Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN 2

CARA PEMBERIAN OBAT


a. Pengantar:
Secara farmakologi pemilihan jenis obat dan rute obat yang diberikan menjadi pilihan
tersendiri oleh pemberi resep, yang disesuaikan dengan tujuan pengobatan. Obat yang diberikan
kepada penderita akan memberikan efek lokal ataupun sistemik sesuai dengan maksud dan
tujuan pengobatan. Pada percobaan ini mahasiswa diperkenalkan dengan obat-obat yang dapat
memberikan efek sistemik dan lokal berikut alat yang digunakan.
Jenis-jenis obat menurut cara pemberiannya:
Efek obat

Cara pemberian

Jenis sediaan

Sistemik

Oral (enteral)

1. tablet

Alat yang digunakan

2. kapsul
3. pil
4. kaplet
5. sirup
6. suspense
7. puyer
Injeksi (parenteral)

Lokal

topikal

1. ampul

Disp. Spuit

2. vial

Disp. Spuit

3. cairan infuse

Infuse set

4. obat KB

Tracor

5. ovula

Alat khusus
(apparatus)

1. salep/krim
2. obat tetes; hidung,
telinga, mata
3. suppositoria
4. aerosol

b. Tujuan percobaan:
Mahasiswa mampu melakukan cara pemberian obat dengan tepat dan benar
c. Bahan dan Alat:

Bahan:
1. Nacl 0,9% atau Dekstrosa 5%, cukup satu botol untuk semua pada saat praktikum.
2. Kapas dan etanol secukupnya.

Alat:
1. Spuit injeksi 1 buah untuk masing-masing kelompok.
2. Sendok takar
3. Gelas ukur
4. Pisau cukur (pisau silet)
5. Gelas beker dan
6. Sonde

Hewan coba: Tikus Albino


Prosedur percobaan:
Obat dan alat yang akan digunakan disiapkan terlebih dahulu, instruktur memberikan
contoh, kemudian masing-masing mahasiswa mencobanya.
1. Dengan probandus (peragaan)
2. Dengan hewan coba (tikus albino)

Ad1. Dengan probandus dilakukan dengan peragaan.


2

Sediakan alat: Spit injeksi, kapas, etanol, sendok takar, gelas ukur, sonde, gelas beker,

Ad2. Dengan hewan coba:


Masing-masing kelompok dengan satu 2 ekor tikus (mencit). Timbang hewan coba.
Untuk topical. Lakukan pencukuran bulu area tertentu, hitung luas persegi dalam cm2.
Misalkan 1x2 cm atau 2x2 cm dst.
Selanjutnya dapat dilakukan CPO: IM, IP atau sub kutan. Gunakan NaCl 0,9 % o,1 ml
setiap kali penyuntikan.

Catatan:
Hewan coba harus diperlakukan dengan sedemikian rupa sehingga tidak gelisah, takut
ataupun kaget dsb.

d. Teori Singkat:

Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor
keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan
percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu
1. Hewan liar.
2. Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka.
3. Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan
sistem barrier (tertutup).
4. Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan
sistem Isolator.
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang
diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk
sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika

obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang
bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1990).
Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:
a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
b. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan
c. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.
Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:
a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b.

Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru

c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran
kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut
dalam cairan badan
Rute penggunaan obat dapat dengan cara:
a. Melalui rute oral
b. Melalui rute parenteral
c. Melalui rute inhalasi
d. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya
e. Melalui rute kulit (Anief, 1990).
Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal (dubur) dan
parenteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular, subkutan, dan intraperitonial,
melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-beda. Pemberian secara parenteral yang lain,
seperti melalui intravena, intra-arteri, intraspinal dan intraseberal, tidak melibatkan proses
penyerapan, obat langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor
(receptor site) cara pemberian yang lain adalah inhalasi melalui hidung dan secara setempat
melalui kulit atau mata. Proses penyerapan dasar penting dalam menentukan aktifitas
farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses penyerapan akan
memperngaruhi aktifitas obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan ( Siswandono dan
Soekardjo, B., 1995).
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis
telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah
4

memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan


lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya
diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia
(Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002).

e. Prosedur kerja
1.

