Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

PASIEN DENGAN LUKA BAKAR

Disusun oleh :
Heavin Rakhmat Saintika
012116407

Pembimbing Akademik :
dr. Soemitro, Sp. B.
KEPANITERAAN KLINIK SMF BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. R. SOEDJATI SOEMODIARDJO
PURWODADI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

Laporan Kasus
1. Identitas Pasien
a. Nama
: An. S
b. Umur
: 2 tahun
c. Jenis Kelamin
: Perempuan
d. Pekerjaan
:e. Alamat
: Desa Temon
f. Nomor RM
: 44.36.16.
g. Ruang
: Lavender 4.1
h. Waktu Perawatan
: 3 Agustus 2015
2. Anamnesis
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan Utama : bahu kanan kiri, lengan atas kanan dan
kiri melepuh akibat terkena tumpahan minyak goreng panas
Pasien datang ke IGD RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo
tanggal 3 Agustus 2015 pukul 20:00 WIB mengeluhkan bahu
kanan kiri, lengan atas kanan dan kiri melepuh akibat terkena
tumpahan minyak goreng panas.
1 jam SMRS ibu dari pasien sedang menggoreng tempe,
sedangkan pasien bermain disekitar tempat memasak, secara tidak
sengaja pasien menyenggol wajan sehingga minyak goreng tumpah
ke tubuhnya, dan pasien menangis seketika.
Setelah itu pasien bergegas dibawa kerumah sakit dan
diberi terapi cairan dan perawatan luka pada saat di igd kemudian
pasien di rawat di ruang lavender RSUD Dr. R. Soedjati
Soemodiardjo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
i. Riwayat DM (-)
ii. Riwayat trauma (-)
iii. Riwayat hipertensi (-)
iv. Riwayat asma (-)
c. Riwayat Penyakit Keluarga
i. Riwayat hipertensi (-)
ii. Riwayat DM (-)
d. Riwayat Sosio Ekonomi
i. Pasien merupakan seorang anak petani
ii. Pembiayaan biaya RS ditanggung oleh JKN PBI
iii. Kesan ekonomi : kurang
3. Pemeriksaan Fisik
a. Vital Sign
i. Nadi
ii. Pernafasan
iii. Suhu

: 112 x/menit
: 23 x/menit
: 37,5 0C

b. Status Gizi
i. Berat badan
: 13 kg
c. Pemeriksaan Fisik Sistemik
i. Umum
: Tampak sakit sedang, sering rewel
ii. Kulit
: Luka bakar (+), Ikterik (-), pucat (-)
iii. Kepala
: Mesochepal, rambut mudah dicabut (-),
benjolan (-)
iv. Mata
: Conjugtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
v. Telinga: kurang pendengaran (-), discharge (-).
vi. Hidung
: Simetris, nafas cuping hidung (-), Mimisan
(-), discharge (-)
vii. Mulut
: sariawan (-), gusi berdarah (-), sianosis (-),
bibir pucat (-), bibir kering (-), mukosa hiperemis (-), lidah
kotor (-), lidah tremor (-),
viii. Tenggorokan : nyeri telan (-), suara serak (-), nyeri
tenggorokan (-)
ix. Leher
: deviasi trakea (-), limfadenopati
(-),
JVP (-), pembesaran tyroid (-).
d. Pemeriksaan Fisik Thoraks Paru
Pemeriksaan
Inspeksi Statis

Inspeksi Dinamis
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Thoraks Anterior
Thoraks Post
RR 20x/menit, bentuk datar,
RR 20x/menit, ben
Hiperpigmentasi (-), spider nevi Hiperpigmentasi (-),
(-), tumor (-), inflamasi (-).
(-), tumor (-), infla
Hemitoraks kanan=kiri. ICS
Hemitoraks kanan
Normal. Diameter AP < LL
Normal, Diameter
Pergerakan hemitoraks
Pergerakan hem
kanan=kiri
kanan=kir
Nyeri tekan (-), tumor (-)
Nyeri tekan (-), t
Stem fremitus kanan=kiri
Stem fremitus ka
Sonor di seluruh lapang paru
Sonor di seluruh la
kanan dan kiri
kanan dan k
Suara dasar vesikuler, ronki
Suara dasar vesikule
(-), wheezing (-)
wheezing (

