Anda di halaman 1dari 30

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
ISOLASI LIGNIN DARI KULIT PINANG (ARECA CATECHU L)
SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SURFAKTAN NATRIUM
LIGNOSULFONAT
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:
Janualiati

1103111844

Angkatan 2011

Ariesta Safitri

1103114028

Angkatan 2011

Rita Susanti

1103114017

Angkatan 2011

Aditya Dharma Putra

1204111881

Angkatan 2012

Septi Dianti Hanif

1305112868

Angkatan 2013

UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014

HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan

2. Bidang Kegiatan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jurusan
d. Universitas
e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP

4.
5.

7.
8.

: Isolasi Lignin dari Kulit Pinang (Areca


Catechu L) sebagai Bahan Baku
Pembuatan
Surfaktan
Natrium
Lignosulfonat
: PKM P
:
:
:
:
:

Janualiati
1103111844
Kimia
Universitas Riau
Jl. Garuda Sakti Km. 3 Jl. Uka
Perumahan Nugraha Permata I Blok I
No. 21 RT 15 RW 09 Kelurahan
Simpang Baru Kecamatan Tampan,
Pekanbaru / 085271451619
f. Alamat email
: janualiaticu29@gmail.com
Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 4 orang
Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Prof. Dr. Saryono, M.Si
b. NIDN
: 0011066208
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP
: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau
Kampus Bina Widya Sp-Panam,
Pekanbaru 28293 /0811767786
Biaya Kegiatan Total
a. Dikti
: Rp. 8.000.000,00
b. Sumber lain
: Jangka Waktu Pelaksanaan
: 3 bulan

Pekanbaru, 12 Juni 2014


Menyetujui
Ketua Jurusan

Ketua Pelaksana Kegiatan

Dr.Sofia Anita, MSc


NIP. 196504201991032005

Janualiati
NIM. 1103111844

Wakil Rektor Bidang


Kemahasiswaan,

Dosen Pendamping

Drs. Rahmad, M.T


NIP. 195712231987021001

Prof. Dr. Saryono, M.Si


NIP. 196206111989031005

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................

ii

RINGKASAN..................................................................................................

iii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................

1.2 Perumusan Masalah.........................................................................

1.3 Tujuan Penelitian...............................................................................

1.4 Luaran yang Diharapkan ..................................................................

1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................

2.1 Pandangan Umum Tentang Pinang..................................................

2.2 Struktur dan Komposisi Kulit Pinang .............................................

2.3 Lignin ..............................................................................................

2.4 Natrium Lignosulfonat (NaLS)........................................................

2.5 Pencirian gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR.........................

2.6 Analisa kemurnian dengan spektofotometer UV-Visible .................

BAB 3. METODE PENELITIAN..................................................................

10

3.1 Alat dan Bahan ................................................................................

10

3.2 Prosedur Penelitian ..........................................................................

10

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN...............................................

11

4.1 Anggaran Biaya ...............................................................................

11

4.2 Jadwal Kegiatan ..............................................................................

12

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

12

LAMPIRAN....................................................................................................

14

RINGKASAN
Kulit pinang (Areca catechu L.) sebagai limbah karena hanya ditumpuk dan belum
dimanfaatkan secara maksimal mengandung lignin 13,0-26,0%. Kandungan lignin
yang cukup besar terutama pada kulit pinang yang telah tua dapat dijadikan bahan
baku pembuatan surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS). Isolasi lignin dari kulit
pinang menggunakan benzena : etanol 96 % (2:1, v/v) dan penambahan larutan
pemasak etanol 96 % : air (10 : 1 v/b) yang dikatalisis oleh NaOH 10 %. Isolat
lignin kemudian dicampurkan dengan NaHSO3 dengan perbandingan 1:0,5 untuk
memperoleh surfaktan Natrium Lignosulfonat. Surfaktan yang terbentuk dianalisis
gugus fungsinya dengan FTIR dan analisis kemurnian dengan spektrofotometer
UV-Visible.
Kata kunci: kulit pinang (Areca catechu L.), lignin, surfaktan, Natrium
Lignosulfonat

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tanaman pinang (Areca catechu L.) adalah salah satu jenis palma yang

tersebar luas di wilayah Indonesia, baik secara individu maupun populasi, dan
umumnya

