Anda di halaman 1dari 2

Nama: Andreas Wijaya

NPM: 260110120163

MENGAPA AMINOGLIKOSIDA BISA BERSIFAT


BAKTERIOSIDA?
Semua anggota aminoglikosida diketahui menghambat sintesis protein bakteri
dengan mekanisme yang ditentukan untuk streptomisin. Aktivitas aminoglikosida
dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama perubahan pH, keadaan aerobik dan
anaerobik. Aktivitas aminoglikosida lebih tinggi pada suasana alkali daripada suasan
asam.
Aminoglikosida berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh porin proteins
pada membran luar dari bakteri gram negatif masuk keruang periplasmik. Sedangkan
transport melalui membran dalam sitoplasma membutuhkan energi. Fase transport
yang dependen energi ini bersifat rate limiting, dapat diblok oleh Ca++ dan Mg++,
hiperosmolaritas, penurunan pH dan anaerobiosis. Hal ini menerangkan penurunan
aktivitas aminoglikosida pada lingkungan anaerobik suatu abses atau urin asam yang
bersifat hiperosmolar. Setelah masuk sel, aminoglikosida terikat pada ribosom 30S
dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosida pada ribosom ini
mempercepat transport aminoglikosid kedalam sel diikuti dengan kerusakan
membran sitoplasma dan disusul dengan kematian sel.
Aminoglikosid menghambat sintesis protein dengan 3 cara:
1. Agen-agen ini mengganggu kompleks awal pembentukan peptide

2. Agen-agen ini menginduksi salah baca mRNA, yang mengakibatkan


penggabungan asam amino yang salah ke dalam peptide, sehingga
menyebabkan suatu keadaan nonfungsi atau toksik protein
3. Agen-agen ini menyebabkan terjadinya pemecahan polisom menjadi
monosom non-fungsional
Aminoglikosida bekerja secara sinergis dengan antibiotic -laktam karena kerja laktam pada sintesis dinding sel meningkatkan difusi aminoglikosida kedalam
bakteri. Semua aminoglikosida bersifat bakterisid.
Streptomisin digunakan untuk obat tuberculosis, plague, tularemia dan kombinasi
dengan penisilin untuk mengobati endokarditis.
Pada poin kedua mekanisme kerja antibiotic golongan aminoglikosida ini,
disebutkan bahwa antibiotic golongan aminoglikosida bersifat bakteriosida. Padahal
golongan antibiotic yang berpengarauh terhadap sintesis protein pada umumnya
bersifat bakteriostatik. Hal ini disebabkan karena pada antibiotic golongan
aminoglikosida dapat menginduksi salah satu mRNA. Induksi mRNA ini
mengakibatkan penggabungan asam amino yang salah pada peptide sehingga
menyababkan kesalahan pembacaan dan misfungsi dari protein yang dihasilkan.
Lebih dari itu, protein yang dihasilakan dapat berupa protein toksik yang
menginduksi proses lisis bakteri tersebut. Hal tersebutlah yang membuat antibiotik
golongan aminoglikosida juga bersifat bakteriosida walaupun kerjanya secara umum
mempengaruhi dinding sel.