Kesan : Normal
e. Pemeriksaan Fisik Jantung
i. Inspeksi
Iktus kordis tak tampak
ii. Palpasi
Iktus kordis teraba di ICS V, 2 cm medial linea mid
clavicula sinistra, pulsus parasternal (-), sternal lift (-),
pulsus epigastrium (-)
iii. Perkusi
Jantung terperkusi redup
1. Batas atas jantung
: ICS II linea strenalis sn.
2. Pinggang jantung
: ICS III linea parasternal sn.
3. Batas kanan jantung : ICS V linea sternalis dextra.

4. Batas kiri jantung


: ICS V 2 cm medial linea
midclavicularis sinistra.
iv. Auskultasi :
Suara bising katup jantung (-)
1. Katup aorta
: SD I-II murni, reguler,
AI<A2
2. Katup trikuspid
: SD I-II murni, reguler,
T1>T2
3. Katup pulmonal
: SD I-II murni, reguler,
P1<P2
4. Katup mitral
: SD I-II murni, reguler
M1>M2
Kesan : Normal
f. Pemeriksaan Fisik Abdomen
i. Inspeksi
simetris, tampak datar, sikatrik (-), pelebaran vena (-),
hiperpigmentasi (-), striae (-), spider nevi (-)
ii. Auskultasi
Peristaltik (+) 13 kali/menit (N)
iii. Palpasi
1. Superfisial : supel, massa (-), nyeri tekan abdomen (-),
defence muscular (-)
2. Dalam : nyeri tekan (-), lien, dan ginjal tidak teraba
iv.
Perkusi :
1. Timpani seluruh lapang abdomen, pekak sisi (-), pekak
alih (-), undulasi (-)
2. Hepar : pekak (+), Liver span dextra 10 cm, liver span
sinistra 5 cm Hepatomegali (-)
3. Lien : troube space perkusi timpani Splenomegali (-)
4. Ascites (-), pekak alih (-), pekak sisi (-)
5. Nyeri ketok costovertebra (-/-)
Kesan : Normal
g. Pemeriksaan Fisik Ekstremitas
Pemeriksaan
Extremitas Superior
Extremitas Inferior
Oedema
-/-/Pitting Oedema
-/-/Sianosis
-/-/Akral Dingin
-/-/Capillary Refill
2s
2s
Nyeri tekan
-/-/Kesan : Normal
h. Pemeriksaan Status Lokalis
Terdapat luka bakar pada bahu kanan dan kiri lengan atas
kanan dan kiri dengan kedalaman hanya pada epidermis dan
luasnya sebanyak 15%

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
i. Hematologi
1. Hemoglobin : 12,2 g/dl
2. Eritrosit
: 5.370.000 /mm3
3. Leukosit
: 29.700 /l
4. Trombosit
: 492.000 /l
5. LED
: 3 / 5 mm3
6. Hitung Jenis Leukosit
a. Eosinofil
:0
b. Basofil
:0
c. Neutrofil staff
:0
d. Neutrofil segmen
: 64
e. Limfosit
: 28
f. Monosit
:8
7. Coagulation Test
: 5 13
8. Bleeding Time
: 1 0
9. Golongan darah
: A Rh +
ii. Kimia Klinik
1. GDS
: 117 mg/dl
5. Diagnosis
a. Diagnosis Kerja : Luka bakar derajat 1 dengan luas 15%
i.
6. Terapi
a. Edukasi
i. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai
penyakit yang dialami oleh pasien beserta dengan
komplikasinya
ii. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai
penanganan luka
iii. Menjelaskan kemungkinan kesembuhan penderita dan
komplikasi yang mungkin terjadi setelah operasi.
b. Non Farmakologis
i. Istirahat cukup
ii. Makan makanan bernutrisi tinggi, tinggi serat
iii. Perawatan luka teratur
iv. Dilatih untuk menggerakkan bagian tubuh yang terdapat
luka untuk mencegah kontraktur
c. Farmakologis
i. Infus RL sesuai luka bakar
ii. Ceftriaxon 1 gr 2 x 1
iii. Silver sulfadiazine 1%
7. Prognosis
a. Prognosis ad vitam
: dubia ad bonam
b. Prognosis ad functionam
: dubia ad bonam
c. Prognosis ad sanationam
: dubia ad bonam

