Anda di halaman 1dari 36

PAPER SANITASI DAN KEAMANAN PANGAN

Pengolahan Limbah Secara Umum pada Industri Minuman Soft drink


Paper ini disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian tengah semester
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si

Disusun Oleh :
Theresia Vintania

2013340036

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


TEKNOLOGI PANGAN
UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul
Pengolahan Limbah Secara Umum pada Industri Minuman Soft drink ini dengan lancar.
Penulisan paper ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen
matakuliah sanitasi dan keamanan pangan, Ibu Prof. Dr. Ir. Giyatmi, Msi
Paper ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku
panduan yang berkaitan dengan pengolahan limbah industri secara umum, serta infomasi
dari media massa yang berhubungan dengan pengolahan limbah industri minuman soft drink, tak
lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah sanitasi dan keamanan pangan
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan paper ini serta kepada rekan-rekan mahasiswa yang
telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya paper ini.
Penulis berharap, dengan membaca paper ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai pengolahan limbah secara umum pada
industri minuman soft drink, khususnya bagi penulis. Memang paper ini masih jauh dari
sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju
arah yang lebih baik.

Jakarta , November 2015

Penulis
2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................

DAFTAR ISI.......................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang.............................................................................
Rumusan Masalah........................................................................
Tujuan Penulisan Makalah...........................................................
Manfaat Penulisan Makalah.........................................................

4
5
5
5

BAB II PEMBAHASAN
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.

Pengolahan dan Penanganan Limbah Secara Umum...................


Pengertian dan Kandungan Soft Drink.........................................
Jenis-Jenis Limbah pada Industri Soft Drink ..............................
Proses Penanganan Limbah Industri Soft Drink..........................
Dampak Limbah pada Industri Soft Drink...................................

6
16
17
21
33

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan.................................................................................. 36
3.2. Saran............................................................................................ 36
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
3

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Limbah merupakan benda yang tidak diperlukan dan dibuang, limbah pada umumnya
mengandung bahan pencemar dengan konsentrasi bervariasi. Bila dikembalikan ke alam
dalam jumlah besar, limbah ini akan terakumulasi di alam sehingga mengganggu
keseimbangan

ekosistem

alam.

Penumpukan

limbah

di

alam

menyebabkan

ketidakseimbangan ekosistem tidak dikelolah dengan baik. Dan sekarang Indonesia lagi
giat-giatnya membangun untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan
segala sektor sedang dikelola secara sistematis dan dari semua aktivitas ini jelas
menghasilkan limbah buangan karena perubahan masyarakat dari agraris (mengelola)
menjadi industrial (menghasilkan, industri pun berkembang karena berbagai kemudahan
mulai dari sarana transportasi, struktur jalan menjadi lebih baik mengakibatkan
pendistribusian barang lebih cepat.
Demikian halnya pada industri minuman ringan, merupakan industri yang
pertumbuhannya di Indonesia cukup pesat. Oleh sebab itu jika penanganan limbahnya tidak
dilakukan dengan baik maka kemungkinan untuk terjadinya pencemaran lingkungan
khususnya perairan cukup besar. Tercatat pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$
6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Minuman ringan merupakan
minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk
bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan bahan tambahan lainnya baik alami
maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi (Prasetya, 2011).
Kosumsi minuman ringan yang meningkat pesat dapat menyebabkan peningkatan
jumlah limbah yang mampu mencemari lingkungan baik berupa pencemaran tanah maupun
air. Perkembangan industri dan teknologi diberbagai bidang kehidupan selain
meningkatkan kualitas hidup manusia juga memberikan dampak lain terhadap
kelangsungan lingkungan hidup yaitu berupa pencemaran. Untuk mencegah terjadinya
pencemaran lingkungan yang tidak diinginkan, maka pemerintah mengeluarkan suatu
standar baku mutu untuk buangan limbah, khususnya untuk limbah cair. Selain itu,
pengetahuan mengenai cara penanggulangan dan pengurangan limbah perlu dilakukan agar
dapat tetap menjaga kelestarian, nilai estetika dan kesehatan lingkungan.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1.
Bagaimana pengolahan dan penanganan limbah secara umum ?
1.2.2.
Bagaimana definisi soft drink dan kandungan apakah yang ada didalam
produk soft drink ?
1.2.3.
Apakah jenis-jenis limbah yang dihasilkam pada proses produksi
minuman soft drink ?
1.2.4.
Bagaimana proses penanganan limbah pada industri soft drink ?
1.2.5.
Apa sajakah dampak yang ditimbulkan dari limbah industri soft drink ?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1.
Untuk mengetahui pengolahan dan penanganan limbah secara umum.
1.3.2.
Untuk mengetahui definisi soft drink serta kandungan yang terdapat dalam
produk soft drink.
1.3.3.
Untuk mengetahui jenis-jenis limbah yang dihasilkan pada proses
produksi minuman soft drink.
1.3.4.
Untuk mengetahui proses penanganan limbah pada industri soft drink.
1.3.5.
Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari limbah industri soft
drink.
1.4. Manfaat Penulisan
1.4.1.
Penulis dapat berbagi informasi pengolahan dan penanganan limbah.
1.4.2.
Penulis dapat berbagi informasi mengenai definisi soft drink serta
kandungan yang terdapat dalam produk soft drink.
1.4.3.
Penulis dapat berbagi pengetahuan mengenai jenis limbah yang dihasilkan
pada proses produksi minuman soft drink.
1.4.4.
Penulis dapat berbagi informasi mengenai proses penanganan limbah pada
industri soft drink.
1.4.5.
Penulis dapat berbagi informasi mengenai dampak yang ditimbulkan dari
limbah industri soft drink.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengolahan dan Penanganan Limbah Secara Umum
Menurut Utami (2013), Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi
1.
2.
3.

