Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Salah satu ciri makhluk hidup adalah bereproduksi (berkembang biak). Reproduksi
bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan atau eksistensi suatu spesies
ersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara umum yaitu vegetatif dan generatif. Seperti
orgenisme lainnya, manusia berkembangbiak secara seksual dan pada saat tertentu akan
membentuk sel-sel kelamin (gamet).
Setelah sel telur di dalam ovarium masak, dinding rahim menebal dan banyak
mengandung pembuluh darah. Pembuahan didahului oleh peristiwa ovulasi, yaitu lepasnya
sel telur yang masak dari ovarium. Jika sperma bertemu dengan ovum akan terjadi
pembuahan. Pembuahan terjadi di oviduk. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk
zygot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput, kemudian menuju ke rahim. Di
dalam rahim zigot menanamkan diri pada dinding rahim yang telah menebal.
Selaput ini dikenal dengan nama selaput embrionik. Selaput terbentuk selama
perkembangan embrio dan bukan merupakan bagian dari tubuh embrio. Memiliki fungsi
sebagai media perantara pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio, pemberian nutrisi,
proteksi dan sekresi. Pada selaput ekstra embrionik, memiliki dua macam lapisan yaitu,
seluler (lapisan lembaga) dan non seluler (selaput telur). Terdapat beberapa macam selaput
ekstra

embrio,

kantung

yolk

(splanknopleura),

amnion

(somatopleura),

alantois

(splanknopleura), korion (somatopleura). Embrio dapat bertahan hidup sendiri selama


beberapa waktu dengan menyerap makanan dari kantung kuning telur dan dan susu uterus,
tetapi tidak lama kantung kuning telur tersebut dapat menyuplai makanan kepada embrio
tersebut. Sehingga embrio membutuhkan makanan yang lebih baik untuk kelangsungan
hidupnya (Sugiri, S., 2011). Masing-masing dari empat membran utama yang menyokong
embrio merupakan lembaran sel-sel yang berkembang dari lembaran epitelium yang berada
di sisi luar proper embrio. Kantung kuning telur meluas di atas massa kuning telur (Campbell,
2004).
Membran ekstrak embrionik merupakan perluasan-perluasan berlapis membran dari jaringanjaringan embrio. Pada dasarnya membran-membran tersebut adalah lipatan-lipatan yang pada
akhirnya tumbuh mengelilingi embrio dan menghasilkan empat kantung pada embrio yang
sedang tumbuh. Masing-masing membran terbentuk dari sel-sel yang berasal dari dua lapisan
nutfah berbeda (Kosasih, G., 1975).

1.2 TUJUAN
1.2.1 Mahasiswa mengetahui fungsi dari selaput ekstra embrio
1.2.2 Mahasiswa mampu untuk mejelaskan mekanisme pembentukan selaput ekstra embrio
pada ayam dan mamalia

BAB II
PEMBAHASAN

Salah satu adaptasi yang terjadi dalam evolusi yang sangat penting bagi kehidupan hewan
vertebrata di darat adalah adanya cara agar embrio selalu berada dalam keadaan basah.
Contohnya pada reptil, telur reptil dapat terus berkembang setelah telur tersebut diletakkan di
daratan. Hal ini dapat terjadi karena telur reptil tersebut diselubungi dengan cangkang dan
adanya berbagai selaput yang menyelubungi tubuh embrio. Selaput-selaput ini berasal dari
tubuh embrio itu sendiri. Selaput ini memiliki fungsi dalam hal nutrisi, pertukaran gas, dan
pembuangan atau penyimpanan bahan-bahan buangan. Beberapa reptil dan mamalia tidak
membentuk cangkang tetapi menggantinya dengan perkembangan intra-uterus yang lebih
cocok. Walaupun demikian, bentuk dan fungsi dasar dari selaput ekstra embrio tetap
dipertahankan.
Selaput ekstra embrio adalah beberapa selaput yang terbentuk pada masa perkembangan
embrional yang berasal dari tubuh embrio , namun terletak di luar tubuh embrio dan tidak
menjadi bagian tubuh embrio. Terdapat 4 macam selaput ekstra embrio yang umum terdapat
pada embrio vertebrata tinggi yakni amnion, kantung yolk, allantois, dan korion. Amnion
merupakan suatu membran tipis yang berasal dari somatopleura, berbentuk suatu kantung
yang menyelubungi embrio, dan berisi cairan. Amnion ini hanya ada pada reptil, aves, dan
mamalia. Oleh karena itu kelompok ini disebut kelompok amniota. Sedangkan pisces dan
amphibia tidak memiliki amnion sehingga disebut sebagai kelompok anamniota. Kantung
yolk merupakan suatu selaput splanknopleura, berfungsi dalam pemberian nutrisi aves dan
reptilia yang memiliki banyak yolk. Meskipun begitu, pada mamalia yang memiliki sedikit
yolk juga tetap memiliki kantung yolk. Endoderm kantung yolk merupakan merupakan
sumber bakal sel kelamin, sedangkan mesoderm kantung yolk merupakan sumber-sumber
sel-sel darah. Alantois merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai suatu evaginasi dari
bagian ventral usus belakang pada tahapan awal. Fungsi utama dari alantois ini adalah
sebagai penampung dan penyimpanan urin serta sebagai organ pertukaran gas antara embrio
dengan lingkungan luarnya. Korion merupakan membran ekstraembrio yang palin luar dan
yang berbatasan dengan cangkang atau jaringan induk. Korion berperan sebagai pembungkus
embrio, pertukaran gas saat respirasi, pembuangan ekskresi, dan sintesis hormon.

