Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Kasus
Seorang pasien berusia 62 tahun dating ke rumah sakit dengan
karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien masih cukup sadar
berpendidikan

cukup

tinggi.

Ia

memahami

benar

posisi

kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat


ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang
ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak
sangat

menderita,

dan

alat-alat

tersebut

tampaknya

hanya

memperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu ia meminta


kepada dokter apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi
yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll), dan
ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun tetap setuju apabila
ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang
dibutuhkan.
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang
sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti
pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme,
dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat
dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang
telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang
mengandung nilai-nilai etika.
Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi
standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang
diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik
yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang
memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.

Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa
standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain
hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar
profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian
pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga
sekaligus pelanggaran hukum
ISI

Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi
dalam bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya
dilaksanakan oleh penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul
dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacammacam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang hidup
sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan kewajiban-kewajiban dokter
dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct bagi dokter.
World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968
menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode
Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban
terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri.
Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode
Etik Kedokteran Internasional.[1]
Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada
prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam
membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau
benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral.
Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam
membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan
penelitian di bidang medis.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung
dengan memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan
2

profesional dokter, seperti autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak


dalam memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa yang akan
dilakukan terhadap dirinya), beneficence (melakukan tindakan untuk kebaikan
pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan yang memperburuk pasien)
dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme (pengabdian profesi).
Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan
prinsip moral kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan
kedokteran, dengan memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan
etik, memberikan banyak latihan, dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai
situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical ethics), sehingga cara berpikir etis
tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari pembuatan keputusan
medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum tentu dapat
mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para
seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian
pelaksanaan etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan
cabang, serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat,
wilayah dan cabang. Selain itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan
Komite Medis dengan Panitia Etik di dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan
etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit
didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi).
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar
hanya akan membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu
pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk
peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani
pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan
haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam
rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi)
kedokteran.
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran
(tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis
3

Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik


dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan
akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satusatunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik
dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian hari Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang dimandatkan
untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang menyidangkan
dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran.
MKDKI

bertujuan

menegakkan

disiplin

dokter

dokter

gigi

dalam

penyelenggaraan praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin


profesi, yaitu permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang
profesional atas peraturan internal profesinya, yang menyimpangi apa yang
diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan pengetahuan dan
ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya
pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK.
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses
persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan
jurisdiksinya berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI,
sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga
pengadilan di lingkungan peradilan umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran
standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh MKEK, dapat pula
diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara
keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu
dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya.
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau
perorangan

sebagai

penuntut.

Persidangan

MKEK

secara

formiel

tidak

menggunakan sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara


pidana ataupun perdata, namun demikian tetap berupaya melakukan pembuktian
mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim.
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :

1.

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak


terkait (pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di
bidangnya yang dibutuhkan

2.

Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai


ijasah/ brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan
berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat
kejadian, bukti hubungan dokter dengan rumah sakit, hospital bylaws, SOP
dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain yang berkaitan dengan
kasusnya.
Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti

seketat pada hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation,
misalnya, membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang
perilaku teradu di masa lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang
mengharuskan didahului dengan pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak
mengharuskannya. Di Australia, saksi tidak perlu disumpah pada informal hearing,
tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis persidangan yang lebih tinggi
daripada

yang

informal).[2]

Sedangkan

bukti

berupa

dokumen

umumnya

disahkan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait, dan pada bukti
keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan
(affidavit).
Dalam persidangan majelis etik dan disiplin, putusan diambil berdasarkan
bukti-bukti yang dianggap cukup kuat. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus
memiliki standard of proof seperti pada hukum acara pidana, yaitu setinggi beyond
reasonable doubt, namun juga tidak serendah pada hukum acara perdata, yaitu
preponderance of evidence. Pada beyond reasonable doubt tingkat kepastiannya
dianggap melebihi 90%, sedangkan pada preponderance of evidence dianggap
cukup bila telah 51% ke atas. Banyak ahli menyatakan bahwa tingkat kepastian
pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang diajukan.
Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi tingkat
kepastian yang dibutuhkan.5
Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Di
MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan
5

pelanggaran disiplin profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan


derajat

pelanggarannya.

