Anda di halaman 1dari 84
POLA MUSIMAN DAN KAJIAN STOK IKAN SWANGGI ( Priacanthus tayenus Richardson, 1846) DI LABUAN, KABUPATEN

POLA MUSIMAN DAN KAJIAN STOK IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) DI LABUAN, KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN

AYU SITI WULANDARI

SKRIPSI

KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN AYU SITI WULANDARI SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2012

SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

Pola Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus

Richardson, 1846) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk

apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang

berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan

dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Juli 2012 Ayu

Bogor, Juli 2012

Ayu Siti Wulandari

C24080005

RINGKASAN

RINGKASAN Ayu Siti Wulandari. C24080005. Pola Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi ( Priacanthus tayenus )

Ayu Siti Wulandari. C24080005. Pola Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dibimbing oleh Achmad Fahrudin dan Zairion.

Ikan swanggi merupakan ikan yang memiliki daya tahan rendah terhadap tekanan penangkapan. Salah satu daerah yang potensial untuk pemanfaatan sumberdaya ikan swanggi di perairan Selat Sunda adalah Labuan Banten. Variasi iklim dan musim di Selat Sunda dan sekitarnya menyebabkan terjadinya fluktuasi produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola musim penangkapan ikan swanggi berdasarkan daerah penangkapannya, serta mengidentifikasi nilai parameter stok dan status pemanfaatannya. Waktu pengambilan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Maret- Oktober 2011. Analisis data yang dilakukan adalah perhitungan TPSU, IMP, matriks sebaran penangkapan dan temporal terhadap selang kelas panjang dan TKG, serta analisis bioekonomi dengan model Gordon-Schaefer. Hasil tangkapan tertinggi pada tanggal 14 Februari 2011 memiliki harga terendah, yaitu Rp 4000. Tangkapan dan harga ikan swanggi di PPP Labuan sangat berfluktuasi, hal ini dapat disebabkan oleh faktor alami dan non-alami. Upaya yang ditingkatkan hingga tahun 2006 tidak meningkatkan nilai TPSU dan hasil tangkapan karena intensitas penangkapan yang tinggi pada tahun-tahun sebelumnya. Upaya penangkapan yang menurun pada tahun 2007-2011 diduga karena faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sehingga volume hasil tangkapan ikan swanggi cenderung rendah. Musim penangkapan ikan swanggi pada periode 2001-2007 terjadi pada bulan Januari-Maret, Juni, Agustus, dan September, sedangkan musim paceklik terjadi pada bulan April dan Oktober. Musim penangkapan ikan swanggi pada periode 2010-2011 terjadi pada bulan Desember-Februari, Juli, dan Agustus, sedangkan musim paceklik terjadi pada bulan Juni. Tujuan utama daerah penangkapan menggunakan alat berupa jaring rampus atau cantrang adalah ke arah P. Rakata dengan jarak 15-35 km dari PPP Labuan. Penangkapan di daerah tersebut menggunakan jaring cantrang pada musim peralihan I, musim timur, musim peralihan II, dan sedikit pada musim barat. Sementara alat tangkap jaring rampus melakukan penangkapan pada lokasi tersebut hanya pada musim peralihan I, musim timur, dan akhir dari musim barat. Ukuran ikan swanggi terbesar terdapat pada bulan Mei dan September. Bulan Maret dan September merupakan puncak pemijahan karena terdapat persentase TKG V dan VI tertinggi, dengan lokasi penangkapan menuju arah P. Rakata, P. Papole, Tg. Lesung, dan P. Panaitan. Kesimpulan penelitian ini adalah musim penangkapan ikan swanggi 2010- 2011 terjadi pada musim peralihan I dan musim timur dengan daerah penangkapan menuju P. Rakata, Carita, dan perjalanan menuju Sumur. Berdasarkan analisis bioekonomi didapatkan nilai parameter stok (r, q, dan K) sebesar 2.16 kg/tahun, 0.02 kg/trip, dan 177311 kg/tahun. Status pemanfaatan ikan swanggi yaitu sudah economic overfishing dan biological overfishing.

dan 177311 kg/tahun. Status pemanfaatan ikan swanggi yaitu sudah economic overfishing dan biological overfishing .
POLA MUSIMAN DAN KAJIAN STOK IKAN SWANGGI ( Priacanthus tayenus Richardson, 1846) DI LABUAN, KABUPATEN
POLA MUSIMAN DAN KAJIAN STOK IKAN SWANGGI ( Priacanthus tayenus Richardson, 1846) DI LABUAN, KABUPATEN

POLA MUSIMAN DAN KAJIAN STOK IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) DI LABUAN, KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN

AYU SITI WULANDARI

SKRIPSI sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2012

Kelautan DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

PENGESAHAN SKRIPSI

4
4

Judul

: Pola Musiman Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten

Nama

: Ayu Siti Wulandari

Nomor Pokok

: C24080005

Program Studi

: Manajemen Sumberdaya Perairan

Pembimbing I,

Dr. Ir. Achmad Fahrudin M. Si NIP. 19640327 198903 1 003

Menyetujui,

Pembimbing II,

Ir. Zairion, M. Sc NIP. 19640703 199103 1 003

Mengetahui, Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Tanggal lulus :

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103 1 002

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Tanggal lulus : Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103

PRAKATA

PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Pola Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten”. Skripsi ini merupakan hasil penelitian penulis yang dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan Oktoberr 2011 di Pelabuhan Perikanan Pantai Labuan Banten. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si., dan Ir. Zairion, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan kritik dalam penyelesaian skripsi. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung baik moril maupun materil demi terselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari adanya kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan mengharapkan saran dan kritik untuk penyempurnaan tulisan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan, bagi upaya pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

upaya pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Bogor, Juli 2012 Penulis

Bogor,

Juli 2012

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada: 1.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1.

Dr.

Ir. Achmad Fahruddin, MS dan Ir. Zairion, M.Sc, masing-masing selaku

pembimbing I dan pembimbing II skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan, dan saran selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan

 

skripsi.

2.

Dr.

Ir. M. Mukhlis Kamal, M. Sc selaku dosen penguji tamu serta Ir. Agustinus

M.

Samosir, M.Phil dan Dr. Ir. Etty Riani, MS, masing-masing selaku ketua

dan anggota program studi yang telah memberikan saran dalam penyusunan skripsi ini.

3.

Prof. Dr. Ir. Djamar Tumpal F. Lumbanbatu, selaku pembimbing akademik atas dukungannya kepada penulis selama menuntut studi di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.

4.

Keluarga tercinta: Mama, Papa, Mas Dika, dan Satria, serta seluruh keluarga besar atas doa, kasih sayang, semangat, perhatian, kesabaran, dan dukungan baik moril maupun materil yang telah diberikan kepada penulis.

5.

Seluruh staf Tata Usaha dan sivitas Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor atas bantuan, dukungan dan kesabarannya yang telah diberikan kepada penulis.

6.

Pak Yanto dan Pak Didin selaku Wakil Kepala UPT Labuan dan Kepala PPP 1 Labuan atas segala bantuan dan kerja sama.

7.

Rizal Rifai atas semangat, kasih sayang, dukungan, bantuan, dan ketersediaannya dalam suka dan duka.

8.

Izza Mahdiana Apriliani dan Jeanni Indah Noermala atas semangat, dukungan, hiburan, dan kenangan selama masa perkuliahan.

9.

Teman seperjuangan dalam penelitian ini Rena, Tillana, Ami, Pingky, Ria, Yuli, Fair, tim peneliti Labuan, Nimas, Jiweun, Kak Donny, Putu, Nidya, dan teman-teman MSP 45 lainnya, MSP 46, dan MSP 44 atas bantuan, semangat, dukungan, selama penelitian hingga penyusunan skripsi.

MSP 45 lainnya, MSP 46, dan MSP 44 atas bantuan, semangat, dukungan, selama penelitian hingga penyusunan
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Temanggung pada tanggal 23 November 1990 sebagai putri kedua dari

RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Temanggung pada tanggal 23 November 1990 sebagai putri kedua dari tiga

Penulis dilahirkan di Temanggung pada tanggal 23 November 1990 sebagai putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Agus Maulana, SE, MM dan Dwi Nur Udina. Pendidikan formal pernah dijalani penulis berawal dari TK Titian Kencana Bekasi (1995), TK Pembina Banjarmasin (1995), TK Islam Az-Zahrah Palembang (1996), SDI Az- Zahrah Palembang (1996-1997), SDI Bani Saleh Bekasi (1997-1998), SDN Kartika Wirabuana I Denpasar (1998-1999), SDN Bekasi Jaya I (1999-2001), SLTP Negeri 1 Bekasi (2001-2003), SLTP Negeri 1 Banjarmasin (2004), SLTP Negeri 6 Makassar (2004-2005), SMA Islam Athirah Makassar (2005-2008). Pada tahun 2008 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI, kemudian diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selain mengikuti perkuliahan, penulis berkesempatan menjadi Asisten Praktikum Mata Kuliah Avertebrata Air (2010/2011), Mata Kuliah Planktonologi (2011/2012), Mata Kuliah Metode Penarikan Contoh (2011/2012), dan Mata Kuliah Pengkajian Stok Ikan (2012/2013). Penulis juga mengikuti organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) sebagai anggota Keilmuan dan Advokasi Lingkungan (2010-2011) serta turut aktif mengikuti seminar maupun berpatisipasi dalam berbagai kepanitiaan di lingkungan kampus IPB. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi dengan judul “Pola Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten”.

Musiman dan Kajian Stok Ikan Swanggi ( Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten

DAFTAR ISI

viii

viii
 

Halaman

DAFTAR TABEL

 

x

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xii

1. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Perumusan Masalah

2

1.3. Tujuan

 

2

2. TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1. Ikan Swanggi

3

2.2. Alat Tangkap

5

2.3. Pengetahuan tentang Stok

6

2.4. Model Bioekonomi Perikanan

8

2.5. Pola Musim Penangkapan

15

2.6. Daerah Penangkapan

16

2.7. Tangkapan Per Satuan Upaya

17

2.8. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

17

3. BAHAN DAN METODE

2 4

3.1

Waktu dan Lokasi Penelitian

24

3.2.

Alat dan Bahan

24

3.3.

Pengumpulan Data

25

3.4.

Analisis Data

26

3.4.1. Tangkapan per satuan upaya

26

3.4.2. Analisis pola musim penangkapan ikan

26

3.4.3. Model bioekonomi perikanan

28

3.4.4. Pola pengelolaan

29

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

31

4.1. Hasil

 

31

 

4.1.1.

Kondisi umum PPP Labuan

31

4.1.2.

Kondisi perikanan swanggi di PPP Labuan

32

4.1.3.

Hasil tangkapan (catch) dan harga ikan swanggi

33

4.1.4.

Upaya penangkapan

35

4.1.5.

Tangkapan per satuan upaya

36

4.1.6.

Pola musim penangkapan

37

4.1.7.

Daerah penangkapan

38

4.1.8.

Bioekonomi

42

4.2. Pembahasan

43

 

4.2.1. Hasil tangkapan

43

4.2.2. Upaya penangkapan

44

4.2.3. Tangkapan per satuan upaya

45

viii

ix

 

4.2.4. Pola musim penangkapan

46

4.2.5. Daerah penangkapan

47

4.2.6. Bioekonomi

50

4.2.7. Rezim pengelolaan perikanan open access

51

4.2.8. Rezim pengelolaan perikanan MEY

52

4.2.9. Rezim pengelolaan perikanan MSY

53

4.2.10. Implikasi bagi pengelolaan ikan swanggi

54

5.

KESIMPULAN DAN SARAN

58

5.1. Kesimpulan

58

5.2. Saran

58

DAFTAR PUSTAKA

59

54 5. KESIMPULAN DAN SARAN 58 5.1. Kesimpulan 58 5.2. Saran 58 DAFTAR PUSTAKA 59 ix

ix

DAFTAR TABEL

x

 

Halaman

1. Persamaan bioekonomi Gordon-Schaefer

29

2. Perkembangan jumlah alat penangkapan ikan di PPP Labuan

32

3. Matriks sebaran spasial, temporal, dan ukuran panjang

39

4. Matriks sebaran spasial, temporal, dan TKG

41

5. Hasil estimasi parameter biologi dan ekonomi

42

6. Hasil perhitungan bioekonomi dalam berbagai rezim

43

x

DAFTAR GAMBAR

xi

 

Halaman

1. Ikan swanggi

3

2. Kurva pertumbuhan logistik

10

3. Hubungan tangkapan upaya

11

4. Kurva statis Schaefer

12

5. Hubungan MEY, MSY, dan OA

13

6. Peta lokasi penelitian

24

7. Komposisi hasil tangkap ikan demersal kecil di Labuan

32

8a. Hasil tangkapan 2001-2002, 2004-2007, dan 2010-2011

34

8b. Hasil tangkapan Januari-Desember 2011

34

9. Hasil tangkapan berdasarkan jumlah trip

35

10. Harga ikan swanggi

35

11. Upaya penangkapan

36

12. Tangkapan per satuan upaya

36

13. Nilai rata-rata indeks musim penangkapan 2001-2007

37

14. Nilai rata-rata indeks musim penangkapan 2010-2011

38

15. Peta daerah penangkapan

40

xi

DAFTAR LAMPIRAN   Halaman 1. Perhitungan RGi, RGPi, dan Rbi 63 2. Perhitungan indeks musim

DAFTAR LAMPIRAN

 

Halaman

1. Perhitungan RGi, RGPi, dan Rbi

63

2. Perhitungan indeks musim penangkapan (IMP)

66

3. Data hasil tangkapan dan effort

66

4. Hasil wawancara terhadap biaya penangkapan dan harga

67

5. Analisis regresi menggunakan model Schaefer

68

6. Perhitungan estimasi parameter stok dengan model Algoritma Fox

69

7. Hasil kuisioner

70

xii

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan swanggi termasuk ke dalam kelompok ikan demersal, yang mana perikanan

Ikan swanggi termasuk ke dalam kelompok ikan demersal, yang mana perikanan demersal merupakan tipe perikanan multi spesies yang dieksploitasi menggunakan berbagai jenis alat tangkap (multi gears) (Badrudin 1991). Ikan swanggi memiliki beberapa sifat sumberdaya seperti aktivitas ruaya yang tidak jauh serta laju pertumbuhan individu yang tidak terlalu tinggi. Sifat tersebut menyebabkan rendahnya daya tahan terhadap tekanan penangkapan dan terbatasnya daerah penangkapan sehingga bila intensitas penangkapan tersebut ditingkatkan maka kematian karena penangkapan akan meningkat pula. Salah satu daerah yang potensial untuk pemanfaatan sumberdaya ikan swanggi adalah di Perairan Selat Sunda di antaranya adalah di Labuan Banten. Berdasarkan data statistik perikanan Labuan, produksi tangkapan ikan swanggi dari awal tahun 2011 sampai pada saat ini masih menduduki posisi ke-5 dari total produksi tangkapan ikan demersal, yaitu sebesar 6866.3 kg atau sebesar 8.25 %. Variasi iklim dan musim di Selat Sunda dan sekitarnya dapat mempengaruhi ketersediaan sumberdaya sehingga menyebabkan terjadinya fluktuasi produksi karena daerah penangkapan dan aktivitas penangkapan tergantung kepada kemampuan nelayan melakukan aktivitas penangkapan. Kelimpahan ikan yang rendah menyebabkan nelayan terus mencari daerah penangkapan ikan yang menguntungkan, apabila daerah penangkapan semakin jauh maka biaya operasional yang dikeluarkan semakin tinggi, sehingga harga semakin mahal, begitu juga sebaliknya. Pola musiman dan sebaran daerah penangkapan ikan swanggi secara spasial dan temporal dapat membantu ketepatan aktivitas penangkapan. Status pemanfaatan terhadap ikan swanggi juga perlu diketahui untuk pengendalian terhadap upaya penangkapan dan produksi ikan swanggi agar dapat menghasilkan keuntungan yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

penangkapan dan produksi ikan swanggi agar dapat menghasilkan keuntungan yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

2

1.2. Perumusan Masalah

Ikan swanggi merupakan ikan demersal memiliki sifat rentan terhadap penangkapan, migrasi yang tidak jauh, dan daerah penangkapan yang terbatas. Musim memiliki variasi sepanjang tahun sehingga mempengaruhi kelimpahan produksi penangkapan. Kelimpahan ikan yang rendah menyebabkan nelayan terus mencari daerah penangkapan ikan yang menguntungkan, bila daerah penangkapan semakin jauh biaya yang dikeluarkan semakin tinggi, sehingga harga semakin mahal, begitu sebaliknya. Hal tersebut mempengaruhi ketidakpastian dalam aktivitas perikanan. Identifikasi pola musiman dan sebaran daerah penangkapan secara spasial dan temporal penting dilakukan untuk mengetahui pola sebaran ikan swanggi secara spasial dan temporal. Kontrol terhadap sumberdaya pun akan lebih tepat dilakukan bila mengetahui bagaimana pola sebaran spasial dan temporalnya. Ketepatan penangkapan yang dimaksud di sini adalah ketepatan waktu dan ukuran hasil tangkapan, karena immature fish tidak baik untuk ditangkap. Sumberdaya ikan memiliki sifat common property yang pemanfaatannya dapat digunakan pada waktu bersamaan oleh lebih dari satu individu atau satuan ekonomi (open acces). Status pemanfaatan ikan swanggi perlu diketahui karena jika eksplorasi tidak terkendali, dikhawatirkan akan mengganggu keberlanjutan populasi ikan swanggi. Maximizing the net economic yield or rent adalah yang diinginkan sejumlah besar pakar ekonomi, tanpa melihat kenyataan sumberdaya yang ada. Jika effort meningkat, maka Maximum Economic Rent akan dicapai sebelum titik maximum sustainable yield (MSY) dan pada saat itu the marginal cost per unit of yield menjadi lebih tinggi daripada MSY yang diinginkan. Maka pada titik C, Yield turun secara jelas dengan effort dan cost meningkat (Nuitja

2010).

