Anda di halaman 1dari 15

Sumber

Vitamin A terdapat di dalam pangan hewani, sedangkan karoten terutama di dalam


pangan nabati.
Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu (di dalam lemaknya) dan mentega.
Margarin biasanya diperkaya dengan vitamin A. Karena vitamin A tidak berwarna, warna kuning
dalam kuning telur adalah karoten yang tidak diubah menjadi vitamin A. Minyak hati ikan
digunakan sebagai sumber vitamin A yang diberikan untuk keperluan penyembuhan.
Sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua dan buah-buahan yang berwarna
kuning-jingga, seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis,
wortel, tomat, jagung kuning, papaya, manga, nangka masak dan jeruk. Minyak kelapa sawit
yang berwarna merah kaya akan karoten. Kandungan vitamin A beberapa bahan makanan yang
dinyatakan dalam retinol ekivalen dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel Nilai vitamin A berbagai bahan makanan (Retinol ekivalen (RE) / 100 g)
Bahan Makanan
RE
Bahan Makanan
Hati sapi
13170
Daun katuk
Kuning telur bebek
861
Sawi
Kuning telur ayam
600
Kangkung
Ayam
243
Bayam
Ginjal
345
Ubi jalar merah
Ikan sardin (kaleng)
250
Mentega
Minyak ikan
24000
Margarin
Minyak kelapa sawit
18000
Susu bubuk
Minyak hati ikan hiu
2100
Keju
Wortel
3600
Susu kental manis
Daun singkong
3300
Susu segar
Daun papaya
5475
Mangga masak pohon
Daun lamtoro
5340
Pisang raja
Daun tales
3118
Tomat masak
Daun melinjo
3000
Semangka
Sumber: Daftar Analisis Bahan Makanan, FKUI, 1992.

RE
3111
1940
1890
1827
2310
1287
600
471
225
153
39
1900
285
450
177

Akibat Kekurangan
Kekurangan (defisiensi) vitamin A terutama terdapat pada anak-anak balita. Tanda-tanda
kekurangan terlihat bila simpanan tubuh habis terpakai. Kekurangan vitamin A dapat merupakan

kekurangan primer akibat kurang konsumsi, atau kekurangan sekunder karena gangguan
penyerapan dan penggunaannya dalam tubuh, kebutuhan yang meningkat, ataupun karena
gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A. Kekurangan vitamin A sekunder dapat
terjadi pada penderita Kurang Energi Protein (KEP), penyakit hati, alfa, beta-lipoproteinemia,
atau gangguan absorpsi karena kakurangan asam empedu.
Kekurangan vitamin A banyak terdapat di negara-negara berkembang termasuk di
Indonesia, karena makanan kaya vitamin A pada umumnya mahal harganya.
Buta Senja
Salah satu tanda awal kekurangan vitamin A adalah buta senja (niktalopia), yaitu
ketidakmampuan menyesuaikan penglihatan dari cahaya terang ke cahaya samar-samar/senja,
aeperti bila memasuki kamar gelap dari kamar terang. Konsumsi vitamin A yang tidak cukup
menyebabkan simpanan dalam tubuh menipis, sehingga kadar vitamin A darah menurun yang
berakibat vitamin A tidak cukup diperoleh retina mata untuk membentuk pigmen penglihatan
rhodopsin.
Kemampuan melihat dalam keadaan samar-samar dihubungkan dengan ujung-ujung saraf
(rod dan cone) yang terdapat dalam retina. Cone terutama berperan dalam cahaya siang dan
membedakan warna, sedangkan rod mengontrol penglihatan pada malam hari.
Perubahan pada Mata
Kornea mata terpengaruh secara dini oleh kekurangan vitamin A. Kelenjar air mata tidak
mampu mengeluarkan air mata sehingga terjadi pengeringan pada selaput yang menutupi kornea.
Ini diikuti oleh tanda-tanda: atrofi kelenjar mata, kertinisasi konjungtiva (selaput yang melapisi
permukaan bagian dalam kelopak mata dan bola mata), pemburaman, pelepasan sel-sel epitel
kornea yang akhirnya berakibat melunaknya dan pecahnya kornea. Mata terkena infeksi, dan
terjadi pendarahan. Gejala-gejala ini dalam bentuk ringan dinamakan xerosis konjungtiva
menjadi kering, bercak Bitot (disebut Bitots spot berdasarkan nama dokter Prancis yang pertama
menenmukan), yaitu berupa bercak putih keabu-abuan paada konjungtiva. Dalam bentuk sedang
dinamakan xerosis kornea, yaitu kornea menjadi kering dan kehilangan kejernihannya. Tahap
akhir adalah keratomalasia, dimana kornea menjadi lunak dan bisa pecah yang menyebabkan

