Anda di halaman 1dari 26

1

I.

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Pemisahan bahan dalam suatu proses industri pengolahan bahan merupakan metode yang
umum digunakan. Pemisahan bahan ini dimanfaatkan untuk memperoleh bahan dengan
fraksi atau bentuk dan ukuran yang diinginkan. Adapun metode umum pemisahan bahan
yaitu pemisahan dengan cara mekanis dan pemisahan baha dengan cara kontak
keseimbangan bahan. Perbedaan keduanya adalah pada ada tidaknya perubahan fasa bahan
setelah dipisahkan. Pemisahan dengan metode mekanis merupakan pemisahan bahan
dengan tetap mempertahankan fasa bahan atau tidak mengalami perubahan fasa bahan,
sedangkan pemisahan bahan dengan kontak keseimbangan bahan dapat mengubah fasa
bahan yang dipisahkan dari fasa awalnya.

Dalam industri, pemisahan bahan merupakan metode yang umum digunakan untuk
memperoleh bahan dengan ukuran atau fasa yang diinginkan. Menurut Idrial (1987)
pelaksanaan pemisahan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa gaya yaitu
gaya gravitasi, gaya sentrifugal, dan gaya kinetic yang timbul dari aliran.
Pemisahan bahan secara mekanis yaitu pengendapan, pengayakan, penyaringan (filtrasi),
dan ekstraksi. Sedangkan pemisahan dengan kontak keseimbangan bahan meliputi
penguapan, distilasi, adsorbsi, koagulasi, kristalisasi, dan sentrifugasi.

Pemisahan mekanik yang pertama adalah pengayakan. Pengayakan adalah metode


pemisahan bahan berdasarkan ukuran dengan menggunakan gaya gravitasi dan getaran.
Ayakan dapat berbahan logam, pelat logam berlubang, kain, dll. Ukuran lubang ayakan ini
berkisar antara 4 in sampai 400 mesh. Contoh pengayakan adalah pemisahan ukuran bahan
pati dengan vibrating screen. Penggunaan ukuran ayakan ini tergantung dari ukuran bahan
yang akan diayak (Idrial, 1987). Filtrasi adalah metode pemisahan untuk memisahkan zat
padat dari cairannya dengan menggunakan alat berpori (penyaring). Dasar pemisahan ini
adalah dengan perbedaan ukuran partikel antara pelarut dan zat terlarutnya. Penyaring akan
menahan zat padat denga ukuran yang lebih besar dari pori saringan. Proses ini dilakukan
dengan bahan yang berbentuk larutan cair. Hasil penyaringan disebut filtrate dan zat yang
tertahan disebut residu. Contoh filtrasi adalah untuk membersihkan sirup dari kotoran yang
ada pada gula. Contoh alat filtrasi adalah filter press (Rahayu, 2009).

Dewasa ini tantangan dalam dunia industri maupun perdagangan sedemikian pesat. Hal ini
menuntut adanya strategi efektif dalam mengembangkan industri, sehingga dapat bersaing
dengan negara-negara lain yang lebih maju. Pembangunan terfokus pada pemenuhan
kebutuhan saat ini tanpa mengesampingkan kebutuhan mendatang yang mana hal ini
dikaitkan dengan kelestarian dan kesehatan lingkungan alam.

Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan salah satunya adalah limbah cair berasal
dari kegiatan industri. Limbah cair yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan
dampak yang luar biasa pada perairan, khususnya sumber daya air. Kelangkaan air di masa
mendatang dan bencana alam semisal erosi, banjir dan kepunahan ekosistem perairan tidak
bisa dihindarkan lagi, itu dapat terjadi apabila kita kaum akademisi tidak peduli terhadap
permasalahan tersebut.

Alam memiliki kemampuan dalam menetralisir pencemaran yang terjadi apabila jumlahnya
kecil, akan tetapi apabila dalam jumlah yang besar akan dapat menimbulkan dampak
negatif terhadap alam karena dapat mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan
lingkungan sehingga limbah tersebut dikatakan telah mencemari lingkungan. Hal ini dapat
dicegah dengan mengolah limbah yang dihasilkan industri sebelum dibuang ke badan
sungai. Limbah yang dibuang ke sungai harus memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan,
karena sungai merupakan salah satu sumber air bersih bagi masyarakat, sehingga
diharapkan tidak tercemar dan bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Untuk mengatasi masalah yang terangkum diatas, maka dibuatlah makalah ini. Pada
makalah ini, kita akan membahas bagaimana cara pengolahan air limbah menjadi air bersih.
Dimana seperti kita ketahui, proses pemisahan air limbah menjadi air bersih ini adalah salah
satu aplikasi dari proses Sedimentasi. Pada makalah ini kita akan membahas, bagaimana
proses Sedimentasi tersebut sebagai Proses Pemisahan Secara Fisik.

I.2 Perumusan Masalah


Pengolahan air limbah tanpa melibatkan bahan kimia atau tanpa terjadi reaksi kimia.
Pengolahan air limbah secara fisik meliputi screening, sedimentasi, filtrasi, floatasi,
adsorpsi dan evaporasi. Dalam proses pemisahan dengan menggunakan sedimentasi yang
bertujuan untuk menyisihkan padatan yang berukuran kecil dan mudah mengendap dalam
waktu yang relatif pendek. Padatan dapat mengendap dengan mudah jika berat jenis
padatan jauh lebih besar dibanding berat jenis air. Proses sedimentasi dioperasikan saat
awal pengolahan air limbah setelah proses kimia maupun dapat dioperasikan setelah proses
biologi. Di dalam proses sedimentasi waktu pengendapan berpengaruh terhadap kualitas
air. Dalam makalah ini proses pengolahan air limbah yang terjadi pada industri.

1.3 Tujuan Penulisan


Melalui isi makalah ini di harapkan pembaca mengetahui tentang :
1. Mengetahui tentang limbah cair berupa air limbah, yang meliputi parameter air
limbah, dampak negatif air limbah.
2. Mengetahui jenis-jenis pengolahan air limbah industri yang meliputi pengolahan
secara fisik, kimia dan biologi.
3. Mengetahui proses sedimentasi dalam pengolahan air limbah industri.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemisahan Campuran Heterogen


Campuran heterogen adalah campuran yang tidak serba sama, membentuk dua fasa atau
lebih dan terdapat batas yang jelas diantara fasa-fasa. Contohnya : Campuran tepung beras
dengan air, campuran kapur dengan pasir,dll Adapun tiga proses pemisahan campuran
heterogen, yaitu :
1. Sedimentasi
2.