Di

Australia

digunakan

berbagai

istilah

seperti

unacceptable conduct, unsatisfactory professional conduct, unprofessional conduct,


professional misconduct dan infamous conduct in professional respect. Namun
demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilah-istilah tersebut,
meskipun umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran yang
serius hingga dapat dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik. [3]
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya
tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah
pengadilan dalam bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK
dapat memberikan kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di
persidangan, menjelaskan tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Sekali
lagi, hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham dengan putusan MKEK.
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah
dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk
SIP, eksekusinya diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila eksekusi
telah dijalankan maka dokter teradu menerima keterangan telah menjalankan
putusan.

Etika Kedokteran
Etik (Ethics) berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti akhlak, ada
kebiasaan, watak, perasaan, sikap yang baik, yang layak. Menurut KUBI,
etika adalah ilmu pengetahuan tentang azas akhlak. Sedangkan menurut
KBBI dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, etika adalah :
1. Ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban moral
2. Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan
akhlak
3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat

Menurut Kamus Kedokteran, etika adalah pengetahuan tentang perilaku


yang benar dalam satu profesi. Pekerjaan profesi merupakan pekerjaan yang
memerlukan pendidikan dan latihan tertentu, memiliki kedudukan yang
tinggi dalam masyarakat, seperti ahli hukum, wartawan, dosen, dokter,
dokter gigi, dan apoteker.
Pekerjaan profesi umumnya memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pendidikan sesuai standar nasional


Mengutamakan panggilan kemanusiaan
Berlandaskan etik profesi, mengikat seumur hidup
Legal melalui perizinan
Belajar sepanjang hayat
Anggota bergabung dalam satu organisasi profesi

Dalam pekerjaan profesi sangat dihandalkan etik profesi dalam memberikan


pelayanan kepada public. Etik profesi merupakan seperangkat perilaku
anggota profesi dalam hubungannya dengan orang lain. Pengamalan etika
membuat kelompok menjadi baik dalam arti moral.
Cirri-ciri etik profesi adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Berlaku untuk lingkungan profesi


Disusun oleh organisasi profesi bersangkutan
Mengandung kewajiban dan larangan
Menggugah sikap manusiawi

Profesi kedokteran merupakan profesi yang tertua dan dikenal sebagai


profesi yang mulia karena ia berhadapan dengan hal yang paling berharga
dalam hidup seseorang yaitu masalah kesehatan dan kehidupan.
Menurut Pasal 1 butir 11 UU No 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran
profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran
atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan,
kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan berjenajng dank ode etik
yang bersifat melayani masyarakat.

Etika profesi kedokteran merupakan seperangkat perilaku para dokter dan


dokter gigi dalam hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat,
teman sejawat dan mitra kerja. Rumusan perilaku pada anggota profesi
disusun oleh organisasi profesi bersama-sama pemerintah menjadi suatu
kode etik profesi yang bersangkutan. Tiap-tiap jenis tenaga kesehatan telah
memiliki Kode Etiknya, namun Kode Etik tenaga kesehatan tersebut
mengacu pada Kode Etika Kedokteran Indonesia (KODEKI).
Sesuai dengan kasus di atas, masalah ini merupakan perdebatan hebat
karena sudah menyangkut segi etik, moral dan kedokteran. Bukankah
KODEKI pasal 10 berbunyi :
setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi
hidup makhluk insani
Dengan demikian maka jika terjadi suatu akibat dari tindakan yang telah
dilakukan tentu akan lebih serius jika dibandingkan dengan tindakan yang
dilakukan di tempat praktek pribadi dokter masing-masing yang tentunya
akan sangat berhati-hati dan berpikir dahulu sebelum mengambil tindakan
(defensive medicine).

