Anda di halaman 1dari 10

KARAKTERISTIK DAN BENTUK

OLAHAN UDANG VANNAMEI


(Litopenaeus vannamei)
Posted by hafiz1309 on Juni 17, 2009

KARAKTERISTIK DAN BENTUK OLAHAN UDANG VANNAMEI


(Litopenaeus vannamei)
Muhammad Hafiz (C34070087)
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor
Tanggal : 4 Juni 2009
ABSTRAK
Udang vannamei (Litopnaeus vannamei) merupakan organisme akuatik asli pantai pasifik meksiko,
amerika tengah dan amerika selatan. Udang vannamei memiliki nama umum pacific white shrimp, camaron
blanco, dan longostino. Udang vanamei dapat tumbuh sampai 230 mm/9 inchi. Udang vanamei menyukai
dasar yang berpasir dengan kedalaman sekitar 72 m dari permukaan laut. Spesies ini memiliki karapas
yang bening sehingga warna pada ovary dapat terlihat. Udang termasuk salah komoditas ekspor yang
terbesar. Total ekspor udang Indonesia tahun 2007 mencapai 125.598 ton. Berdasarkan data pemerintah
kapasitas produksi udang jenis vannamei dalam negeri mencapai 270 ton per tahun. Potensi udang ekspor
di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Komoditi tersebut diekspor dalam bentuk udang beku
dan menghasilkan limbah berupa kepala, kaki dan kulit dalam jumlah yang cukup besar (36-47%) dari
keseluruhan produk. Udang memiliki karakteristik yang sama seperti komoditas hasil perikanan lainnya,
yaitu mudah rusak (perishable). Ada beberapa macam bentuk olahan udang khususnya pada udang
vannamei antara lain udang beku, udang beku datar, udang kering dan frozen. Di Indonesia saat ini ada
sekitar 170 pengolahan udang dengan kapasitas produksi terpasang sekitar 500.000 ton per tahun. Dari
proses pembekuan udang (cold storage) dalam bentuk udang beku headless atau peeled untuk ekspor, 6070 % dari berat udang jadi limbah (bagian kulit dan kepala). Hasil praktikum didapat rendemen pada kepala
sebesar 29%, daging sebesar 58%, dan pada kulit sebesar 13%. Sedangkan pada ukuran rata-rata tiap
bagian-bagian udang didapatkan berat total rata-rata sebesar 15 gr, tanpa kepala sebesar 10,67 gr, tanpa
kepala dan kulit sebesar 8,67 gr, bobot kepala sebesar 4,33 gr, dan bobot rata-rata kulit sebesar 2 gr.
Komposisi kimia pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei) berupa air didapat sebesar 78,2%, abu
sebesar 1,5%, lemak sebesar 0,8%, protein sebesar 18,1%, dan karbohidrat sebesar 1,4%. Tak hanya
dagingnya, limbah udang pun juga dapat dimanfaatkan menjadi produk olahan berupa tepung, kerupuk,
silase, petis, terasi, kecap, kompos, serta khitin dan khitosan.
Kata kunci : Udang vannamei (L. Vannamei), rendemen, proksimat, bentuk olahan udang
1. PENDAHULUAN
Penggolongan udang vannamei menurut tseng (1987) diacu dalam Pranoto (2007), adalah :

Filum : Anthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Eumalacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Penaidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopnaeus vannamei
Gambar morfologi udang dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Udang vannamei


