Anda di halaman 1dari 54

MAKALAH

PERALATAN INDUSTRI PROSES II


HEAT EXCHANGER

DISUSUN OLEH:
1. LIAN ELVANI
2. MUHAMMAD FIRMANSYAH
3. RIDHOLLAHI
4. SRI DARMAYANTI
KELAS : 3 KB
KELOMPOK : 4

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah heat exchanger
dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai syarat untuk
menyelesaikan Mata Kuliah peralatan industri proses 2. Selain itu pembuatan
makalah ini adalah sebagai bukti hasil pengerjaan tugas.
Penulisan makalah ini berdasarkan literatur-literatur yang ada baik dari
buku maupun sumber lainnya.
Namun demikian penulis menyadari apa yang ada dalam makalah ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu adanya kritik dan saran yang membangun sangat
membantu dalam penyempurnaan makalah. Akhirnya penulis berharap semoga
makalah ini ada manfaatnya bagi penulis dan yang membacanya.

Palembang, desember 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Heat Exchanger adalah alat penukar kalor yang berfungsi untuk mengubah
temperatur dan fasa suatu jenis fluida. Proses tersebut terjadi dengan
memanfaatkan proses perpindahan kalor dari fluida bersuhu tinggi menuju fluida
bersuhu rendah. Di dalam dunia industri peran dari heat exchanger sangat penting.
Misal dalam industri pembangkit tenaga listrik, heat exchanger berperan dalam
peningkatan efisiensi sistem. Contohnya adalah ekonomizer, yaitu alat penukar
kalor yang berfungsi memanaskan feed water sebelum masuk ke boiler
menggunakan panas dari exhaust gas (gas buang). Selain itu heat exchanger juga
merupakan komponen utama dalam sistem mesin pendingin, yaitu berupa
evaporator dan kondensor.
Dalam perkembangannya, heat exchanger mengalami transformasi bentuk
yang bertujuan meningkatkan efisiensi sesuai dengan fungsi kerjanya. Bentuk
heat exchanger yang sering digunakan adalah shell and tube. Dengan berbagai
pertimbangan, bentuk ini dinilai memiliki banyak keuntungan baik dari segi
pabrikasi, biaya, hingga unjuk kerja (Wafi, dkk., 2011).
Untuk efisiensi, penukar panas yang dirancang untuk memaksimalkan luas
permukaan dinding antara kedua cairan, dan meminimalkan resistensi terhadap
aliran fluida melalui exchanger.Kinerja penukar juga dapat dipengaruhi oleh
penambahan sirip atau corrugations dalam satu atau dua arah, yang meningkatkan
luas permukaan dan dapat menyalurkan aliran fluida atau menyebabkan
turbulensi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Heat Exchanger
2. Bagaimana prinsip kerja dari Heat Exchanger
3. Apa saja komponen-komponen dari Heat Exchanger
4. Apa saja jenis-jenis dari Heat Exchanger
5. Apa saja Peristiwa dalam Heat exchanger
6. Bagaimana cara perawatan umum pada Heat Exchanger
7. Bagaimana Prosedur Perancangan Dasar Alat Penukar Panas
8. Apa saja Aplikasi heat exangher
9. Bagaimana perhitungan heat exhanger

1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini memiliki beberapa tujuan, antara lain :
10. Mengetahui pengertian Heat Exchanger
11. Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari Heat Exchanger
12. Mengetahui komponen-komponen dari Heat Exchanger
13. Mengetahui jenis-jenis dari Heat Exchanger
14. Mengetahui Peristiwa dalam Heat exchanger
15. Mengetahui cara perawatan umum pada Heat Exchanger
16. Mengetahui Prosedur Perancangan Dasar Alat Penukar Panas
17. Mengetahui Aplikasi heat exangher
18. Mengetahui perhitungan heat exhanger

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Alat Penukar Panas
Penukar panas atau heat exchanger (HE), adalah suatu peralatan dimana
terjadi perpindahan panas dari suatu fluida yang temperaturnya lebih tinggi
kepada fluida yang temperaturnya lebih rendah. Heat excahnger merupakan suatu
alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas
maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas
(superheated steam) dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Pada HE,
pendingin masuk lewat bawah, karena cairan akan memenuhi rongga atas terlebih
dulu. Sedangkan pemanas (steam) masuk lewat atas, karena steam akan memenuhi
rongga atas telebih dahulu.
Mekanisme perpindahan panas :
1. Konduksi : perpindahan panas melalui suatu benda oleh perpindahan
momentum dari molekul atau atom tanpa proses pencampuran.Contoh : aliran
panas melalui dinding metal.
2. Konveksi : perpindahan panas dari fluida panas kebagian yang dingin degan
pengadukan. Contoh : memasak air
3. Radiasi : proses aliran panas dari fluida yang bersuhu tinggi ke fluida yang
bersuhu rendah bila fluida tersebut terpisah dalam suatu ruang tanpa
menggunakan medium. Alat penukar panas :
Kemampuan untuk menerima panas dipengaruhi oleh 3 hal :
1. Koefisien overall perpindahan panas (U)
menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida
dingin dan juga menyatakan aliran panas menyeluruh sebagai gabungan proses
konduksi dan konveksi.
2. Luas bidang yang tegak lurus terhadap arah perpindahan panas.
Karena luas perpindahan panas tidak konstan, sehingga dalam praktek dipilih
luas perpindahan panas berdasarkan luas dinding bagian luar.
3. Selisih temperatur rata-rata logaritmik ( T LMTD).
LMTD : perbedaan temperatur yang dipukul rata-rata setiap bagian HE.
Karena perbedaan temperatur di setiap bagian HE tidak sama.
2.2 Prinsip Kerja Alat Penukar Panas

Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida
dapat berlangsung secara efisien.
1. Alat penukar kalor yang langsung, ialah dimana fluida yang panas akan
bercampur secara langsung dengan fluida dingin (tanpa adanya pemisah)
dalam suatu bejana atau ruangan tertentu.
2. Alat penukar kalor yang tidak langsung, ialah dimana fluida panas tidak
berhubungan langsung (indirect contact) dengan fluida dingin. Jadi proses
perpindahan panasnya itu mempunyai media perantara, seperti pipa, pelat atau
3
peralatan jenis lainnya.
2.3 Komponen Dasar Penyusun Alat Penukar Panas
1. Tube
Merupakan pipa kecil yang tersusun di dalam shell. Aliran di dalam tube
sering dibuat melintas lebih dari 1 kali dengan tujuan untuk memeperbesar
koefisisen perpindahan panas lapiasan film fluida dalam tube. Di dalam dan di
luar tube mengalir fluida. Kedua fluida itu mempunyai kapasitas, temperatur,
tekanan, densitas, dan jenis yang berbeda. Kedua ujung tube diikat pada tube
sheet, bertujuan untuk mencegah bocoran fluida yang mengakibatkan fluida
terkontaminasi.
Diameter tube yang digunakan sekitar 5/8 in (16 mm) hingga 2 in (50 mm).
Diameter yang lebih kecil 5/8-1 in lebih disukai untuk berbagai tugas karena lebih
kompak sehingga lebih murah. Panjang tube yang disukai untuk alat penukar
panas adalah 6, 8, 12, 16 ft.
Bahan yang digunakan untuk tube antara lain :
a.
b.
c.
d.

Baja karbon.
Baja nikel.
Aluminium dan campuran aluminium.
Tembaga dan campuran tembaga.

Pemilihan jenis bahan dan ukuran tube didasarkan pada :


Kemampuan untuk dibersihkan (Cleanability)

Jika dibandingkan cara membersihkan Tube dan Shell, maka pembersihan sisi
shell jauh lebih sulit. Untuk itu fluida yang bersih biasanya dialirkan di
sebelah shell dan fluida yang kotor melalui Tube.
Korosi
Masalah korosi atau kebersihan sangat dipengaruhi oleh penggunaan dari
paduan logam.Paduan logam tersebut mahal, oleh karena itu fluida dialirkan
melalui Tube untuk menghemat biaya yang terjadi karena kerusakan shell.Jika
terjadi kebocoran pada Tube, heat exchanger masih dapat difungsikan
kembali.Hal ini disebabkan karena Tube mempunyai ketahanan terhadap
korosif, relatif murah dan kekuatan dari small diameter Tube melebihi shell.
Tekanan
Shell yang bertekanan tinggi dan diameter yang besar akan diperlukan dinding
yang tebal, hal ini akan memakan biaya yang mahal. Untuk mengatasi hal itu
apabila fluida bertekanan tinggi lebih baik dialirkan melalui Tube.
Temperatur
Biasanya lebih ekonomis meletakkan fluida dengan temperatur lebih tinggi
pada Tube side, karena panasnya ditransfer seluruhnya ke arah permukaan luar
Tube atau ke arah shell sehingga akan diserap sepenuhnya oleh fluida yang
mengalir di shell. Jika fluida dengan temperatur lebih tinggi dialirkan
padashell side, maka transfer panas tidak hanya dilakukan ke arah Tube, tapi
ada kemungkinan transfer panas juga terjadi ke arah luar shell (ke
lingkungan).
Sediment/ Suspended Solid / Fouling
Fluida yang mengandung sediment/suspended solid atau yang menyebabkan
fouling sebaiknya dialirkan di Tube sehingga Tube-Tube dengan mudah
dibersihkan. Jika fluida yang mengandung sediment dialirkan di shell, maka
sediment/fouling tersebut akan terakumulasi pada stagnant zone di sekitar
baffles, sehingga cleaning pada sisi shell menjadi tidak mungkin dilakukan
tanpa mencabutTube bundle.
Viskositas

