaan dengan dilakukan di lantai bawah,
misalnya: fabrikasi atap dilakukan di lantai bawah, melakukan pengecatan
atap dengan memperpanjang tongkat kuasnya. Apabila eliminasi tidak

dapat dilakukan maka perlu dipikirkan untuk mengurangi tingkat


resikonya.
2. Subsitusi
Melakukan pekerja dengan Sistem Pencegahan Jatuh. Sistem
pencegahan jatuh adalah material atau peralatan, atau kombinasi dari
keduanya yang di desain dan ditujukan untuk mencegah jatuhnya
orang.Misalnya: Scaffold, Mast Climbing work platform dan aerial
working platform. Apabila tidak bisa dilakukan kontrol lain.
3. Engineering kontrol
Penggunaan engineering kontrol seperti barriers dan guardrails dapat
juga

meningkatkan

keselamatan

dalam

bekerja

di

ketinggian.

Barikade/guardrail efektif digunakan dalam menutup area lubang terbuka,


pinggiran bangunan dll. Akses jalan dan jalan keluar yang layak harus
disediakan agar pekerja dapat melakukan mobilisasi alat atau material
yang diperlukan dengan aman. Dengan menyesuaikan perlengkapan untuk
mengurangi risiko seperti penggunaan hoist builder untuk mengangkat
beban berat. Jika hal ini tidak praktis, maka dapat dilakukan pengendalian
4. Administrasi
Administrasi kontrol utuk mengurangi dan menghilangkan exposures
terhadap bahaya dengan di taatinya prosedur atau instruksi kerja,
misalnya: Ijin kerja dan prosedur kerja aman, rotasi kerja untuk
mengurangi risiko pekerja dari kondisi cuaca yang buruk. Jikahal ini tidak
praktis.
5. Alat Pelindung Diri
Untuk pilihan yang paling akhir Alat pelindung diri digunakan dan
dapat di kombinasikan dengan kontrol yang lain akan menambah tingkat
keselamatan pekerja. Misalnya: travel restrint system, Individual fall arrest
system, dan alat pelindung diri yang lain seperti sepatu anti slip, sarung
tangan, kacamata pelindung, helem.

10

Sumber holcim 2014

Gambar 2.3 hirarki control bekerja di ketinggian (Holcim, 2014)


Pencegahan terjatuh adalah Sistem yang menggunakan bantuan mekanis
dan/atau penghalang yang dirancang untuk mencegah jatuh pada saat bekerja di
ketinggian. Seperti: scaffolding, harness dengan lanyard pendek untuk mencegah
orang ke area jatuh, sangkar kerja, dll (Holcim, 2014)
Pelindung Jatuh adalah Sistem yang menahan pada saat terjatuh. Seperti:
harness, jarring safety, titik kaitan, dll.
Menurut Slamet (2010) tentang jenis perlindungan terjatuh (fall protection)
yang paling penting yaitu:
1. Sistem pelindung utama (Primary Fall Arrest System)
Adalah pelindung sisi platform, lantai dan lorong jalan (walkways).
Pelindung jatuh jenis ini terdiri dari:
a. Guard rails (pegangan tangan): rail atas (tinggi: 42 inchi atas sekitar
107 cm), rail tengah (tinggi 21 inchi atau sekitar 53 cm), dan toe
board (rail pada sisi lantai lebar 4 inchi atau sekitar 10 cm).
b. Floor opening atau hole covers (penutup lobang lantai): harus betulbetul menutup bagian yang terbuka untuk mencegah accidental
displacement.
2. Sistem Pelindung Jatuh Secondary (Secondary Fall Arest System)
a.Full Body Harness

Tali
Bahu

11
Buckle

Peralatan
Attachmen
t / D -Ring

attachmen
1) Harus dilengkapi dengan D-ring mounted pada bagian belakang
t point
tambahan
dari harness

2) Penggunaan safety belts atau sabuk safety (bukan full body


Tali
harness) dilarang.
Pinggang
3) Inspeksi dilaksanakan mengikuti cheklist yang disediakan oleh

Tali
Pinggang
supleyer.

4) Pemeriksaan sebaiknya dilaksanakan oleh P2K3 atau safety atau


Tali Paha

personil yang ditugaskan.


5) Dokumentasi hasil pemeriksaan harus tersimpan dala file.

Gambar 2.4 contoh full body harness


b.

Lanyard
1) Harus dilengkapi dengan locking snaphooks.
2) Harus dipasangkan pada D-ring mounted di bagian belakang
harness.
3) D-ring depan dan samping hanya digunakan untuk positioning saja.
4) Ujung yang lain pada lanyard harus di kaitkan pada tempat kaitan
atau gantungan atau titik jangkar (anchor point) pada batas atau
di atas pinggang si pekerja.

