Anda di halaman 1dari 6

PENENTUAN GAYA KUANTUM PLANCK MELALUI PERCOBAAN

EFEK FOTOLISTRIK
1)M.Wahyu

R,2)Agus Romadhon,3)Zaenal Abidin,4) Bitorian richy,5) Karnaji


Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Diponegoro

ABSTRACT
Telah dilakukan pengukuran konstanta planck dan fungsi kerja logam dengan
eksperimen efek fotolistrik. Perangkat yang digunakan dalam eksperimen ini telah
disusun menjadi sebuah alat yang terpadu yang di dalamnya terdapat sel photo, sumber
cahaya polikromatis, multimeter, dan galvanometer. Dengan memasang filter cahaya
dengan panjang gelombang 5769,89 ; 5460,74 ; dan 4347,50 pada intensitas yang
berbeda, maka akan didapatkan nilai tegangan penghalang (Vs). Data tersebut
kemudian dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi untuk mendapatkan nilai
konstanta planck dan fungsi kerja. Dari hasil pengukuran didapatkan nilai konstanta
planck adalah 3,289 x 134 Js dengan persentase kesalahan ukur 50,36%, sedangkan
fungsi kerja logam adalah 1,204 x 1019J. Selain itu, juga dilakukan pengukuran
panjang gelombang dari filter berbahan plastik mika.Berdasarkan hasil pengukuran
didapatkan bahwa panjang gelombang dari plastik mika berwarna biru, hijau, dan
kuning berturut turut adalah (3030 361,4) nm, (2856 323,7) nm, dan (3708
535,8) nm. Hal ini menunjukkan panjang gelombang plastik mika berwarna kuning
paling tinggi dibandingkan plastik mika berwarna biru dan hijau.

Keyword :Efek fotolistrik, Konstanta Planck, Potensial penghenti


hitam dan mengganti dengan filter
PENDAHULUAN
berpanjang gelombang = 5769,59 ,
= 5460,74 , atau = 4347,50 dan
Pada percobaan ini bertujuan
membaca arusnya. Kemudian kita
untuk menentukan fungsi kerja (work
mengatur
galvanometer
sehingga
function) sel foto (photo cell) dan nilai tetapan
menunjuk angka nol, pada keadaan ini kita
Planck serta energi kinetik maksimum foto
mencatat tegangan dan arus yang
elektron tersebut. Untuk menentukan suatu
ditunjukkan oleh multimeter. Setelah itu,
tujuan tersebut, pertama kali kita menyiapkan
kita mengganti cahaya tersebut dengan
peralatan efek fotolistrik, kemudian sumber
cahaya sedang dan terang dan mencatat
cahaya dinyalakan. Setelah itu, kita mengatur
tegangan dan arus yang ditunjukkan oleh
intensitas cahaya pada lampu dan mengatur
multimeter. Setelah itu, kita membuat
cahaya yang dihalangi oleh filter hitam
grafik dan membuat analisis sebagaimana
sehingga pada saat belum ada cahaya yang
dirumuskan sebagai:
masuk. Kemudian kita mengatur voltmeter

dan amperemeter sehingga menunjuk angka


0 = + .1)
nol. Setelah itu, kita meletakkan penutup

= 0 2)
dengan

= 1,602 1019

dan

2,998 108 /.

DASAR TEORI
1. Teori Dualisme Cahaya
Isaac Newton meyakini bahwa cahaya dibawa
oleh
partikel-partikel
kecil
dan
mempublikasikan teori itu dalam bukunya
berjudul Optiks pada 1704. Ironis memang
karena kita tahu, bahwa Newton sendirilah
juga yang menemukan cincin Newton. Cincin
Newton adalah suatu fenomena yang
disebabkan interferensi cahaya, fenomena
yang
menunjukkan
cahaya
sebagai
gelombang. Selanjutnya semakin banyak
peneliti yang mempunyai rasa ingin tahu akan
cahaya, dan semakin banyak eksperimen yang
terlaksana membuktikan bahwa cahaya punya
sifat partikel, dan juga sifat gelombang.
Melalui percobaan dua celah tipis, Thomas
Young menjelaskan interferensi cahaya
sekaligus menyatakan bahwa cahaya adalah
gelombang. James Clerk Maxwell (18311879) juga mendukung teori itu dengan
menjabarkannya dalam matematika. Maxwell
dengan
apik
menggabungkan
dan
menjelaskan hubungan unik antara 4 hukum
listrik dan kemagnetan yang sebelumnya
diusulkan oleh Karl Gauss (1777-1855),
Andre Ampere (1775-1836), dan Miichael
Faraday (1791-1867). Dengan kejeniusannya
dalam listrik statis, listrik dinamis, dan
kemagnetan, Maxwell menyatukan keempat
hukum itu dalam empat buah persamaan
differensial. Persamaan yang diajukan
Maxwell selalu berjalan simultan atau
bersamaan. Saat menyelesaikan persamaan
itu, diperlukan suatu kondisi agar keempat
persamaan itu tetap terus simultan. Muatan

