Anda di halaman 1dari 10

Refraksi mata

Sistem lensa mata yang positif menyebabkan terkumpulnya sinar hasil pembiasan pada retina.
Posisi bintik kuning retina sendiri terletak pada garis median dari system lensa mata. Bila
sinar
datang sejajar sumbu utama akan dibelokan melalui jari-jari lensa, sedangkan bila sinar
datang
melalui pusat kelengkungan lensa akan diteruskan dan bila sinar datang dari arah selain itu
akan
dibelokan sejajar sumbu utama
Konvergensi tepat pada retina hanya diperoleh bila benda yang dilihat berada 6 meter atau
lebih
jauhnya dari mata. Bila jarak benda kurang dari 6 meter, maka konvergensi berkurang dan
bayangan yang terbentuk tidak tepat pada retina. Jarak 6 meter adalah jari-jari kelengkungan
lensa
mata, sehingga benda harus berada di ruang 3 agar bayangan yang terbentuk tepat pada
retina.
Semakin jauh jarak benda, semakin jelas bayangan yang terbentuk.
Pemeriksaan refraksi termasuk pemeriksaan mata dasar yang banyak dilakukan baik di pusat
pelayanan kesehatan maupun di tempat umum yang menjual produk untuk mengkoreksi
kelainan refraksi seseorang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis kelainan
refraksi dan mengukur besarnya kelainan tersebut yang perlu dikoreksi. Pemeriksaan refraksi
terdiri dari pemeriksaan subyektif dan obyektif.
Pemeriksaan refraksi obyektif dilakukan menggunakan alat retinoscopy dan auto-refractor
yang hasilnya dapat dilihat atau diukur langsung, tidak tergantung apa yang dikatakan oleh
penderita kepada pemeriksa. Hasil pemeriksaan refraksi subyektif sangat tergantung yang
dikatakan penderita kepada pemeriksa. Metode pemeriksaan subyektif antara lain
menggunakan metode best vision sphere, sphero-sylindrical dan near refraction dengan
menggunakan phoropter atau lensa coba (trial lens) yang dipakaikan pada penderita.
Mengingat masing-masing metode memilki kelebihan dan kekurangan maka biasanya kedua
jenis pemeriksaan tersebut dilakukan bersama. Pemeriksaan dengan retinoscopy dan autorefrakter membutuhkan keahlian tingkat lanjut seorang ahli mata, dan alat phoropter termasuk
alat yang berat, rentan dan mahal, maka yang akan dilakukan pada ketrampilan dasar
pemeriksaan mata adalah metode pemeriksaan yang paling umum digunakan yaitu secara
subyektif menggunakan set alat trial lens.
KELAINAN REFRAKSI
Seseorang dengan kelainan refraksi akan datang dengan mata yang tampak normal dengan
keluhan sulit melihat dengan jelas. Kelainan refraksi terjadi karena kelainan bentuk dan
ukuran bola mata, sehingga seseorang membutuhkan kaca mata atau lensa kontak (contact
lens) agar dapat melihat dengan jelas dan nyaman. Kelainan refraksi terdiri dari miopia,
hiperopia, astigmatisma dan presbiopia. Besarnya kelainan refraksi dan koreksi yang perlu
dilakukan tergantung pada kelengkungan kornea, lensa dan panjang bola mata. Pada mata
normal (emetrop) sinar yang masuk akan difokuskan tepat pada retina, sedangkan pada mata
ammetrop sinar tidak tepat jatuh di retina sehingga tidak didapatkan bayangan benda yang
jelas.

Berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di
depan retina akan menimbulkan kelainan yang disebut miopia. Dalam keadaan ini obyek
yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada
badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini menjadi divergen,
membentuk lingkaran difus dengan akibat bayangan kabur. Miopia terdiri dari miopia axial
yaitu bila sumbu mata lebih panjang dari normal dan miopia pembiasan bila daya bias lebih
besar dari normal misalnya pada orang dengan lensa terlalu cembung. Koreksi miopia harus
diberi kaca mata sferis lensa negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan
maksimal.
Sinar yang difokuskan di belakang retina menyebabkan keadaan hipemetropia yang juga
dapat disebabkan sumbu mata terlalu pendek disebut hipermetropia axial atau karena daya
bias lensa kurang dari norma akibat kornea terlalu datar atau lensa yang menipis sehingga
disebut hiperopia bias. Pada waktu koreksi hipermetropia harus diberi lensa positif sekuatkuatnya.