ditanam

sebagai

tanaman

pagar

atau

pembatas

kebun

(Maskromo dan Rachman, 2007). Pinang terdapat merata di seluruh Indonesia


antara lain di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi.
Biasanya tumbuh bagus atau subur di daerah pantai sampai pada ketinggian
700 m dpl (Yayasan Kehati Prosea, 2012).
Pinang memiliki banyak kegunaan antara lain biji pinang untuk konsumsi
yang biasanya dimakan bersama gambir dan sirih, bahan industri kosmetik,
kesehatan seperti ramuan herbal, dan bahan pewarna pada industri tekstil. Namun,
pemanfaatan tersebut umumnya masih terbatas pada bagian biji, daun dan batang.
Sementara itu bagian kulit pinang masih terbuang dengan percuma tanpa
digunakan atau dimanfaatkan lebih lanjut. Bagian kulit pinang yang belum
termanfaatkan ini lama kelamaan dapat menumpuk karena proses dekomposisinya
yang cukup lama sehingga berpotensi menjadi limbah yang dapat mencemari
lingkungan.
Kulit pinang menyumbang sekitar 6080% dari total berat buah pinang.
Kulit pinang mengandung selulosa dengan variasi porsi hemiselulosa (35,0
64,8%), lignin (13,026,0%), pektin dan protopektin (Rajan et al., 2005).
Sedangkan Yusriah et al. (2012) menyebutkan kandungan kimia dari serat kulit
pinang yaitu -selulosa (58,20%), hemiselulosa (32,98%), lignin (7,20%), lemak
dan malam (0,64%), abu (1,05%) dan materi lainnya (3,12%). Saat ini, banyak
penelitian menggunakan kandungan selulosa dan hemiselulosa yang cukup tinggi
dalam serat kulit pinang sebagai bahan pembuatan komposit polimer yang
berguna sebagai komponen dalam produk-produk seperti sepatu olahraga, perabot
rumah tangga meja dan kursi, kaki palsu dan produk-produk lainnya. Namun,
untuk memperoleh komposit polimer yang diinginkan dengan sifat tidak terlalu
keras dan mudah dibentuk dilakukan dengan cara menghilangkan kandungan
lignin dalam kulit pinang tersebut.

Kandungan selulosa dan hemiselulosa pada kulit pinang yang tua lebih
sedikit dibandingkan pada kulit pinang yang masih mentah dan matang,
sedangkan kandungan lignin dalam kulit pinang akan meningkat seiring dengan
perkembangan tingkat kematangan (maturity) (Rajan et al., 2005). Kulit pinang
yang telah tua dan mengeras ini menumpuk sebagai limbah karena belum
dimanfaatkan secara maksimal. Kulit pinang tersebut merupakan salah satu
sumber lignin yang dapat digunakan untuk sintesis surfaktan Natrium
Lignosulfonat.
Pembuatan surfaktan Natrium Lignosulfonat berbahan dasar limbah seperti
tempurung kelapa, serbuk bambu, pelepah sawit atau tandan kosong kelapa sawit
telah banyak dilakukan. Namun berdasarkan literatur yang diperoleh, pembuatan
surfaktan natrium lignosulfonat berbahan dasar kulit pinang tua belum pernah
dilakukan.
Natrium Lignosulfonat (NaLS) termasuk jenis surfaktan yang penggunaanya
dalam industri cukup luas karena kemampuannya dapat menurunkan tegangan
permukaan dan antarmuka, sebagai penstabil sistem emulsi dan sebagai bahan
pendispersi yang baik. NaLS digunakan sebagai bahan perekat dalam industri
keramik, sebagai bahan pengemulsi, sebagai pelarut dalam industri tekstil, serta
sebagai bahan pendispersi pada berbagai sistem dispersi partikel (pasta gipsum
dan pasta semen) (Filder dalam Ismiyati, 2008).
1.2

Perumusan Masalah
Tanaman pinang juga banyak ditemukan di wilayah Riau. Produksi pinang

di Riau mencapai 10.818 ton dengan luas lahan terbesar berada di Kabupaten
Indragiri Hilir yaitu 16.252 Ha dengan hasil 9.595 ton (BPS Riau, 2012).
Banyaknya produksi pinang ini hanya mengindikasikan dari sektor penjualan biji
pinang saja, karena para petani biasanya menjual biji pinang tanpa kulit kepada
penampung dan diteruskan pada pihak pabrik. Akibatnya produksi pinang yang
cukup besar ini menyisakan limbah kulit pinang yang belum termanfaatkan secara
maksimal. Lignin yang terdapat dalam kulit pinang dapat dijadikan bahan baku
pembuatan surfaktan Natrium Lignosulfonat, sehingga pemanfaatan limbah kulit
pinang ini diharapakan dapat mengurangi potensi pencemaran lingkungan yang
ditimbulkan oleh penumpukan kulit pinang.

1.3

Tujuan Penelitian
Pemanfaatan lignin yang diisolasi dari kulit pinang sebagai bahan baku

pembuatan surfaktan Natrium Lignosulfonat.


1.4

Luaran yang Diharapkan


Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah terbitnya sebuah artikel

ilmiah untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya tentang


pemanfaatan limbah kulit pinang sebagai bahan baku pembuatan surfaktan
Natrium Lignosulfonat.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :
1.5.1

Bagi perindustrian nasional sebagai alternatif bahan baku pembuatan


surfaktan Natrium Lignosulfonat sehingga dapat mengurangi impor garam

1.5.2

Lignosulfonat.
Bagi perkembangan IPTEK dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan

1.5.3

untuk dijadikan referensi penelitian selanjutnya.


Bagi kelestarian alam dapat mengurangi potensi limbah kulit pinang
khususnya di Wilayah Indragiri Hilir, Riau dan seluruh Indonesia pada
umumnya.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pandangan Umum Tentang Pinang
Tanaman pinang (Areca catechu L.) adalah salah satu jenis palma yang
tersebar luas di wilayah Indonesia, baik secara individu maupun populasi, dan
umumnya

ditanam

sebagai

tanaman

pagar

atau

pembatas

kebun

(Maskromo dan Rachman, 2007). Klasifikasi pinang dalam taksonomi yaitu


sebagai berikut :

Gambar 1. Pinang
(http://www.plantamor.com/index.php?plant=131)

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Arecidae

Ordo

: Arecales

Famili

: Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus

: Areca

Spesies

: Areca catechu L.

