Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM PTK IV

EKSTRAKSI

Disusun Oleh:
Arif Nurpraseto
2007430002
Dhanar Ruci
2007430003

Jurusan Kimia
Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
PTK 4_ Ekstraksi

11

2010
EKSTRAKSI

I. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Mempelajari

operasi

benzoat dengan

ekstraksi

cair-cair

larutan

asam

metode Cross Current.

2. Menghitung jumlah stage, stage effisiensi dan persen


recovery.
II. TEORI PERCOBAAN
Hampir semua proses dalam industri kimia memerlukan
operasi pemisahan fase, baik padat, cairan, maupun gas menjadi
komponen

penyusunnya.

Operasi

pemisahan

yang

sering

dilakukan antara lain adalah distilasi, evaporasi, absorpsi,


ekstraksi. Pemilihan operasi pemisahan yang akan digunakan
tergantung

pada

karakteristik

dari

fase-fase

yang

akan

dipisahkan, sifat-sifat fisika, maupun sifat-sifat kimia dari bahan


yang akan dipisahkan dan juga tinjauan ekonomi terhadap
operasi pemisahan.
Pemisahan secara ekstraksi merupakan pemisahan tidak
langsung karena ekstraksi dengan menggunakan suatu pelarut
(solven) akan menghasilkan suatu larutan baru (ekstrak) yang
harus dipisahkan lebih lanjut dengan distilasi atau evaporasi.
Sedangkan pemisahan secara distilasi dan evaporasi merupakan
pemisahan langsung dengan hasil yang diperoleh berupa bahan
murni. Dibandingkan dengan proses distilasi pada penguapan air
untuk larutan encer, maka ditinjau dari segi ekonomi akan lebih
ekonomis bila dilakukan secara ekstraksi. Selain itu ekstraksi
juga merupakan suatu alternatif yang menarik jika dibandingkan
dengan distilasi. Hal-hal yang memungkinkan berkembangnya

PTK 4_ Ekstraksi

11

proses pemisahan dengan cara ekstraksi di dalam industri kimia


pada masa yang akan datang.
Bila

dua

fase

yang

mempunyai

komposisi

berbeda

dikontakkan, maka dapat terjadi perpindahan komposisi dari fase


yang satu ke fase lainnya dan juga sebaliknya. Jika dua fase
dibiarkan berkontak cukup lama maka akan dicapai kaadaan
setimbang dan pada keadaan ini tidak terjadi perubahan dalam
komposisi dari fase-fase itu (Foust, 1980).
Kejadian yang banyak dijumpai adalah perpindahan massa
dari dua fase hanya sebagian saja yang melarut sempurna
sehingga pada kesetimbangan masih ada dua fase yang dapat
dipisahkan satu dari yang lain.
Biasanya dua fase ini mempunyai komposisi yang berbeda
dari satu dengan lainnya dan juga berbeda dari komposisikomposisi dua fase yang semula dikontakkan. Jadi jumlah relatif
komponen-komponen yang terpindahkan diantara fase-fase itu
berbeda sehingga dicapai pemisahan. Pada kondisi tertentu
perulangan kontak dan pemissahan fase dapat memberikan
pemisahan komponen yang hampir sempurna (Foust, 1980).
Pemisahan dengan cara ekstraksi sering dilakukan untuk
mengambil komponen-komponen yang mungkin mempunyai nilai
ekonomis dari suatu larutan dengan menggunakan dengan suatu
pelarut (solven). Di dalam ekstraksi jika fase yang ada berupa
cair-cair seringkali disebut sebagai ekstraksi solven (solven
ekstraction). Ektraksi cair merupakan pemisahan unsur-unsur
pokok dari suatu larutan melalui persinggungan dengan cairan
lain yang tidak dapat larut (Treybal, 1981). Dasar pemisahan
dengan cara ektraksi adalah perbedaan daya larut suatu
komponen di dalam pelarut. Larutan yang akan diekstraksi
disebut umpan (feed) dan cairan yang akan dikontakkan dengan
umpan disebut solven. Dengan demikian akan didapat dua fase

PTK 4_ Ekstraksi

11

yang masing-masing disebut sebagai fase kaya solven (ekstrak)


dan fase cairan sisa yang solutnya telah dipisahkan (rafinat).
Proses

ekstraksi

merupakan

proses

difusi

komponen-

komponen dari fase yang satu ke fase yang lainnya. Kecepatan


perpindahan massa dalam masing-masing fase tergantung dari
gradien konsentrasi yang ada dalam masing-masing fase. Untuk
sistem campuran asam benzoat dalam benzene dengan air
sebagai pelarut kedua diketahui kelarutan benzene dalam air
sebesar 0,0722 perseratus bagian air, sedangkan kelarutan asam
benzoat dalam air sebesar 0,217 perseratus bagian air (Perry,
1984).