kebutaan total. Istilah xeroftalmia meliputi semua aspek klinik yang berkaitan dengan defisiensi
vitamin A.
WHO (1982) membuat klasifikasi defisiensi vitamin A menurut table di bawah.
Berdasarkan klasifikasi ini disusun kriteria guna menetapkan apakah kekurangan vitamin A
merupakan masalah kesehatan masyarakat apada balita.
Tabel Klasifikasi xeroftalmia
XN
X1A
X1B
X2
X3A
X3B
XS
XF

Buta senja
Xerosis konjungtiva
Bercak Bitot
Xerosis kornea
Ulkus kornea dengan xerosis
Keratomalasia
Parut kornea
Xeroftalmia fundus
Sumber: WHO Technical Report Series No. 672, 1982.
Tabel. Kriteria diagnosis Xeroftalmia dan KVA sebagai masalah kesehatan masyarakat

pada balita.
XN
>1 %
X1B
>0,05 %
X2/X3A/X3B
>0,01 %
XS
>0,05 %
Plasma vitamin A < 0,35 mol/l (10 g/dl)
>5 %
Sumber: WHO Technical Report Series No. 672, 1982.
Infeksi
Fungsi kekebalan tubuh menurun pada kekurangan vitamin A, sehingga mudah untuk
terserang infeksi. Di samping itu lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-paru mengalami
keratinasi, tidak mengeluarkan lender, sehingga mudah dimasuki mikroorganisme tau bakteri
atau virus dan menyebabkan infeksi saluran pernafasan. Bila terjadi pada permukaan dinding
usus akan menyebabkan diare. Perubahan pada permukaan saluran kemih dan kelamin dapat
menimbulkan infeksi pada ginjal dan kantung kemih, serta vagina. Perubahan ini dapat pula
meningkatkan endapan kalsium yang dapat menyebabkan batu ginjal dan gangguan kantung
kemih. Kekurangan vitamin A pada anak-anak di samping itu dapat menyebabkan komplikasi

pada campak yang dapat menyebabkan kematian. Vitamin A dinamakan juga vitamin antiinfeksi.
Perubahan pada Kulit
Kulit menjadi keirng dan kasar. Folikel rambut menjadi kasar, mengeras dan mengalami
keratinisasi yang dinamakan hiperkeratosis folikular. Mula-mula terkena lengan dan paha,
kemudian dapat menyebar ke seluruh tubuh. Asam retinoat sering diusapkan ke kulit untuk
menghilangkan kerutan kulit, jerawat dan kelainan kulit lain.
Gangguan Pertumbuhan
Kekurangan vitamin A menghambat pertumbuhan sel-sel, termasuk sel-sel tulang. Fungsi
sel-sel yang membentuk email pada gigi terganggu dan terjadi atrofi sel-sel yang membentuk
dentin, sehingga gigi mudah rusak.
Lain-lain
Perubahan lain yang dapat terjadi adalah keratinisasi sel-sel rasa pada lidah yang
menyebabkan berkurangnya nafsu makan, dan anemia.
Akibat Kelebihan
Kelebihan vitamin A hanya bisa terjaddi bila memakan vitamin A sebagai suplemen
dalam takaran tinggi yang berlebihan, misalnya takaran 16.000 RE untuk jangka waktu lama atau
40.000-55.000 RE/hari.
Gejala pada orang dewasa antara lain sakit kepala, pusing, rasa nek, rambut rontok, kulit
mongering, tidak ada nafsu makan tau anoreksia, dan sakit pada tulang. Pada wanita menstruasi
berhenti. Pada bayi terjadi pembesaran kepala, hidrosefalus, dan mudah tersinggung yang terjadi
pada konsumsi 8.000 RE/hari selama tiga puluh hari.
Gejala kelebihan ini hanya terjadi bila dimakan dalam bentuk vitamin A. karoten tidak
dapat menimbulkan gejala kelebihan, karena absorpsi karoten menurun bila konsumsi tinggi. Di
samping itu sebagian dari karoten yang diserap tidak diubah menjadi vitamin A, akan tetapi