Pinang terdapat merata di seluruh Indonesia antara lain di Sumatera, Jawa,


Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi. Biasanya tumbuh bagus atau subur di
daerah pantai sampai pada ketinggian 700 m dpl (Yayasan Kehati Prosea, 2012).
Tanaman pinang juga banyak ditemukan di wilayah Riau. Produksi pinang
di Riau mencapai 10.818 ton dengan luas lahan terbesar berada di Kabupaten
Indragiri Hilir yaitu 16.252 Ha dengan hasil 9.595 ton (BPS Riau, 2012). Wilayah
potensi pengembangan komoditi pinang di Riau dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1. Wilayah potensi pengembangan komoditi pinang di Riau
NO

NAMA DAERAH

LUAS LAHAN

Kabupaten Bengkalis

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 870

Kabupaten Indragiri Hilir

Lahan yang sudah Digunakan (Ha):


16.252

Kabupaten Indragiri Hulu

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 383

Kabupaten Kampar

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 90

Kabupaten Kepulauan Meranti

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 511

Kabupaten Kuantan Singingi

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 235

Kabupaten Pelalawan

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 63

Kabupaten Rokan Hilir

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 88

Kabupaten Rokan Hulu

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 165

10

Kabupaten Siak

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 259

11

Kota Dumai

Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 99

(BPS Riau, 2012)


2.2 Struktur dan Komposisi Kulit Pinang
Kulit pinang menyumbang sekitar 6080% dari total berat buah pinang.
Kulit pinang mengandung selulosa dengan variasi porsi hemiselulosa (35,0
64,8%), lignin (13,026,0%), pektin dan protopektin (Rajan et al., 2005).
Sedangkan Yusriah et al. (2012) menyebutkan kandungan kimia dari serat kulit
pinang yaitu -selulosa (58,20%), hemiselulosa (32,98%), lignin (7,20%), lemak
dan malam (0,64%), abu (1,05%) dan materi lainnya (3,12%). Saat ini, banyak
penelitian menggunakan kandungan selulosa dan hemiselulosa yang cukup tinggi
dalam serat kulit pinang sebagai bahan pembuatan komposit polimer yang
berguna sebagai komponen dalam produk-produk seperti sepatu olahraga, perabot
rumah tangga meja dan kursi, kaki palsu dan produk-produk lainnya. Namun,
untuk memperoleh komposit polimer yang diinginkan dengan sifat tidak terlalu
keras dan mudah dibentuk dilakukan dengan cara menghilangkan kandungan
lignin dalam kulit pinang tersebut.
Kandungan selulosa dan hemiselulosa pada kulit pinang yang tua lebih
sedikit dibandingkan pada kulit pinang yang masih mentah dan matang,
sedangkan kandungan lignin dalam kulit pinang akan meningkat seiring dengan
perkembangan tingkat kematangan (maturity) (Rajan et al., 2005).
2.3

Lignin
Lignin merupakan komponen makromolekul kayu ketiga yang berikatan

secara kovalen dengan selulosa dan hemiselulosa. Struktur molekul lignin sangat
berbeda bila dibandingkan dengan polisakarida, karena terdiri atas sistem
aromatik yang tersusun atas unit-unit fenil propana. Lignin ada di dalam dinding
sel maupun di daerah antar sel (lamela tengah) dan menyebabkan kayu menjadi
keras dan kaku sehingga mampu menahan tekanan mekanis yang besar. Selama
perkembangan sel, lignin dimasukkan sebagai komponen terakhir dalam dinding
sel, menembus di antara fibril-fibril sehingga memperkuat dinding sel. phidroksinamil alkohol, p-koumaril alkohol, koniferil alkohol dan sinapil alkohol
merupakan senyawa induk (prekursor) primer seperti pada Gambar 2 dan
prekursor tersebut merupakan unit pembentuk lignin (Heradewi, 2007).

