Anda di halaman 1dari 2

STUDI KASUS PASOKAN LISTRIK PT PLN

Menteri ESDM: 5 dari 22 Sistem Listrik Nasional Masih Defisit


Reporter: Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia
Dari dua pembangkit listrik yang menyuplai Kota Palu dan sekitarnya, yakni PLTD Silae dan PLTA
Mpanau dengan kapasitas terpasang 80MW, keduanya mengalami kerusakan sehingga hanya sekitar 40
persen daya yang bisa disuplai dan mengakibatkan terjadinya darurat listrik dan pemadaman bergilir
hingga 8 jam sehari. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melansir terdapat
lima sistem ketenagalistrikan di Indonesia yang mengalami defisit pasokan. Hal ini tak lepas dari tidak
meratanya pembangunan pembangkit listrik di sejumlah daerah.
"Dari 22 sistem kelistrikan nasional yang kondisinya normal ada enam, kemudian 11 berstatus siaga
atau marginnya tipis dan sisanya sedikit, sedangkan lima defisit. Oleh karena itu di berbagai daerah
sering mengalami hari bumi (pemadaman listrik), itu konsekuensinya," kata Menteri ESDM Sudirman
Said di Jakarta, Senin (30/3).
Berangkat dari hal tersebut, Sudirman bilang pemerintah tengah gencar menggenjot program
pembangkit 35 ribu megawatt (MW) yang dilaksanakan oleh perusahaan listrik swasta (Independent
Power Producer/IPP) dan PT PLN (Persero). Disamping itu, pemerintah juga sedang berupaya
meratakan sebaran listrik ke daerah-daerah yang masih mengalami defisit.
"Sejauh ini laporan PLN dari 35 ribu MW sedang dalam proses perencanaan 14.700 MW sementara
yang sudah dalam proses procurement 13.500 MW, dan 7.400 MW diantaranya adalah sisa dari proyek
FTP (Fast Track Program) I. Kemudian yang sedang dalam proses financing 7.200 MW. Artinya secara
procurement kita tidak khawatir akan mengalami masalah," tutur Sudirman.
Meski begitu, mantan bos PT Pindad (Persero) ini tak menampik bahwa program pembangkit 35 ribu
MW masih mengalami kendala mulai dari pembebasan lahan hingga pendanaan.
"Yang perlu disoroti adalah financing dan project menejemen yang menjadi pekerjaan rumah kita
bersama. Kita harus bekerjasama dengan beberapa pemain di luar pada periode ini agar kecepatan bisa
dicapai," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, pengajar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Eko Adhi Setiawan
mengungkapkan pemerintah harus mampu meratakan pembangunan pembangkit listrik demi meratakan
pasokan di semua daerah. Sebab sampai sekarang banyak daerah di Indonesia belum mendapatkan
pasokan listrik secara merata.
"Dari program 35 ribu MW, pulau Jawa mendapatkan porsi 60 persen padahal pembangunan
pembangkit disini cuma 20 persen. Seharusnya pembangkit harus di dorong ke daerah-daerah," ungkap
Anwar.

Fakta dan Data Listrik


Kondisi kelistrikan nasional hingga akhir 2014 berdasarkan catatan yang ada di Kementerian energi
dan sumber daya mineral hingga akhir 2014 menunjukkan total kapasitas terpasang pembangkit 53.585
MW.
Sebesar 37.280 MW atau 70 persen disumbangkan oleh PLN, IPP sebesar 10.995 MW sekitar 20

persen, Public Private Utility (PPU) sebesar 2.634 MW atau 5 persen, dan Izin Operasi Non BBM (IO)
sebesar 2.677 MW atau 5 persen.
Konsumsi energi rata-rata nasional tercatat 199 Terawatt-hour (TWh) sedangkan produksi tenaga
listriknya 228 TWh (hanya PLN dan IPP). Rasio elektrifikasi nasional tercatat sebesar 84,35 persen.
Pemakaian listrik pergolongan terbesar untuk golongan rumah tangga yaitu sebesar 43 persen, disusul
kemudian dengan industri sebesar 33 persen, bisnis 18 persen dan terakhir 6 persen publik.
Sementara sumber energi untuk pengadaan listrik didominasi oleh batubara 52 persen, gas 24 persen,
bahan bakar minyak (BBM) 11,7 persen, air 6,4 persen, panas bumi 4,4 persen dan energi lainnya
sebesar 0,4 persen.

Pembahasan:
PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat
bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil
memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya
daerah-daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi
pemadaman listrik secara sepihak sebagaimana contoh diatas. Kejadian ini
menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi
enggan untuk berinvestasi. Dalam kasus ini, PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero)
sesungguhnya mempunyai tujuan yang baik, yaitu bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan listrik nasional. Akan tetapi tidak diikuti dengan perbuatan atau tindakan
yang baik, karena PT. PLN belum mampu memenuhi kebutuhan listrik secara adil dan
merata. Jadi menurut teori etika deontologi tidak etis dalam kegiatan usahanya.

Anda mungkin juga menyukai