Tali Paha

12

5) Snap hook dari ujung lanyard yang dikaitkan pada anchor point
harus dari jenis double-locking (double-action); dalam hal ini jenis
carabiner atau karabiner dapat digunakan untuk sambungan dengan
D-ring belakang.
6) Panjang ideal lanyard adalah 4 feet (1.24m) dan tidak melebihi 6
feet (1.8m)
7) Sebelum digunakan lanyards harus dicek untuk mengetahui adanya
yang rapuh, robek atau tanda-tanda kerusakan lainnya.
8) Lanyard yang sudah terkena impact atau akibat dari jatuh
sebaiknya tidak digunakan lagi.
9) Lanyard harus disimpan di tempat yang terjaga baik suhu serta
kelembannya.

Gambar 2.5 contoh lanyard


c.Anchor Point
1) Harus mampu menahan berat minimal 2270 kg (500 lbs).
2) Palang pipa pada struktur dapat digunakan sebagai anchor point,
tetapi yang berikut ini tidak diijinkan untuk digunakan sebagai
anchor point:
a) Conduits (pipa penyalur, kabel listrik)
b) Spouts (pipa air atau penyalur air)
c) Pipa-pipa sprinkler (sprinkler lines) seperti pipa plastik (plastic
pipe)

13

3) Sesuatu yang memiliki sisi atau pinggiran yang tajam tidak dapat
digunakan sebagai anchor point karena dapat mengakibatkan
lanyard terkoyak.

Gambar 2.6 contoh Anchor point


Untuk melakukan survei sebuah tim harus dibentuk yang memiliki
pemahaman dan pengetahuan tentang tugas yang dilakukan pada ketinggian dalam
suatu proses operasi yang meliputi (Holcim, 2014):
1. Jenis tugas yang dilakukan
2. Lokasi pekerjaan
3. Metode jenis pencegah terjatuh dan pelindung terjatuh
4. Menerapkan tindakan pengendalian.

BAB 3

14

METODE KEGIATAN MAGANG


3.1 Lokasi Magang
Kegiatan magang ini dilaksanakan di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban
Plant di Jalan Jl Raya Glondonggede-Kerek Km 3Ds Merkawang Kec.
Tambakboyo Tuban Jatim, Indonesia
3.2 Waktu Magang
Magang dilaksanakan di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant mulai
tanggal 1 Oktober 30 Oktober 2015. Dengan rincian masuk selama 5 (lima) hari
kerja, yaitu: senin-jumat pukul 08.15-16.15 WIB.
3.3 Metode Pengambilan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi ke tempat
kerja di PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant. Sumber data yang digunakan
adalah:
1. Data primer
Data primer ini didapatkan melalui beberapa cara antara lain:
a. Observasi atau pengamatan secara langsung di lapangan terkait
pekerjaan di ketinggian di PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant
b. Menggunakan lembar ceklist yang sudah tersedia di perusahaan
untuk menilai perilaku unsave pada pekerja diketinggian di PT
Holcim Indonesia Tbk
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh melalui laporan dan data yang berasal dari PT
Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant:
a. Data peraturan perusahaan atau FPE yang berhubungan dengan
pekerjaan di ketinggian di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant
3.4 Penyajian data
Data dari hasil kegiatan magang dianalisis dan disajikan dalam bentuk
penjelasan diskriptif mengenai gambaran penerapan prosedur bekerja diketinggian
di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Prosedur bekerja di ketinggian PT Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant
Prosedur bekerja pada ketinggian di PT Holcim Indonesia Tbk Tuban
Plant untuk menjelaskan bagaimana para pekerja bekerja di dengan selalu
memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja. Prosedur yang di terapkan oleh
PT Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant:
1) Tanggung Jawab
a) Plant Manager bertanggung jawab:
1. Operasional pabrik secara keseluruhan.
2. Memastikan ketersediaan sumber daya dan training untuk
pelaksanaan prosedur ini
3. Memastikan bahwa setiap orang yang bekerja telah
mengetahui prosedur ini dan memiliki kompetensi untuk
menjalankan dengan benar sistem manajemen pencegahan
bahaya terjatuh
b) Manajer/ Superintenden memiliki tanggung jawab :
1. Pelaksanaan seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan
departemennya.
2. Menetapkan dan memastikan bahwa telah tersedia sumber
daya yang memadai untuk pelaksanaan prosedur ini.
3. Memastikan bahwa seluruh orang yang bekerja telah
mengerti mengenai prosedur ini dan memperoleh Induksi
sebelum melaksanakan pekerjaannya.
4. Melakukan inspeksi untuk meyakinkan telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan.
c) Team Leader dan Pengawas bertanggung jawab untuk:

