Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
Wrist joint atau sendi pergelangan tangan merupakan regio yang meliputi
tulang karpalia dan bagian metafise serta permukaan sendi tulang radius dan ulna,
sedangkan Elbow joint atau sendi siku terdiri dari ujung distal tulang humerus dan
ujung proksimal tulang radius dan ulna.
Terdapat sejumlah jenis patah tulang yang sering terjadi pada persendian
ini. Meskipun beberapa dari fraktur ini biasanya terisolir (tidak ada luka lain),
fraktur ini dapat menjadi bagian dari cedera siku yang lebih kompleks. Fraktur
yang sering terjadi baik pada anak - anak maupun dewasa di daerah radius dan
ulna antara lain; fraktur Montegia, fraktur Galeazi, fraktur Supracondylus, fraktur
Colles, dan fraktur Smith. Penyebab terbanyak dari fraktur - fraktur tersebut
adalah akibat trauma langsung, di mana tangan jatuh terlebih dahulu kemudian
badan (dalam hal ini tangan menyangga berat badan ketika jatuh).
Penatalaksanaan pada fraktur fraktur tersebut dapat berupa reposisi
tertutup ( Closed Reduction ) yang dilanjutkan dengan gips maupun Operasi
dengan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Angka kesembuhan pada
fraktur ini cukup tinggi, sehingga seringkali hanya membutuhkan tindakan
reposisi tertutup ( Closed Reduction) dan gips. Tindakan operatif hanya
dibutuhkan bila fraktur berada pada di daerah intraartikuler atau yang bersifat
communitif.
Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana gambaran hasil radiologi
pada Wrist joint dan Elbow joint yang mengalami fraktur, sehingga dapat
membantu pemilihan penatalaksanaan yang sesuai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang

dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang
menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada
lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa
trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan
tulang klavikula atau radius distal patah.
2.2

Struktur Tulang
Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi

mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut
Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan di bawah
periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang
masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal
sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang
disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap system terdiri
atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian.
Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit
antara lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli.
Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat
sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf
yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang
mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang.
Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang di
dalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang. Trabekulae ini terlihat seperti
spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang di dalamnya terdapat bone
marrow yang membentuk sel - sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua
macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui

proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak
dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom
(FES).
Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast.
Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru.
Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel
penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang
tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstraseluler yang disebut matriks.
Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen,protein, karbohidrat, mineral, dan
substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi,
oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang dengan pembuluh darah. Selain
itu, di dalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang
menyebabkan tulang keras. Sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 400
ml/menit melalui proses vaskularisasi tulang.
2.3

Anatomi dan Kinesiologi.


2.3.1

Anatomi
Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah, merupakan

tulang pipa dengan sebuah batang dan 2 ujung yang lebih pendek dari pada
ulna.Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala berbentuk
kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari
humerus. Sisi - sisi kepala radius bersendi dengan taktik radius dan ulna.
Di bagian bawah kepala terletak leher, dan di bawah serta disebelah medial
dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada tendon dari insersi
otot biseps.
Batang radius di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih
bundar dari pada di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah.
Batangnya melengkung ke sebalah luar dan terbagi dalam beberapa
permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan
pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior; dan di sebelah posterior
memberi kaitan pada ekstensor dan supinator di sebelah dalam lengan

bawah dan tangan. Ligamentum interossea berjalan di radius ke ulna dan


memisahkan otot belakang dari yang depan lengan bawah.
Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi
di bawah sendi. Persendian inferior dari ujung bawah radius bersendi
dengan skafoid (os.navikular radii) dan tulang semilunar (lunatum) dalam
formasi persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian di sebelah
medial dari ujung bawah bersendi dengan kepala dari ulna dan formasi
persendian radio ulna inferior. Sebelah lateral dari ujung bawah
diperpanjang ke bawah menjadi prosessus stiloid radius.
Sedangkan karpal terdiri dari 8 tulang kecil pergelangan tangan,
radius dan ulna.

2.3.2

Kinesiologi

Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar


yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum
radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen
radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membrana
interossea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan
satu kesatuan yang kuat. Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu
tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang,
hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah
tersebut. Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang,
yaitu M. Supinator, M. Pronator Teres, M. Pronator Quadratus yang
membuat gerakan pronasi - supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot
lain yang berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah tulang
lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi, terutama pada radius.
2.4

Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisik didapati tanda fraktur. Pemeriksa harus

memperhitungkan kemungkinan adanya gangguan syaraf, atau kerusakan


pembuluh darah. Pada pemeriksaan radiologis yang perlu diperhatikan adalah
adanya luksasi sendi radioulnar proksimal atau distal yang lebih dicurigai apabila
ditemukan fraktur hanya pada salah satu tulang disertai dislokasi.
2.5

Penyulit
Lesi saraf jarang terjadi pada fraktur tertutup. Apabila terjadi, bisa

mengenai saraf radialis, ulnaris maupun medianus atau cabangnya. Cedera saraf
radialis ditemukan pada fraktur Montegia, sedangkan cedera saraf medianus
sering terjadi pada fraktur radius distal. Karena di lengan bawah terdapat banyak
pembuluh darah kolateral, kerusakan pembuluh darah jarang berakibat berat
terhadap lengan bawah. Penyulit yang segera tampak berupa sindrom
kompartemen juga relatif jarang.

2.6

Macam macam Fraktur yang Sering Terjadi


Berikut ini akan dibahas beberapa fraktur yang sering terjadi

pada elbow joint dan wrist joint, yaitu : Fraktur Montegia, Fraktur Galeazi,
Fraktur Supracondylus, Fraktur Colles, Fraktur Smith dan Fraktur Skafoid.
2.6.1

FRAKTUR MONTEGIA

A.

Pengertian
Fraktur Montegia adalah fraktur (discontinuitas) pada bagian

proksimal ulna dan di sertai dislokasi caput radius (radioulnar joint).