semua orang. Dipandang dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :
Menjamin tempat tinggal/tempat kerja yang bersih;
Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan;
Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit.
5

Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan meliputi 2 cara


pokok, yaitu :
1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan
dengan cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang dapat merencanakan,
mengatur, mengawasi segala bentuk kegiatan industri dan bersifat mengikat sehingga
dapat memberi sanksi hukum pagi pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan
cara-cara yang berkaitan dengan proses produksi seperti perlu tidaknya mengganti proses,
mengganti sumber energi/bahan bakar, instalasi pengolah limbah atau menambah alat
yang lebih modern/canggih. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah :
1) Mengutamakan keselamatan manusia;
2) Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik;
3) Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.
2.1.1. Penanganan Limbah Padat
Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel,
pusat perdagangan/restoran maupun pertanian/peternakan. Penanganan limbah
1.
2.
3.
4.

padat melalui beberapa tahapan (Utami, 2013) yaitu :


Penampungan dalam bak sampah
Pengumpulan sampah
Pengangkutan
Pembuangan di TPA
Sampah yang sudah berada di TPA akan mengalami berbagai macam
perlakuan, seperti menjadi bahan makanan bagi sapi/ternak yang digembala di
TPA, di sortir oleh pemulung, atau diolah menjadi pupuk kompos.
Berikut ini beberapa metode penanganan limbah organik padat :
1) Composting
Adalah penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa
dimanfaatkan sebagai pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk
membuat kompos adalah sampah kering maupun hijau dari sisa tanaman,
sisa makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll. Dalam proses

pembuatan kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi/


penguraian oleh mikroorganisme.
Di dalam kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman,
sehingga digunakan sebagai pupuk tanaman dan disebut pupuk organik.
Dalam proses pengomposan, bahan baku kompos mengalami perubahan
kimiawi oleh mikroorganisme / bakteri yang membutuhkan nitrogen untuk
hidupnya. Tetapi tidak selalu bahan baku kompos mengandung nitrogen
yang cukup untuk kebutuhan bakteri pengurai tersebut sehingga diperlukan
pemberian tambahan nitrogen, salah satunya adalah EM 4 (effective
microorganism 4) yang berfungsi sebagai aktivator. Hal ini akan membantu
bakteri hidup berkembang dengan baik sehingga proses penguraian bahan
baku kompos menjadi lebih cepat dan proses pengomposan berlangsung
lebih cepat pula. Jika aerasi kurang, maka yang terjadi adalah proses
pembusukan dan akan mengasilkan bau busuk akibat terbentuknya amoniak
(NH3) dan asam sulfida (H2S).
2) Gas Bio
Adalah pengubahan sampah organik yang berasal dari tinja manusia
maupun kotoran hewan menjadi gas yang dapat berfungsi sebagai bahan
bakar alternatif. Kandungan gas bio antara lain metana (CH 4) dalam
komposisi

yang

terbanyak,

karbondioksida

(CO2),

Nitrogen

(N2),

Karbonmonoksida (CO), Oksigen (O2), dan hidrogen sulfida (H2S). Gas


metana murni adalah gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
Supaya efektif, proses pengubahan ini harus pada tingkat kelembaban yang
sesuai, suhu tetap dan pH netral.
3) Makanan Ternak (Hog Feeding)
Adalah pengolahan sampah organik menjadi makanan ternak. Agar
sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak harus dipilih dan
dibersihkan terlebih dulu agar tidak tercampur dengan sampah yang
mengandung logam berat atau bahan-bahan yang membahayakan kesehatan
ternak.
Berikut ini beberapa metode penangan limbah anorganik padat (Soenarno,
2011) yaitu
7

1) Empat R ( 4 R = Replace, Reduce, Recycle dan Reuse )


Replace yaitu usaha mengurangi pencemaran dengan menggunakan
barang-barang yang ramah lingkungan. Contohnya memanfaatkan daun
daripada plastik sebagai pembungkus, menggunakan MTBE daripada TEL
untuk anti knocking pada mesin, tidak menggunakan CFC sebagai
pendingin dan lain-lain.
Reduce yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan
meminimalkan produksi sampah. Contohnya membawa tas belanja sendiri
yang besar dari pada banyak kantong plastik, membeli kemasan isi ulang
rinso, pelembut pakaian, minyak goreng dan lain-lain daripada membeli
botol setiap kali habis, membeli bahan-bahan makanan atau keperluan lain
dalam kemasan besar daripada yang kecil-kecil.
Recycle yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan
mendaur ulang sampah melalui penanganan dan teknologi khusus. Proses
daur ulang biasanya dilakukan oleh pabrik/industri untuk dibuat menjadi
produk lain yang bisa dimanfaatkan. Dalam hal ini pemulung berjasa
sekaligus mendapatkan keuntungan karena dengan memilah sampah yang
bisa didaur ulang bisa mendapat penghasilan. Misalnya plastik-plastik bekas
bisa didaur ulang menjadi ember, gantungan baju, pot tanaman dll.
Reuse yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
menggunakan dan memanfaatkan kembali barang-barang yang seharusnya
sudah dibuang. Misalnya memanfaatkan botol/kaleng bekas sebagai wadah,
memanfaatkan kain perca menjadi keset, memanfaatkan kemasan plastik
menjadi kantong belanja/tas dll.
2) Insenerator
Adalah alat yang digunakan untuk membakar sampah secara terkendali
pada suhu tinggi. Insenerator efisien karena sanggup mengurangi volume
sampah hingga 80 %. Residunya berupa abu sekitar 5 10 % dari total
volume sampah yang dibakar dan dapat digunakan sebagai penimbun tanah.
Kekurangan alat ini adalah mahal dan tidak bisa memusnahkan sampah
logam.
3) Sanitary Landfill
Adalah metode penanganan limbah padat dengan cara membuangnya
pada area tertentu. Ada 3 metode sanitary landfill, yaitu :
8