Udang vanamei merupakan organisme akuatik asli pantai pasifik meksiko, amerika tengah dan amerika
selatan. Bagian tubuh udang vanamei terdiri dari kepala yang bergabung dengan dada (chepalothorax) dan
perut (abdomen). Kepala udang vanamei terdiri dari antenula , antena, mandibula, dan sepasang maxillae.
Kepala udang vanamei juga dilengkapi dengan 5 pasang kaki jalan (periopod) yang terdiri dari 2 pasang
maxillae dan 3 pasang maxiliped. Perut udang vanamei terdiri dar 6 ruas dan juga terdapat pasang kaki
renang (pleopod) serta sepasang uropod (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson. Sift
udang vanamei aktif pada kondisi gelap dan dapat hidup pada kisaran salinitas lebar dan suka memangsa
sesama jenis (kanibal), tipe pemakan lambat tapi terus menerus (continous feeder) serta mencari makan
lewat organ sensor. Spesies ini memiliki 6 stadia naupli, 3 stadia protozoa, 3 stadia mysis dan stadia post
larva dalam siklus hidupnya. Stadia post larva berkembang menjadi juvenil dan akhirnya menjadi dewasa
(Haliman 2005 diacu dalam Pranoto 2007).
Udang vannamei memiliki nama umum pacific white shrimp, camaron blanco, dan longostino. Udang
vanamei juga mempunyai nama F.A.O yaitu whiteleg shrimp, crevette pattes blanches, dan camaron
patiblanco.
Udang ini berwarna putih sehingga sering disebut udang putih dan bentuk tubuhnya sering bercorak agak
kebiru-biruan yang memiliki kromatophor dominan biru yang terpusat dekat dengan batas uropod dan
telson (Eldred dan Hutton 1960 diacu dalam Muzaki 2004).
Udang vanamei dapat tumbuh sampai 230 mm/9 inchi (Dore dan Frimodt 1987 diacu dalam Muzaki 2004).
Udang vanamei menyukai dasar yang berpasir dengan kedalaman sekitar 72 m dari permukaan laut (Dore
dan Frimodt 1987 diacu dalam Muzaki 2004). Spesies ini memiliki karapas yang bening sehingga warna
pada ovary dapat terlihat. Pada betina gonad pertama berukuran kecil, berwarna coklat keemasan atau
coklat kehijauan pada musim pemijahan (Brown dan Patlan 1974 diacu dalam Muzaki 2004).

Total ekspor udang Indonesia tahun 2007 mencapai 125.598 ton. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh
udang vannamei antara lain responsif terhadap pakan yang diberikan atau nafsu makan yang tinggi, lebih
tahan terhadap serangan penyakit dan lingkungan yang kurang baik. Udang vannamei juga memiliki
pasaran yang pesat di tingkat internasional (Ariawan, 2005). Bahkan udang ini sudah laku dijual pada saat
berukuran 7,0 10,0 gram/ekor atau pada saat udang berumur sekitar 60 hari di tambak. Selanjutnya
menurut Briggs et al. (2004), udang vannamei membutuhkan pakan dengan kandungan protein 25-30%,
lebih rendah ketimbang udang windu. Berdasarkan data pemerintah kapasitas produksi udang jenis
vannamei dalam negeri mencapai 270 ton per tahun (tempointeraktif, 2008).
Udang memiliki karakteristik yang sama seperti komoditas hasil perikanan lainnya, yaitu mudah rusak
(perishable). Ada beberapa macam bentuk olahan udang khususnya pada udang vannamei antara lain
udang beku, udang beku datar, udang kering dan frozen (Sihombing, 2005).
Udang beku termasuk ke dalam peeled, nobashi atau peeled tail on yang digunakan untuk membuat
tempura, sedangkan pada produk olahan udang beku kering termasuk ke dalam tempura cooked dan
uncooked serta udang shushi. angsa pasar produk udang olahan meningkat dari 10,32% menjadi 20.05%
selama enam tahun terakhir (1998-2004). Impor bahan baku udang beku (frozen raw shrimp) jumlahnya
mencapai 80% dari total udang impor, terdiri dari head-on, headless shell-on, peeled tail-on Nobashi, dan
other raw peeled shrimp (Sihombing, 2005).
Salah satu hasil ekspor Indonesia yang berpotensi untuk terus dikembangkan dalam dasawarsa terakhir ini
adalah udang, yang mendapat respon besar dari pasar internasional terutama Amerika Serikat dan Jepang
karena kualitasnya yang bagus. Udang putih atau udang vannamei asal Amerika Latin ini mempunyai
produktivitas yang tinggi. Dalam pola perkembangbiakan atau pembudidayaan udang vannamei ini
memang sangat cocok untuk dibudidayakan. Pasalnya, udang putih atau udang vannamei ini memiliki
keunggulan tersendiri dari udang lainnya yaitu tahan terhadap penyakit.
Potensi udang ekspor di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Komoditi tersebut diekspor
dalam bentuk udang beku dan menghasilkan limbah berupa kepala, kaki dan kulit dalam jumlah yang
cukup besar (36-47%) dari keseluruhan produk (Djanarko, 2008). Salah satu limbah kepala udang
Vannamei dimanfaatkan untuk diolah menjadi serbuk, yang dapat digunakan sebagai bahan penyedap
masakan.
Di Indonesia saat ini ada sekitar 170 pengolahan udang dengan kapasitas produksi terpasang sekitar
500.000 ton per tahun. Dari proses pembekuan udang (cold storage) dalam bentuk udang beku headless
atau peeled untuk ekspor, 60-70 % dari berat udang jadi limbah (bagian kulit dan kepala) (Prasetiyo, 2006).
Limbah sebanyak itu, jika tidak ditangani secara tepat, akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan
sebab limbah tersebut dapat meningkatkan biological oxygen demand dan chemical oxygen demand.
Sedangkan selama ini pemanfaatan limbah cangkang udang hanya terbatas untuk campuran pakan ternak
saja, seperti itik, bahkan sering dibiarkan membusuk. Ada peluang besar dalam inovasi pengolahan limbah
cangkang udang yang berbasis bioindustri perikanan dan kelautan. Sebab, limbah tersebut merupakan
sumber potensial pembuatan kitin dan khitosan, yakni biopolimer yang secara komersial potensial dalam
berbagai bidang dan industri. Kitin dan khitosan merupakan bahan dasar dalam bidang biokimia,
enzimologi, obat-obatan, pertanian, pangan gizi, mikrobiologi, pertanian, industri membran (film), tekstil,
kosmetik, dan lain sebagainya (Prasetiyo, 2006).