disimpan di dalam lemak. Bila lemak di bawah kulit mengandung banyak karoten, wara kulit
akan terlihat kekuningan.
VITAMIN D
Karena dapat disintesis di dalam tubuh, vitamin D dapat dikatakan bukan vitamin, tapi
suatu prohormon. Bila tubuh tidak mendapat cukup sinar matahari, vitamin D perlu dipenuhi
melalui makanan.
Fungsi
Fungsi vitamin D adalah membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama
vitamin A dan vitamin C, hormone-hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta
mineral-mineral kalsium, fosfor, magnesium dan fluor. Fungsi khusus vitamin D dalam hal ini
adalah membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia di
dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang. Hal ini dilakukan dengan caracara sebagai berikut:
(a) Di dalam saluran cerna, kalsitriol meningkatkan absorpsi aktif vitamin D dengan cara
merangsang sintesis protein pengikat-kalsium dan protein pengikat-fosfor pada
mukosa usus halus.
(b) Di dalam tulang, kalsitriol bersama hormon paratiroid merangsang pelepasan kalsium
drai permukaan tulang ke dalam darah.
(c) Di dalam ginjal, kalsitriol merangsang reabsorpsi kalsium dan fosfor.
Pengukuran
Walaupun Satuan Internasional masih digunakan untuk mengukur vitamin D, terminologi
yang dianjurkan adalah microgram (ug) vitamin D3. Vitamin D2 (ergokalsiferol) dan D3
(kolekalsiferol) mempunyai tingkat aktivitas biologis yang sama dan biasanya disebut sebagai
vitamin D3.
Angka Kecukupan Vitamin D yang Dianjurkan
Angka kecukupan gizi vitamin D yangdianjurkan untuk berbagai golongan umur dan
jenis kelamin untuk Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. Angka kecukupan vitamin D yang dianjurkan


Golongan umur
0 6 bl
7 11 bl
1 3 bl
1 3 th
4 6 th
7 9 th

AKD* (g)
5
5
5
5
5
5

Golongan umur
Wanita:
10 12 th
13 15 th
16 18 th
19 29 th
30 49 th
50 64 th
> 65 th
Hamil

10 12 th
5
13 15 th
5
16 18 th
5
Menyusui
19 29 th
5
0 6 bl
30 49 th
5
7 12 bl
50 64 th
10
> 65 th
5
Sumber: Wiyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004

AKD* (g)
5
5
5
5
5
10
15
+0
+0
+0

*Angka kecukupan Vitamin D


Sumber
Vitamin D diperoleh tubh melalui sinar matahari dan makanan. Penduduk daerah tropik
tidak perlu menghiraukan kemungkinan kekurangan vitamin D. bayi dan anak-anak dianjurkan
berada di bawah sinar matahari bebrapa waktu tiap hari. Kekurangan vitamin D lebih mungkin
terjadi di negara-negara yang tidak selalu mendapat sinar matahri.
Sumber utama vitamin D di daerah nontropik adalah dari makanan. Makanan hewani
merupakan sumber utama vitamin D dalam bentuk kolekalsiferol, yaitu kuning telur, hati, krim,
mentega dan minyak hati-ikan. Susu sapi dan ASI bukan merupakan sumber vitamin D yang
baik. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan vitamin D dlakukan fortifikasi makanan,
terutama terhadap susu, mentega dan makanan untuk bayi dengan vitamin D 2 (ergosterol yang
diradiasi). Minyak hati-ikan sering digunakan sebagai sulemen vitamin D untuk bayi dan anakanak. Dalam keadaan normal suplemen vitamin D sebetulnya tidak diperlukan. Kandungan
vitamin D beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Vitamin D relatif stabil
dan tidak rusak bila makanan dipanaskan atau disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Tabel. Nilai vitamin D berbagai bahan makanan (g/100 gram)


Bahan makanan
g
Susu sapi
0,01 0,03
ASI
0,04
Tepung susu
0,21
Krim
0,1 0,28
Keju
0,03 0,5
Yogurt
ss 0,04
Telur utuh
1,75
Kuning telur
4,94
Mentega
0,76
Keterangan: ss = sedikit sekali