16

1. Melakukan penilaian dan meyakinkan bahwa pekerjanya


memiliki kompetensi sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan
2. Melakukan Penilaian sebelum pekerjaan dilaksanakan,
menentukan jenis dan melakukan pemeriksaan secara
berkala dan pada saat sebelum digunakan terhadap alat
pelindung diri (APD) yang diperlukan.
3. Melaksanakan Induksi K3 kepada

pekerjanya

&

mensosialisasikan resiko yang terkait dengan pekerjaan dan


bagaimana cara pengendalian yang harus dijalankan.
4. Harus melakukan pengawasan langsung apabila perlu
digunakan sistem tali sebagai akses kerja.
d) Penanggung jawab dari Safety bertanggung jawab untuk:
1. Menyiapkan materi dan memberikan pelatihan
2. Mengidentifikasi dan menyediakan alat pelindung diri
untuk bekerja di ketinggian sesuai dengan yang dijelaskan
pada panduan ini.
3. Melakukan inspeksi dan menyimpan rekaman dari inspeksi,
perbaikan dan pemusnahan APD (Termasuk peralatan
rescue).
4. Memastikan bahwa peralatan pertolongan hanya digunakan
untuk kepentingan pertolongan.
5. Meninjau pelaksanaan panduan ini.
e) Seluruh karyawan dan kontraktor yang terlibat dalam pekerjaan ini
harus mengikuti panduan ini, dan:
1. Memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
resiko pekerjaan.
2. Mengetahui dan mengerti langkah tindakan pengendalian
untuk mencegah bahaya jatuh.
3. Memiliki kompetensi untuk melaksanakan secara benar
semua langkah pengendalian

17

4. Melaporkan seluruh bahaya atau ketidaksesuaian atau


kejadian yang mungkin ada pada saat pekerjaan dilakukan
dan melakukan tindakan yang sesuai untuk menanganinya.
2) Kualifikasi &Kewenangan Personel dan Training
a) Hanya orang yang kompeten yang boleh melakukan pekerjaan di
ketinggian,

termasuk

mengoperasikan

atau

menggunakan

peralatan. Kriteria medis dan kebugaran:


1. Mempunyai penglihatan yang baik (dengan atau tanpa lensa
bantu)
2. Koordinasi mata-tangan yang baik
3. Tidak memiliki penyakit jantung dan hipertensi yang tidak
terkontrol
4. Tidak menderita epilepsi dan/atau vertigo
b) Kualifikasi/ kompetensi-kompetensi teknis:
1. Bisa melakulan penilaian resiko terkait bekerja di
ketinggian
2. Petugas yang perlu memakai sarana pelindung jatuh harus
paham bagaimana cara memakai dan memeriksanya untuk
memastikan keselamatannya sebelum digunakan.
3. Petugas yang mendirikan, dan membongkar perancah harus
seorang scaffolder yang ditunjukkan dengan surat ijin yang
berlaku
4. Petugas yang memeriksa perancah harus seorang inspektur
scaffolding yang ditunjukkan dengan surat ijin yang berlaku
5. Petugas yang mengoperasikan platform kerja yang
ditinggikan harus memiliki SIO, jika tidak ada aturannya,
maka sertifikat kompetensi operator dari pabrikannya harus
dimiliki, hal ini juga berlaku untuk petugas perawatannya.
6. Jika SIO dari pemerintah dan sertifikat dari pabrikan tidak
tersedia, maka penilaian kompetensi internal harus dibuat
dan disetujui oleh Manager Pabrik

18

7. Tim penolong untuk menolong korban dari ketinggian


harus memiliki kompetensi penyelamatan di ketinggian
c) Kompetensi ini harus melalui proses penilaian dan penilaian ulang
dilakukan dalam periode tidak lebih dari 3 tahun atau lebih cepat
jika disyaratkan oleh hukum.
d) Personel yang berwenang

harus

terdaftar

dan

memiliki

kewenangan yang diberikan oleh penanggung jawab area/pabrik.


e) Program training baik awareness atau kompetensi harus dibuat dan
diselenggarakan untuk personel terkait. Silahkan merujuk pada
analisa kebutuhan training terkait FPE.
3) Penilaian Resiko
a) Survei harus dilakukan dan dicatat untuk mengidentifikasi seluruh
pekerjaan rutin yang memiliki resiko terjatuh dari ketinggian 1.8 m
atau lebih. Survei juga harus memasukkan pekerjaan dengan
potensi jatuh kurang dari 1.8 m, jika pekerjaan tersebut memiliki
bahaya yang bisa mengancam keselamatan pekerja. Survei harus
mencatat:
1. Jenis pekerjaan yang dilakukan
2. Lokasi pekerjaan
3. Ketinggian
4. Jenis sarana pencegah atau

pelindung

jatuh

yang

digunakan.
b) Survey ulang harus dilakukan jika ada perubahan pada aktifitas dan
fasilitas/struktur termasuk adanya fasilitas/struktur baru.
c) Penilaian resiko harus dilakukan oleh orang yang kompeten untuk
mengidentifikasi resiko-resiko yang berkaitan dengan aktifitas
bekerja di ketinggian. Untuk aktifitas rutin, HIRAC harus tersedia
dan untuk aktifitas non rutin, JSA harus dibuat.
d) Pemilihan sarana pencegah dan pelindung
mempertimbangkan hirarki kontrol