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar dapat disebabkan oleh paparan api,
baik secara langsung maupun tidak langsung, misal akibat tersiram air panas
yang banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Selain itu, pajanan suhu
tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia juga dapat menyebabkan
luka bakar. Kerusakan kulit yangterjadi tergantung pada tingginya suhu dan
lama kontak. Suhu minimal untuk dapat menghasilkan luka bakar adalah
sekitar 44C dengan kontak sekurang-kurangnya 5-6 jam.
Di Indonesia, luka bakar masih menjadi problem yang berat.
Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan,
biaya mahal, tenaga terampil dan terlatih. Oleh karena itu penanganan luka
bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis
bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thorax, besah umum), intensifis,
spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri dan
psikologi.

Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.
Pembuluh

kapiler

yang

terpajan

suhu

tinggi

akan

rusak

dan

permeabilitasnya meningkat. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume


cairan intravaskular. Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya
mekanisme kompensasi tubuh bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%
akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah,
pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan
produksi urin berkurang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi secara histopatologik


Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu :
1. Lapisan epidermis atau kutikel
Lapisan epidermis terdiri atas : stratum korneum, stratum lusidum stratum
granulosm, stratum spinosum dan starum basale.
a. Stratum korneum (lapisan tanduk)adalah lapisan kulit yang paling
luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak
berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat
tanduk)
b. Stratum lusidum terdapat langsung dibawah lapisan korneum,
merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang
berubah menjadi protein yang disebut eleidin.lapisan tersebut tampak
lebih jelas di telapak tangan dan kaki.
c. Staratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3
lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti
di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Mukosa
biasanya tidak punya lapisan ini. Stratum granuloum juga tampak
jelas di telapak tangan dan kaki.

d. Stratum spinosum (staratum malphigi) atau disebut pula prickle cell


layer (lapisan akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.
Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti
terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat dengan permukaan
makin gepeng bentuknya. diantara sel-sel spinosum terdapat
jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini
membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus bizzozero.
Diantara sel-sel spinosum terdapat pula sel langerhans. Sel-sel stratum
spinosum mengandung banyak glikogen.
e. Staratum basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang
tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti
pagar (palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling
bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi
reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu:
1) Sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik
inti lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh
jembatan antar sel.
2) Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan selsel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap,
dan mengandung butir pigmen (melanosomes).
2. Lapisan dermis (korium kutis vera, true skin)
Lapisan dermis adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa
padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut.secara garis besar
dibagi dalam dua bagian yaitu:
a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikulare, yaitu bagian dibawahnya yang menonjol kearah
subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya
serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini
terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat,
dibagian ini terdat pula fibroblas, membentuk ikatan (bundel) yang
mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda serabut

bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga


makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. serabut elastin biasanya
bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang serta lebih
elastis.