Gambar. 1. Letak amion korion, alantois dan kantung yolk pada embrio (A). Babi (B).
Manusia (Carlson, 1998).
2.1 Pembentukan Selaput Ekstra-Embrio Pada Ayam
Perkembangan embrionik ayam, suatu amniota sangat mirip dengan perkembangan
embrionik katak, suatu vertebrata yang tidak memiliki amnion. Akan tetapi, pada ayam,
perkembangan ini juga mencakup pembentukan membrane ekstra embrionik
(Extraembrionic membrane) yaitu membrane yang terletak diluar embrio. Pada embrio
awal, somatopleura dan splanknopleura meluas ke luar daerah tubuh embrio disebut
ekstra embrio (Sutasurya, 1990). Pada awalnya embrio ayam tidak memiliki batas
sehingga lapisan embrio dan lapisan ekstra embrio saling berkelanjutan. Dengan
terbentuknya tubuh embrio maka secara berurutan akan terbentuk lipatan (Gb 1.1).
dengan adaya lipatan tersebut tubuh embrio akan terpisah dari yolk menyebabkan batas
antara daerah intra-embrio dan ekstra embrio menjadi jelas. Selaput ekstra embrionik ada
4 jenis yaitu, kantong yolk, amion dan korion dan alantois.

Gambar. 2. bagan embrio ayam, memperlihatkan lipatan tubuh yang membatasi tubuh
embrio dari daerah ekstra-embrio.( Torey & feduccia, (1979) dalam Sutasurya (1990))
a. Kantong Yolk
Kantong yolk merupakan merupakan selaput ekstra-embrio yang paling awal dibentuk.
Splanknopleura embrio ayam tidak membentuk suatu saluran tertutup tetapi tumbuh di
atas permukaan yolk, mengelilinginya sehingga membentuk suatu kantung (Sutasurya,
1990). Kantong yolk berasal dari hipoblast primer dan sekunder. Pada saat
splankopneura melebar, terjadi pula pelipatan sehingga membentuk dinding saluran
pencernaan atau usus didalam tubuh embrio.

Gambar. 3. bagan embrio ayam, memperlihatkan lipatan tubuh yang membatasi tubuh embrio
dari daerah ekstra-embrio.( Torey & feduccia, (1979) dalam Sutasurya (1990))

Bagian tengah usus yang menghadap ke yolk tetap terbuka dan pada daerah ini dinding
kantung yolk berhubungan dengan dinding usus pada tangkai yolk. Lapisan endoderm
kantung yolk membuat lipatan yang masuk kedalam yolk.

Gambar. 3. Tahapan lanjut dari pembentukan selaput ekstra embrio pada embrio ayam.
(torrey&Feduccia (1979)

Dengan bantuin enzim pencernaan yolk yang telah dicerna diserap dan dialirkan ke
embrio oleh vena vitelin, vena omfalomesenterika yang terdapat pada tangkai yolk. Selama
perkembangan embrio, albumen akan kehilangan air sehingga albumen akan menjadi lebih
kental . menjelang akhir masa inkubasi , sisa yolk dan beserta kantung yolk akan masuk
kedalam rongga perut yang selanjutnya dinding perut akan menutup. Sisa yolk yang ada akan
digunakan anak ayam yang baru menetas sebagai persediaan makanan selama masa awal
kehidupan bebasnya. Campbell, (2008: 202) kantong kuning telur (yolk sac) menyelubungi
kuning telur yang menyediakan nutrient-nutrien hingga saatnya menetas.

Gambar. 4. Selaput-selaput ekstra embrio pada embrio ayam .

2.2 Amnion dan Korion


Amnion adalah selaput embrio yang langsung membungkus embrio, berupa
kantung yang tipis yang berisi cairan amnion dan embrio dapat bebas bergerak
didalamnya (Surjono, 2001)
Perkembangan amnion dan korion dimulai setelah proses gastrulasi dan neurolasi
dengan pembentukan lekukan somatopleura mesoderm dan ektoderm. Perlekukan ini
disebut sebagai amniotic folds. Somatropleura ekstra-embrio terangkat ke atas embrio
dan melipat sehingga menjadi berlapis dua. Pelipatan yang pertama ini terjadi pada
daerah kepala membentuk suatu selubung rangkap somatopleura yang mengelilingi
kepala.