Pada kali ini praktikum tentang karakteristik dan bentuk olahan udang vannamei (Litopenaeus vannamei)
bertujuan untuk mempelajari rendemen udang, dan bentuk-bentuk produk olahan khususnya udang
vannamei (Litopenaeus vannamei).
2. METODOLOGI
2.1 Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain pisau, timbangan digital, baki, pinset.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah es dan udang vannamei (Litopenaeus vannamei).
2.2 Prosedur kerja
Praktikum ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu pengukuran rendemen udang dan pembentukan produk
olahan udang. Tahap pertama udang ditimbang berat utuhnya, kemudian dipisahkan antara kepala dengan
badan udang. Badan udang ditimbang dan akan diperoleh berat kepala dengan menggunakan By
difference (BD). Daging udang dipisahkan dari kulitnya, selanjutnya daging udang ditimbang dan akan
diperoleh berat kulit dengan menggunakan By difference (BD). Tahap kedua udang dibentuk menjadi
bentuk HO, HL, PTO, PDTO, PND, PUD, dan butterfly. Diagram alir prosedur kerja pengukuran rendemen
dan pembentukan produk olahan udang adalah sebagai berikut :
Gambar 2. Diagram alir Prosedur kerja pengukuran rendemen dan pembentukan produk olahan udang
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Rendemen Udang Vannamei (Litopenaeus
vannamei)
Rendemen merupakan bagian tubuh yang dapat dimanfaatkan. Rendemen juga merupakan suatu
parameter yang paling penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk bahan atau
bahan. Rendemen digunakan untuk memperkirakan berapa bagian tubuh yang dapat digunakan sebagai
bahan makanan (Hadiwiyoto 1993 diacu dalam Nurfianti 2007). Berikut adalah rendemen dan ukuran hasil
pengamatan.
Gambar 3. Rendemen rata-rata udang
Gambar 4. bobot rata-rata tiap bagian-bagian udang
Dari hasil praktikum didapat rendemen rata-rata berupa kepala, daging, dan kulit pada udang vannamei
(Litopenaeus vannamei). Rendemen pada kepala didapat sebesar 29%, daging sebesar 58%, dan pada
kulit sebesar 13%. Dari hasil data tersebut, rendemen yang tertinggi terdapat pada daging yakni sebesar
58% dan yang terkecil pada kulit sebesar 13%. Sedangkan pada ukuran rata-rata tiap bagian-bagian udang
didapatkan berat total rata-rata sebesar 15 gr, tanpa kepala sebesar 10,67 gr, tanpa kepala dan kulit
sebesar 8,67 gr, bobot kepala sebesar 4,33 gr, dan bobot rata-rata kulit sebesar 2 gr.
Rendemen pada udang umumnya menjadi limbah, namun limbah yang terurai ini masih dapat
dimanfaatkan misalkan dijadikan pemanfaatan kitin maupun khitosan dari limbah cangkang udang untuk
bahan utama dan bahan pendukung dalam berbagai bidang dan industri sangat menguntungkan karena

