Anda di halaman 1dari 4

Pada praktikum Osmoregulasi ini, kami menggunakan ikan mas (Cyprinus carpio) sebagai objek

pengamatan.

Ikan

mas

termasuk

ke

dalam

golongan

family Cyprinidae. Ikan

mas memiliki tempat hidup (habitat) diperairan tawar yang tidak terlalu dalam dan airannya tidak
terlalu deras, misalnya dipinggiran sungai atau danau. Pada praktikum kali ini ikan mas
diberikan beberapa perlakuan yaitu dengan penambahan larutan garam (12,5 gram, 25 gram, 37,5
gram, dan 50 gram), dimana tujuan penambahan larutan garam ini untuk mengtahui daya tahan
tubuh ikan mas terhadap salinitas yang meningkat. Berdasarkan hasil praktikum, ikan mas yang
baru diletakkan ke dalam becker glass yang telah berisi air tawar (air kran) tanpa diberi
perlakuan dapat diperoleh bahwa pada 1 menit pertama pergerakan ikan aktif di dasar air, bukaan
mulut ikan mas normal dan jumlah pergerakan tutup buka operculum sebanyak 100 perhitungan.
Poses osmoregulasi pada ikan mas berjalan dengan normal dan terjadi keseimbangan antara subtansi di
dalam tubuh dan lingkungannya serta habitat asli ikan mas memang di air tawar dan dapat disimpulkan
bahwa salinitas 0 % itu cocok untuk habitat ikan mas. Hal ini sesuai dengan pendapat Fujaya (2008) yang
menyatakan bahwa teleostei air tawar bersifat hiprosmotik terhadap lingkungannya, menyebabkan
air bergerak masuk ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungan dengan cara difusi.
Selanjutnya berdasarkan hasil pengamatan tingkah laku yang telah dilakukan pada salinitas dengan
kadar garam sebanyak 12,5 gram, ikan mas tidak begitu menunjukkan perbedaan tingkah laku
yang signifikan dibandingkan pada saat ikan mas tidak diberi perlakuan. Hanya saja pada saat
awal ditambahkan larutan garam 12,5 gram tersebut ikan sedikit hiperaktif karena terkejut
dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Sedangkan untuk Jumlah pergerakan tutup buka
operculum selama 1 menit pengamatan adalah sebanyak 90 perhitungan. Pada perlakuan ini
dapat diketahui bahwa tubuh ikan mas masih dapat mentolerir salinitas dengan kadar garam 12,5
gram. Pada perlakuan kedua yaitu dengan meningkatkan salinitas medium dengan menambahkan
larutan garam (kadar garam 25 gram) dapat teramati adanya perubahan tingkah laku ikan mas
selama 1 menit pengamatan. Ketika awal ditambahkannya larutan garam tersebut ke dalam
becker glass ikan menjadi lebih hiperaktif dibandingkan sebelumnya, pergerakan ikan mas
cenderung ke permukaan dan bukaan mulut ikan mas menjadi semakin cepat. Namun lamakelamaan ikan mas menjadi semakin lemas setelah 1 menit pengamatan. Jumlah pergerakan
tutup buka operculum selama 1 menit pengamatan semakin berkurang yaitu sebanyak 80
perhitungan.

Selanjutnya untuk perlakuan ketiga yaitu dengan menambahkan larutan garam (kadar
garam 37,5 gram) ke dalam becker glass medium ikan mas berenang, terjadi perubahan tingkah
laku yang signifikan. Pergerakan ikan mas semakin tidak terkendali (meloncat ke permukaan dan
hampir ke luar becker glass), bukaan mulutnya semakin cepat sedangkan pergerakan tutup buka
operculum semakin lambat dan kumlah pergerakan operculum ikan mas selama 1 menit
pengamatan menjadi berkurang drastic yaitu sebanyak 21 perhitungan. Pada perlakuan ini selama
1 menit pengamatan pergerakan ikan mas semakin melemas, pergerakan siri-siripnya juga
semakin berkurang. Sedangakan pada perlakuan yang terakhir yaitu dengan menambahkan
larutan garam (kadar garam 50 gram) menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku dimana
pada awal pemberial larutan tersebut ikan sudah lemas dan posisi ikan sudah berada
dipermukaan. Jumlah pergerakan tutup buka operculum pun berkurang drastis selama
pengamatan 1 menit yaitu sebanyak 5 perhitungan. Setelah beberapa detik sebelum akhir
pengamatan ikan pun mati.
Berdasarkan hasil pengamatan, ikan lebih cepat mati pada konsentrasi garam paling
tinggi yaitu 50 gram kadar garam. Pada saat pangamatan, ikan menjadi hiperaktif dan tampak
tingkah laku stres terhadap lingkungan perlakuan. Berdasarkan data hasil pengamatan, semakin
tinggi konsentrasi NaCl, semakin cepat ikan mati, hal tersebut dikarenakan cairan dalam tubuh
ikan yang diasumsikan konsentrasinya lebih kecil dari pada lingkungan berpindah dengan cara
osmosis, sehingga ikan akan mengalami dehidrasi, kemudian akan mati.
Pada salinitas tinggi telah diketahui bahwa kandungan oksigen rendah, maka ikan mas
cenderung menuju permukaan. Bukaan mulut yang cepat, gerakan tapis insang yang cepat pada
perlakuan yang menggunakan kadar garam 12,5, 25, 37,5 gram dilakukan oleh ikan mas karena
untuk mendapatkan oksigen.

No
.
1.

PERLAKUAN

Jumlah pergerakan tutup buka operculum

Tanpa perlakuan

(1 menit)
100

Tingkah laku
- Pergerakan aktif dan
tenang
- Pergerakan
cenderung

2.

Larutan

garam

(kadar

garam

90

3.

Larutan

permukaan
- Pergerakan awalnya
aktif

12,5 gram)

ke

dan

lam-

kelamaan
garam

(kadar garam 25

80

mulai

berkurang.
- Pergerakannya
hiperaktif

awalnya

gram)

kemudian
dan

4.

Larutan

garam

(kadar

garam

21

lambat
menjadi

melemas.
- Pergerakan hiperaktif
awalnya.

37,5 gram)

Lalu

kemudian
pergerakannya
menjadi

sangat

lemas dan oleng .


- Pergerakannya aktif
5.

Larutan

garam

di permukaan.
- Pergerakan
sangat

(kadar garam 50

hiperaktif

gram)

lalu kemudian lemas


dan mati

awalnya