yang bergetar akan menjadi gelombang


elektromagnetik dan bergerak dengan
kecepatan yang tetap. Maxwell kemudian
menghitung kecepatan gelombang itu, dan
nilainya secara praktis sama dengan
kecepatan cahaya. Suatu kebetulan yang
luar biasa! Dan dengan itu, tidak bisa
disangkal bahwa cahaya pasti bersifat
gelombang.
Pada 1900, Max Planck (18581947) mengusulkan teori yang sama sekali
bertentangan dengan teori cahaya sebagai
gelombang. Dalam menjelaskan spektrum
radiasi elektromagnetik oleh benda hitam
pada suhu tinggi, Planck menemukan teori
baru, teori kuantum. Dia menjelaskan
bahwa muatan listrik yang bergetar hanya
mengeluarkan emisi cahaya dalam tingkat
energi tertentu. Tingkat energi ini dihitung
dalam unit kuanta hf, h adalah konstanta
universal Planck, dan f adalah frekuensi
getaran muatan listrik tersebut.
Tahun
1905,
Albert
Einstein
mengembangkan ide mengenai cahaya.
Cahaya sendiri memancarkan energi
dalam satuan kuanta. Tiap foton membawa
satu kuanta energi hf, dan artinya cahaya
memiliki sifat partikel.
2. Pengantar Efek fotolistrik
Efek fotolistrik adalah peristiwa
terlepasnya elektron dari permukaan suatu zat
(logam), bila permukaan logam tersebut
disinari cahaya (foton) yang memiliki energi
lebih besar dari energi ambang (fungsi kerja)
logam. Atau dapat di artikan sebagai
munculnya arus listrik atau lepasnya elektron
yang bermuatan negatif dari permukaan
sebuah logam akibat permukaan logam
tersebut disinari dengan berkas cahaya yang
mempunyai panjang gelombang atau frekuensi
tertentu. Istilah lama untuk efek fotolistrik

adalah efek Hertz (yang saat ini tidak digunakan


lagi)[1]

Gambar.1 Prinsip efek fotolistrik.


Efek fotolistrik ini ditemukan oleh Albert
Einstein, yang menganggap bahwa cahaya (foton)
yang mengenai logam bersifat sebagai partikel.

Untuk melepaskan elektron dari suatu logam


diperlukan sejumlah tenaga minimal yang
besarnya tergantung pada jenis / sifat logam
tersebut.
Tenaga minimal ini disebut work
function atau fungsi kerja dari logam, dan
dilambangkan oleh W. Keperluan tenaga
tersebut disebabkan elektron terikat oleh
logamnya.
Tenaga gelombang elektromagnetik
foton yang terkuantisasi, besarnya adalah
Ef = h . (3)
dimana adalah frekuensi gelombang
elektromagnetik dan h adalah tetapan Planck,
bila dikenakan pada suatu logam dengan
fungsi kerja , dimana h > , maka
elektron dapat terlepas dari logam. Bila tenaga
foton tepat sama dengan fungsi kerja logam
yang dikenainya, frekuensi sebesar frekuensi
foton tersebut disebut frekuensi ambang dari
logam, yaitu
o =

(4)