jatuh

harus

19

e) Hasil dari penilaian resiko harus digunakan sebagai dasar tindakan


kontrol aktifitas penggalian dan ekskavasi. Hal ini termasuk tetapi
tidak terbatas pada:
1. Pemilihan metode pencegahan & pelindung jatuh
2. Akses keluar dan masuk
3. Rencana penyelamatan/tanggap darurat
4. Training dan kompetensi yang dibutuhkan oleh personel
5. Alat Pelindung Diri
6. Larangan masuk, pembatasan dan tanda/rambu
7. Rencana penyelamatan
f) Semua dokumen, penilaian resiko dan rekaman harus disimpan
selama 2 tahun.
4) Struktur, Fasilitas dan Peralatan/Sarana
a) Platform Kerja dan Akses Jalan Permanen
Platform kerja dan akses jalan Permanen adalah struktur tetap yang
memungkinkan digunakan sebagai tempat kerja setiap waktu dan
memenuhi kriteria berikut ini:
1. Dirancang dan dibuat untuk beban kerja yang direncanakan
2. Terpasang kokoh, permukaan paltform tidak bergerak saat
ada yang berjalan di atasnya
3. Untuk akses jalan (termasuk tangga), lebar jalan tidak boleh
kurang dari standar minimal
4. Memiliki pegangan, pagar tengah, pengaman bawah.
5. Pagar pelindung harus dicat warna kuning atau kuning
pastel
b) Platform Kerja yang bisa Ditinggikan Platform kerja ini harus:
1. Dirancang dan dibuat sesuai dengan standar teknik yang
tepat
2. Memiliki sistem pengaman yang baik
3. Dilengkapi dengan sistem kendali platform yang dirancang
tetap aman meski ada kegagalan
4. Memiliki sertifikat yang valid jika peraturan mensyaratkan
c) Perancah
1. Material
perancah,
aksesoris
dan
metode
pendirian/pembongkaran harus sesuai dengan standar yang
ada, seperti: BS, AS-NZS, JIS

20

2. Perancah hanya boleh dirancang, didirikan, diperiksa,


dimodifikasi dan dibongkar oleh petugas yang kompeten,
ditunjukkan dengan sertifikat dan/atau SIO Scaffolder yang
valid
3. Selama

pendirian

dan

pembongkaran

perancah,

alat/material hanya boleh dinaikkan dan diturunkan dengan


metode yang aman dan telah disetujui.
4. Jalur menuju perancah harus disediakan tangga yang aman,
bukan dengan menaiki struktur perancah.
5. Sistem Tanda Perancah (Scafftag) harus diterapkan selama
pendirian

perancah,

selama

digunakan,

dan

saat

pembongkaran.
6. Perancah tidak boleh digunakan dengan alat angkat kecuali
telah

diijinkan

oleh

petugas

yang

kompetem

dan

berwenang.
7. Ketika perancah memiliki roda, pastikan bahwa roda
tersebut berada dalam posisi terkunci bila perancah sedang
digunakan
d) Tangga Tetap
1. Tangga bisa dibuat untuk tempat tertentu, dimana disana
tidak dibutuhkan perawatan rutin dan hanya kadang-kadang
dibutuhkan untuk akses
2. Tangga harus diletakkan pada kemiringan 60, atau jika
keterbatasan area dan kondisi bisa dipasang tegak lurus
3. Lebar tangga minimal 450 mm, dengan jarak pijakan 300
mm. Pagar/pegangan yang layak harus disediakan
4. Untuk tangga dengan tinggi lebih dari 2.5 m, sangkar
pelindung harus dipasang
5. Tempat pijakan istirahat tidak boleh berjarak lebih dari 9
meter

21

6. Jika memungkinkan, stair harus dipilih dibandingkan


dengan tangga
e) Tangga Portabel
1. Tangga portabel harus dirancang dan dibuat sesuai dengan
standar yang berlaku (seperti: AS/NZS, ANSI, dll)
2. Tangga kayu/bambu dilarang digunakan di area HIL
3. Untuk pekerjaan listrik, gunakan hanya tangga fiberglas
f) Peralatan/Aksesoris Akses dengan Tali
1. Tali dan aksesorisnya harus sesuai dengan standar yang ada
(CE, EN)
2. Tali harus memiliki diameter minimal 11mm dan dibuat
dari kermantle baik itu dari nilon atau polyamide dengan
kekuatan uji tarik minimum 3000 kg
g) Titik Kait dan Tali Pengaman
1. Titik kait dan tali pengaman harus dirancang, dipasang dan
diperiksa

oleh

petugas

yang

kompeten,

seperti

mechanical/structural engineer atau tenaga ahli lain yang


terkait baik dengan pendidikan formal atau training khusus.
2. Titik kait dan tali pengaman harus menunjukkan beban
kerja aman atau jumlah orang yang diperbolehkan
menggunakannya.
h) Full Body Harness (FBH)
1. FBH harus sesuai dengan standar yang ada, seperti
(AS/NZS, ANSI, BS, dll)
2. Spesifikasi standar FBH harus ditentukan dengan jelas pada
saat pengadaan alat dan harus disampaikan kepada
Kontraktor.
3. FBH harus dilengkapi dengan 2 lanyard dengan hook lebar
5) Prosedur Operasional Umum
a) Platform Kerja yang Bisa Ditinggikan
1. Hanya petugas yang kompeten