Fluida yang viscous atau yang mempunyai low transfer rate dilewatkan
melalui shell karena dapat menggunakan baffle. Koefisien heat transfer yang
lebih tinggi dapat diperoleh dengan menempatkan fluida yang lebih viscous
pada shell side sebagai hasil dari peningkatan turbulensi akibat aliran
crossflow (terutama karena pengaruh baffles). Biasanya fluida dengan
viskositas > 2 cSt dialirkan di shell side untuk mengurangi luas permukaan
perpindahan panas yang diminta. Koefisien perpindahan panas yang lebih
tinggi terdapat pada shell side, karena aliran turbulen akan terjadi melintang
melalui sisi luar Tube dan baffle.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas alat penukar panas (Heat
Exchanger) terutama Heat exchanger tipe shell & tube:
1. penggunaan baffle dapat meningkatkan efektifitas alat penukar panas, hal ini
sejalan dengan peningkatan koefisien perpindahan panas.
2. pengaruh tebal isolasi pada bagian luar shell, efektifitas meningkat hingga
suatu harga maksimum dan kemudian berkurang.
3. dengan menggunakan alat penukar panas tabung konsentris, efektifitas
berkurang, jika kecepatan udara masuk dingin meningkat dan efektifitas
meningkat, jika laju alir massa udara meningkat.
4. Menentukan jarak antar baffle minimum 0,2 dari diameter shell sedangkan
jarak maksimum ialah 1x diameter bagian dalam shell. Jarak baffle yang
panjang akan membuat aliran membujur dan kurang menyimpang dari aliran
melintang.
Susunan tube mempengaruhi besarnya penurunan tekanan aliran fluida dalam
shell.
Ada beberapa susunan tube pada alat penukar panas antara lain :
1. Susunan Tube Segitiga (Triangular Pitch)
Susunan tube segitiga sangat popular dan tidak baik digunakan untuk melayani
fluida kotor. Pembersihan tube dilakukan dengan cara kimia. Susunan tube
segitiga banyak digunakan dan menghasilkan perpindahan panas yang baik per
satuan penurunan tekanan. Di samping itu letak tube lebih kompak (Dwi,
2012).

2. Susunan Tube Segitiga Diputar (Rotated Triangular Pitch)


Tube yang disusun membentuk 60o atau diputar 30o, tidak sepopuler jenis yang
pertama, mempunyai karakter yang lebih jelek. Koefisien perpindahan
panasnya tidak baik, tetapi masih lebih baik bila dibandingkan dengan susunan
tube yang bujur sangkar. P yang terjadi mendekati P susunan tube segitiga

3. Susunan Tube Bujur Sangkar (In-Line Square Pitch)


Susunan tube bujur sangkar membentuk sudut 90o banyak dipergunakan,
dengan pertimbangan :
a. Apabila P yang terjadi pada alat penukar panas lebih kecil.
b. Apabila pembersihan yang dilakukan pada bagian luar tube adalah dengan
cara pembersihan mekanik. Sebab pada susunan seperti ini terdapat celah antar
tube yang dipergunakan untuk pembersihannya.
c. Susunan ini memberikan perilaku yang baik untuk aliran turbulen. Untuk
aliran laminar memberikan hasil yang kurang baik (Dwi, 2012).

4. Susunan Tube Belah Ketupat (Diamond Square Pitch)


Susunan tube belah ketupat merupakan jenis kondisi menengah. Jenis ini baik
dipergunakan pada kondisi operasi P kecil, tetapi lebih besar dari P jenis
bujur sangkar. Susunan tube ini relatif lebih baik dibanding dengan susunan
tube segitiga yang diputar (Dwi, 2012).

Kelebihan dan Kekurangan Susunan Tube


Susunan Tube

Kelebihan

Kekurangan

- Film koefisiennya > susunan - P yang terjadi antara


Segitiga

bujur sangkar
menengah ke atas
- Dapat dibuat jumlah tube yang - Tidak baik untuk fluida
lebih banyak sebab susunannya
lebih kompak

kotor
- Pembersihan dengan cara

kimia (chemical cleaning)


- Film koefisiennya tidak sebesar - P yang terjadi antara
Segitiga
diputar

Bujur sangkar

susunan

segitiga

tetapi

>

susunan bujur sangkar


- Dapat digunakan untuk fluida
kotor
- Baik

untuk

kondisi

menengah ke atas
- Pembersihan dengan cara
kimia (chemical cleaning)

yang - Film koefisiennya relatif

memerlukan P <<
- Baik untuk pembersihan luar

rendah

tube secara mekanik


- Baik untuk fluida yang kotor
- Film koefisiennya lebih baik - Film koefisiennya relatif
daripada susunan bujur sangkar
Belah ketupat

tetapi

tidak

sebaik

susunan

segitiga dan segitiga diputar


- Mudah untuk pembersihan

rendah
- P tidak serendah jenis
susunan bujur sangkar

secara mekanik
- Baik untuk fluida yang kotor
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemilihan tube alat penukar panas
antara lain :
1. Besarnya P yang terjadi.
2. Aliran fluida luar tube (laminar atau turbulen).
3. Fouling atau non-fouling fluida yang mengalir di luar tube.
4. Cara yang dilakukan untuk pembersihan bagian luar tube (mechanical or
chemical cleaning).
2. Tube pitch
Lubang yang tidak dapat dibor dengan jarak yang sangat dekat, karena jarak
tube yang terlalu dekat akan melemahkan struktur penyangga tube.

Clearance
Jarak terdekat antara 2 tube yang berdekatan.
3. Tube Sheet
Suatu flat lingkaran yang fungsinya memegang ujung-ujung tube dan
juga sebagai pembatas aliran fluida di shell dan tube. Tempat untuk merangkai
ujung-ujung tube sehingga menjadi satu yang disebut tube bundle. HE dengan
tube lurus pada umumnya menggunakan 2 buah tube sheet. Sedangkan pada
tube tipe U menggunakan satu buah tube sheet yang berfungsi untuk
menyatukan tube-tube menjadi tube bundle dan sebagai pemisah antara tube
side dengan shell side.Tubesheet merupakan bagian yang penting pada
penukar kalor.Bagian ini merupakan tempat disatukannya pipa-pipa pada
bagian ujungnya.Tube sheet ini dibuat tebal dan pipa harus terpasang rapat
tanpa bocor pada tube sheet. Dengan konstruksi fluida yang mengalir pada

badan shell tidak akan tercampur dengan fluida yang mengalir didalam tube.
Penyambungan antara tube sheet dengan pipa merupakan hal yang paling
penting untuk diperhatikan, karena.segala kegagalan penyambungan ini akan
menyebabkan kebocoran dan pencampuran kedua fluida di dalam penukar
kalor.
Terdapat dua jenis tube sheet, yaitu
a. Fixed tube sheet, dimana tube sheet dipasang kokoh pada shell. Biasanya tube
sheet ini dipasang dengan cara compression fitting (dengan baut-mur). Untuk
keperluan khusus dapat dilakukan sambungan las.
b. Floating tube sheet; tube sheet ini tidak dikatkan pada shell,tetapi terpasang
dengan baik pada tube bundle (berkas pipa). Pemakaian floating tube sheet
biasanya dimaksudkan untuk mengatasi ekspansi termal pada operasi
temperatur tinggi.Untuk mencegah tercampurnya fluida di dalam penukar
kalor, pada bagian saluran pipa dipasang tutup tube sheet.
4. Baffle
Baffle Tubes atau pipa-pipa memegang peranan yang sangat penting di dalam
penukar kalor. Dinding pipa merupakan bidang pemisah kedua jenis fluida
yang mengalir di dalamnya dan sekaligus berfungsi sebagai bidang
perpindahan panas.Bahan dan ketebalan dnding pipa harus dipilih agar
diperoleh penghantaran panas yang baik dan juga harus mampu bekerja pada
tekanan operasi fluida kerjanya. Susunan tubes biasanya dipasang menurut
konfigurasi segitiga atau segiempat
Baffle atau sekat-sekat dipasang pada alat penukar panas berfungsi sebagai :
Alat untuk mengontrol dan mengarahkan aliran fluida yang mengalir di luar
tube (shell side). sehingga turbulensi yang tinggi akan diperoleh
Struktur untuk menahan tube-bundel.
Menahan atau mencegah terjadinya getaran pada tube.
Jarak antar sekat (baffle spacing atau baffle pitch) ada dua yaitu :
a. Jarak antar sekat maksimum, B = diameter dalam shell.
b. Jarak antar sekat minimum, B = 1/5 x diameter dalam shell
Bila jarak antar sekat terlalu jarang maka aliran fluida akan aksial sehingga
tidak terdapat aliran yang melintang, sebaliknya jika jarak antar sekat terlalu
sempit akan menimbulkan kebocoran yang berlebihan antara sekat dan shell.