REKAM MEDIS
Dalam pelayanan kedokteran/kesehatan, terutama yang dilakukan para
dokter baik di rumah sakit maupun praktik pribadi, peran pencatatan rekam
medis sangat penting dan sangat melekat dengan kegiatan pelayanan
tersebut. Dengan demikian, ada ungkapan bahwa RM adalah orang ketiga
pada saat dokter menerima pasien. Hal tersebut dapat dipahami karena
catatan demikian akan berguna untuk mengingatkan kembali dokter tentang
keadaan, hasil pemeriksaan, dan pengobatan yang telah diberikan bila
pasien dating kembali untuk berobat ulang setelah beberapa hari, beberapa
bulan, bahkan setelah beberapa tahun kemudian. Dengan adanya RM, ia bisa
mengingat atau mengenali keadaan pasien saat diperiksa sehingga lebih
mudah melanjutkan strategi pengobatan dan perawatannya. Namun, kini
makin dipahami bahwa peran RM tidak terbatas pada asumsi yang
dikemukakan di atas, tetapi jauh lebih luas. Oleh karena itu, para tenaga
kesehatan masa kini harus memahami dengan baik hal-hal yang berkaitan
dengan RM.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa RM adalah kumpulan keterangan
tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan, dan catatan segala
kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Catatan
ini berupa tulisan ataupun gambar, dan belakangan ini dapat pula berupa
rekaman elektronik, seperti computer, microfilm, dan rekaman suara.
isi RM
Di rumah sakit didapat dua jenis RM, yaitu :
-

RM untuk pasien rawat jalan


Termasuk pasien gawat darurat, RM memiliki informasi pasien, antara
lain :
Identitas dan formulir perixinan (lembar hak kuasa)
Riwayat pasien (anamnesis) tentang
o Keluhan utama
o Riwayat sekarang
10

o Riwayat penyakit yang pernah diderita


o Riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan
Laporan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan laboratorium,

foto rontgen, scanning, MRI, dan lain-lain.


Diagnosis dan/atau diagnosis banding
Instruksi diagnostic dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat

kesehatan yang berwenang.


RM untuk pasien rawat inap
Memiliki informasi yang sama dengan yang terdapat dalam rawat
jalan, dengan tambahan :
Persetujuan tindakan medic
Catatan konsultasi
Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya
Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan
Resume akhir dan evaluasi pengobatan

Kegunaan RM
RM mempunya aspek hukum kedisplinan dan etik petugas kesehatan,
kerahasiaan, keuangan, mutu serta manajemen rumah sakit dan audit
medic.
Secara umum kegunaan RM adalah :
1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya
yang ikut ambil bagian dalam member pelayanan, pengobatan dan
perawatan pasien.
2. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada pasien.
3. Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perkembangan penyakit
dan pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di rumah sakit.
4. Sebagai dasar analisis, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang
diberikan kepada pasien.
5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit, maupun
dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk kepelruan
penelitian dan pendidikan.
11

7. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan


medic pasien.
8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai
bahan pertanggungjawaban dan laporan.
Hak Pasien
1. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri, dan hak untuk mati
secara wajar
2. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan
standar kedokteran
3. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dokter yang
mengobatinya
4. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan
dapat menarik diri dari kontrak terapeutik
5. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya
6. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran
7. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan
kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau
pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut
8. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi
9. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit
10.
Berhubungan dengan keluarga, penasihat, atau rohaniwan, dan
lain-lain yang diperlukan selama perawatan di rumah sakit
11.
Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap,
obat, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, USG, CT scan,
MRI, dan sebagainya (kalau dilakukan) biaya kamar bedah, kamar
bersalin, imbalan jasa dokter dan lain-lain
Dari uraian di atas jelaslah bahwa hak memperoleh informasi atau
penjelasan merupakan hak asasi pasien yang paling utama, bahkan
dalam tindakan-tindakan khusus diperlukan Persetujuan Tindakan Medik
yang ditandatangani oleh pasien dan/atau keluarganya.
Dalam UU RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 52
dinyatakan bahwa hak-hak pasien adalah mendapatkan penjelasan secara

12

lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter atau dokter


gigi lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis,
menolak tindakan medis, dan mendapatkan isi rekam medis.
Kewajiban Pasien
Jika ada hak, tentu ada kewajiban. Dalam kontrak terapeutik antara pasien
dan dokter, memang dokter mendahulukan hak pasien karena tugasnya
merupakan

panggilan

perikemanusiaan.