Kejadian secara relatif luar biasa dilaporkan kurang lebih 5% dari kejadian
fraktur lengan bawah.
B.

Klasifikasi
Menurut Bado Fraktur Montegia diklasifikasikan 4 tipe yakni:

a. Tipe I
Fraktur pada proksimal atau 1/3 tengah dari ulna dengan dislokasi
anterior pada caput radius.

Bado lesi tipe 1. Fraktur Montegia pada umumnya.

Bado lesi tipe I.


b. Tipe II

Fraktur pada proksimal atau 1/3 tengah dari ulna dengan dislokasi
posterior pada caput radius.

Bado lesi tipe II.

Bado lesi tipe II. Setelah ORIF (Open Reduction Internal Fixation).
c. Tipe III`
Fraktur dari metafisis ulna dengan dislokasi lateral dari caput
radius.

Bado lesi tipe III dengan pergeseran lateral dari caput radius (with lateral
displacement of the radial head).
d. Tipe IV.
Fraktur pada proximal dan 1/3 tengah dari radius dan ulna dengan
dislokasi anterior dari caput radius.

Bado lesi tipe IV.


C.

Mekanisme cedera
Biasanya penyebabnya adalah jatuh mengenai tangan, kalau pada

saat benturan tubuh memuntir, daya geraknya dapat dengan kuat


mempronasikan lengan bawah. Caput radius dapat berdislokasi ke depan
dan sepertiga proximal dari ulna bisa patah dan dapat melengkung ke
depan. Kadang-kadang daya penyebabnya adalah hiperekstensi.
D.

Gambaran Klinis
Deformitas ulna biasanya jelas tetapi caput radius yang

berdislokasi dapat tersembunyi akibat adanya bengkak. Suatu tanda yg


berguna adalah nyeri dan nyeri tekan sisi lateral siku disertai terdengar
bunyi krepitasi.
Sinar-X
Pada kasus ini pemeriksaan foto rontgennya adalah foto regio
antebrachii anterior posterior dan lateral. Dari hasil foto biasanya
didapatkan caput radius yang berdislokasi ke depan, dan terdapat fraktur
pada sepertiga bagian atas ulna dengan perlengkungan ke depan. Kadangkadang dislokasi radius dapat disertai dengan fraktur olecranon. Selain itu
kadang-kadang dapat di temukan caput radius berdislokasi ke posterior
dan fraktur ulna melengkung ke belakang. Pada kasus fraktur ulna yang
terisolasi selalu diperlukan pemeriksaan sinar-X pada siku.
E.

Penatalaksanaan
Indikasi untuk pengobatan dari fraktur Montegia didasarkan pada

pola spesifik dari fraktur dan umur penderita. Sebagian besar fraktur

Montegia pada anak-anak dapat dilakukan closed reduction dan long arm
cast, sedangkan pada sebagian besar orang dewasa dilakukan open
reduction internal fixation.
Clossed reduction dengan mengunakan sedasi diberikan apabila
kejadiannya sudah berlangsung 6-8 jam. Clossed reduction biasanya
dilakukan dengan posisi supinasi, tetapi kadang memerlukan traksi dan
penekanan langsung dari caput radius. Apabila closed reduction tidak
berhasil maka akan segera di lakukan open reduction di kamar operasi.
Penundaan reduksi dari caput radius dapat mengakibatkan kerusakkan
artikular secara permanen, cedera saraf atau keduanya.
Apabila terjadi open fraktur maka akan dilakukan operasi
emergensi. Pada bado tipe I,III, dan IV dilakukan posterior long arm cast
dengan posisi siku flexi 90 derajat dan supinasi penuh.sedangkan pada
bado tipe II dilakukan posterior long arm cast dengan posisi siku flexi 70
derajat dan supinasi. Imobilisasi dapat dilakukan selama 6 minggu.

F.

Komplikasi

Malunion

Malunion ulna tidak terlalu mengakibatkan kelemahan tetapi


dapat menyebabkan caput radius tetap berdislokasi dan

membatasi flexi siku.


Nonunion
Ruptur ligament
Selama dislokasi caput radius dapat terjadi ruptur ligamen.
Ligamen yang biasanya terkena adalah ligamen anulare dan

ligamen collateral radial.


Radiohumeral ankilosis
Radioulnar sinostois
2.6.2

FRAKTUR GALEAZZI

A.

Definisi
Fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi radioulnar joint

distal. Fragmen distal angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat


diraba tonjolan ujung distal ulna. Fraktur dislokasi Galeazzi terjadi akibat
trauma langsung pada wrist, khususnya pada aspek dorsolateral atau akibat
jatuh dengan outstreched hand dan pronasi forearm. Pasien dengan nyeri
pada wirst atau midline forearm dan diperberat oleh penekanan pada distal
radioulnar joint.

Anteroposterior radiograf ini menunjukkan patah Galeazzi klasik:


patah miring atau melintang pendek dari jari-jari dengan dislokasi dari
ulna distal. Hasil dislokasi dari gangguan dari DRUJ (distal radio-ulna
joint). Perhatikan ulna distal yang menonjol (ulna varians positif).

B.

Epidemiologi
Dari semua kasus patah tulang lengan bawah biasanya fraktur

Galeazzi terjadi sekitar 3-7% dan paling sering pada laki-laki. Walaupun
pola fraktur Galeazzi dilaporkan jarang, diperkirakan 7% dari seluruh
patah tulang lengan bawah pada orang dewasa.
C.

Mekanisme cedera
Penyebab lazimnya adalah jatuh dengan posisi menumpu pada

tangan,dan mungkin disertai daya rotasi. Fraktur radius pada sepertiga


bagian

bawah dan

sendi

radioulnar

inferior

bersubluksasi

atau

berdislokasi. Cedera ini hampir merupakan pasangan fraktur dislokasi

Montegia.

D.

Gambaran klinik
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur

Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda


yang mencolok. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris.
E.