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola musim kelimpahan dan

penangkapan ikan swanggi berdasarkan daerah penangkapannya, serta mengidentifikasi nilai parameter stok dan status pemanfaatannya.

ikan swanggi berdasarkan daerah penangkapannya, serta mengidentifikasi nilai parameter stok dan status pemanfaatannya.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Swanggi 2.1.1. Klasifikasi dan tata nama Menurut Richardson (1846) taksonomi

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Ikan Swanggi

2.1.1.

Klasifikasi dan tata nama Menurut Richardson (1846) taksonomi ikan swanggi (Gambar 1) dapat

diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom

:

Filum

:

Subfilum

:

Vertebrata

Kelas

:

Subkelas

:

Ordo

:

Subordo

:

Famili

:

Priacanthidae

Genus

:

Priacanthus

Spesies

:

Priacanthus tayenus

Nama FAO

:

Purple-spotted bigeye

Nama Lokal

: Ikan Swanggi, Ikan Raja Gantang, Ikan Mata Goyang, Ikan

Mata Besar

Ikan Raja Gantang, Ikan Mata Goyang, Ikan Mata Besar Gambar 1. Ikan Swanggi ( Priacanthus tayenus

Gambar 1. Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) (Dokumentasi pribadi)

2.1.2. Karakter biologi

Ikan Swanggi memiliki badan agak tinggi, agak memanjang, dan tipis secara lateral. Profil anterior sedikit asimetrik, ujung rahang bawah biasanya sedikit di atas tingkat garis tengah yang menonjol tubuh. Gigi kecil terdapat pada

asimetrik, ujung rahang bawah biasanya sedikit di atas tingkat garis tengah yang menonjol tubuh. Gigi kecil

4

dentaries, vomer, palatines, dan premaxillaries. Spesies yang lebih kecil kemungkinan memiliki panjang total maksimum 29 cm (FAO 1999). Tulang belakang pada sudut preoperkulum berkembang dengan baik. Jumlah tulang saring insang pada lengkung insang pertama 21 sampai 24. Duri sirip punggung dengan X dan 11 sampai 13 jari lemah. Duri sirip dengan III dan 12-14 jari lemah. Sirip ekor truncate biasanya terdapat pada spesimen yang lebih kecil, tetapi menjadi lunate pada beberapa (mungkin jantan) tapi tidak semua terdapat pada spesimen lebih besar. Jari sirip dada 17-19. Sisik-sisik menutupi terutama bagian badan, kepala, dan dasar sirip kaudal (FAO 1999). Sisik-sisik termodifikasi, sisik-sisik pada bagian tengah lateral dengan bagian posterior atas hilang dan sedikit duri kecil pada spesimen yang lebih besar. Sisik-sisik pada seri lateral 56 sampai 73, sisik-sisik linear lateralis berpori 51 sampai 67. Sisik pada baris vertikal (dari awal sirip dorsal sampai anus) 40 sampai 50. Swimbladder dengan penampang anterior dan posterior, bentuk terkait dengan lubang yang termodifikasi dalam tengkorak. Warna tubuh, kepala, dan iris mata adalah merah muda kemerah-merahan atau putih keperak-perakan dengan merah muda kebiruan, sirip berwarna kemerah mudaan, sirip perut mempunyai karakteristik bintik kecil ungu kehitam-hitaman dalam membran dengan 1 atau 2 titik lebih besar di dekat perut (FAO 1999)

2.1.3. Distribusi Tinggal di perairan pantai di antara bebatuan karang dan terkadang di area yang lebih terbuka pada kedalaman kurang lebih 20 sampai 200 meter. Kumpulan ikan dewasa sering tertangkap oleh perikanan trawl pada waktu yang sama dan relatif secara berkala di Laut Cina Selatan dan Andaman. Rekruitmen secara berkala ke dalam kumpulan kira-kira memiliki total panjang sekitar 12 cm dan mencapai 24 cm sampai tahun depan. Distribusi ikan ini meliputi wilayah pesisir utara Samudera Hindia dari Teluk Persia bagian Timur dan wilayah Pasifik Barat dari Australia bagian Utara dan Pulau Solomon bagian utara sampai Provinsi Taiwan di China (FAO 1999).

Pasifik Barat dari Australia bagian Utara dan Pulau Solomon bagian utara sampai Provinsi Taiwan di China

5

2.2. Alat tangkap

2.2.1. Cantrang Cantrang dapat diklasifikasikan menurut cara pengoperasiannya, bentuk konstruksi serta fungsinya, mempunyai banyak kemiripan dengan pukat harimau. Menurut Subani dan Barus (1989): Cantrang, Dogol, Payang dan Bundes diklasifikasikan ke dalam alat tangkap “danish seine” berbentuk panjang tetapi penggunaannya untuk menangkap Ikan Demersal terutama udang. Pengoperasiannya dilakukan dengan melingkarkan tali slambar dan jaring

pada dasaran yang dituju. Cantrang terdiri dari (1) kantong (codend); bagian tempat berkumpulnya hasil tangkapan yang pada ujungnya diikat dengan tali hasil tangkapan yang pada ujungnya diikat dengan tali hasil tangkapan tidak lolos. (2) Badan; bagian terbesar dari jaring yang terletak diantara kantong dan kaki jaring, terdiri dari bagian kecilkecil dengan ukuran mata jaring yang berbedabeda. (3) Kaki (sayap); terbentang dari badan hingga slambar yang berguna sebagai penghalang ikan masuk ke dalam kantong. (4) Mulut; pada bagian atas jaring relatif sama panjang dengan bagian bawah. Alat tangkap cantrang dioperasikan dengan kapal berukuran 8,5 11 m x 1,5 2,5 m x 1 1,5 m dengan kekuatan mesin 18 27 PK (Budiman 2006). Menurut Subani dan Barus (1989); Daerah penangkapan (fishing ground) cantrang tidak jauh dari pantai, pada bentuk dasar perairan berlumpur atau lumpur berpasir dengan permukaan dasar rata. Daerah tangkapan yang baik kelompok alat tangkap “danish seine” harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a. Dasar perairan rata dengan substrat pasir, lumpur atau tanah liat berpasir.

b. Arus laut cukup kecil (< 3 knot).

c. Cuaca terang tidak ada angin kencang.

2.2.3. Jaring insang dasar (Bottom Gillnet) Jaring insang dasar atau bottom gillnet yaitu alat tangkapyang terbuat dari bahan jaring. Jaring insang dasar berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring yang sama. Jaring insang dasar (bottom gillnet) termasuk dalam klasifikasi jaring insang (gillnet). Menurut Martasuganda (2002), bagian-bagian bottom gillnet yaitu pelampung (float), berfungsi untuk mengapungkan alat

6

tangkap. Tali pelampung (float line), adalah tali yang berfungsi untuk menyambungkan antar pelampung. Tali ris atas dan bawah, berfungsi untuk dipakai memasang atau menggantungkan badan jaring. Tali penggantung badan jaring bagian atas dan bawah (upper bolch line and under bolch line), adalah tali yang berfungsi untuk menyambungkan atau menggantungkan badan jaring pada tali ris. Srampad atas dan bawah (upper selvedge and under selvedge), adalah susunan mata jaring yang ditambahkan pada badan jaring bagian atas dan bagian bawah. Badan jaring atau jaring utama (main net), adalah bagian dari jaring yang digunakan untuk menangkap ikan, Tali pemberat (sinker line), adalah tali yang berfungsi untuk memasang pemberat yang bahannya terbuat dari bahan sintetis seperti haizek, vinylon, polyvinyl chloride, saran atau bahan lainnya yang bisa dijadikan untuk tali pemberat. Pemberat (sinker), berfungsi untuk menghasilkan gaya berat pada bottom gillnet. Ukuran per tinting: panjang 50 m sebelum diikat (37,5 m setelah diikat); lebar 2,94 m sebelum diikat (1,94 m setelah diikat); bahan nilon monofilamen No. 25; Selvedge PE d/3 (Subani dan Barus 1989). Kapal bottom gillnet termasuk ke dalam kelompok kapal dengan metode pengoperasian static gear. Ada dua jenis kapal yang digunakan dalam pengoperasian bottom gillnet, yaitu: a) motor tempel (12-25 PK), ukuran: panjang 6,7 m, lebar 1,5 m, dalam 0,5 m, jaring 14 tinting (pieces); b) motor dalam (6,5-18 PK), ukuran: panjang 7,5 m, lebar 2 m, dalam 1 m, jaring 20-25 tinting (pieces) (Subani dan Barus 1989). Nelayan yang diperlukan untuk mengoperasikan jaring insang dasar yaitu 4 orang nelayan. Nelayan terdiri dari 1 orang nakhoda, 1 orang pengemudi dan 2 orang anak buah kapal (ABK). Nakhoda bertugas menentukan daerah pengoperasian, pengemudi bertugas mengemudikan kapal dan ABK bertugas untuk membantu dalam operasi penangkapan ikan (setting dan hauling) (Krisnandar 2001). Alat bantu pada bottom gillnet berupa net hauler atau net drum, berfungsi untuk menarik jaring pada saat hauling (Sainsburry 1971).

2.3. Pengetahuan tentang Stok

Dalam pengelolaan sumberdaya ikan, pengetahuan tentang stok dan dinamikanya merupakan hal yang sangat penting. Gulland (1982) dalam Sparre &

7

Venema (1999), menyatakan bahwa untuk keperluan pengelolaan perikanan, suatu sub kelompok dari satu spesies dapat dikatakan sebagai suatu stok jika perbedaanperbedaan dalam kelompok tersebut dan “pencampuran” dengan kelompok lain dapat diabaikan. Sehingga stok dapat diartikan sebagai suatu sub gugus dari satu spesies yang mempunyai parameter pertumbuhan dan mortalitas yang sama, dan menghuni suatu wilayah geografis tertentu. Pengetahuan tentang stok berguna dalam memberikan saran tentang pemanfaatan sumberdaya ikan sehingga sumberdaya tersebut dapat

dimanfaatkan secara berkelanjutan. Konsep maximum sustainable yield (MSY), merupakan konsep pengelolaan sumberdaya ikan secara bertanggung jawab (responsible fisheries) dengan mempertahankan kelestarian atau keberlanjutan sumberdaya yang ada. Dalam Sparre & Venema (1999) disebutkan bahwa tujuan pengkajian stok ikan dari stok yang dieksploitasi adalah untuk meramalkan apa yang akan terjadi dalam hal hasil di masa depan, tingkat sustainabilitas biomassa dan nilai dari hasil tangkapan jika upaya penangkapan tetap sama atau berubah karena faktor lain. Faktor yang mempengaruhi jumlah stok ikan di suatu daerah adalah :

1. Rekrutmen (R)

Rekrutmen merupakan penambahan individu dalam suatu populasi. Rekrutmen bersifat positif atau menambah jumlah stok. Rekrutmen akan

menambah jumlah dan biomassa suatu populasi. Rekrutmen berasal dari kelahiran (natalitas). Rekrutmen juga dimungkinkan dengan datangnya atau masuknya individu sejenis yang berasal dari daerah lain, misalnya pada ikanikan peruaya. Secara buatan (campur tangan manusia), rekrutmen dilakukan dengan penebaran benih ke suatu daerah perairan (restocking) yang telah mengalami kekurangan stok suatu jenis ikan.

2. Pertumbuhan (Growth = G)

Pertumbuhan adalah pertambahan berat suatu individu. Parameter pertumbuhan yaitu panjang dan berat individu. Pertumbuhan mempengaruhi stok ikan di suatu daerah. Pertumbuhan bersifat positip terhadap stok. Pertumbuhan tidak menambah jumlah stok, tetapi menambah biomassa suatu stok ikan.

8

3. Kematian alami (Mortalitas = M)

Kematian alami merupakan kematian yang tidak disebabkan oleh campur tangan manusia (penangkapan). Mortalitas alami disebabkan oleh kematian karena pemangsaan (predasi), penyakit, stress, pemijahan, kelaparan dan usia tua. Spesies yang sama yang berada di daerah berbeda mungkin mempunyai tingkat kematian alami yang berbeda, tergantung dari kepadatan pemangsaan dan kepadatan pesaing. Kematian alami bersifat negatif atau mengurangi stok ikan.

4. Penangkapan (catch = C)

Penangkapan bersifat negatif atau mengurangi jumlah stok suatu jenis ikan di daerah tertentu. Faktor penangkapan lebih mudah dimonitor dibandingkan faktor lainnya. Sehingga pengkajian stok ikan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan parameter hasil tangkapan suatu jenis ikan dan upaya penangkapannya, misalnya jumlah kapal, jumlah alat tangkap dan jumlah trip penangkapan.

2.4. Model Bioekonomi Perikanan

Model bioekomi perikanan pertama kali ditulis oleh Gordon (1954) dalam artikelnya menyatakan bahwa sumberdaya perikanan pada umumnya bersifat terbuka (open acces) sehingga setiap orang dapat memanfaatkannya atau tidak seorangpun memiliki hak khusus untuk memanfaatkan sumberdaya alam ataupun melarang orang lain untuk ikut memanfaatkan (common property). Pendekatan bioekonomi diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya karena selama ini permasalahan perikanan terfokus pada maksimalisasi penangkapan dengan mengabaikan faktor produksi dan biaya yang dipergunakan dalam usaha perikanan. Selain itu menurut Clark (1985) dalam Purwanto (2006) bahwa pendekatan bioekonomi adalah pendekatan yang memadukan kekuatan ekonomi yang mempengaruhi industri penangkapan dan faktor biologis yang menentukan produksi dan suplai. Gordon melakukan analisis berdasarkan konsep produksi biologi berdasarkan permasalahan tersebut, kemudian dikembangkan oleh Schaefer (1957), kemudian konsep dasar bioekonomi ini dikenal dengan teori Gordon-Schaefer. Konsep dasar biologi perlu dikemukakan terlebih dulu untuk memahami teori Gordon-Schaefer.

9

Dimisalkan bahwa pada suatu daerah tertentu tidak ada penangkapan ikan, maka laju netto biomasa ikan (dx/dt) adalah :

(

)

(1)

F (x) adalah laju biomassa yang merupakan fungsi dari ukuran biomassa. Jika diasumsikan bahwa daerah tersebut terbatas, secara rasional dapat kita asumsikan bahwa populasi tersebut tumbuh secara proporsional terhadap populasi awal, secara matematis dapat ditulis :

(2)

r dalam istilah biologi perikanan sering disebut intristic growt rate yaitu pertumbuhan alamiah (natalitas dikurangi mortalitas) atau yang sering disebut laju pertumbuhan tercepat yang dimiliki oleh suatu jenis ikan. Dalam kondisi yang ideal, laju pertumbuahan ikan dapat terjadi secara eksponensial, namun karena keterbatasan daya dukung lingkungan maka ada titik maksimum dimana laju pertumbuhan akan mengalami penurunan atau berhenti. Pada titik maksimum ini disebut carrying capacity. Dalam model kuadratik (logistik), maka fungsi logistik tersebut secara matematis ditulis sebagai berikut :

( -

)

(3)

r adalah laju pertumbuhan intristik (intistik growth rate) dan K adalah carrying capacity. Dari persamaan (3) di atas terlihat bahwa dalam kondisi kesimbangan (ekuilibrium) laju pertumbuhan sama dengan nol (dt/dx=0) maka populasi sama dengan carrying capacity sedangkan pertumbuhan masimum akan terjadi pada setengah dari carrying capacity. Pada kondisi ini disebut juga sebagai Maximum Sustainable Yield (MSY) (Gambar 2).