3. Lapisan subkutis(hipodermis)
Tidak

ada

garis

tegas

yang

memisahkan

dermis

dan

subkutis,subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya


sel dan jaringan lemak.
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat
longgar berisi sel-sel lemak didalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel
bulat, besar dengan inti terdesak ke pinggit sitoplasma lemak yang
bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan
yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut
penikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini
terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal
tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokalisasinya. Di
abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, Di daerah kelopak mata dan
penis sangar sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan.
Vaskularisasi dikulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang
terletak di bagian atas dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di
subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di dermis bagian atas
mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang disubkutis dan di
pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di bagian ini pembuluh
darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah
terdapat saluran getah bening.
B. Penyebab Luka Bakar
1. Scald Burns
Luka karena uap panas, biasanya terjadi karena air panas, merupakan
kebanyakan penyebab luka bakar pada masyarakat. Air pada suhu 60C

menyebabkan luka bakar parsial atau dalam dengan waktu hanya dalam 3
detik. Pada 69C, luka bakar yang sama terjadi dalam 1 detik.
2. Flame Burns
Luka terbakar adalah mekanisme kedua tersering dari injuri termal.
Meskipun kejadian injuri disebabkan oleh kebakaran rumah telah
menurun seiring penggunaan detektor asap, kebakaran yang berhubungan
dengan merokok, penyalahgunaan penggunaan cairan yang mudah
terbakar, tabrakan kendaraan bermotor dan kain terbakar oleh kompor
atau pemanas ruangan juga bertanggung jawab terhadap luka terbakar.
3. Flash Burns
Flash burns adalah berikutnya yang paling sering. Ledakan gas alam,
propan, butane, minyak destilasi, alkohol dan cairan mudah terbakar lain
seperti aliran listrik menyebabkan panas untuk periode waktu. Flash
burns memiliki distribusi di semua kulit yang terekspos dengan area
paling dalam pada sisi yang terkena.
4. Contact Burns
Luka bakar kontak berasal dari kontak dengan logam panas, plastik, gelas
atau bara panas. Kejadian ini terbatas. Balita yang menyentuh atau jatuh
dengan tangan menyentuh setrika, oven dan bara kayu menyebabkan luka
bakar yang dalam pada telapak tangan.
5. Chemical Burn
Luka bakar yang diakibatkan oleh iritasi zat kimia, apakah bersifat asam
kuat atau basa kuat. Kejadian ini sering pada karyawan industri yang
memakai bahan kimia sebagai bagian dari proses pengolahan atau
produksinya. Penanganan yang salah dapat memperluas luka bakar yang
terjadi. Irigasi dengan NS (NaCl 0.9%) atau akuabides atau cairan netral
lainnya adalah pertolongan terbaik, tidak dengan cara menetralisirnya.
6. Electrical Burn
Sel yang teraliri listrik akan mengalami kematian yang bisa menjalar dari
sejak arus masuk sampai bagian tubuh tempat arus keluar. Luka masuk
adalah tempat aliran listrik memasuki tubuh, luka keluar adalah tempat
keluarnya arus dari tubuh menuju bumi/ground. Sulit secara fisik

menentukan

berat

ringannnya

kerusakan

yang

terjadi

mengingat perlu banyak pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya untuk


mengevaluasi keadaan penderita. Gangguan jantung, ginjal, kerusakan
otot sangat mungkin terjadi. Besarnya luka masuk atau luka keluar tidak
berhubungan dengan kerusakan jaringan sepanjang aliran luka masuk
sampai keluar. Maka dari itu setiap luka bakar listrik dikelompokan pada
derajat III
7. Frost Bite
Adalah luka akibat suhu yang terlalu dingin. Pembuluh darah perifer
mengalami vasokonstriksi hebat, terutama di ujung-ujung jari, hidung
dan telinga. Fase selanjutnya akan terjadi nekrosis dan kerusakan yang
permanen.