Pemeriksaan Sinar-X
Dilakukan foto antebrachii antero posterior (AP) dan lateral, juga

diperlukan foto kontralateral untuk perbandingan.


Hasil:
Fraktur melintang atau oblik yang pendek ditemukan pada sepertiga

bagian bawah radius, dengan angulasi atau tumpang-tindih. Sendi


radioulnar inferior bersubluksasi atau berdislokasi.

F.

Terapi
Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan reposisi dan imobilisasi

dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal,
deviasi ulnar, dan fleksi dan mobilisasi segera karena bagian distal
mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka
dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila
reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi Kwire. Operasi terbuka dengan fiksasi internal (ORIF).

Pada anak - anak dengan Galeazzi fraktur tertutup, reposisi dapat


dilakukan tanpa bentuk operasi. Namun tidak pada orang dewasa, karena
kemungkinan akan menyebabkan kerusakan permanen pada DRUJ.
Berbeda dengan anak-anak yang memiliki tingkat penyembuhan tulang
yang cepat. Namun, jika sangat parah tetap akan dilakukan operasi.
Teknik penanganan terapi konservatif dan operasi.
Metode penanganan konservatif
Prinsipnya dengan melakukan traksi ke distal dan mengembalikan
posisi tangan yang berubah akibat rotasi. Posisi tangan dalam arah benar
dilihat letak garis patahnya, 1/3 distal radius pronasi maka posisi seluruh
lengan pronasi, setelah itu dilakukan immobilisasi dengan gips di atas siku
Metode penanganan operatif
Persiapan

preoperasi,

seperti

fraktur

lainnya,

perencanaan

preoperatif diperlukan foto rontgen yang tepat, beserta foto dari sisi yang
sehat diperlukan sebagai perbandingan dan operasi

Empat exposure dasar yang direkomendasikan :


1. Straight ulnar approach untuk fraktur shaft ulna.
2. Volar antecubital approach untuk fraktur radius proximal.
3. Dorsolateral approach untuk fraktur shaft radius, mulai dari kapitulum
radius sampai 1/3 distal shaft radius.
4. Palmar approach untuk radius 1/3 distal.

Posisikan pasien terlentang pada meja operasi. Meja hand sangat


membantu untuk memudahkan operasi. Torniquet dapat digunakan kecuali
bila didapatkan lesi vaskuler.

Expose tulang yang mengalami fraktur sesuai empat prinsip diatas.

Reposisi fragmen fraktur seoptimal mungkin.

Letakkan plate idealnya pada sisi tension yaitu pada permukaan


dorsolateral pada radius, dan sisi dorsal pada ulna. Pada 1/3 distal radius
plate sebaiknya diletakkan pada sisi volar untuk menghindari tuberkulum
lister dan tendon - tendon extensor.

Pasanglah drain, luka operasi ditutup lapis demi lapis.

Kontraindikasi
Jika ada yang lebih mengancam jiwa harus dilakukan yang lebih prioritas,
operasi ini dapat ditangguhkan terlebih dahulu sampai pasien stabil.
G.

Komplikasi
Tingkat komplikasi secara keseluruhan dalam pengobatan fraktur

Galeazzi sekitar 40%.


Komplikasi meliputi:

Nonunion

Malunion

Cross union

Kompartemen sindrom

Atropi sudeck

Trauma N. Medianus

Refracture

Ruptur tendo extensor sendi pergelangan tangan, pronasi, supinasi,


fleksi palmar, pergerakan serta ekstensi

H.

Mortalitas
Pada umumnya rendah.

I.

Perawatan pasca bedah

Perawatan luka operasi pada umumnya.

Drain dilepas 24-48 jam post operatif atau sesuai dengan produksinya.

Elevasi lengan 10 cm di atas jantung.

Mulai latihan ROM aktif dan pasif dari jari-jari, pergelangan tangan,
siku sesegera mungkin setelah operasi.

J.

Follow Up

Fisioterapi aktif ROM tangan, pergelangan dan siku.

Buat x-ray kontrol 6 minggu dan 3 bulan sesudahnya.

Penyembuhan biasanya setelah 16-24 minggu, selama itu hindari


olahraga kontak dan mengangkat beban lebih dari 2 kilogram.

2.6.3

FRAKTUR SUPRACONDYLAR

A.

Insiden
Kejadian fraktur supracondylus biasanya terjadi pada tulang yang

imatur dan biasanya ditemukan pada dekade awal kehidupan. Fraktur


supracondylus biasanya seing didapatkan pada anak-anak dimana fragmen
distal dapat bergeser ke posterior atau ke anterior. Ada 2 tipe fraktur
supracondylus yakni : extension type (terbanyak,96%) dan flexion type
(4%).

B.

Mekanisme Cedera
Biasanya terjadi akibat jatuh dengan posisi tangan terentang

dengan

siku

hiperekstensi

sehingga

dapat

menyebabkan

fraktur

supracondylar tipe ekstensi. Cederanya terjadi akibat dari hiperekstensi


atau fleksi. Sedangkan apabila jatuh dengan posisi olecranon dan siku flexi
dapat menyebabkan fraktur supracondylar tipe flexi.
Klasifikasi fraktur supracondylus menurut Gartland dibagi menjadi :
1. Type I
Adalah nondisplaced. Fraktur hanya ditemukan garis patahan dari hasil
pemeriksaan sinar-x.
2. Type II
Adalah didapatkan angulasi. Angulasi didapatkan dari pemeriksaan foto
posisi lateral. Normalnya capitulum angulasi ke anterior sebesar 30
derajat.
3. Type III
Adalah completely displaced dimana hubungan antara kedua fragmen
distal humerus terlepas. Pada tipe ini sering didapatkan pergeseran ke
arah posteromedial.
C.