Bahan makanan g
Minyak hati ikan
Margarin dan sejenis
Daging sapi, babi, biri-biri
Unggas
Hati
Ikan air tawar
Ikan berlemak
Udang dan kerang

g
210
5,8 8,0
ss
ss
0,21 1,1
ss
ss 25
ss

Sumber: Holland (1991) dalam Garrow, J.S. dan W.P.T. James, Human Nutrition and
Dietetics, 1993, hlm. 223.
Akibat Kekurangan
Kekurangan vitamin D menyebabkan kelainan pada tulang yang dinamakan riketsia pada
anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa. Kekurangan pada orang dewasa juga dapat
menyebabkan osteoporosis. Riketsia terjadi bila pengerasan tulang pada anak-anak terhambat
sehingga menjadi lembek. Kaki membengkok, ujung-ujung tulang panjang membesar (lutut dan
pergelangan), tulang rusuk membengkok, pembesaran kepala karena penutupan fontanel
terlambat, gigi terlambat keluar, bentuk gigi tidak teratur dan mudah rusak. Riketsia jarang dapat
disembuhkan sepenuhnya. Sebelum ditemukan fortifikasi makanan dengan vitamin D, riketsia
banyak terdapat di negara-negara dengan empat musim. Sekarang masih terdapat pada anak-anak
miskin di kota-kota industri yang kurang mendapat sinar matahari.
Osteomalasia adalah riketsia pada orang dewasa. Biasanya terjadi pada wanita yang
konsumsi kalsiumnya rendah, tidak banyak mendapat sinar matahari dan mengalami banyak
kehamilan dan menyusui. Osteomalasia dapat pula terjadi pada mereka yang menderita penyakit
saluran cerna, hati, kantung empedu atau ginjal. Tulang melembek yang menyebabkan gangguan
dalam bentuk tulang, terutama pada kaki, tulang belakang, toraks, dan pelvis. Gejala awalnya
adalah rasa sakit seperti rematik dan lemah dan kadang muka menggamit (twitching), tulang
membengkok (bentuk O atau X) dan dapat menyebabkan fraktur (patah).

Karena cukup sinar matahari, kekurangan vitamin D tidak merupakan masalah di


Indonesia. Suplemen vitamin D tidak dibutuhkan.
Akibat Kelebihan
Konsumsi vitamin D dalam jumlah berlebihan mencapai lima kali AKG, yaitu lebih dari
25 mikrogram (1000 SI) sehari, akan menyebabkan keracunan. Gejalanya adalah kelebihan
absorpsi vitamin D yang pada akhirnya menyebabkan klasifikasi berlebihan pada tulang dan
jaringan tubuh, seperti ginjal, paru-paru, dan organ tubuh lain. Tanda-tanda khas adalah akibat
hiperkalsemia, seperti lemah, sakit kepala, kurang nafsu makan, diare, muntah-muntah,
gangguan mental dan pengeluaran urin berlebihan. Bayi yang diberi vitamin D kelebihan,
menunjukkan gangguan saluran cerna, rapuh tulang, gangguan pertumbuhan dan kelambatan
perkembangan mental.
Vitamin E (Tokoferol)
Pada tahun 1922, ditemukan suatu zat larut lemak yang dapat mencegah keguguran dan
sterilitas pada tikus. Semula zat ini dinamakan faktor antisterilitas dan kemudian vitamin E.
Vitamin E kemudian pada tahun 1936 dapat diisolasi dari minyak kecambah gandum dan
dinamakan tokoferol, berasal dari bahasa Yunani dari kata tokos yang berarti kelainan dan
pherein berarti yang menyebabkan.
Fungsi
Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan mudah
memberikan hidrogen dari dari gugus hidroksil (OH) pada struktur cincin ke radikal bebas.
Radikal bebas adalah molekul-molekul reaktif dan dapat merusak, yang mempunyai electron
tidak berpasangan. Bila menerima hidrogen, radkal bebas menjadi tidak reaktif. Pembentukan
radikal bebas terjadi dalam tubuh pada proses metabolism aerobik normal pada waktu oksigen
secara bertahap direduksi menjadi air. Radikal bebas yang dapat merusak itu juga diperoleh
tubuh dari benda-benda polusi, ozon, dan asap rokok.
Angka Kecukupan Vitamin E yang Dianjurkan