10

10 Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Logistik (Nabunome 2007) Bila pada suatu daerah tertentu dilakukan penangkapan ikan

Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Logistik (Nabunome 2007)

Bila pada suatu daerah tertentu dilakukan penangkapan ikan maka laju perubahan netto biomassa ikan (dx/dt) ditentukan oleh kemampuan reproduksi alamiah dan jumlah ikan yang ditangkap dari stok ikan tersebut. Secara matematis, laju perubahan netto biomassa dapat dirumuskan sebagai berikut :

(

)

(4)

F (x) adalah laju pertumbuhan alami dari stok ikan, x dan C adalah jumlah ikan yang ditangkap pada waktu tertentu (C = c(t)) memiliki hubungan yang proposional dengan upaya penangkapan (E). Bila E merupakan indeks dari sarana produksi termasuk kapal dan alat tangkap, maka jumlah ikan yang ditangkap dalam kurun waktu tertentu (C) dapat dihitung dengan persamaan :

(5)

Adanya aktivitas penangkapan ikan tersebut, maka persamaan (4) dapat dituliskan sebagai berikut :

(

)

(

)

(6)

Persamaan (6) dapat diilustrasikan pada Gambar 3. Gambar 3, menunjukan bahwa jika kegiatan penangkapan tetap bertambah, ternyata tidak menghasilkan produksi yang lebih besar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat eksploitasi seperti ini tidak efisien secara ekonomis, karena tingkat eksploitasi yang sama dilakukan dengan upaya yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena biaya yang dikeluarkan pada saat melakukan penangkapan ikan C3 lebih besar dibandingkan dengan biaya C1. Berdasarkan hal tersebut perlu dijelaskan dengan aspek ekonomi mengenai tingkat efisiensi dan optimasi penangkapan. Lambang C (catch) sama halnya dengan h (harvest atau yield).

11

11 Gambar 3. Hubungan Tangkapan ( Catch) dengan Upaya ( Effort ) (Seijo et al. 1998)

Gambar 3. Hubungan Tangkapan (Catch) dengan Upaya (Effort) (Seijo et al. 1998)

Sebelum menjelaskan aspek ekonomi perikanan, sebelumnya perlu dijelaskan penurunan kurva tangkap lestari pada Gambar 3. Dalam kondisi kesimbangan jangka panjang (long run) maka persamaan (6) berubah menjadi :

(

-

)

(7)

sehingga kalau kita pecahkan persamaan diatas untuk x, akan diperoleh persamaan sebagai berikut

( ) (8)

kemudian dengan mensubsitusikan persamaam (8) ke dalam persamaan (5) maka akan diperoleh fungsi tangkap lestari (sustainable yield) :

 

(

)

(9)

(

)

(

)

(10)

Persamaan di atas (9) merupakan persamaan kuadratik. C (catch) atau h (yield) kuadratik terhadap effort dan jika digambarkan menunjukan sebuah parabola yang menggambarkan fungsi prouksi perikanan dalam jangka panjang, dimana yield tergantung dari tingkat fishing effort dalam sebuah kesimbangan populasi yang disebut Sustainable Yield. Kurva produksi lestari dapt digambarkan pada gambar berikut :

12

12 Gambar 4. Kurva Statis Schaefer (Clark et al .1985) Bila diasumsikan α = qK dan

Gambar 4. Kurva Statis Schaefer (Clark et al.1985)

Bila diasumsikan α = qK dan β = maka persamaan (10) dapat dituliskan :

C = αE – βE 2

Titik MSY pada Gambar 4 dapat diperoleh dengan menurunkan persamaan hasil

tangkapan lestari (11) terhadap upaya tangkap, sehingga :

E MSY =α/2β, C MSY = α 2 /4β

Koefisien parameter lestari (α dan β) dapat diestimasi dengan regresi sederhana model Shaefer berikut :

(11)

(12)

= αE – βE 2

(13)

Pada Gambar 4 terlihat bahwa jika tidak ada aktivitas perikanan (Upaya=0) produksi juga nol. Ketika upaya terus dinaikan pada titik E MSY akan diperoleh produksi maksimum. Produksi pada titik ini disebut Maximum Sustaianable Yield. Karena sifat kurva Yield-Effort yang berbentuk kuadratik, maka peningkatan upaya yang terus menerus melewati titik E MSY maka produksi akan turun kembali, bahkan mencapai nol (pada titik upaya maximum E MSY ). Berdasarkan nilai MSY yang diperoleh dari model Schaefer maka Gordon menambahkan faktor ekonomi dengan memasukan harga dan biaya. Pada pengembangkan model Gordon-Schaefer menurut Fauzi (2010) digunakan asumsi-asumsi untuk memudahkan pemahaman yaitu :

1. Harga per satuan upaya output diasumsikan konstan atau kurva permintaan diasumsikan elastis sempurna.

2. Biaya per satuan upaya (c) dianggap konstan.

3. Spesies sumberdaya ikan bersifat tunggal (single species).

4. Struktur pasar bersifat kompetitif.

5. Hanya faktor penangkapan yang diperhitungkan (tidak termasuk faktor pasca panen dan lain sebagainya).

13

Dengan menggunakan asumsi-asumsi di atas dan kurva sustainable yield

effort maka dengan mengalikan harga tersebut dengan MSY (C) maka akan

diperoleh kurva penerimaan sebagai total revenue (TR) = p.C, sedangkan kurva

biaya kita asumsikan linear terhadap effort, sehingga fungsi biaya menjadi TC =

c.E. Bila diasumsikan harga ikan dan biaya dari upaya konstan, maka akan

diperoleh keuntungan (rente) bersih suatu industri perikanan, melalui persamaan

berikut (Clark 1980) :

π

= pC t cE t

= (pqx t c)E t

(14)

Dalam kondisi akses terbuka, rente ekonomi sama dengan nol (π=0) atau

̅

(15)

jika digabungkan fungsi penerimaan dan biaya tersebut dalam suatu gambar, akan

diperoleh kurva seperti Gambar 5 yang akan menguraikan inti dari model Gordon -

Schaefer mengenai keseimbangan ekonomi.

dari model Gordon - Schaefer mengenai keseimbangan ekonomi. Hubungan antara maximum economic yield (MEY), maximum

Hubungan antara maximum economic yield (MEY), maximum sustainable Yield (MSY) dan open acces (OA) (Nabunome 2007)

Gambar 5 merupakan inti dari teori Gordon mengenai keseimbangan

bioekonomi pada kondisi open acces suatu perikanan akan berada pada titik

Gambar 5.

kesimbangan pada tingkat effort open acces (E OA ) dimana penerimaan total (TR)

14

sama dengan biaya total (TC). Pelaku perikanan hanya menerima rente ekonomi sumberdaya sama dengan nol. Tingkat upaya pada pada posisi ini adalah tingkat upaya dalam kondisi keseimbangan yang oleh Gordon disebut sebagai Bioeconomic equilibrium of open acces fishery” atau keseimbangan bioekonomi dalam kondisi akses terbuka. Pada setiap upaya lebih rendah dari E OA (sebelah kiri dari E OA ) penerimaan total lebih dari biaya total. Pada kondisi ini pelaku perikanan (nelayan) akan tertarik untuk menangkap ikan karena akses yang tidak dibatasi dan bertambahnya pelaku masuk (entry) ke industri perikanan. Bila dilihat dari pendapatan rata-rata maka penerimaan marginal dan biaya marginal dari penurunan konsep penerimaan total dan biaya total seperti pada Gambar 5. Setiap titik disebelah kiri E OA , penerimaan rata-rata setiap unit effort lebih besar dari biaya rata-rata per unit. Rente yang diperoleh dari pengelolaan sumberdaya T1 untuk titik effort maximum economic yield (E MEY ). Keadaan ini akan memungkinkan terjadinya entry atau pelaku perikanan yang sudah ada untuk memaksimalkan manfaat ekonomi yang diperoleh. Sebaliknya pada titik-titik sebelah kanan E OA biaya rata-rata per satuan upaya lebih besar dibandingkan penerimaan rata-rata per unit. Pada kondisi ini akan menyebabkan nelayan keluar atau entry tidak ada. Pada Gambar 5 jelas bahwa tingkat E OA terjadi kesimbangan pada pengelolaan perikanan, maka pada kondisi ini entry dan exit tidak terjadi. Jika pada Gambar 5 keuntungan lestari (Sustainable profit) akan diperoleh secara maksimum pada tingkat effort MEY, dimana dapat dilihat pada jarak horisontal terbesar antara penerimaan dan biaya yang diperoleh (T1), dalam literatur ekonomi sumberdaya ikan, tingkat upaya ini sering disebut sebagai Maximum Economic Yield (MEY) produksi yang maksimum secara ekonomi. Pada titik E OA tingkat upaya (effort) yang dibutuhkan jauh lebih besar dari upaya MSY dan MEY untuk memperoleh keuntungan yang optimal dan lestari. E OA memberikan tingkat upaya yang optimal secara sosial (Social Optimum). Berdasarkan ilmu ekonomi, kesimbangan open acces menimbulkan terjadi alokasi yang tidak tepat (missallocation) karena kelebihan faktor produksi (tenaga kerja dan modal) dalam perikanan yang seharusnya bisa digunakan untuk ekonomi produktif lain.

15

Inilah sebenarnya inti prediksi Gordon bahwa perikanan open acces akan menyebabkan terjadinya kondisi economic overfishing. Selain itu juga bahwa keseimbangan open acces dicirikan dengan terlalu banyak input sehingga stok sumberdaya akan diekstraksi sampai pada titik yang terendah sebaliknya pada tingkat MEY input tidak terlalu banyak tetapi keseimbangan biomas pada tingkat yang lebih tinggi (Nabunome 2007).

2.5. Pola Musim Penangkapan

Informasi yang tepat diperlukan untuk melakukan operasi penangkapan yang efisien, seperti informasi mengenai musim penangkapan yang baik. Informasi mengenai pola musim penangkapan digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam pelaksaan operasi penangkapan (Dajan 1984 in Bahdad 2006). Penggunaan pendekatan metode rata-rata bergerak (moving average) dapat dilakukan untuk perhitungan operasi penangkapan menggunakan data hasil penangkapan seperti halnya data lainnya yang bersifat musiman. Pendekatan tersebut bertujuan untuk menghilangkan variasi musiman, residu, dan adakalanya sebagian dari variasi siklus agar diperoleh trend yang bercampur dengan siklus. Variasi musim adalah fluktuasi-fluktuasi di sekitar trend yang berulang secara teratur tiap tahun, residu merupakan jenis fluktuasi yang disebabkan oleh faktor-faktor random. Trend (kecenderungan) menggambarkan gerakan deret berkala secara rata-rata dan variasi siklus adalah variasi deret berkala yang meliputi periode setahun lebih, dengan lama dan amplitudo siklus tidak pernah sama. Nilai trend bercampur siklus ini akan digunakan sebagai pembagi deret berkala asal untuk memperoleh data berkala yang bebas dari trend dan siklus. Variasi musim murni diperoleh dengan cara merata-ratakan deret berkala yang bebas dari trend dan siklus. Metode rata-rata bergerak (moving average) memiliki keuntungan yaitu dapat mengisolasi fluktuasi musiman sehingga dapat menetukan saat yang tepat untuk melakukan operasi penangkapan dan kecenderungan yang biasa terdapat pada metode deret waktu dapat dihilangkan. Kerugian dari metode rata-rata bergerak (moving average) adalah tidak dapat menghitung pola musim penangkapan sampai tahun terakhir data (Bahdad 2006).

16

Menurut Zacharia et al. (1991), kelimpahan maksimum Priacanthidae di pesisir Dakshina Kannada India yaitu selama musim peralihan pada bulan Februari, hasil produksi tangkapan pada bulan Januari pun terlihat bagus. Vijayakumaran & Naik (1988) melaporkan bahwa hasil tangkapan Priacanthus hamrur tertinggi yang diadaratkan di Karnataka, India didapatkan pada bulan Maret dan berasal dari kedalaman 51-100 m dan 151-200 m, sementara hasil tangkapan pada bulan September-November tergolong rendah. Hasil tangkapan P. hamrur sangat melimpah di Vishakhapatnam India terjadi selama bulan Maret-April dan Juli (Sivakami 2001). Kegiatan penangkapan ikan dapat bersifat musiman, dengan kata lain kegiatan penangkapan ikan dapat berubah karena selain ada masa ketika ikan melimpah di laut dan lokasinya dapat diakses nelayan dengan mudah juga ada periode waktu lain ketika ikan jarang ada di laut dan lokasinya juga sulit dicapai nelayan. Musim penangkapan di Indonesia sangat berkaitan dengan kondisi laut yang dipengaruhi angin monsoon. Angin monsoon pertama berasal dari Australia yag sedang mengalami musim dingin dan kering. Angin monsoon kedua berasal dari arah barat lau membawa uap di Samudera Pasifik. Hal tersebut menyebabkan, kondisi perairan di bagian barat dan timur tidak selalu sama di saat yang sama. Ketika periode monsoon barat, perairan Indonesia di sebelah barat umumnya bergelombang tinggi dan hujan lebat, sedangkan perairan di sebelah timur umumnya tenang. Sebaliknya ketika periode mosoon tenggara perairan Indonesia di sebelah barat dan di sebelah timur umumnya bergelombang tinggi (Sandita

2010).

2.6. Daerah Penangkapan Daerah penangkapan atau dalam bidang perikanan lebih dikenal dengan

istilah fishing ground, yaitu tempat penangkapan. Secara umum fishing ground dapat diartikan segala tempat dimana ikan ada dan alat tangkap dapat dioperasikanMenurut Djatikusumo (1977), daerah penangkapan mempunyai syarat sebagai berikut :

1. Jumlah besar daripada ikan-ikan yang ada yang akan ditangkap (populasi besar)

2. Mudahnya alat tangkap beroperasi

17

3. Ekonomis Fishing ground tidak selalu pasti, tetapi tergantung macam alat tangkap, bentuk-bentuk tertentu dari macam penangkapan dapat memungkinkan beroperasinya di suatu daerah dimana jenis yang lain tidak dapat digunakan. Misalnya, di perairan sekitar karang, alat tangkap sejenis trawl tidak dapat digunakan meskipun terdapat banyak ikan. Namun penangkapan akan berjalan dengan mudah dengan menggunakan pancing (long line) (Djatikusumo 1977).

2.7. Tangkapan per Satuan Upaya

Tangkapan per Satuan Upaya (TPSU) merupakan jumlah atau bobot hasil tangkapan yang diperoleh adari satuan alat tangkap atau dalam waktu tertentu, yang merupakan indeks kelimpahan suatu stok ikan (UU No. 45 tahun 2009). TPSU dapat dipengaruhi oleh satuan waktu, besarnya stok, kegiatan penangkapan, dan kondisi lingkungan di daerah penangkapan ikan. Apabila satuan waktu yang digunakan adalah tahun, perubahan kondisi lingkungan perairan dalam satu tahun tertentu memiliki kecenderungan pola yang sama pada tahun-tahun berikutnya

(DKP DKI Pandeglang 2005 in Damayanti 2007).

2.8. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Besarnya sumberdaya ikan laut di Indonesia dapat menimbulkan persaingan dalam proses penangkapannya, karena sumberdaya ikan ini merupakan milik bersama (common property) yang setiap orang berhak memanfaatkannya (open access). Persaingan yang dilakukan pelaku perikanan terlihat dari usaha yang dilakukan menggunakan tekhnologi yang terus berkembang dan dieksploitasi secara terus-menerus hingga terjadi konflik antar pelaku perikanan saat sumberdaya ikan yang ada semakin menipis. Dalam Undangundang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, dijelaskan bahwa pengelolaan sumberdaya ikan adalah semua upaya yang dilakukan bertujuan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati perairan secara optimal dan terus menerus. Menurut Gulland (1982), tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi :

18

1. Tujuan yang bersifat fisik biologik, yaitu dicapainya tingkat pemanfaatan dalam level hasil maksimum yang lestari (maximum sustainable yield = MSY).

2. Tujuan yang bersifat ekonomik, yaitu tercapainya keuntungan maksimum dari pemanfaatan sumberdaya ikan atau maksimalisasi profit (net income) dari perikanan.