Cara memegang hewan percobaan sehingga siap diberi sediaan uji


- Mengangkat ujung ekor mencit dengan tangan kanan.
- Meletakkan pada suatu tempat yang permukaannya tidak licin (misal rem kawat pada
penutup kandang), sehingga bila ditarik mencit akan mencengkeram.
- Lalu kulit pada bagian tengkuk mencit dijepit dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri
sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan kemudian tubuh

mencit

dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap ke kita dan ekor dijepit di

antara jari
2.

manis dan kelingking tangan kiri.

Cara memberikan obat pada hewan percobaan


a)

Oral

- Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya tumpul
(sonde oral).
- Memegang mencit dengan menjepit bagian tengkuk menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk, dan ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
- Memerhatikan posisi kepala mencit. Pastikan posisi kepala menengadah atau posisi
dagu sejajar dengan tubuh dan mulut terbuka sedikit.
- Menempelkan sonde oral pada langit-langit mulut atas mencit kemudian
memasukkannya perlahan-lahan sampai ke esophagus kemudian memasukkan
cairan

obat.
b)

Intra muscular

- Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya runcing.
- Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk, dan ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
5

- Memposisikan hewan dalam keadaan terbalik dan menarik keluar kaki belakang agar
paha posterior lebih terlihat.
- Membersihkan bagian tubuh mencit yang akan disuntik dengan alkohol 70 %.
- Menyuntikkan obat pada otot paha bagian posterior dengan kemiringan jarum suntik
tidak lebih 40.
c)

Intra peritoneal

- Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik yang ujungnya runcing.
- Memegang mencit dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk, dan ekornya dijepit diantara jari manis dan kelingking.
- Memposisikan tubuh mencit dalam keadaan terbalik dengan kepala lebih rendah dari
abdomen
- Membersihkan bagian abdomen bagian agak tepi yang akan disuntik dengan
menggunakan alkohol 70 %.
- Menyuntikkan obat dengan kemiringan 10 berlawanan arah dengan kepala (arah
jarum ke bagiann perut) pada bagian abdomen agak menepi dari garis tengah
perut

agar jarum suntik tidak terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi agar

tidak

penyuntikan pada hati.

f. Hasil percobaan:
1. Persiapan:
Perlakuan terhadap hewan
Tikus Albino ditenangkan terlebih dahulu dan diperlakukan sebaiknya agar tidak gelisah,
takut, kaget dsb. Kemudian dijepit are di sekitar tengkuk dan ekor hewan coba dengan erat
sehingga tikus sulit bergerak. Lalu hewan coba ditimbang beratnya dan diketahui berat
hewan coba sebesar 135 g.
2. Pemberian Obat
a. Cara pemberian Oral
6

Persiapan

: Diambil dekstrosa 5% + carmin q.s dengan mengunakan spuit injeksi 1


cc yang jarumnya diganti dengan sonde.

Cara pemberian: Diberikan Dekstrosa 0,55 cc dan dilakukan pemberian oral dengan cara
memasukkan sonde ke kerongkongan hewan coba sebanyak 3 kali
pemberian yang keseluruhannya sejumlah 1,5 cc.
b. Cara pemberian intraperitorial (i.p)
Persiapan

: Diambil larutan Valisanbe yang mengandung Diazepam 5mg/2ml


mengunakan spuit injeksi hanya sebanyak 0,1 ml.

Cara pemberian: Disuntikkan di bagian rongga perut tikus dengan menggunakan spuit
injeksi. Lalu diamati reaksi yang terjadi y.i sbb:
-

Disuntikkan pada jam 8.30 WIB dan tikus akhirnya tidur pada jam
8.58 WIB. Hewan coba kembali sadar 7 menit kemudian y.i pada
09.05 WIB.