Tokoferol terdapat dalam dua bentuk, yaitu bentuk D dan L. bentuk vitamin E paling aktif
adalah D-alfa-tokoferol. Kecukupan vitamin E dinyatakan dalam jumlah aktivitas vitamin E
ekivalen dengan 1 miligram D-alfa-tokoferol. Keaktifan beta- dan gama-tokoferol, serta alfatokotrienol secara berturut adalah setengah, sepersepuluh, dan sepertiga aktivitas D-alfatokoferol.
Angka kecukupan vitamin E yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis
kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel. Angka kecukupan vitamin E yang danjurkan.
Golongan umur
0 6 bl
7 11 bl
1 3 bl
4 6 bl
7 9 bl

AKE* (mg)
4
5
6
7
7

Golongan umur
Wanita:
10 12 th
13 15 th
16 18 th
19 29 th
30 49 th
50 64 th
> 65 th

Pria
10 12 th
11
Hamil
13 15 th
15
16 18 th
15
Menyusui
19 29 th
15
0 6 bl
30 49 th
15
7 12 bl
50 64 th
15
> 65 th
15
Sumber: widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004.

AKE* (mg)
11
15
15
15
15
15
15
+0
+4
+4

*Angka kecukupan Vitamin E


Sumber
Vitamin E banyak terdapat dalam bahan makanan. Sumber utama vitamin E adalah
minyak tumbuh-tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum dan biji-bijian. Minyak kelapa
dan zaitun hanya sedikit mengandung vitamin E. sayuran dan buah-buahan juga merupakan
sumber vitamin E yang baik. Badging, unggas, ikan, dan kacang-kacangan mengandung vitamin
E dalam jumlah terbatas.

Tabel. Nilai vitamin E total di dalam minyak tumbuh-tumbuhan (mg/100 gram)


Bahan makanan
Biji kapas
Jagung
Kacang kedelai
Kacang tanah
Kelapa
Kelapa sawit
Safflower
Zaitun
Sumber: Chow, 1985, dalam Garrow, J.S. dan

Mg
30 81
53 162
56 160
20 32
14
33 73
25 49
5 15
W.P.T. James, Human Nutrition and Dietetics,

1993, hlm. 230.


Tabel. Nilai alfa- dan gamma-tokoferol dalam bahan makanan (mg/100 gram)
Bahan makanan
alfa-tokoferol (mg)
gama-tokoferol (mg)
Serealia
0,88
0,77
Kacang-kacangan
0,72
5,66
Biji-bijian
9,92
10,97
Sayuran
0,81
0,14
Buah-buahan
0,27
Daging
0,31
0,21
Telur
1,07
0,35
Susu
0,34
Minyak babi
1,37
0,7
Mentega
1,95
0,14
Margarin
18,92
26,62
Sumber: M. Bellizzi, 1986/1987, dalam Garrow, J.S. dan W.P.T. James, Human Nutrition and
Dietetics, 1993, hlm. 231.
Vitamin E mudah rusak pada pemanasan (seperti terjadi pada proses penggorengan) dan
oksidasi. Jadi, sebagai sumber vitamin E diutamakan bahan makanan dalam bentuk segar atau
yang tidak terlalu mengalami pemrosesan. Karena vitamin E tidak larut air, vitamin E tidak
hilang selama dimasak dengan air. Pembekuan dan penggorengan dalam minyak merusak
sebagian besar vitamin E.
Akibat Kekurangan
Penyakit kekurangan vitamin E pada manusia jarang terjadi, karena vitamin E terdapat
luas di dalam bahan makanan. Kekurangan biasanya terjadi karena adanya gangguan absorpsi