Dengan

adanya

perbedaan

daya

larut

komponen

penyusun umpan dalam pelarutnya ini maka dapat dijalankan


suatu proses ekstraksi.
Ekstraksi ada dua jenis, yaitu ekstraksi cross current (arus
silang)

dan

ekstraksi

counter

current

(arus

berlawanan).

Ekstraksi arus silang merupakn sebuah cascade atau stage


berturutan dengan rafinat dari suatu stage dikontakkan dengan
penambahan larutan pelarut kedua yang masih baru pada stage
berikutnya (Perry, 1984). Ekstraksi jenis ini umumnya digunakan
untuk skala laboratorium karena fase ekstrak dan rafinat dapat
dianalisis

setelah

masing-masing

stage

menghasilkan

data

kesetimbangan, tetapi ekstraksi ini tidak ekonomis bila dipakai


untuk skala industri karena memerlukan pelarut yang banyak
dan konsentrasi solut dalam ekstrak yang terbentuk rendah
(Perry, 1984).
Ekstraksi arus berlawanan merupakan rancangan ekstraksi
dengan cara memasukkan solven ekstrak ke dalam stage atau
akhir ekstraksi terdahulu tempat umpan masuk dan dua fase
masing-masing masuk ke dalam stage secara berlawanan (Perry,
1984).

PTK 4_ Ekstraksi

11

Ekstraksi banyak dipakai dalam skala industri karena lebih


ekonomis. Peristiwa perpindahan massa yang terjadi pada proses
ekstraksi dapat dijabarkan sebagai berikut :
Ekstraksi Arus Silang (Cross Current):

Xf
E1
Y1

S3
Ys

S2
Ys

S1
Ys

L1
Z1
X1

L2

Zn
Xn

Z2
X2

E2
Y2

Stage 1

Ln

En
Yn

Stage 2

Stage

3
Gambar 1. Ekstraksi Cross Current
Neraca Massa Total

Ln-1 + Sn = En + Ln =

..(1)

Neraca Massa Komponen :


Ln-1.Xn-1 + Sn.Ys = En.Yn + Ln.Xn =

. Zn ..(2)

Ekstraksi Arus Berlawanan (Counter Current) :

F XF

En Y n

L1 X1

Ln X n

L2 X2
E1 Y1

E2 Y2

Gambar 2. Ekstraksi Counter Current


Neraca Massa Total
F + S = Ln + E1 =

:
..(3)

Neraca Massa Komponen :


PTK 4_ Ekstraksi

11

F . XF + S . YS = Ln . Xn + E1 . Y1 = . Z ..(4)
Dalam stage setimbang dua fase tercampur baik selama
waktu

secukupnya

kesetimbangan

sehingga

termodinamis

meninggalkan

stage.

Pada

dimungkinkan
diantara

terjadinya

fase-fase

kesetimbangan

tidak

yang
terjadi

perubahan komposisi dari fase-fase itu lebih lanjut pada keadaan


kondisi operasi tertentu.
Dalam alat industri sebenarnya tidaklah menguntungkan
membiarkan

kontak

kesetimbangan.