Ditinjau dari segi konstruksinya baffle dapat diklasifikasikan dalam empat


kelompok, yaitu :
1. Sekat plat bentuk segmen.
2. Sekat bintang (rod baffle).
3. Sekat mendatar.
4. Sekat impingement.

Gambar Jenis-Jenis Sekat


5. Shell
Shell Merupakan bagian tengah alat penukar panas. Menurut British
Standart 3274, diameter shell berukuran 6 in hingga 42 in, diameter shell
terbesar 60 in. Shell merupakan badan dari heat exchanger, dimana didapat
tube bundle. Untuk temperatur yang sangart tinggi kadang-kadang shell dibagi
dua disambungkan dengan sambungan ekspansi. Bentuk-bentuk shell yang
lazim digunakan ditunjukkan pada gambar berikut :

Gbr. 2.12 Bentuk-bentuk shell dan penutupnya. (Anonim, 2011)

6. Tube Side Channel dan Nozzle


Merupakan pengatur aliran fluida dalam tube.
7. Channel Cover
Merupakan tutup yang dapat dibuka saat pemeriksaan dan pembersihan.
8. Tie Rods

Batangan besi yang dipasang sejajar dengan tube dan ditempatkan di bagian
paling luar dari baffle yang berfungsi sebagai penyangga agar jarak antara
baffle yang satu dengan lainnya tetap.
2.4 Jenis-jenis heat exchanger
1.

Double pipe heat exchanger (Penukar panas pipa rangkap)


Salah

satu

jenis penukar

panas adalah

susunan pipa ganda. Dalam

jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arahaliran atau arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan
cairan lainnya dalam pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang
dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat.
Prinsip kerja double pipe
Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida
sehingga kedua fluida tidak bercampur.Fluida yang memiliki suhu lebih rendah
(fluida pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang
lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus).Penukar kalor
demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan
vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi,
sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang
bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Dalam desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah
jenis pola aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya
akan baik berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Crossflow hanya tidak
bekerja untuk penukar panas pipa ganda. Pola yang aliran dan tugas panas yang
dibutuhkan pertukaran memungkinkan perhitungan log mean perbedaan suhu.
Yang bersama-sama dengan perpindahan panas keseluruhan diperkirakan koefisien
memungkinkan

perhitungan

luas

permukaan

perpindahan

panas

yang

diperlukan.Kemudian ukuran pipa, panjang pipa dan jumlah tikungan dapat


ditentukan.
Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan
temperature yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih

rendah.Dalam percobaan kali ini, aliran panas (steam) dialirkan pada bagian dalam
pipa konsentris sedangkan air dialirkan pada bagian luar dari pipa konsentris ini
(bagian anulus).
Namun, terkadang dalam beberapa alat seperti HE ini, akan ada pengotor
didalam pipa yang membuat proses perpindahan kalor nya menjadi terganggu.
Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan
oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari jenis fluida
yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran pasti
akan

terjadi.

Terjadinya

pengotoran

tersebut

dapat

menganggu

atau

memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau


mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur
fluida, Temperatur dinding tube dan Kecepatan aliran fluida.
Alat penukar panas pipa rangkap sebagian besar kalah dibandingkan unit
selongsong dan buluh (shell and tube heat exchanger) dalam beberapa tahun
terakhir. Alat ini mungkin layak dipertimbangkan dalam beberapa hal seperti :
1. Bila koefisien shell side kurang dari setengah dari tabung samping, koefisien
sisi anular dapat dibuat sebanding dengan sisi tabung.
2. Perbedaan suhu yang memerlukan multi shell unit shell and tube dapat
dihindari dengan aliran berlawanan arah yang baik terjadi dalam pipa rangkap.
3. Tekanan tinggi dapat ditampung lebih ekonomis dalam anulus dibandingkan di
dalam shell diameter yang lebih besar (Walas, 1990).

Gambar 2.7 Penukar Panas Pipa Rangkap (Double Pipe Heat Exchanger)
(Walas, 1990)
Kelebihan Double-pipe Heat exchanger:
o Dapat digunakan untuk fluida yang memiliki tekanan tinggi.
o Mudah dibersihkan pada bagian fitting
o Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa
o Dapat dipasang secara seri ataupun paralel
o Dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD
sesuai dengan keperluan
o Mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya
o Kalkulasi design mudah dibuat dan akurat
Kekurangan Double-pipe Heat exchanger:
o

Relatif mahal

o Terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50
m2)
o Biasanya hanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan
atau dikondensasikan.
2. Shell and tube heat exchanger
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mante. Fluida
yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di
luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa
tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk
meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas

cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat
turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun
pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban
kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.
Penentuan fluida dalam shell atau tube :

Fluida bertekanan tinggi dialirkan di dalam tube karena tube standar cukup
kuat menahan tekanan yang tinggi.

Fluida berpotensi fouling dialirkan di dalam tube agar pembersihan lebih


mudah dilakukan.

Fluida korosif dialirkan di dalam tube karena pengaliran di dalam shell


membutuhkan bahan konstruksi yang mahal yang lebih banyak.

Fluida bertemperature tinggi dan diinginkan untuk memanfaatkan panasnya


dialirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat dihindarkan.

Fluida dengan viscositas yang lebih rendah dialirkan di dalam tube karena
pengaliran fluida dengan viscositas tinggi di dalam penampang alir yang kecil
membutuhkan energi yang lebih besar. Fluida dengan viskositas tinggi
ditempatkan di shell karena dapat digunakan baffle untuk menambah laju
perpindahan.

Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam tube. Diameter tube yang
kecil menyebabkan kecepatan linier fluida (velocity) masih cukup tinggi,
sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas.

Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui tube, karena adanya
cukup ruangan.

Gambar 2.8 Penukar Panas Selongsong dan Tabung


Jenis-jenis Shell and Tube :
a. Fixed TubeSheet atau Fixed Head (Type L, M, atau N)
Fixed-tube-sheet heat exchanger lebih sering digunakan dibandingkan
jenis lainnya, dan frekuensi penggunaannya meningkat beberapa tahun terakhir
ini.Tibesheet dilas atau digabungkan dengan shell. Biasanya perluasan melewati
shell dan bertindak sebagai flanges, dimana tube-side header ini dibaut.
Konstruksi ini menyebabkan shell and tueb sheet material menyatu satu sama lain.
Ketika pengelasan tidaklah mungkin, konstruksi tipe blind-gasket
digunakan. Blind gasket tidak dapat diakses untuk pemeliharaan atau
penggantian ketika unit telah dibangun. Konstruksi ini digunakan untuk steam
surface condenser, yang beroperasi di bawah vakum.

Tube side header (atau channel) dapat dilas pada tubesheet. Seperti
ditunjukkan gambar diatas jenis C dan N, konstruksi jenis ini sedikit lebih mahal
dibandingkan dengan jenis B dan M atau A dan L masih memberikan keuntungan
dimana tabung mungkin diuji atau digantikan tanpa mengganggu pipa
penghubung tube-side.Tidak ada pembatasan atas banyaknya aliran tube-

side.Aliran shell-side dapat satu atau lebih, walaupun shell dengan lebih dari 2
aliran side-shell jarang digunakan.
Tabung dapat dengan sepenuhnya mengisi heat exchanger shell.Jarak
antara tabung yang paling jauh atau paling luar dan shell hanya merupakan
kebutuhan yang minimum untuk pembuatan. Antara bagian dalam shell dan
baffles terdapat jarak yang harus diberikan, sehingga baffles dapat bergeser
terhadap shell. Toleransi pembuatan memerlukan beberapa jarak tambahan antara
bagian luar dari baffles dan tabung yang paling jauh atau paling luar. Jarak tepi
antara tabung yang luar (OTL) dan diameter baffle harus sesuai untuk mencegah
getaran tabung dari patahan sampai lubang baffle. Tabung yang paling luar pasti
termasuk dalam OTL. Jarak antara diameter shell dan OTL sekitar 13 mm (1/2
in) untuk 635 mm (25 in) di dalam diameter shell dan keatasnya, 11 mm (7/16 in)
untuk 254 mm-610 mm (10 in-24 in) pipe shell, dan kurang untuk diameter pipe
shell yang lebih kecil.
Tabung dapat digantikan.Tube-side-header, channel cover, gasket dan
lainnya dapat dilakukan pemeliharaan dan penggantian namun tidak untuk
struktur shell-side baffle maupun blind gasket.Selama perpindahan tabung,
tabung dapat patah sampai shell. Ketika hal itu terjadi, akan menjadi sangat sulit
untuk memindahkan dan menggantikan tabung. Prosedur yang umum adalah
menutup lubang yang sesuai pada tube sheet.
Perluasan yang berbeda antara shell dan tube dapat berkembang
dikarenakan perbedaan dalam panjang yang disebabkan oleh ekspansi thermal.
Berbagai jenis sambungan ekspansi digunakan untuk menghilangkan tegangan
yang berlebihan yang disebabkan oeh perluasan/pemuaian. Kebutuhan akan
sambungan ekspansi merupakan kegunaan dari jumlah perbedaan ekspansi antara
lain.
Penanganan yang salah selama pembuatan, pemindahan, pemasangan
atau perawatan heat exchanger dilengkapi dengan jenis bellow berdinding tipis
atau tipe sambungan ekspansi torodial dapat merusak sambungan. Di dalam unit
yang lebih besar, light-wall-joint ini peka terhadap kerusakan dan beberapa
perancang memilih penggunaan dinding yng lebih berat dari formed heads.