Sehingga dapat dikatakan bila frekuensi


foton lebih kecil daripada frekuensi ambang

logam, maka tidak akan terjadi pelepasan


elektron dan jika lebih besar frekuensi
foton
terhadap
frekuensi
ambang
logamnya maka akan terjadi pelepasan
elektron, yang biasa disebut efek foto
listrik atau gejala foto listrik.
Elektron yang lepas dari logam karena
dikenai foton, akibat efek foto listrik ini,
disebut foto elektron, yang mempunyai
tenaga kinetik sebesar
Ek = h - ...............................(5)
Sistem peralatan untuk mempelajari efek
foto listrik ditujukan pada gambar 1.
Dua elektroda dalam tabung hampa,
dimana salah satunya adalah logam yang
disinari (sebuat sel foto). Antara kedua
elektroda diberi beda potensial sebesar V
dengan baterai E1 dan E2, yang nilainya
dapat divariasi dari V = - E1 sampai
dengan V = + E2 dengan suatu
potensiometer. Arus foto elektron (Ie)
dapat diukur dengan mikro meter atau
Gavanometer.
Untuk suatu nilai > o dengan intensitas
tertentu, dapat diamati Ie sebagai V.
Ie akan mencapai nilai nol bila V
diturunkan mencapai nilai tertentu, V =
Vg (tegangan penghenti/ stopping
voltage), yang memenuhi persamaan
Tetapan Planck apabila sudah di ketahui
potensial penghentinya maka dapat di uji
dengan persamaan :
=
+

= ....6)

Dengan

= = 7)

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Alat Percobaan
Foto-cell
Lampu kalium
Cermin
Travo universal
Multimeter
Instrumen kumparan putar

Telah dilakukan percobaan efek fotolistrik

Cara Kerja
Merangkai Semua Komponen
Menyalakan Sumberdaya
Mengukur lampu polikromatis dari
lampu kalium
Meengukur arus saat V=0, ,mengukur
tahanan geser dari i kiloohm sampai
I=0 dan mencatat tegangan
Mengulangi untuk berbagai spektrum
warna yang dihasilkan lampu kalium

kuning,nila,dan ungu) dengan pengvarian

Skema Alat

dengan tujuan untuk memahami dualism


cahaya dan menentukan besar gaya
kuantum plank (h) dengan fotoefek dalam
percobaan
cahaya

ini

menggunakan

variasi

monokromatis (merah, jingga,

tersebut mempengaruhi nilai tegangan dan


arus yang terukur. Pada percobaan ini
menggunakan

sumber

cahaya

polikromatis yaitu pada lampu kalium.


Proses fisis pada percobaan ini
yaitu sumber tegangan mengakibatkan
elektron bergerak menuju kalium ,pada
lampu kalium elektron menyebabkan
eksitasi kawat kalium yang terdapat pada
lampu bertumbukan dengan gas mulia (
biasanya Argon). Sehingga atom argon
mengalami eksitasi dan deeksitasi dalam
proses deeksitasi atom Ar melepaskan
energy berupa foto efek. Kemudian
cahaya yang ditimbulkan oleh lampu
kalium menuju geseran dan menuju lensa

Gambar 2. Skema Alat


1. Lampu kalium dengan tegangan tinggi
2. Geseran
3. Lensa pengumpul
4. celah
5. Lensa penggambar
6. Prisma pandang lurus
7. Cermin
8. tabung elektroda
9. logam
10. Jendela dan tingkap geser

pengumpul sehingga cahaya menjadi


focus lalu menuju lensa penggambar
sehingga lebih terfokuskan, Cahaya yang
telah focus kemudian menuju prisma dan
terjadi proses disperse cahaya, cahaya dari
lampu kalium yang bersifat polikromatis
diuraikan menjadi cahaya monokromatis,
cahaya monokromatis dibelokkan oleh
cermin sehingga menuju tabung elektroda

Cahaya monokromatis mengenai katoda

analog yang memiliki tingkat ketelitian

apabila frekuensi cahaya melebihi frekuensi

yang rendah.

ambang batas logam katoda maka terjadi

Dari hasil percobaan yang telah

terjadi pelepasan elektron dalam bentuk

dilakukan

energy kinetic yang dapat diketahui dengan

fotolistrik dapat dijelaskan melalui data

timbulnya

yang

arus

yang

terukur

oleh

telah

praktikan.Peristiwaefek

diperoleh

dimana

hasil

amperemeter dan untuk menghentikan laju

percobaan E> dimana energy tergantung

elektron maka digunakan potensial penghenti

pada

yang akan terukur oleh volt meter

menjadi syarat terlepasnya elektron dari

Percobaan efek fotolistrik menggunakan

permukaan logam,jadi percobaan yang

variasi

telah dilakukan praktikan membuktikan

frekuensi

cahaya

monokromatis

dalam percobaan ini dapat terlihat 6 macam


cahaya

monokromatis

tertentu.inilah

yang

terjadinya efek fotolistrik.

