Anda di halaman 1dari 40

TRAUMA KEPALA

Hermawati*, Andi Husni Esa*, Saharuddin*, Andi Faisal Panetto**

Tim Bantuan Medis 110


Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

PENDAHULUAN
Trauma kepala (cedera kepala) = trauma
kapitis.
Cedera kepala lebih sering daripada trauma
tulang belakang.
Otak dilindungi oleh rambut, kulit, tulang
tengkorak dan lapisan otak yang
membungkusnya.
Penanganan pertama dan tindakan live
saving cepat dan akurat mengurangi
morbiditas dan mortalitas.

INSIDENS
80% penderita trauma selalu disertai
dengan cedera kepala.
Angka setiap tahunnya (Amerika Serikat)
500.000 kasus dan 10% meninggal
sebelum tiba di rumah sakit.
Angka tersebut, 80% dikelompokkan
sebagai cedera kepala ringan, 10% cedera
kepala sedang, 10% cedera kepala berat.
Di Indonesia, perkembangan ekonomi dan
industri frekuensi cedera kepala >>

ETIOLOGI
Distribusi cedera kepala pada usia
produktif (14-45 tahun). Laki > perempuan.
Kecelakaan lalu lintas (terbanyak)
Jatuh (terutama pada anak-anak dan pada
lanjut usia)
Keselamatan dan kecelakaan kerja (K3)
Korban kekerasan
Dulu peperangan merupakan penyebab
terbanyak untuk trauma kepala penetrans

ANATOMI
Kulit Kepala
Tulang Tengkorak
Selaput Otak (Lapisan Meninges)
Pembuluh Darah Otak
Otak
Cairan Serebrospinalis
Tentorium

ANATOMI
KULIT KEPALA (SCALP)

Skin atau kulit


Connective tissue atau jaringan penyambung
Aponeurosis atau jaringan ikat
Loose areolar tissue (jaringan penunjang longgar)
Perikranium

TULANG TENGKORAK

Kalvaria cranii (tabula eksterna, diploe, tabula


interna)
Basis cranii 3 fossa

- Fossa anterior : tempat lobus frontalis


- Fossa media
: tempat lobus temporalis
- Fossa posterior : tempat batang otak dan serebellum

ANATOMI
TULANG TENGKORAK

ANATOMI
SELAPUT OTAK (LAPISAN MENINGES)
Duramater. Selaput yang melekat erat dengan
tabula interna terdiri atas jaringan ikat fibrosa.
Arakhnoid. Lapisan kedua dari selaput otak.
Piamater. Lapisan ketiga yang melekat dengan
korteks serebri.
Duramater tidak melekat erat dengan selaput
arakhnoid sehingga terdapat ruang potensial
(ruang subdural).
Cairan serebrospinal bersirkulasi antara arakhnoid
dan piamater dalam ruang subarakhnoid.

ANATOMI
SELAPUT OTAK (LAPISAN MENINGES)

ANATOMI
PEMBULUH DARAH OTAK
Pembuluh darah arteri otak terbagi atas jalur
karotis dan jalur vertebrobasiler.
Yang berperan pada cedera kepala yaitu
a.meningea (anterior, media dan posterior).
A.meningea media >> sering menyebabkan
perdarahan epidural.
Pembuluh darah vena berjalan pada permukaan
otak menuju sinus sagitalis superior digaris tengah
disebut Bridging Veins atau jembatan-jembatan
vena yang menyebabkan perdarahan subdural.

ANATOMI
Bridging veins

ANATOMI
OTAK
Terdiri atas serebrum, serebellum dan batang otak.
Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang
dipisahkan oleh falks serebri.
- Lobus frontalis
- Lobus temporalis
- Lobus parietalis
- Lobus oksipitalis

: fs. emosi, motorik, area bicara motorik


: fs. memori, fs. bicara (temporalis kiri)
: fungsi sensorik dan orientasi
: fungsi penglihatan

Serebellum bertanggungjawab atas fungsi pusat koodinasi


dan keseimbangan.
Batang otak terdiri dari mesensefalon (mid brain), pons dan
medulla oblongata.
Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi
retikular yaitu Ascendin Reticulatio Activity Sistem (ARAS)
yang berperan untuk fungsi tingkat kesadaran.
Medulla oblongata berfungsi sebagai pusat kardiorespiratorik.