Untuk

tindakan

pertama

adalah

sesegera

mungkin

menghangatkan bagian tubuh tersebut dengan pemanas dan gerakangerakan untuk memperlancar sirkulasi.
C. Klasifikasi Luka Bakar
a) Berdasarkan Sumber Penyebab
1. Panas. Termasuk api, radiasi, atau pajanan panas dari api, uap dan
cairan panas serta benda benda yang panas
2. Bahan kimia. Termasuk berbagai macam asam dan basa
3. Listrik. Termasuk didalamnya arus listrik dan sambaran petir
4. Cahaya. Luka bakar yang disebabkan oleh sumber cahaya yang kuat
atau cahaya ultra violet, juga termasuk sinar matahari
5. Radiasi. Seperti radiasi nuklir, cahaya ultra violet juga termasuk salah
satu sumber penyebab luka bakar karena radiasi

b) Berdasarkan Kedalaman Kerusakan Jaringan


1. Luka Bakar Derajat I (Epidermal Burns)
Luka akibat terkena panas dari api, benda panas dan cairan panas
yang suhunya tidak mencapai titik didih, atau akibat cairan kimia.
Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superficial), kulit kering
hiperemis berupa eritema, tidak dijumpai bula, nyeri karena ujung
saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam 5-

10 hari. Tatalaksana untuk derajat I adalah dengan memberikan


suasana lembab.
2. Luka Bakar Derajat IIA (Superficial Partial-Thickness)
Kerusakan meliputi terlepasnya perlekatan epidermis dari dasar
dermisnya, epidermis tetap utuh dan celah diantaranya terisi
eksudasi.
3. Luka bakar Derajat IIB (Deep Partial Thickness)
Kerusakan meliputi terlepasnya epidermis dari dasar dermis disertai
adanya rusak/hilang lapisan epidermis dan sebagian dermis. Warna
jaringan kemerah-merahan, perabaan masih elastis dan nyeri.
4. Luka Bakar Derajat III (Deep)
Kerusakan pada seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam,
organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan
kelenjar sebasea rusak. Terjadi denaturasi protein, kulit pucat,
perabaan keras, tidak tersisa jaringan epitel yang dapat menjadi dasar
regenerasi sel spontan, sehingga untuk menumbuhkan kembali
jaringan kulit harus dilakukan cangkok kulit. Gejala yang menyertai
justru tanpa nyeri maupun bula, karena pada dasarnya seluruh
jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak.
5. Luka bakar Derajat IV (Muscle and Bone Exposed)
Kerusakan sudah sampai terpaparnya otot dan tulang
D. Fase Cedera Luka Bakar
1. Fase akut / fase emergensi : 48 jam pertama pasca kejadian
2. Fase subakut : setelah 48 jam pascakejadian ~ 1 bulan pasca kejadian
3. Fase lanjut / rehabilitatif: bulan kedua pasca kejadian, berlangsung
berbulan-bulan / bertahun-tahun
E. Luas Luka bakar
a) Rule of Nines (Wallace)
Pada dewasa digunakan rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada,
punggung, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas
atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan
kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus
ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada
orang dewasa.

b) Lund and Browder Chard

c) Telapak Tangan
- Dewasa :
1 % luas permukaan tubuh sesuai dengan 1 telapak tangan tanpa jarijemari (0.8%)

Anak-anak :
1 % luas permukaan tubuh sesuai dengan 1 telapak tangan dengan
jari-jemari dirapatkan (0.94%). 1 telapak tangan TANPA jari-jemari
hanya 0,5% luas permukaan tubuh (0,52%)

F. Patofisiologi
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas
meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi
anemia.

Meningkatnya

menimbulkan

bula

yang

permeabilitas
mengandung

menyebabkan
banyak

edema

elektrolit.

Hal

dan
itu

menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit


akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang
berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat
II, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme
kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan
terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat,
dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan
produksi urin yang berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal
terjadi setelah delapan jam. Pada kebakaran ruang tertutup atau bila luka
terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas,
asap atau uap panas yang terisap. Edema laring yang ditimbulkannya dapat
menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea,
stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. CO
akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu
lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung,
pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila
lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal.
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi
mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini
ditandai dengan meningkatnya diuresis. Luka bakar sering tidak steril.
Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk
pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi
karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami

trombosis. Padahal, pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau


antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari dari
kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan
kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini
biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten
terhadap berbagai antibiotik.
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif
yang berasal dari kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat
terjadi invasi kuman Gram negatif, Pseudomonas aeruginosa yang dapat
menghasilkan eksotoksin protease dari toksin lain yang berbahaya, terkenal
sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi
enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan
granulasi membentuk nanah.
Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan keropeng yang mudah
terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan
keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang
mula-mula sehat menadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang mula-mula
derajat II menjadi derajat III. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada
pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis
sehingga jaringan yang didarahinya nanti.
Bila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan
kuman dan terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka
bakar demikian disebut luka bakar septik. Bila penyebabnya kuman Gram
positif, seperti stafilokokus atau basil Gram negatif lainnya, dapat terjadi
penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus
infeksi di usus. Syok sepsis dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman
yang menyebar di darah.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat II dapat
sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai
dari sisa elemen epitel yang masih vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel
basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Luka bakar derajat II
yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal, kaku
dan secara estetik jelek. Luka bakar derajat III yang dibiarkan sembuh

sendiri akan mengalami kontraktur. Bila terjadi di persendian, fungsi sendi


dapat berkurang atau hilang.
Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase
akut, peristalsis usus menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada
fase mobilisasi, peristalsis dapat menurun karena kekurangan ion kalium.
Stres atau badan faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat
menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan
gejala yang sama dengan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai
tukak Curling.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga
keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena
eksudasi, metabolisme tinggi dan infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit
yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan tubuh
pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan
menurun. Dengan demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat
yang disebut penyakit luka bakar. Bila luka bakar menyebabkan cacat,
terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat, penderita mungkin
mengalami beban kejiwaan berat. Jadi prognosis luka bakar ditentukan oleh
luasnya luka bakar.

G. Initial Assessment
1. Evaluasi Primer Trauma
- A = Airway
adakah trauma inhalasi: anamnesa, suara serak (stridor)observasi
-

selama 24 jam bila perlu pasang ET atau lakukan trakheostomi


B = Breathing
Gangguan nafas karena eschar yang melingkar dada, trauma thorax

dlllakukan escharotomi atau penanganan trauma thorax yang lain


C = Circulation
Dilakukan resusitasi cairan. Bila penderita syok maka diatasi dulu
syoknya dengan infus RL diguyur sampai nadi teraba atau tekanan

darah >90mmHg. Baru kemudian lakukan resusitasi cairan


- D = Disability
2. Evaluasi Sekunder

Penilaian luas luka bakar dan derajat kedalamannya. Biasanya

dihitung sebelum resusitasi cairan definitive


Penilaian sistematis: kepala leher, tubuh depan, tubuh belakang,

lengan kanan dan kiri, tungkai kanan dan kiri, kelamin luar
Pasang NGT. Untuk dekompresi penderita yang mengalami ileus

paralitik dan untuk memasukkan makanan


Cuci luka dengan NaCl dan savlon, keringkan, olesi dengan salep

(Dermazin) kemudian rawat luka secara tertutup


Pemeriksaan laboratorium darah dan Analisa Gas Darah tiap 24 jam
Pemberian analgetika dan antibiotika

H. Penatalaksanaan
1. Fase Akut
Prioritas tata kelola : life-saving
a) Jalan nafas lancar dan aman, kondisi nafas baik
Airway management
a) Bersih dan amankan saluran nafas
b) Endotracheal intubation
c) Tracheostomy
Breathing management
a) Oksigenasi
b) Imbangan asam-basa
c) Ventilation support
b) Substitusi kehilangan cairan
Formula BAXTER PARKLAND
- 4 mL RL / % luas luka / kg berat badan (24 jam pertama)
50
%
diberikan
pada
8
jam
pertama
50