Metode galian parit (trenc method), sampah dibuang ke dalam galian


parit yang memanjang. Tanah bekas galian digunakan untuk
menutup parit. Sampah yang ditimbun dipadatkan dan diratakan.
Setelah parit penuh, dibuatlah parit baru di sebelah parit yang telah

penuh tersebut.
Metode area, sampah dibuang di atas tanah yang rendah, rawa, atau

lereng kemudian ditutupi dengan tanah yang diperoleh ditempat itu.


Metode ramp, merupakan gabungan dari metode galian parit dan
metode area. Pada area yang rendah, tanah digali lalu sampah
ditimbun tanah setiap hari dengan ketebalan 15 cm, setelah stabil
lokasi tesebut diratakan dan digunakan sebagai jalur hijau
(pertamanan), lapangan olah raga, tempat rekreasi dll.

4) Penghancuran sampah (pulverisation)


Adalah proses pengolahan sampah anorganik padat dengan cara
menghancurkannya di dalam mobil sampah yang dilengkapi dengan alat
pelumat sampah sehingga sampah hancur menjadi potongan-potongan kecil
yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang cekung atau letaknya
rendah.
5) Pengepresan sampah (reduction mode)
Yaitu proses pengolahan sampah dengan cara mengepres sampah tesebut
menjadi padat dan ringkas sehingga tidak memakan banyak tempat.
2.1.2. Penanganan Limbah Cair
Menurut Utami (2013), Sekitar 80% air yang digunakan manusia untuk
aktivitasnya akan dibuang lagi dalam bentuk air yang sudah tercemar, baik itu
limbah industri maupun limbah rumah tangga. Untuk itu diperlukan penanganan
limbah dengan baik agar air buangan ini tidak menjadi polutan. Tujuan
pengaturan pengolahan limbah cair ini adalah untuk mencegah pengotoran air
permukaan (sungai, waduk, danau, rawa dll), untuk melindungi biota dalam
tanah dan perairan, untuk mencegah berkembangbiaknya bibit penyakit dan
vektor penyakit seperti nyamuk, kecoa, lalat serta untuk menghindari

pemandangan dan bau yang tidak sedap. Pengolahan limbah cair dapat dilakukan
dengan cara-cara :
a) Cara Fisika
Pengolahan limbah cair dengan beberapa tahap proses kegiatan berikut :
Proses Penyaringan (screening), yaitu menyisihkan bahan

tersuspensi yang berukuran besar dan mudah mengendap.


Proses Flotasi, yaitu menyisishkan bahan yang mengapung seperti

minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses berikutnya.


Proses Filtrasi, yaitu menyisihkan sebanyak mungkin partikel
tersuspensi dari dalam airatau menyumbat membran yang akan

digunakan dalam proses osmosis.


Proses adsorbsi, yaitu menyisihkan senyawa anorganik dan
senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk
menggunakan

kembali

air

buangan

tersebut,

biasanya

menggunakan karbon aktif.


Proses reverse osmosis (teknologi membran), yaitu proses yang
dilakukan untuk memanfaatkan kembali air limbah yang telah
diolah sebelumnya dengan beberapa tahap proses kegiatan.
Biasanya teknologi ini diaplikasikan untuk unit pengolahan kecil

dan teknologi ini termasuk mahal.


b) Cara kimia
Pengolahan air buangan yang dilakukan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat,
senyawa fosfor dan zat organik beracun dengan menambahkan bahan
kimia tertentu yang diperlukan. Metode kimia dibedakan atas metode
nondegradatif misalnya koagulasi dan metode degradatif misalnya
oksidasi polutan organik dengan pereaksi lemon, degradasi polutan
organik dengan sinar ultraviolet dll.
c) Cara biologi
Pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme alami
untuk menghilangkan polutan baik secara aerobik maupun anaerobik.
Pengolahan ini dianggap sebagai cara yang murah dan efisien.
Metode pengolahan limbah cair, meliputi beberapa cara :
10

