Anda di halaman 1dari 4

4.

Kanker serviks
Kanker serviks adalah karsinoma pada leer rahim dan menempati urutan pertama di dunia. Kanker
serviks adalah keganasan nomer tiga paling sering dari alat kandungan dan menempati urutan ke
delapan dari keganasan pada perempuan di Amerika.
Etiologi dan Faktor Predisposisi
Etiologi kanker serviks belum diketahui pasti.
Ada beberapa faktor resiko dan faktor predisposisi yang menonjol yaitu:
a. Umur
Umur pertama kali melakukan hubungan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa semakin
muda wanita melakukkan hubungan seksual maka semakin besar kemungkinan mendapat
kanker serviks.
b. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus maka
semakin besar kemungkinan resiko mendapat kanker serviks.
c. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai
faktor resiko yang sangat besar terhadap kanker serviks.
d. Sosial ekonomi
Kanker serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah. Faktor sosial ekonomi
erat kaitannya dengan gizi, imunitas, dan kebrsihan perorangan. Pada golongan sosial
ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang. Hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
e. Hygine dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita yang pasangannya
belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkumsisi higine penis tidak terawat
sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
f. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi dalam Rahim)
Merokok akan merangsang terbentukknya sel kanker sedangkan pemakaian AKDR akan
terpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi serviks yang kemudian menjadi
infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Hal ini dapat sebagai pencetus terbentukknya
kanker serviks.

Epidemiologi Kanker Servik


Kanker serviks atau kanker leher rahim atau disebut juga kanker mulut rahim merupakan salah satu
penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit kandungan yang masih menempati posisi
tertinggi sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum perempuan (Manuaba, 2008). Kanker serviks
adalah kanker leher rahim / kanker mulut rahim yang di sebabkan oleh virus Human Papiloma Virus
(HPV). Hanya beberapa saja dari ratusan varian HPV yang dapat menyebabkan kanker. Penularan
virus HPV yang dapat menyebabkan Kanker leher rahim ini dapat menular melalui seorang penderita
kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan
karena hubungan seks. Gejala yang mungkin timbul (Umumnya pada stadium lanjut) adalah
perdarahan di luar masa haid, jumlah darah haid tidak normal, perdarahan pada masa menopause
(setelah berhenti haid), keputihan yang bercampur darah atau nanah serta berbau, perdarahan sesudah

senggama, rasa nyeri dan sakit di panggul, gangguan buang air kecil sampai tidak bisa buang air kecil
(Prawirohardjo, 2005).
Berdasarkan hasil survey kesehatan oleh Word Health Organitation (WHO), (2010) dilaporkan
kejadian kanker serviks sebesar 500.000 kasus baru di Dunia. Kejadian kanker servik di Indonesia,
dilaporkan sebesar 20-24 kasus kanker serviks baru setiap harinya. Kejadian kanker servik di Bali
dilaporkan telah menyerang sebesar 553.000 wanita usia subur pada tahun 2010 atau 43/100.000
penduduk WUS. Berdasarkan AOGIN (2010) Angka ini mengalami peningkatan sebesar 0,89% sejak
tahun 2008.

Gejala klinis kanker serviks


Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor
albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin
lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan
tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai
perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 - 80%). Pada tahap awal, terjadinya
kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya
siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan
intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu
darah yang keluar berbentuk mukoid. Nyeri dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah
dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret
dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan
pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Menurut Baird (1991) tidak ada tandatanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan
dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar
berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Gejala lebih lanjut
meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi
ureter. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala
penyakit lanjut. Pada pemeriksaan Pap Smear ditemukannya sel-sel abnormal di bagian bawah serviks
yang dapat dideteksi melalui, atau yang baru-baru ini disosialisasikan yaitu dengan Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat. Sering kali kanker serviks tidak menimbulkan gejala. Namun bila sudah
berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala seperti pendarahan serta keputihan
pada vagina yang tidak normal, sakit saat buang air kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual.

Faktor risiko
Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi kanker serviks yaitu :

Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua usia
seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim. Meningkatnya
risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan
bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem
kekebalan tubuh akibat usia.

Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu muda untuk
melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada
mereka yang menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang
wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau
belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam
rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi,
seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah
usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada usia muda, selsel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak
siap menerima rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih
rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat
yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang
mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat
menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana selsel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.
Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan. Bergantiganti
pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus
(HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih
banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.
Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik
maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.
Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks
dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita
perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan
menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan kokarsinogen infeksi virus. Nikotin,
mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada
mukosa tenggorokan, paru-paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak
jumlah nikotin yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.
Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena penyakit akibat hubungan
seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus HPV diduga sebagai penyebab utama terjadinya
kanker leher rahim sehingga wanita yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena
kanker leher rahim.
Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan
jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering
melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim.
Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di
organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human
Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama. Penggunaan kontrasepsi oral yang dipakai
dalam jangka lama yaitu lebih dari 4 tahun dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali.
Kontrasepsi oral mungkin dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim karena jaringan leher rahim
merupakan salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid perempuan. Hingga tahun 2004, telah
dilakukan studi epidemiologis tentang hubungan antara kanker leher rahim dan penggunaan
kontrasepsi oral. Meskipun demikian, efek penggunaan kontrasepsi oral terhadap risiko kanker leher

rahim masih kontroversional. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Khasbiyah (2004)
dengan menggunakan studi kasus kontrol. Hasil studi tidak menemukan adanya peningkatan risiko
pada perempuan pengguna atau mantan pengguna kontrasepsi oral karena hasil penelitian tidak
memperlihatkan hubungan dengan nilai p>0,05.

Patofisiologi
Kanker insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terjadi pada seluruh lapisan
epitel disebut displasia. Displasia merupakan neoplasia serviks intraepithelial (CNI). CNI terbagi
menjadi tiga tingkat yaitu tingkat I ringan, tingkat II sedang, tingkat III berat. Tidak ada gejala
spesifik untuk kanker serviks perdarahan merupakan satu-satunya gejala yang nyata. Tetapi gejala ini
hanya ditemukan pada tahap lanjut. Sedang untuk tahap awal tidak.
CNI biasanya terjadi di sambungan epitel skuamosa dengan epitel kolumnar dan mukosa endoserviks.
Keadaan ini tidak dapat diketahui dengan cara panggul rutin, pap smear dilaksanakan untuk
mendeteksi perubahan. Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan dengan biopsy untuk
memperoleh jaringan guna memperoleh jaringan guna pemeriksaan sitologik. Sedang alat biopsy yang
digunakan dalam biopsy kolposkop fungsinya mengarahkan tindakan biopsy dengan mengambil
sampel, biopsy kerucut juga harus dilakukan.
Stadium dini CNI dapat diangkat seluruhnya dengan biopsy kerucut atau dibersihkan dengan laser
kanker atau bedah beku. Atau biasa juga dengan histerektomi bila klien merencanakan untuk tidak
punya anak. Kanker invasive dapat meluas sampai ke jaringan ikat, pembuluh limfe dan vena.

Sumber:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21557/4/Chapter%20II.pdf
http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-386-487930089-bab%202.pdf