b. U-Tube Heat Exchanger


Tube bundle yang berisi stationary tube sheet, u-tubes, baffle atau plat
pendukung, tie rods dan spaces yang sesuai. Tube bundle dapat dipindahkan dari
heat exchanger shell. Suatu tube sider (stationary head) dan shell dengan integral
shell cover, yang dimana dilas pada shell, telah disediakan. Masing-masing
tabung bebas untuk memperluas tanpa ada batasan ditempatkan diatasnya oleh
tabung lain.
U-tube bundle memiliki keuntungan jarak yang minimum antara batas
tabung luar dan bagian dalam shell untuk perpindahan konstruksi tube bundle
apapun. Jarak merupakan sama pentingnya seperti pada fixed-tube-sheet heat
exchanger.

Banyaknya lubang tabung yang diberikan shell lebih sedikit untuk fixedtube-sheet exchanger karena pembatasan pada pembengkokkan tabung pada
radius yang sangat pendek. Desain U-tube memberikan keuntungan untuk
mengurangi banyaknya sambungan.Pada konstruksi bertekanan tinggi, bentuk ini
menjadi

penting

dipertimbangkan

pemeliharaan.Penggunaan

konstruksi

dalam

mengurangi

U-tube

telah

biaya

awal

meningkat

dan

dengan

pengembangan tentang pembersih tabung hidrolik, yang dapat memindahkan


residu dari bagian lurus dan bengkokan U pada tabung.
Rods dan tabung mekanis pembersih konvensional tidak bisa lewat dari
satu ujung u-tube ke ujung lainnya.Terdapat power driven tube cleaner, yang
dapat membersihkan kaki tabung yang lurus dan bengkokan tabung.Pengaliran
hidrolik dengan mendorong air melalui nozzle pada tekanan.

Alat pemanas tangki penghisap, seperti pada gambar 2.5, terdapat U-tube
bundle.Desain ini sering digunakan dengan tangki penyimpanan di luar untuk
bahan bakar minyak berat, tar, molases dan fluida yang memiliki viskositas kecil
agar mudah untuk dipompa.Biasanya media pemanasan tube side berupa uap.
Satu ujung shell pemanas terbuka, dan cairan dipanaskan melewati bagian luar
dari tabung. Biaya pompa dapat dikurangi tanpa memanaskan keseluruhan
muatan tangki.Bare fin-tube dan integral low-fin tube dilengkapi dengan baffles.
Pemanas longitudinal fin-tube tidak di-baffle. Fin sering digunakan untuk
mengurangi potensi pencemaran fluida tersebut.
U-tube exchanger dengan tabung tembaga, cast iron headers, dan bagian
lain yang merupakan baja karbon digunakan untuk air dan uap di dalam
bangunan kantor, sekolah, rumah sakit, hotel dan lain-lain. Lembar tabung nonferrous atau 90-10 tabung tembaga-nikel adalah yang paling sering digunakan
sebagai material pengganti.Standar exchangers ini tersedia dari sejumlah harga
sebenarnya yang jauh di bawah peralatan industri proses.
c. Packed-Lantern-Ring Exchanger
Konstruksi ini merupakan straight-tube bundle yang dapat dipindahkan
yang sedikit mahal. Bagian-bagian dari heat exchange jenis ini dapat dilihat pada
gambar berikut.

Gambar 2.6 Packed-Lantern-Ring Exchanger(Shely Dian, 2010)

Fluida shell dan tube side masing-masing berisi dengan cincin terpisah
dari kemasan terpisah dengan suatu lantern ring dan dipasang pada floating tube
sheet. Lantern ring dilengkapi dengan weep holes. Kebocoran yang melewati
packing pergi melewati weep holes dan kemudian menetes ke tanah. Kebocoran

di packing tidak akan mengakibatkan pencampuran dua cairan di dalam


exchanger.
Lebar floating tube sheet harus cukup besar agar dapat mudah untuk
packing, lantern ring dan differential expansion. Terkadang skirt digabungkan
dengan tube sheet tipis untuk memberikan permukaan pada packing dan lantern
ring. Jarak antara batas tabung yang luar dan bagian dalam shell adalah sedikit
lebih besar dari yang untuk fixed-tube-sheet dan U-tube exchangers. Penggunaan
floating-tube-skirt menyebabkan peningkatan jarak ini.Tanpa skirt, jarak harus
dipertimbangkan untuk gangguan lubang tabung selama tabung menggoncang
dekat tepi luar tabung atau untuk pengelasan ujung tube pada floating tube sheet.
d. Outside-Packed-Floating Heat Exchanger
Fluida dari sisi shell mengandung balutan dari banyak cincin, yang
ditekan diantara kotak isian dengan balutan penyokong cincin. Dulu, konstruksi
ini sering digunakan di industri kimia, tapi beberapa tahun belakangan ini
penggunaannya telah berkurang. Konstruksi bundle yang dapat dipindahkan
menyesuaikan dengan perbedaan ekspansi antara shell dan tube dan
penggunaannya untuk perbaikan bagian shell hingga 4137 kPa dan 600 lbf/ in 2
pada 3160C (6000F). Tidak terdapat batasan angka pada jumlah dari sisi tube yang
dilalui atau pada desain tekanan dan temperature bagian tube. Outside-packed
floating heat exchanger merupakan tipe umum yang sering digunakan untuk
konstruksi bundle yang dapat dipindahkan di industri kimia.

Gambar 2.7 Outside-Packed-Floating Heat Exchanger(Shely Dian, 2010)

Saat floating-tube-sheet skirt mengalami kontak dengan balutan dari


cincin, dapat menghaluskan akhir mesin. Split-shear-ring masuk pada alur
floating-tube-sheet skirt. Slip on backing flange, pada saat penggunaannya,
ditahan di tempat untuk shear ring, terpasang pada external floating-head cover.
Floating head cover biasanya berupa cakram bundar, dengan sejumlah
ganjil dari tube-side passes, nozzle aksial bisa dipasang pada floating-head cover.
Jika sisi nozzle diperlukan, cakram bundar diganti oleh dished head atau channel
barrel terpasang diantara floating-head cover dan floating-tube-sheet skirt.
e. Internal Floating Head Exchanger
Desain internal-floating-head exchanger digunakan secara ekstensif di
jasa pertroleum refinery, tapi beberapa tahun belakangan ini, penggunaannya
menurun,Tube bundle lebih mudah dipindahkan dan floating tube sheet yang
bergerak ( atau mengambang ) dapat menyesuaikan dengan perbedaan ekspansi
antara shell dan tube. Batas tube terluar mendekati diameter bagian dalam
gasket pada floating tube sheet. Jarak (antara shell dan OTL) adalah 29 mm (1
1/8 in) untuk shell pipa dan 37 mm (1 7/16 in untuk diameter plate shell
sedang).
Split backing ring dan baut biasanya menahan floating head cover pada
floating tube sheet. Split backing ring dan baut biasanya terletak melebihi ujung
shell dan di dalam cover-shell berdiameter besar. Shell cover, split backing ring,
dan floating head cover harus dipindahkan sebelum tube bundle bisa melewati
exchanger shell.
f. Pull-Through-Floating Heat Exchanger.
Konstruksinya sama seperti internal-floating-head split-backing ring
exchanger kecuali floating-head covernya yang terpasang tepat pada floating
tube sheet, Tube bundle dapat diambil tanpa memindahkan shell cover atau
floating-head cover. Hal ini dapat mengurangi waktu perawatan saat
pemeriksaan dan perbaikan.
Jarak yang besar antara shell dan tube harus tesedia untuk gasket dan
baut pada floating-head cover. Jaraknya sekitar 2-2,5 kali dibandingkan dengan
desain yang dibutuhkan split-ring. Sealing strips atau dummy tubes biasanya
dipasang untuk mengurangi tube bundle yang melewati.