Oleh

fase
karena

cukup
itu

lama
stage

sampai

dicapai

sebenarnya

tidak

melaksanakan perubahan komposisi sebesar yang dilaksanakan


oleh stage setimbang. Effisiensi stage didefinisikan sebagai
perbandingan dari perubahan komposisi dalam stage setimbang
(Foust, 1980). Stage setimbang disebut juga stage ideal atau
stage teoritis. Effisiemsi stage merupakan faktor koreksi untuk
menerapkan model fisis dari suatu stage setimbang di dalam
penggunaan praktek dari alat industri (Foust, 1980). Effisiensi
stage untuk alat industri berkisar antara beberapa persen sampai
seratus persen.
Persamaan untuk menghitung effisiensi stage :
=

jumlah stage teoritis


100%
..(5)
jumlah stage percobaan

Sedangkan persen recovery merupakan perbandingan antara


banyaknya solute terambil dengan solute mula-mula.
Persamaan untuk menghitung persen recovery :
% Recovery =

solute terambil
100%
..(6)
solute mula-mula

Ekstraksi pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan metode
pemisahan atau pengambilan zat terlarut dala m larutan (biasanya dalam air) dengan
menggunakan pelarut lain (biasanya organik).[2]

PTK 4_ Ekstraksi

11

Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di antara dua fasa
cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan
secara cepat dan bersih baik untuk zat organik maupun zat anorganik. Cara ini juga
dapat digunakan untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk kepentingan
analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan preparatif
dalam bidang kimia organik, biokimia dan anorganik di laboratorium. Alat yang
digunakan dapat berupa corong pemisah (paling sederhana), alat ekstraksi soxhlet
sampai yang paling rumit berupa alat Counter Current Craig.[3]

Menurut Estien Yazid (2005), berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, suatu
ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair.
1.

Ekstraksi padat-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang

berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam usaha mengisolasi
zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam seperti steroid, hormon,
antibiotika dan lipida pada biji-bijian.
2.

Ekstraksi cair-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang

berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut banyak
dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan
air.
B. Ekstraksi Cair-cair
Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan senyawa atas dasar perbedaan
kelarutan pada dua jenis pelarut yang berbeda yang tidak saling bercampur. Jika
analit berada dalam pelarut anorganik, maka pelarut yang digunakan adalah pelarut
organik, dan sebaliknya.[4]
Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan cara bertahap
(batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana dan banyak dilakukan
adalah ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup dengan menambahkan pelarut
pengekstrak yang tidak bercampur dengan pelarut pertama melalui corong pemisah,
kemudian dilakukan pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solut
pada kedua pelarut. Setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan
dan lapisan yang berada di bawah dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan
untuk dilakukan analisis selanjutnya.[5]
Cara ini digunakan jika harga D cukup besar ( 1000). Bila hal ini terjadi, maka satu
kali ekstraksi sudah cukup untuk memperoleh solut secara kuantitatif. Nmaun
PTK 4_ Ekstraksi

11

demikian, ekstraksi akan semakin efektif jika dilakukan berulangkali menggunakan


pelarut dengan volume sedikit demi sedikit.[6]
Bila suatu zat terlarut membagi diri antara dua cairan yang tak dapat campur, ada
suatu hubungan yang pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam dua fase pada
kesetimbangan. Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas
mengenai hukun distribusi ketika pada tahun 1981 ia menunjukkan bahwa suatu zat
terlarut akan membagi dirinya antara dua cairan yang tak dapat campur sedemikian
rupa sehingga angka banding konsentrasi pada kesetimbangan adalah konstanta
pada suatu temperatur tertentu:
= tetapan
menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair 1. Meskipun hubungan ini
berlaku cukup baik dalam kasus-kasus tertentu, pada kenyataannya hubungan ini
tidaklah eksak. Yang benar, dalam pengertian termodinamik, angka banding aktivitas
bukannya rasio konsentrasi yang seharusnya konstan. Aktivitas suatu spesies kimia
dalam satu fase memelihara suatu rasio yang konstan terhadap aktivitas spesies itu
dalam fase cair yang lain:
= KDA
Di sini menyatakan aktivitas zat terlarut A dalam fase 1. Tetapan sejati KDA disebut
koefisien distribusi dari spesies A.[7]
Ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara
intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fasa cair itu
sesempurna mungkin. Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu
ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam
pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan
pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi
perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah
diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan
tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya
dengan bantuan perkakas pengaduk).[8]
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh karena akan menyebabkan
terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisah. Turbulensi pada
saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi
sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan
yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada
saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu
kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang
cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.[9]
PTK 4_ Ekstraksi