sisanya

diberikan

dalam

16

jam

berikutnya

Waktu dihitung sejak kejadian, bukan saat mulai pemberian


Evaluasi : Monitoring urine output 0,5 1 cc / kgBB / jam
cairan.
2. Fase Subakut
Prioritas tata kelola :
Mencegah perburukan morbiditas dan risiko mortalitas komplikatif
a) Stabilisasi hemodinamika dan antisipasi hiperkatabolisme
Mempertahankan respons baik terhadap resusitasi cairan :
1) Tekanan darah baik dan stabil
2) Laju nadi < 100/menit
3) Diuresis 1 - 1.5 mL/kgBB/jam
Formula cairan :
- Dextrose 5% 2000 mL per 24 jam
- Dextrose 1000 mL + 200 mL Albumin 20%
- Dextrose 1000-1500 mL + 500 mL Hydroxy-Ethyl Starch (HES)
6%

Pemantauan tanda vital, diuresis dan imbang cairan Per Jam


b) Pengelolaan luka
1) Berikan suasana steril dan lembab
- Steril: dilusi, debridement operatif
- Lembab: kasa lembab, topikal
2) Luka bakar yang sudah bersih dibalut dalam balutan lembab
non-adherent kain tulle dan kasa lembab absorben
3) Obat topikal antimikroba hanya berguna di area yg rentan
infeksi (perineum, telapak kaki) , ada bukti kolonisasi pada kasa
balutan (pus kehijauan)
c) Manajemen nyeri
Prosedur perawatan luka / buka balutan
1) Non farmakoterapeutik : positioning, luka diberi tulle, sebelum
dibuka balutan dibuat basah
2) Farmakoterapeutik : analgesia poten
Morfin IV : 0.3 mg/kgBB (injeksi)
Kombinasi low-dose Ketamine : < 3 mg/kgBB
d) Pencegahan infeksi dan sepsis
1) Farmakoterapi untuk pencegahan infeksi : Tetanus toxoid,
Immunoglobulin, Topical antibiotics, Antibiotika sistemik
analisis kultur kuman darah.
2) Kamar isolasi / khusus
3) Secondary prevention/early detection
4) Surgical management: debridement
e) Dukungan terapi nutrisi
Early enteral nutrition
- Feeding tube
- Low carb
- Padat kalori : Mengurangi volume makanan yang harus
-

dikonsumsi
24 vitamins, minerals, & antioxidants : essential for wound

healing and immune supports


Diet Parenteral
f) Fisioterapi
1) Dalam pengawasan konsultatif dokter ahli rehabilitasi medis :
Passive exercise, ideal dalam pembiusan tidur
2) Splinting di semua sendi sesuai posisi anatomis nya untuk
mencegah kontraktur
g) Psikoterapi emotional support
3. Fase Lanjutan
a. Nonsurgical management : persepsi diri, dukungan keluarga
b. Surgical management : bedah plastik

I. Prognosis
Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada
dalam dan luasnya permukaan luka bakar, dan penanganan sejak awal hingga
penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia dan keadaan
kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan.
Penyulit juga mempengaruhi progonosis pasien. Penyulit yang
timbul pada luka bakar antara lain gagal ginjal akut, edema paru, SIRS,
infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur.
J. Komplikasi
Sistemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), Multi-system
Organ Dysfunction Syndrome (MODS),dan Sepsis adalah komplikasi dari
luka bakar. SIRS adalah suatu bentuk respon klinik yang bersifat sistemik
terhadap berbagai stimulus klinik berat akibat infeksi ataupun noninfeksi
seperti trauma, luka bakar, reaksi autoimun, sirosis, pankreatitis, dll.
Respon ini merupakan dampak dari pelepasan mediator-mediator
inflamasi (proinflamasi) yang mulanya bersifat fisiologik dalam proses
penyembuhan luka, namun oleh karena pengaruh beberapa faktor
predisposisi dan faktor pencetus, respon ini berubah secara berlebihan
(mengalami eksagregasi) dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ
sistemik, menyebabkan disfungsi dan berakhir dengan kegagalan organ
terkena menjalankan fungsinya; MODS (Multi-system Organ Disfunction
Syndrome) bahkan sampai kegagalan berbagai organ (Multi-system Organ
Failure/MOF).