bahan bakunya berupa limbah dan berasal dari sumber daya lokal (local content). Untuk ekstrasi kitin dari
limbah cangkang udang rendemennya sebesar 20 persen, sedangkan rendemen khitosan dari kitin yang
diperoleh adalah sekitar 80 persen (Prasetiyo, 2006). Kitin dan khitosan merupakan bahan dasar dalam
bidang biokimia, enzimologi, obat-obatan, pertanian, pangan gizi, mikrobiologi, pertanian, industri
membran (film), tekstil, kosmetik, dan lain sebagainya. Cangkang udang jenis udang windu mengandung
zat kitin sekitar 99,1 persen (paling besar dari jenis udang lainnya). Dengan teknologi sederhana dan
bahan-bahan yang cukup murah, serta mudah didapatkan di dalam negeri, dalam proses pengolahan
limbah cangkang udang tersebut akan dihasilkan kitin dan khitosan yang cukup berkualitas (Prasetiyo,
2006).
3.2 Komposisi Kimia Udang Vannamei (Litopenaeus
vannamei)
semua macam jenis produk perairan memiliki karakteristik dalam komposisi kimia. Dibawah ini tabel
komposisi kimia pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei).
Tabel 1. Komposisi kimia udang vannamei
Senyawa Jumlah (%)
Air 78,2
Abu 1,5
Lemak 0,8
Protein 18,1
Karbohidrat 1,4
Sumber : Hadiwiyoto (1993)
Udang termasuk rendah lemak dan kalori, tapi tinggi kolesterol diantara seafood lainnya. Kandungan gizi
udang segar dalam 100 gram berat :
Senyawa Jumlah
Protein 21 g
Lemak 0,2 g
Karbohidrat 0,1 g
Kalsium 136 mg
Besi 8,0 mg
Sumber : Andryan (2007)

Komposisi kimia bahan makanan merupakan hal penting yang dapat meningkatkan nilai kompetitif
penjualan jenis makanan di pasaran. Pada tabel di atas, komposisi kimia pada udang vannamei
(Litopenaeus vannamei) berupa air didapat sebesar 78,2%, abu sebesar 1,5%, lemak sebesar 0,8%,
protein sebesar 18,1%, dan karbohidrat sebesar 1,4%. Menurut Hirota (1990) diacu dalam Yoo TW (2009),
protein dalam daging udang mengandung asam amino esensial cukup lengkap.
Produk perairan umumnya memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang baik antar lain omega-3.
Omega-3 merupakan senyawa asam lemak tak jenuh ganda yang diketahui mempunyai manfaat bagi
kesehatan, yaitu dapat menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi, menurunkan resiko terkena
kanker, memperbaiki kesehatan bagi penderita diabetes dan secara khusus pada balita adalah sebagai
komponen pertumbuhan jaringan otak serta meningkatkan kandungan omega-3 dalam air susu ibu (ASI)
(Cherian dan Sim, 1994).
Ada beberapa hal yang mempengaruhi kandungan gizi pada udang antara lain kesehatan udang dalam
proses pemeliharan, proses penanganan dalam perlakuan olahan, dan lain-lain.
3.3 Bentuk-bentuk Olahan Udang Vannamei
(Litopenaeus vannamei)
Produk olahan merupakan semua jenis bahan pangan yang mendapat perlakuan lebih lanjut untuk
mendapat produk yang lebih lezat untuk dikonsumsi.
Pembekuan udang merupakan proses penanganan udang secara modern yang paling lazim digunakan.
sebab selain tidak merubah penampilan dan tekstur, juga memiliki daya awet yang lama yaitu mencapai 2
tahun. Sehingga waktu pengiriman yang lama sekitar 1-2 bulan hingga mencapai konsumen luar negeri
tidak mempengaruhi kualitas produk.
Hasil perikanan merupakan kekayaan alam Indonesia yang memiliki potensi cukup baik untuk
dimanfaatkan. Salah satu cara yang bisa dikembangkan untuk memanfaatkan potensi hasil perikanan
adalah dengan diversifikasi pengolahan, sebagai salah satu upaya penganekaragaman pangan dan
memasyarakatkan hasil perikanan yang selama ini umumnya diolah secara langsung. Oleh sebab itu,
untuk memenuhi kebutuhan suatu pasar maka diperlukannya penganekaragaman dalam produk
pengolahan.
1. Head on
Head on Yaitu udang yang dibekukan dalam keadaan utuh tanpa dikuliti atau dipotong kepalanya. Produk
ini merupakan komoditi yang permintaannya sangat tinggi dipasaran internasional dan mempunyai nilai
yang cukup baik. Gambar udang dalam bentuk head on dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Head on