11

C. Ekstraksi Padat-cair
Ekstraksi padat cair digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan
menggunakan pelarut organik. Padatan yang akan diekstrak dilembutkan terlebih
dahulu, dapat dengan cara ditumbuk atau dapat juga diiris-iris menjadi bagian yang
tipis-tipis. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengan kertas saring.
Padatan yang telah terbungkus kertas saring dimasukkan ke dalam alat ekstraksi
soxhlet. Pelarut organik dimasukkan ke dalam pelarut godog. Kemudian peralatan
ekstraksi dirangkai dengan menggunakan pendingin air. Ekstraksi dilakukan dengan
memanaskan pelarut organik sampai semua analit terekstrak.[10]
1. Taksonomi kemiri

III. ALAT DAN BAHAN

PERALATAN

Susunan alat yang digunakan pada percobaan seperti pada


gambar di bawah ini :
0

1
0
2
0
3
0
4
0
5
0

Keterangan gambar :

Corong pemisah

Buret

Erlenmeyer

Beaker glass

BAHAN-BAHAN
.a Air Aquadest (aq)
.b Benzene
.c NaOH

IV. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Dibuat larutan asam oksalat 0,05 N dalam 100 ml

PTK 4_ Ekstraksi

11

2. Dibuat larutan NaOH 0,05 N dalam 200 ml, kemudian


dilakukan standarisasi.
3. Dibuat larutan umpan dengan melarutkan 1 gr asam
benzoat 50 ml larutan benzene.
4. Ke dalam larutan umpan ditambahkan aquadest sebanyak
50 ml sebagai pelarut kedua di dalam corong pemisah.
5. Dilakukan pengocokan sampai beberapa menit.
6. Kemudian dilakukan pemisahan lapisan benzene dengan
air.
7. Lapisan air sebagai ekstrak yang sudah terpisah dititrasi
dengan larutan NaOH hingga titik akhir.
8. Penambahan aquadest sebanyak 50 ml dan titrasi terhadap
air ekstrak diulangi sampai n kali ( n stage, hingga
didapatkan keadaan setimbang).
Analisis Data
Dari hasil titrasi terhadap ekstrak pada setiap stage maka
akan diperoleh volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi
hingga tercapai titik ekuivalen. Data volume NaOH ini digunakan
untuk mendapatkan konsentrasi NaOH yang kemudian dipakai
untuk menentukan konsentrasi solute dalam solven ekstrak pada
setiap stage. Dengan mengetahui konsentrasi solute dalam
solven ekstrak ini maka dapat ditentukan jumlah solute yang
terserap dengan persamaan sebagai berikut :
Asam Benzoat Terserap :
VEi . Ci . BM Asam Benzoat

Selanjutnya

fraksi

berat

umpan

ekstrak

dan

rafinat

ditentukan dengan mengambil asumsi bahwa solven benar-benar


tidak melarutkan. Persamaan yang dipakai :
berat asam benzoat mula-mula
XF =
(vol.benzene benzene) + berat as. benzoat mula-mula

PTK 4_ Ekstraksi

11

MR
dan,

XR =
MR + (vol.benzene benzene)

dengan

MR = (berat as. benzoat mula-mula berat as. benzoat


terserap)
Komposisi rafinat teoritis dihitung dengan asumsi :

Keluar dari stage komposisi dalam keadaan setimbang Ei , Li.

Solven tidak saling melarutkan.

Persamaan yang dipakai adalah :


Neraca massa total :
Ln-1 + Sn = En + Ln =

.............(1)

Untuk stage pertama : F + S1 = E1 + L1 =

Neraca massa komponen :


Ln-1 . Xn-1 + Sn . YS = En . Yn + Ln . Xn =

. Zn

.(2)

Untuk stage pertama :


F. Xf + S 1 . Y1 = E1 .Y1 + L1 . X1 =

. Z1

Pada percobaan ini solven ekstrak berupa air murni


(aquadest) sehingga komposisi YS = 0
Effisiensi stage overall dan persen recovery dihitung dengan
menggunakan persamaan (5) danPersamaan (6).