1) Dillution (pengenceran)
Air limbah dibuang ke sungai, danau, rawa atau laut agar mengalami
pengenceran dan konsentrasi polutannya menjadi rendah atau hilang. Cara
ini dapat mencemari lingkungan bila limbah tersebut mengandung bakteri
patogen, larva, telur cacing atau bibit penyakit yang lain. Cara ini boleh
dilakukan dengan syarat bahwa air sungai, waduk atau rawa tersebut tidak
dimanfaatkan untuk keperluan lain, volume airnya banyak sehingga
pengenceran bisa 30 -40 kalinya, air tersebut harus mengalir.
2) Sumur resapan
Adalah sumur yang digunakan untuk tempat penampungan air limbah
yang telah mengalami pengolahan dari sistem lain. Air tinggal mengalami
peresapan ke dalam tanah, dan sumur dibuat pada tanah porous, diameter 1
2,5 m dan kedalaman 2,5 m. Sumur ini bisa dimanfaatkan 610 tahun.
3) Septic tank
Merupakan metode terbaik untuk mengelola air limbah walaupun
biayanya mahal, rumit dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank
memiliki 4 bagian ruang untuk tahap-tahap pengolahan, yaitu :
1. Ruang pembusukan, air kotor akan bertahan 1-3 hari dan akan
mengalami proses pembusukan sehingga menghasilkan gas, cairan
dan lumpur (sludge).
2. Ruang lumpur, merupakan ruang empat penampungan hasil proses
pembusukan yang berupa lumpur. Bila penuh lumpur dapat dipompa
keluar.
3. Dosing chamber, didalamnya terdapat siphon McDonald yang
berfungsi sebagai pengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke
bidang resapan agar merata.
4. Bidang resapan, bidang yang menyerap cairan keluar dari dosing
chamber serta menyaring bakteri patogen maupun mikroorganisme
yang lain. Panjang minimal resapan ini adalah 10 m dibuat pada
tanah porous.
5. Riol (parit), menampung semua air kotor dari rumah, perusahaan
maupun

lingkungan. Apabila

riol

inidigunakan

juga

untuk

menampung air hujan disebut combined system. Sedang bila


11

penampung hujannya dipisahkan maka disebut separated system. Air


kotor pada riol mengalami proses pengolahan sebagai berikut :
a. Penyaringan (screening), menyaring benda-benda

yan

mengapung di air,
b. Pengendapan (sedimentation), air limbah dialirkan ke dalam
bak besar secara perlahan supaya lumpur dan pasir mengendap,
c. Proses biologi (biologycal proccess), menggunakan
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik,
d. Saringan pasir (sand filter),
e. Desinfeksi (desinfection), menggunakan kaporit

untuk

membunuh kuman,
f. Dillution (pengenceran), mengurangi konsentrasi polutan
dengan membuangnya di sungai/laut.
2.1.3. Penanganan Limbah Gas, Debu dan Partikel
Filter udara digunakan untuk menangkap debu / partikel yang keluar dari
cerobong atau stack. Berikut ini beberapa macam filter udara, meliputi :
1) Pengendapan siklon
Adalah alat yang digunakan untuk mengendapkan debu atau abu yang
ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.
Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari
udara atau gas buang yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding
tabung siklon, sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah.
Debu, abu atau partikel yang dapat diendapkan oleh siklon adalah
berukuran antara 5 40 mikro. Makin besar ukuran debu, semakin cepat
partikel diendapkan.
2) Filter basah
Adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor dengan
cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangkan udara kotor dari
bagian bawah alat. Pada saat udara kotor kontak dengan air, maka debu
akan ikut semprotan air untuk turun ke bawah. Bila ingin hasil yang lebih
baik, dapat digabungkan pengendap siklon dengan filter basah.
Penggabungan kedua alat ini menghasilkan alat penangkap debu yang
dinamakan pengendap siklon filter basah.

12

3) Pengendap sistem Gravitasi


Adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor yang
ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 mikro atau lebih. Prinsip
kerja alat ini adalah dengan mengalirkan udara kotor ke alat, sehingga
pada waktu terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba, debu akan jatur
terkumpul ke bawah akibat gaya beratnya sendiri. Kecepatan pengendapan
tergantung pada dimensi alat yang digunakan.
4) Pengendap elektrostatik
Adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor dalam
jumlah (volume) besar dan waktu yang singkat, sehingga udara yang
keluar dari alat ini relatif bersih. Alat ini berupa tabung silinder, dimana
dindingnya diberi muatan positif, sedangkan tengahnya ada sebuah kawat,
yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan
negatif. Adanya tegangan yang berbeda akan menimbulkan corona
discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara
kotor seolah-olah mengalami ionisasi. Kotoran menjadi ion negatif yang
akan ditarik dinding tabung, sedangkan udara bersih akan berada di tengah
silinder kemudian terhembus keluar.
2.1.4. Penanganan Limbah Suara
Bising merupakan polusi pendengaran. Suara-suara yang sangat bising dapat
mengganggu pendengaran dan juga membuat orang tidak nyaman. Sumber
kebisingan dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali dengan :
1. Mematikan atau menghilangkan sumber suara/sumber kebisingan;
2. Memasang alat peredam suara;
3. Pengendalian pada jejak propagasi, mengganti bahan baku ruangan
dengan bahan yang dapat meredam suara;
4. Pengendalian pada penerima suara, yaitu dengan melakukan upaya
perlindungan pada pendengaran manusia, seperti tutup / sumbat telinga.

2.1.5. Dampak Pengolahan Limbah Terhadap Lingkungan

13

Pengolahan limbah yang baik dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan
lingkungan, akan tetapi bila tidak dikelola dengan baik dapat memberi dampak
negatif bagi lingkungan.
Dampak positif pengolahan limbah menurut Utami (2013) :
Pengolahan limbah yang benar akan memberikan dampak positif, yaitu :
1. Limbah dapat digunakan untuk menimbun lahan/dataran rendah;
2. Limbah dapat digunakan untuk pupuk;
3. Limbah dapat digunakan sebagai pakan ternak , baik langsung maupun
mengalami proses pengolahan lebih dulu;
4. Mengurangi tempat perkembangbiakan penyakit/vektor penyakit;
5. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit menular;
6. Menghemat biaya pemeliharaan kesehatan karena masyarakat yang sehat.
Dampak negatif bila limbah tidak dikelola dengan baik menurut Utami
(2013) :
Pengolahan limbah yang kurang baik akan memberikan dampak negatif,
seperti :
1. Menjadi tempat berkembangbiaknya kuman penyakit/vektor penyakit;
2. Menyebabkan gangguan kesehatan seperti sesak nafas, insomnia maupun
3.
4.
5.
6.
7.
8.

stres;
Lingkungan menjadi kotor, bau, saluran air tersumbat, banjir;
Lingkungan menjadi tidak indah dipandang;
Menurunkan minat orang datang ketempat tersebut;
Menaikkan angka kesakitan bagi masyarakat;
Membutuhkan dana besar untuk membersihkan lingkungan;
Menurunkan pemasukan pendapatan daerah karena kurangnya wisatawan
yang berkunjung.