Gambar 2.8 Pull-Through-Floating Heat Exchanger (Shely Dian, 2010)

g. Falling-Film Exchangers
Falling film shell and tube heat exchanger telah dikembangkan untuk
macam-macam pelayanan dan dibuat oleh Sack (Chem.eng program,63,55(juli
1967)). Fluida masuk di puncak vertical tabung, Distributor atau slotted tubes
menyimpan liquid di aliran film di dalam permukaan tubes, dan film menempel
pada permukaan tabung saat jatuh ke dasar tabung. Fil dapat didinginkan.
Dipanaskan, diuapkan atau dibekukan (oleh medium perpindahan panas yang
cocok) di luar tabung. Tube distributor telah dikembangkan untuk berbagai
macam aplikasi. Fixed tube sheets dengan atau tanpa sambungan ekspansi dan
outside-packed head adalah desain yang digunakan.
h. Split-backing-ring Floating Head (Type S)
Satu tubesheet fix dengan baik pada shell dan tubesheet satunya
terapung, dan dimungkinkan untuk memindahkan secara terpisah antara shell
side dan tube side, serta seluruh tube bundle dapat dilepas. Untuk memisahkan
antara fluida pada shell dengan fluida yang melewati tube side, maka
dipergunakan flanged cover yang dibautkan pada split backing ring pada sisi
lain tubesheet. Akses ke tube end pada stationary end hanya dapat dilakukan
dengan melepaskan head cover, sedangkan akses ke tube end pada floating head
end dilakukan dengan melepas shell cover, split back ring dan floating head
cover.
Ada internal joint pada type ini sehingga membutuhkan design yang
sangat hati hati dan cermat.

Gambar 2.9 Split-backing-ring Floating Head (Type S)(Shely Dian, 2010)

i. Outside Packed floating head (Type P)


Untuk memasukkan fluida dari tube side ke floating head, salah satu
silindrical barrel (Skirt) dilaskan pada sisi luar floating tubesheet, sementara
lainya ditetapkan dengan sebuah slip on backing flange dan flat cover. Backing
flange dipasang dengan sebuah split shear ring yang ditempatkan dalam celah
pada skirt, keberadaan split shear ring memungkinkan bagi flange dan cover untuk
dilepas. Tekanan dan temperatur pada shell side terbatas pada 20 bar dan 300
degC.

Gambar 2.10 Outside Packed floating head (Type P)(Shely Dian, 2010)

j. Bayonat tube

Pada type ini, tube bagian luar, tube bagian dalam dan shell side dapat
dilepaskan secara bebas. Type ini cocok untuk perbedaan temperatur yang
extrim antara kedua fluida di shell side dan tube side. Free end masing-masing
pipa bagian luar di seal ke sebuah coverShell side biasanya dilengkapi dengan
buffle seperti halnya type lain, akan tetapi untuk ukuran shell vertikal yang
relative pendek kadang tidak diperlukan adanya buffle.Secara garis besarnya ada
dua Tahap Detail Design untuk Shell and Tube Heat Exchanger.
Tahap pertama adalah Thermal Design dan selanjutnya diteruskan
dengan Mechanical Design. Output atau hasil yang diperoleh pada Thermal
design akan menjadi data input untuk Mechanical design.
k. Double bundle Vaporizer
Double type ini adalah spesial design non-TEMA dan cocok
dipergunakan untuk penguapan liquid pada temperatur yang rendah. Meskipun
dapat dipenuhi dengan single bundle, akan tetapi spesial design diperlukan
untuk mencegah pembekuan kondensate. Bundle bagian bawah berperan sebagai
kettle yang memanaskan fluida dalam shell dan pendinginan terjadi pada fluida
pada tube side, sementara itu bundle bagian atas berperan menurunkan kembali
temperatur fluida dapam shell dan menyerap panasnya untuk menguapkan fluida
dingin pada tibe side pada bundle atas ini.

Gambar 2.11 Double bundle Vaporizer(Shely Dian, 2010)

Keuntungan shell & tube exchanger :

Memiliki permukaan perpindahan panas persatuan volume yang lebih besar

Mempunyai susunan mekanik yang baik dengan bentuk yang cukup baik
untuk operasi bertekanan.

Tersedia dalam berbagai bahan konstruksi

Prosedur pengopersian lebih mudah

Metode perancangan yang lebih baik telah tersedia

Pembersihan dapat dilakukan dengan mudah

Permukaan kontak diperpanjang untuk meningkatkan perpindahan panas,

dapat digunakan pada kedua sisi.


Berbagai besar kapasitas termal dapat diperoleh.
Kelemahan shell and tube heat exchanger

Korosi

deposit kerak

pertumbuhan mikrobiologi ( jamur dan lumut )

efisiensi pabrik biasanya turun


APLIKASI

Cooling Tower ini biasa digunakan di Industri pembangkit listrik.


Biasanya menara pendinginan beroperasi untuk mendapatkan data berikut :

Suhu air alur masuk : 35 C hingga 37 C

Suhu air alur keluar : 30 C hingga 32 C

Suhu bebuli basah alur masuk : 27 C

Kuantiti air pendingin : 131/minit x tan penyejukan (1tan penyejukan = 16


758 kj/jam)

cooling water sistem tertutup atau terbuka. Kelemahan sistem tertutup adalah
sangat lambat dan prosesnya mahal; sedangkan sistem terbuka membutuhkan
ruang yang besar serta rentan terhadap kontaminasi dan kehilangan air karena
peristiwa wind loss
3. Plate and frame heat exchanger ( Penukar Panas Plate and Frame )
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak
lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang

penyekat lunak ( biasanya terbuat dari karet ). Pelat pelat dan sekat disatukan
oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 ( kebanyakan segi
empat ) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida
dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain
mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.
Sistem Kerja dari Plate Heat Exchanger
Produk akan dipanaskan dan masuk kedalam suatu larutan yang kemudian
akan mengalir pada sebuah pelat. Proses pemanasan ini terjadi dengan adanya
medium pemanas yang mengalir pada saluran dan pelat yang lainnya. Dimana
pelat yang telah tersusun ini akan secara bergantian mengalirkan produk dan
medium pemanas. Pelat yang dialiri produk tidak akan dialiri oleh komponen
lain.
Cairan panas yang melintasi bagian bawah head dialirkan ke atas melintas
diantara setiap plae genap sementara cairan dingin pada bagian puncak head
dialirkan turun diantara plat-plat ganjil.Arah aliran produk dan medium pemanas
di dalam pelat biasanya berbeda atau boleh dikatakan mengalir secara berlawanan.
Pada umumnya produk akan masuk melalui saluran atas dan mengalir kebawah
melewati pelat, sehingga aliran keluaran produk akan berada dibawah, sedangkan
medium pemanas akan masuk melalui saluran yang berkebalikan dari produk,
yaitu masuk melalui saluran bawah dan mengalir ke atas melewati pelat, sehingga
aliran pengeluaran medium pemanas akan berada diatas. Arah aliran yang
berlawanan ini dimaksudkan agar proses pemanasan dapat

lebih cepat

berlangsung.
Produk yang mengalir pada suatu pelat akan terhimpit oleh medium pemanas
dengan arah aliran yang berbeda, sehingga produk akan cepat memanas karena
tertekan oleh pelat yang mengalirkan medium pemanas. Produk yang telah
menjadi panas dan medium yang telah mengalir pada suatu pelat akan mengalir
keluar.
Saluran pengeluaran medium pemanas dan produk ada dua macam tergantung
dari rangkaian pelat yang digunakan, baik itu seri maupun paralel. Pada rangkaian
seri produk yang masuk dan keluar akan melewati ports pada bagian front head
yang sama. Sedangkan pada rangkaian paralel produk dan medium pemanas akan

masuk dan keluar melewati bagian yang berbeda, yaitu masuk melewati ports
pada bagian front head dan keluar melalui ports pada bagian belakangnya.
Prinsip Alat Ukur PHE
1.
2.
3.

Alat ukur laju alir


Alat ukur tekanan
Alat ukur suhu

Gambar 2.30 Penukar panas jenis pelat and Frame (Stevano Viktor, 2011)

Gambar 2.31 Penukar panas jenis pelat and Frame (Stevano Viktor, 2011)

PHE yang banyak dijumpai di industri adalah type:


a.

Glue type

Tipe glue ini memerlukan lem untuk memasang gasket pada plat PHE. Lem
yang digunakan hendaknya ialah lem yang mempunyai ketahanan terhadap panas
yang baik.

Gambar 2.32Glue type (Stevano Viktor, 2011)


b.

Clip type

Luar gasket tipe ini terdapat clip-clip, sehingga dalam pemasangannya cukup
menancapkan clip-clip tersebut ke lubang yang terdapat pada plat.Pemasangan
gasket tipe ini lebih mudah dan ringkas jika dibandingkan dengan tipe glue.