Sentrifugasi

3.

Filtrasi

4. Flotasi

2.2 Limbah
Limbah adalah sisa dari suatu usaha atau kegiatan. Limbah berbahaya dan beracun adalah
sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena
sifat, konsentrasi, dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan, merusak lingkungan hidup, atau membahayakan lingkungan hidup manusia
serta makhluk hidup (Suharto, 2010).

Limbah cair adalah bahan-bahan pencemar berbentuk cair. Air limbah adalah air yang
membawa sampah (limbah) dari rumah tinggal, bisnis, dan industri yaitu campuran air dan
padatan terlarut atau tersuspensi dapat juga merupakan air buangan dari hasil proses yang
dibuang ke dalam lingkungan. Berdasarkan sifat fisiknya limbah dapat dikategorikan atas
limbah padat, cair, dan gas.

Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan.
Berbagai teknik pengolahan air limbah untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba
dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga metode pengolahan, yaitu
pengolahan secara fisika, pengolahan secara kimia, dan pengolahan secara biologi
(Suharto, 2010).

2.3 Karakteristik dan Parameter Air Limbah


Air limbah memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang dapat dikelompokan menjadi 3
bagian, yaitu :

2.3.1

Ciri-ciri fisik
Ciri-ciri fisik utama air limbah adalah kandungan bahan padat, warna, bau dan
suhunya.

2.3.1.1 Bahan padat


Air yang terpolusi selalu mengandung padatan yang dapat dibedakan atas
empat kelompok berdasarkan besar partikelnya dan sifat-sifat lainnya
(Fardiaz, 1992). Empat kelompok tersebut yaitu:
1. Padatan terendap (sedimen)
2. Padatan tersuspensi dan koloid
3. Padatan terlarut
4. Minyak dan lemak

2.3.1.2 Warna
Warna adalah ciri kualitatif yang dapat dipakai untuk mengkaji kondisi
umum air limbah. Air buangan industri serta bangkai benda organis yang
menentukan warna air limbah itu sendiri (Sugiharto, 1987).

2.3.1.3 Bau
Pembusukan air limbah adalah merupakan sumber dari bau air limbah
(Sugiharto, 1987). Hal ini disebabkan karena adanya zat organik terurai
secara tidak sempurna dalam air limbah ( Yazied, 2009).
2.3.1.4 Suhu
Suhu air limbah biasanya lebih tinggi daripada air bersih, karena adanya
Tambahan air hangat dari perkotaan (Tchobanoglous, 1991).

2.3.2 Ciri-ciri kimiawi


Air limbah tentunya mengandung berbagai macam zat kimia. Bahan organik pada
air limbah dapat menghabiskan oksigen serta akan menimbulkan rasa dan bau yang
tidak sedap pada penyediaan air bersih (Sugiharto, 1987). Pengujian kimia yang
utama adalah yang bersangkutan dengan amonia bebas, nitrogen organik, nitrit,
nitrat, fosfor organik dan fosfor anorganik (Tchobanoglous, 1991).

2.3.3 Ciri-ciri biologis


Pemeriksaan biologis di dalam air limbah untuk memisahkan apakah ada bakteribakteri pathogen berada di dalam air limbah (Sugiharto, 1987). Berbagai jenis
bakteri yang terdapat di dalam air limbah sangat berbahaya karena menyebabkan
penyakit. Kebanyakan bakteri yang terdapat dalam air limbah merupakan bantuan
yang

sangat

penting

bagi

proses

pembusukan

bahan

organik

(Tchobanoglous,1991).

2.4 Dampak Negatif Air Limbah


Pengelolaan air limbah yang tidak baik akan dapat berakibat buruk terhadap
lingkungan dan kesehatan masyarakat. Beberapa akibat buruk yang ditimbulkan
adalah :

2.4.1 Akibat Terhadap Lingkungan


Air limbah antara lain mempunyai sifat fisik, kimiawi dan biologi yang dapat
menjadi sumber pengotoran, sehingga bila tidak dikelola dengan baik akan dapat
menimbulkan pencemaran terhadap air permukaan, tanah atau lingkungan hidup
lainnya. Disamping itu kadang-kadang dapat menimbulkan bau yang tidak enak
serta pemandangan yang tidak menyenangkan.

2.4.2 Akibat Terhadap Kesehatan Masyarakat


Lingkungan yang tidak sehat akibat tercemar air limbah dapat menyebabkan
gangguan terhadap kesehatan masyarakat. Air limbah dapat menjadi media
tempat berkembang biaknya mikroorganisme patogen, larva nyamuk ataupun
serangga lainnya yang dapat menjadi media transmisi penyakit, terutama
penyakit-penyakit yang penularannya melalui air yang tercemar seperti kholera,
typhus abdominalis, dysentri baciler, dan sebagainya.

2.4.3 Akibat Terhadap Sosial-Ekonomi


Lingkungan hidup manusia sangat mempengaruhi bukan hanya kesehatan fisik
saja, tetapi juga kesehatan mental dan sosial dan manusia terhadap tersebut.
Keadaan lingkungan yang buruk menyebabkan perasaan yang tidak nyaman dan
tidak menyenangkan.

Sebagai akibatnya, kesehatan manusia terganggu dan menjadi kurang produktif.


Sedangkan perkembangan masyarakat tergantung dari tenaga kerja yang
produktif. Kalau dalam masyarakat selalu terjadi penyakit akibat pengaruh buruk
lingkungan, maka hal ini akan mempengaruhi kemampuan kerja dan juga
mempengaruhi keadaan sosial ekonominya.

2.5 Jenis-Jenis Proses Pengolahan Limbah Cair

2.5.1 Proses Pengolahan Limbah Cair Secara Fisik


Pengolahan secara fisika (physical treatment) melibatkan beberapa proses
fisika, yaitu :

2.5.1.1 Saringan Bar (Bar Screen)


Saringan bar berfungsi untuk menahan dan menyaring bendabenda keras
dan besar seperti ranting kayu, potongan kayu, dan sampah serta
mencegah rusaknya saringan berikutnya.