yang

diijinkan

mengoperasikan, memeriksa, dan merawat platform kerja


yang bisa ditinggikan

22

2. Kompetensi bisa didapat dari training dari perusahaan


pembuat atau training internal jika akses ke perusahaan
pembuat sulit dilakukan.
b) Scaffolding/Perancah
1. Hanya Scaffolder, ditunjukkan dengan sertifikat/SIO yang
boleh

merancang,

mendirikan

dan

membongkar

scaffolding.
2. Rancangan, pendirian dan pembongkaran scaffolding harus
sesuai dengan standard yang berlaku (BS, AS/NZS, JIS)
3. Hanya inspektor scaffolding yang bisa memeriksa
scaffolding dan mengeluarkan ijin scaffolding (termasuk
persyaratan minimal penggunaannya).
4. Scaffolding harus di beri label scafftag merah selama
pendirian, pada saat diperiksa dan selama pembongkaran
5. Scaffolding yang sudah diperiksa dan dinyatakan aman
untuk digunakan harus diberi tanda scafftag warna hijau
6. Hanya scaffolding dengan scafftag warna hijau yang boleh
digunakan
7. Silahkan merujuk pada CGL1010 tentang Sistem Ijin Kerja
atau Panduan Site lainnya.
c) Memakai Full Body Harness
1. Pada saat melakukan pekerjaan di ketinggian dan tindakan
pengendalian lain tidak dapat dilakukan, full body harness
harus dipakai setiap saat. 1 hook harus selalu dikaitkan ke
titik kait yang baik setiap saat
2. FBH harus diperiksa setiap kali akan dipakai untuk
memastikan kondisinya layak dipakai
3. Ikuti petunjuk pemakaian dari pabrik pembuat
4. Jangan memelintir sabuk karena bisa menyebabkan cedera
tambahan saat terjatuh.
5. Setel sabuk agar nyaman dipakai, jangan terlaku ketat atau
longgar

23

6. Bersihkan FBH sesuai dengan petunjuk dari pabrik


pembuat
7. Simpan FBH di tempat yang dingin, kering dan terhindar
dari sinar matahari langsung
d) Melewati/Menggunakan Tangga
1. Pastikan selalu menjaga kontak 3 titik
2. Tali safety yang bisa tergulung dan terkunci otomatis
direkomendasikan untuk digunakan untuk pekerjaan rutin.
e) Menggunakan Tangga Pada saat menggunakan tangga, harus
mempertimbangkan:
1. Pastikan selalu menjaga kontak 3 titik
2. Seluruh material, alat, dll, yang digunakan di pekerjaan,
harus di angkat dan diturunkan dengan metode yang
disetujui
3. Akses ke tangga tidak boleh terhalangi setiap saat
4. Jika
kerangka/sangkar
pelindung
dan

tempat

pijakan/istirahat tidak ada, gunakan sistem pencegah jatuh.


f) Memakai Tangga Portabel
1. Tangga portabel harus diperiksa setiap kali akan digunakan
2. Pada saat menggunakan tangga tunggal atau tambahan,
tangga harus diikat dengan kuat di bagian ujung atas atau
dipegang kuat oleh orang lain
3. Tangga portbel tunggal, minimal harus 50 cm melebihi
permukaan paling atas jika akan menjangkau permukaan
atas
4. Pastikan selalu menjaga kontak 3 titik ketika memakai
tangga tunggal atau tambahan
5. Dua anak tangga teratas tidak boleh digunakan
6. Pengguna tangga harus selalu berdiri diatas anak tangga
dan tepat ditengah tangga
7. Selalu gunakan rasio 1:4 ketika menggunakan tangga
tunggal atau tambahan, tinggi tidak boleh lebih dari 4 kali
jarak antara kaki tangga dan dinding