Namun,

pasien

yang

telah

mengikatkan dirinya dengan dokter, perlu pula memperhatikan kewajibankewajibannya sehingga hubungan dokter dan pasien yang sifatnya saling
hormat menghormati dan saling percaya mempercayai terpelihara baik.
Kewajiban-kewajiban pasien pada garis besarnya adalah sebagai berikut :
1. Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter
Masyarakat perlu diberikan penyuluhan, bahwa pengobatan penyakit
pada stadium dini akan lebih berhasil dan mengurangi komplikasi yang
merugikan.
2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya
Informasi yang ebnar dan lengkap dari pasien/keluarga merupakan hal
yang penting bagi dokter dalam membantu menegakkan diagnosis
penyakit. Bila dokter dituntut malpraktik, tuntutan dapat gugur jika
terbukti pasien telah memberikan keterangan yang menyesatkan atau
menyembunyikan

hal-hal

yang

pernah

dialaminya;

tidak

memberitahukan obat-obat yang pernah diminumnya sehingga terjadi


interaksi obat misalnya.
3. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
Pasien berkewajiban mematuhi petunjuk

dokter

tentang makan

berpantang, minum, pemakaian obat-obat, istirahat, kerja, saat


berobat berulang, dan lain-lain. Pasien yang tidak mematuhi petunjuk
dokternya, keberhasilan pengobatannya akan menjadi berkurang.
4. Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah sakit
dan lain-lainnya

13

Dalam kontrak terapeutik, ada tindakan medic, baik untuk tujuan


diagnosis maupun untuk terapi yang harus disetujui oleh pasien atau
keluarganya, setelah diberi penjelasan oleh dokter. Surat PTM yang
sifatnya

tulisan,

harus

ditandatangani

oleh

pasien

dan/atau

keluarganya.
5. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh
Pasien yang telah memercayai dokter dalam upaya penyembuhannya,
berkewajiban menyerahkan dirinya untuk diperiksa dan diobati sesuai
kemampuan dokter. Pasien yang tidak yakin lagi pada kemampuan
dokternya, dapat memutuskan kontrak terapeutik atau dokternya
sendiri yang menolak meneruskan perawatan.
6. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan
pengobatan serta honorarium dokter.
Imbalan untuk dokter merupakan penghargaan yang sepantasnya
diberikan oleh pasien/keluarga atas jerih payah seorang dokter.
Kewajiban pasien ini haruslah disesuaikan dengan kemampuannya dan
besar kecilnya honorarium dokter tidak boleh memengaruhi dokter
dalam memberikan pelayanan kedokteran yang bermutu, sesuai
standar pelayanan medic.
Dalam UU RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 53
dinyatakan bahwa kewajiban pasien adalah memberikan informasi yang
lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya, mematuhi nasihat dan
petunjuk dokter atau dokter gigi, mematuhi ketentuan yang berlaku di
sarana

pelayanan

kesehatan

dan

memberikan

imbalan

jasa

atas

pelayanan yang diterima.


Kewajiban Dokter
Dalam menjalankan tugasnya, bagi dokter berlaku Aegroti Salus Lex
Suprema, yang berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi.
Kewajiban dokter terdiri dari kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien,
kewajiban terhadap teman sejawat, dan kewajiban terhadap diri sendiri.

14

Dalam UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 51 dinyatakan


bahwa kewajiban dokter atau dokter gigi adalah :
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien
2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin pada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi
Hak Dokter
Sebagai manusia biasa dokter memiliki tanggung jawab terhadap pribadi dan
keluarga, di samping tanggung jawab profesinya terhadap masyarakat.
Karena itu, dokter juga memiliki hak yang harus dihormati dan dipahami oleh
masyarakat sekitarnya.
Hak-hak dokter adalah sebagai berikut.
1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter (SID)
dan Surat Izin Praktik (SIP)
Dalam PP No 58 Tahun 1958 telah ditetapkan tentang wajib daftar
ijazah dokter dan dokter gigi baru, yang disusul dengan Peraturan
Menkes

RI

No

560/Menkes/Per/X/1981

tentang

pemberian

izin

menjalankan pekerjaan dan izin praktik bagi dokter umum dan No


561/Menkes/Per/X/1981 tentang pemberian izin menjalan pekerjaan
dan izin praktik bagi dokter spesialis. Menurut Pasal 7 UU No 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran sehingga kini tugas registrasi dokter
dan dokter gigi dilakukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Dengan

demikian,

dokter

yang
15

telah

memperoleh

surat

tanda

registrasi tersebut memiliki wewenang melakukan praktik kedokteran


sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki (pasal 35).
2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga
tentang penyakitnya
Informasi tentang penyakit terdahulu dan keluhan pasien yang
sekarang dideritanya, serta riwayat pengobatan sebelumnya sangat
membantu dokter untuk menegakkan diagnosis yang pasti. Setelah
diperoleh anamnesis, dokter berhak melanjutkan pemeriksaan dan
pengobatan walaupun untuk prosedur tertentu memerlukan PTM.
3. Bekerja sesuai standar profesi
Dalam upaya memelihara kesehatan pasien, seorang dokter berhak
untuk bekerja sesuai standar (ukuran) profesinya sehingga ia dipercaya
dan