2.5.1.2 Saringan Pasir dan Kerikil


Saringan pasir dan kerikil digunakan untuk mencegah limbah cair dan
kerikil agar tidak mengganggu dan merusak bak penampung dan pompa
limbah cair.

2.5.1.3 Ekualisasi
Proses ekualisasi berfungsi untuk meminimumkan dan mengendalikan
fluktuasi aliran limbah cair baik kuantitas maupun kualitas yang berbeda
dan menghomogenkan konsentrasi limbah cair dalam bak ekualisasi.
Proses pencampuran dan aerasi diperlukan pada proses ekualisasi untuk
menghindari kondisi septik. Tujuan ekualisasi adalah :

Mengendalikan aliran limbah cair agar tidak terjadi aliran


bergelombang

Menghomogenkan senyawa organik dalam limbah cair agar tidak


terjadi fluktuasi.

Menyeragamkan nilai pH sekitar 6,508,50.

Ketepatan memasok limbah cair secara kontinyu untuk proses


berikutnya.

Ketepatan mengalirkan olahan limbah cair secara kontinyu ke


badan air.

Mengendalikan beban toksisitas yang tinggi.

Menurunkan nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) limbah


cair.

2.5.1.4 Sedimentasi
Sedimentasi merupakan peristiwa turunya partikel-partikel padat yang
semula tersebar merata dalam cairan karena adanya gaya berat, setelah
terjadi pengendapan cairan jernih dapat dipisahkan dari zat padat yang
menumpuk di dasar atau biasa disebut dengan pengendapan. Selama
proses ini berlangsung, terdapat tiga gaya yang berpengaruh :

2.5.4.1 Gaya Gravitasi


Gaya ini bisa dilihat pada saat terjadi endapan atau mulai turunya
pertikel padatan menuju kedasar tabung untuk membentuk
endapan. Hal ini terjadi karena massa jenis partikel padatan lebih
besar dari massa jenis fluida.

Fg = m . g ............(1)

2.5.4.2 Gaya Apung


Gaya apung terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari
massa jenis fluida. Sehingga partikel padatan berada pada
permukaan cairan,

Fa = m. . g ........................(2)
p
2.5.4.3 Gaya Dorong
Gaya dorong terjadi pada saat larutan dipompakan ke dalam
tabung klarifier. Larutan ini akan terdorong pada ketinggian
tertentu. Gaya dorong dapat juga kita lihat pada saat mulai
turunya partikel padatan karena adanya gaya Gravitsi, maka
fluida akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan
berat padatan itu sendiri. Gaya inilah yang disebut gaya
dorong dan juga gaya yang memiliki arah yang berlawanan
dengan gaya gravitasi.
Fd = Ap.V2. Cd. ............................(3)
2
2.5.1.5 Filtrasi
Filtrasi yang digunakan untuk pemisahan senyawa kimia padat dan cair
dimana cairan melewati media porous untuk memindahkan padatan
tersuspensi halus. Media filtrasi porous digunakan untuk memisahkan
padat-cair dengan menggunakan prinsip gravitasi sehingga padatan
tersuspensi dipisahkan. Media filtrasi dibedakan menurut media filtrasi
tunggal, misal pasir, media filtrasi ganda, misal pasir dan antrasit, dan
media filtrasi multi pasir, antrasit, dan garnet.

2.5.1.6 Flotasi
Flotasi digunakan proses daya apung untuk memisahkan partikel padatan
tersuspensi dari limbah cair dan pemisahan lemak, pelumas dari industri
olahan susu sapi/kerbau dan juga untuk memisahkan partikel padat rendah
densitas. Pada industri roti, olahan ikan, dan industri olahan unggas
khususnya ayam, pemisahan protein dan lemak dilakukan dengan
menggunakan metode flotasi. Pemisahan lemak dan pelumas dari limbah

10

cair dilakukan dengan menggunakan bak flotasi dimana di dasar bak flotasi
dialiri udara pada tekanan rendah atau dengan menggunakan kompresor.
Pada tekanan rendah, maka nitrogen dan oksigen lebih mudah larut jika
dibandingkan dengan tekanan atmosfir. Gelembung udara yang timbul
dalam limbah cair mengangkat lemak dan pelumas ke atas permukaan bak
flotasi sehingga lemak dan pelumas di permukaan limbah cair dapat
dipisahkan dengan menggunakan garpu pemisah.

Jenis-jenis metode flotasi dibagi menjadi beberapa metode, yaitu:


Flotasi dengan prinsip gravitasi. Flotasi gravitasi digunakan pada
limbah cair dari bengkel kendaraan mobil, kereta api, pesawat
terbang, dan kapal laut. Kecepatan aliran limbah cair sekitar 4
sampai 6 m/jam dan waktu tinggal hidraulik 30 menit.

Flotasi dengan prinsip vacuum. Flotasi vacuum banyak digunakan


pada limbah cair dari industri olahan buah-buahan dan sayuran.

Flotasi dengan prinsip elektro. Flotasi elektro digunakan elektroda


ditempatkan

di

dasar

bak

sehingga

mengahasilkan

gelembunggelembung sangat halus jika limbah cair di bak


dielektrolisis oleh arus searah. Gelembung oksigen timbul pada
anode naik ke atas dan mengangkat lemak, minyak dan pelumas
selanjutnya terbentuk busa di permukaan bak dan dipisahkan.

Flotasi udara. Flotasi udara (air flotation) digunakan untuk


memisahkan

padatan

tersuspensi

dan

sebagai

alternatif

sedimentasi, mengentalkan suspensi lumpur senyawa kimia


organik. Di samping flotasi tersebut di atas, dikenal pula flotasi
elektro yang diikuti dengan dissosiasi air oleh listrik dalam tangki
terbuka. Lumpur yang terbentuk pada perlakuan primer ini akan
digabung dengan lumpur sekunder. Pemindahan senyawa organik
yang terbiodegrasi dengan metode sedimentasi merupakan metode
yang murah dibandingkan dengan metode aerasi dalam bak aerasi.