Pada astigmatisma sinar yang masuk mata tidak difokuskan pada satu titik diretina melainkan
pada bidang bias masing-masing. Ada dua jenis astigmatisma yaitu irreguler yang memiliki
titik bias tidak teratur dan jenis reguler yang titik bianya tertatur pada sumbu mata. Kelainan
astigmatisme ireguler terdapat pada ketidakteraturan permukaan kornea yang dapat dinilai
dengan tes menggunakan keratoskop plasido berupa piringan datar bergambar
lingkaranlingkaran hitam putih concentrik dengan lubang kecil ditengahnya.
TEKNIK PEMERIKSAAN REFRAKSI SUBYEKTIF MENGGUNAKAN TRIAL FRAME
dan TRIAL LENS
Tujuan Pemeriksaan 1. Menentukan jenis lensa bantu yang memberikan penglihatan paling
jelas untuk mengkoreksi kelainan refraksi 2. Menentukan jenis lensa bantu yang memberikan
penglihatan paling nyaman untuk mengkoreksi kelainan refraksiAlat Yang Perlu
Dipersiapkan 1. Penggaris 2. Optotype Snellen 3. Set alat trial frame dan trial lens (kaca mata
dan lensa coba) 4. Keratoskop Plasido 5. Kartu baca dekat
Cara Pemeriksaan Persiapkan penderita untuk duduk sejajar pada jarak 6 meter dari optotype
snellen (=d). Tentukan dahulu ketajaman penglihatan masing-masing mata, dengan menutup
mata yang tidak diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan menunjukkan huruf-huruf pada
optotype snelen mulai dari deretan huruf terbesar sampai deretan huruf terkecil yang masih
dapat dilihat atau dibaca dengan jelas dan lengkap (=D). Disebelah kanan deretan huruf
tersebut, tertera angka yang menunjukkan jarak dalam meter yang masih dapat dibaca mata
normal (emmetrop). Ketajaman penglihatan ditentukan dengan rumus snellen yaitu V= d/D,
harga d selalu 5 atau 6 meter. Ukur jarak pupil (PD/Pupil Distance) kedua mata untuk
mengukur jarak frame kanan dan kiri pada trial frame yang akan dipasangkan dan kaca mata
atau lensa bantu koreksi nantinya. Tentukan jarak pupil mata kanan dan kiri dengan
meletakkan penggaris di depan kedua mata, kemudian mengarahkan senter di tengah kedua
mata pasien. Perhatikan reflek cahaya pada kedua kornea mata, kemudian ukur jarah antara
kedua reflek tersebut dalam mm maka didapatkan jarak pupil untuk penglihatan dekat.
Tambahkan 2mm untuk jarak pupil untuk penglihatan jauh. Bila hasil visus awal adalah 6/6,
maka kemungkinan keadaan mata adalah emmetropia atau hipermetropia dengan akomodasi.
Pasang kaca mata coba pada posisi yang tepat yaitu jarak pupil untuk penglihatan dekat.
Pasang penutup (occluder) di depan salah satu mata yang belum akan diperiksa.

Pemeriksaan dimulai dengan memberikan lensa speris positif (+)0,25D. Ulangi pemeriksaan
dengan meminta penderita membaca semua deretan huruf snellen dari yang terbesar hingga
terkecil yang masih dapat dibaca dengan jelas dan lengkap. Bila dengan lensa ini deretan
huruf 6/6 yang semula jelas menjadi kabur maka berarti mata penderita adalah emmetropia.
Pada hipermetropia, mata dapat melihat huruf-huruf yang lebih kecil dari 6/6 dengan
akomodasi. Untuk koreksinya, pemeriksa mulai dengan memberikan lensa positif (+)0,25D,
berturut-turut meningkat 0,25D. Hal ini adalah usaha untuk membuat mata menjadi
emmetrop dengan mengurangi akomodasi, sebagai hasilnya diharapkan penderita dapat
melihat deretan huruf 6/6 dengan jelas tanpa akomodasi. Lensa positif terkuat dimana mata
hipermetropia masih dapat melihat deretan huruf 6/6 dengan jelas menunjukkan besar
kelainan hipermetropianya. Bila visus kurang dari 6/6, lanjutkan dengan tes pinhole dengan
meletakkan pinhole didepan mata yang diperiksa. Bila dengan tes pinhole ketajaman
penglihatan menjadi lebih baik maka terbukti pasien mengalamai kelainan refraksi, namun
bila pada tes pinhole tidak mengalami perbaikan maka, pasien tidak mengalami kelainan
refraksi dan perlu dirujuk untuk pemeiksaan mata lebih lanjut.

