Anda di halaman 1dari 14

Struktur Kantor Pusat DJP

Struktur Kantor Pusat KPP

Direktorat Jenderal Pajak (DJP)


berperan sebagai pusat pengolahan
data dan dokumen perpajakan
Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
berperan dalam melaksanakan
penyuluhan, pelayanan, dan
pengawasan kepada wajib pajak,
berdasarkan segmentasi wajib pajak
yang diadministrasikannya

Kewajiban Pendaftaran Wajib Pajak


Ketika sudah mempunyai penghasilan, Wajib Pajak wajib
mendaftarkan NPWP dengan berbagai cara, di antaranya:
Datang langsung ke KPP
Daftar melalui internet, pada situs www.pajak.go.id
aplikasi E-registration (ereg.pajak.go.id)
Perempuan yang telah menikah dan ingin dikenakan
pajak secara terpisah wajib mendaftarkan diri
Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang
memiliki tempat usaha berbeda dengan tempat
tinggal, wajib mendaftarkan diri ke KPP di 2 tempat,
yaitu mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggalnya, juga diwajibkan
mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya
meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.

Apabila suatu bulan Wajib Pajak


Orang Pribadi memperoleh
penghasilan yang jumlahnya melebihi
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
setahun, maka Wajib Pajak Orang
Pribadi tersebut wajib mendaftarkan
diri paling lambat pada akhir bulan
berikutnya.
WP orang pribadi lainnya yang
memerlukan NPWP dapat
mengajukan permohonan untuk
memperoleh NPWP.

Pelaporan Usaha untuk Pengukuhan


Pengusaha Kena Pajak
Pengusaha yang dikenakan PPN wajib
melaporkan usahanya pada KPP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat
kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan
usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP.
Bagi pengusaha yang wilayah kerjanya berbeda
dengan tempat tinggal, wajib melaporkan ke
KPP tempat tinggal dan KPP wilayah kerja.
Pengusaha kecil yang ingin dikukuhkan sebagai
PKP wajib membuat pernyataan tertulis untuk
dikukuhkan sebagai PKP.

Bagi pengusaha kecil yang tidak


dikukuhkan sebagai PKP, namun
dalam suatu masa peredaran
brutonya melampaui batas
pengusaha kecil, wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai
PKP pada masa pajak berikutnya.

Pembayaran Pajak
Sesuai dengan sistem self
assessment, yaitu wajib melakukan
sendiri penghitungan, pembayaran,
dan pelaporan pajak terutang.
Pembayaran dan penyetoran pajak
terutang wajib menggunakan Surat
Setoran Pajak ke kas negara melalui
tempat pembayaran yang diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan

Mekanisme Pembayaran
Pajak
Membayar sendiri pajak yang
terutang:
Pembayaran angsuran PPh setiap
bulan (PPh Pasal 25)
Membayar PPh melalui pemotongan
dan pemungutan oleh pihak lain (PPh
Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal
21, 22, dan 23, serta PPh Pasal 26).

Kelebihan Pembayaran Pajak


Jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada yang terutang:
WP mengajukan restitusi ke KPP domisili
Dirjen pajak memeriksa permohonan dan menerbitkan SKPLB (Pasal 17 Ayat 1)
*Apabila setelah pemeriksaan tidak ditemukan pajak lebih bayar, maka Dirjen Pajak
menerbitkan SKPN (Pasal 17A)
** SKPLB dapat diterbitkan lagi apabila terdapat perubahan nominal pajak lebih
bayar dengan yang terdapat di SKPLB lama (Pasal 17 Ayat 3)
Dirjen pajak harus menerbitkan surat keputusan (baik SPKLB atau SPKN) dalam
jangka waktu paling lama 12 bulan setelah permohonan diterima (Pasal 17B ayat 1)
Apabila dalam jangka waktu 12 bulan tidak dikeluarkan surat keputusan, maka
permohonan dianggap dikabulkan dan SK harus diterbitkan max 1 bulan setelah
jangka waktu berakhir (Pasal 17B ayat 2)
Keterlambatan penerbitan SK akan menyebabkan WP mendapatkan bunga sebesar
2% setiap bulannya (Pasal 17B ayat 3)

Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang


WP melampirkan surat permohonan ke KPP yang dilengkapi dengan bukti potput
pajak, perhitungan pajak yang seharusnya tidak terutang dan alasan permohonan
pengembalian
Dirjen pajak memeriksa permohonan dan harus menerbitkan SK max 3 bulan
setelah permohonan. Apabila tidak ditemukan kelebihan pajak, DJP harus
mengirimkan keterangan tertulis kepada WP

Wakil dan Kuasa Perpajakan


1. Wakil Wajib Pajak
Dalam menjalankan hak dan kewajiban sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal:
. Badan oleh pengurus;
. Badan yang dinyatakan pailit oleh curator;
. Badan dalam pembubaran oleh orang atau badan yang ditugasi
untuk melakukan pemberesan;
. Badan dalam likuidasi oleh likuidator;
. Suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli
warisnya, pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta
peninggalannya; atau
. Anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam
pengampuan oleh wali atau pengampunya.

Kuasa Wajib Pajak


Wajib Pajak dapat menunjuk seorang kuasa yang bukan pegawainya
dengan suatu Surat Kuasa Khusus untuk menjalankan hak dan
memenuhi kewajiban perpajakannya.
Kuasa Wajib Pajak diatur dalam Pasal 32 ayat (3) dan Pasal 32 ayat
(3a) UU KUP, yang berbunyi sebagai berikut :

(3) Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan
surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban
sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan perpajakan.

(3a) Persyaratan serta pelaksanaan hak dan kewajiban kuasa


sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.

Hak dan Kewajiban Wajib


Pajak
Kewajiban Mendaftarkan Diri
Kewajiban pembayaran, pemotongan/
pemungutan, dan pelaporan pajak
Kewajiban dalam hal diperiksa
Kewajiban memberi data
Hak atas kelebihan pembayaran pajak
Hak dalam hal wajib pajak dilakukan
pemeriksaan
Hak untuk mengajukan keberatan, banding &
peninjauan kembali
Hak-hak wajib pajak lainnya

Sanksi Administrasi