11

2.5.2 Proses Pengolahan Limbah Cair Secara Kimia


2.5.2.1 Netralisasi dengan Asam atau Basa
Limbah cair dari industri pada umumnya bersifat alkali atau asam sehingga
diperlukan proses kimia netralisasi limbah cair. Limbah cair yang bersifat
basa, maka proses netralisasi dilakukan dengan penambahan HCl, atau asam
sulfat, atau gas CO2 sehingga dicapai nilai pH antara 6,50-8,50.
Jika gas karbondioksida tidak tersedia, maka netralisasi dilakukan dengan
menggunakan asam sulfat karena harganya jauh lebih murah jika
dibandingkan dengan asam asam khlorida. Reaksi kimia netralisasi
berlangsung cepat, diperlukan pengadukan, dilengkapi dengan sensor nilai
pH, dan alat pengendali penambahan asam.
Limbah cair yang bersifat asam dinetralkan dengan penambahan bahan kimia
air kapur atau Ca(OH)2, kostik soda atau NaOH, soda abu atau Na2CO3.

2.5.2.2 Koagulasi dan Flokulasi


Koagulasi adalah proses destabilisasi partikel senyawa koloid dalam limbah
cair. Proses pengendapan dengan menambahkan bahan koagulan ke dalam
limbah cair sehingga terjadi endapan pada dasar tangki pengendapan.
Flokulasi adalah proses pengendapan pencemar dalam limbah cair dengan
penambahan bahan koagulan utama dan koagulan pendukung sehingga terjadi
gumpalan sebelum mencapai dasar tangki pengendap. Flokulasi dikenal pula
sebagai pencampuran (mixing), namun kecepatan pencampuran sangat
lambat, dan tangki flokulasi dilengkapi dengan pengaduk bentuk pedal, dan
baffle atau sirip di dinding tangki flokulasi. Limbah cair yang diberi koagulan
dengan dosis tertentu diaduk dalam tangki flokulasi kemudian pengaduk
dimatikan dan didiamkan, maka akan terbentuk endapan di bagian bawah.
Nilai pH untuk koagulasi harus diperhatikan, misal garam-garam besi bekerja
pada nilai pH antara 4,50 sampai 5,50. Sebaliknya, garam alumunium bekerja
pada nilai pH antara 5,50 sampai 6,30. Limbah cair pada perlakuan primer
terdiri atas senyawa organik dalam bentuk suspensi dan senyawa organik
terlarut kemudian mengalir masuk ke dalam tangki sedimentasi dan

12

didiamkan selama 2 sampai 3 jam sehingga terbentuk air limbah relatif bersih
dengan campuran padatan dan limbah cair atau lumpur primer (primary
sludge).

2.5.2.3 Adsorpsi
Proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben digunakan untuk memisahkan
senyawa pencemar dalam limbah cair. Proses adsorpsi adalah kumpulan
senyawa kimia dipermukaan adsorben, padat sebaliknya absorpsi adalah
penetrasi kumpulan senyawa kimia ke dalam senyawa padat. Jika kedua
peristiwa terjadi simultan maka peristiwa ini disebut sorpsi. Karbon aktif
digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan kontaminan. Karbon aktif
terbuat dari kayu, batu bara, lignit, tempurung kepala, dan tulang ternak serta
limbah sayuran kemudian dipanaskan tanpa adanya oksigen sehingga
terbentuk arang utuh.

2.5.2.4 Dialisis
Proses membran adalah proses pemisahan senyawa dari larutan yang berisi
senyawa dengan menggunakan membran permiabel selektif. Proses membran
terdiri

atas

proses

dialisis,

elektrodialisis,

dan

reverse

osmosis. Dialisis adalah proses pemisahan solute dari berbagai ionik atau
ukuran molekul dalam larutan oleh membran permiabel selektif.

2.5.2.5 Perpindahan Oksigen dan Campuran


Pada perlakuan lumpur aktif, lagon teraerasi, dan proses digesi diperlukan
adanya oksigen dalam proses aerobik dan proses pencampuran dengan hasil
padatan tersuspensi. Perpindahan oksigen dan proses pencampuran dilakukan
dengan aerasi dari alat kompresor. Sistem aerobik menggunakan bak terbuka
yang berisi limbah cair kemudian dipasok oksigen dalam udara untuk proses
metabolisme sehingga mampu mendegradasi senyawa organik dalam limbah
cair dengan nilai BOD yang tidak terlalu tinggi.

13

2.5.2.6 Ozonisasi
Pendekatan bioteknologi ramah lingkungan terhadap limbah pestisida dan
limbah senyawa organik lainnya merupakan pendekatan yang sangat
dianjurkan untuk diterapkan meskipun proses ozonisasi lebih lama jika
dibandingkan dengan proses kimia. Ozonisasi adalah salah satu pendekatan
proses kimia untuk mendegradasi limbah pestisida dalam limbah cair dan
limbah senyawa organik meskipun limbah pestisida merupakan residu yang
permanen. Residu pestisida organofosfor sangat sensitif terhadap ozonisasi
misalnya

parathion,

malathion,

fosalon,

dimefox, dan lain-lain. Tujuan ozonisasi adalah mengeliminasi bakteri


patogen dalam air maupun limbah cair.

2.5.2.7 Khlorin Dioksida


Metode penambahan khlorin ke limbah cair untuk mengoksidasi senyawa
ammonia menjadi gas nitrogen dipengaruhi oleh: waktu kontak reaksi, suhu
reaksi, dan nilai pH reaksi. Kerugian dengan melakukan metode ini adalah :

Diperlukan sistem pengendalian nilai pH.

Diperlukan biaya operasi mahal karena jumlah larutan NaOH dan


khlorin cukup besar dan mahal serta merupakan bahan berbahaya dan
beracun (B-3).

Diperlukan dekhlorinasi.

Adanya senyawa karsinogen hidrokarbon terkhlorinasi.

Sangat peka terhadap perubahan suhu untuk menghilangkan senyawa


ammonia-nitrogen sampai konsentrasi 0,10 mg/L.

2.5.2.8 Penghilangan Ammonia


Ammonia dihasilkan oleh dekomposisi senyawa organik terdapat dalam
limbah cair yang harus dihilangkan sebab ammonia bersifat toksik atau
beracun terhadap kehidupan ikan air tawar jika konsentrasi ammonia dalam
air lebih dari 3 mg/L dan senyawa ammonia akan dioksidasi oleh mikroba
menjadi nitrat dengan menggunakan oksigen.