3. Tujuan yang bersifat sosial, yaitu tercapainya keuntungan sosial yang maksimal, misalnya maksimalisasi penyediaan pekerjaan, menghilangkan adanya konflik kepentingan diantara nelayan dan anggota masyarakat lainnya. Dwiponggo (1983) in Pranggono (2003) mengatakan, tujuan pengelolaan

sumberdaya perikanan dapat dicapai dengan beberapa cara, antara lain:

1. Pemeliharaan proses sumberdaya perikanan, dengan memelihara ekosistem penunjang bagi kehidupan sumberdaya ikan.

2. Menjamin pemanfaatan berbagai jenis ekosistem secara berlanjut.

3. Menjaga keanekaragaman hayati (plasma nuftah) yang mempengaruhi ciriciri, sifat dan bentuk kehidupan.

4. Mengembangkan perikanan dan teknologi yang mampu menumbuhkan industri

yang mengamankan sumberdaya secara bertanggung jawab. Badrudin (1986) in Lembaga Penelitian UNDIP (2000) menyatakan bahwa

prinsip pengelolaan sediaan ikan dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Pengendalian jumlah upaya penangkapan : tujuannya adalah mengatur jumlah

alat tangkap sampai pada jumlah tertentu.

2. Pengendalian alat tangkap : tujuannya adalah agar usaha penangkapan ikan

hanya ditujukan untuk menangkap ikan yang telah mencapai umur dan ukuran tertentu. Berdasarkan prinsip tersebut, maka pengelolaan sumberdaya perikanan harus memiliki strategi sebagai berikut :

1. Membina struktur komunitas ikan yang produktif dan efisien agar serasi dengan proses perubahan komponen habitat dengan dinamika antar populasi.

2. Mengurangi laju intensitas penangkapan agar sesuai dengan kemampuan produksi dan daya pulih kembali sumberdaya ikan, sehingga kapasitas yang optimal dan lestari dapat terjamin.

19

3. Mengendalikan dan mencegah setiap usaha penangkapan ikan yang dapat menimbulkan kerusakankerusakan maupun pencemaran lingkungan perairan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam Sutono (2003) disebutkan beberapa pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan, yaitu :

1. Pengaturan musim penangkapan Pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pengaturan musim penangkapan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sumberdaya ikan untuk berkembang biak. Secara biologi ikan mempunyai siklus untuk memijah, bertelur, telur menjadi larva, ikan muda dan baru kemudian menjadi ikan dewasa. Bila salah satu dari siklus tersebut terpotong, misalnya karena penangkapan, maka sumberdaya ikan tidak dapat melangsungkan daur hidupnya. Hal ini dapat menyebabkan ancaman kepunahan sumberdaya ikan tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu pengaturan musim penangkapan ikan. Pengaturan musim penangkapan ikan dapat efektif pada negara-negara yang sistem hukumnya dilaksanakan dengan ketat. Bila penegakan hukum tidak dapat dilaksanakan, maka pengaturan musim penangkapan ikan tidak dapat efektif, karena tentu terjadi banyak pelanggaran. Dalam pengaturan musim penangkapan ikan juga perlu diketahui terlebih dahulu sifat biologi dari sumberdaya ikan tersebut. Sifat biologi dimaksud meliputi siklus hidup, lokasi dan waktu terdapatnya, serta bagaimana reproduksinya. Pengaturan musim penangkapan dapat dilaksanakan secara efektif bila telah diketahui antara musim ikan dan bukan musim ikan dari jenis sumberdaya ikan tersebut. Selain itu juga perlu diketahui musim ikan dari jenis ikan yang lain, sehingga dapat menjadi alternatif bagi nelayan dalam menangkap ikan. Misalnya, bila terhadap suatu jenis ikan dilarang untuk ditangkap pada waktu tertentu, maka nelayan dapat menangkap jenis lain pada waktu yang sama. Kendala yang mungkin timbul pada pelaksanaan kebijakan pengaturan musim penangkapan ikan adalah (1) belum adanya kesadaran nelayan tentang pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya ikan yang ada, (2) lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh aparat, (3) terbatasnya sarana pengawasan.

20

2. Penutupan daerah penangkapan

Kebijakan penutupan daerah penangkapan dilakukan bila sumberdaya ikan yang ada telah mendekati kepunahan. Penutupan daerah penangkapan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada sumberdaya ikan yang mendekati kepunahan untuk berkembang kembali sehingga stoknya dapat bertambah. Guna menentukan suatu daerah penangkapan ditetapkan untuk ditutup, maka perlu dilakukan penelitian tentang stok sumberdaya ikan yang ada pada daerah tersebut, dimana dan kapan terdapatnya, serta karakteristik lokasi yang akan dilakukan penutupan

daerah penangkapan. Penutupan daerah penangkapan juga dapat dilakukan terhadap daerahdaerah yang merupakan habitat vital, seperti daerah hutan bakau dan daerah terumbu karang. Seperti diketahui bahwa daerah vital tersebut merupakan daerah berpijah (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground). Penutupan daerah penangkapan untuk daerah vital dimaksudkan agar telurtelur ikan, larva dan ikan yang masih kecil dapat tumbuh menjadi ikan dewasa. Untuk mendukung kebijakan penutupan daerah penangkapan, diperlukan pengawasan yang ketat oleh pihak aparat. Demikian pula halnya dengan peraturan yang ada, perlu ditetapkan peraturan yang bersifat represif. Upaya ini dilakukan demi menjaga kelestarian sumberdaya ikan jenis tertentu yang mengalami ancaman kepunahan.

3. Selektifitas alat tangkap

Kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan selektifitas alat tangkap bertujuan untuk mencapai atau mempertahankan struktur umur atau struktur ukuran ikan dalam suatu stok pada suatu daerah. Selektifitas alat tangkap

dilakukan untuk menyeleksi ikan yang akan ditangkap. Dengan demikian hanya ikanikan yang telah mencapai ukuran tertentu saja yang ditangkap. Sementara ikanikan yang lebih kecil tidak tertangkap, sehingga dapat memberi kesempatan bagi ikanikan kecil untuk tumbuh menjadi besar. Contoh penerapan pengelolaan sumberdaya ikan dengan pendekatan selektifitas alat tangkap, ialah :

1) Penentuan ukuran minimum mata jaring (mesh size) pada alat tangkap gill net, purse seine dan alat tangkap tarik, misalnya payang, pukat dan sebagainya.

21

2) Penentuan ukuran mata pancing pada longline. 3) Penentuan lebar bukaan pada alat tangkap perangkap Dalam pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan selektifitas alat tangkap ini, peran nelayan sangat penting. Pengetahuan dan kesadaran nelayan akan pentingnya pelestarian sumberdaya ikan merupakan faktor utama keberhasilan kebijakan pengelolaan ini. Hal ini disebabkan aparat sulit untuk melakukan pengendalian dan pengawasan karena banyaknya jenis alat tangkap (multi gears) yang beroperasi di Indonesia. Kendala pelaksanaan kebijakan dengan selektifitas alat tangkap yaitu diperlukan biaya yang tinggi untuk memodifikasi alat tangkap yang sudah ada. Sehingga peran nelayan untuk memodifikasi alat tangkapnya sangat diharapkan sesuai dengan keadaan lokasi penangkapannya. 4. Pelarangan alat tangkap Pengelolaan sumberdaya ikan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap didasarkan pada adanya penggunaan bahan atau alat berbahaya dalam menangkap ikan baik bagi ekosistem perairan maupun berbahaya bagi yang menggunakan, misalnya penggunaan racun ikan dan bahan peledak (bom ikan). Tujuan dari pelarangan penggunaan alat atau bahan berbahaya ini adalah melindungi sumberdaya ikan dan ekosistem yang ada yang bermanfaat bagi kehidupan biota air. Sebagai contoh penggunaan racun ikan, selain menyebabkan kematian ikan sasaran, juga menyebabkan kematian pada ikanikan yang masih kecil dan telur ikan. Penggunaan bahan peledak dapat menyebabkan kerusakan habitat ikan dan kematian biota air lainnya yang bukan merupakan sasaran penangkapan. Seringkali pelanggaran terhadap peraturan pelarangan penggunaan alat atau bahan berbahaya ini tidak ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal ini menyebabkan pelaksanaan peraturan pelanggaran penggunaan alat atau bahan berbahaya ini tidak efektif. Oleh karena itu efektifitas pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap ini sangat tergantung pada penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat. Dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap ini, kepedulian nelayan dan masyarakat pesisir menjadi faktor yang sangat penting. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dalam

22

pelaksanaannya sangat membantu aparat untuk menindak secara tegas pelanggaran yang terjadi.

5. Kuota penangkapan

Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan kuota penangkapan adalah upaya pembatasan jumlah ikan yang boleh ditangkap (Total Allowable Catch = TAC). Kuota penangkapan diberikan oleh Pemerintah kepada industri atau perusahaan penangkapan ikan yang melakukan penangkapan pada suatu perairan di wilayah negara Indonesia. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya suatu jenis ikan,

maka nilai TAC harus di bawah Maximum Sustainable Yield (MSY)nya, sehingga sebelum nilai TAC ditentukan, perlu diketahui terlebih dahulu nilai MSY nya. Implementasi dari kuota penangkapan dengan TAC ialah, (1) penentuan TAC secara keseluruhan pada skala nasional atas suatu jenis ikan di perairan tertentu, kemudian diumumkan kepada semua nelayan sampai secara total mencapai TAC yang ditentukan, bila telah tercapai TAC, maka aktifitas penangkapan terhadap jenis ikan tersebut dihentikan dengan kesepakatan bersama; (2) membagi TAC kepada semua nelayan dengan keberpihakan kepada nelayan atas dasar keadilan, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial akibat perbedaan pendapatan nelayan; (3) dengan membatasi atau mengurangi efisiensi penangkapan ikan sehingga TAC tidak terlampaui.

6. Pengendalian upaya penangkapan

Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan pengendalian upaya penangkapan didasarkan pada hasil tangkapan maksimum agar dapat menjamin kelestarian sumberdaya ikan tersebut. Pengendalian upaya penangkapan dapat dilakukan dengan membatasi jumlah alat tangkap, jumlah armada, maupun jumlah trip penangkapan. Untuk menentukan batas upaya penangkapan diperlukan data time series yang akurat tentang jumlah hasil tangkapan suatu jenis ikan dan jumlah upaya penangkapannya di suatu daerah penangkapan. Mekanisme pengendalian upaya penangkapan yang paling efektif adalah dengan membatasi izin usaha penangkapan ikan pada suatu daerah penangkapan. Pengelolaan perikanan harus dilakukan dengan baik, dengan salah satu upaya dalam suatu pengelolaan adalah monitoring sehingga kondisi sumberdaya dapat

23

terus terpantau dengan baik. Tujuan pengelolaan sumberdaya perikanana adalah tercapainya kesejahteraan para nelayan, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, penghasil devisa, dan mengetahui porsi optimum pemanfaatan oleh armada penangkapan ikan serta menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan berdasarkan tangkapan maksimum lestari (Boer dan Azis 2007).

3. BAHAN DAN METODE

3. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini mengikuti penelitian bagian Manajemen Sumberdaya

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengikuti penelitian bagian Manajemen Sumberdaya Perikanan (MSPi) dan dilaksanakan selama periode bulan Maret 2011 hingga Oktober 2011 dengan interval waktu pengambilan contoh 1 bulan. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten (Gambar 6).

Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten (Gambar 6). Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian (Dinas Hidro-Oseanografi

Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian (Dinas Hidro-Oseanografi 2004)

3.2. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, peta Labuan, daftar pertanyaan (kuesioner), dan alat dokumentasi (recorder, kamera). Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer meliputi antara lain : produksi, biaya per trip, harga ikan, biaya operasional per trip, dan

25

daerah penangkapan. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi produksi hasil tangkapan dan data upaya penangkapan ikan (trip) selama 8 tahun.

3.3.

Pengumpulan Data

3.3.1.

Data primer

Dalam pengumpulan data primer, teknik yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Wawancara. Wawancara dilakukan terhadap 30 responden nelayan yang menangkap ikan swanggi dengan menggunakan media kuisioner (daftar pertanyaan). Wawancara terhadap nelayan bertujuan untuk mengetahui :

1) Rata-rata produksi hasil tangkapan per trip 2) Biaya aktual yang didapatkan dari rata-rata biaya operasi penangkapan per trip 3) Rata-rata pendapatan per trip 4) Jumlah trip selama 1 tahun 5) Musim dan daerah penangkapan 6) Strategi kebijakan Pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Labuan Peta ditunjukkan kepada responden ketika mengajukan pertanyaan musim dan daerah penangkapan. Lama perjalanan menuju lokasi penangkapan juga perlu diketahui untuk mendapatkan informasi daerah penangkapan yang tepat. 2. Dokumentasi. Metode ini memudahkan dalam pelaksanaan artinya apabila ada kekeliruan dalam pencatatan maka sumber datanya masih tetap atau tidak berubah. Metode ini juga digunakan untuk mendokumentasikan keadaan lokasi penelitian, deskripsi profil dan latar belakang studi.

3.3.2. Data sekunder

Data sekunder yang digunakan berupa data produksi hasil tangkapan dan data upaya penangkapan (trip) selama 8 tahun, data selang kelas panjang, dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Data produksi hasil tangkapan dan data upaya penangkapan diperoleh dari UPT (Unit Pelaksana Teknis) di PPP Labuan,

26

sedangkan data selang kelas panjang dan TKG diperoleh dari penelitian reproduksi

ikan swanggi yang dilakukan oleh Ballerena (2012).

3.4.

Analisis Data

3.4.1.

Tangkapan per satuan upaya

Data tangkapan dan upaya ikan swanggi dapat dikaji dengan menghitung

nilai hasil tangkapan per upaya penangkapan, yang dapat dirumuskan sebagai

berikut :

TPSU adalah jumlah tangkapan per satuan upaya, T adalah jumlah tangkapan

tahunan ikan swanggi (ton) dan U adalah jumlah upaya tahunan ikan swanggi.

Selanjutnya TPSU ini disajikan dalam satuan ton, sedangkan data upaya

penangkapan (effort) yaitu alat tangkap jaring cantrang dan jaring rampus yang

disajikan dalam satuan trip.

3.4.2. Analisis pola musim penangkapan ikan

Pola musim penangkapan dianalisis dengan menggunakan metode rata-rata

bergerak (moving average) seperti yang dekemukakan oleh Dajan (1986) in Taeran

(2007) dengan langkah sebagai berikut :

a) Menyusun deret TPSU i bulan Januari 2001 hingga Desember 2011

Keterangan :

i

n

: 1, 2, 3,

: TPSU urutan ke-i

, 96

i

b) Menyusun rata-rata bergerak TPSU selama 12 bulan (RG)

 

Keterangan

:

Rg i

: Rata-rata bergerak 12 bulan urutan ke-i : CPUE urutan ke-i

TPSU i

i

: 1, 2, 3,

, 96

j

: 7, 8, 9,

, 91

27

c) Menyusun rata-rata bergerak TPSU terpusat (RGP)

 

Keterangan

:

Rg i

: Rata-rata bergerak 12 bulan urutan ke-i : Rata-rata bergerak terpusat urutan ke-i : CPUE urutan ke-i

RGPi

TPSU i

i

: 1, 2, 3,

, 96

j

: 7, 8, 9,

, 91

d) Rasio rata-rata bulan (Rb)

Keterangan :

Rb i : Rasio rata-rata bulan ke-i

RGPi : Rata-rata bergerak terpusat urutan ke-i

TPSU i : TPSU urutan ke-i

i : 1, 2, 3,

, 96

e) Menyusun nilai rata-rata dalam suatu matriks berukuran i x j yang disusun

untuk setiap bulannya, dimulai dari bulan Juli. Kemudian menghitung nilai

total rasio rata-rata tiap bulan, menghitung total rasio rata-rata secara

keseluruhan, dan menghitung indeks musim penangkapan.