2. Head less
Head less Yaitu udang yang dibekukan sesudah dipisahkan kepalanya, tetapi tidak dikuliti. Gambar udang
dalam bentuk head less dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Head less


3. Peeled
Peeled Yaitu udang-udang yang dibekukan sesudah dikupas kulitnya dan dipisahkan kepalanya. Untuk
produk Peeled dibedakan lagi menjadi beberapa macam yaitu :
a) Peeled tail on (PTO)
Adalah produk udang beku tanpa kepala dan kulit dikupas mulai ruas pertama sampai ruas kelima
sedangkan ruas terakhir dan ekor disisakan. Gambar udang dalam bentuk peeled tail on dapat dilihat pada
gambar 7.

Gambar 7. Peeled tail on


b) Peeled deveined tail on (PDTO)
Produk ini menyerupai PTO, tetapi pada bagian punggung udang kotoran perutnya dibuang dengan cara
mencungkit mengunakan cungkit mulai dari ruas pertama atau kedua sampai ruas kelima. Gambar udang
dalam bentuk peeled deveined tail on dapat dilihat pada gambar 8.

Gambar 8. Peeled deveined tail on


c) Peeled and deveined (PND)

Produk Peeled and Deveined (PND) adalah produk udang yang seluruh kulit dan ekor dikupas dan dibuang
kotoran perutnya. Gambar udang dalam bentuk peeled and deveined dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9. Peeled and deveined


d) Peeled Undeveined (PUD)
Produk Peeled Undeveined (PUD) adalah produk yang dikupas seluruh kulit dan ekor seperti pada produk
PND tetapi tidak dikeluarkan kotoran perutnya. Gambar udang dalam bentuk peeled Undeveined dapat
dilihat pada gambar 10.

Gambar 10. Peeled Undeveined


e) Butterfly
Produk Butterfly adalah produk udang beku yang hampir sama dengan produk PDTO, kulit udang dikupas
mulai dari ruas pertama hingga ruas kelima, sedangkan ruas terakhir dan ekor disisakan kemudian bagian
punggung dibelah sampai bagian perut bawahnya, tetapi tidak sampai putus dan kotoran perutnya dibuang.
Gambar udang dalam bentuk Butterfly dapat dilihat pada gambar 11.

Gambar 11. Butterfly


Adapun bentuk umum dari olahan produk udang beku menurut Purwaningsih (2000), diacu dalam Januri
(2004) diantaranya, Head On, Head Less, Peeled, Peeled Tail On, Peeled Deveined Tail On, Peeled and

Deveined, Peeled Undeveined, Butterfly, dan Value Added Product (produk udang beku yang mendapatkan
perlakuan tambahan dengan cara melakukan pemanjangan badan (stretching) menurut panjang tertentu).
Proses pembekuan udang menurut Taruna TPHP (2008) adalah sebagai berikut :
1. Udang diterima dari suplier dan tambak dalam kondisi Head On (HO) dalam box dengan pendingin es.
Udang diterima pada bagian penerimaan untuk dicuci ozon dan dilakukan sampling size maupun mutu
udang. Selain itu dilakukan juga uji chlorampenichol yang sering kali digunakan oleh petambak udang.
2. Setelah penerimaan bahan baku berupa HO adalah dilakukannya proses potong kepala. Sehingga
udang menjadi head less atau HL.
3. Udang HL ini kemudian disortir secara otomatic dengan mesin pengatur berat atau ukuran sehingga
lebih seragam ukurannya. atau menggunakan mesin grading yang mengatur volume tubuh udang untuk
memisahkan udang berdasarkan size.
4. Udang hasil sortir dikupas sesuai permintaan. ada beberapa jenis kupasan yaitu PND (peel and
diveined), PUD (peel un diveined), PDTO (peel diveined tail on) dan BTO ( Buterfly tail on). Ada juga
beberapa jenis kupasan lain.
5. Udang hasil kupasan dibekukan dengan mesin pembeku. Ada beberapa macam metode pembekuan :
IQF (individual quick frozen), Air blast freezer, contact plate freezer.
6. Udang hasil pembekuan dipacking sesuai permintaan buyer.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa rendemen pada udang banyak dimanfaatkan sebagai
chitosan karena banyak dari bagian-bagian udang yang menjadi limbah namun dapat dimanfaatkan
menjadi produk lain. Rendemen pada kepala didapat sebesar 29%, daging sebesar 58%, dan pada kulit
sebesar 13%. Dari hasil data tersebut, rendemen yang tertinggi terdapat pada daging yakni sebesar 58%
dan yang terkecil pada kulit sebesar 13%.
Dalam bentuk produk olahan, udang vannamei dapat dijadikan udang beku, udang beku datar, udang
kering dan frozen. Namun yang paling besar potensiuntuk dijadikan produk olahan yaitu chitosan karena
bermanfaat bagi tubuh manusia.
4.2 Saran
Udang sangat digemari dipasaran karena rasanya yang khas, oleh karena itu pemasaran udang dalam
bentuk segar sangat disukai oleh konsumen. Salah satu cara untuk mempertahankan mutu dan kesegaran
dari udang yang hendak dipasarkan adalah dengan cara pembekuan. Dengan semakin meningkatnya
produksi, maka diperlukan suatu praktek penanganan dan pengolahan pasca panen yang memadai agar
nilai kenaikan produksi yang telah diperoleh tidak sia-sia dalam arti mengalami kerusakan yang
mengakibatkan susut hasil dan kerugian yang tidak kecil.
DAFTAR PUSTAKA