14

2.5.3 Proses Pengolahan Limbah Cair Secara Biologi


2.5.3.1 Perlakuan Lumpur Aktif
Lumpur aktif adalah kumpulan mikroba yang masih aktif berupa gumpalan
lumpur atau menyerupai lumpur, maka disebut lumpur aktif. Aliran limbah
cair (Q) dicampur dengan aliran lumpur (R) kemudian campuran ini dengan
kadar antara 2000 mg/L sampai 4000 mg/L masuk ke dalam bioreaktor. Dalam
bioreaktor lumpur aktif mengadsorpsi senyawa organik padat tersuspensi
selama waktu antara 20 sampai 40 menit. Rasio laju recycle / bergantung
pada konsentrasi padatan tersuspensi cairan campuran.

2.5.3.2 Trickling Filter


Istilah trickling filter bukan filter dikenal, namun trickling filter terbuat dari
bak beton bentuk silinder berisi batu kecil atau kepingan plastik. Trickling
filter atau perlokasi berbentuk silinder atau empat persegi panjang dengan
dinding baja untuk menyimpan kerikil, batu, kepingan plastik atau batu kapur.
Diameter trickling filter sangat bervariasi mulai dari 1 m sampai 50 m.

2.5.3.4 Proses Aerobik


Perlakuan

aerobik

limbah

cair

bertujuan

untuk

melarutkan

dan

menggumpalkan senyawa organik menjadi produk baru seperti CO2, NH3,


radikal anorganik seperti SO4, PO4-3, dan mikroba baru. Bakteri dalam
jumlah besar dalam bioreaktor digunakan untuk mengkonversi limbah cair
yang berisi senyawa organik dan anorganik beracun. Masing-masing spesies
mikroba tidak diketahui dan tiadanya pembibitan (seeding) yang diperlukan.

2.5.3.5 Proses Anaerobik


Limbah industri khususnya lumpur primer dinyatakan dalam wujud limbah
organik yang mudah busuk dan berpotensi menimbulkan mikroba patogen.
Pada pengolahan limbah lumpur berupa senyawa kimia organik dengan proses
anaerobik oleh berbagai macam mikroba yang dibantu oleh nutrien menjadi
produk gas bio. Keuntungan perlakuan anaerobik diantaranya adalah reduksi
limbah, stabilisasi, perbaikan drainase, dan matinya mikroba patogen.

15

Manfaat proses anaerobik ialah prosesnya murah dengan inokulum yang


diperoleh dari kotoran sapi/kerbau dan sekaligus mereduksi nilai BOD.
Perlakuan anaerobik sangat baik untuk limbah cair dengan nilai BOD tinggi
namun biodegradasi tidak sempurna, karena itu limbah cair yang keluar dari
bak anaerobik perlu diproses lebih lanjut. Pada umumnya, waktu tinggal di
bak anaerobik adalah sekitar 14 hari, namun semuanya tergantung pada jenis
limbah organik yang akan diproses.

2.5.3.6 Nitrifikasi dan Denitrifikasi


Pada senyawa kimia, nitrogen dan fosfor adalah kunci penyebab pencemar
dalam

limbah

cair.

Proses

denitrifikasi

terjadi

karena

terdapat

Pseudomonas denitrificans. Metode penghilangan senyawa nitrogen dapat


dilakukan dengan perlakuan kolam stabilisasi. Kolam stabilisasi merupakan
metode murah, namun efisiensi penghilangan nitrogen terbatas. Proses ini
berlangsung secara alami dengan menggunakan simbiosis bakteri dan
ganggang nitrogen dipindahkan dalam bentuk biomassa. Semakin tinggi kadar
CO2 semakin tinggi konversinya.

16

2.6 Proses Sedimentasi


Sedimentasi adalah suatu proses pemisahan suspensi secara fisik atau mekanik
menjadi dua bagian, yaitu slurry dan supernatant. Slurry adalah bagian dengan
konsentrasi partikel terbesar, dan supernatant adalah bagian cairan yang bening.
Proses ini memanfaatkan gaya gravitasi, yaitu dengan mendiamkan suspensi hingga
terbentuk endapan yang terpisah dari beningan (Foust, 1980).
Proses sedimentasi dalam industri kimia banyak digunakan, misalnya pada proses
pembuatan kertas dimana slurry berupa bubur selulose yang akan dipisahkan menjadi
pulp dan air, proses penjernihan air (water treatment), dan proeses pemisahan buangan
nira yang akan diolah menjadi gula.
Proses sedimentasi dalam dunia industri dilakukan secara sinambung dengan
menggunakan alat yang dikenal dengan nama thickener, sedangkan untuk skala
laboratorium dilakukan secara batch. Data-data yang diperoleh dari prinsip
sedimentasi secara batch dapat digunakan untuk proses yang sinambung.

Di industri aplikasi sedimentasi banyak digunakan, antara lain :

Pada unit pemisahan , misalnya untuk mengambik senyawa magnesium dari


air laut.

Untuk memisahkan bahan buangan dari bahan yang akan diolah, misalnya
pada pabrik gula

Pengolahan air sungan menjadi boiler feed water.

Proses pemisahan padatan berdasarkan ukurannya dalam clarifier dengan


prinsip perbedaan terminal velocity.

Dan pada pengolahan air limbah, sedimentasi umumnya digunakan untuk :

Penyisihan grit, pasir atau slit (lanau).

Penyisihan padatan tersuspensi pada clarifier pertama

Penyisihan flok / lumpur biologis hasil proses activated sludge pada clarifier
akhir.

Penyisihan humus pada clarifier akhir setelah trickling filter.

17

Pada pengolahan air limbah tingkat lanjutan, sedimentasi ditujukan untuk penyisihan
lumpur setelah koagulasi dan sebelum proses filtrasi. Selain itu, prinsip sedimentasi
juga digunakan dalam pengendalian partikel di udara.
Proses sedimentasi pada pengolahan air minum dan air limbah adalah sama demikian
juga untuk metoda dan peralatannya.