Gambar 2.33Clip type (Stevano Viktor, 2011)

Bagian-Bagian dari Plate Heat Exchanger

1. Gasket terbuat dari karet (non logam) atau bahan yang biasa digunakan adalah
nitrile dan ethylene propylene rubber (EPR/EPDM)
a.
b.
c.

Nitrile : -400F - 2500F untuk temperatur rendah


Nitrile : -400F - 2500F untuk temperatur tinggi
EPR/ EPDM : -800F 3000 F sangat tahan terhadap air yang sangat

panas dan uap serta memiliki ketahanan yang baik untuk kompresi atau volume
yang besar.
Fungsi gasket ini adalah sebagai perekat alat atau pengatur aliran fluida,
sehingga antara fluida yang satu dengan fluida yang lain tidak mengalami kontak
secara langsung yang menyebabkan kebocoran.
2. Pelat penekan (Compression Plate) terbuat dari logam yang berfungsi sebagai
penekan pelat agar pada saat operasi alat berjalan tidak ada rongga didalam
aliran fluida agar tidak terjadi kebocoran.
3.

Pelat (plates), umumnya berukuran 0,4 - 0,6 mm terbuat dari stainless


steel atau titanium dan terdapat pada berbagai macam susunan yang
berombak-ombak, berfungsi sebagai tempat mengatur fluida serta tempat
terjadinya pertukaran panas antara fluida panas dengan fluida dingin. Fluida
pada pelat ini mengalir secara turbulen, hal ini dikarenakan bentuk dari pelat
tersebut yang bergerigi sehingga pertukaran panas dapat berlangsung secara
cepat. Makin banyak pelat tekanan makin besar.

Tipe Pelat

Vertical, termasuk salah satu pola pelat yang seringdigunakan karena


mempunyai banyak pembatasuntuk mengalir, sehingga menyebabkan
banyakgerakan putaran (turbulen), perpindahan panas dengan kecepatan

tinggi, dan menurunkan tekanan.


Horizontal, juga merupakan pola yang sering digunakan.Mempunyai
pembatas, gerak putaran (turbulen), dan penurunan tekanan yang lebih

4.

sedikit dibandingkan polavertical


Combination, penggunaan pola pelat ini biasanya ditujukan untuk hasil
pemanasan dan penurunan tekanan yang lebih optimal.
Pelat penyangga tetap (fixed frame), terbuat dari logam dan berfungsi

menjaga pelat agar tetap stabil

Gambar 2.36Pelat penyangga tetap (fixed frame)(Stevano Viktor, 2011)

5.

Alat penekan (Compression Bolt), berupa baut pelat baja yang


digunakan untuk menekan pelat dan frame

6. Guide Bars, berupa batang yang terbuat dari carbon steel atau stainless steel
yang mendukung dan menjaga agar pelat berjajar secara rapi.

7. Front and Rear Heads .(Bagian depan dan kepala bagian belakang),
merupakan bagian yang dilapisi oleh frame carbon steel yang melekat pada
kumpulan pelat yang ditekan.
Kelebihan plate and frame heat exchanger dibandingkan shell and tube
heat exchanger antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kompak.
Biaya total murah.
Fouling kurang.
Mudah dicapai.
Fleksibel dalam hal jumlah plat di dalam alat penukar panas.
Beban panas dan efektivitas tinggi.
Waktu tinggal fluida tinggi.
Mempunyai permukaan perpindahan yang sangat besar pada volume alat yang
kecil,sehingga perpindahan panas yang efisien.

9. Mudah dirawat dan dibersihkan


10. Mudah dibongkar dan dipasang kembali ketika proses pembersihan
11. Waktu tinggal media sangat pendek
12. Dapat digunakan untuk cairan yang sangat kental (viskos)
13. Plate and Frame lebih fleksibel, dapat dengan mudah pelatnya ditambah
14. Ukuran yang lebih kecil dapat mengurangi biaya dalam segi bahan (Stainless
Steel,Titanium, dan logam lainnya)
15. Aliran turbulensinya mengurangi peluang terjadinya fouling dan sedimentasi
Kekurangan plate and frame heat exchanger
1. PlHE tidak sesuai digunakan untuk tekanan yang tinggi/ lebih dari 30 bar.
2. Maksimum temperatur operasi terbatas hingga 250 oC.
3.

Biaya awal mahal

4.

Memiliki potensi kebocoran

5.

Tidak cocok untuk pengolahan produk seperti daging buah atau produk
dengan partikulat

6.

Setelah penggunaan berulang, partikel dapat menetap dalam rongga logam,


sehingga mengurangi luas permukaan efektif dari kontak antara dua cairan

APLIKASI
1) Dalam industri minyak bumi - Lube Oil Cooling
2) Sebagai Kondensor efektif dalam industri farmasi
3) Dalam Boiler Kombinasi
4) HVAC - Pemanas ruangan, & AC; Hal ini digunakan dalam teknologi
kenyamanan lingkungan dalam ruangan dan otomotif.
4. Adiabatic wheel heat exchanger
Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang
solid untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas
akan dirilis. Dua contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar
dengan benang halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas
cairan.
Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar
panas dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih)
atau digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke

cairan. Pada pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan
umpan masuk untuk menara distilasi sering penukar panas.
Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan
uap distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap
yang digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan
air menjadi uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering
disebut boiler atau generator uap.Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang
disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas
dari sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap
memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap.Semua pembangkit
listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin
memiliki kondensor permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke
kondensat (air) untuk digunakan kembali.
Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman
lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari
satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti
pendingin distilat dan pakan reboiler pra-pemanasan.
Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan
dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke
fase cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase
efektif bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih
memungkinkan untuk penukar panas untuk menerima panas tambahan. Salah satu
contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya
tinggi.

Gambar 2.41 Phase-change heat exchanger (Zuhrina, 2006)

Gambar 5. Adiabatic wheel heat exchanger


5. Pillow plate heat exchanger
Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk
susu pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless
steel. Pelat bantal memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh
permukaan tangki, tanpa sela yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar
tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan lembaran tipis dari logam-spot dilas
ke permukaan selembar tebal dari logam.
Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin
garis las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang
cukup untuk menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan,
menyediakan ruang untuk cairan penukar panas mengalir, dan menciptakan
penampilan yang karakteristik bantal membengkak terbentuk dari logam.

Gambar 6. Pillow plate Heat exchanger


6. Dynamic scraped surface heat exchanger.
Tipe lain dari penukar panas disebut "(dinamis) besot permukaan heat
exchanger". Ini terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan
tinggi viskositas produk, proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling
aplikasi. Kali berjalan panjang yang dicapai karena terus menerus menggores
permukaan, sehingga menghindari pengotoran dan mencapai kecepatan transfer
panas yang berkelanjutan selama proses tersebut.

Gambar 7. Dynamic Scraped Surface heat exchanger

7. Phase-change heat exchanger


Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar
panas dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih)
atau digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke
cairan.
Pada pabrik kimia dan kilang,reboilers digunakan untuk memanaskan umpan
masuk untuk menara distilasi sering penukar panas. Distilasi set-up biasanya
menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan uap distilasi kembali ke
dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang digerakkan turbin
biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air menjadi uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering
disebut boiler atau generator uap.Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang
disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas
dari sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap
memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap.Semua pembangkit
listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin
memiliki kondensor permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke
kondensat (air) untuk digunakan kembali.
Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman
lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari
satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti
pendingin distilat dan pakan reboiler pra-pemanasan.

Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan
dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke
fase cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase
efektif bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih
memungkinkan untuk penukar panas untuk menerima panas tambahan. Salah satu
contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya
tinggi.
Aplikasi heat exchanger perubahan fase

Reboilers digunakan untuk memanaskan umpan masuk untuk menara


penyulingan

Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang digerakkan turbin biasanya
menggunakan heat exchanger untuk mendidihkan air menjadi uap.

Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering
disebut boiler atau generator uap.

8. Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger)


Fluida panas masuk pada pusat elemen spiral dan mengalir mengelilingi dari
batas luar ke pusat sedangkan aliran fluida dingin mengalir berlawanan, masuk
dari pusat mengelilingi dan meninggalkan pusat. Koefisien perpindahan panas
tinggi pada kedua sisi, dan tidak ada koreksi log mean temperature difference
(LMTD) karena perpindahan panas yang terjadi dengan arus counter-current.
Jenis spiral umumnya bisa menjadi lebih unggul dengan fluida yang sangat kental
pada tekanan sedang (Walas, 1990).

Gambar 2.12 Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger)


(Walas, 1990)
tempat. Sifat seperti ini sering dimanfaatkan dan secara parsial/bagian di
alokasikan kembali untuk memperoleh perbaikan dalam kinerja, menurut timbalbalik dikenal dengan desain penukar panas. Sebuah compact SHE dapat
digunakan pada ruang kecil jadi bisa lebih murah; rendah biaya modal dan rendah
biaya energi.