ANATOMI
OTAK

ANATOMI
CAIRAN SEREBROSPINALIS
(LIQUOR SEREBROSPINALIS)
Cairan serebrospinalis (CSS) dihasilkan oleh pleksus
khoroideus yang terletak dalam ventrikel lateralis baik kanan
maupun kiri, mengalir melalui foramen monro ke dalam
ventrikel selanjutnya melalui akuaduktus sylvius dan masuk
ke dalam ruang subarachnoid yang berada di seluruh
permukaan otak dan medulla spinalis

TENTORIUM
Membagi ruang tengkorak menjadi :
- Ruang Supratentorial : berisi fossa kranii anterior & media
- Ruang Infratentorial : berisi fossa kranii posterior

FISIOLOGI
TIK normal (istirahat) kira-kira 10 mmHg (136 mmH2O)
TIK > 20 mmHg dianggap tidak normal dan TIK > 40
mmHg termasuk dalam kenaikan TIK yang berat.
Doktrin Monro-Kellie Volume intrakranial selalu
konstan, karena rongga kranium pada dasarnya
merupakan rongga yang tidak mungkin mekar.
TIK yang normal tidak berarti tidak adanya lesi massa
intrakranial, karena TIK umumnya tetap dalam batas
normal sampai kondisi penderita mencapai titik
dekompensasi dan memasuki fase eksposional.

PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI
TIK umumnya bertambah secara berangsur-angsur setelah
proses trauma. Edema otak memerlukan 36-48 jam untuk
waktu maksimum.
Peningkatan TIK dapat menurunkan Aliran Darah Otak
(ADO) dan timbul rangsangan pada pusat vasomotor dan
tekanan sistemik meningkat bradikardia dan pernafasan
menjadi lambat.
ADO normal ; 50 ml/100 gr jaringan otak/menit.
TIK meningkat :
- Penurunan kesadaran
- Nyeri kepala
- Papil edema tekanan dan pembengkakan diskus optikus
- Muntah proyektil

MEKANISME TRAUMA
Kekuatan benturan pada trauma kepala :
- Akselerasi
: gerakan cepat yang terjadi secara
mendadak
- Deakselerasi : penghentian akselerasi secara
mendadak

Dari tempat benturan, gelombang kejut


disebarkan keseluruh arah.

- Lesi coup
: lesi pada tempat benturan
- Lesi contra coup : lesi pada tempat yang
bersebrangan dgn benturan
- Lesi rotarik
: lesi yang sifatnya rotasi dapat
memutuskan vena-vena yang
menjembatangi duramater dan
arakhnoid (bridging veins)

MEKANISME TRAUMA

Coup dan contra coup serta rotasi

KLASIFIKASI
Klasifikasi cedera kepala dibagi atas :
Berdasarkan mekanisme cedera
- Cedera kepala tumpul
- Cedera kepala tempus (penetrans)

Berdasarkan berat ringannya cedera


- Cedera kepala ringan (GCS 14-15)
- Cedera kepala sedang (GCS 9-13)
- Cedera kepala berat (GCS 3-8)

Berdasarkan morfologi dan anatomi kepala

KLASIFIKASI
Respon Membuka Mata / Eye (E)
Spontan
Terhadap perintah
Terhadap rangsangan nyeri
Tidak ada

Nilai
4
3
2
1

Respon Motorik (M)


Ikut perintah
Melokalisir nyeri
Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang)
Fleksi abnormal (dekortikasi)
Ekstensi abnormal (deserebrasi)
Tidak ada

6
5
4
3
2
1

Respon Verbal (V)


Berorientasi baik
Berbicara mengacau (bingung) / dapat menyusun kalimat
Kata-kata tidak jelas
Suara tidak jelas
Tidak ada

5
4
3
2
1

Penilaian
Trauma Ringan : GCS 14 - 15
Trauma Sedang : GCS 9 - 13
Trauma Berat : GCS 3 - 8

KLASIFIKASI
Berdasarkan morfologi dan anatomisnya
Trauma SCALP

- Abrasi (excoriasi) ; luka yang terbatas pada lapisan kulit (S)


- Laserasi ; luka yg melebihi ketebalan kulit tanpa disertai
pemisahan lapisan SCALP
- Memar pada SCALP Hematoma subgaleal
- Abulsi ; luka yang disertai pemisahan lapisan SCALP

Fraktur Tulang Tengkorak


Berdasarkan Gambaran Fraktur

- Fraktur linier garis fraktur tunggal


- Fraktur diastase fraktur yg terjadi pada sutura pemisahan sutura
- Fraktur comminuted fraktur 2 atau lebih segmen fraktur

Berdasarkan Anatomisnya

- Fraktur konveksitas (fraktur kubah tengkorak) fraktur pada tulang


yang membentuk dasar tengkorak (os.frontalis, os.parietalis, dll)
- Fraktur basis kranii (fraktur basis kranii anterior, media, posterior)

Cedera Otak

Komosio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural,


perdarahan intraserebral (PIS), perdarahan subarakhnoid (PSA).