Gambaran Klinik
Setelah jatuh, anak merasa nyeri dan siku bengkak, dan didapatkan

deformitas-S pada siku dengan jelas. Kalau gerakan siku atau bahu
dipaksakan sebelum konsolidasi, humerus dapat mengalami fraktur lagi.
Kekakuan sendi dapat diminimalkan dengan aktifitas lebih awal.
Sinar-X
Fraktur terlihat paling jelas pada pemeriksaan foto elbow lateral.
Pada fraktur yang bergeser ke posterior maka pada fotonya ditemukan
garis fraktur berjalan secara oblik ke bawah dan ke depan dan fragmen
distal bergeser ke belakang dan miring ke belakang. Pada fraktur yang
bergeser ke anterior maka pada fotonya ditemukan garis fraktur bersifat
oblik dan lebih rendah di posterior, fragmen miring ke depan.
D.
Penatalaksanaan
1. Skin Traksi

Karena risiko kompresi vaskular maka traksi menjadi popular


untuk terapi pada fraktur ini. Jenis-jenis skin traksi yang biasanya dipakai
pada fraktur ini adalah Dunlop traksi, Straps traksi, Longitudinal traksi.
2. Skeletal Traksi
Pin harus dimasukkan dalam keadaan steril. Pin dimasukkan dari
samping medial dan 2,5cm dari distal olecranon. Pemasukkan pin dengan
keadaan siku flexi untuk menghidari cedera saraf. Penggunaan skeletal
traksi pada fraktur ini biasanya lebih baik daripada skin traksi.
3. Closed Reduction dan Cast
Pada fraktur supracondylus tipe 1 dilakukan immobilisasi pada siku
dengan sudut 90 derajat dan light-weight splint atau cast dan tangan
dibantu dengan sling. Setelah pemasangan selama 5-7 hari pasien
diperiksa apakah ada pergeseran atau tidak. Pemasangan cast atau splint
dipertahankan selama 3 minggu.
Pada fraktur dengan angulasi ke posterior dilakukan step-wise
manover. Splint pertahankan selama 3 minggu. Setelah itu diperbolehkan
melakukan fleksi siku aktif tetapi lengan tetap disangga dan ekstensi
dihindari selama 3 minggu lagi. Pada fraktur supracondylus tipe III
dilakukan pemasangan wires kirschner.

E. Komplikasi
1. Dini
Lesi pembuluh darah dan cedera saraf.
Akibat dari fraktur supracondylus dapat menyebabkan cerdera
arteri brakialis dan cedera saraf medianus.
2. Kronis
Miositis osifikans, kekakuan sendi, malunion, dan cubitus varus.

2.6.4

FRAKTUR COLLES

A.

Sejarah dan Definisi


Fraktur Colles paling sering ditemukan pada orang dewasa usia

lanjut, dengan insidensi yang tinggi berhubungan dengan permulaan


osteoporosis pasca menopause. Oleh sebab itu, pasien biasanya wanita
dengan riwayat jatuh dengan tangan terentang. Burkhaeta (1985)
mengatakan pada saat memikirkan fraktur pada ektremitas atas pada usia
lanjut maka segera terpikirkan pertama kali adalah fraktur Colles.
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang
umumnya disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan
posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya
mekanisme reflex jatuh dimana tangan menahan badan dengan posisi siku
agak menekuk seperti gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.
Fraktur Colles adalah fraktur pada tulang radius berjarak kurang
atau sama dengan 2,5 cm dari pergelangan tangan (Mc Rae, 1992), Apley
dan Solomon, 1987. Sheikh dan Murthy (2000) memberi batasan sebagai
fraktur metafisis distal radius, biasanya terjadi pada 3 4 cm dari facies
artikularis dengan angulasi volar dari apex fraktur (dinner fork deformity),
pergeseran ke dorsal dari fragmen distal dengan diikuti pemendekan

(shortening) radial. Keadaan ini dapat atau tidak disertai fraktur styloideus
ulnae. Variasi intraartikuler dapat melibatkan facies artikularis distal radius
serta artikulatio radiocarpal dan radioulnaris.
Fraktur Colles diuraikan pertama kali oleh Abraham Colles tahun
1814 sebagai fraktur dislokasi ujung distal radius berjarak satu setengah
inci dari sendi, yang ternyata terbukti kebenarannya dengan perkembangan
radiolografi (Pool, 1973).

B.

Anatomi, Fisiologi, dan Mekanisme Trauma


Radius bagian distal bersendi dengan tulang carpal yaitu tulang

lunatum dan navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian
distal ke arah medial. Bagian distal sendi radiokarpal kolateral ulnar dan
radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligamentum dan kapsular
yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus artikularis yang
melekat pada semacam meniskus yang berbentuk segitiga, yang melekat
pada ligamentum kolateral ulnar. Ligamentum kolateral ulnar bersama
dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis bersama ligamentum
radioulnar dorsal dan volar, yang kesemuanya menghubungkan radius dan
ulna, disebut Triangular Fibro Cartilage Complex (TFCC) (Sjamsuhidajat,
1997) berguna untuk menstabilakan artikulatio radioulnaris distal
(Zabinski dan Weiland, 1999).
Gerakan pergelangan tangan sangatlah luas (mobile) dan
kemampuannya mencapai 1800 untuk rotasi lengan bawah. Kurang dari
80% dari transmisi beban melalui pergelangan tangan lewat artikulatio
radiocarpal sementara 20% sisanya melalui artikulatio ulnocarpal lewat
Triangular Fibro Cartilage Complex. (Zabinski dan Weiland, 1999).

Fraktur Colles terjadi pada penderita dengan riwayat jatuh dengan


tangan terentang (Apley dan Solomon, 1987). Trauma yang terjadi
merupakan trauma langsung yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah
volar yang menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah distal ke arah
dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan bila
dilihat dari samping menyerupai garpu terbalik.

Cedera ini paling sering terjadi pada saat bermain sepatu roda,
skateboard, atau kegiatan lainnya dimana seseorang jatuh ke depan pada
kecepatan tinggi. Tulang dapat menjadi lebih rapuh pada orang dewasa
yang berusia 50 60 tahun atau lebih tua. Orang yang lebih tua memang

lebih sering mengalami patah tulang meskipun mereka berjalan perlahan


karena osteoporosis.