merah

Dalam perhitungan nilai konstanta

jingga,kuning, hijau, nila, ungu. Dengan

plank dan nilai W dihitung dengan

menggeser cermin pemantul maka cahaya

menggunakan persamaan h.e v/f

monokromatis yang menuju tabung elektroda

W=hf/ev dari hasil percobaan nilai W dan

dapat

memudahkan

h didapatkan dengan mencari nilai rata-

pengamatan. Pada percobaan ini praktikan

rata dari h dan W yang dihasilkan oleh

mengukur arus pada amperemeter dengan

masing-masing cahaya monokromatis .

mengatur V=0 dan mengukur tegangan

Didapatkan nilai h=0.01392.10-34 j.s dan

dengan mengatur I=0 dari hambatan 1 kilo

W=

ohm

perhitungan grafik didapat nilai h=0.0304.

diatur

yaitu

frekuensi

sehingga

pada

masing-masing

cahaya

13.068.1023

dan

Berdasarkan

10-34 hal ini menunjukkan nilai h dari

monokromatis diulang 3 kali.


Pada percobaan ini didapat nilai

hasil percoban jauh dari nilai h literature

yaitu

yaitu 6.62 10-34 j.s hal ini dikarenakan alat

merah=jingga=kuning=hijau=0.005 v dan

yang digunakan sudah tidak standart dan

nila=ungu=0.01 v dan nilai nilai arus untuk

dalam

tegangan

V=0

untuk

semuanya

sebesar

I=0

10-10 A.Tidak

melakukan

praktikum

efek

fotolistrik, praktikan kesulitan melakukan

terlihatnya perbedaan yang signifikan baik

percobaan

arus maupun tegangan untuk setiap cahaya

dilakukan diruang gelap maka untuk

monokromatis dikarenakan ampermeter dan

melihat hasil pengukuran tegangan dan

voltmeter yang digunakan merupakan jenis

kuat

arus

karena

percobaan

menggunakan

harus

multimeter.

Praktikan mengalami kesulitan dalam

menentukan nilai yang ditunjuk oleh jarum


yang

ditunjuk

oleh

jarum

multimeter

tersebut, dan juga pada saat praktikan


menghubungkan multimeter tersebut pada sel
foto jarum petunjuk pada multimeter tersebut
tidak

stabil

sehingga

harus

dilakukan

percobaan beberapa kali untuk mendapatkan


nilai tegangan dan arus yang pasti.
KESIMPULAN
Kesimpulan
1. Dalam percobaan ini dapat digunakan
untuk menjelaskan dualisme cahaya
yaitu terjadinya persitiwa dispersi
yang menjelaskan cahaya sebagai
gelombang

dan

peristiwa

efek

fotolistrik yang menjelaskan cahaya


sebagai partikel
2. Dari percobaan didapatkan besar gaya
kuantum plank (h) yaitu sebesar
0.0139 x 10-34 melalui perhitungan
dan 0.0304 x 10-34 J.s melalui grafik
slope
Saran
Dalam melakukan pengukuran arus dan
tegangan sebaiknya digunakan multimeter
digital yang memiliki tingkat ketelitian lebih
tiggi
DAFTAR PUSTAKA
[1]

Beiser, Arthur. 2004. Konsep Fisika


Modern. Edisi keempat. Jakarta :
Erlangga. Hal : 441-442, 472-473

[2]

Nelkon, M. 2000. Principles Of Atomic


Physics And Electronics. Fifth Edition.
London : Heinemann Educational
Books. Pages : 34-47
[3] Solihin, Abdus. 2010. Eksperimen Efek
fotolistrik Laporan Eksperimen Fisika
II.
Jember
:
Laboraturium
Optoelektronika dan Fisika Modern
Jurusan Fisika Universitas Negeri
Jember.
[4] Tippler, P.A. 1991. Fisika Untuk Sains
dan Teknik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
[5] Wheeler, Gerald. F. 1997. Physics
Building A World View. USA :
Prentice-Hall, Inc. Pages : 398-399,
468-473

Anda mungkin juga menyukai