2.2. Pengertian dan Kandungan Soft Drink


Minuman ringan termasuk dalam kategori pangan. Adapun pengertian minuman ringan
(soft drink) berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia No. HK.00.05.52.4040 tentang Kategori Pangan adalah minuman yang tidak
mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair
dengan terdapat kandungan bahan makanan dan bahan tambahan lainnya baik alami
maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi (Soenarno, 2011)
Jenis-jenis kandungan yang terdapat dalam soft drink menurut Australian Beverages Council
(2004) meliputi:
a. Carbonated water (air soda)
14

Air soda merupakan kandungan utama yang terdapat dalam soft drink yaitu sekitar
86%. Air soda berperan sebagai salah satu sumber air pada tubuh manusia. Di dalam
air soda, terdapat kandungan gas berupa karbon dioksida (CO2).
b. Bahan pemanis
Rasa manis yang terdapat dalam soft drink dapat berasal dari sukrosa atau pemanis
buatan. Sukrosa merupakan perpaduan antara fruktosa dan glukosa yang termasuk
dalam karbohidrat. Jumlah sukrosa yang terdapat dalam soft drink sekitar 10%.
Pemanis buatan yang sering dipakai dalam soft drink ialah aspartam. Aspartam
dibentuk dari perpaduan asam aspartat dengan fenilalanin dan bersifat 200 kali lebih
manis dari gula sehingga hanya sedikit jumlah aspartam yang terkandung dalam soft
drink.
c. Bahan perasa
Bahan perasa terdiri dari bahan perasa alami dan bahan perasa buatan. Bahan perasa
alami berasal dari buah-buahan, sayuran, kacang, daun, tanaman herbal, dan bahan
alami lainnya. Bahan perasa buatan digunakan agar soft drink memberi rasa yang
lebih baik.
d. Asam
Asam berperan dalam menambah kesegaran dan kualitas pada soft drink. Asam yang
dipergunakan yaitu asam sitrat dan asam fosfor.

e. Kafein
Kafein berperan dalam meningkatkan rasa yang terkandung dalam soft drink. Kafein
yang terkandung dalam soft drink berjumlah sampai dari jumlah kafein yang
terkandung dalam kopi.
f. Pewarna
Pewarna bersamaan dengan gas CO2 merupakan bagian dari karakteristik soft drink.
Pewarna terdiri dari pewarna alami dan pewarna buatan yang dapat digunakan.

15

Gambar 1. Contoh Minuman Ringan atau Soft Drinks


2.3. Jenis-Jenis Limbah pada Industri Soft Drink
Limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi. Jenis-jenis limbah bermacam-macam, dari zat pembentuknya, bentuk fisiknya
dan sifat berbahayanya. Berdasarkan bentuknya limbah pada industri soft drink dapat
diklasifikasikan menjadi:
2.3.1. Limbah Padat
Limbah padat industri, adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, atau
bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat yang dihasilkan
dari pembuatan soft drink pada PT. Coca-Cola Amatil Indonesia (Putri, 2012)
antara lain :
1. Kemasan botol yang rusak atau pecah
2. Sedotan
3. Crawn cap
4. Closure Preform
5. Kemasan bahan baku dan bahan penunjang
6. Barang-barang bekas dari kegiatan lainnya (seperti bekas mesin produksi,
pompa, ban bekas dan sampah padat lainnya)
Limbah padat di atas, akan dikumpulkan dan dibuang oleh pihak ketiga yang
ditunjuk oleh Pemerintah Daerah setempat untuk didaur ulang. Sedangkan
sampah domestik yang ditampung di tempat penampungan sementara akan
diambil oleh pihak ketiga untuk disalurkan ke tempat penampungan sampah
terakhir. (Putri, 2012)
2.3.2. Limbah Cair
16

Sumber limbah cair utama dari industri minuman ringan adalah proses pencucian
botol, karena pabrik minuman ini biasanya memanfaatkan botol bekas. Proses ini
dilakukan dengan menggunakan deterjen dan larutan soda kostik yang kadang
terintegrasi dalam pabrik pembuatan minuman ringan tersebut. Selain itu, limbah
cair juga dapat berasal dari ceceran atau tumpahan sirup dan cairan lainnya
selama proses pengadukan, pembotolan, dan pengalengan, pembersihan tangki,
aliran pengisian bahan baku, atau peralatan proses dan lantai (Farmasi, 2011).
a) Karakteristik Fisis Limbah Cair menurut Farmasi (2011),
antara lain:
1. Kekeruhan
Kekeruhan dalam limbah cair disebabkan oleh tingginya kandungan
padatan tersuspensi (TSS) dalam limbah. Limbah yang dihasilkan
pabrik minuman ringan memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi
tetapi kandungan bahan organiknya lebih tinggi. Beban terbesar TSS
total berasal dari pencucian botol dan pemeliharaan kebersihan pabrik
yang kurang baik.
2. Warna
Warna pada limbah cair minuman ringan berasal dari penambahan
sirup sebagai konsentrat pemberi rasa. Akan tetapi, karena kadarnya
cukup rendah dan seringkali bahan pewarna pun digunakan pewarna
alami yang berasal dari sari buah-buahan, maka parameter warna ini
tidak terlalu menjadi masalah dalam pengolahan limbah cair industri
minuman ringan.
3. Suhu
Limbah panas yang dihasilkan berasal dari air proses pencucian botol.
Perbedaan suhu yang dihasilkan pada limbah, meskipun lebih tinggi
dari air limbah dalam keadaan normal tetapi melalui proses
pendinginan secara alami dapat menurunkan suhu air limbah, sehingga
tidak diperlukan suatu alat penurun suhu mekanis.
4. Daya Hantar Listrik
Daya Hantar Listrik menyatakan banyaknya ion-ion yang terkandung
dalam suatu air buangan atau air sungai. Nilai konduktivitas pada
limbah cair industri minuman ringan (limun) relatif rendah, karena
17