Gambar 2. (1) p-koumaril alkohol, (2) koniferil alkohol, (3) sinapil alkohol
Lignin dapat diisolasi dari bahannya sebagai lignin preparatif atau turunan
lignin (pseudolignin), tetapi sifat protolignin yang asli sulit didapat. Hal tersebut
dikarenakan belum adanya metode untuk mengisolasi lignin secara utuh sehingga
tidak dapat menyebabkan perubahan mendasar dalam lignin alam (Heradewi,
2007). Menurut Sirait et al. (2013) metode isolasi lignin terbagi dalam dua
kelompok, yaitu :
a. Metode yang menghasilkan lignin sebagai sisa (residu).
b. Metode yang melarutkan lignin, baik dengan ekstraksi pelarut atau
membentuk turunan yang larut.
Metode isolasi yang pertama sering dinamakan lignin asam (lignin Klason)
yang diperoleh setelah penghilangan polisakarida dari kayu yang diekstraksi
(bebas damar) dengan hidrolisis H2SO4 68-78% (biasanya 72%). Asam-asam lain
(seperti HCl) dapat digunakan juga untuk hidrolisis, tetapi metodenya mempunyai
kekurangan yang serius, yaitu struktur lignin berubah secara intensif selama
hidrolisis. Semua pemisahan lignin dengan metode asam ini selalu mengakibatkan
kondensasi lignin dan masuknya unsur S atau Cl (Heradewi, 2007).
Berbagai teknik isolasi telah dipelajari, tetapi pada prinsipnya sama yaitu
diawali dengan proses pengendapan padatan. Menurut Sjostrom (1995), isolasi
lignin dibedakan pada tiga metode yaitu isolasi dengan pengasaman yang
menggunakan pereaksi anorganik seperti H2SO4 pekat atau HCl pekat, isolasi
dengan metode Cellulolytic Enzyme Lignins (CEL), dan Milled Wood Lignin
(MWL) (Heradewi, 2007). Keberhasilan isolasi lignin dipengaruhi oleh kondisi
optimum pada saat pengasaman dan proses pemisahannya (Sirait et al., 2013).

Proses isolasi dengan metode pengasaman banyak digunakan untuk


mendapatkan lignin dengan kemurnian tinggi. Heradewi (2007) menyebutkan
urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
a. Pengendapan lignin dengan asam sulfat.
b. Pelarutan endapan lignin dengan menggunakan NaOH.
c. Pengendapan lagi dengan menggunakan asam sulfat.
d. Pencucian dengan air.
e. Pengeringan padatan lignin
Lignin tidak hanya diperoleh dari bahan kayu ataupun limbahnya. Bahan
non kayu seperti limbah padat hasil pertanian merupakan bahan berlignoselulosa
yang berpotensi menjadi salah satu sumber lignin (Heradewi, 2007).
Penggunaan lignin pada saat sekarang dan masa depan merupakan bidang
yang luas dan semakin meningkat kepentingannya. Lignin dapat dimanfaatkan
secara komersial sebagai bahan pengikat, perekat, pengisi, surfaktan, produk
polimer, dispersan dan sumber bahan kimia lainnya terutama turunan benzena
pada berbagai industri. Pada kebanyakan penggunaan kayu, lignin digunakan
sebagai bagian integral dari kayu, namun dalam hal pembuatan pulp, lignin
dilepaskan dari kayu dalam bentuk terdegradasi yang terlarut dalam larutan sisa
pemasak (lindi hitam) dan merupakan salah satu sumber lignin yang berpotensi
besar. Namun adanya pembaharuan teknologi yang berorientasi pada upaya
pemanfaatan kembali bahan kimia pemasak yang terkandung di dalamnya dan
untuk meminimalkan pencemaran lingkungan, menyebabkan pada masa
mendatang industri pulp dan kertas tidak lagi menjadi sumber potensial lignin
(Heradewi, 2007).
2.4

Natrium Lignosulfonat (NaLS)


Natrium Lignosulfonat (NaLS) termasuk jenis surfaktan yang penggunaanya

dalam industri cukup luas karena kemampuannya dapat menurunkan tegangan


permukaan dan antarmuka, sebagai penstabil sistem emulsi dan sebagai bahan
pendispersi yang baik. Aplikasi NaLS pada berbagai industri digunakan sebagai
bahan perekat dalam industri keramik, sebagai bahan pengemulsi, sebagai pelarut
dalam industri tekstil, serta sebagai bahan pendispersi pada berbagai sistem
dispersi partikel (pasta gipsum dan pasta semen) (Filder dalam Ismiyati, 2008).

Menurut Gargulak dan Lebo (2000) produksi garam lignosulfonat di seluruh dunia
diperkirakan 9800 ton dan sekitar 50 % digunakan sebagai bahan pendispersi
(Ismiyati, 2008). Sementara Indonesia sampai saat ini masih seratus persen
mengimpor garam lignosulfonat dari Finlandia dan negara-negara Skandinavia
lainnya. Harga natrium lignosulonat (NaLS) teknis di pasaran dunia untuk
kemasan @ 100 g adalah $ 42,62 ; untuk kemasan @ 500 g dengan harga $
107,59; dan kemasan @ 2,5 kg dengan harga $ 267 (Ismiyati, 2008).
Menurut Kirk Othmer (1981) lignosulfonat bisa juga disebut lignin sulfonat
atau sulphite lignin merupakan suatu surfaktan yang dihasilkan dari proses
sulphite pulping pada kayu. Pada proses sulphite pulping, lignin dibuat larut
dalam solven polar (air) melalui proses sulfonasi dan hidrolisis.
Reaksi yang terjadi adalah: HSO3- + lignin-OH lignin-SO3- + H2O
(Kurniawan dan Susetyo, 2008). Struktur senyawa lignosulfonat yang diusulkan
oleh Gargulak dan Lebo dalam Sirait et al. (2013) dapat dilihat pada Gambar 3
berikut :