1)

Rasio rata-rata untuk bulan ke-i (RRB i )

 

Keterangan

:

RRB i

RB ij

: Rata-rata RB ij untuk bulan ke-i : Rasio rata-rata bulanan dalam matriks ukuran i x j

i

: 1, 2, 3,

, 12

j

: 1, 2, 3,

, n

2)

Jumlah rasio rata-rata bulanan (JRRB)

Keterangan

:

JRRB i

: Jumlah rasio rata-rata bulan

RRB i

: Rata-rata RB ij untuk bulan ke-i

i

: 1, 2, 3,

, 12

28

3)

Menghitung faktor koreksi :

Keterangan

:

FK

: Nilai faktor koreksi

JRRB

: Jumlah rasio rata-rata bulanan

4)

Indeks musim penangkapan

Keterangan

:

IMP i

: Indeks musim penangkapan bulan ke-i

RBB i

: Rasio rata-rata untuk bulanan ke-i

i

: 1, 2, 3,

, 12

Kriteria Indeks Musim Penangkapan (IMP) :

IMP < 50 % IMP 50%<IMP<100%

IMP>100%

: Musim paceklik : Bukan musim penangkapan : Musim penangkapan

3.4.3. Model bioekonomi perikanan

Model bioekonomi merupakan salah satu cara pendekatan yang paling mudah

dan sederhana untuk mengetahui MSY, E MSY , E MEY ,MEY dan E OA . Ikan swanggi

yang tertangkap diasumsikan bersifat tunggal (single species), sesuai dengan

pernyataan Fauzi (2010) bahwa untuk mengembangkan model Gordon-Schaefer

spesies sumberdaya ikan diasumsikan bersifat tunggal (single species). Secara

umum langkah-langkah yang dilakukan untuk mengimplementasikan model

Gordon-Schaefer pada penelitian ini yaitu :

1. Melakukan estimasi parameter biologi K, q, dan r dari data time series

produksi, upaya, dan TPSU menggunakan Algoritma Fox dengan rumus

sebagai berikut : ( [ | ) |] [( ) ( )] *( ) (
sebagai berikut :
(
[
|
) |]
[(
)
(
)]
*(
)
(
)+

[(

)

(

)]

2. Melakukan pendugaan parameter ekonomi, yaitu harga per satuan output

(Rp/kg) dan biaya per satuan input (Rp/trip) dari data primer atau data hasil

wawancara.

28

29

3. Melakukan analisis bioekonomi dengan menggunakan model Gordon-

Schaefer. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program Microsoft

Excel.

Berikut adalah rumus yang digunakan untuk melakukan analisis bioekonomi model

Gordon-Schaefer :

Tabel 1. Rumus bioekonomi model Gordon-Schaefer

   

OA

 

MEY

 

MSY

h

(

)

(

)

(

)

 

E

(

)

 

(

)

 

Keterangan :

h

= yield

E

= effort

p

= harga

c

= biaya

q

= koefisien alat tangkap

K

= Daya dukung

r

= laju populasi intrinsik

Sesuai dengan asumsi bahwa harga ikan per kilogram (p) dikonversikan

dalam rupiah dan biaya penangkapan per unit upaya (c) adalah konstan, maka total

pendapatan (TR) dan total biaya (TC) dapat dihitung menggunakan rumus berikut

TR = p.C

TC = c.E

Untuk menghitung keuntungan usaha penangkapan ikan (profit) dengan persamaan

berikut :

π = TR TC

3.4.4. Pola pengelolaan

Menurut Sutono (2003) dapat ditempuh dengan beberapa cara antara lain :

1)

Pengaturan musim tangkap

2)

Pentutupan daerah penangkapan

3)

Selektifitas alat tangkap

4)

Pelarangan alat tangkap

5)

Kuota penangkapan

29

30

6) Pengendalian upaya penangkapan

Widodo dan Suadi (2006) juga menyatakan bahwa pengelolaan perikanan dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :

1)

2) Pengaturan batas ukuran ikan yang boleh ditangkap, didaratkan atau dipasarkan

Pengaturan ukuran mata jaring

3)

Kontrol terhadap musim penangkapan ikan

4)

Kontrol terhadap daerah penangkapan ikan

5)

Pengaturan terhadap alat tangkap serta kelengkapannya

6)

Perbaikan dan peningkatan sumberdaya hayati

7) Pengaturan hasil tangkapan total per jenis, kelompok jenis, atau bila memungkinkan per lokasi atau wilayah 8) Setiap tindakan langsung yang berhubungan dengan konservasi semua jenis ikan dan sumberdaya hayati lainnya dalam wilayah tertentu.

30

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi umum PPP Labuan PPP Labuan secara administratif

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi umum PPP Labuan PPP Labuan secara administratif terletak di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. PPP Labuan memiliki batas administratif, di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Labuan dan Desa Cigondang, sebelah utara berbatasan dengan Desa Caringin dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Banyumekar (Kartika 2007). Posisi PPP Labuan berada pada wilayah perairan Selat Sunda yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia 1 (ALKI-1). Lokasi PPP Labuan berada pada titik koordinat 06°24’30’’LS dan 105°49’15’’BT (Irhamni 2009). PPP Labuan terdiri dari PPP 1 dan PPI 3 yang berada di muara sungai Cipunteun, serta PPP 2 berada di tepi pantai terbuka. Jenis kapal motor yang dioperasikan di PPP 1 dan PPP 3 berukuran 0-5 GT dan 5-10 GT yang merupakan pelabuhan bagi armada kapal obor, rampus, dan cantrang, sementara kapal motor yang dioperasikan di PPP 2 berukuran lebih dari 10 GT karena merupakan pelabuhan bagi armada kapal purse seine. Jenis alat tangkap yang beroperasi di Labuan yaitu payang, purse seine, jaring rampus, gillnet, pancing, jaring arad, dan jaring cantrang (Tabel 2). Alat tangkap yang terbanyak yaitu jaring arad, pancing, dan gillnet masing-masing berjumlah 119 unit, 68 unit, dan 65 unit. Nelayan Labuan biasa melakukan operasi penangkapan sepanjang tahun baik musim barat maupun musim peralihan. Kondisi daerah penangkapan yang terhalang oleh pulau-pulau kecil (contohnya Pulau Rakata) membantu nelayan melakukan operasi penangkapan karena terlindung dari pengaruh gelombang (Kartika 2007). Pada tahun 2008, jumlah nelayan terbanyak di PPP Labuan adalah 2284 atau sekitar 42.68% dari total keseluruhan jumlah nelayan di Kabupaten Pandeglang (Irhamni 2009).

31

32

Berikut adalah perkembangan armada penangkapan ikan di Labuan :

Tabel 2. Jumlah alat penangkapan ikan di PPP Labuan periode 2001-2008

No

Alat

Tahun

Tangkap

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

1

Payang

25

28

43

45

44

43

43

45

60

61

59

2

Cantrang

193

193

40

48

49

49

49

48

13

11

6

3

Arad

-

-

125

125

130

121

121

119

181

181

180

4

Purse seine

10

8

16

16

20

20

20

18

10

8

8

5

Rampus

68

65

32

30

32

32

32

35

41

41

41

6

Jaring Klitik

32

32

10

10

4

0

0

0

0

0

0

7

Pancing

26

28

32

32

65

68

68

68

68

68

68

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, 2008

Kondisi curah hujan rata-rata tahunan di PPP Labuan adalah sebesar 1.814

mm, sedangkan hari hujan rata-rata tahunan sebesar 101 hari. Musim hujan pada

umumnya jatuh pada bulan Januari, Februari, Maret, November, Desember dengan

curah hujan rata-rata 374 mm/bulan. Musim kemarau jatuh pada bulan April, Mei,

Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober dengan curah hujan 209 mm/bulan

(Kartika 2007). Menurut BMKG (2011), musim kemarau di wilayah Provinsi

Banten maju 4-8 dasarian (2-3 bulan).

4.1.2. Kondisi perikanan swanggi di PPP Labuan

PPP Labuan sebagai pelabuhan perikanan pantai terbesar di Kabupaten

Pandeglang, disediakan pemerintah kepada masyarakat nelayan di sekitar

Pandeglang untuk melakukan transaksi kegiatan perikanan. Ikan swanggi

merupakan hasil tangkapan dominan kelima di Labuan (8.25%) setelah ikan kue

(24.70%), kurisi (23.43%), kuniran (23.04%), dan kapasan (13.70%) (Gambar 7).

6.89% 8.25% Kue Kurisi 24.70% 13.70% Kuniran Kapasan 23.04% 23.43% Swanggi Jolod
6.89%
8.25%
Kue
Kurisi
24.70%
13.70%
Kuniran
Kapasan
23.04%
23.43%
Swanggi
Jolod

Gambar 7. Komposisi hasil tangkap ikan demersal kecil di Labuan Sumber: Data harian PPP Labuan tahun 2011 (diolah)

32

33

Jenis ikan swanggi yang tertangkap adalah Priacanthus tayenus. Daerah penangkapan ikan swanggi meliputi pulau-pulau kecil (P. Liwungan, P. Sebesi, P. Panaitan, P. Papole), Carita, Sumur, Tanjung Alang-alang, Tanjung Lesung, dan 15-35 km arah Barat Laut dari Labuan dengan waktu tempuh 2-3 jam. Penangkapan ikan swanggi menggunakan alat tangkap jaring cantrang yang dioperasikan dengan menggunakan kapal motor berukuran 6-24 GT dan alat tangkap jaring rampus yang dioperasikan dengan menggunakan kapal motor berukuran 2-6 GT. Jaring cantrang memiliki ukuran mata jaring bagian kantong adalah 1.5 inchi-3 inchi dan ukuran mata jaring bagian selambar adalah 8 inchi, sedangkan ukuran mata jaring rampus 2 inchi. Jenis tangkapan yang dihasilkan alat tangkap tersebut diantaranya ikan swanggi, pepetek, kurisi, kuniran, kapasan. Aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang biasanya dapat melakukan operasi penangkapan selama 3-4 hari termasuk perjalanan menuju fishing ground dan kembali ke PPP. Armada kapal yang menggunakan alat tangkap jaring rampus melakukan perjalanan menuju fishing ground selama 1-2 jams.

4.1.3. Hasil tangkapan (catch) dan harga ikan swanggi Berdasarkan data statistik yang ada (tahun 2001-2002, 2004-2007, dan 2010- 2011), maka hasil tangkapan ikan swanggi yang didaratkan di PPP Labuan berfluktuasi dalam kurun waktu tersebut. Pada tahun 2001 hasil tangkapan cenderung stabil hingga tahun 2002. Peningkatan hasil tangkapan terjadi pada tahun 2002 hingga 2005 serta 2007 hingga 2011, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2007 mengalami penurunan (Gambar 8a). Berdasarkan Gambar 8a, hasil tangkapan tertinggi terdapat pada tahun 2005 yaitu 29602 kg, sedangkan hasil tangkapan terendah terdapat pada tahun 2007 yaitu sebesar 1536 kg.

33

34

40000 30000 20000 10000 0 2001 2002 2004 2005 2006 2007 2010 2011 Hasil Tangkapan
40000
30000
20000
10000
0
2001
2002
2004
2005
2006
2007
2010
2011
Hasil Tangkapan (kg)

Tahun

Gambar 8a. Hasil tangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang didaratkan

di PPP Labuan Tahun 2001-2002, 2004-2007, dan 2010-2011

Sumber : Data harian dan bulanan PPP Labuan (diolah)

Gambar 8b menunjukkan hasil tangkapan ikan swanggi dari bulan Januari

2011 hingga Desember 2011. Hasil tangkapan tertinggi pada tahun 2011 terdapat

pada bulan Februari, sedangkan hasil tangkapan terendah terdapat pada bulan

Desember. Berikut ini adalah grafik hasil tangkapan pada setiap operasi

penangkapan di tahun 2011.

1200 1000 800 600 400 200 0 1 2 3 4 5 6 7 8
1200
1000
800
600
400
200
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Hasil Tangkapan (kg)

Bulan

Gambar 8b. Hasil tangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang didaratkan

di PPP Labuan Tahun 2011

Sumber : Data harian PPP Labuan (diolah)

Berdasarkan Gambar 9, hasil tangkapan ikan swanggi tertinggi pada tahun

2011 terdapat pada operasi penangkapan ke-4 pada tanggal 14 Februari 2011 yaitu

sebesar 237.5 kg, sementara hasil tangkapan ikan swanggi terendah terdapat pada

operasi penangkapan ke-63 pada tanggal 17 Agustus 2011 yaitu sebesar 10 kg.

Selain hasil tangkapan, harga ikan swanggi juga mengalami fluktuasi seperti pada

Gambar 10.

34

35

250 237.5 200 150 100 50 10 0 0 20 40 60 80 100 120
250
237.5
200
150
100
50
10
0
0
20
40
60
80
100
120
Hasil Tangkapan (kg)

Jumlah trip

Gambar 9. Hasil tangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di PPP Labuan Tahun 2011 berdasarkan jumlah trip Sumber : Data harian PPP 1 Labuan (diolah)

Harga ikan ketika hasil tangkapan tertinggi pada operasi penangkapan ke-4

merupakan harga terendah yaitu Rp 4000,- (Gambar 10). Sementara harga ikan

tergolong tinggi ketika hasil tangkapan terendah yaitu senilai Rp 10000,-. Fluktuasi

harga dan hasil tangkapan disebabkan oleh faktor alam yang bersifat tidak

menentu, sehingga harga dan produksi ikan swanggi berada dalam situasi

ketidakpastian.

16000 14000 12000 10000 10000 8000 6000 4000 4000 2000 0 0 20 40 60
16000
14000
12000
10000
10000
8000
6000
4000
4000
2000
0
0
20
40
60
80
100
120
Harga (Rp/kg)

Jumlah trip

Gambar 10. Harga ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di PPP Labuan Tahun

2011

Sumber : Data harian PPP 1 Labuan (diolah)

4.1.4. Upaya penangkapan (effort)

Upaya penangkapan ikan swanggi didapatkan dari data sekunder PPP Labuan

yang berupa data harian dan data bulanan tahun 2001-2002, 2004-2007, dan 2010-

2011

(Gambar 11). Upaya penangkapan tertinggi terdapat pada tahun 2006 yaitu

1007

trip, sementara upaya penangkapan terendah terdapat pada tahun 2007 yaitu

35

36

44 trip. Upaya penangkapan yang rendah terjadi pada kurun waktu terakhir, yaitu

tahun 2007, 2010, dan 2011.

1200 1000 800 600 400 200 0 2001 2002 2004 2005 2006 2007 2010 2011
1200
1000
800
600
400
200
0
2001
2002
2004
2005
2006
2007
2010
2011
Upaya (trip)

Tahun

Gambar 11. Upaya penangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di PPP Labuan Tahun 2001-2004, 2005-2007, dan 2010-2011 Sumber : Data harian dan bulanan PPP Labuan (diolah)

4.1.5. Tangkapan per satuan upaya

Tangkapan per satuan upaya (TPSU) didapatkan dengan membagi hasil

tangkapan ikan swanggi dengan upaya penangkapannya. Gambar 12

memperlihatkan tangkapan per satuan upaya pada tahun 2001-2002, 2004-2007,

2010-2011.

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2001 2002 2004 2005 2006
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2001
2002
2004
2005
2006
2007
2010
2011
TPSU (kg/trip)

Gambar 12.

Tahun

Tangkapan per satuan upaya ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di PPP Labuan Tahun 2001-2004, 2005-2007, dan 2010-2011

36

37

Berdasarkan Gambar 12 dapat dilihat bahwa nilai TPSU tertinggi terdapat

pada tahun 2011 dengan nilai 84.13 kg/trip, sedangkan TPSU terendah yaitu senilai

15.25 kg/trip pada tahun 2001. TPSU ikan swanggi mengalami fluktuasi pada

kurun waktu tahun 2001-2006, kemudian mengalami peningkatan hingga tahun

2011.

4.1.6. Pola musim penangkapan

Indeks Musim Penangkapan (IMP) diperlukan dalam menganalisis pola

musim penangkapan ikan swanggi di PPP Labuan. IMP merupakan salah satu dari

metode rata-rata bergerak (moving average), dengan menghitung IMP setiap bulan

pola musim penangkapan ikan swanggi dapat dilihat pada gambar. Perhitungan

IMP dapat dilihat pada lampiran.

Gambar 13 menunjukkan bahwa musim penangkapan pada periode tahun

2001-2007, yaitu pada bulan Januari-Maret, Juni, Agustus, dan September. Bulan-

bulan tersebut memiliki nilai indeks musim di atas nilai rata-rata. Dari hasil

perhitungan tersebut dapat dikatakan bahwa puncak musim penangkapan periode

2001-2007 terjadi pada bulan Maret karena memiliki nilai IMP tertinggi yakni

sebesar 200.05%. Nilai IMP terendah terdapat pada bulan April yaitu 35.25%.

250 200.05 200 171.50 163.94 150 143.09 Musim Penangkapan 105.65 102.16 100 65.15 57.53 59.77
250
200.05
200
171.50
163.94
150
143.09
Musim Penangkapan
105.65
102.16
100
65.15
57.53
59.77
60.15
50
35.25
35.76
0
IMP (%)
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni

Bulan

Gambar 13. Nilai rata-rata indeks musim penangkapan ikan swanggi periode

2001-2007

Sumber : Data harian dan bulanan PPP Labuan (diolah)

37

38

Terdapat perbedaan musim penangkapan antara periode tahun 2001-2007 dan

tahun 2010-2011. Gambar 14 menunjukkan bahwa musim penangkapan pada

periode tahun 2010-2011 terdapat pada bulan Desember-Februari, Juli, dan

Agustus. Puncak musim penangkapan terdapat pada bulan Januari dengan nilai

IMP 201.84% dan nilai IMP terendah pada bulan Juni dengan nilai 42.43%.