dalam proses pembuatannya sendiri tidak banyak menggunakan


larutan-larutan elektrolit, sebagian besar komposisi produk adalah air
dan gula.
b) Karakteristik Kimiawi Limbah Cair
1. Biochemical Oksigen Demand (BOD) adalah jumlah oksigen terlarut
yang dibutuhlan oleh organisme hidup untuk memecah atau
mengoksidasi bahan-bahan buangan didalam air. Jika konsumsi
oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen
terlarut, berarti kandungan polutannya organiknya tinggi.
2. Chemical Oksigen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat
dalam air, secara kimia.
3. Senyawa Organik dan Anorganik
Senyawa organik terdiri dari karbon dengan unsur O, N, P, S, H.
Sedangkan senyawa anoranik terdiri atas unsur lain yang bukan
tersusun dari karbon organik. Unsur-unsur yang terdapat dalam jumlah
banyak akan bersifat toksik dan menghalangi proses-proses biologis.
4. Keasaman Air (pH).
Keasaman air diukur dengan pH meter. Keasaman ditetapkan
berdasarkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air.
Limbah cair yang mempunyai pH tinggi atau rendah dapat
mempengaruhi organisme dalam air. Air yang mempunyai pH rendah
(pH<7) membuat air menjadi korosif terhadap bahan konstruksi besi
yang kontak dengan air. Limbah cair dengan keasaman tinggi
bersumber dari buangan yang mengandung asam seperti air pembilas
pada pabrik kawat atau seng.
5. Alkalinitas (basa) nilai pH tinggi, ph>7
Tinggi rendahnya alkalinitas ditentukan senyawa karbonat, garamgaram hidroksida, kalsium, magnesium, natrium dalam air. Kesadahan
dalam air disebabkan oleh tingginya kandungan zat-zat tersebut.
Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air berbuih.
6. Oksigen Terlarut
Oksigen telarut berlawanan dengan BOD, semakin tinggi BOD
semakin rendah oksigen terlarut. Kemampuan air untuk mengadakan
18

pemulihan secara alami benyak tergantung pada tersedianya oksigen


terlarut.
Tabel 1. Parameter kimiawi limbah cair pada PT. Coca-Cola Amatil
Indonesia

Sumber : Putri, 2012


c) Karakteristik Sifat Bioligis Limbah Cair
Sifat biologis meliputi mikroorganisme yang ada dalam limbah cair.
Mikroorganisme ini memiliki jenis yang bervariasi, hampir dalam semua
bentuk air limbah dengan konsentrasi 105 - 108 organisme/ml yang
utamanya merupakan Protista. Mikroorganisme yang ditemukan banyak
dalam bentuk sel tunggal yang bebas atau berkelompok dan mampu
melakukan proses-proses kehidupan. Bahan-bahan organik yang terdapat
dalam air akan diubah oleh mikroorganisme menjadi senyawa kimia yang
sederhana, sehingga dekomposisi zat-zat tersebut dalam jumlah besar akan
menimbulkan bau busuk. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air
limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis dan penting untuk
mengevaluasi kualitas air.
2.4. Proses Penanganan Limbah Industri Soft Drink
Limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi. Jenis-jenis limbah bermacam-macam, dari zat pembentuknya, bentuk fisiknya
19

dan sifat berbahayanya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan limbah yang
mempunyai tujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan
lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatkan kemampuan dan
fungsi kualitas lingkungan.
Penanganan limbah pada industri soft drink berbeda berdasarkan jenis limbah yang
dihasilkan pada proses industri tersebut. Dalam industri minuman soft drink limbah yang
dihasilkan dan proses penanganannya yaitu sebagai berikut :
2.4.1. Limbah Padat
Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara
yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah padat
dengan pengolahan. Limbah padat tanpa pengolahan yaitu limbah padat yang
tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung
dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Menurut Arief (2012), dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat
empat proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan
pembuangan limbah.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbeda dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem Balistik. adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan
keseragaman ukuran/berat/volume,
Sistem Gravitasi, adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat
misalnya barang yang ringan/terapung dan barang yang berat/tenggelam,
Sistem Magnetis, adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet
yang bersifat magnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk
memisahkan campuran logam dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil
agar pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk
sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
20

Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan


disamakan ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan di laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada
sembarang tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah
padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan :
Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan,
Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal,
Laut menjadi dangkal,
Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan
berbahaya dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan di darat atau tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang
harus dipertimbangkan sebagai berikut :

Pengaruh iklim, temperatur dan angin,

Struktur tanah,

Jaraknya jauh dengan permukiman,

Pengaruh terhadap sumber lain, perkebunan, perikanan,


peternakan, flora.

Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan
berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian
dibuang dan dibakar.
Perlakuan limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis, menurut Arief (2012),
sebagian besar dilakukan sebagai berikut:
1. Ditumpuk pada Areal Tertentu
Penimbunan limbah padat pada areal tertentu membutuhkan areal yang luas
dan merusakkan pemandangan di sekeliling penimbunan. Penimbunan. ini
mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di sekitarnya, karena
21

adanya reaksi kimia yang rnenghasilkan gas tertentu. Dengan penimbunan,


permukaan tanah menjadi rusak dan air yang meresap ke dalam tanah
mengalami kontaminasi dengan bakteri tertentu yang mengakibatkan
turunnya kualitas air tanah.Pada musim kemarau timbunan mengalami
kekeringan dan ini mengundang bahaya kebakaran.
2. Pembakaran
Limbah padat yang dibakar menimbulkan asap, bau dan debu. Pembakaran
ini menjadi sumber pencemaran melalui udara dengan timbulnya bahan
pencemar baru seperti ,hidrokarbon, karbon monoksida, bau, partikel dan
sulfur dioksida.
3. Pembuangan
Pembuangan tanpa rencana sangat membahayakan lingkungan. Di antara
beberapa pabrik membuang limbah padatnya ke sungai karena diperkirakan
larut ataupun membusuk dalam air. Ini adalah perkiraan yang keliru, sebab
setiap pembuangan bahan padatan apakah namanya lumpur atau buburan,
akan menambah total solid dalam air sungai.
Disamping itu limbah padah sisa hasil produksi minuman soft drink dapat
dimanfaatkan kembali, berikut akan dijelaskan pemanfaatan limbah padat sisa
produksi industri soft drink diantaranya adalah :
1) Teknologi pengolahan sampah untuk menjadi energi listrik. Tahapan
pengolahannya yaitu:
Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas (proses konversi
thermal).
Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk merubah air menjadi
uap dengan bantuan boiler.
Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar bilah turbin.
Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros.
Generator menghasilkan listrik dan listrik dialirkan kerumah - rumah
atau ke pabrik.

22

Didalam inserator sampah dibakar. Panas yang dihasilkan dari hasil


pembakaran digunakan untuk merubah air menjadi uap bertekanan tinggi.
Uap dari boiler langsung ke turbin, dan sisa pembakaran seperti debu
diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan (truk mengangkut
sisa proses pembakaran) (Arief, 2012).

Gambar 2. Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Biroe, 2012)


2) Daur Ulang
Biasanya entrepreneur yang bekerja mengolah limbah kaleng bekas ini
menghasilkan beberapa produk souvenir atau cinderamata sebagai produk
kerajinan tangan. Namun bagi yang bekerja dengan mesin umumnya
menghasilkan bahan baku pembuatan souvenir seperti mangkok depan
sebuah pin. Di tangan-tangan kreatif inilah limbah kaleng bisa dibuat
menjadi tempat pensil, asbak, kav lampu, vas bunga, serta berbagai miniatur
cantik yang berharga ekonomis tinggi. Usaha kreatif dalam pengolahan
limbah kaleng bisa dilakukan dalam sekala kecil, bahkan rumah tangga.
Peralatan yang digunakanpun cukup sederhana sebagai benda modal dengan
nilai investasi kecil seperti gunting plat, tang penjepit, pingset jepit, lem, cat,
kuas, dan lain sebagainya. Namun dari keterampilan tangan inilah lahir
produk-produk

yang

mampu

menarik

perhatian

dengan

berbagai

keunikannya (Susanty, 2012).


3) Pembuatan tawas dengan menggunakan kaleng bekas minuman
Pembuatan tawas dilakukan dengan menambahkan kaleng yang telah
dipotong kecil-kecil dengan KOH 20% dan terbentuk gas H2 yang ditandai
23

dengan munculnya gelembung-gelembung gas. Pada tahap ini, dilakukan


pemanasan untuk mempercepat reaksi sehingga gelembung-gelembung gas
hilang setelah semua aluminium bereaksi dan larutannya berubah menjadi
warna hitam. Setelah itu disaring dan filtrat yang diperoleh ditambahkan
Accu zur sebanyak 30 ml sambil diaduk, kemudian disaring untuk
menghilangkan pengotor-pengotornya. Penambahan H2SO4 membentuk
Al(OH)3 bersama-sama dengan K[Al(OH)4], namun setelah berlebih H2SO4
melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3 berupa larutan bening tak berwarna.
Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4]
dapat bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan
H2SO4. Untuk mempercepat terbentuknya kristal, larutan didinginkan dalam
es. Setelah kristal alum (tawas) sudah terbentuk maka dicuci dengan 20 ml
larutan etanol 50% yang bertujuan untuk menyerap kelebihan air dan
mempercepat pengeringan. Setelah itu, dikeringkan dalam oven, kemudian
ditimbang berat tawas yang diperoleh.
2.4.2. Limbah Cair
Limbah cair (kecuali air hujan) yang berasal dari proses bottling line, syrup
room (tanki sanitasi), dan water treatment dan waste water treatment (back wash
dan regenerasi) ditampung dan ditangani dengan cara membuat suatu Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi pabrik. Sebagai contoh IPAL (Instalasi
Pengolahan Air Limbah) untuk menangani limbah cair pada industri soft drink di
PT Sinar Sosro Ungaran, yaitu :
a) Pre-treatment adalah pengolahan awal limbah cair yang baru dibuang dari
pabrik sebelum memasuki proses tahapan utama. Pada pabrik ini, proses
pre-treatment dilakukan secara anaerobic. Berikut tahapan pengolahan awal
tersebut:
1. Screen press
Alat ini digunakan untuk menyaring, menyeleksi dan membuang kotoran dan
padatan, seperti sampah pabrik, pipet, kertas, dan sebagainya dari limbah.
2. Sump pit
Sump pit adalah bak penampung sementara limbah dari screen press yang
memiliki 2 unit pompa (influent pump) yan bertugas memompakan limbah ke
bak equalisasi.
3. Cooling tower
24

Limbah cair yang masuk ke bak equalisasi oleh unit ini didinginkan terlebih
dahulu dengan menggunakan cooling tower, sehingga kalor pada limbah
tersebut berpindah ke udara.