Proses sedimentasi dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu :

Cara Batch
Cara ini cocok dilakukan untuk skala laboratorium, karena sedimentasi
batch paling mudah dilakukan, pengamatan penurunan ketinggian mudah.
Mekanisme sedimentasi batch pada suatu silinder / tabung pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi seragam


dengan partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel
mulai mengendap dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan
cepat. Zona D yang terbentuk terdiri dari partikel lebih berat sehingga lebih
cepat mengendap. Pada zona transisi, fluida mengalir ke atas karena tekanan
dari zona D. Zona C adalah daerah dengan distribusi ukuran yang
berbedabeda dan konsentrasi tidak seragam. Zona B adalah daerah
konsentrasi seragam, dengan komsentrasi dan distribusi sama dengan
keadaan awal. Di atas zona B, adalah zona A yang merupakan cairan bening.

Selama sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah


(gambar 2 b, c, d). Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang.
Akhirnya zona B, C dan transisi hilang, semua padatan berada di zona D.
Saat ini disebut critical settling point, yaitu saat terbentuknya batas tunggal
antara cairan bening dan endapan (Foust, 1980).

Cara Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch , hanya ada cairan keluar saja, atau cairan
masuk saja. Jadi, kemungkinan yang ada bisa berupa slurry yang masuk atau
beningan yang keluar. Mekanisme sedimentasi semi-batch pada gambar 2.2.

18

Cata kontinyu
Pada cara ini, ada cairan slurry yang masuk dan beningan yang dikeluarkan
secara kontinyu. Saat steady state, ketinggian tiap zona akan konstan.
Mekanisme sedimentasi kontinyu pada gambar 2.3.

Pada sedimentasi dibedakan jenis klarifikasi, yaitu klarifikasi primer dan klarifikasi
sekunder.

Klarifikasi primer atau dekantasi primer adalah unit proses yang dirancang
untuk memindahkan zat padat tersuspensi dan padatan lain yang ada di dasar
bak atau tangki klarifikasi sebelum dilakukan perlakuan biologi untuk
senyawa organik terlarut.

Klarifikasi sekunder adalah unit proses yang dirancang untuk memindahkan


senyawa biomassa yang terbentuk selama proses biologi dan zat padat lain
yang terbawa oleh limbah cair masuk ke unit proses biologi, dan juga untuk
mengentalkan lumpur biologi. Pada proses sedimentasi diperlukan sistem
perlakuan fisika dan kimia yang mengikuti proses koagulasi dan flokulasi.

19

III.

PEMBAHASAN

3.1 Tahap Pengolahan Air Limbah Indutri


Proses pengolahan air menjadi air bersih harus melalui beberapa tahapan-tahapan,
yaitu :
1. Screening
Screening berfungsi untuk memisahkan air dari sampah-sampah dalam ukuran
besar.

2. Tangki sedimentasi
Tangki sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan kotoran-kotoran berupa lumpur
dan pasir. Pada tangki sedimentasi terdapat waktu tinggal. Ke dalam tangki
sedimentasi ini diinjeksikan klorin yang berfungsi sebagai oksidator dan
desinfektan. Sebagai oksidator, klorin digunakan untuk menghilangkan bau dan rasa
pada air.

3. Klarifier (clearator)
Klarifier berfungsi sebagai tempat pembentukan flok dengan penambahan larutan
Alum (Al2(SO4)3 sebagai bahan. Pada klarifier terdapat mesin agitator yang
berfungsi sebagai alat untuk mempercepat pembentukan flok. Pada klarifier terjadi
pemisahan antara air bersih dan air kotor. Air bersih ini kemudian disalurkan dengan
menggunakan pipa yang besar untuk kemudian dipompakan ke filter. Klarifier
terbuat dari beton yang berbentuk bulat yang dilengkapi dengan penyaring dan
sekat.

Dari inlet pipa klarifier, air masuk ke dalam primary reaction zone. Di dalam
primary reaction zone dan secondary reaction zone, air dan bahan kimia (koagulan
yaitu tawas) diaduk dengan alat agitator blade agar tercampur homogen. Maka
koloid akan membentuk butiran-butiran flokulasi.
Air yang telah bercampur dengan koagulan membentuk ikatan flokulasi, masuk
melalui return floc zone dialirkan ke clarification zone. Sedimen yang mengendap
dalam concentrator dibuang. Hal ini berlangsung secara otomatis yang akan terbuka

20

setiap satu jam sekali dalam waktu 1 menit. Air yang masuk ke dalam clarification
zone sudah tidak dipengaruhi oleh gaya putaran oleh agitator, sehingga lumpurnya
mengendap. Air yang berada dalam clarification zone adalah air yang sudah jernih.

4. Sand Filter
Penyaring yang biasanya digunakan adalah rapid sand fliter (filter saringan cepat).
Sand filter jenis ini berupa bak yang berisi pasir kwarsa yang berfungsi untuk
menyaring flok halus dan kotoran lain yang lolos dari klarifier (clearator). Air yang
masuk ke filter ini telah dicampur terlebih dahulu dengan klorin dan tawas.

Media penyaring biasanya lebih dari satu lapisan, yaitu pasir kwarsa dan batu
tertentu. Air mengalir ke bawah melalui media tersebut. Zat-zat padat yang tidak
larut akan melekat pada media, sedangkan air yang jernih akan terkumpul di bagian
dasar dan mengalir keluar melalui suatu pipa menuju reservoir.

5. Rservoir
Reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih yang telah disaring
melalui filter. Air ini sudah menjadi air yang bersih yang siap digunakan dan harus
dimasak terlebih dahulu untuk kemudian dapat dijadikan air minum (Hanum,
2002).

3.2 Pengertian Unit Sedimentasi pada Proses Pengolahan Air Limbah

Sedimentasi adalah pemisahan solid dari liquid menggunakan pengendapan


secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Sedangkan unit sedimentasi
merupakan suatu unit operasi yang berfungsi untuk memisahkan solid dan liquid
dari suspensi untuk menghasilkan air yang lebih jernih dan konsentrasi lumpur
yang lebih kental melalui pengendapan secara gravitasi pada gambar 3.4.