KLASIFIKASI
Fraktur Basis Kranii
Fraktur basis kranii fossa anterior
- Ecchymosis periorbita atau raccoon eyes/brill hematoma
atau biasa disebut perdarahan kacamata.
- Anosmia cedera melibatkan N.olfaktorius (N.I)
- Rhinorea rembesan cairan serebrospinalis atau darah

Fraktur basis kranii fossa media dan posterior


- Ecchymosis pada mastoid atau battle sign.
- Otorrhea
- Herniasi penekanan batang otak (fraktur basis kranii fossa
posterior.

KLASIFIKASI

Brill hematoma

Battle sign

KOMUSIO SEREBRI
DEFINISI
Komosio serebri (geger otak/goncangan otak) yang
menimbulkan gangguan fungsi otak, terjadi setelah trauma
berupa pingsan (berlangsung tidak lebih dari 10 menit) dan
mempunyai tendensi untuk sembuh sempurna

GAMBARAN KLINIS
Derajat kesadaran dipengaruhi oleh integritas ARAS,
lintasan tersebut bisa tidak berfungsi tanpa mengalami
kerusakan yang ireversibel
Blokade reversibel pada formatio retikularis pingsan
Hilangnya blokade terhadap lintasan tersebut, disusul
dengan pulihnya kesadaran.
Mual, muntah, pusing dan sakit kepala
Amnesia retrograd
Defisit neurologis (-)

KOMUSIO SEREBRI
TRAUMA
Amnesia Retrograd

Amnesia Antegrad

DIAGNOSIS
Berdasarkan anemnesis dan gejala klinik
Amnesia retrograd terhapusnya rekaman
kejadian di lobus temporalis
Pemeriksaan foto polos menunjukkan tidak ada
kelainan

KONTUSIO SEREBRI
DEFINISI

Perdarahan petechie jaringan otak tanpa mengganggu


konttinuitas jaringan otak.

GAMBARAN KLINIS

Lesi terjadi pada daerah benturan (coup) dan kontralateral


dari tempat benturan sesuai dengan garis arah benturan
(contra coup).
Besarnya lesi coup/contra coup tergantung kuatnya
benturan
Kepala dalam keadaan diam lesi benturan coup >>
Kepala dalam keadaan bergerak lesi contra coup >>
Defisit neurologis (+) penurunan kesadaran yg lbh lama (apati
sampai koma) refleks patologis (+), refleks cahaya menghilang
Mual dan muntah
Pergerakan bola mata tidak teratur doll eyes sign
phenomeen

PERDARAHAN EPIDURAL
DEFINISI

Perdarahan akut dengan akumulasi darah pada ruang antara


tulang tengkorak dan duramater. Pada umumnya timbul akibat
robeknya a.meningea media dan cabang2nya pada daerah
temporal. 15% akibat pecahnya sinus-sinus duramater.

GAMBARAN KLINIS

Lusid interval saat terjadinya trauma penderita nyeri


kepala, pusing dan pingsan sebentar lalu membaik tapi
beberapa jam kemudian gejala menjadi progresif dan
kesadaran menurun sampai koma.
Sindom herniasi
- Kesadaran menurun
- Midriasis homolateral penekanan N.III
- Hemiparese

Refleks cahaya direct/inderect (-)


Refleks patologis pada daerah kontra lateral.
Nadi bradikardi peninggian TIK

PERDARAHAN EPIDURAL
DIAGNOSIS
Anamnesis Lusid interval
Gejala klinik Defisit neurologis
Pemeriksaan radiologik
- Foto polos kepala adanya fraktur didaerah temporal
yakni pada daerah sulcus a.meningea media
- CT-Scan bentuk lensa cembung bikonveks
berdensitas tinggi

PERDARAHAN EPIDURAL

PERDARAHAN SUBDURAL
DEFINISI

Perdarahan yang terjadi antara duramater dan arakhnoidea.