Bila visus kurang dari 6/6 dengan tes pinhole positif, maka kemungkinan mata termasuk
miopia. Untuk menilai besar miopia, dimulai dari lensa negatif (-)0,25D, ditambahakan
berturut-turut -0,25 sampai pada lensa negatif terlemah penderita dapat membaca deretan
huruf 6/6. Untuk melakukan koreksi, kadang terdapat beberapa jenis kekuatan lensa yang pas
untuk digunakan melihat dengan jelas, namun tidak semua lensa tersebut akan nyaman
digunakan sebagai lensa bantu. Hanya akan ada satu jenis kekuatan lensa yang memberikan
penglihatan yang jelas dan kenyamanan saat dipakai sebagai lensa bantu yaitu lensa yang
akan meminimalkan akomodasi penderita. Untuk melakukan koreksi perlu dicoba beberapa
jenis kekuatan lensa secara berurutan yang tetap memberikan penglihatan yang jelas dan
kenyamanan saat membaca huruf tersebut.
Seseorang dengan miopia bila diberikan lensa bantu negatif yang terlalu lemah akan
menimbulkan ketidaknyamanan karena membuat orang tersebut berakomodasi untuk dapat
melihat dengan jelas atau pada hiperopia yang diberikan lensa positif terlalu kuat akan
menyebabkan pandangan orang tersebut kabur. Jadi bila pasien miopia dikoreksi dengan
-3,0D memberikan tajam penglihatan 6/6, dan demikian juga bila diberi -3.25D, maka
sebaiknya diberikan lensa koreksi -3,0 agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik
sesudah dikoreksi. Demikian pula pada penderita hipermetropia, perlu ditambah atau
kurangkan kekuatan lensa sampai didapatkan visus terbaik (trial and error). Ketepatan koreksi
sangat ditentukan oleh ketepatan ukuran lensa bantu yang dapat membiaskan sinar tepat pada
retina dengan akomodasi lensa yang minimal agar penderita dapat melihat dengan jelas dan
nyaman. Orang yang tidak mengontrol akomodasinya sering menyatakan bahwa kadang ia
melihat deretan huruf yang sama secara jelas dan kabur. Hal tersebut harus dapat dikontrol
oleh pemeriksa. Usahan untuk melakukan pemeriksaan refraksi secepat mungkin untuk
menghindari kebosanan dari penderita yang akan mempengaruhi keakuratan hasil
pemeriksaan. Terutama pada anakanak yang cepat bosan sehingga perlu banyak dihibur untuk
membantu konsentrasinya dan orangtua yang cepat lelah sehingga pemeriksaan dapat
diteruskan di lain waktu. Pemeriksaan kelainan refraksi astigmatisme dapat dilakukan dengan
metode refraksi spero-cylindrical menggunakan lensa silindris untuk mengoreksinya. Selain
itu dapat juga menggunakan keratoscop palsido. Pemeriksaan astigmatisme dengan
ketatoskop plasido bertujuan untuk mengetahui keteraturan permukaan kornea. Ketatorkop
plasido diletakkan kurang lebih 20cm didepan mata orang yang diperiksa, kemudian
penderita diminta terus memandang lubang keratoskop. Dari lubang tersebut pemeriksa dapat
melihat bayangan lingkaran pada kornea. Bila kornea bulat sempurna, yang tampak adalah
lingkaran konsentrik. Bila ada meredian yang lebih melengkung daripada yang lain tegak
lurus pada meredian I tadi, maka tampak lingkaran-lingkaran lonjong sehingga disebut
sebagai astigmatisme reguler. Pada astigmatisme irreguler, bentuk bayang garis hitam putih
yang tampak tidak teratur. Pemeriksaan adanya presbiopia berhubungan dengan keluhan
membaca dekat dan usia lanjut, karena presbiopia biasanya terjadi pada usia diatas 38 tahun.
Metode yang digunakan adalah near refraction dengan kartu baca dekat. Sebelumnya
sesuakan jarak pupil penglihatan dekat pada kaca mata coba. Berikan lensa speris (+)
umumnya disesuaikan umur S+1,00D (usia 40 tahun), S+1,50D (45 tahun) hingga S+3,00D
(60 tahun). Minta penderita untuk membaca kartu baca dekat pada jarak baca yang baik (30
cm). Mengingat pemeriksaan ini adalah subyektif, maka dapat terjadi kasus maligering
terutama pada anak-anak yang hanya ingin memakai kaca mata sepeti orang tuanya atau pada
orang dengan kelainan perilaku. Gunakan plano test pada lensa coba untuk mengetes adanya
maliongering dan lihat adanya perbaiakan. Pindahkan anak lebih dengan kartu snellen dan
ulangi pemeriksaan tajam penglihatan bila tidak ada perbaikan maka dapat dikatakan
penderita berpura-pura mengalami kelaian refraksi. Penulisan hasil pemeriksaan refraksi dan
koreksi lensa bantu yang diperlukan meliputi identitas penderita, usia, jenis kelainan refraksi