Gambar 3. Struktur senyawa Natrium Lignosulfonat


Senyawa lignosulfonat dapat diperoleh dari :
a. Larutan sisa pemasak limbah pulp (lindi hitam) proses sulfit dengan cara
ultrafiltrasi.
b. Proses sulfonasi isolat lignin
Tabel 2. Karakteristik Natrium Lignosulfonat (NaLS) Komersil
Karakteristik
Kemurnian, %
pH: 20% larutan
Gula pereduksi, %
Kandungan air, %
Berat jenis, kg/m3

NaLS Standar Komersial


80,00
7,50
7,00
7,00
368,42
(Sirait et al., 2013)

Beberapa alternatif solusi sintesis Natrium Lignosulfonat (NaLS) telah


dirintis oleh beberapa peneliti. Agarwal (2002) mensintesis NaLS dari fraksi
ringan dan fraksi menengah creosote oil. Meskipun demikian proses sintesis harus
melewati 2 tahap proses yaitu pyrolisis dan sulfonasi secara terpisah, untuk itu
diperlukan terobosan agar tahapan proses dapat dipersingkat. Zhang (2007)
melaporkan bahwa starch sulfonat (SS) berhasil disintesis dari starch. SS yang
dihasilkan digunakan sebagai subtitusi NaLS, namun sayangnya sifat polidispersi
SS jauh lebih rendah dari NaLS. Salah satu alternatif adalah proses sulfonasi
langsung serbuk biomassa menggunakan pelarut NaHSO3 dalam reaktor
bertekanan sistem batch (Amri et al., 2008).
Penelitian yang telah dilakukan oleh lsmiyati et al. (2008) yaitu Optimasi
kondisi operasi proses sulfonasi lignin menjadi NaLS menggunakan metode
permukaan respon/Response Surface Method (RSM) menunjukkan kondisi
optimum terjadi pada nisbah pereaksi 60,32 %, pH 6,03 dan suhu reaksi 90,28 C
menghasilkan nilai konversi optimum adalah 72,20 %.
2.5

Pencirian gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR


Penelitian yang dilakukan oleh Sirait et al. (2013) menggunakan

spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) sebagai pencirian


gugus fungsi dari surfaktan Natrium Lignosulfonat yang berhasil disintesis.
Spektrum FTIR Natrium Lignoslufonat hasil sintesis dibandingkan dengan
spektrum FTIR Natrium Lignosulfonat Aldrich sebagai standar.
Pencirian unsur dan gugus fungsi dalam suatu polimer diperlukan dalam
rangka kontrol proses maupun menyidik polimer yang belum diketahui jenisnya,
karena seringkali dalam suatu polimer terkandung aneka unsur kimia baik logam
maupun bukan logam (Santoso dalam Heradewi, 2007).
Spektrum inframerah dari senyawa organik mempunyai sifat fisik yang
khas. Energi radiasi inframerah akan diabsorpsi oleh senyawa organik sehingga
molekulnya akan mengalami rotasi atau vibrasi. Setiap ikatan kimia yang berbeda
seperti C-C, C=C, C=O, O-H dan sebagainya mempunyai frekuensi vibrasi yang
berbeda sehingga kemungkinan dua senyawa berbeda akan mempunyai absorpsi
yang sama adalah kecil sekali (Heradewi, 2007).

Identifikasi lignosulfonat hasil sulfonasi dengan menggunakan spektroskopi


FTIR ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi gugus fungsi sulfonasi lignin
membentuk lignosulfonat (Andriani dan Nasrudin, 2013).
2.6

Analisa kemurnian dengan spektofotometer UV-Visible


Semua molekul dapat mengabsorpsi radiasi dalam daerah UV-Visible karena

mengandung elektron, baik berpasangan maupun menyendiri, yang dapat


dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang dimana absorpsi
itu terjadi, bergantung pada seberapa kuat elektron itu terikat dalam molekul itu.
Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat dan diperlukan 8
radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek untuk eksitasinya.
Misalnya alkana, yang mengandung hanya ikatan tunggal C-H dan C-C tak
menunjukkan absorpsi di atas 160 nm (Day dan Underwood, 2002).
Kemurnian lignosulfonat dapat diukur menggunakan spektrofotometer UV
Visible. Penelitian yang telah dilakukan oleh Sirait et al. (2013) mengukur
absorbansi larutan pada 232 nm. Tingkat kemurnian lignosulfonat ditentukan
dengan persamaan sebagai berikut :
Kemurnian NaLS=

A232 x FP
Faktor x g x 10

(1)

Keterangan :
% NaLS = prosen kemurnian NaLS
A232 = absorbansi yang diukur pada 232 nm
FP
= faktor pengenceran
Faktor = faktor lignosulfonat (= 35)
g
= bobot sampel
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1

Alat-Alat yang Digunakan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayakan 100 mesh, oven,

penyaring dari kain, labu leher tiga, alat pengaduk, digester, alat refluks, pemanas
listrik, sentrifuse dan timbangan.
3.1.2 Bahan-Bahan yang Digunakan
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah kulit
pinang, etanol 96 % : air, katalis NaOH 10 %, benzena : etanol 96 %, NaHSO 3,
dan H2O.