24

g) Pekerjaan Listrik atau Bekerja di Dekat Kabel Listrik dan Instalasi


Listrik
1. Gunakan hanya tangga fiberglas untuk pekerjaan listrik
2. Sarana akses lain bisa digunakan setelah mendapatkan
persetujuan dari ahli listrik
3. Selalu jaga jarak aman dari kabel listrik
h) Mengamankan Peralatan dan Barang Bawaan
1. Peralatan dan barang bawaan harus dijaga agar tidak
terjatuh
2. Gunakan tas, tas pinggang, kontainer, atau diikat dengan
tali
3. Jangan letakkan/simpan di beam, flange, plafon atau tempat
di ketinggian lainnya.
i) Memberi Pembatas Area dan rambu
1. Jika ada tepian terbuka atau bukaan yang berpotensi untuk
orang terjatuh, area tersebut harus diberi pembatas
2. Pita peringatan keselamatan bisa dipasang dengan jarak
minimal dari tepian 1.5 m
3. Jika jarak 1.5 m tidak bisa didapat, pembatas fisik yang
dikaitkan kuat harus dipasang
4. Jika tidak memungkinkan, seluruh orang yang akan berada
di area 1.5 m dari tepian harus memakai sarana pencegah
atau pelindung jatuh
5. Area dimana diatasnya dilakukan pekerjaan di ketinggian
harus diberi pembatas dengan jarak yang cukup
6. Sebagai tambahan pembatas, rambu harus dipasang dimana
ada bahaya orang terjatuh atau kejatuhan material, APD
yang dibutuhkan, dll.
j) Setiap bahaya yang terkait dengan alat bekerja di ketinggian atau
kondisi tempat kerja harus dilaporkan, silahkan mengikuti sistem
pelaporan yang ada
6) Kontrol Darurat
a) Seluruh pekerjaan

di

ketinggian

harus

memiliki

penyelamatan. Rencana penyelamatan harus menjelaskan:

rencana

25

1. Bagaimana mencapai dan menolong korban


2. Fasilitas/peralatan yang dibutuhkan dan yang tersedia
3. Kompetensi tim penyelamat
4. Fasilitas P3K dan petugas P3K
5. Fasilitas darurat di luar pabrik
6. Alat komunikasi
b) Petugas P3K yang kompeten harus ada untuk menangani cedera
akibat terjatuh atau kejatuhan material (luka terbuka, patah tulang,
trauma)
c) Tim penolong harus memliki kompetensi penyelamatan di
ketinggian
d) Fasilitas/alat pertolongan di Pabrik harus mencukupi untuk
menangani situasi darutat yang bisa terjadi di Pabrik
e) Jika fasilitas/alat penolong tidak cukup, maka fasilitas penolong
dari pihak luar harus tersedia dan bisa datang dalam waktu tertentu
sesuai dengan situasi darurat yang terjadi
f) Untuk mengevaluasi keefektifan rencana penyelamatan dan
kemampuan tim penyelamat, latihan penyelamatan korban dari
ketinggian harus dilakukan minimal satu tahun sekali. Laporan
evaluasi dan perbaikan/tindakan harus dibuat
7) Kebutuhan Training
a) Training untuk kompetensi perlu dibuat untuk memastikan seluruh
petugas yang terlibat dalam aktifitas bekerja di ketinggian
memenuhi syarat, mampu dan bisa melakukan pekerjaan dengan
aman terkait dengan aktifitas bekerja di ketinggian dan kondisi
lokasi pekerjaan. Dan juga bagaimana bertindak pada kondisi
darurat.
b) Silahkan merujuk pada analisa kebutuhan training terkait FPE.
4.2 Kejadian di lapangan
Berdasarkan hasil observasi, didapatkan bahwa perusahaan telah
menerapkan prosedur bekerja di ketinggian dengan baik namun demikian
seringkali ditemukan pelanggaran kebijakan prosedur yang di berlakukan
perusahaan yang dilakukan oleh pihak terkait, penilaian kesesuaian prosedur kerja

26

dilakukan dengan cara observasi menggunakan lembar ceklist yang sudah


disediakan oleh perusahaan:

Gambar 4.1 lembar ceklist workplace inspection yang disediakan oleh


perusahaan
Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa yang di periksa pada
pekerjaan di ketinggian meliputi beberapa hal diantaranya:
1. Pekerja telah mendapatkan pelatihan bekerja di ketinggian
2. Full body harness dalam keadaan layak, dipakai dan dikaitkan
3. Terdapat pagar pengaman pada area tempat kerja
4. Terdapat lifeline yang memenuhi standar pada tempat kerja yang tidak
tersedia pagar pengaman atau scaffolding
5. Tangga dalam kondisi yang bagus
6. Akses menuju scaffolding/lantai kerja bebas dari halangan
7. Scaffolding sesui standart HIL dan telah di inspeksi oleh
inspector/scaffolder yang bersertifikat dan dilengkapi dengan scafftag
8. Opening pada platform/lantai kerja
9. Bekerja dilengkapi barrier/warning sign
Berdasarkan observasi yang dilakukan di lapangan berikut adalah
beberapa temuan yang terjadi dilapangan:

27

Gambar 4.2 Pembongkaran kantor kontraktor


Dari gambar 4.2 diatas didapatkan hasil obesrvasi dengan menggunakan
media ceklist sebagai berikut:
Beri tanda V jika kondisi aman
Beri tanda X jika kondisi tidak aman
Beri blok warna kuning (
) untuk kondisi kritikal
No Tanda