250 201.84 200 174.40 150 120.23 Musim Penangkapan 112.03 110.25 100 78.91 87.54 76.38 77.67
250
201.84
200
174.40
150
120.23
Musim Penangkapan
112.03
110.25
100
78.91
87.54
76.38
77.67
50
64.18
42.43
54.14
0
IMP (%)
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni

Bulan

Gambar 14. Nilai rata-rata indeks musim penangkapan ikan swanggi periode

2010-2011

Sumber : Data harian dan bulanan PPP Labuan (diolah)

4.1.7. Daerah penangkapan

Daerah penangkapan ikan swanggi berada pada perairan Selat Sunda bagian

Timur, Barat Daya, dan Barat Laut. Gambar 15 menunjukkan lokasi persebaran

daerah penangkapan ikan swanggi di Selat Sunda berdasarkan bulan dan jenis alat

tangkap yang beroperasi. Pada musim penghujan alat tangkap jaring rampus

cenderung beroperasi tidak jauh dari daratan.

Daerah penangkapan ikan swanggi berdasarkan Gambar 15 dibagi menjadi 5

kelompok berdasarkan kedekatan daerah penangkapan. Operasi penangkapan

paling sedikit terjadi pada bulan April dan Juni hingga September dan lebih banyak

dilakukan oleh kapal motor yang memiliki alat tangkap jaring rampus. Tabel 3

menampilkan ukuran panjang ikan swanggi yang diplotkan berdasarkan bulan dan

lokasi penangkapan.

38

39

Berikut adalah matriks penyebaran selang kelas ukuran panjang ikan swanggi :

Tabel 3. Matriks sebaran spasial, temporal, dan ukuran panjang ikan swanggi di Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret-Oktober 2011

Kriteria

Bulan

Lokasi Penangkapan

3

4

5

6

7

8

9

10

1. 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan

 

2. P. Papole

3. Panimbang dan P. Liwungan

a.

b.

Tg. Lesung

4. Sumur

 

5. Tg. Alang-alang

a.

b.

P. Panaitan

SK Panjang (mm)

105-123

j

c

j

124-142

c

c

c

c

b

143-161

b

c

c

c

c

c

162-180

b

c

c

c

c

b

c

181-199

b

b

c

c

b

b

b

200-218 (Lm 50 betina=211)

j

j

c

c

c

219-237

j

c

c

238-256

j

j

257-275 (Lm 50 jantan=268)

j

j

276-294

j

j

Sumber : diolah dari Ballerena (2012)

Ket :

: ada

c

: betina dan jantan

b

: betina

j

: jantan

Ukuran ikan swanggi paling kecil terdapat pada bulan Juni hingga Agustus,

dengan lokasi penangkapan 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan, P. Papole,

Panimbang dan P. liwungan, dan Sumur. Sementara ukuran paling besar terdapat

pada bulan Mei dan September, dengan lokasi penangkapan pada bulan Mei yaitu

15-35 km ke arah Barat Laut Labuan, Panimbang, P. Liwungan, Tg. Sumur, Tg.

Alang-alang, dan P. Panaitan, dan lokasi penangkapan bulan September yaitu 15-

35 km ke arah Barat Laut Labuan , P. Papole, dan Tg. Lesung.

39

40

40 Gambar 15. Peta daerah penangkapan ikan swanggi ( Priacanthus tayenus ) di Selat Sunda (Sumber

Gambar 15. Peta daerah penangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di Selat Sunda (Sumber : Hasil wawancara)

40 Gambar 15. Peta daerah penangkapan ikan swanggi ( Priacanthus tayenus ) di Selat Sunda (Sumber

41

Tabel berikut adalah matriks yang akan memberikan informasi mengenai

ukuran TKG pada bulan Maret hingga Oktober dan persebaran penangkapannya.

Tabel 4. Matriks sebaran spasial, temporal, dan TKG ikan swanggi di Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret-Oktober 2011

Kriteria

Bulan

 

Lokasi Penangkapan

3

4

5

6

7

8

9

10

1.

15-35 km ke arah Barat Laut Labuan P. Papole Panimbang dan P. Liwungan

a.

2.

 

3.

b.

Tg. Lesung

4.

Sumur

 

5.

a.

Tg. Alang-alang

 

b.

P. Panaitan

 

TKG jantan(%)

 
 

I (immature)

18.18

61.11

41.38

36.00

59.18

43.33

0.00

80.00

II (immature)

36.36

30.56

31.03

40.00

10.20

30.00

0.00

13.33

III (mature)

9.09

2.78

10.34

16.00

10.20

13.33

25.00

0.00

IV (mature)

27.27

5.56

13.79

8.00

8.16

6.67

16.67

0.00

 

V

(ripe, matang gonad)

9.09

0.00

0.00

0.00

12.24

6.67

33.33

6.67

VI

(ripe, matang gonad)

0.00

0.00

3.45

0.00

0.00

0.00

16.67

0.00

 

VII

(spent)

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

8.33

0.00

 

TKG betina(%)

 
 

I (immature)

0.00

50.00

9.52

10.53

100.00

87.50

2.63

68.57

II (immature)

5.56

45.83

30.95

34.21

0.00

8.33

31.58

20.00

III (mature)

25.93

4.17

33.33

18.42

0.00

0.00

28.95

8.57

IV (mature)

46.30

0.00

16.67

23.68

0.00

0.00

2.63

2.86

 

V

(ripe, matang gonad)

22.22

0.00

9.52

7.89

0.00

4.17

23.68

0.00

VI

(ripe, matang gonad)

0.00

0.00

0.00

5.26

0.00

0.00

7.89

0.00

 

VII

(spent)

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

2.63

0.00

Sumber : diolah dari Ballerena (2012)

Ket :

: ada

TKG V, dan VI merupakan TKG ikan swanggi yang dapat melakukan

pemijahan. Berdasarkan Tabel 4, persentase TKG tersebut merupakan nilai

tertinggi pada bulan Maret dan September. Pada bulan September terdapat

persentase TKG V dan VI tertinggi dengan lokasi penangkapan Pulau Papole,

41

42

Tanjung Lesung, dan 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan, sedangkan pada bulan Maret terdapat persentase TKG V tertinggi kedua dengan lokasi penangkapan Tg. Lesung, P. Panaitan, dan 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan. TKG I, II, III, dan IV merupakan TKG ikan swanggi yang belum siap untuk melakukan pemijahan. TKG I dan II memiliki persentase yang tinggi setiap bulannya, sementara TKG III dan IV hampir selalu terdapat setiap bulannya.

4.1.8. Bioekonomi Aspek ekonomi dari eksploitasi stok ikan sangat tergantung pada karakteristik biologi dari stok ikan itu sendiri. Produksi lestari maksimum (MSY) hanya menggunakan parameter biologi saja, sedangkan produksi lestari secara ekonomi (MEY) menggunakan parameter biologi dan ekonomi. Analisis bioekonomi menggunakan parameter biologi r, q, K dan parameter ekonomi p dan c. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan model Schaefer didapatkan parameter biologi dan ekonomi pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil estimasi parameter biologi dan ekonomi

Parameter

Nilai

Koefisien kemampuan alat tangkap (q) (kg/trip)

0.02

Daya dukung perairan (K) (kg/tahun)

177311

Laju pertumbuhan populasi intrinsik (r) (kg/tahun)

2.16

Harga (p) (Rp/kg)

10,724

Biaya (c) (Rp/trip)

134,012

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa koefisien kemampuan alat tangkap ikan swanggi yaitu jaring cantrang dan jaring rampus senilai 0.02 kg per trip, daya dukung ikan swanggi di perairan (K) sebesar 177311 kg per tahun, dan laju populasi intrinsik ikan swanggi senilai 2.16 kg per tahun. Harga dan biaya ikan swanggi didapatkan dari rata-rata hasil wawancara terhadap nelayan, yaitu masing-masing sebesar Rp 10,724 per kg dan Rp 134,012 per trip.

42

43

Setelah mengetahui parameter biologi dan ekonomi, perhitungan produksi dapat dilakukan. Tabel 6 memperlihatkan produksi lestari dari berbagai rezim atau kondisi.

Tabel 6. Hasil perhitungan bioekonomi dalam berbagai rezim

Variabel

Kondisi

 

MEY

MSY

Aktual

OA

Yield (h) Effort (E) TR (Rp) TC (Rp) Rente ekonomi (π)

95,520.68

95,522.56

6,806.30

1,689.40

67

67

80

135

1,024,376,943

1,024,397,148

72,991,700

18,117,351

9,058,676

9,099,086

10,842,370

18,117,351

1,015,318,267

1,015,298,062

62,149,330

0.00

Tabel 6 menunjukkan jumlah biomassa (yield), upaya (effort), total penerimaan (TR), total biaya (TC), dan rente ekonomi dalam kondisi MEY, MSY, Open Access (OA), dan kondisi sebenarnya atau aktual. Kondisi aktual memperlihatkan nilai variabel effort yang paling tinggi, namun memiliki rente ekonomi yang lebih kecil dari rente ekonomi pada kondisi MEY dan MSY. Kondisi MEY dan MSY memiliki rente yang lebih besar dibandingkan kondisi aktual dan open access, dengan upaya yang lebih sedikit. Rente ekonomi pada rezim open access bernilai nol, dengan upaya paling besar. Rente ekonomi optimal diperoleh pada kondisi MEY dan MSY, hal ini ditunjukkan oleh jarak vertikal antara penerimaan dan biaya yang merupakan jarak terbesar. Tingkat upaya (effort) pada kondisi aktual sudah melebihi kedua rezim tersebut yaitu sebesar 80 trip dengan biomassa sebesar 6806.30 kg per tahun.

4.2. Pembahasan 4.2.1. Hasil tangkapan Pelabuhan perikanan pantai Labuan terdiri dari tiga PPP, yaitu PPP 1, PPP 2, dan PPP 3. Pendaratan ikan swanggi dilakukan di PPP 1 Labuan, dimana armada penangkapan ikan swanggi adalah kapal berukuran 2-6 GT dengan alat tangkap jaring rampus dan kapal berukuran 6-24 GT dengan alat tangkap jaring cantrang. Hasil tangkapan dominan di PPP 1 Labuan adalah ikan-ikan demersal seperti ikan kuwe, kerapu, manyung, kurisi, kuniran, pepetek, dan ikan swanggi.

43

44

Keadaan hasil tangkapan yang cenderung stabil pada tahun 2001 hungga 2002 diduga disebabkan oleh perubahan jumlah alat tangkap di Labuan yang tidak terlalu signifikan (Tabel 2). Pada tahun 2002 terjadi peningkatan hasil tangkapan yang signifikan hingga tahun 2005, hal tersebut diduga disebabkan oleh peningkatan kapasitas kapal pada tahun 2003. Penurunan jumlah alat tangkap dilakukan pada tahun 2003 guna menjaga keberadaan sumberdaya ikan di Selat Sunda, namun disertai dengan peningkatan kapasitas kapal di Labuan sehingga terjadi peningkatan produksi tangkapan hingga tahun 2005. Secara alamiah, nelayan akan merespon penurunan stok ikan dengan merekayasa peningkatan kemampuan tangkap kapal, ukuran kapasitas kapal, jaring, dan taktik penangkapan (peningkatkan kemampuan tangkap dengan perlengkapan teknologi yang lebih maju). Hasil tangkapan dan harga ikan swanggi di PPP Labuan sangat berfluktuasi, hal ini dapat disebabkan oleh faktor alami maupun faktor non-alami yang bersifat dari manusia. Faktor alami yang mempengaruhi fluktuasi hasil tangkapan dan harga ikan swanggi yaitu ukuran stok, mortalitas alami, dan migrasi. Sedangkan faktor non-alami yaitu struktur pasar, biaya operasional, perubahan teknologi, dan perilaku konsumen (Charles 2001). Harga ikan swanggi terendah terdapat pada operasi penangkapan ke-4 pada tanggal 14 Februari 2011, yaitu Rp 4.000,-, hal ini disebabkan oleh hasil tangkapan maksimum terjadi pada tanggal tersebut (Gambar 10). Berdasarkan perhitungan indeks musim penangkapan periode 2010-2011, bulan Februari termasuk kategori musim penangkapan, dengan nilai IMP 120.23 %. Harga ikan swanggi tertinggi terjadi pada tanggal 2 Oktober yaitu Rp 14.957,- dengan hasil tangkapan hanya sebesar 23.4 kg. Berdasarkan perhitungan indeks musim penangkapan periode 2010-2011, bulan Oktober termasuk kategori bukan musim penangkapan, dengan nilai IMP 64.18 %.

4.2.2. Upaya penangkapan Upaya penangkapan merupakan masukan dari aktivitas penangkapan. Ikan swanggi ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring cantrang dan jaring rampus. Berdasarkan Gambar 11, terlihat bahwa upaya penangkapan berfluktuasi.

44

45

Upaya penangkapan ikan swanggi pada tahun 2001 hingga 2006 telah melebihi upaya lestari MSY, kemudian upaya pada tahun 2007 hingga 2011 mengalami penurunan hingga sempat bernilai lebih kecil dari MSY. Penurunan upaya penangkapan hingga tahun 2002 masih diikuti dengan peningkatan hasil tangkapan, namun peningkatan upaya hingga tahun 2006 disertai dengan penurunan hasil tangkapan. Pada tahun-tahun lainnya fluktuasi produksi mengikuti fluktuasi upaya penangkapan. Penurunan upaya penangkapan pada tahun 2006 hingga 2007 diduga disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga BBM pada tahun 2007 mencapai Rp 4500,-, sedangkan harga pada tahun-tahun sebelumnya berkisar antara Rp 500,- sampai dengan Rp 4000,-. Upaya penangkapan bergerak mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi pada sumber daya dan faktor eksternal lain. Ketika biomassa tidak dapat mendukung pada tingkat upaya penangkapan yang sedang berjalan, maka upaya penangkapan akan berkurang secara alami.

4.2.3. Tangkapan per satuan upaya Nilai TPSU yang rendah pada tahun 2001 dikarenakan upaya penangkapan dan hasil tangkapan pada tahun tersebut yang sedikit, kemudian mengalami peningkatan karena terjadinya penurunan jumlah alat tangkap cantrang dan rampus disertai dengan peningkatan kapasitas kapal sehingga hasil tangkapan yang diperoleh masih melimpah. Upaya penangkapan yang ditingkatkan kembali hingga tahun 2006 tidak menyebabkan nilai TPSU semaikin meningkat (Gambar 12), hal tersebut disebabkan oleh intensitas penangkapan yang tinggi pada tahun-tahun sebelumnya. Nilai TPSU yang tinggi menggambarkan kelimpahan ikan yang tinggi pada tahun tersebut. Nilai TPSU yang rendah pada tahun 2006 disebabkan oleh kelimpahan ikan cenderung menurun akibat penangkapan pada tahun-tahun sebelumnya. TPSU mengalami peningkatan hingga mencapai TPSU tertinggi pada tahun 2011. Hal tersebut disebabkan oleh upaya penangkapan yang berkurang karena pengaruh kenaikan harga BBM. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya keseimbangan stok ikan di perairan tersebut, walaupun memberikan keuntungan yang terbatas bagi nelayan.

45

46

4.2.4. Pola musim penangkapan Waktu yang tepat untuk operasi penangkapan dapat ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata bergerak (moving average), karena metode ini memiliki keuntungan yaitu dapat mengisolasi fluktuasi musiman dan kecenderungan yang biasa terdapat pada metode deret waktu dapat dihilangkan (Bahdad 2006). Salah satu penggunaan metode rata-rata bergerak (moving average) adalah perhitungan indeks musim penangkapan. Perhitungan indeks musim penangkapan ikan swanggi sebagai patokan dalam penentuan pola musim penangkapan dengan memberikan patokan nilai indeks sebesar 100. Bulan musim penangkapan dengan nilai indeks di atas 100 atau di atas rata-rata merupakan waktu yang baik untuk upaya penangkapan sedangkan bulan dengan indeks musim di bawah 100 merupakan waktu penangkapan yang kurang menguntungkan. Berdasarkan Gambar 13, musim penangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) pada periode 2001 hingga 2007 terjadi pada bulan Januari-Maret, Juni, Agustus, dan Sepetember. Sedangkan musim paceklik terjadi pada bulan April dan Oktober. Hal tersebut berbeda apabila dibandingkan dengan spesies lain namun masih termasuk genus Priacanthus, yaitu Priacanthus hamrur. Menurut Sivakami (2001), hasil tangkapan P. hamrur sangat melimpah di Vishakhapatnam India terjadi selama bulan Maret-April dan Juli. Terdapat perbedaan musim penangkapan antara periode tahun 2001-2007 dan tahun 2010-2011. Gambar 14 menunjukkan bahwa musim penangkapan pada periode tahun 2010-2011 terdapat pada bulan Desember-Februari, Juli, dan Agustus. Nilai IMP tertinggi pada periode tahun 2010-2011 yaitu 201.84% dan nilai IMP terendah pada bulan Juni dengan nilai 42.43 %. Hal tersebut sesuai dengan Gambar 8b bahwa hasil tangkapan pada bulan Januari dan Februari tergolong tinggi, sementara hasil tangkapan terendah terdapat pada bulan Juni. Kegiatan penangkapan ikan dapat bersifat musiman, dengan kata lain kegiatan penangkapan ikan dapat berubah karena selain ada masa ketika ikan melimpah di laut dan lokasinya dapat diakses nelayan dengan mudah juga ada periode waktu lain ketika lokasi penangkapannya sulit dicapai nelayan.