diyakini

oleh

masyarakat

bahwa

dokter

bekerja

secara

professional.
4. Menolak melakukan tindakan medic yang bertentangan dengan etika,
hukum, agama, dan hati nuraninya
Hak ini dimiliki dokter untuk menjaga martabat profesinya. Dalam hal
ini berlaku Sa science et sa conscience, ya ilmu pengetahuan, dan ya
hati nurani.
5. Mengakhiri

hubungan

dengan

seorang

pasien

jika

menurut

penilaiannya kerja sama pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali


dalam keadaan gawat darurat.
Dalam hubungan pasien dengan

dokter

haruslah

saling

harga

menghargai dan saling percaya mempercayai. Jika instruksi yang


diberikan dokter, misalnya untuk meminum obat berkali-kali tidak
dipatuhi oleh pasien dengan alas an lupa, tidak enak dan sebagainya
sehingga jelas bagi dokter bahwa pasien tersebut tidak kooperatif.
Dengan demikian, dokter mempunyai hak memutuskan kontrak
terapeutik.
6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya, kecuali dalam
keadaan

darurat

atau

tidak

ada

dokter

lain

yang

mampu

menanganinya.
Seorang dokter harus selalu senantiasa melakukan profesinya menurut
ukuran tertinggi. Dengan demikian, seorang dokter yang telah
16

menguasai sesuatu bidang standar tinggi kepada pasien yang bukan


bidang spesialisasinya. Karena itu, dokter berhak menolak pasien
tersebut.

Namun,

untuk

pertolongan

pertama

pada

kecelakaan

ataupun untuk pasien gawat darurat, setiap dokter berkewajiban


menolongnya apabila tidak ada dokter lain yang menanganinya.
7. Hak atas kebebasan pribadi dokter
Pasien yang mengetahui kehidupan pribadi dokter, perlu menahan diri
untuk tidak menyebarluaskan hal-hal yang sangat bersifat pribadi dari
dokternya.
8. Ketentraman kerja
Seorang dokter memerlukan suasana tentram agar dapat bekerja
dengan baik. Permintaan yang tidak wajar dan sering diajukan oleh
pasien/keluargnya, bahkan disertai tekanan psikis atau fisik, tidak akan
membantu

dokter

dalam

memelihara

keluhuran

profesinya.

Sebaliknya, dokter akan bekerja dengan tenteram jika dokter sendiri


memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah dan moral/etika profesi.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter
Hamper setiap hari kepada dokter diminta surat keterangan tentang
kelahiran, kematian, kesehatan, sakit dan sebagainya. Dokter berhak
menerbitkan

surat-surat

keterangan

berlandaskan kebenaran.
10.
Menerima imbalan jasa
Dokter berhak menerima imbalan

tersebut

jasa

dan

yang

tentunya

pasien/keluarganya

berkewajiban memberikan imbalan jasa tersebut sesuai dengan


kesepakatan. Hak dokter menerima imbalan jasa bisa tidak digunakan
pada kasus-kasus tertentu, misalnya pasien tidak mampu, pertolongan
pertama pada kecelakaan, dari teman sejawat dan keluarganya.
11.
Menjadi anggota perhimpunan profesi
Dokter yang melakukan pekerjaan profesi perlu menggabungkan
dirinya dalam perkumpulan profesi atau perhimpunan seminat dengan
tujuan meningkatkan iptek dan karya dalam bidang yang ditekuninya
serta menjali keakraban antara sesame anggota.
12.
Hak membela diri
Dalam hal menghadapi keluhan pasien yang merasa tidak puas
terhadapnya atau dokter bermasalah, dokter mempunya hak untuk
17