V. DATA PENGAMATAN
Temperatur Ruang
Tekanan Ruang

: 320C
: 760 mmHg

Pembuatan Larutan :

NaOH
w = 0,03 N 40 200 = 0,24 gram
1000

Asam Oksalat
PTK 4_ Ekstraksi

11

w = 0,03 N 126/2 100 = 0,18 gram


1000

Asam Benzoat

= 1 gram

Benzene

= 70 ml

benzene

= 0,88 gr/ml

Air Aquadest

= 100 ml (untuk tiap stage)

Standarisasi NaOH dengan Asam Oksalat :


VNaOH . NNaOH = VOksalat . NOksalat
NNaOH = 5 ml . 0,03N = 0,032 N
4.7 ml

Berat Benzene = vol. benzene benzene


=

0,88 gr/ml

50 ml

= 43 gram

Tabel Tahapan Ekstraksi


No.
1
2

Stag
e
I
II

VNaOH(ml)

NNaOH

V Ekstrak

2.15
2.35

0.032
0.032

5
5

Ekstraksi

0.01376
0.01504
0.0288

VI. PERHITUNGAN
Jumlah stage percobaan didapat 7 stage
Asam Benzoat terserap :
VEi . Ci . BM

= 0,0288 x 0,1 x 122


= 0.35316 gram

PTK 4_ Ekstraksi

11

XF =

berat as. benzoat mula-mula


berat benzene + berat as, benzoat mula-mula

1 gr

= 0,0227

43 gr + 1 gr

MR = berat as. benzoat mula-mula as. benzoat terserap


= 1 gr 0.35316 gr = 0,64864 gram
MR

0.64864

XR =

=
MR + berat benzene

0.64864 gr + 43 gr

= 0.01486

Stage Teoritis
XF
= ----XR
= 0,0227 = 1,5276
0.01486
stage = stage teoritis 100%
stage percobaan
=

1,5276 100% = 76,38 %


7

% recovery =

solute terambil 100%


solute mula-mula
= 1 (0.64846) 100% = 35,154 %
1

VII. PEMBAHASAN

Dari data percobaan yang didapat konsentrasi larutan


ekstrak dari stage I sampai dengan IX makin lama
semakin turun. Hal ini menandakan bahwa metode
ekstraksi dengan cross current banyak menggunakan

PTK 4_ Ekstraksi

11

solven, sehingga kurang ekonomis bila metode tersebut


digunakan untuk skala industri.

Effisiensi stage dalam percobaan ini didapat 16,59 %, hal


ini dipengaruhi oleh konsentrasi dari larutan ekstrak
sehingga penentuan banyaknya stage aktual/percobaan
ditandai dengan harga konsentrasi stage terakhir dan
stage sebelumnya yang sama atau hampir mendekati.

Kelarutan Asam Benzoat terhadap air lebih besar daripada


kelarutan Benzene terhadap air, dan kerapatan air lebih
daripada benzene sehingga pada corong pemisah terjadi
dua lapisan dimana lapisan atas terdiri dari asam benzoat
dan benzene sedang pada lapisan bawah terdiri dari asam
benzoat dan air.

Persen recovery yang didapat 34,20 %.

Pada percobaan ini stage setimbang terjadi pada stage


ke-7, karena pada stage ke-7 volume pentiternya sama.

VIII. KESIMPULAN

Effisiensi stage dalam percobaan ini didapat 16,59 %

Persen recovery yang didapat 34,20 %.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Anonimus, 2003. Penuntun praktikum Operasi Teknik Kimia.
Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Nugroho Hadi, Dr. Ir, 2003. Operasi Teknik Kimia (Ekstraksi).
Jilid 2. Universitas Muhammadiyah Jakarta.
TUGAS
1. Analisa Kesalahan min 5?

Shake (pengocokan) yang kurang homogeny

PTK 4_ Ekstraksi

11

Pemisahan yang tidak sempurna

Pembuatan larutan yang kurang baik

Pembacaan volume yang tidak tepat

Titik akhir yang kelewat

2. Aplikasi Industri?

Leaching pada industry emas

Leaching pada industry biji besi

Leaching pada industry uranium

PTK 4_ Ekstraksi

11

VIII. T U G A S
1. XF , MR , XR , % Recovery dan stage ada dalam perhitungan.
2. Analisis Kesalahan
-

Kurang telitinya praktikan dalam membaca skala volume


pada buret saat melakukan titrasi.

PTK 4_ Ekstraksi

11

Pengocokkan yang kurang sempurna dan tidak homogen


sehingga larutan tidak larut dan atau terserap secara
homogen dan optimal.