46

47

4.2.5. Daerah penangkapan Suatu daerah penangkapan (fishing ground) dapat dinilai memiliki prospek yang baik apabila sumberdaya hayati yang menjadi tujuan penangkapan tersedia cukup tinggi, stoknya mudah tumbuh dan berkembang serta dapat diketahui musim dan daerah penyebarannya. Alat tangkap jaring cantrang dan rampus telah lama beroperasi di wilayah perairan Selat Sunda. Jaring cantrang dan rampus dioperasikan nelayan dengan menggunakan kapal motor. Alat tangkap jaring cantrang dioperasikan oleh kapal berukuran 6-24 GT, sementara alat tangkap rampus dioperasikan oleh kapal berukuran ≤ 6 GT. Tidak seperti alat tangkap rampus, alat tangkap cantrang melakukan penangkapan lebih jauh dari tepi pantai, sementara alat tangkap rampus beroperasi 2-20 km dari tepi pantai. Hal tersebut disebabkan oleh ukuran kapal rampus hanya berukuran maksimal 6 GT, sementara kapal cantrang berukuran 6-24 GT sehingga dapat beroperasi lebih jauh. Berdasarkan wawancara, tujuan utama penangkapan baik nelayan jaring rampus maupun jaring cantrang adalah ke arah Barat Laut dari Labuan atau ke arah P. Rakata dengan jarak 15-35 km. Alat tangkap jaring cantrang melakukan penangkapan pada daerah tersebut pada musim peralihan I, musim timur, musim peralihan II, dan sedikit pada musim barat. Sementara alat tangkap rampus melakukan penangkapan pada lokasi tersebut hanya pada musim peralihan I, musim timur, dan akhir dari musim barat. Berdasarkan nilai IMP baik pada periode 2001-2007 maupun 2010-2011, musim penangkapan ikan swanggi dimulai pada pertengahan musim peralihan I. Nelayan jaring cantrang tidak hanya melakukan penangkapan pada lokasi tersebut. Ketika hasil tangkapan di daerah Barat Laut Labuan tersebut mulai menipis, mereka mencari lokasi penangkapan lain yang lebih menguntungkan, yaitu di sekitar Tg. Lesung dan P. Panaitan pada pertengahan musim timur dan musim peralihan II. Hasil tangkapan yang mulai menipis pada bulan Maret ditunjukkan oleh Gambar 8b. Hanya sedikit nelayan cantrang dan rampus yang mengoperasikan alat tangkapnya ketika musim barat, kebanyakan dari mereka tidak melaut atau menjadi nelayan andon di wilayah lain. Selain ke arah P. Rakata, pada awal musim timur, Carita dan perairan menuju Sumur merupakan daerah penangkapan yang

47

48

menguntungkan bagi nelayan rampus. Aktivitas penangkapan rampus di Teluk Labuan terjadi pada akhir musim timur, musim peralihan II, dan musim barat. Ketika musim barat dan musim peralihan II, nelayan rampus hanya beroperasi di sekitar perairan Teluk Labuan. Namun berdasarkan data hasil tangkapan tahun 2011, hasil tangkapan pada bulan April-September tergolong rendah. Hal tersebut diduga disebabkan oleh angin kencang yang bertiup ke arah timur dan curah hujan yang tinggi. Menurut Asriyana (2004), pada musim barat, banyaknya masukan air tawar dari muara sungai membawa muatan partikel tanah menyebabkan perairan menjadi keruh sehingga ikan bergerak pada perairan lebih dalam. Pada musim timur, keadaan gelombang teluk relatif cukup besar karena masih dipengaruhi oleh gelombang besar yang terjadi pada bagian luar mulut teluk. Hal ini menyebabkan ikan bergerak pada perairan yang lebih dalam yang relative tenang sehingga ikan yang tertangkap jumlahnya sedikit. Pada musim barat dimana terjadi gelombang tinggi akibat arus yang besar dari Samudera Hindia menyebabkan nelayan rampus hanya melakukan penangkapan di sekitar Pulau Papole yang tidak jauh dari Labuan, sedangkan diduga bahwa ikan swanggi melakukan migrasi ke perairan yang lebih dalam. Penangkapan paling sering dilakukan pada jarak 20-35 km ke arah Barat Laut yaitu pada bulan Maret, Mei, Juni, Agustus, hingga Oktober. Ukuran ikan swanggi paling kecil terdapat pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Hal tersebut disebabkan oleh penangkapan pada musim peralihan II dan musim barat cenderung di tidak jauh dari tepi pantai. Menurut Vijayakumaran & Naik (1988), hasil tangkapan yang rendah pada kedalaman kurang dari 100 m mengindikasikan terjadinya migrasi ke perairan yang lebih dalam. Ukuran ikan swanggi yang tertangkap pada bulan Maret memiliki ukuran panjang berkisar antara 143-237 mm, dengan persentase TKG jantan dari yang tertinggi hingga terendah yaitu TKG II, IV, I, dan III, sementara persentase TKG betina dari yang tertinggi hingga terendah yaitu TKG IV, III, V, dan II. Persentase TKG IV pada bulan Maret adalah persentase TKG IV tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Maret dengan lokasi penangkapan 10-20 km ke Barat laut, Pulau Liwungan, Tanjung Lesung, Panimbang, dan Pulau Panaitan merupakan tempat pemijahan ikan swanggi.

48

49

Ukuran pertama kali matang gonad (Lm 50 ) ikan jantan lebih besar dari ikan betina yaitu 268 mm, terdapat pada bulan Mei dan September. Menurut Budimawan et al (2004), ukuran ikan pertama kali matang gonad merupakan indicator ketersediaan stok reproduktif. Berdasarkan Gamber 8b, kelimpahan ikan swanggi melimpah pada bulan Januari, Februari, Maret, Oktober, dan November. Pada bulan Maret terdapat persentase TKG IV yang tinggi, sementara pada bulan Oktober terdapat persentase TKG I yang tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa pada lokasi 5-40 km ke Barat laut, Pulau Liwungan, Tanjung Lesung, Panimbang, Sumur, dan Pulau Panaitan selain merupakan tempat pemijahan juga merupakan tempat ikan swanggi mencari makan. Ukuran ikan swanggi yang tertangkap pada bulan April memiliki ukuran panjang berkisar antara 124-218 mm, dengan persentase TKG jantan dari yang tertinggi hingga terendah yaitu TKG I, II, IV, dan III, sementara persentase TKG betina dari yang tertinggi hingga terendah yaitu TKG I, II, dan III. Persentase TKG I jantan pada bulan April adalah persentase TKG I jantan tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Lokasi penangkapan pada bulan tersebut adalah Pulau Panaitan dan Pulau Papole. Selain bulan April, aktivitas penangkapan di Pulau Papole juga terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, sementara penangkapan di Pulau Panaitan terjadi pada bulan Mei dan Juli. Ikan swanggi yang tertangkap pada lokasi ini memiliki persentase TKG I dan II yang tinggi baik jenis kelamin jantan maupun betina. Bahkan pada bulan Juli ikan swanggi betina yang tertangkap memiliki persentase TKG sebesar 100 %. Hal ini mengindikasikan bahwa Pulau Panaitan dan Pulau Papole merupakan daerah yang kaya akan unsur hara sehingga kelimpahan ikan- ikan muda tinggi pada lokasi tersebut diduga bertujuan untuk mencari makan. TKG V, VI, dan VII memiliki persentase TKG yang sangat kecil, dan terlihat bahwa semakin besar ukuran TKG persentasenya semakin kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kelimpahan ikan swanggi semakin menurun seiring bertambahnya ukuran TKG. Pada bulan April, Juli, Agustus, dan Oktober, ikan swanggi yang tertangkap di Pulau Panaitan, Papole, Sumur, Tanjung Lesung, dan ke arah Barat Laut tidak melakukan pemijahan karena hanya salah satu dari jantan

49

50

atau betina yang mengalami matang gonad. Berdasarkan nilai IMP, bulan April, dan Oktober tidak termasuk kategori musim penangkapan. Menurut BMKG (2011), Oktober merupakan musim barat, sehingga diduga bahwa ikan swanggi melakukan perpindahan ke tempat yang lebih hangat yaitu perairan yang lebih dalam.

4.2.6. Bioekonomi Analisis bioekonomi ditujukan untuk menentukan tingkat pengusahaan maksimum bagi pelaku perikanan. Perkembangan usaha perikanan tangkap tidak dapat lepas dari faktor ekonomi yang mempengaruhinya antara lain biaya penangkapan dan harga ikan. Berdasarkan hasil analisis perhitungan parameter biologi (r, q, dan K) menggunakan model Algoritma Fox (Tabel 5), didapatkan laju pertumbuhan populasi intrinsic (r) ikan swanggi sebesar 2.16 kg per tahun yang berarti bahwa biomassa ikan swanggi tumbuh alami tanpa adanya gangguan dari kegiatan manusia sebesar 2.16 kg per tahun. Carrying capacity bernilai 177311 kg, berarti kemampuan atau kapasitas lingkungan dalam menampung sumberdaya ikan swanggi sebesar 177311 kg per tahun. Koefisien alat tangkap (q) bernilai 0.02 yang berarti bahwa setiap peningkatan upaya penangkapan akan berpengaruh 0.02 kg per tahun terhadap aspek biologinya seperti pertumbuhan populasi dan ukuran ikan. Dari hasil analisis yang tersaji pada Tabel 6, diketahui bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan pada kondisi open access cenderung akan merusak kelestarian sumberdaya ikan yang ada, hal ini ditunjukkan oleh jumlah tingkat effort yang sangat tinggi, rente ekonomi yang diperoleh pada kondisi open access sama dengan nol, karena keuntungan yang diperoleh sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penangkapan. Pemanfaatan sumberdaya ikan swanggi pada kondisi MEY dan MSY tampak lebih bersahabat dengan lingkungan bahkan memberikan tingkat rente yang lebih besar dibanding pemanfaatan pada kondisi open access. Tingkat produksi aktual yang jauh lebih besar dibandingkan tingkat produksi pada kondisi pengelolaan MEY dan MSY disebabkan oleh tingginya aktivitas penangkapan. Dari hasil analisis juga diketahui bahwa rente optimal pada kondisi MEY dan MSY masing-masing sebesar Rp 1,015,318,267 per tahun dan Rp 1,015,298,062

50

51

per tahun, namun rente ekonomi pada kondisi aktual yaitu hanya sebesar Rp 62,149,330 per tahun. Aktivitas penangkapan pada kondisi aktual menghasilkan rente yang lebih sedikit, hal tersebut disebabkan oleh tangkapan per unit upaya yang tidak seberapa apabila dibandingkan dengan kondisi pengelolaan lainnya. Status pemanfaatan ikan swanggi dapat dilihat melalui seberapa besar tingat pemanfaatan pada kondisi aktual yang kemudian dibandingkan dengan tingkat pemanfaatan pada kondisi MEY, MSY, dan open access. Tingkat pemanfaatan yang melebihi kondisi MEY menandakan telah terjadinya economic overfishing, sementara apabila telah melebihi kondisi MSY dikatakan telah mengalami biological overfishing. Berdasarkan kondisi aktual, dapat dikatakan bahwa status pemanfaatan ikan swanggi telah mengalami economic overfishing dan biological overfishing. Ikan swanggi yang tertangkap di Labuan berasal dari alat tangkap yang berbeda, yaitu cantrang dan jaring rampus. Alat tangkap tersebut tidak hanya bertujuan untuk menangkap satu spesies, sehingga ikan swanggi yang didaratkan di Labuan bersifat multispecies. Menurut Fauzi (2010), pemodelan bioekonomi didasarkan pada asumsi single species. Berdasarkan hal tersebut perlu diasumsikan bahwa ikan swanggi pada penelitian ini dianggap single spesies, sehingga berasal dari satu unit stok. Menurut Sparre & Venema (1999), stok merupakan suatu sub gugus dari satu spesies yang mempunyai parameter pertumbuhan dan mortalitas yang sama, dan menghuni suatu wilayah geografis tertentu.

4.2.7. Rezim pengelolaan perikanan open access Konsep open access sering dipahami sebagai pengelolaan yang bersifat terbuka bagi siapa saja. Konsep umum yang berlaku umum terhadap kepemilikan sumberdaya perikanan yang banyak dimanfaatkan nelayan, dianggap sebagai milik bersama yang lebih dikenal dengan istilah “common property resource”. Open access adalah kondisi ketika pelaku perikanan mengeksploitasi sumberdaya secara tidak terkontrol. Berdasarkan wawancara pribadi, kondisi pengelolaan di PPP Labuan masih bersifat open access, dimana setiap pelaku perikanan yang telah mendapatkan izin dapat melakukan operasi penangkapan secara bebas.

51

52

Berdasarkan Tabel 6, upaya penangkapan ikan swanggi pada rezim open access sebanyak 135 trip per tahun. Besarnya upaya penangkapan pada rezim open access dikarenakan sifat dari rezim ini adalah setiap orang boleh melakukan penangkapan di perairan Indonesia termasuk Selat Sunda. Hal tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi suatu sumberdaya. Gordon (1954) menyatakan bahwa tangkap lebih secara ekonomi akan terjadi pada pengelolaan sumberdaya perikanan yang tidak terkontrol. Keuntungan yang diperoleh pada rezim open access bernilai nol karena TR=TC, artinya apabila sumberdaya ikan swanggi di Selat Sunda dibiarkan terbuka untuk setiap orang maka persaingan pada kondisi ini menjadi tidak terbatas dan menimbulkan resiko bagi nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan dalam kondisi persaingan yang ketat, upaya penangkapan telah mencapai keseimbangan open access. Kondisi seperti ini juga menyebabkan nelayan untuk mengembangkan upaya penangkapannya untuk mendapatkan hasil tangkapan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya nilai effort pada kondisi open access. Menurut Gordon (1954), pada tingkat TR=TC akan tercipta suatu keseimbangan usaha perikanan swanggi, dimana kekuatan ekonomi yang mempengaruhi nelayan dan kekuatan produktivitas biologi menyangkut sumberdaya stabil (keseimbangan bioekonomi).

4.2.8. Rezim pengelolaan perikanan MEY Berdasarkan Tabel 6, hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan bahwa upaya yang dibutuhkan jumlahnya lebih kecil bila dibandingkan dengan kondisi open access yaitu sebesar 67 trip per tahun. Nilai upaya penangkapan tersebut dapat menghasilkan tangkapan sebesar 95,520.68 kg per tahun. Pada kondisi MEY dan MSY, rente ekonomi yang diperoleh merupakan yang tertinggi dibandingkan pengelolaan open access yaitu sebesar Rp 1,015,318,267 per tahun. Pencegahan terhadap terjadinya alokasi yang tidak tepat dari sumberdaya alam karena kelebihan tenaga kerja ataupun modal dapat dicegah pada kondisi MEY. Total penerimaan yang diperoleh pada kondisi MEY lebih besar dari total pengeluaran sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar. Penggunaan effort yang lebih kecil dibandingkan rezim open access dan MEY menunjukkan

52

53

bahwa rezim MEY terlihat lebih efisien dan ramah terhadap sumberdaya perikanan, sehingga rezim ini berperan penting dalam menentukan keseimbangan pemanfaatan sumberdaya lestari maupun ekonomi. Kondisi aktual pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sumberdaya ikan swanggi sudah mengalami economic overfishing karena upaya pada kondisi aktual sudah melewati kondisi upaya pada kondisi MEY. Hasil perhitungan upaya penangkapan pada tingkat MEY hampir mendekati MSY, namun keduanya mengalami pembulatan ke atas sehingga bernilai sama. Hal tersebut disebabkan oleh ikan swanggi yang bukan merupakan target utama penangkapan cantrang dan jaring rampus namun memiliki harga yang sama tingginya dengan tangkapan utama yaitu ikan kurisi. Selain itu penggunaan model Algoritma Fox yang bersifat non-linear pada penentuan parameter biologi juga dapat mempengaruhi nilai tersebut.