yang didapatkan pada mata kanan (OD/Oculi dextra) dan mata kiri (OS/Oculi sinistra), jarak
pupil (PD) penglihatan jauh dan dekat dan besarnya koreksi yang diperlukan.

Kelainan refraksi atau ametropia merupakan kelainan pembiasan sinar pada mata sehingga
sinar tidak difokuskan pada retina atau bintik kuning, tetapi dapat di depan atau di belakang
bintik kuning dan mungkin tidak terletak pada satu titik yang fokus. Kelainan refraksi dikenal
dalam bentuk miopia, hipermetropia dan astigmatisma.

Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi
yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu:
1. Miopia
2. Hipermetropia
3. Astigmatisma
4. Afakia
Ad 1. Miopia
Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar masuk ke bola mata
tanpa akomodasi akan dibiaskan didepan retina. Untuk mengoreksinya dipakai lensa sferis
minus.
Bentuk dari Miopia menurut penyebabnya 13,14,15,16,17,18,19,20:
1.1. Miopia aksial
Diameter antero-posterior dari bola mata lebih panjang dari normal, walaupun
kornea dan kurvatura lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal. Miopia
dalam bentuk ini dijumpai pada proptosis sebagai hasil dari tidak normalnya besar
segmen anterior, peripapillary myopic crescent dan exaggerated cincin skleral, dan
stafiloma posterior
1.2. Miopia kurvatura
Mata memiliki diameter antero-posterior normal, tetapi kelengkungan dari kornea
lebih curam dari rata-rata, missal : pembawaan sejak lahir atau keratokonus, atau
kelengkungan lensa bertambah seperti pada hiperglikemia sedang ataupun berat, yang
menyebabkan lensa membesar.
1.3. Miopia karena peningkatan indeks refraksi
Peningkatan indeks refraksi daripada lensa berhubungan dengan permulaan dini
atau moderate dari katarak nuklear sklerotik. Merupakan penyebab umum terjadinya
Miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan lensa meningkatkan indeks refraksi,
dengan demikian membuat mata menjadi myopik.
1.4. Miopia karena pergerakan lensa ke anterior
Keadaan ini sering terlihat setelah operasi glaukoma dan akan meningkatkan
miopia pada mata.
Ad 2. Hipermetropia
Hipermetropia (hyperopia) atau Far sightedness adalah suatu kelainan refraksi
daripada mata dimana sinar sinar yang berjalan sejajar dengan sumbu mata tanpa