Dosis yang diberikan pada tikus dalam 0,1 ml:


5mg / 2ml

= x mg / 0,1 ml

5mg . 0,1 ml = x mg . 2 ml
X mg

= 0,5 mgml / 2 ml

X mg

= 0,25 mg

c. Cara pemberian obat intra maskular (i.m)


Persiapan

: Diambil dekstrosa 5% dengan menggunakan spuit injeksi.

Cara pemberian: Disuntikkan ke dalam otot kaki tikus sebanyak 2 kali pemberian dengan
masing-masing penyuntikkan sebayak 0,1 ml.
Jumlah Desktrosa yang diberikan dalam 0,2 ml.
7

5 / 100 = x mg / 0,2 ml
X = 0,01 mg

g.

Pembahasan :
Valisanbe diproduksi oleh Sanbe Farma, merupakan obat keras yang mengandung Diazepam

2 mg; 5 mg yang khasiat utamanya sebagai sedative. In: pengobatan jangka pendek gejala
ansietas sebagai terapi tambahan untuk meringankan spasme otot, gejala yang timbul karena
alcohol dihentikan pada penderita alkoholisme, status epilepticus, pre dan post operasi.
Cara pemberian obat turut menentukan kecepatan dan kelengkapan resorpsi obat.
Tergantung dari efek yang diinginkan, y.i efek sistemik (di seluruh tubuh) atau efek lokal
(setempat). Pemberian obat melalui mulut (per oral) adalah cara yang paling lazim karena sangat
praktis, mudah dan aman. Kekurangannya adalah obat setelah diresorpsi harus melalui hati,
dimana dapat terjadi inaktivasi, sebelum diedarkan ke lokasi kerjanya. Selain itu, tidak semua
obat dapat diberikan per oral, misalnya obat yang bersifat merangsang (emetin, aminofilin) atau
yang diuraikan oleh getah lambung, seperti benzilpenisilin, insulin, oksitosin, dan hormone
steroida.
Pemberian obat secara parenteral (berarti di luar usus) biasanya dipilih bila diinginkan efek
yang cepat, kuat dan lengkap atau untuk obat yang merangsang atau dirusak oleh getah lambung,
atau tidak diresorpsi oleh usus (streptomisin). Kekurangannya, cara ini lebih mahal dan nyeri
serta sukar digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu pula, adanya bahaya infeksi kuman dan
bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tidak tepat penyuntikannya.
Intramuskular (i.m). Dengan injeksi di dalam otot obat yang terlarut bekerja dalam waktu
10-30 menit. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot bokong yang tidak memiliki banyak
pembuluh dan saraf. Intraperitoneal adalah penyuntikkan ke dalam ruang selaput perut

Lampiran:

Kondisi awal hewan coba

Penimbangan hewan coba 135

Cara memegang tikus

Pemberian oral

10

Pemberian intaperitonial

Penyuntikan intra muscular

Hewan coba tidur

Hewan segar kembali

11

KESIMPULAN
Dari semua proses percobaan diperoleh kesimpulan diantaranya:
1. Perlakuan dan Penanganan tikus dapat dilakukan secara baik dengan memperhatikan
2.

faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kondisi hewan uji coba tersebut.
Praktikum kali ini rute pemberian obat dilakukan dengan:
a. Per oral : melalui dengan bantuan jarum sonde
b. Intramuskular : injeksi melalui otot pangkal paha
c. Intraperitoneal : injeksi melalui kedalam ronnga perut (tidak sampai masuk ke usus)

Daftar Pustaka:
12

1. Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal.
42-43

2. http://masningasiyah.blogspot.com/p/cara-pemberian-obat.html
3. Tjay, Tan Hoon dan Kirana, Raharja.2002.Obat-obat
Penting,Khasiat,Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya.Jakarta : PT Elex
Media Komputindo Kelompok Gremedia.

13