4.2.9. Rezim pengelolaan perikanan MSY Apabila dilihat berdasarkan rente ekonomi, nilai rente ekonomi rezim MEY sama dengan rezim MSY, begitu pula dengan hasil tangkapan pada rezim MSY sama bila dibandingkan dengan nilai hasil tangkapan MEY. Hal ini menunjukkan bahwa pada rezim MEY maupun MSY, walaupun dengan upaya penangkapan yang kecil namun tetap menghasilkan hasil tangkapan yang besar dengan rente ekonomi yang lebih besar pula. Dampak eksploitasi pun dapat diminimalkan dengan penerapan upaya yang lebih kecil dan efektif. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa untuk kondisi perikanan swanggi di Labua, rezim MSY juga merupakan kondisi pengelolaan yang efisien seperti kondisi pengelolaan MEY. Kondisi aktual pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sumberdaya ikan swanggi sudah mengalami biological overfishing karena upaya pada kondisi aktual sudah melewati MSY. Menurut Widodo & Suadi (2006), biological overfishing terjadi ketika tingkat upaya penangkapan melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan hasil tangkapan MSY. Jumlah upaya penangkapan pada kondisi aktual adalah 80 trip per tahun sudah melebihi batas upaya penangkapan MSY senilai 67 trip per tahun. Jumlah tangkapan aktual sebesar 6,806.30 kg per tahun sedikit apabila dibandingkan dengan hasil tangkapan lestari MSY senilai 95,520.68

53

54

kg per tahun. Murdiyanto 2004 in Taeran (2007) mengatakan bahwa tingkat pemanfaatan yang melebihi nilai MSY akan menyebabkan menurunnya TPSU.

4.2.10. Implikasi bagi pengelolaan sumberdaya ikan swanggi Hampir sebagian besar usaha perikanan tangkap di Indonesia mempunyai karakteristik akses terbuka tanpa pembatasan upaya penangkapan, kompetisi bebas terjadi antara perikanan skala besar dan kecil. Selain itu kondisi sumber daya laut, pesisir dan ekosistem yang mengalami kerusakkan pada sebagian besar sumber daya hayati. Tujuan pengelolaan dan pembangunan sub sektor perikanan lebih ditujukan tercapai peningkatan produktivitas dan pendapatan nelayan (Susilo

2009).

Pendugaan stok perikanan dan manajemen merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Dalam kajian stok ikan akan dihadapi dengan besaran nilai stok ikan yang bersifat dinamis. Salah satu tujuan pengkajian stok ikan adalah bagaimana otoritas perikanan dapat menentukan dan mempertimbangkan pengelolaan perikanan (fisheries management) berdasarkan pada masukan informasi biologi, ekonomi, dan lingkungan. Penentuan strategi pengelolaan sebaiknya mempehitungkan dan meramalkan sejauhmana reaksi nelayan untuk tercapainya tujuan pengelolaan perikanan, serta memperhitungan tekanan pihak luar yang akan mempengaruhi pengelolaan perikanan di masa mendatang (Susilo 2009). Secara alamiah, nelayan akan merespon penurunan stok ikan dengan merekayasa peningkatan kemampuan tangkap kapal, ukuran kapasitas kapal, jaring, dan taktik penangkapan (peningkatkan kemampuan tangkap dengan perlengkapan teknologi yang lebih maju). Dengan demikian, upaya penangkapan bergerak mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi pada sumber daya dan faktor eksternal lain. Ketika biomassa tidak dapat mendukung pada tingkat upaya penangkapan yang sedang berjalan, maka upaya penangkapan akan berkurang secara alami. Dalam usaha menjaga kelestarian sumber daya ikan dikenal dengan tindakan pengelolaan, seperti kuota, pengaturan ukuran mata jaring, penutupan daerah pemijahan, dan musim, bertujuan untuk menjamin sebagian sediaan menjadi induk ikan dan menjaga sediaan induk dari eksploitasi. Berdasarkan pada hasil penelitian

54

55

aspek reproduksi, sebagian besar ikan yang tertangkap belum matang seksual. Dengan demikian, pendekatan memelihara stok induk ikan (spawning stock) melalui larangan penangkapan atau perlindungan ikan yang akan bertelor, yaitu termasuk pembatasan upaya penangkapan untuk mengurangi mortalitas penangkapan (F), atau penetapan penutupan daerah dan musim penangkapan belum mempunyai alasan kuat. Pemikiran tentang ikan diberi kesempatan bertelor paling sedikit satu kali selama hidup, secara harfiah akan melarang seluruh usaha perikanan tangkap. Jika ikan yang bersangkutan adalah ikan yang berkumpul pada waktu-waktu dan daerah penangkapan ikan yang berlainan, larangan tangkapan musiman dapat berakibat menjadi penutupan terus menerus pada daerah tertentu, dengan kemungkinan pasti bahwa upaya penangkapan akan dipusatkan secara tidak tepat pada kelompok sisa dari kumpulan ikan itu. Tentu saja akibatnya adalah naiknya biaya dan mungkin penurunan hasil tangkapan fisik yang lestari. Kondisi perikanan swanggi di Labuan telah mengalami overfishing secara biologi dan ekonomi. Strategi untuk mengurangi upaya penangkapan sampai batas MEY, dapat dilakukan dengan penutupan penangkapan pada bulan dan daerah penangkapan tertentu. Berdasarkan hasil pengamatan, TKG VII merupakan TKG yang sudah mengalami pemijahan sehingga dapat ditangkap, TKG tersebut terdapat pada bulan September. Penutupan bulan penangkapan dapat dilakukan pada bulan tersebut sesuai dengan daerah penangkapannya disertai dengan memperbesar ukuran mata jaring. Langkah ini dilakukan agar sesuai dengan daya pulih kembali sumberdaya ikan swanggi sehingga kapasitas yang optimal dan lestari dapat tercapai kembali. Agar tidak terjadi masalah baru maka dibutuhkan kerjasama antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengelola, masyarakat khususnya nelayan serta pihak yang terkait untuk memahami pentingnya kebijakan ini dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan ke depannya. Pendekatan selektivitas melalui regulasi ukuran mata jaring (mechanical selection) dilakukan agar ukuran-ukuran ikan yang belum matang gonad, sedang dalam proses kematangan, dan sedang matang gonad tidak tertangkap. Nilai Lm 50 (ukuran pertama kali matang gonad) ikan swanggi jantan lebih besar dibandingkan ikan betina yaitu 268 mm, oleh karena itu ukuran ikan yang tertangkap diharapkan

55

56

melebihi 268 mm. Budimawan et al. (2004) menyatakan bahwa ukuran pertama kali matang gonad merupakan indicator ketersediaan stok reproduktif. Dengan demikian, nelayan diharapkan dapat menangkap ukuran ikan yang lebih besar dengan TKG yang telah mengalami pemijahan. Pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pengaturan musim penangkapan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sumberdaya ikan untuk berkembang biak. Secara biologi ikan mempunyai siklus untuk memijah, bertelur, telur menjadi larva, juvenile, dan dewasa. Penutupan bulan penangkapan diduga dapat menurunkan hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, nelayan perlu mengkonsentrasikan penangkapan terhadap jenis ikan lainnya yang belum mengalami overfishing. Pada dasarnya, nelayan telah mengetahui dengan baik daerah penangkapan yang menguntungkan dan komposisi jenis ikan menurut daerah penangkapan dan musim. Memilih dalam kisaran sempit dari spesies dan ukuran ikan (human selection). Penyusutan biomassa mendorong nelayan mencari daerah penangkapan baru. Jika dilihat dari ukuran ikan yang digunakan saat penelitian pada bulan Maret 2011 sampai Oktober 2011, ikan yang banyak tertangkap adalah ikan-ikan muda. Apabila banyak ikan muda yang tertangkap di perairan dikhawatirkan stok ikan akan semakin sedikit. Sumberdaya perikanan yang mengalami tangkap lebih akan menghambat pertumbuhan populasi ikan sehingga stok yang berada di dalam perairan tersebut semakin menurun. Hal ini mempengaruhi ketidakpastian produksi ikan yang tinggi. Semakin tinggi ketidakpastian produksi maka produksi ikan semakin rendah. Pengelolaan yang tepat terhadap permasalahan sumberdaya ikan dilakukan dengan cara mengurangi upaya penangkapan agar dapat menghasilkan produksi yang tinggi dan ketidakpastian produksinya rendah. Terjadinya penurunan potensi sumberdaya ikan di wilayah perairan dapat dihindari dengan melakukan pengaturan dan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan yang ada. Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya ikan swanggi di Selat Sunda yang berlangsung secara berkelanjutan dan tetap lestari dibutuhkan untuk mengimbangi kondisi juvenile fishery agar tidak terjadi dugaan growth overfishing. Ikan swanggi bukan merupakan target tangkapan utama alat tangkap cantrang dan jaring rampus, namun berdasarkan penelitian reproduksi (Ballerena 2012),

56

57

persentase juvenil yang tertangkap sangat tinggi. Pengaturan ukuran mata jaring, bulan penangkapan, dan daerah penangkapan sebenarnya tidak dapat diterapkan dengan meninjau aspek suatu spesies saja, karena tidak ada alat tangkap yang bertujuan khusus menangkap suatu spesies ikan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan perikanan secara terpadu dari berbagai spesies yaitu pengelolaan perikanan multispecies. Perikanan laut dengan biaya operasi penangkapan yang rendah (low cost) yang dipengaruhi oleh kenaikan komponen biaya operasi penangkapan ikan seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebenarnya baik untuk menjamin kelestarian sumberdaya ikan. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya keseimbangan stok ikan di perairan tersebut, walaupun memberikan keuntungan yang terbatas bagi nelayan (Susilo 2009).

57

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1. Musim penangkapan

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

1.

Musim penangkapan ikan swanggi pada periode 2001-2007 terdapat pada awal musim peralihan barat-timur, awal dan akhir musim timur, awal musim peraihan timur-barat, dan akhir musim barat. Sedangkan pada periode 2010- 2011 terdapat pada pertengahan hingga akhir musim peralihan barat- timur, awal musim timur, akhir musim peralihan timur-barat, dan awal musim barat

2.

Daerah penangkapan ikan swanggi di Selat Sunda pada musim timur yaitu Carita, perjalanan menuju Sumur, dan 15-35 km ke arah P. Rakata. Pada musim peralihan II dan musim barat nelayan lebih banyak melakukan penangkapan di Teluk Labuan, Tg. Lesung, Sumur, dan P. Panaitan.

3.

Nilai parameter stok ikan swanggi (K, q, dan r) masing-masing sebesar 177311 kg/tahun, 0.02 kg/trip, dan 2.15 kg/tahun.

4.

Status pemanfaatan ikan swanggi di Selat Sunda sudah mengalami biological overfishing dan economical overfishing.

5.2.

Saran Saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya berdasarkan

penelitian ini adalah :

1. Kajian mengenai variasi genetik untuk mengetahui apakah ikan swanggi yang didapatkan berasal dari stok yang sama.

2. Penggunaan kurva yang disesuaikan dengan model estimasi parameter biologi.

3. Daerah dan musim penangkapan tidak hanya diketahui melalui wawancara, namun dengan mengikuti nelayan melakukan operasi penangkapan.

4. Pengelolaan sumberdaya ikan di Labuan secara terpadu untuk ketepatan pengelolaan.

58

DAFTAR PUSTAKA Asriyana. 2004. Distribusi dan Makanan Ikan Tembang ( Sardinella fimbriata ) di Perairan

DAFTAR PUSTAKA

Asriyana. 2004. Distribusi dan Makanan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) di Perairan Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. [tesis]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Badrudin INR & Amin EM.1999. Sebaran Spasial Biomassa Ikan Pelagis di Selat Lombok. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol V No.1. BPPL Pandeglang.

Bahdad. 2006. Analisis dan Pendugaan Hasil Tangkapan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. [tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan.1996. Alternatip Usaha Penangkapan Ikan Jaring Pantai (Pukat Tarik/Arad) bagi Nelayan Skala Kecil. BPPP Semarang.

Ballerena. 2012. Pola Reproduksi Ikan Swanggi Priacanthus Tayenus (Richardson, 1946) yang didaratkan di PPP Labuan, Banten

BMKG.2011. Analisis Musim Hujan 2010/2011 dan Prakiraan Musim Kemarau 2011 Provinsi Banten dan DKI Jakarta. Tangerang.

Boer M & Azis KA. 2007. Rancangan pengambilan contoh upaya tangkapan dan hasil tangkap untuk pengkajian stok ikan. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia 14(1): 67-71.

Budiman. 2006. Analisis Sebaran Ikan Demersal sebagai Basis Sumberdaya Pesisir di Kabupaten Kendal. [tesis]. Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Semarang.

Budimawan, Indar MYN, Mallawa A, & Najamuddin. 2004. Pendugaan ukuran pertama kali matang gonad ikan layang deles (Decapterus macrosoma Bleeker). Jurnal Sains dan Teknologi. 4 (1) : 1-8.

Charles A. 2001. Sustainable Fishery System. United Kingdom. Blackwell Science.

Clark CW. 1980. Toward a Predictive Model for the Economic Regulationn of Commercial Fisheries. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 1980, 37(7): 1111-1129, 10.1139/f80-144

Clark CW, GordonRM, &Anthony TC.1985.Fisheries, Dynamic and Uncertainty. Clerendon Press, Oxford. Canadian Journal of Fiheries an Aquatic Science, 37: 1111 1129. Canada.

Damayanti PA. 2007. Analisis Tangkapan Per Satuan Upaya (TPSU) Ikan Kembung (Rastrelliger spp) di Kepulauan Seribu [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 35 hlm.

FAO. 1999. The Living Marine Resources od Western Central Pasific. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. Department of Biological Sciences Old Dominion University Norfolk, Virginia, USA.

59

60

Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan. Gramedia Pustaka Utama :Pandeglang.

Gordon HS. 1954. The Economic Teory of A Common Property Resources : The Fishery. Journal Political Economic, 62 :124-132.

Gulland JA. 1982. Manual of Methods for Fish Sock Assesment Part I. Fish Population Analysis, FAO Rome.

Irhamni. 2009. Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan di Kabupaten Pandeglang dan Dukungan PPP Labuan. [skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. IPB. Bogor.

Kartika R. 2007. Peningkatan Fungsionalisasi Pangkalan pendaratan Ikan (PPI) Labuan Kabupaten Pandeglang. [skripsi]. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lembaga Penelitian UNDIP. 2000. Studi Pemberdayaan Potensi dan Rasionalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Laut di Propinsi Jawa Tengah. BAPPEDA Propinsi Jawa Tengah Semarang.

Nabunome.2007. Model Analisis Bioekonomi dan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Demersal (Universitas di Kota Tegal), Jawa Tengah. [tesis]. Program Pasca Sarjana Diponegoro, Semarang.

Nuitja INS. 2010. Manajemen Sumberdaya Perikanan. Bogor : IPB Press.

Pranggono H. 2003. Analisis Potensi dan Pengelolaan Ikan Teri di Perairan Kabupaten Pekalongan. [tesis]. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

pada

Purwanto.

2003.

Makalah

Pengelolaan

Sumberdaya

Ikan.

Disajikan

Workshop Pengkajian Sumberdaya Ikan, Pandeglang 25 Maret 2003.

Richardson. 1984. Classification of Priacanthus tayenus. [terhubung berkala] http://www.annual.sp2000.org/show_spesies_detail.php. [2 April 2011]

Seijo JC, Defeo O, &Salas S. 1998. Fisheries Bioeconomic : Theory, Modelling and Management. FAO Fisheries Tecnical Paper, Rome.

Sondita MFA. 2010. Manajemen Sumberdaya Perikanan. Universitas Terbuka :

Pandeglang

Sivakami S, Raje SG, Khan MF, Shobha JK, Vivekanandan E, &Kumar UR. 2001. Fishery and biology of Priacanthus hamrur (Forsskal) along the Indian coast. Indian journal of fisheries.48(3) : 277-289

Sivakami S, Raje SG, Nair KVS, Kumar PPM, &Ramani K. 2005. Fisherypotential of bullseyes along the west coast of India. Central Marine Fisheries Research Institute,P. B. No. 1603, Cochin - 682 018, India Scott Gordon