Penilaian

Pekerja telah mendapatkan pelatihan bekerja di ketinggian

Full body harness dalam keadaan layak, dipakai dan


dikaitkan

Terdapat pagar pengaman pada area tempat kerja

Terdapat lifeline yang memenuhi standar pada tempat kerja


yang tidak tersedia pagar pengaman atau scaffolding

Tangga dalam kondisi yang bagus

Akses menuju scaffolding/lantai kerja bebas dari halangan

Scaffolding sesui standart HIL dan telah di inspeksi oleh


inspector/scaffolder yang bersertifikat dan dilengkapi dengan
scafftag

Opening pada platform/lantai kerja

Bekerja dilengkapi barrier/warning sign


Tabel 4.1 lembar ceklist Work at Height

28

Dari gambar 4.2 ditemukan bahwa pekerja tidak mentaati peraturan yang
diberlakukan oleh perusahaan, dan di dalam lembar ceklist ada beberapa ketentuan
yang tidak dilaksanakan di antaranya ketentetuan no 1,2,3,4,5 & 9
Pekerja tidak mendapat pelatihan bekerja di ketinggian hal ini
menyebabkan pekerja rentan tidak mengetahui hal apa saja yang perlu disiapkan
untuk bekerja diketinggian, pekerja sudah memakai full body harness dengan baik
tetapi tidak mencantelkan lanyard yang bisa mengabitkan pekerja terjatuh
kebawah dan berpotensi terjadi injury, hal ini bisa mengakibatkan pekerja
terpeleset dan mengakibatkan terjatuh dan berpotensi terjadi injury, dan bekerja
diketinggian tidak dilengkapi barrier/warning sign.
Selain melanggar ketentuan yang ada pada lembar ceklist pekerja juga
tidak membuat permit dan JHA. Manager superintenden dan semua pihak yang
bertangung jawab terkesan lalai dan tidak mengingatkan pekerja atas tidak
mengertinya pekerja tentang prosedur yang dilakukan saat bekerja di ketinggian.

Gambar 4.3 pekerja mencantelkan lanyard ke lifting gear


Setelah mendapat teguran dari pihak safety para pekerja dan pihak yang
terkait langsung bekerja dengan menggunankan tata cara yang berlaku
diperusahaan seperti pembuatan permit dan JHA serta berperilaku sesuai prosedur
perusahaan seperti pada gambar 4.3.

29

Gambar 4.4 Pekerjaan work at height di area coolmill


Dari gambar 4.4 diatas didapatkan hasil obesrvasi dengan menggunakan
media ceklist sebagai berikut:
Beri tanda V jika kondisi aman
Beri tanda X jika kondisi tidak aman
Beri blok warna kuning (
) untuk kondisi kritikal
No Tanda

Penilaian

Pekerja telah mendapatkan pelatihan bekerja di ketinggian

Full body harness dalam keadaan layak, dipakai dan


dikaitkan

Terdapat pagar pengaman pada area tempat kerja

Terdapat lifeline yang memenuhi standar pada tempat kerja


yang tidak tersedia pagar pengaman atau scaffolding

Tangga dalam kondisi yang bagus

Akses menuju scaffolding/lantai kerja bebas dari halangan

Scaffolding sesui standart HIL dan telah di inspeksi oleh


inspector/scaffolder yang bersertifikat dan dilengkapi dengan
scafftag

Opening pada platform/lantai kerja

Bekerja dilengkapi barrier/warning sign


Tabel 4.1 lembar ceklist Work at Height

30

Dari gambar 4.4 ditemukan bahwa pekerja tidak mentaati peraturan yang
diberlakukan oleh perusahaan, dan di dalam lembar ceklist ada beberapa ketentuan
yang tidak dilaksanakan di antaranya ketentetuan no 2 dan 9.
Pekerja sudah memakai full body harness dengan baik tetapi tidak
mencantelkan lanyard yang bisa mengabitkan pekerja terjatuh kebawah dan
berpotensi terjadi injury, terdapat opening pada platform atau lantai kerja hal ini
bisa mengakibatkan pekerja terpeleset dan mengakibatkan terjatuh dan berpotensi
terjadi injury, dan bekerja diketinggian tidak dilengkapi barrier/warning sign.
Selain melanggar ketentuan yang ada pada lembar ceklist pekerja juga
menyalahi aturan permit yang berlaku yaitu tidak ada pekerjaan hotwork tetapi
pekerja melakukan pekerjaan hotwork (gerinda) diatas scaffolding. Peralatan juga
tergeletak di atas platform yang bisa mengakibatkan orang yang dibawahnya
kejatuhan benda tersebut, manager superintenden terkesan lalai dan tidak
mengingatkan pekerja atas tidak mengertinya pekerja tentang prosedur yang
dilakukan saat bekerja di ketinggian.

