Anda di halaman 1dari 5

9.1. PSAK No.

14: PERSEDIAAN (2008)


Entitas menerapkan PSAK No. 14 untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau
setelah 1 Januari 2009. Pernyataan PSAK No. 14 (2008) menggantikan PSAK No. 14 (1994).
Tujuan Pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan. Permasalahan
pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan jumlah biaya yang diakui sebagai aset
dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas aset tersebut sampai pendapatan terkait diakui.
Definisi
Persediaan adalah aset:
1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;
2. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi
estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.
Nilai wajar adalah jumlah di mana suatu aset dipertukarkan, atau kewajiban
diselesaikan, antara pihak yang berpengetahuan dan berkeinginan dalam suatu transaksi yang
wajar.
Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa berjangka.
Nilai khusus-entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan oleh suatu entitas
yang timbul dari penggunaan aset berkelanjutan dan dari pelepasannya pada akhir umur
manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban.
Pengukuran Persediaan
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih
rendah. Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya
lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
1. Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya
(kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak),
biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat
diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat dan
hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.
2. Biaya Konversi

Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan
unit yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi
sistematis overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi
bahan menjadi barang jadi.
3. Biaya-biaya Lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya
tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Contoh
biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam
periode terjadinya adalah (a) jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya
produksi lainnya yang tidak normal; (b) biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut
diperlukan dalam proses produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi
berikutnya; (c) biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi untuk
membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini; dan (d) biaya
penjualan.
Pengungkapan
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
1. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus
biaya yang digunakan;
2. Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang
sesuai bagi entitas;
3. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual;
4. Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan;
5. Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang
diakui sebagai beban dalam periode;
6. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai
pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan;
7. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang
diturunkan;
8. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

9.2. PSAK No. 16: ASET TETAP (2011)


Definisi
Aset tetap adalah aset berwujud yang:

1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar
dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset pada saat pertama
kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu dalam PSAK lain, misalnya PSAK 53 (revisi
2010): Pembayaran Berbasis Saham.
Jumlah tercatat adalah nilai aset yang diakui setelah dikurangi akumulasi penyusutan
dan akumulasi rugi penurunan nilai. Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi
antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya. Jumlah tersusutkan
adalah biaya perolehan aset, atau jumlah lain yang merupakan pengganti biaya perolehan,
dikurangi nilai residunya.
Nilai spesifik entitas adalah nilai kini dari arus kas entitas yang diharapkan timbul
dari penggunaan aset secara berkelanjutan dan dari pelepasan aset tersebut pada akhir umur
manfaatnya atau yang diharapkan terjadi saat penyelesaian liabilitas.
Nilai residu aset adalah jumlah estimasian yang dapat diperoleh entitas saat ini dari
pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset telah mencapai umur dan
kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.
Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara
pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi
dengan wajar.
Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset
selama umur manfaatnya. Rugi penurunan nilai adalah suatu jumlah yang merupakan selisih
lebih jumlah tercatat suatu aset atas jumlah terpulihkannya.
Umur manfaat adalah:
1. Periode suatu aset yang diharapkan dapat digunakan oleh entitas, atau
2. Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari suatu aset oleh
entitas.

Pengakuan
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

1. Kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomik masa depan dari aset
tersebut;
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Pengakuan Awal
Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya
harus diukur sebesar biaya perolehan.
Pengukuran Setelah Pengakuan Awal
Entitas memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya
dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama.
1. Model Biaya
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset.
2. Model Revaluasi
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara
andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi
setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup
reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari
jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode
pelaporan.
Pengungkapan
Laporan keuangan mengungkapkan, untuk setiap kelompok aset tetap:
1.
2.
3.
4.

Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto;


Metode penyusutan yang digunakan;
Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (dijumlahkan dengan akumulasi rugi

penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan


5. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
(i) penambahan;
(ii) aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam kelompok
lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual sesuai PSAK 58 (revisi
2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan
dan pelepasan lainnya;
(iii) akuisisi melalui kombinasi bisnis;
(iv) peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf 31, 39, dan 40
serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik dalam pendapatan
komprehensif lain sesuai PSAK No. 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset;
4

(v) rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
(vi) rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
(vii) penyusutan;
(viii) selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan dari
mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda, termasuk
penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang pelaporan dari entitas
pelapor;
(ix) perubahan lain.
Laporan keuangan juga mengungkapkan:
1. Keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan untuk
liabilitas;
2. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang sedang dalam
pembangunan;
3. Jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset tetap;
4. Jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami penurunan
nilai, hilang atau dihentikan yang dimasukkan dalam laba rugi, jika tidak diungkapkan
secara terpisah pada pendapatan komprehensif lain.