Gambar. 5. Embrio ayam umur 40 jam inkubasi, telah mempunyai lipatan amnion kepala yang
menyekubungi kepala embrio.

Kedua sisi posterior dari lipatan kepala akan berlanjut pada lipatan lateral amnion.
Lipatan lateral tumbuh dan akan bertemu didaerah dorsal dari embrio. Pada sebelah kaudal
amnion terbentuk lipatan ekor amnion. Gambar brapa
Pertumbuhan lipatan kepala, lateral dan ekor amnion akhirnya akan bertemu diatas
embrio. Pada titik pertemuan, lipatan akan melebr menjadi satu dan embrio terbungkus
oleh selaput somatopleura. Selaput sebelah dalam disebut dan yang sebelah luar disebut
sebagai korion. Gambar brapa
Rongga amnion dibatasi oleh ectoderm, sedangkan rongga korion dibatasi oleh
membrane yang merupakan coelom ekstra-embrio. Pada mesoderm amnion dibentuk oleh
sel-sel otot dan rongga amnion berisi cairan.
Menurut Sutasurya (1990) salah satu fungsi dari korion , pada perkembangan lanjut
dari perkembangan embrio ayam adalah transport ion Ca dari cangkang yang
didistribusikan ke paru dan rangka. Oleh karena itu suatu hubungan yang langsung antara
korion dan membrane cangkang diperlukan agar transport ion Ca dapat berlangsung secara
maksimal.
2.3 Alantois
Alantois dibentuk sebagai suatu divertikulum dari usus belakang, jadi dindingnya
adalah suatu splanknopleura. Bagian proksimalnya tetap berada di dalam tubuh embrio
selama masa perkembangannya, sedang bagian distalnya masuk ke dalam coelom ekstraembrio, tumbuh hingga mengisi rongga coelom ekstra-embrio (Sutasurya, 1990).

Gambar.6. Gambar bagan penampang memanjang daerah kaudal embrio ayam, memperlihatkan
pembentukan alantois saat di inkubasi.

Bagian proksimal dari alantois disebut kantung alantois sedang bagian distal yang
melebar disebut kantung alantois yang diisi oleh cairan sehingga berbentuk sebagai balon
(Sutasurya, 1990).

Gambar.7. Embrio ayam umur 6 hari inkubasi yang telah dikeluarkan dari cangkang telur,
albumen dan korion,

Dengan membesarnya alantois, alantois bertemu dengan korion, kedua lapisan ini
disebut selaput korio-alantois. Mesoderm alantois melebur dengan mesoderm korion
sehingga terbentuk dua lapisan rangkap mesoderm, mesoderm somatik dari korion dan
mesoderm splanknik dari alantois. Pada lapisan mesoderm ini terbentuk pembuluh darah
yang dihubungkan dengan sistem peredaran darah intra-embrio melalui vena dan arteri
alantois. Melalui pembuluh darah ini alantois melakukan fungsinya sebagai organ respirasi
dan juga karena alantois terletak dekat sekali dengan cangkang telur. Pada waktu menetas,
tangkai alantois dan kantung alantois dengan isinya tetap melekat pada cangkang telur
(Sutasurya, 1990).
2.4 Selaput ekstra embrio pada mamalia
Selaput ekstra embrio pada mamalia dibentuk saat tahap blastula hingga tahap gastula
setelah implantasi. Pada waktu 7 hari setelah fertilisasi, embrio mempunyai lebih dari 100 sel
yang tersusun di sekitarrongga tengah. Tahap ini dikenal dengan tahap blastosit. Menjorok ke
arah satu ujung rongga blastosit merupakan kumpulan sel yang disebut sebagai inner cell
mass yang selanjutnya akan berkembang menjadi proper embrio dan beberapa membran
ekstraembrionik. Pada bagian paling luar terdapat epitel yang mengelilingi rongga yang
disebut trofoblas. Yang nantinya akan berkembang menjadi plasenta dengan jaringan
mesoderm.

Embrio akan mencapai uterus pada tahap blastosit dan akan melakukan implantasi.
Trofoblas mensekresi enzim enzim yang membuat blastosit mampu menembus dinding
uterus. Kemudian trofoblas akan terendam dalam endometrium dan akan menebal. Pada saat
blastosit terimplantasi ke uterus, massa sel bagian dalam akan membentuk lapisan epiblas dan
hipoblas. Lapisan epiblas yang akan menjadi tiga lapisan germinal embrio dan lapisan hipolas
yang akan membentuk kantung kuning telur. Kemudian gastrulasi oleh pergerakan ke arah
dalam sel-sel epiblas akan menghasilkan embrio berlapis tiga yang dikelilingi oleh mesoderm
ekstraembrionik yang memperbanyak diri.