10

3.2 Prosedur Penelitian


3.2.1 Pengambilan dan Pengolahan Sampel Kulit Pinang
Lokasi pengambilan sampel kulit pinang adalah di kebun pinang milik
Bapak M. Saleh Desa Sialang Panjang Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten
Indragiri Hilir Provinsi Riau. Sampel limbah kulit pinang diambil pada timbunan
kulit pinang di kebun pemilik, kemudian sampel kulit pinang dimasukkan ke
dalam karung dan dibawa ke laboratorium. Kulit pinang dibersihkan, dikeringkan
dengan cara dijemur, kemudian digiling. Kemudian diayak melewati 100 mesh
dan dikeringkan di oven pada suhu 60 oC selama 16 jam.
3.2.2 Pemisahan Lignin
Kulit pinang yang melewati ayakan 100 mesh diekstraksi dengan
menggunakan benzena : etanol 96 % (2:1, v/v) selama 6 jam untuk memperoleh
kulit pinang bebas ekstraktif . Pada proses isolasi lignin, serbuk kulit pinang bebas
ekstraktif 250 g dimasukkan pada digester dengan penambahan larutan pemasak
etanol 96 % : air (10 : 1 v/b), ditambahkan katalis NaOH 10 %. Campuran
kemudian dimasak pada digester hingga mencapai suhu 170 oC kemudian
dipertahankan selama 1 jam pada suhu tersebut. Lindi hitam (lignin terlarut)
kemudian disaring dengan kain. Kemudian disentrifuse dengan kecepatan 4500
rpm selama 20 menit, akan terbentuk endapan. Endapan kemudian dikeringkan
dalam oven pada suhu 60 oC selama 16 jam.
3.2.3 Pembuatan surfaktan NaLS
Lignin ditimbang sebanyak 5 g kemudian dicampurkan dengan NaHSO 3
dengan perbandingan 1:0,5; lalu disuspensikan dalam 150 mL air. Lignin
disuspensikan dalam labu leher tiga ukuran 500 ml menggunakan pengaduk.
Kemudian pH diatur 6 dengan penambahan NaOH 15 %. Campuran selanjutnya
direfluks pada suhu 100 oC, 110 oC, 120 oC sambil dilakukan pengadukan dengan
alat pengaduk (80 rpm, 90 rpm, 100 rpm), agar campuran bereaksi sempurna,
dengan pemanas listrik selama 3 jam. Surfaktan pekat yang diperoleh dikeringkan
dalam oven pada suhu 60 oC hingga berat rendemennya konstan.
2.2.3 Analisis lignin dan surfaktan NaLS

11

Analisa gugus fungsi dari surfaktan yang terbentuk dilakukan dengan


spektroskopi FTIR, analisis kemurnian surfaktan menggunakan spektrofotometri
UV-Visible dan penentuan kemurnian NaLS dengan rumus yang ditetapkan.
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1

Anggaran Biaya

Tabel 3. Ringkasan Anggaran Biaya PKM-P


No

Jenis Pengeluaran

Biaya (Rp)

1.

Peralatan penunjang

Rp 2.550.000

2.

Bahan habis pakai

Rp 3.100.000

3.

Perjalanan

Rp 1.000.000

4.

Biaya lain-lain

Rp 1.600.000
Jumlah

Rp 8.250.000

4.2 Jadwal Kegiatan


No
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Kegiatan

Minggu Ke5 6 7 8 9

10 11 12

Persiapan bahan dan


alat (pengambilan kulit
pinang)
Penghalusan dan
pengeringan kulit
pinang
Isolasi lignin dan
sintesis surfaktan
Natrium Lignosulfonat
Analisis dan
pengolahan data
Penulisan laporan

DAFTAR PUSTAKA
Amri, A., Zulfansyah, Fermi, M.I, Ramadani, S. 2008. Pembuatan Sodium
Lignosulfonat dengan Metode Sulfonasi Langsung Biomassa Pelepah Sawit.
Jurnal Sains Dan Teknologi. 7(1) : 6-12.

12

Andriani, E., Nasrudin, H. 2013. Pengaruh Jenis Bambu dan Konsentrasi Natrium
Bisulfit terhadap Rendemen Natrium Lignosulfonat. UNESA Journal of
Chemistry. Vol. 2, No. 1.
Day, R.A., Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. ed 6. Terjemahan :
Iis Sopyan. Erlangga, Jakarta.
Heradewi. 2007. Isolasi Lignin dari Lindi Hitam Proses Pemasakan Organosolv
Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Skripsi. F. Teknologi
Pertanian-IPB, Bogor.
Ismiyati. 2008. Perancangan Proses Sulfonasi Lignin menjadi Natrium
Lignosulfonat (NaLS) melalui Pendekatan Sistemetis Empiris (Pemodelan)
dan Integrasi PEFD, Menggunakan Program HYSYS. Seminar Teknik
Kimia Soehadi Reksowardojo. Univ. Muhammadiyah, Jakarta.
Kurniawan, A., Susetyo, K.B. 2008. Kajian Awal Pembuatan Surfaktan dari
Tempurung Kelapa. FT-UNDIP, Semarang.
Rajan, A., Kurup, G.J., Abraham, T.E. 2005. Biosoftening of arecanut fiber for
value added product. Elsevier B.V. Bioactive Polymer Engineering Section,
India.
Sirait, J.P.R., Sihombing, N., Masyithah, Z. 2013. Pengaruh Suhu dan Kecepatan
Pengadukan pada Proses Pembuatan Surfaktan Natrium Lignosulfonat dari
Tempurung Kelapa. Jurnal Teknik Kimia USU. Vol. 2, No. 1.
Yayasan Kehati Prosea. 2012. Detil data Areca cathecu L.[online]
http://www. pro
seanet.org/prohati4/browser.php?docsid=241. Tanggal akses 10 Juni 2014.
Yusriah, L., Sapuan, S.M., Zainudin., Mariatti, M. 2012. Exploring the Potential
of Betel Nut Husk Fiber as Reinforcement in Polymer Composites: Effect of Fiber
Maturity. Elsevier Ltd. Procedia Chemistry 4 ( 2012 ) 87 94.