Kelebihan

Efisien terhadap ruang/tempat

mudah untuk perbaikan dalam kinerja

lebih murah rendah biaya modal

rendah biaya energi.

Ramah lingkungan
KEKURANGAN

Perbaikan untuk spiral plate heat exchanger cukup sulit

spiral plate heat exchanger sering tidak digunakan jika terjadi siklus
temperatur yang berulang-ulang

Spiral plate heat exchanger tersebut biasanya tidak digunakan apabila selama
pengoperasian terjadi pengerakan yang Besar

Untuk aliran aksial-spiral, perbedaan temperatur harus dikoreksi


APLIKASI

Biasanya pada Pasteurisasi,

pemanasan bioreaktor,

pendinginan limbah dan lainya

pemulihan panas,

pendingin dan

pemanas limbah digester.

9. Koil Pipa
Heat Exchanger ini mempunyai pipa berbentuk koil yang dibenamkan
didalam sebuah box berisi air dingin yang mengalir atau yang disemprotkan untuk
mendinginkan fluida panas yang mengalir di dalam pipa. Jenis ini disebut juga
sebagai box cooler jenis ini biasanya digunakan untuk pemindahan kalor yang
relative kecil dan fluida yangdidalam shell yang akan diproses lanjut.

HE jenis ini disusun dari tabung-tabung (tubes) dengan jumlah besar


mengelilingi tabung inti, dimana setiap HE terdiri dari lapisan-lapisan tabung
sepanjang arah aksial maupun radial. Aliran tekanan tinggi diberikan pada tube
diameter kecil, sementara untuk tekanan rendah dialirkan pada bagian luar tube
diameter kecil.

HE jenis ini memiliki keuntungan untuk kondisi suhu rendah antara lain:

Perpindahan kalor dapat dilakukan lebih dari dari dua aliran secara simultan.

Memiliki jumlah unit Heat transfer yang tinggi

Dapat dilakukan pada tekanan tinggi.

Murah

Kecepatan aliran lebih tinggi

Bilangan reynolds lebih tinggi

cocok untuk aliran rendah

KEKURANGAN
-Area perpindahan panas nya kecil sehingga kinerja termal buruk
APLIKASI
biasanya digunakan untuk membentuk suatu suhu tetap untuk aliran prosessampel sebelum melakukan pengukuran.
Digunakan untuk mengkondensasikan suhu tinggi aliran sampel
10. Jenis Pipa Terbuka (Open Tube Section)
Pada heat exchanger ini pipa-pipa tidak ditempatkan lagi didalam shell,
tetapi dibiarkan diudara. Pendinginan dilakukan dengan mengalirkan air atau
udara pada bagian pipa. Berkas pipa itu biasanya cukup panjang.Untuk
pendinginan dengan udara biasanya bagian luar pipa diberi sirip-sirip untuk
memperluas permukaan perpindahan panas. Seperti halnya jenis coil pipa,
perpindahan panas yang terjadi cukup lamban dengan kapasitas yang lebih
kecil darijenisshellandtube.

2.5 Peristiwa dalam HE


1. Koefisien overall perpindahan panas (U)
menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida
dingin dan juga menyatakan aliran panas menyeluruh sebagai gabungan proses
konduksi dan konveksi.
U=
Keterangan :
Q = panas yang dipindahkan per satuan waktu (m3/s)
U = koefisien perpindahan panas (J/sm2K)
A = luas permukaan perpindahan panas (m2)
LMTD = perbedaan T rata-rata (K)
2. Fouling factor (Rd)
fouling adalah peristiwa terakumulasinya padatan yang tidak dikehendaki di
permukaan Heat Exchanger yang berkontak dengan fluida kerja, termasuk
permukaan heat transfer. Peristiwa tersebut adalah pengendapan, pengerakan,
korosi, polimerisasi dan proses biologi. Fouling factor (Rd) merupaka Angka
yang menunjukkan hambatan akibat adanya kotoran yang terbawa fluida yang
mengalir di dalam HE.
Penyebab terjadinya fouling :
Adanya pengotor berat yaitu kerak keras yang berasal dari hasil korosi atau
coke keras.

Adanya pengotor berpori yaitu kerak lunak yang berasal dari dekomposisi
kerak keras.
Akibat fouling :

mengakibatkan kenaikan tahanan heat transfer, sehingga meningkatkan biaya,


baik investasi, operasi maupun perawatan.

ukuran Heat Exchanger menjadi lebih besar, kehilangan energi

meningkat, waktu shutdown lebih panjang dan biaya perawatan meningkat.

Variabel operasi yang berpengaruh terhadap fouling :


Kecepatan Linier Fluida (Velocity)
Semakin tinggi kecepatan linier fluida, semakin rendah kemungkinan
terjadinya fouling. Sebagai batasan dalam rancangan dapat digunakan
nilai-nilai berikut:
1). Kecepatan fluida proses di dalam tube adalah 3 6 ft/s
2). Kecepatan fluida pendingin di dalam tube adalah 5 8 ft/s
3). Kecepatan fluida tube maksimum untuk menghambat terjadinya fouling
adalah 10 15 ft/s
4). Kecepatan fluida shell adalah 1 3 ft/s.
Temperature Permukaan dan Temperature Fluida
Kecepatan terbentuknya fouling akan meningkat dengan meningkatnya
temperatur.
3.Pressure drop
Untuk mengetahui sejauh mana fluida dapat memepertahankan tekanan yang
dimilikinya selama fluida mengalir.
Disebabkan oleh 2 hal :
Friksi aliran dengan dinding
Pembelokan aliran
Jika P terlalu besar:

Disebabkan jarak antar buffle yang terlalu dekat


Aliran menjadi lambat
Perlu tenaga pompa yang besar
Jika P terlalu rendah
Perpindahan panas tidak sempurna
Tindakan:
a.

Bersihkan pipa-pipa sebelum start up

b. Bersihkan plate (jika kejadiannya setelah proses berjalan)


c.

Media yang masuk HE perlu diberi filter.

4. Menurunnya out put HE (menurunnya kapasitas)


Penyebab: PHE terkotori/tersumbat oleh kotoran dari luar, seperti serpihan
plastik dsb.
Tindakan: Bersihkan plate dan media yang masuk PHE perlu diberi filter.
Penyebab: Aliran terlalu tinggi/cepat.
Tindakan:Setel dan sesuaikan.
Penyebab : Kesalahan koneksi terhadap sistem perpipaan
Tindakan: Check koneksi dan sesuaikan dengan drawing
Penyebab: Akumulasi secondary media di dalam HE (seperti oli, dan noncondensable gas)
Tindakan: Buat alat yang sesuai untuk mengalirkannya. Alat ini bisa berupa oil
drainage yang dibuka dalam periode tertentu sesuai dengan keadaan.
5. Kebocoran
Penyebab: Tekanan dalam HE melebihi tekanan ijin.
Tindakan: Kurangi tekenan sesuai dengan set point.
Penyebab: shock pressure/tekanan mendadak.
Tindakan: Hindari terjadinya tekanan mendadak dengan mengatur sistem
sebaik mungkin, membuka dan menutup sistem dengan smooth.
Penyebab: Rusaknya gasket karena pengaruh serangan medium.
Tindakan: Ganti gasket, jika perlu ganti dengan material lain yang lebih baik.
Penyebab: Terbloknya aliran dalam HE.

Tindakan: Bersihkan plate dan beri saringan/filter.


6. Tercampurnya media
Penyebab: Plate tidak terinstall dengan benar
Tindakan: Install plate sesuai panduan.
Penyebab: Korosi
Tindakan:
a.

Cari penyebab korosi dan ganti plate baru

b.

Ganti dengan plate yang dengan material yang tahan korosi.