membela diri dalam lembaga tempat ia bekerja, dalam perkumpulan


tempat ia menjadi anggota, atau di pengadilan jika telah diajukan
gugatan terhadapnya.
Dalam UU NO 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 50
dinyatakan bahwa hak-hak dokter adalah memperoleh perlindungan
hukum sepanjang melaksanakan tugas, memberikan pelayanan medis
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, dan
memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya.
Pada kasus di atas dapat kita lihat bahwa pasien meminta kepada dokter
apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja
(tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll). Hal ini dapat digolongkan
kedalam auto-euthanasia. Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI),
dikenal 3 pengertian yang berkaitan dengan euthanasia, yaitu :
1) Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman, tanpa penderitaan,
untuk yang beriman dengan nama Allah di bibir
2) Ketika hidup berakhir, diringankan penderitaan si sakit dengan
memberikan obat penenang
3) Mengakhiri derita dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas
permintaan pasien sendiri dan keluarganya.
Lamerton dan Thiroux menyusun 4 kategori yang berkaitan dengan
euthanasia, yaitu membiarkan seseorang mati, kematian belas kasihan,
pembunuhan belas kasihan dan kematian otak/batang otak.
Secara umum ada 3 jenis euthanasia, yaitu :
1. Euthanasia

aktif,

yakni

secara

sengaja

melakukan

tindakan/langkah/perbuatan mengakhiri atau mempependek hidup


penderita.

18

2. Euthanasia pasif, yakni secara sengaja tidak (lagi) memberikan


perawatan atau bantuan medic yang dapat memperpanjang hidup
penderita.
3. Auto-euthanasia, yakni penolakan secara tegas oleh pasien untuk
memperoleh bantuan atau perawatan medic terhadap dirinya, dan ia
tahu pasti bahwa hal itu akan memperpendek atau mengakhiri
hidupnya.
DASAR HUKUM
Dari sudut hukum pidana, KUHP mengatur masalah euthanasia ini melalui
beberapa pasalnya.
Pasal 344 KUHP
Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri
yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal 345 KUHP
Barang siapa dengan sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri
menolongnya dalam perbuatan itu atau member sarana kepadanya untuk
itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang
itu jadi bunuh diri.

INFORM CONSENT
Persetujuan antara pihak pasien dengan pihak dokter dalam rangka
pengobatan atau penanganan medic dapat dinyatakan secara langsung baik
lisan maupun tulisan yang dikenal sebagai express consent atau inform
consent, atau secara tidak langsung seperti mengikuti petunjuk atau
perintah dari dokter yang dikenal sebagai implied consent. Mengenai inform
consent telah diatur dalam suatu kelembagaan yang memiliki kekuatan
19

hukum tetap dengan diundangkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


585 Tahun 1989 tentang persetujuan medic.
Menurut pasal I butir (a) Permenkes Nomor 585 Tahun 1989 dinyatakan
bahwa persetujuan tindakan medic atau inform consent adalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan
mengenai tindakan medic yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Penjelasan pasal I butir (a) tersebut dapat dinyatakan bahwa tanpa
persetujuan dari pasien maupun dari keluarga pasien tersebut, maka
pemeriksaan atau penanganan medic yang dilakukan oleh dokter tersebut
tidak mempunya kekuatan hukum tetap.
Dengan demikian, dalam hubungan antara pasien sebagai penerima
pertolongan medis dengan dokter sebagai pemberi pertolongan medis
merupakan hubungan antar subjek hukum. Artinya terhadap dokter berlaku
juga ketentuan-ketentuan hukum umum sebagai dasar pertanggung jawaban
hukum dalam menjalankan profesinya.
Dilihat dari segi hukum pidana masalah inform consent
pada

masalah

persetujuannya.

Suatu

tindakan

medis

lebih ditekankan
yang

invasive

khususnya, harus didasrkan pada persetujuan pasien. Tanpa adanya


persetujuan dari pasien maka dokter yang melakukan tindakan medis itu
dapat dipersalahkan karena telah melakukan tindakan pidana penganiayaan,
terlebih lagi dalam tindakan medis itu juga dilakukan pembiusan (pasal 351
KUHP).

KESIMPULAN
Pada kasus di atas, yang terpenting sebenarnya adalah rambu-rambu
etika, moral maupun humum yang tegas bagi para dokter, agar terdapat
kejelasan tentang euthanasia. Kemajuan ilmu dan teknologi masa kini sudah
20

saatnya diantisipasi sejak dini dengan rumusan-rumusan etika dan hukum.


Diakui atau tidak, disukai atau tidak dan disengaja atau tidak, peristiwa dan
masalah euthanasia hamper selalu dihadapi oleh para dokter ketika
bertugas.

21