Perdarahan terjadi akibat robeknya vena yang
menjembatangi antara duramater dan arakhnoid (bridging
veins)

GEJALA KLINIK

Nyeri kepala yang makin lama makin hebat


Mual dan muntah
Mydriasis homolateral
Gangguan traktus pyramidalis (hyperrefleksia, hemiparese,
dan refleks patologis)

DIAGNOSIS

Anamnesis dan gejala klinis


CT-Scan daerah hiperdens bentuk bulan sabit

PERDARAHAN SUBDURAL

PERDARAHAN INTRASEREBRAL
DEFINISI
Perdarahan yang terjadi pada korteks serebrum. Terbanyak
terjadi di lobus temporalis dan frontalis. Kadang-kadang di
lobus parietalis dan serebellum.
Asal perdarahan biasanya arteri dan bisa masuk ke ventrikel
dan menekan batang otak

GAMBARAN KLINIS
Gejala hampir sama dengan PSA
Kesadaran menurun sampai dengan koma

DIAGNOSIS
Berdasarkan gambaran klinis
Tanda rangsang menings (+) kaku kuduk & kernig sign
CT-Scan perdarahan pada korteks serebri

PERDARAHAN NTRASEREBRAL

PERDARAHAN SUBARAKHNOID
DEFINISI
Perdarahan yang terjadi dalam ruang subarakhnoid (diantara
ruang arakhnoid dan piamater). PSA dapat juga terjadi tanpa
adanya trauma karena aneurisma dari pembuluh darah.

GAMBARAN KLINIS
Sering akibat kontusio serebri
Tanda rangsang menings (+) kaku kuduk dan kernig
sign akibat adanya darah dalam liquor serebri.
Kesadaran up and down

DIAGNOSIS
Gambaran klinis
Tanda rangsang menings (+) dan adanya lateralisasi
Pemeriksaan CT-Scan

PENATALAKSANAAN
FASE PRA RUMAH SAKIT

AIRWAY. Amankan jalan nafas dan kontrol servikal.

- Hati-hati terhadap fraktur servikal khususnya pada penderita


multitrauma penurunan kesadaran dan jejas diatas klavikula
- Pertahankan tulang servikal segaris dgn badan. Pasang servikal
kollar.
- Bersihkan jalan nafas dari sumbatan benda asing, muntahan,
darah, gigi palsu yang lepas, patahan gigi dan lain-lain.
- Pasien tidak sadar dan lidah jatuh kebelakang pasang pipa
orofaring.
- Penderita sadan dan berbicara airway aman.

BREATHING. Ventilasi yang baik.

- Hitung frekuensi pernafasan.


- Evaluasi fungsi ventilasi (paru-paru, dinding dada dan difragma)
- Inspeksi : # Bentuk dan pergerakan dada
# Tentukan pernafasan spontan atau tidak
- Palpasi : # Ada tidaknya nyeri tekan pada dinding dada
(khususnya pada penderita multitrauma)

PENATALAKSANAAN
FASE PRA RUMAH SAKIT
CIRCULATION.
- Hentikan perdarahan pada tempat lain (kasus multitrauma)
dengan bebat tekan dan pasang balutan.
- Ukur frekuensi denyut jantung dan tekanan darah.
- Pasang jalur intravena (bila memungkinkan)

DISABILITY.
- Hitung GCS skor untuk menilai beratnya cedera
- Pemeriksaan neurologis :
# Refleks cahaya langsung dan tidak langsung
# Bandingkan kedua pupul, isokor atau anisokor
# Pemeriksaan adanya lateralisasi

PENATALAKSANAAN
FASE RUMAH SAKIT
PENTALAKSANAAN BERDASARKAN BERAT CEDERA
- Cedera kepala ringan (GCS 13-15)
- Cedera kepala sedang (GCS 9-12)
- Cedera kepala berat (GCS 3-8)
MEDIKAMENTOSA
- Cairan intravena Ringer Laktat
- Manitol untuk menurunkan TIK
- Furosemide diberikan bersama manitol untuk
menurunkan TIK
- Anti Konvulsan untuk komplikasi kejang
(Phenobarbital dan phenytoin)

PROGNOSIS
Faktor yang memperburuk prognosis yaitu :
Terlambatnya penanganan awal berupa
pemberian resusitasi. 20% penderita mati
sebelum sampai di Rumah Sakit oleh karena
tidak mendapatkan resusitasi awal
Pengangkutan/transport yang tidak memadai
Pengiriman penderita bukan ke pusat trauma
yang mempunyai fasilitas lengkap
Terlambatnya dilakukan tindakan bedah
Adanya cedera multipel yang lain