Gambar 4.5 perbaikan atap kantor kontraktor

31

Gambar 4.6 Perbaikan rotary lamp


Dari gambar 4.5 dan Gambar 4.6 diatas didapatkan hasil ceklist:
X

Pekerja telah mendapatkan pelatihan bekerja di ketinggian

Full body harness dalam keadaan layak, dipakai dan


dikaitkan

Terdapat pagar pengaman pada area tempat kerja

Terdapat lifeline yang memenuhi standar pada tempat kerja


yang tidak tersedia pagar pengaman atau scaffolding

Tangga dalam kondisi yang bagus

Akses menuju scaffolding/lantai kerja bebas dari halangan

Scaffolding sesui standart HIL dan telah di inspeksi oleh


inspector/scaffolder yang bersertifikat dan dilengkapi
dengan scafftag

Opening pada platform/lantai kerja

Bekerja dilengkapi barrier/warning sign

Tabel 4.1 tabel ceklist workplace inspection Work at Height (WAH)


Dari gambar 4.3 dan gambar 4..4 ditemukan bahwa pekerja tidak mentaati
peraturan yang diberlakukan oleh perusahaan, dan di dalam lembar ceklist semua
ketentuan tidak dilaksanakan dengan baik. Pekerja tidak memakai full body
harness hal ini bisa mengabitkan pekerja terjatuh kebawah dan berpotensi terjadi

32

injury. Manager superintenden terkesan lalai dan tidak mengingatkan pekerja atas
tidak mengertinya pekerja tentang prosedur yang dilakukan saat bekerja di
ketinggian.

Gambar 4.7 pengecekan lifeline


Dari gambar 4.7 diatas didapatkan hasil ceklist sebagai berikut:
V

Pekerja telah mendapatkan pelatihan bekerja di ketinggian

Full body harness dalam keadaan layak, dipakai dan


dikaitkan

Terdapat pagar pengaman pada area tempat kerja

Terdapat lifeline yang memenuhi standar pada tempat kerja


yang tidak tersedia pagar pengaman atau scaffolding

Tangga dalam kondisi yang bagus

Akses menuju scaffolding/lantai kerja bebas dari halangan

Scaffolding sesui standart HIL dan telah di inspeksi oleh


inspector/scaffolder yang bersertifikat dan dilengkapi
dengan scafftag

Opening pada platform/lantai kerja

Bekerja dilengkapi barrier/warning sign


Tabel 4.1 tabel ceklist workplace inspection Work at Height (WAH)

33

Dari gambar 4.7 ditemukan bahwa pekerja melakukan pekerjaannya


dengan baik hal ini dilihat dari lembar ceklist yang telah diitentukan oleh
perusahaan sudah terpenuhi semua.

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan
tentang prosedur bekerja pada ketinggian, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan prosedur bekerja pada ketinggian di PT. Holcim Indonesia Tbk
Tuban plant sudah sesuai peraturan yang di terapkan oleh perusahaan yang
mengacu pada beberapa peraturan diantaranya adalah

Management

Handbook for Occupational Health and Safety of Holcim Ltd, CPR1015


Company Wide Operational OHS, Panduan Fatality Prevention Element
Bekerja di Ketinggian Holcim Group Support, CGL1010 Panduan Sistem Ijin
Kerja, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia,
dan

Peraturan

Menteri

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

Nomor

34

PER.01/MEN/1980 tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja


pada Konstruksi Bangunan.
2. Meskipun prosedur sudah diterapkan dengan baik oleh perusahaan, tetapi
kenyataan dilapangan masih banyak ditemukan pelanggaran terutama yang
dilakukan oleh pekerja itu sendiri, banyak yang beranggapan bahwa prosedur
bekerja diketinggian terlalu ribet dan menyusahkan pekerja terutama pada
pekerja kontraktor.
5.2 SARAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka peneliti mengemukakan saran
kepada PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant untuk mencapai target penerapan
prosedur pada ketinggian dengan baik sebagai berikut:
1. Peningkatan sosialisai terhadap pelaksanaan prosedur
ketinggian

bekerja

pada

agar lebih optimal lagi sehingga tenaga kerja benar-benar

memahaminya dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang


ada.
2. Sebaiknya perlu diadakan pemeriksaan yang lebiih detail sebelum tenaga
kerja bekerja pada ketinggian untuk meghindari terjadinya kecelakaan kerja.
3. Sebaiknya semua orang bekerjasama mengawasi jalannya pekerjaan pada
ketinggian mengingat risiko yang ditimbulkan berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA

35

Ainun, F. 2013. Gambaran Penerapan Penyediaan Masker Sebagai Alat Pelindung


Diri (APD) Pekerja Bagian Produksi Di PT Charoen Pokphan
Indonesia. Skripsi. Surabaya: FKM Universitas Airlangga
Tarwaka. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi
K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (2010). Pengawasan K3 Konstruksi
(Modul). Jakarta
HSE. 2014. http://www.hse.gov.uk/statistics/causinj/kinds-of-accident.htm - di
akses 18-10-2015
ARAI. 2009. http://indorope.tumblr.com/page/4 - di akses 18-10-2015
Slamet. 2010. Management System Bekerja di Ketinggian. Jakarta: Dian rakyat
Anizar. 2009. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Ministry of Manpower, the Workplace Safety and Health Council. (2009).Code of
Practice for Working Safely at Height. WSHC: Singapore.