Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

SIKLUS RANKINE

Disusun Oleh :
Nama

: Heksa Zaharoh

NIM

: 141.33.1051

Jurusan

: D3 Teknik Mesin

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2015/2016

A. PENGERTIAN SIKLUS DIESEL


Siklus diesel yang merupakan siklus dari mesin penyalaan kompresi
(compression-ignition) ditemukan oleh Rudolph Diesel pada tahun 1890.
Perbedaan

mesin

diesel

dengan

mesin

otto

terletak

pada

permulaan

pembakarannya. Pada motor bensin, campuran udara-bensin dikompresi dibawah


temperatur pembakaran bahan bakar dan proses pembakarannya dimulai dari
percikan bunga api pada busi. Sedangkan pada mesin diesel, udara murni diisap
dan dikompresi diatas temperatur pembakaran bahan bakar. Jadi, pada mesin
diesel tidak terdapat karburator dan busi tetapi diganti oleh injektor bahan bakar.
Pada mesin bensin, yang dikompresi adalah campuran udara-bensin dan
besarnya perbandingan kompresi dibatasi oleh temperatur terbakarnya bensin.
Pada mesin diesel, yang dikompresi adalah udaranya saja sehingga mesin diesel
dapat didesain pada perbandingan kompresi yang tinggi, antara 12 sampai 24.
Proses injeksi bahan bakar dimulai pada saat piston hampir mencapai titik mati
atas dan masih berlangsung beberapa saat setelah piston mencapai TMA. Oleh
karena itu, proses pembakaran pada mesin diesel terjadi pada interval waktu yang
relative panjang dibanding dengan mesin bensin. Dengan interval waktu
pembakaran yang relatif panjang tersebut, maka proses pemasukan panas didekati
(approximated) sebagai proses tekanan konstan, sedangkan tiga proses lainnya
sama dengan mesin bensin.
QCP ( T3 - T2 )

Q out = CV ( T 4 - T1 )

Perbandingan kompresi:

rv

Perbandingan Potong (Cutoff ratio)

V1
V2

( )
rc

V3
V2

T3
T2

( ) ( )
=

Efisiensi

QQ
Q

out

Diesel

2
T 3T

CP
Q
C (T T 1 )
=1 out =1 V 4

Q
W
d= =
Q

Proses 1 2 : Kompresi Adiabatis


V 1 k1
k1
T 2 =T 1
=T 1 r v
V2
Proses 2 -3 : Tekanan K
T 3 =T 2

V3
=T 2 r c =T 1 r v k1 r c
V2

Proses 3 4 : Ekspansi Adiabatis


V 3 k1
V
V
V V
V V
1 r
T 4=T 3
dimana 3 = 3 = 3 x 2 = 2 x 2 =r C x = C
V4
V4 V1 V1 V2 V2 V1
rV rV

r C k1
r C k1
k1
T 4=T 3 =T 1 r V r C =T 1 r C k1
rV
rV
Setelah nilai dari

T 2 , T 3, T 4

dimasukkan ke persamaan efisiensi, maka

dihasilkan :
T 1 r C k T 1
(r C k 1)
(r C k 1)
d =1
=1
=1 k1
k (T 1 r V k1 r C T 1 r V k1 )
k (r V k1 r C r V k1 )
r V k (r C 1)
rC
( k 1)
k (r C 1)

1
d= 1 k1
rV

Perbandingan efesiensi antara mesin diesel dengan mesin bensin (

1
=1- r V k1 ) adalah terletak pada nilai suku yang ada didalam kurung dimana
nilainya selalu lebih besar dari satu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
jika perbandingan kompresi antara mesin bensin dan mesin diesel sama maka
efisiensi mesin bensin lebih tinggi dibanding mesin diesel (

V > d

). Namun,

harus diingat bahwa mesin diesel dapat dioprasikan pada perbandingan kompresi
yang lebih tinggi tanpa khawatir akan terjadi pembakaran sebelum waktunya
sehingga efisiensi mesin diesel lebih tinggi dari mesin otto. Selain itu, proses
pembakaran mesin diesel lebih sempurna karena mesin diesel beroprasi pada
putaran lebih rendah maka mesin diesel menjadi pilihan untuk keperluan mesin
dengan power besar seperti mesin lokomotif, kapal laut, truk, dan lain lain.
Prinsip kerja mesin diesel mirip seperti mesin bensin. Perbedaannya
terletak pada langkah awal kompresi atau penekanan adiabatik (penekanan
adiabatik = penekanan yang dilakukan dengan sangat cepat sehingga kalor atau
panas tidak sempat mengalir menuju atau keluar dari sistem. Sistem untuk kasus
ini adalah silinder. Kalau dalam mesin bensin, yang ditekan adalah campuran

udara dan uap bensin, maka dalam mesin diesel yang ditekan hanya udara saja.
Penekanan

secara

adiabatik

menyebabkan

suhu

dan

tekanan

udara

meningkat.Selanjutnya injector atau penyuntik menyemprotkan solar. Karena


suhu dan tekanan udara sudah sangat tinggi maka ketika solar disemprotkan ke
dalam silinder dan solar langsung terbakar. Tidak perlu memakai busi lagi.
Perhatikan besarnya tekanan yang ditunjukkan pada diagram di bawah.