akomodasi dibiaskan dibelakang retina, oleh karena itu bayangan yang dihasilkan kabur.
Untuk mengoreksinya dipakai lensa sferis plus.
Struktur Hipermetropia berdasarkan pada konfigurasi anatomi dari bola mata :
2.1. Hipermetropia Aksial
Bola mata lebih pendek dari normal pada diameter antero-posterior, meskipun
media refraksi (misalnya lensa atau kornea) normal.
2.2. Hipermetropia kurvatura
Keadaan dimana kelengkungan lensa atau kornea lebih tipis dari normal dan
power refraksinya turun. Sekitar setiap 1 mm penurunan dari radius kelengkungan
tersebut menghasilkan Hipermetropia 6 D
2.3. Hipermetropia indeks refraksi
Terjadi penurunan indeks refraksi akibat penurunan dari densitas beberapa atau
seluruh bagian dari system optik mata, juga penurunan power refraksi mata. Biasanya
terjadi pada usia tua dan juga pada penderita diabetes terkontrol
Ad 3. Astigmatisma
Astigmatisma adalah suatu kondisi dengan kurvatura yang berlainan sepanjang
meridian yang berbeda-beda pada satu atau lebih permukaan refraktif mata ( kornea,
permukaan anterior atau posterior dari lensa mata ), akibatnya pantulan cahaya dari suatu
sumber atau titik cahaya tidak terfokus pada satu titik di retina.
Pada astigmatisma, karena adanya variasi dari lengkungan kornea atau lensa pada meridian
yang berbeda-beda mencegah berkas sinar itu memfokuskan diri kesatu titik.
Jenis-jenis Astigmatisma
3.1. Astigmatisma Reguler
Secara teori, pada setiap titik pada permukaan yang lengkung, arah dari
kelengkungan yang terbesar dan yang terkecil selalu terpisah 90 derajat tetapi arah ini
bias beribah saat melewati satu titik ke titik yang lain. Bila meridian utama dari
astigmatisma mempunyai orientasi yang konstan pada setiap titik yang melewati pupil
dan apabila ukuran astigmatisma ini sama pada setiap titik. Kondisi refraktif ini
dikenal sebagai astigmatisma regular. Dan ini bisa dikoreksi dengan kacamata lensa
silindris
Berdasarkan axis dan sudut antara 2 meridian utama, astigmatisma reguler dibagi atas:
3.1.1. Horizonto-vertikal astigmatisma
Dibagi dalam 2 bentuk :
3.1.1.1. Astigmatisma with the rule
Suatu astigmatisma dimana meridian vertical lebih curam dari horizontal, dikoreksi
dengan lensa silindris positif dengan axis 9020 atau lensa silindris negatif dengan
axis 18020.
3.1.1.2. Astigmatisma against the rule
Suatu astigmatisma dimana meridian horizontalnya lebih curam dari meridian vertical.
Koreksinya dengan lensa silindris positif dengan axis 18020 atau lensa silindris
negatif dengan axis 9020.
3.1.2. Astigmatisma oblique
Suatu bentuk regular astigmatisma dimana garis meridian utamanya tidak tegak lurus
tapi miring dengan axis 45 dan 135.