C.

Diagnosis Fraktur Colles


Diagnosis fraktur Colles ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan

radiologis. Kita dapat mengenal fraktur ini dengan adanya deformitas


dinner fork seperti telah disebutkan di atas, dengan penonjolan pada
punggung pergelangan tangan (ke arah dorsal) dan depresi di depan. Pada
pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri tekan lokal
dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.
Dari pemeriksaan radiologis posisi anteroposterior dan lateral
dapat dijumpai suatu fraktur transversal pada tulang radius kurang dari 2,5
cm dari pergelangan tangan, dan sering disertai patahnya processus
styloideus ulnae.
Fragmen distal (1) bergeser dan miring ke dorsal (2) bergeser dan
miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang kadang fragmen distal
mengalami kerusakan dan kominutif yang hebat.
D.

Gejala Klinis

Gejala dari fraktur Colles antara lain :

1. Perubahan bentuk atau sudut lengan bawah tepat di atas pergelangan


tangan.
2. Ketidakmampuan untuk menahan atau mengangkat benda berat.
3. Nyeri pada pergelangan tangan.
4. Pembengkakan tepat di atas pergelangan tangan.
E.

Klasifikasi
Gertland dan Werley cit Zabinski dan Weiland (1999), mula mula

membagi trauma distal radius ke dalam fraktur ekstra artikular dan intra
artikular. Kebanyakan klasifikasi fraktur dibuat berdasarkan anatomi
fraktur. Klasifikasi Frykman didasarkan pada keterlibatan artikulatio
radiokarpal dan atau radioulnar serta ada tidaknya fraktur styloideus ulnae.

Klasifikasi Fraktur Colles menurut Frykman


TIPE
I
II
III
IV

URAIAN
Fraktur radius ekstra artikuler
Fraktur radius ekstra artikuler dengan fraktur ulna
Fraktur radius intra artikuler melibatkan sendi radiokarpal
Fraktur radius intra artikuler melibatkan sendi radiokarpal disertai fraktur

V
VI

ulna distal
Fraktur radius intra artikuler melibatkan sendi radioulnaris distal
Fraktur radius intra artikuler melibatkan sendi radioulnaris distal disertai

VII

fraktur ulna distal


Fraktur radius intra artikuler melibatkan sendi radiokarpal dan radio

VIII

ulnaris distal.
Fraktur sendi radiokarpal dan radioulnaris distal disertai fragmen ulnaris
Klasifikasi anatomi yang paling komprehensif dan lengkap adalah

system AO (Zabinski dan Weiland, 1999). Sistem ini membagi trauma


menjadi tipe A (ekstra artikular), tipe B (artikular simpel), dan tipe C
(artikuler komplek).
Lidstrom cit Roysam (1993), berdasarkan gambaran radiologis
membagi fraktur Colles ke dalam empat tingkatan derajat keparahan

pergeseran fragmen fraktur (derajat anatomis) dan kualitas reduksi, yaitu


derajat I, II, III, dan IV sesuai beratnya deformitas meliputi angulasi ke
dorsal dan pemendekan (shortening) tulang radius.
Derajat Keparahan Fraktur Colles menurut Lidstrom
Derajat
I

Deformitas
Tidak ada atau tidak bermakna. Angulasi dorsal < 0 0 atau shortening < 3

II
III
IV

mm
Ringan. Angulasi dorsal 1 100 dan / atau shortening 3 6 mm
Sedang. Angulasi dorsal 11 - 140 dan / atau shortening 7 - 11 mm
Berat. Angulasi dorsal > 150 atau shortening > 11 mm
F.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tergantung pada derajat pemendekan tulang radius

dan ketidaknormalan sudut dari pergelangan tangan. Fraktur Colles dapat


diterapi dengan gips saja atau operasi (percutaneous pinning, external
fixation, ORIF). Jika pemendekan dan pergeseran tulang minimal, maka
gips dapat menjadi terapi definitif. Pada keadaan yang lebih buruk harus
dilakukan operasi.
Penanganan fraktur Colles umumnya dilakukan rawat jalan yaitu
setelah terdiagnosis diberi tindakan reposisi tertutup. Bila tidak ada
pergeseran, cukup diimmobilisasi dengan gips bawah siku. Bila terjadi
pergeseran atau sedikit pergeseran perlu tindakan reposisi dengan anestesi
lokal, regional, atau umum, kemudian dilakukan gips bawah siku dengan
posisi fragmen distal fleksi dan pronasi. Pada hari berikutnya anggota
gerak atas elevasi. Adapun jari jari sesegera mungkin melakukan latihan.
Seminggu kemudian dilakukan pemotretan dengan sinar x kontrol untuk
menilai apakah terjadi pergeseran kembali (redisplacement). (Armis,
1994).
Immobilisasi dengan gips bertujuan mencegah pergeseran kembali
fragmen fraktur pasca reposisi. Sebagai tulang kanselus, maka
penyembuhan tulang radius distal diperkirakan tuntas kurang lebih 6
minggu dari saat terjadinya trauma. Oleh sebab itu, pada fraktur Colles

gips dapat dilepas umumnya 5 - 6 minggu (Mc Rae); Apley dan Solomon,
1987; Gartland dan Werley, 1951).
Mengenai immobilisasi gips bawah siku atau atas siku masih
terdapat perbedaan pandangan. Apley dan Solomon (1987), serta Mc. Rae
(1982), menyatakan penanganan fraktur Colles cukup dengan gips bawah
siku sedangkan ahli lain menyatakan harus dengan gips atas siku (Way,
1994). Sheikh dan Murthy (2000) menganjurkan immobilisasi kombinasi
yaitu gips atas siku pada minggu minggu awal dilanjutkan gips bawah
siku kecuali pada penderita di atas 60 tahun harus dipasang gips bawah
siku untuk mencegah kekakuan sendi siku.