2.5 Korion
Korion merupakan membran luar. Pada mamalia, korion menempel di
endometrium. Nantinya korion bersama-sama dengan jeringan induk akan membentuk
plasenta (pack.p , 2008). Korion merupakan perkembangan dari tropoblas, secara
sempurna korion akan mengelilingi embrio dan membran ekstraembrionik lainya
(campbell, dkk, 2004). Korion pada mamalia memiliki vili-vili yang berfungsi untuk
memperluas daerah permukaan korion untuk perlekatan dengan endometrium induk serta
kaya dengan pembuluh-pembuluh darah yang akan berfungsi di dalam pertukaran darah
dengan induk.
2.6 Alantosis
Alantosis diawali sebagai sebuah kantungyang menjulur ke arkenteron yang
akhirnya akan menyelubungi embrio membentuk sebuah lapisan dibawah korion
(pack.p , 2008). Alantosis

berkembang sebagai kantung dari luar perut rudimenter

embrio, seperti halnya pada embrio ayam. Alantosis digabungkan kedalam tali pusar,
dimana alantosis membentuk pembuluh darah yang mengangkut oksigen dan nutrien dari
plasenta ke embrio dan mengeluarkan karbondioksida serta limbah bernitrogen dari
embrio (campbell, dkk, 2004). Pada unggas dan mamalia (kecuali manusia) alantois
berkembang dan mengisi ruang ekstra embrionik dan bagian luarnya menyatu dengan
korion membentuk korioalantois. Lapisan ini berasal dari terjadinya gerakan morfogenik
evaginasi bagian ventro-median usus belakang (splanknopleura). Kemudian lapisan ini
meluas dan bersatu dengan khorion menjadi khorioalantois.

2.7 Amnion
Amnion atau ketuban merupakan perkembangan dari epiblas. Menurut
(campbel,dkk, 2004),

amnion mulai terbentuk sebagai sebuah kubah di atas epiblas

yang memperbanyak diri dan akhirnya menyelimuti embrio dengan rongga amnion
yang penuh dengan cairan. Cairan dalam rongga amnion merupakan air yang keluar
dari vagina induk ketika amnion pecah saat sebelum melahirkan. Cairan amnion dapat
melindungi fetus terhadap goncangan dan trauma mekanis.
2.8 Kantung yolk
Pada mamalia kantung kuning telur bersifat sementara. Sel telur mamalia
memiliki jumlah kuning telur sedikit sehingga peran kuning telur sebagai sumber
nutrisi digantikan oleh darah induk melalui plasenta. Meskipun kantung kuning telur
berkembang di awal perkembangan embrional mamalia (kemudian akan mengecil dan
hanya menjadi bagian dari tali pusar), kantung kuning telur memiliki fungsi yang
penting. Menurut (campbel,dkk, 2004), membran kuning telur mamalia adalah tempat
pembentukan awal sel-sel darah merah yang kemudian akan bermigrasi pada proper

embrio. Karena kantung kuning telur pada mamalia tidak mengandung yolk, maka
nutrisi akan diperoleh melalui plasenta.

BAB III
KESIMPULAN
1. Selaput ekstra embrio ada 4 macam. Dan masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.
a. Kantung yolk berfungsi sebagai alat vital, yaitu pada endoderm kantung yolk
merupakan sumber bakal sel kelamin. Mesoderm kantong yolk merupakan
sumber-sumber sel-sel darah.
b. Alantois berfungsi untuk tempat menampung dan sebagai organ pertukaran gas
antara embrio dan lingkungan luarnya.
c. Amnion dan Korion berfungsi untuk tempat pertukaran gas antara embrio dan
lingkungan luar, tetapi pada hewan ovipar korion juga berfungsi sebagai
penyedia nutrisi, tempat ekresi dll.
2. Selaput ekstra embrio pada katak ada 4 macam yaitu, kantung yolk yang pertama kali
dibentuk. Kemudian ada amnion dan korion yang merupakan membran yang paling
luar yang berbatasan dengan cangkang. Alantois adalah kantung yang terbentuk sebagai
suatu evaginasi dari bagian usus tulang belakang pada tahap awal. Pada maamlia
mengunakan selaput-selaput ekstra-embrio yang sama seperti pada ayam dengan
penyesuaian perkembanganya didalam uterus.

DAFTAR RUJUKAN
Chambell, Neil A, dkk. 2004. BIOLOGI edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Sugiri, N., 2011. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga
Pack, Philip. 2008.ChiffsAP BIOLOGI EDISI Ke-2. Bandung: Pakar Jaya.
Sutasurya, 1990. Dasar-Dasa Perkembangan Hewan. Bandung: ITB.