lemak seperti pada cystic fibrosis dan gangguan transport lipida seperti pada beta-lipoproteinemia.
Kekurangan vitamin E pada manusia menyebabkan hemolysis eritrosit, yang dapat
diperbaiki dengan pemberian tambahan vitamin E. akibat lain adalah sindroma neurologik
sehingga terjadi fungsi tidak normalpada sumsum tulang belakang dan retina. Tanda-tandanya
adalah kehilangan koordinasi dan reflek otot, serta gangguan penglihatan dan berbicara. Vitamin
E dapat memperbaiki kelainan ini.
Hal lain yang tampaknya dapat diperbaiki dengan terapi vitamin E, walaupun hasilnya
belum konsisten adalah penyakit tumor pada payudara yang tidak malignan (fibrocystic breast
disease) dan aliran darah kurang sempurna yang menyebabkan kesemutan pada kaki.
Pembuktian epidemologis sedang dikumpulkan tentang hubungan vitamin E dengan resiko
kanker usus, pyudara, dan paru-paru serta penyakit jantung coroner.
Akibat Kelebihan
Menggunakan vitamin E secara berlebihan dapat menimbulkan keracunan. Namun,
akibatnya tidak terlalu merugikan seperti halnya dengan kelebihan vitamin A. gangguan pada
saluran cerna terjadi bila memakan lebih dari 600 miligram sehari (60-75 kali kecukupan). Dosis
tinggi juga dapat meningkatkan efek obat antikoagulan yang digunakan untuk mencegah
penggumpalan darah.
Vitamin K
Pada tahun 1935, Dam dari Denmark menemukan penyakit pendarahan parah pada ayam
percobaan yang diberi makanan cukup dalam zat gizi yang telah diketahui. Perbaikan terjadi
setelah diberi makanan alfalfa atau tepung ikan yang telah busuk. Faktor aktif yang dapat
menyembuhkan itu dinamakan vitamin koagulation. Dengan bantuan Karrer, seorang ahli kimia
dari Swiss, pada tahun 1939 ia berhasil mengisolasi vitamin larut lemak yang dinamakan vitamin
K (dari koagulation). Faktor ini ternyata merupakan kelompok senyawa yang terdiri atas
filokinon yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan menakinon yang terdapat dalam minyak
ikan dan daging. Menakinon juga dapat disintesis oleh bakteri di dalam usus halus manusia.
Fungsi

Sejak lama fungsi vitamin K yang diketahui adalah dalam pembekuan darah, walaupun
mekanismenya belum diketahui dengan pasti. Baru sejak tahun 1970-an para ahli mengetahui
secara lebih jelas peranan vitamin K d dalam tubuh, yang ternyata tidak hanya dalam pembekua
darah saja.
Vitamin K ternyata merupakan kofaktor enzim karboksilase yang mengubah residu
protein berupa asam glutamat (glu) menjadi gama-karboksiglutamat (gla). Protein-protein ini
dinamakan protein-tergantung vitamin K atau gla-protein. Enzim karboksilase yang
menggunakan vitamin K sebagai kofaktor didapat di dalam membrane hati dan tulang dan sedikit
di lain jaringan. Gla-protein dengan mudah dapat mengikat ion kalsium. Kemampuan inilah yang
merupakan aktivitas biologik vitamin K. pada proses pembekuan darah, gama-karboksilasis
terjadi di dalam hati pada residu asam glutamat yag terdapat pada berbagai faktor pembekuan
darah, seperti faktor II (protrombin), VII, VIII, IX, dan X. Kemampuan gla-protein untuk
mengikat kalsium merupakan langkah esensial dalam pembekuan darah.
Gla-protein lain yang mampu mengikat ion kalsium terdapat di dalam jaringan tulang dan
gigi sebagai osteokalsin dang la-protein matriks. Kedua jenis gla-protein ini mengikat
hidroksiapatit yang diperlukan dalam pembentukan tulang. Tanpa vitamin K, tulang
memproduksi protein yang tidak sempurna, sehingga tidak dapat mengikat mineral-mineral yang
diperlukan dalam pembentukan tulang.
Gambar. Keterlibatan vitamin K dalam pembekuan darah dan gama-karboksilasis.
Keterangan:
AAS adalah asam amino. Gama-karboksilasis yang tergantung pada vitamin K dari residu asam
glutamate menyebabkan afinitas tinggi protein tersebut terhadap Ca++. Pengikatan Ca++ penting
dalam fungsi protein-protei ini. Sumber: Maria, C.L, Nutritional Biochemistry and Metabolism
with Clinical Applications, 1991, hlm. 178.
Gla-protein juga ditemukan di dalam jaringan tubuh lain seperti ginjal, pankreas, limpa,
paru-paru dan endapan aterosklerotik namun fungsinya belum diketahui dengan pasti. Glaprotein di dalam otak diduga berperan dalam metabolisme sulfatida yang diperlukan untuk
pengembangan otak.