21

3.3 Bentuk Bak Sedimentasi


3.3.1

Segi empat (rectangular)


Bentuk bak ini umumnya digunakan pada instalasi pengolahan air dengan
kapasitas besar. Bak berbentuk segi empat umumnya mempunyai lebar 1,5
hingga 6 meter, panjang bak sampai 76 meter, dan kedalaman lebih dari 1,8
meter. Pada bak ini, air mengalir horizontal dari inlet menuju outlet, sementara
partikel mengendap ke bawah (Anonim, 2007).

Bentuk kolam memanjang sesuai arah aliran, sehingga dapat mencegah


kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting). Bentuk ini secara
hidraulika lebih baik karena tampang alirannya cukup seragam sepanjang
kolam pengendapan. Dengan demikian kecepatan alirannya relatif konstan,
sehingga tidak akan mengganggu proses pengendapan partikel suspensi. Selain
itu pengontrolan kecepatan aliran juga lebih mudah dilaksanakan. Namun
demikian, bentuk ini mempunyai kelemahan kurangnya panjang peluapan
terutama apabila ukurannya kurang lebar, sehingga laju peluapan nyata menjadi
terlalu besar dan menyebabkan terjadinya gangguan pada bagian akhir kolam
pengendapan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka ambang peluapan harus
diperpanjang, misalnya dengan menambahkan kisi-kisi saluran peluapan di
depan outlet (Kamulyan, 1997). Bentuk bak sedimentasi segi empat pada
gambar 3.5.

3.3.2

Lingkaran (circular)
Bentuk bak ini umumnya digunakan pada instalasi pengolahan air dengan
kapasitas yang lebih kecil. Bak berbentuk lingkaran umumnya berdiameter 10,7
hingga 45,7 meter dan kedalaman 3 hingga 4,3 meter (Anonim, 2007). Aliran
air dapat secara horizontal ke arah radial dan umumnya menuju ke tepi
lingkaran atau dengan aliran arah vertikal.

Pada kapasitas yang sama, pada kolam pengendapan berbentuk lingkaran ini
kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting) lebih besar daripada
kolam pengendapan berbentuk segi empat, terutama apabila ambang peluapan
tidak level sehingga aliran air menuju ke satu sisi tertentu saja. Bentuk ini secara
hidraulika kurang baik karena tampang alirannya tidak seragam, sehingga
kecepatan alirannya tidak konstan. Karena itu timbul kesulitan dalam

22

pengontrolan kecepatan aliran dan semakin besar dimensi bangunan


pengontrolan kecepatan menjadi lebih sulit lagi.

Pada kolam pengendapan berbentuk lingkaran kelemahan kurangnya panjang


peluapan hampir tidak pernah dijumpai karena ambang peluapan dibangun
sepanjang keliling lingkaran. Namun demikian sering dijumpai panjang
peluapan agak berlebihan, sehingga aliran melewati ambang peluapan berupa
aliran yang sangat tipis. Untuk mengatasi hal tersebut maka ambang peluapan
harus diperpendek dengan cara memasang ambang peluapan yang berbentuk
seperti huruf V (V-notch) atau seperti huruf U (U-notch). Keuntungan lain dari
kolam pengendapan berbentuk lingkaran adalah mekanisme pengumpulan
lumpur lebih sederhana dengan memasang scrapper yang bergerak memutar dan
pemeliharaan lebih mudah (Kamulyan, 1997). Bak sedimentasi bentuk
lingkaran aliran horizontal dan bak sedimetasi bentuk lingkaran aliran vertikal
pada gambar 3.6 dan 3.7.

3.4 Bagian-bagian dari bak sedimentasi

3.4.1 Zona Inlet atau struktur influen (tempat air masuk ke dalam bak).

Zona inlet mendistribusikan aliran air secara merata pada bak sedimentasi dan
menyebarkan kecepatan aliran yang baru masuk. Jika dua fungsi ini dicapai,
karakteristik aliran hidrolik dari bak akan lebih mendekati kondisi bak ideal dan
menghasilkan efisiensi yang lebih baik. Zona influen didesain secara berbeda
untuk kolam rectangular dan circular. Khusus dalam pengolahan air, bak
sedimentasi rectangular dibangun menjadi satu dengan bak flokulasi. Sebuah
baffle atau dinding memisahkan dua kolam dan sekaligus sebagai inlet bak
sedimentasi. Desain dinding pemisah sangat penting, karena kemampuan bak
sedimentasi tergantung pada kualitas flok. Contoh-contoh konstruksi inlet kolam
pengendapan pada gambar 3.8.

3.4.2

Zona pengendapan (tempat flok/partikel mengalami proses pengendapan).


Dalam zona ini, air mengalir pelan secara horizontal ke arah outlet, dalam zona
ini terjadi proses pengendapan. Lintasan partikel tergantung pada besarnya
kecepatan pengendapan.

23

3.4.3 Zona lumpur (tempat lumpur mengumpul sebelum diambil ke luar bak).
Dalam zona ini, lumpur terakumulasi. Sekali lumpur masuk area ini, ia akan tetap
disana. Kadang dilengkapi dengan sludge collector/scapper.

3.4.4

Zona Outlet atau struktur efluen (tempat dimana air akan meninggalkan
bak).
Seperti zona inlet, zona outlet atau struktur efluen mempunyai pengaruh besar
dalam mempengaruhi pola aliran dan karakteristik pengendapan flok pada bak
sedimentasi. Biasanya weir/pelimpah dan bak penampung limpahan digunakan
untuk mengontrol outlet pada bak sedimentasi. Selain itu, pelimpah tipe Vnotch atau orifice terendam biasanya juga dipakai. Diantara keduanya, orifice
terendam yang lebih baik karena memiliki kecenderungan pecahnya sisa flok
lebih kecil selama pengaliran dari bak sedimentasi menuju filtrasi.Contohcontoh konstruksi outlet kolam pengendapan pada gambar 3.9

Selain bagian-bagian utama pada gambar 3.9, sering bak sedimentasi dilengkapi
dengan settler. Settler dipasang pada zona pengendapan (gambar 3.8) dengan
tujuan untuk meningkatkan efisiensi pengendapan (Anonim, 2007) . Settler
pada bak sedimentasi pada gambar 3.10.