13

Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota


A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap

Janualiati

Jenis Kelamin

Perempuan

Program Studi

Kimia

NIM

1103111844

Tempat dan Tanggal Lahir

Tembilahan, 1 Januari 1993

E-mail

janualiati79@unri.ac.id

Nomor Telepon/HP

085271451619

B. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi

SDN 009
Tembilahan

SMPN 1
Tembilahan Hulu

SMAN 1
Tembilahan
Hulu

Jurusan

IPA

Tahun Masuk-Lulus

1999-2005

2005-2008

2008-2011

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Pertemuan Ilmiah /
No
Judul Artikel Ilmiah
Seminar

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir


Institusi Pemberi
No
Jenis Penghargaan
Penghargaan

Waktu dan
Tempat

Tahun

14

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidakseuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM Penelitian.
Pekanbaru, 7 Juni 2014
Pengusul,

(Janualiati)

15

A. Identitas Diri
1

Nama Lengkap

Ariesta Safitri

Jenis Kelamin

Perempuan

Program Studi

Kimia

NIM

1103114028

Tempat dan Tanggal Lahir

Tegal, 22 Maret 1994

E-mail

ariestas94@gmail.com

Nomor Telepon/HP

085278658582

B. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi

SDN 001Rambah
Samo

SMPN 2 Rambah SMAN 1


Samo
Rambah Samo

Jurusan

IPA

Tahun Masuk-Lulus

1999-2005

2005-2008

2008-2011

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Pertemuan Ilmiah /
No
Judul Artikel Ilmiah
Seminar

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir


Institusi Pemberi
No
Jenis Penghargaan
Penghargaan

Waktu dan
Tempat

Tahun

1.

Finalis Olimpiade Kimia 8

FKIP Universitas Riau

2011

2.

Finalis Olimpiade Kimia 7

FKIP Universitas Riau

2010

16

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidakseuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM Penelitian.
Pekanbaru, 7 Juni 2014
Pengusul,

(Ariesta Safitri)

17

A. Identitas Diri
1

Nama Lengkap

Rita Susanti

Jenis Kelamin

Perempuan

Program Studi

Kimia

NIM

1103114017

Tempat dan Tanggal Lahir

Payakumbuh, 3 Oktober 1992

E-mail

rita_susanti03@yahoo.com

Nomor Telepon/HP

085265217894

B. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SDN 01 Jopang

SMA

Nama Institusi

Kec. Mungka
Kota Payakumbuh

SMPN 1 Mungka SMAN 1 Kec.


Kota
Guguak Kota
Payakumbuh
Payakumbuh

Jurusan

IPA

Tahun Masuk-Lulus

1999-2005

2005-2008

2008-2011

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No

Nama Pertemuan Ilmiah /


Seminar

Judul Artikel Ilmiah

Waktu dan
Tempat

D.Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir


No

Jenis Penghargaan

Institusi Pemberi
Penghargaan

Tahun

Juara 2 Tilawah MTQ


Universitas Riau

Universitas Riau

2013

Juara 3 Tilawah MTQ Tingkat


Kabupaten 50 Kota

Pemerintah
Kabupaten 50 Kota

2011

Finalis Olimpiade Kimia


Tingkat Kabupaten 50 Kota

Dinas Pendidikan
Kabupaten 50 Kota

2009

18

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidakseuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM Penelitian.
Pekanbaru, 20 Oktober 2013
Pengusul,
(Rita Susanti)

19

A. Identitas Diri
1

Nama Lengkap

Aditya Dharma Putra

Jenis Kelamin

Laki-laki

Program Studi

Ilmu Kelautan

NIM

1204111881

Tempat dan Tanggal Lahir

Tembilahan, 13 Mei 1994

E-mail

adityadp@yahoo.com

Nomor Telepon/HP

085271257353

B. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi

SDN 032
Tembilahan

SMPN 1
Tembilahan

SMAN 1
Tembilahan
Hulu

Jurusan

IPA

Tahun Masuk-Lulus

2000-2006

2006-2009

2009-2012

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Pertemuan Ilmiah /
No
Judul Artikel Ilmiah
Seminar