Angka Kecukupan Vitamin K yang Dianjurkan


Angka kecukupan vitamin K yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis
kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel. Angka kecukupan vitamin K yang dianjurkan.
Golongan umur
0 6 bl
7 11 bl
1 3 th
4 6 th
7 9 th

AKK* (g)
5
10
15
20
25

Golongan umur
Wanita:
10 12 th
1 15 th
16 18 th
19 29 th
30 49 th
50 64 th
> 65 th
Hamil

Pria:
10 12 th
35
13 15 th
55
16 18 th
55
Menyusui
19 29 th
65
0 6 bl
30 49 th
65
7 12 bl
50 64 th
65
> 65 th
65
Sumber: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004.

AKK* (g)
35
55
55
55
55
55
55
+0
+0
+0

*Angka kecukupan vitamin K.


Sumber
Kadar vitamin K bahan makanan belum diketahui dengan pasti. Olson (1973) telah
membuat ringkasan kadar vitamin K bahan makanan yang dikumpulkan dari beberapa bioassay.
Sumber utama vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau, kacang buncis, kacang
polong, kol dan brokoli. Semakin hijau daun-daunan semakin tinggi kandungan vitamin K-nya.
Bahan makanan lain yang mengandung vitamin K dalam jumlah lebih kecil adalah susu, daging,
telur, serealia, buah-buahan dan sayuran lain. Sumber penting vitamin K lain adalah flora bakteri
dalam usus halus (jejunum da ileum). Penggunaan menakinon yang disintesis oleh
mikroorganisme usus halus belum diketahui dengan pasti.
Air Susu Ibu (ASI) tidak banyak mengandung vitamin K, sedangkan bakteri yang dapat
mensintesis vitamin K tidak segera tersedia di dalam saluran cerna bayi. Untuk mencegah

terjadinya gangguan penggumpalan darah yang dapat menyebabkan perdarahan, bayi baru lahir
dianjurkan mendapatkan vitamin K melalui mulut atau dalam bentuk injeksi intramuskular. Susu
formula bayi sebaiknya difortifikasi denagn vitamin K.
Tabel. Nilai vitamin K bebrapa bahan makanan (g/100 gram)
Bahan makanan
g
Bahan makanan
Susu sapi
3
Asparagus
Keju
35
Buncis
Mentega
30
Brokoli
Ayam
11
Kol
Daging sapi
7
Daun selada
Hati sapi
92
Bayam
Hati ayam
7
Kentang
Minyak jagung
10
Tomat
Jagung
5
Pisang
Gandum
5
Jeruk
Tepung terigu
4
Kopi
Roti
4
The hijau
Sumber: R.E. Olson, 1973 dalam Wilson, E.D, K.H. Fisher dan P.A.

g
57
14
200
125
129
89
3
5
2
1
38
712
Garcia, Principles of

Nutrition, 1979, hlm. 194


Akibat Kekurangan dan Kelebihan
Kekurangan vitamin K menyebabkan darah tidak dapat menggumpal, sehingga bila ada
luka atau pada operasi terjadi pendarahan.
Kekurangan vitamin K karena makanan jarang terjad, sebab vitamin K terdapat secara
luas dalam makanan. Kekurangan vitamin K terjadi bila ada gangguan absorpsi lemak (bila
produksi empedu urang atau pada diare). Kekurangan vitamin K bisa juga terjadi bila seseorang
mendapat antibiotika sedangkan tubuhnya kurang mendapat vitamin K dari makanan. Antibiotika
membunuh kuman-kuman di dalam usus yang membentuk vitamin k. oleh karena itu, sebelum
operasi biasanya diperiksa terlebih dahulu kemampuan darah untuk menggumpal dan sebaga
pencegahan diberi suntikan vitamin K. vitamin K biasanya diberikan sebelum operasi untuk
mencegah pendarahan berlebihan. Aspirin berlebihan dapat mencegah pembekuan darah normal
dengan mengganggu pembentukan platelet dan faktor-faktor tergantung vitamin K.

Kelebihan vitamin K hanya bisa terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan
berupa vitamin K sintetik menadion. Gejala kelebihan vitamin K adalah hemolisis sel darah
merah, sakit kuning (jaundice) dan kerusakan pada otak.