G.

Komplikasi
Komplikasi Dini : Algodystrophy
Komplikasi Kronis ; Neuropathy persisten dari N. Medianus, N.
Ulnaris, dan N. Radialis, arthrosis radiocarpal dan radioulanar, dan
malposition - malunion. Komplikasi lain adalah adanya ruptur
tendon, unrecognized associated injuries, Volkmanns ischaemia,
finger stiffness, carpal tunnel syndrome, dan shoulder - hand
syndrome.

2.6.5. FRAKTUR SMITH


A.

Sejarah dan Definisi

Fraktur Smith adalah fraktur dari radius bagian distal yang


lokasinya - 1 inch dari ujung distal radius dengan pergeseran fragmen
distal ke depan (volar) dan ke atas disertai pergeseran ulna bagian distal ke
belakang (dorsal).
Robert William Smith di Dublin (1847) mengatakan bahwa fraktur
jenis ini jarang terjadi dan merupakan lawan dari fraktur Colles. John Rhea
Barton di Philadelpia (1838), mengemukakan bahwa fraktur Barton adalah
: fraktur anterior dan posterior dengan dislokasi pergelangan tangan.
Fraktur Colles adalah fraktur posterior dengan dislokasi pergelangan
tangan. Dan fraktur anterior dengan dislokasi pergelangan tangan ini
disebut sebagai salah satu dari tipe fraktur Smith.
Nama lain fraktur Smith adalah Wrist Fracture, Broken Wrist,
Flexion Fracture of The Radius.
B.

Pembagian Fraktur Smith Secara Klinis dan Radiologi


Thomas (1957), mencoba membagi fraktur Smith ini menjadi 3

tipe dan fraktur Barton jenis anterior dengan dislokasi pergelangan tangan
salah satu tipe dari fraktur Smith.
1. Fraktur Smith yang comminutive dan oblique.
2. Fraktur Barton, yang disebut anterior fraktur tipe flexi marginal
dengan dislokasi pergelangan tangan.
3. Fraktur transversal yang disebut juga fraktur radius bagian distal yang
tidak dengan tipe flexi kominutif.

C.

Mekanisme Cedera
Cedera ini paling sering ditemukan setelah seseorang jatuh dengan

menumpu pada bagian belakang tangannya.


D.

Gejala Klinis

Gejala dari Fraktur Smith antara lain :


1. Perubahan bentuk atau sudut lengan bawah tepat di atas pergelangan
tangan.
2. Ketidakmampuan untuk menahan atau mengangkat benda berat.
3. Nyeri pada pergelangan tangan.

4. Pembengkakan tepat di atas pergelangan tangan.


E.

Penatalaksanaan

Konservatif :
1. Mills (1957), telah menganjurkan cara manipulasi dari fraktur Smith
dengan mengembalikan arah persendian seperti semula. Mills dan
Thomas menyarankan cara mengunci fragmen pada tempatnya dengan
posisi supinasi penuh. Immobilisasi dengan sirkuler gips di atas siku
selama 5 6 minggu.
2. Plewer (1962), menganjurkan untuk mobilisasi setelah gips dibuka
supaya cepat, sebab kalau kurang aktif akan mengakibatkan
pergerakan pronasi yang terbatas dan terjadi kekakuan sendi tangan
dan siku.
3. De Palma menganjurkan sebagai berikut
Type I :
Fraktur Smith dengan comminutive yang oblique dilakukan reduksi
dengan traksi, manipulasi dan transfiksasi dengan pin.
Type II :
Fraktur Barton atau disebut pula fraktur marginal anterior tipe fleksi.

Di sini dilakukan reduksi dengan traksi dan manipulasi dengan


anestesia umum.

Penderita tidur telentang dan posisi siku tegak lurus, lengan bawah
pada posisi pertengahan (mid position).

Dilakukan traksi dengan alat Weinberg pada jari jari di atas siku
yang diikatkan ke bawah meja.

Selama traksi, dengan dua tangan diletakkan pada pergelangan


tangan,

lalu

pergelangan

tangan

diletakkan

dalam

posisi

dorsofleksi ringan dan lengan bawah dalam mid position,


kemudian dipasang circuler gips dari bawah siku sampai tangan
setinggi persendian metacarpo phalangeal. Sesudah itu alat traksi

dilepas. Kontrol foto AP dan Lateral untuk melihat kedudukan


tulang tersebut.
Type III :
Fraktur Smith yang non comminutive, tipe fleksi :

Di sini juga dilakukan reduksi dengan traksi dan manipulasi


dengan anestesi umum dan lengan bawah posisi supinasi.

Penderita tidur terlentang dan posisi siku tegak lurus lalu dilakukan
traksi dengan alat Weinberg pada jari jari di atas siku yang
diikatkan di bawah meja.

Dengan dua tangan dimana jari jari II V diletakkan pada


fragmen proksimal sebelah dorsal dan dua ibu jari menekan ke atas
dan ke belakang pada fragmen yang distal sampai pergelangan
tangan dalam posisi dorsofleksi dan deviasi ke arah ulnar.

Lalu dipasang sirkuler gips dari bawah siku ke distal sampai


setinggi persendian metacarpo phalangeal dan kemudian alat
traksi dilepas.

Sesudah reposisi dilakukan kontrol foto, bila kedudukan jelek,


reposisi lagi.