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir


Institusi Pemberi
No
Jenis Penghargaan
Penghargaan

Waktu dan
Tempat

Tahun

20

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidakseuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM Penelitian.
Pekanbaru, 20 Oktober 2013
Pengusul,

(Aditya Dharma Putra)

21

A. Identitas Diri
1

Nama Lengkap

Septi Dianti Hanif

Jenis Kelamin

Perempuan

Program Studi

Pendidikan Biologi

NIM

1305112868

Tempat dan Tanggal Lahir

Lubuk Jambi, 5 September 1995

E-mail

septidiantihanif@yahoo.co.id

Nomor Telepon/HP

082389607695

B. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi

SDN 010
Seberang Pantai

SMPN 1 Kuantan SMAN 1


Mudik
Kuantan Mudik

Jurusan

IPA

Tahun Masuk-Lulus

2001-2007

2007-2010

2010-2013

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Pertemuan Ilmiah /
No
Judul Artikel Ilmiah
Seminar

D. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir


Institusi Pemberi
No
Jenis Penghargaan
Penghargaan

Waktu dan
Tempat

Tahun

Finalis Olimpiade Biologi


Tingkat Provinsi Riau

FKIP Universitas
Riau

2012

Finalis Olimpiade Biologi


Tingkat Kabupaten Kuantan
Singingi

FMIPA Universitas
Riau

2012

Finalis Olimpiade Biologi


Tingkat Provinsi Riau

FKIP Universitas
Riau

2011

22

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidakseuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM Penelitian.
Pekanbaru, 20 Oktober 2013
Pengusul,

(Septi Dianti Hanif)


Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan
1. Peralatan Penunjang
Material

Justifikasi
Pemakaian

Kuantitas

Harga
Satuan (Rp)

Keterangan

Ayakan

Untuk
mengayak
serbuk kulit
pinang

2 buah,
ukuran 100
mesh dan
200 mesh

Tersedia di
laboratorium
FMIPA UR

Oven

Untuk
menghilangka
n kandungan
air

1 buah

Rp 500.000

Rp 500.000

pH meter

Untuk
mengukur pH

1 buah

Tersedia di
laboratorium
FMIPA UR

Neraca analitik

Menimbang
massa serbuk
kulit pinang

1 buah

Tersedia di
laboratorium
FMIPA UR

Peralatan gelas
standar di
Laboratorium

Mengukur
volume air
gambut yang
dipakai

kondisional

Tersedia di
laboratorium
FMIPA UR

Sewa peralatan
Laboratorium

Penggunaan
penunjang
penelitian

kondisional

Rp 500.000

Rp 500.000

SUB TOTAL (Rp) Rp 1.000.000


2. Bahan Habis Pakai
23

Material

Justifikasi
Pemakaian

Kuantitas

Harga Satuan
(Rp)

Keterangan

Kulit pinang

Bahan
simulasi

10 kg

Rp 10.000

Rp 100.000

Aquadest

Sebagai
pembersih
peralatan

1000mL

Rp 1000

Rp1.000.000

Bahan-bahan
kimia dari
laboratorium

Ekstraktor,
reagen,
katalis, dan
pencuci untuk
pemurnian

kondisional

Rp 3.000.000

Rp. 3.000.000

SUB TOTAL (Rp) Rp 4.100.000

3.Perjalanan
Material

Justifikasi
Perjalanan

Kuantitas

Harga Satuan
(Rp)

Keterangan

Mobil

Perjalanan
pengambilan
kulit pinang
pulang pergi

5 orang

@ Rp 120.000

Rp 1.200.000

Motor

Perjalanan ke
lokasi
perkebunan
untuk
pengambilan
kulit pinang

5 orang

Rp 20.000

Rp 100.000

SUB TOTAL (Rp) Rp 1.300.000

4. Lain-lain
Material
Tissu

Justifikasi
Pemakaian
Membersihka
n

Kuantitas
1 set

Harga Satuan
(Rp)
Rp 20.000

Keterangan
Rp 20.000

24

Sunlight

mencuci

1 set

Rp 20.000

Rp 20.000

Kantong
plastik

Wadah sampel

1 set

Rp 20.000

Rp 20.000

biaya
dadakan

Hal yang
mendesak

Rp 1.000.000
SUB TOTAL (Rp) Rp 1.600.000
Total (Keseluruhan) Rp 8.000.000

25

Lampiran 3. Surat Pernyataan Ketua Peneliti


KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS RIAU
Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293
Telp. (0761) 63266 Fax. (0761) 63279
SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Janualiati

NIM

: 1103111844

Program Studi

: Kimia

Fakultas

: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Dengan ini menyatakan bahwa usulan PKM Penelitian saya dengan judul: Isolasi
Lignin dari Kulit Pinang (Areca Catechu L) sebagai Bahan Baku Pembuatan
Surfaktan Natrium Lignosulfonat bersifat original dan belum pernah dibiayai
oleh lembaga atau sumber dana lain.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini,
maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenarbenarnya.
Pekanbaru, 12 Juni 2014
Mengetahui,
Pembantu RektorBidang
Kemahasiswaan,

Yang menyatakan,

Drs. Rahmad, M.T


NIP. 195712231987021001

Janualiati
NIM. 1103111844

26