3.5 Tipe Sedimentasi


Berdasarkan pada jenis partikel dan kemampuan partikel untuk berinteraksi,
sedimentasi dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pada gambar 3.11, yaitu:

3.5.1 Sedimentasi tipe I/ Plain Settling/Discrete particle


Sedimentasi tipe I merupakan pengendapan partikel diskret, yaitu partikel yang
dapat mengendap bebas secara individual tanpa membutuhkan adanya interaksi
antar partikel. Sebagai contoh sedimentasi tipe I adalah pengendapan lumpur
kasar pada bak prasedimentasi untuk pengolahan air permukaan dan
pengendapan pasir pada grit chamber.

3.5.2 Sedimentasi tipe II (Flocculant Settling)


Sedimentasi tipe II adalah pengendapan partikel flokulen dalam suspensi, di
mana selama pengendapan terjadi saling interaksi antar partikel. Selama operasi
pengendapan, ukuran partikel flokulen bertambah besar, sehingga kecepatannya

24

juga meningkat. Sebagai contoh sedimentasi tipe II adalah pengendapan partikel


hasil proses koagulasi-flokulasi pada pengolahan air air limbah.

3.5.3 Sedimentasi tipe III dan IV/Hindered Settling (Zone Settling)


Sedimentasi tipe III adalah pengendapan partikel dengan konsentrasi yang lebih
pekat, di mana antar partikel secara bersama-sama saling menahan pengendapan
partikel lain disekitarnya. Karena itu pengendapan terjadi secara bersama-sama
sebagai sebuah zona dengan kecepatan yang konstan. Pada bagian atas zona
terdapat interface yang memisahkan antara massa partikel yang mengendap
dengan air jernih. Sedimentasi tipe IV merupakan kelanjutan dari sedimentasi
tipe III, dimana terjadi pemampatan (kompresi) massa partikel hingga diperoleh
konsentrasi lumpur yang tinggi. Sebagai contoh sedimentasi tipe III dan IV ini
adalah pengendapan lumpur biomassa pada final clarifier setelah proses lumpur
aktif (gambar 3.9). Tujuan pemampatan pada final clarifier adalah untuk
mendapatkan konsentrasi lumpur biomassa yang tinggi untuk keperluan
resirkulasi lumpur ke dalam reactor lumpur aktif (Anonim, 2007). Pada gambar
12 dapat dilihat pengendapan pada final clarifier untuk proses lumpur aktif.
Sebelum mendesain sebuah bak final clarifier, maka perlu dilakukan percobaan
laboratorium secara batch menggunakan column settling test.

3.6 Sedimentasi pada Pengolahan Air Limbah


Aplikasi teori sedimentasi pada pengolahan air limbah
3.6.1 Grit chamber
Grit chamber merupakan bagian dari bangunan pengolahan air limbah yang
berfungsi untuk mengendapkan partikel kasar/grit bersifat diskret yang relatif
sangat mudah mengendap. Teori sedimentasi yang di pergunakan dalam aplikasi
pada grit chamber adalah teori sedimentasi tipe 1 karena teori ini mengemukakan
bahwa pengendapan partikel berlangsung secara individu (masing-masing
partikel, diskret) dan tidak terjadi interaksi antar partikel.

25

3.6.2 Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bagian dari bangunan pengolahan air limbah
yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur sebelum air limbah diolah secara
biologis. Meskipun belum terjadi proses kimia (misal koagulasi-flokulasi atau
presipitasi), namun pengendapan di bak ini mengiikuti pengendapan tipe II
karena lumpur yang terdapat dalam air limbah tidak lagi bersifat diskret
(mengingat kandungan komponen lain dalam air limbah, sehingga telah terjadi
proses presipitasi).
3.6.3 Final Clarifier
Bak sedimentasi II (final clarifier) merupakan bagian dari bangunan pengolahan
air limbah yang berfungsi untuk mengendapkan partikel lumpur hasil proses
biologis (disebut juga lumpur biomassa). Lumpur ini relatif sulit mengendap
karena sebagian besar tersususun oleh bahan-bahan organik volatil. Teori
sedimentasi yang dipergunakan dalam aplikasi pada bak sedimentasi II adalah
teori sedimentasi tipe III dan IV karena pengendapan biomassa dalam jangka
waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya pemampatan (kompresi).

26

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Pemisahan bahan merupakan metode umum dan penting dalam suatu industri.
Pemisahan ini digunakan untuk memperoleh bahan dengan bentuk, ukuran, atau fraksi
tertentu yang diinginkan. Metode pemisahan secara umum dibagi menjadi dua yaitu
pemisahan mekanis dan pemisahan bahan dengan kontak keseimbangan bahan.
Pemisahan denga cara mekanis atau fisika meliputi pengendapan, filtrasi, ekstraksi
dan pengayakan. Sedangkan pemisahan dengan kontak keseimbangan bahan meliputi
penguapan, koagulasi, distilasi, adsorbs, kristalisasi, dan sentrifugasi. Settlin tank
merupakan alat yang digunakan untuk mengendapkan bahan seperti pati, penanganan
limbah, dll.

Salah satu proses pengolahan air minum adalah sedimentasi, sedimentasi merupakan
tahap awal dalam proses pengolahan air limbah dari serangkaian prosesnya.
Sedimentasi sendiri pada prinsipnya memisahkan antara solid dan liquid yang terdapat
dalam air, dengan tujuan menyisihkan suspended solid. Terdapat empat tipe
sedimentasi yang berbeda pada penggunaan koagulan sebagai pengendap suspended
solid. Aplikasi teori sedimentasi pada pengolahan air limbah adalah Grit chamber,

Prasedimentasi, dan Final Clarifier.


4.2 Saran
Pemisahan bahan merupakan metode yang penting dalam industri untuk memperoleh
bahan dengan ukuran, atau fraksi yang diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan
pemahaman mengenai pemisahan ukuran dan juga prinsip-prinsip pemisahan bahan,
beserta alat-alat terkait pemisahan bahan. Kemudian untuk berkenaan dengan
pengolahan air limbah perlu pemahaman mengenai proses yang tepat sesuai dengan
kandungan yang terdapat dalam air limbah. Dan perlu di fahami begitu berbahayanya
apabila air limbah langsung di buang ke lingkungan, perlu perhatian yang lebih serius
terkait hal ini.