Tipe Refraktif Dari Astigmatisma Reguler


Bergantung pada posisi dari 2 garis fokus yang berhubungan ke retina, astigmatisma
regular lebih lanjut dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe :
3.1.1. Simple astigmatisma
Berkas cahaya pada satu meridian terfokus tepat did retina, dan cahaya pada meridian
yang lain terfokus pada titik didepan retina disebut simple myopic astigmatisma. Jika
cahaya itu terfokus dibelakang retina disebut simple hypermetropic astigmatisma.
Contoh : C 2 x 90 atau C + 2 x 90.
3.1.2. Compound astigmatisma
Pada jenis ini, berkas cahaya pada kedua meridian terfokus didepan retina disebut
astigmatisma Miopia compound dan jika terfokus dibelakang retina disebut
astigmatisma Hipermetropia compound.
Contoh : S - 4, C - 2 x 90 atau S + 4, C + 2 x 90
3.1.3. Mixed astigmatisma
Pada jenis ini berkas cahaya pada satu meridian terfokus pada titik di depan retina dan
cahaya pada meridian yang lain terfokus di belakang retina.
Contoh : S - 4, C + 2 x 90 atau S + 4, C - 2 x 90
3.2. Astigmatisma Irregular
Suatu astigmatisma dimana sinar-sinar sejajar dengan garis pandang dibias tidak
teratur. Astigmatisma irregular ini bersifat / mempunyai perubahan-perubahan
irregular dari tenaga refraksinya pada meridian-meridian yang berbeda. Terdapat multi
meridian yang tidak dapat dianalisa secara geometris. Lensa silindris hanya sedikit
memperbaiki penglihatan dalam kasus-kasus ini, tapi dapat diterapi dengan lensa
kontak rigid.
Ad 4. Afakia
Afakia secara literature berarti tidak adanya lensa dalam mata. Afakia akan
mengakibatkan Hipermetropia tinggi.
Penyebab :
1. Kongenital.
Suatu keadaan yang jarang dimana lensa tidak ada sejak lahir.
2. Afakia paska operasi.
Terjadi setelah operasi ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction ), ECCE ( Extra Capsular
Cataract Extraction ).
3. Post Traumatik.
Diikuti oleh trauma tumpul atau tembus, yang mengakibatkan subluksasi atau
dislokasi dari lensa.
4. Posterior dislokasi dari lensa ke vitreus akan menyebabkan optikal Afakia.
Optik Afakia dari mata : perubahan optik terjadi setelah keluarnya lensa.
1. Mata menjadi Hipermetropia tinggi
2. Total power mata berkurang dari + 60 D menjadi + 44D
3. Fokal poin anterior menjadi 23.2 mm didepan kornea

4. Posterior fokal poin sekitar 31 mm dibelakang kornea atau sekitar 7 mm


dibelakang mata normal ( panjang bola mata anterior-posterior sekitar 24 mm )
Terapi : untuk mengkoreksi Afakia terdiri dari kacamata, kontak lensa, intraokular lensa.
Kelainan refraksi telah dilaporkan sebagai penyebab gangguan penglihatan yang
mencolok diberbagai belahan dunia. Prevalensi yang tinggi dari gangguan penglihatan
akibat kelainan refraksi juga telah dilaporkan terjadi diseluruh dunia, gangguan refraksi ini
dapat diterapi, dimana sebagian besar dapat dikoreksi
Berdasarkan analisis WHO, diperkirakan terdapat 45 juta orang mengalami kebutaan
dan 135 juta orang dengan low vision atau terdapat kurang lebih 180 juta orang dengan
gangguan penglihatan diseluruh dunia.
Salah satu penyebab kebutaan adalah kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Hal; ini
dapat diketahui dari laporan-laporan penelitian mengenai kelainan refraksi. Kelainan
refraksi menjadi penyebab kebutaan ( ditandai dengan tajam penglihatan < 20/200 pada
mata yang terbaik ) pada 0,3% populasi did Andra Pradesh India. Prevalensi kebutaan
akibat kelainan refraksi pada usia 40 tahun atau lebih adalah 1,06% di Andra Pradesh India
dan 0,11% di Victoria Australia.

Prevalensi yang tinggi dari gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak
terkoreksi atau koreksinya tidak optimal telah dilaporkan dalam 10 tahun terakhir ini dari
beberapa penelitian-penelitian survey, seperti Baltimore Eye Survey, The Blue Mountains
Eye Study, The Victoria Visual Impairment Project, dan Andra Pradesh Eye Diseases Study
Sebagian besar penelitian epidemiologi terhadap kelainan refraksi difokuskan pada
Miopia, mungkin hal ini disebabkan karena Miopia merupakan penyebab tersering
gangguan penglihatan pada kelainan refraksi.
Miopia juga dapat berhubungan dengan kelainan mata yang lain seperti retinal
detachment dan myopic retinal degeneration, dimana hal ini dapat mengakibatkan
hilangnya penglihatan.

https://kpsfkunmul.files.wordpress.com/2014/02/trapmed-koreksi-refraksi-blok-16.pdf.
http://www.fk.unair.ac.id/attachments/1643_FISIKA%20INDERA%203.pdf.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26191/3/Chapter%20II.pdf.

Anda mungkin juga menyukai