Penimbangan zat yang kurang akurat, karena digunakan


neraca kasar.
Sehingga

dapat

terjadi

titik-titik

kesalahan

pada

penimbangan boraks dan penimbangan bahan baku primer.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Penuntun praktikum Operasi Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Nugroho Hadi, Dr. Ir, Operasi Teknik Kimia (Ekstraksi),


Jilid 2, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

PTK 4_ Ekstraksi

11

2. Macam- macam metode ekstraksi serta gambarnya:

Ekstraksi kontak tingkat tunggal


pemi

sahan solven
F

lb/j

R1

R
XF

X1
XR
B
stage 1

Pemisahan Solven
B1

lb/j

lb/j

E1

Y1

YE
B

Sejumlah umpan F dimasukkan ke dalam ekstraktor lalu


dikontakkan dengan solven B1 dan menghasilkan ekstrak dan
rafinat masing-masing E1 dan R1.
Pengambilan kembali solven dilakukan didalam pemisah
solven yang menghasilkan E dan R.
Neraca Bahan disekeliling Ekstraktor :
F + B1 = M1 = E1 + R1
Neraca Bahan Komponen :
F . XF + B1 . XB1 = M . XM1 = E1 . X1 + R1 . Y1

Ekstraksi kontak tingkat ganda arus searah

PTK 4_ Ekstraksi

11

Ekstraksi ini merupakan pengembangan dari kontak tingkat


tunggal, dimana rafinat yang

meninggalkan sebuah stage

sebelumnya dikontakkan dengan solven baru seperti gambar


di bawah ini :
En
yn

R
X

Stage

n-1

n-1

Bn
Neraca bahan total disekitar stage ini memberikan :
Rn-1 + Bn = Mn = Rn + En
Neraca bahan komponen :
Rn-1 . Xn-1 + Bn = Mn . XMn = Rn . Xn + En . Yn

Ekstraksi kontak tingkat ganda arus berlawanan

Secara skematis operasi ekstraksi ini dapat ditunjukkan pada


gambar di bawah ini.
F

R1

Xf
1

R2

Rn

n-1

Rz

z-1

X2

n-1

z-

Xz

Stage
Stage
1
E1

Stage
2
E2

Stage
n

E3

En

n+1

z
Ez

PTK 4_ Ekstraksi

11

Y1

Y2

Y3

Yn

n+1

Yz

Di dalam ekstraktor ini arus ekstrak dan rafinat mengalir


secara arus berlawanan dari stage satu ke stage berikutnya
dan yang akhirnya memberikan produk ekstrak akhir E 1 dan
rafinat akhir Rn.
Kalau dibuat neraca bahan total di sekeliling ekstraktor
keseluruhan, maka didapat :
F + B = M = E1 + Rn
Neraca bahan komponen :
F . XF + B = M . XMn = E1 . Y1 + Rn . Xn
3. KRITERIA PEMILIHAN SOLVEN
Di dalam pemilihan solven untuk operasi ekstraksi ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

Selektivitas
Selektivitas solven merupakan suatu ukuran mengenai

efektivitas solven dalam memisahkan larutan ke dalam


komponen-komponennya. Selektivitas yang diberi simbol
didefinisikan sebagai perbandingan C/A di dalam fase ekstrak
terhadap C/A didalam fase rafinat, atau
(fraksi berat C di dalam ekstrak)
(fraksi berat A di dalam ekstrak)
= ---------------------------------(fraksi berat C di dalam rafinat)
(fraksi berat A di dalam rafinat)
(fraksi berat A di dalam rafinat)
= -------------------------------------(fraksi berat C di dalam ekstrak)

PTK 4_ Ekstraksi

11

Selektivitas atau faktor separasi di dalam ekstraksi adalah


analog dengan volatilitas relatif di dalam distilasi. Supaya
pemisahan

dengan

selektivitas

harus

ekstraksi
lebih

besar

dapat
dari

dilakukan,
satu.

Kalau

harga
harga

selektivitas sama dengan satu, maka pemisahan dengan jalan


ekstraksi tidak mungkin dapat dilakukan. Harga selektivitas
biasanya berubah sesuai dengan konsentrasi solut.