Operatif :
Cauchoix, Dupare dan Potel (1960), menganjurkan
pengobatan fraktur Smith dengan fiksasi dalam (internal fixation)
dengan memakai plat kecil berbentuk T (Ellis Plate) dimana dua
sekrup dipasang pada fragmen proximal sedangkan fragmen distal
ditahan dengan kuat tanpa memakai sekrup.
Teknik operasi yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

1. Incisi vertikal melalui sisi radial arah volar dari lengan bawah
bagian distal dan incisi diperdalam sampai M. Pronator Quadratus
antara M. Flexor Carpi Radialis pada sisi lateral dan M. Palmaris
Longus dan N. Medianus pada sisi medial.
2. M. Flexor Policis Longus ditarik ke lateral dan tendon M. Flexor
Digitorum Superficialis ke medial, dan M. Pronator Quadratus
tampak pada sisi inferior dari tulang radius bagian bawah.
3. Fraktur

diperbaiki

dengan

plat

kecil,

menyudut

untuk

menyesuaikan dengan permukaan dari tulang, lalu dipasang sekrup


pada fragmen proksimal 2 buah dan pada fragmen yang distal plat
tanpa sekrup berguna untuk menyangga yang kuat dari fragmen
yang telah dilakukan reposisi.
4. Akhir akhir ini plat berbentuk T yang kecil telah tersedia, dimana
pada fragmen tulang yang proksimal dengan 2 sekrup pada bagian
vertikal.
5. Lalu luka operasi ditutup lapis demi lapis sampai kulit dan
dipasang bebat tekan.
Mobilisasi jari jari dimulai sejak hari pertama dan pergerakan
pergelangan tangan, lengan bawah dimulai segera setelah bebat tekan
dilepas.

Keuntungan :

Hasilnya cukup memuaskan.

Sesudah operasi pergerakan dapat dilakukan dengan segera tanpa


terjadi redisplacement dari fragmen yang mengalami fraktur.

Di antara ke-3 tipe dari fraktur Smith, tipe Barton adalah yang
paling memuaskan pada pengobatan dengan cara operasi ini, juga
pada tipe yang lain cukup memuaskan.

F.

Komplikasi
1. Kerusakan jaringan lunak : Yang penting di sini adalah
kerusakan N.Medianus

karena tekanan dari fragmen radius yang

fraktur.
2. Malunion : karena reposisi dan immobilisasi yang kurang baik.
3. Non union
4. Osteoarthritis
5. Gangguan pronasi dan supinasi
2.6.6

FRAKTUR SKAFOID
Fraktur skafoid (dari bahasa Yunani skaphos, artinya kapal), kadang

disebut carpal navicular, merupakan cedera terbanyak kedua dari lengan


atas, melampaui frekuensi fraktur radius distal, dan menempati proporsi 2%
dari semua jenis fraktur. Dari semua jenis fraktur dan dislokasi karpus,
fraktur ini adalah yang terbanyak, sekitar 50%-60% dari fraktur serupa. Tipe
fraktur ini sering terjadi pada dewasa muda (usia 15-30 tahun) setelah jatuh
dengan telapak tangan yang terulur. Fraktur skafoid dapat diklasifikasikan
berdasarkan arah garis fraktur, derajat kestabilan fragmen, dan lokasi garis
fraktur.

Fraktur Skafoid. Klasifikasi Russe pada fraktur skafoid


berdasarkan arah garis fraktur

Dari sudut pandang diagnostik, lokasi garis fraktur adalah jalan


praktis untuk mengklasifikasikan fraktur skafoid (5% sampai 10% terjadi
pada tuberositas dan bagian distal, 15% sampai 20% di bagian proksimal,
dan 70% sampai 80% di bagian medial) karena lebih mudah menaksir
prognosisnya. Fraktur di tuberositas (ekstraartikular) dan bagian distal
biasanya diakibatkan oleh trauma langsung dan jarang diakibatkan oleh
masalah klinis yang bermakna. Fraktur pada bagian medial, jika tidak ada
perpindahan atau ketidakstabilan karpal, menunjukkan angka kesembuhan
di lebih dari 90% kasus. Fraktur pada bagian proksimal sulit mengalami
penyatuan dan dapat terjadi osteonekrosis.

Fraktur Skafoid. Klasifikasi fraktur skafoid


berdasarkan lokasi garis fraktur

Ketika dicurigai adanya fraktur skafoid, maka foto Rntgen harus


dilakukan dalam proyeksi dorsovolar, dorsovolar pada deviasi ulna, oblik,

dan lateral, dan proyeksi-proyeksi ini biasanya dapat menunjukkan suatu


abnormalitas. Jika modalitas ini gagal, maka di masa lalu, thin-section
trispiral tomography terbukti sangat efektif. Teknik ini dapat membantu
dalam memantau kemajuan penyembuhan fraktur skafoid dan mendeteksi
komplikasi pasca trauma, terutama saat hasil foto Rntgen tidak
meyakinkan. Sekarang, CT merupakan terapi yang sangat dipilih. Dalam
kondisi tertentu, istilah humpback deformity dari skafoid setelah fraktur
(dimana fragmen proksimal dorsifleksi dan fragmen distal mengalami
fleksi palmar, menyebabkan terjadinya angulasi apex dorsal tulang
skafoid) dapat dievaluasi dengan baik oleh alat ini. Pada dekade lalu, MRI
merupakan pilihan terapi untuk mendiagnosis fraktur halus dari tulang
karpal dan untuk mendeteksi berbagai komplikasi, termasuk osteonekrosis.
Dalam keadaan tertentu, MRI sangat efektif dalam menunjukkan garis
fraktur yang tidak terlihat pada foto Rntgen.

Fraktur Skafoid. Seorang pria, 28 tahun, mengalami cedera pada pergelangan


tangan kiri; nyeri menetap selama 3 minggu. Hasil foto proyeksi dorsovolar (A)
dan lateral (B) menunjukkan osteoporosis periartikular, namun tidak ditemukan
garis fraktur. Pada thin-section trispiral tomogram proyeksi lateral (C), terlihat
fraktur skafoid.

Gambaran CT 3D dari fraktur skafoid. Foto pergelangan tangan proyeksi


dorsovolar (A) dan pencitraan rekonstruksi CT 3D (B) menunjukkan fraktur
skafoid akut tipe 3.