Penyebab: Koneksi tidak sesuai


Tindakan: Check dan sesuaikan dengan drawing.
2.6 Perawatan Heat Exchanger
Peralatan penukar panas sederhana terdiri dari :
1.
2.
3.
4.

unit Heat Exchanger 1 unit


Thermometer Digital 1 buah
Stop Watch 1 buah
Selang air

1. Pemeriksaan Peralatan Penukar Panas


Pada alat penukar kalor ini, kedua fluida mengalir pada dua jalur yang berbeda
dan kedua jalur dipisahkan oleh satu plat. Plat yang digunakan adalah dari bahan
tembaga. Hal ini dengan pertimbangan bahan plat dan bahan tembaga mempunyai
harga konduktivitas (thermal) yang tinggi sehingga mempunyai kemampuan
menghantarkan panas yang baik.
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut :
a. Melakukan pemeriksaan pada sekat aliran fluida yang terbuat dari tembaga,
untuk pemeriksaan kebocoran.
b. Melakukan pengecekan pada saluran fluida panas dan fluida dingin, jika ada
kotoran yang menyumbat harus dibersihkan terlebih dahulu, sehingga aliran
fluida dapat lancar.

c. Kedua jalur plat ini juga harus diperiksa agar terjadi pertukaran panas antara
kedua fluida tersebut agar fluida panas secara optimum akan mengalami
penurunan temperatur sedangkan fluida dingin akan mengalami kenaikan
temperatur.
d. Pemeriksaan pendahuluan sangat penting dikarenakan perbedaan temperatur
fluida pada saat masuk dan keluar alat untuk pengambilan data menghitung q
(laju aliran panas) yang terjadi pada alat penukar kalor, sehingga pemeriksaan
pendahuluan sangat penting.
e. Alirkan minyak panas atau hasil

penyulingan melalui tabung atau shell

dengan kecepatan yang baik, pada umumnya secara efektif

dapat

memindahkan kotoran atau hal serupa yang masih tersimpan didalamnya.


f. Garam yang tersimpan mungkin dapat dicuci bersih dengan mengalirkan air
panas yang bersih.
g. Jika tidak satupun dari metoda diatas efektif untuk menghilangkan sesuatu
dalam skala besar, coke mungkin dapat digunakan.
2. Langkah-langkah perawatan
a. Buka penuh katup-katup
b. Kemudian tutup penuh katup-katup
c. Dicoba mengalirkan fluida dingin dengan menggunakan katup dan atur
debitnya dengan mengatur katup
d. Dicoba mengalirkan fluida panas dengan menggunakan pompa dan atur
debitnya dengan mengatur katup
e. Perawatan pada aliran searah, apabila bukaan katup semakin dipersempit
maka kecepatan pada aliran fluida panas dan fluida dingin akan semakin
lambat, sehingga kinerja peralatan dapat optimum.
3. Metode-metode pembersihan heat exchanger
1. Chemical / Physical Cleaning
metode pembersihan dengan mensirkulasikan agent melalui peralatan
biasanya menggunakan HCl 5-10%.
2. Mechanical Cleaning
3. Drilling atau Turbining
Pembersihan dilakukan dengan mendrill deposit yang menempel pada dinding
tube.
4. Hydrojeting

Pembersihan dilakukan dengan cara menginjeksikan air ke dalam tube pada


tekanan yang tinggi, untuk jenis deposit yang lunak.
2.7 Prosedur Perancangan Dasar Alat Penukar Panas
Tujuan utama perancangan alat penukar panas adalah untuk menentukan luas
permukaan yang diperlukan untuk sesuatu tugas tertentu menggunakan beda
suhu yang tersedia. Langkah-langkah perancangan antara lain :
1. Mendefinisikan tugas : laju perpindahan panas, laju alir fluida, temperatur.
2. Mengumpulkan sifat-sifat fisik fluida yang diperlukan : densitas, viskositas,
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

konduktivitas termal.
Memilih jenis alat penukar panas yang diperlukan.
Menebak harga U.
Menghitung LMTD.
Menghitung luas permukaan yang diperlukan.
Menentukan tata letak alat penukar panas.
Menghitung koefisien individu.
Menghitung koefisien menyeluruh dan membandingkan dengan harga yang
ditebak. Jika sangat jauh berbeda, kembali ke langkah 6 dengan menggunakan

harga U yang didapat dari perhitungan.


10. Menghitung P, jika tidak memenuhi kembali ke langkah 7 atau 4 atau 3.
11. Mengoptimasi rancangan : mengulangi langkah 4 hingga 10 untuk
menentukan alat penukar panas yang paling murah. Biasanya ini adalah alat
penukar panas dengan luas permukaan terkecil.
2.8 Aplikasi heat exchanger

Biasa digunakan pada :


Pemanas ruangan
mesin pendingin
pembangkit tenaga listrik
pabrik kimia
pabrik petrokimia
kilang minyak bumi
pengolahan limbah

Contoh : Mesin pembakaran internal dimana air sebagai pendingin yang


mengalir dalam radiator, udara melalui coil, sehingga air mendinginkan mesin,
dan memanaskan udara yang masuk

2.9 perhitungan heat exhanger


PERSAMAAN ALAT PENUKAR KALOR
Karakteristik ini dapat didefinisikan sebagai:

Laju aliran pada exchanger dapat ditentukan dengan Reynolds number (NRe)

Keseimbangan

Efektivitas

Perbandingan aktual panas yang ditransfer ke panas yang bisa

ditransfer oleh penukar kalor dengan ukuran tak terbatas

Cara terbaik untuk membandingkan berbagai jenis penukar kalor

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa
dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya,
medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan
air biasa sebagai air pendingin (cooling water).Penukar panas dirancang sebisa
mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara
efisien.Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida
terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung
(direct contact).
2. Jenis-jenis penukar panas antara lain :
a.

Double Pipe Heat Exchanger

b.

Plate and Frame Heat Exchanger

c.

Shell anf Tube Heat Exchanger

d.

Adiabatic wheel Heat Exchanger

e.

Pillow plate Heat Exchanger

f.

Dynamic scraped surface Heat Exchanger

g.

Phase-change Heat Exchanger

3. Dari jenis-jenis Heat Exchanger diatas, komponen-komponen peralatan


tergantung dari jenisnya. Setiap komponen memiliki peranan masing-masing
yang semuanya saling bergantungan yang apabila salah satu tidak berfungsi
maka akan mengganggu kinerja dari peralatan tersebut.
4. Perawatan Heat Exchanger dilakukna dengan tujuan untuk meningkatkan
kinerja sadi peralatan serta untuk menjaga dan merawat agar peralatan dapat
bertahan lebih lama dalam penggunaannya.Peralatan yang dilakukan

diantaranya dengan melakukan pemeriksaan secara rutin/ berkala maupun


dalam jangka panjang.Pemeriksaan rutin dilakukan setiap hari, seminggu
sekali, sebulan sekali dan setiap 6 bulan sekali.Pemeriksaan jangka panjang
dilakukan setiap 1 tahun sekali maupun diatas 1 tahun.Sebelum dilakukan
perawatan, biasanya peralatan dilakukan analisa terlebih dahulu untuk
mengetahui bagian-bagian mana saja yang mengalami kerusakan maupun
yang membutuhkan perbaikan.Analisa yang sering dilakukan adalah analisa
perpindahan panas keseluruhan, factor fouling dan penurunan tekanan pada
Heat Exchanger.
5. Tipe pembersihan Heat Exchanger yang sering dilakukan adalah :
a.
b.

Chemical/PhysicalClaning
MechanicalCleaning
-DrillingatauTurbining
-Hydrojeting

c.

Gabungandarikeduanya

6. Masalah-masalah yang sering muncul pada jenis heat exchanger adalah :

Naiknya pressure drop didalam HE


Menurunnya out put HE (menurunnya kapasitas)
Kebocoran
Tercampurnya media.

DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Ilma. (2011). PENUKAR PANAS ( HEAT EXCHANGER)
(online). Tersedia di :http://id.scribd.com/doc/46808854/Tugas-Shell-andTube-Ex-Changer-2. (Diunduh tanggal 8 Desember 2012)
Anonim.(2012).
di

Alat

Heat

:http://beckfk.blogspot.

com/

Exchanger

(online).

Tersedia

2012/05/alat-heat-exchanger.html.

(Diunduh tanggal 25 Oktober 2012)


Anonim.(2010).

Heat

Exchanger

(online).

Tersedia

di :http://www.alaquainc.com/ Heat_Exchangers.aspx. (Diunduh tanggal


25 Oktober 2012)
Anonim.(2010). Pembagian Heat Exchanger Berdasarkan Bentuk
Konstruksinya

(online).

Tersedia

di

:http://java-

borneo.blogspot.com/2011/05/pembagian-heat-exchangerberdasarkan.html. (Diunduh tanggal 5 November 2012)


Anonim. (2012). Pengertian Heat Exchanger (online). Tersedia di :
http://www.scribd.

com/doc/94966592/Pengertian-Heat-Exchanger.

(Diunduh tanggal 7 Desember 2012)


Anonim.(2012). Jenis-Jenis Alat Penukar Panas dan Tipe aliran HE (Heat
Exchanger)(online). Tersedia di :http://pelatihanguru.net/category/alatpenukar-kalor. (Diunduh tanggal 8 Desember 2012)
Djunaidi.(2009). Pemeliharaan Tube-Side Penukar Kalor Rsg-Gas Jangka
Pendek Dan Jangka Panjang. Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN.
Kawasan Puspitek Serpong Tangerang : Banten
Eka, dkk.(2011). Laporan Praktikum Heat Exchanger (online). Ekstensi
Teknik

Kimia

Universitas

Indonesia:

Depok.

Tersedia

di :http://www.scribd.com/doc/72839539/ Laporan-HE-Eka-Gefin-KrisnaLaili-Final. (Diunduh Tanggal 7 Desember 2012)