Koefisien distribusi
Koefisien distribusi adalah perbandingan fraksi berat solut

dalam ekstrak dan rafinat yang berseimbangan. Di dalam


ekstraksi tidak perlu bahwa perbandingan Y/X ini harus lebih
besar dari satu.
Harga Y/X sama atau kurang dari satupun ekstraksi masih
dapat berjalan, hanya saja kalau Y/X makin lebih besar dari
satu, jumlah solven yang diperlukan makin sedikit untuk suatu
pemisahan tertentu.

Ketidak larutan solven


Kalau solven masih sukar larut di dalam deluen, maka

daerah posisi umpan yang dapat diekstraksi akan semakin


besar. Hal ini dapat ditunjukan dengan gambar II.6. Pada
gambar II.6 (a) solven B lebih sukar larut kedalam deluen
dibandingkan dengan solven B pada ganbar II.6 (b), sehingga
solven B lebih baik dibandingkan dengan solven B.
C

C
D
D

B
PTK 4_ Ekstraksi

11

Perbedaan kerapatan antara fase ekstrak dan fase


rafinat sangat diperlukan, dengan harapan agar kedua fase
dapat

dipisahkan

dengan

cepat.

Makin

perbedaan

kerapatan kedua fase tersebut, pemisahan makin baik.

Kemudahan pemungutan kembali solven


Di dalam praktek, solven yang telah digunakan kembali di
dalam operasi ekstraksi berikutnya. Pengambilan kembali
dapat dilakukan denagn operasi-operasi pemisahan dan
biasanya dengan distilasi. Kalau solven akan diambil
kembali dengan jalan distilasi, maka solven tidak boleh
membentuk

campuran

azeotrop

dengan

solut

yang

diekstraksi, dan campuran harus menunjukan volatilitas


relatif yang tinggi agar supaya biaya pengambilan kembali
rendah.

Tegangan antar muka


Makin

besar

penggabungan

tegangan

antar

butir-butir

emulsi,

muka,
tetapi

makin
makin

cepat
sukar

terjadinya dispersi suatu cairan-cairan yang lain.

Reaktivitas kimia
Solven harus stabil dan tidak boleh bereaksi dengan
komponen lain dalam sistem dan dengan bahan kontruksi.

Sifat-sifat lain

PTK 4_ Ekstraksi

11

Sifat-sifat lain seperti kekentalan, tekanan uap dan


titik beku harus rendah supaya mudah dalam pengerjaan
dan penyimpanan. Silain itu sifat-sifat lain yang perlu
diperhatikan ialah tidak beracun, tidak mudah terbakar dan
harganya murah.
4. Metode Cross Current, yaitu:
Merupakan

rancangan

ekstraksi

dengan

cara

memasukkan solven ekstrak ke dalam stage atau akhir ekstraksi


terdahulu tempat umpan masuk dan dua fase masing masing
masuk ke dalam stage secara berlawanan.

Jenis ekstraksi ini

banyak dipakai dalam skala industri karena cara ini lebih


ekonomis.

S1
S

YS
YS
F

YS

L1

n
Xf

Z1
Stage 1

X1

X2

Xn
Stage 2

Stage 3
PTK 4_ Ekstraksi

11

E1

E2

En
Y1

Y2

Yn
Gambar 1. Ekstraksi Cross Current
Neraca Massa Total

: Ln-1 + Sn = En + Ln =

..

(1)
Neraca Massa Komponen
Xn =

: Ln-1 . Xn-1 + Sn . Ys = En . Yn + Ln .

. Zn ..(2)

LITERATUR

Penuntun praktikum Operasi Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Nugroho Hadi, Dr. Ir, Operasi Teknik Kimia (Ekstraksi),


Jilid 2, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

PTK 4_ Ekstraksi

11

1.Grafik Uo Vs p Vs t dengan volume konstan = 900 m


l
12
10
8
Uo
6

AP
t

4
2
0
D = 1.5

D = 2.0

D = 2.5

PTK 4_ Ekstraksi

11

2. Grafik p Vs t (waktu ) dengan Waktu konstan = 4 detik


12
10
8
Uo
6

AP
V (x 100)

4
2
0
D = 1,5

D = 2,0

D = 2,5

1
0
2
0
3
0
4
0
5
0

PTK 4_ Ekstraksi

11