Gambaran CT dari fraktur skafoid yang telah sembuh. Seorang pria, 56


tahun mengalami fraktur skafoid dan telah diobati secara konservatif dengan
reduksi tertutup dan elastic verband. Foto proyeksi dorsovolar pergelangan
tangan (A) menunjukkan garis radiolusen (tanda panah) yang berarti tidak ada
penyatuan. Pencitraan CT potongan koronal oblik menunjukkan penyatuan
komplit (tanda panah melengkung).

Gambaran CT dari suatu fraktur skafoid yang tidak menyatu. Pencitraan CT


potongan koronal (A) dan sagital (B) menunjukkan fraktur skafoid yang tidak
menyatu. Terlihat juga tepi sklerotik dan celah antara fragmen-fragmen fraktur.

Humpback deformity. Pencitraan CT


potongan sagital menunjukkan suatu
humpback

deformity

dari

fraktur

skafoid. Terlihat adanya fleksi palmar


dari fragmen distal (tanda panah) dan
angulasi apex dorsal (tanda panah
melengkung)

MRI dari fraktur skafoid. Seorang


pria, 27 tahun, jatuh di lapangan es
dan datang dengan nyeri tekan pada
area

snuffbox.

Foto

proyeksi

dorsovolar pada deviasi ulna (A) dan


oblik (B) terlihat normal. Pencitraan
MRI

pembobotan

T1

potongan

koronal (C) dan pembobotan T2


potongan koronal (D) menunjukkan
fraktur

pada

proksimal

tulang

skafoid (tanda panah).

Komplikasi
Diagnosis dan tatalaksana yang tertunda dari suatu fraktur skafoid
dapat menyebabkan komplikasi, seperti nonunion, osteonekrosis, dan artritis
pasca trauma. Yang paling sering adalah nonunion dan osteonekrosis.
Meskipun kadang-kadang kedua fragmen skafoid dapat menjadi nekrotik,
osteonekrosis biasanya terjadi pada fragmen proksimal dan jarang pada
bagian distal karena adanya suplai darah yang baik pada bagian tulang ini.
Osteonekrosis sering terjadi dalam 3 sampai 6 bulan setelah cedera ketika
fragmen yang terkena terlihat hiperdensitas. Karena foto konvensional
kadang-kadang gagal untuk membuktikan kondisi ini, maka pencitraan CT
direkomendasikan. Pasien dengan union atau nonunion yang lambat lebih
mudah mengalami osteonekrosis, tetapi kesembuhan kadang-kadang dapat
terjadi. Union dan nonunion yang lambat biasanya ditangani dengan
pembedahan melalui graft tulang . Jika cara ini gagal, maka tulang skafoid
harus dikeluarkan dan diganti dengan prostesis. Salah satu komplikasi serius

dari fraktur skafoid kronik adalah perkembangan scapholunate advanced


collapse (SLAC) dari pergelangan tangan. Kondisi ini terdiri dari gangguan
ligamen scapholunate dan ketidakstabilan persendian lunocapitate disertai
dengan perpindahan proksimal dari tulang capitate, sehingga menyebabkan
osteoartritis pada persendian radiokarpal. Kondisi serupa dimana fraktur
skafoid mengalami komplikasi oleh nonunion disebut scaphoid nonunion
advance collapse (SNAC) dari pergelangan tangan.
Tatalaksana terhadap kondisi-kondisi tersebut adalah karpektomi jalur
proksimal dan/atau penyatuan karpal terfiksir (disebut four-corner fusion)
yang terdiri dari artrodesis lunate, capitate, hamate, dan triquetrum. Pada
kasus osteoartritis yang sudah lanjut, dibutuhkan artrodesis total
pergelangan tangan menggunakan stabilisasi kaku dengan plat dorsal dan
graft tulang.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan yang ada di dalam referat ini, dapat disimpulkan
bahwa fraktur yang sering terjadi baik pada anak - anak maupun dewasa di daerah
radius, ulna dan karpal antara lain; fraktur Montegia, fraktur Galeazi, fraktur
Supracondylus, fraktur Colles, fraktur Smith dan fraktur Skafoid. Penyebab
terbanyak dari fraktur - fraktur tersebut adalah akibat trauma langsung, di mana
tangan jatuh terlebih dahulu kemudian badan (dalam hal ini tangan menyangga
berat badan ketika jatuh).
Penatalaksanaan pada fraktur fraktur tersebut dapat berupa reposisi
tertutup ( Closed Reduction ) yang dilanjutkan dengan gips maupun Operasi
dengan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Angka kesembuhan pada
fraktur ini cukup tinggi, sehingga seringkali hanya membutuhkan tindakan
reposisi tertutup ( Closed Reduction) dan gips. Tindakan operatif hanya

dibutuhkan bila fraktur berada pada di daerah intraartikuler atau yang bersifat
communitif.

DAFTAR PUSTAKA

Apley Graham A. & Solomon Louis. Prinsip Fraktur. Buku ajar ortopedi dan
fraktur system apley, edisi ketujuh, Widya Medika, Hal. 237. Jakarta.
Beals RK. 1976. The normal carrying angle of the elbow. A radiographic study of
422 patients. Clin Orthop Relat Res. Sep 1976;119:194-6. Diakses dari
http//scribd.com pada tanggal 10 juni 2015.
Mansjoer A et al (2001). Bedah Orthopedi, Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1
Edisi III. Media Esculapius. FKUI.hal.346-357 Jakarta
Rasjad, Chairuddin (1998). Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Penerbit Bintang
Laumpatue. Hal. 409-466 Ujung Pandang
Reksoprodjo, S. (2002). Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Staf Pengajar Bagian Ilmu
Bedah FKUI. Binarupa Aksara,1995,Hal. 502, Jakarta.

Richard S. Snell. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Ed. 6.


Jakarta: EGC
Sabiston, David C. 1994. Fraktur. Dalam: Susunan Muskuloskeletal. Buku Ajar
Bedah Bagian 2, hal.374. EGC. Jakarta.
Stephen

Kishner.

Elbow

Joint

Anatomy.

Diakses

http://emedicine.medscape.com pada tanggal 21 Januari 2014.

dari