Andryan R. 2007. Vitamins and Nutrition is very important for human


body.http://www.geocities.com/andryan_pwt/foodsecret.html?20097 [diakses pada tanggal 7 Juni 2009].
Ariawan, K., dkk., 2005. Peningkatan produksi udang merguiensis melalui optimasi dan pengaturan
oksigen. Laporan Tahunan. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.
Briggs M., Simon F.S., R. Subasinghe, and M. Phillips. 2004. Introduction and movement of Penaeus
vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and the Pacific. FAO-UN. Bangkok.
Cherian, G. and J. S. Sim. 1994. Omega-3 Fatty Acid Enriched Eggs as a Source of Long Chain Omega-3
Fatty Acids for the Developing infant. In: Sim, J.S. and S. Nakai (Eds.). Eggs Uses and Processing
Technologies. CAB International, Canada.
Djanarko SB. 2008. Pemanfaatan Limbah Kepala Udang Vannamei (Lithopenaeus vannamei) Dalam
Bentuk Serbuk Flavor Udang.http://simonbwidjanarko.wordpress.com/2008/12/19/pemanfaatan-limbahkepala-udang-vannamei-lithopenaeus-vannamei-dalam-bentuk-serbuk-flavor-udang/ [diakses pada
tanggal 6 Juni 2009].
Ekawati A. 2008. Impor Udang akan Diperketat. http://www.tempointeraktif.com [diakses pada tanggal 6
Juni 2009].
Januri. 2004. Pengaruh waktu penirisan dan penyimpanan udang head less (HL) beku terhadap perubahan
berat dalam kaitannya dengan HCCP. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Muzaki A. 2004. Produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada saat penebaran berbeda di tambak
biocrete [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Nurfianti D. 2007. Pembuatan kitosan sebagai pembentiukan gel dan pengawet bakso ikan kurisi [skripsi].
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Pranoto SH.2007.Isolasi dan seleksi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi sebagai agen bioremediasi pada
media pmeliharaan udang vannamei [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Prasetiyo KW. 2006. Pengolahan Limbah Cangkang Udang. http://biomaterial-lipi.org/?p=154[diakses pada
tanggal 7 Juni 2009].
Sihombing M. 2005. Ekspor udang RI terus membaik. http://www.bisnis.com/servlet/page [diakses pada
tanggal 6 Juni 2009].
Taruna TPHP. 2008. Pembekuan Udang. http://tphpi.wordpress.com/2008/09/25/pembekuan-udang2/ [diakses pada tanggal 17 Juni 2009].
Yoo TW .2009. si Tiger akan kembali menjadi Primadona.http://teamean.wordpress.com/2009/02/18/sitiger-akan-kembali/ [diakses pada tanggal 7 Juni 2009].

http://hafiz1309.wordpress.com/2009/06/17/karakteristik-danbentuk-olahan-udang-vannamei-litopenaeus-vannamei/