Diagram ini menunjukkan siklus diesel ideal atau sempurna. Mula-mula


udara ditekan secara adiabatik (a-b), lalu dipanaskan pada tekanan konstan penyuntik atau injector menyemprotkan solar dan terjadilah pembakaran (b-c), gas
yang terbakar mengalami pemuaian adiabatik (c-d), pendinginan pada volume
konstan - gas yang terbakar dibuang ke pipa pembuangan dan udara yang baru,
masuk ke silinder (d-a).
Zat kerja untuk mesin diesel adalah udara dan solar. Zat kerja biasanya
menyerapkalor pada suhu yang tinggi (QH), melakukan usaha alias kerja (W), lalu
membuang kalor sisa pada suhu yang lebih rendah (QL). Karena energi kekal,
maka QH = W + QL.
Motor diesel dikategorikan dalam motor bakar torak dan mesin
pembakaran dalam (internal combustion engine) (biasanya disebut sebagai motor
bakar saja). Prinsip kerja motor diesel adalah merubah energi kimia menjadi
energi mekanis. Energi kimia di dapatkan melalui proses reaksi kimia
(pembakaran) dari bahan bakar (solar) dan oksidiser (udara) di dalam silinder
(ruang bakar). Penggunaannya dan dalam satu silinder dapat terdiri dari satu atau
dua torak. Pada umumnya dalam satu silinder motor diesel hanya memiliki satu

torak.Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan mendorong
torak yang dihubungkan dengan poros engkol menggunakan batang torak,
sehingga torak dapat bergerak bolak-balik (reciprocating). Gerak bolak-balik
torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol (crank shaft). Dan
sebaliknya gerak rotasi poros engkol juga diubah menjadi gerak bolak-balik torak
pada langkah kompresi. Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya akibat
tekanan maka motor diesel juga disebut Compression Ignition Engine.
Diagram P-V Motor Diesel 2 Langkah dan 4 Langkah
Siklus motor diesel merupakan siklus udara pada tekanan konstan.
Pada umumnya jenis motor bakar diesel dirancang untuk memenuhi siklus
ideal diesel yaitu seperti siklus otto tetapi proses pemasukan kalornya
dilakukan pada tekanan konstan. Perbedaannya mengenai pemasukan
sebanyak qm pada siklus diesel dilaksanankan pada tekanan konstan.
Gambar Diagram P-V Motor Diesel 2 langkah:

Keterangan:
1-2

Langkah
kompresi
tekanan
bertambah, Q =
c (adiabatic)
2-3 = Pembakaran, P naik, V = c (isokhorik)
3-4 = Langkah kerja V bertambah, P turun (adiabatic)
4-5 = Awal Pembuangan
5-6 = Awal Pembilasan
6-7 = Akhir Pembilasan
Gambar Diagram P-V Motor Diesel 4 langkah:

Keterang
an:
1.1 =

Langkah isap pada P = c (isobarik)


1.2 = Langkah kompresi , P bertambah, Q = c (adiabatik)
2-3 = Pembakaran, P naik, V = c (isokhorik)
3-4 = Langkah kerja P bertambah, V = c (adiabatik)
4-1 = Pengeluaran kalor sisa pada V = c (isokhorik)
1-0 = Langkah buang pada P = c
Diagram P-V Motor Gabungan dan Supercharger
Siklus gabungan merupakan siklus udara pada tekanan terbatas.
Apabila pemasukan kalor pada siklus dilaksanakan baik pada volume konstan
maupun tekanan konstan, siklus tersebut dinilai sebagai siklus tekanan
terbatas atau siklus gabungan. Dalam siklus ini gerak isap (0-1) dimisalkan
berimpit dengan garis buang (1-0) sedangkan proses pemasukan kalor
berlangsung selama proses (2-3a) dan (3-3a). Sebenarnya kedua gris tersebut
tidak perlu berimpit, garis buang berada diatas atau dibawah garis isap. Pada
Naturally Aspirated Engine garis buang berada diatas garis isap. Pada Engine
Supercharger udara pada waktu langkah isap dipaksa masuk ke silinder oleh
pompa udara yang digerakkan oleh mesin itu sendiri, disitu garis buang akan
berada dibawah garis isap.

Untuk

kompresi

rasio yang sama

siklus

diesel mempunyai

efisiensi

yang lebih tinggi


dibandingkan

dengan

siklus otto. Adapun rumus untuk mencari efisiensi siklus diesel adalah:
Efisiensi siklus diesel
yang tinggi menyebabkan siklus ini
digunakan

untuk

mesin-mesin

dengan kapasitas besar. Seperti yang terdapat pada truk, lokomotif, mesin kapal,
dan pembangkit tenaga listrik darurat (genset).

DAFTAR PUSTAKA
Nakoela Soenarta dan Shoichi Furuhama. (1995). Motor Serba Guna, Jakarta :
Penerbit PT Pradnya Paramita.
J. Trommel Mans. (1991). Mesin Diesel, Jakarta : Penerbit PT Rosda Jayaputra.
Anonim. (1979). Diesel Manual Handbook, Tokyo : Mitsubishi Motors.
Anonim. (1995). Materi Pelajaran Engine Group Step 2, Jakarta : PT Toyota
Astra Motor.
Anonim. (1995). New Step 1 Training Manual, Jakarta : PT Toyota Astra Motor