Gambar 3.
Cooling tower
4. Bak equalisasi dan agitator
Bak ini adalah tempat homogenisasi kualitas dan kuantitas air limbah
yang masuk ke dalam bak, serta tempat untuk prosesasi difikasi
melalui fermentasi. Untuk mempercepat homogenisasi digunakan
agitator. Penambahan nutrisi juga dilakukan untuk makanan bakteri,
yaitu pupuk urea (sumber nitrogen) dan pupuk super phosphate
(sumber fosfat).

25

Gambar 4. Bak Equalisasi


5. Limbah
Limbah dari bak equalisasi di pompakan di MUR (Methane Upilow
Reactor) setelah melalui 2 tahap yaitu penetralan pH limbah dan tahap
homogenisasi.

b) Pengolahan Limbah secara aerobic, yaitu:


1. Bak Aerasi
Limbah yang keluar dari proses anaerobik memiliki kualitas limbah
yang begitu baik, sehingga bak ini terjadi proses penyempurnaan.
Limbah mengalami pengolahan oleh bakteri lumpur aerob, dimana
bakteri pengolah materi-materi sisa yang terbiodegradasi pada proses
aerobic menjadi CO2 dan sel bakteri baru.

Gambar 5. Kolam aerasi (Yanda, 2009)


2. Final clarifier

26

Pada bak ini prosesnya adalah pengendapan dimana activated sludge


dipisahkan dari air limbah yang bersih, lumpur aktif yang mengendap
disirkulasi ke bak aerasi, ataupun bila di perlukan disirkulasi kembali
ke bak equalisasi. Kotoran-kotoran yang melayang tersapu masuk ke
bak effluent untuk di buang, sementara itu, air limbah bersih mengalir
secara overflow ke kolam indikator.

Gambar 6. Clarifier (Budi, 2011)


3. Kolam indikator
Pada kolam ini diisikan dengan ikan sebagai indicator kualitas air.
Setelah dialirkan ke kolom indikator, air dibuang ke saluran
pembuangan seperti selokan atau sungai. Dari proses tersebut dapat
terlihat sesuai lampiran bahwa air yang kotor dibuang kembali ke alam
dalam keadaan bersih dengan proses pengolahan yang baik.

27

Gambar 7. Kolam Indikator (Nurmilasari, 2010)

Secara umum, proses pengolahan limbah cair dapat digambarkan sebagai


berikut:

28

Penjelasan Proses-proses diatas :


Limbah cair (kecuali air hujan) yang berasal dari bottling line, syrup room
(tanki sanitasi), dan water treatment dan waste water treatment (back wash dan
regenerasi) ditampung di dalam screen press yang fungsinya untuk memisahkan
kotoran-kotoran seperti sampah, plastik, sedotan dan lain sebagainya. Selanjutnya
setelah disaring melalui screen press, limbah tersebut di tampung dalam sump pit
yang kemudian di tampung lebih lanjut dalam bak ekualisasi lama (Putri, 2012)
Kemudian limbah cair tadi dialirkan menuju Bak Aerasi yang berjumlah 2
buah bak dengan kapasitas 50 m3 dan bersekat 5 buah untuk memisahkan lemak
dan minyak. Lemak dan minyak yang memiliki berat jenis lebih rendah dari air
akan tertahan di permukaan, sedangkan air limbahnya akan berada di bagian
bawah yang selanjutnya di pompa menuju ke bak equalisasi basin (Putri, 2012).
Bak equalisasi basin yang memiliki volume 500 m 3 berfungsi untuk
menghomogenisasikan dan menetralisir air limbah sebelum pengolahan lebih
lanjut. Proses penetralisir air limbah ini menggunakan soda kasutik dengan
konsentrasi 98% sehingga pH air menjadi 6,58. Bak equaliasasi ini dilengkapi
dengan aerator summersibel yang fungsinya untuk peraerasi air limbah agar air
limbah tersebut tidak mempunyai fluktuasi kualitas yang besar sehingga
memudahkan pengolahan selanjutnya, air limbah di homogenkan dan diaerasikan
menggunakan aliran turbulen. Kemudian air limbah tersebut dialirkan menuju bak
oxidation ditch (Putri, 2012).
Bak oxidation ditch yang memiliki volume 1600 m 3 berfungsi untuk
menguraikan zat-zat organik yang berada dalam air limbah dengan menggunakan
Lumpur aktif dan bakteri aerobik (berespirasi menggunakan oksigen). Bakteri
tersebut yaitu jenis Escherichia coli, Staphillococcus, pseudomonas sp dan
Acetobacter. Untuk mempercepat pertumbuhan bakteri ditambahkan Urea pada
bak equalisasi. Bak equalisasi dilengkapi dengan dua buah aerator yang berfungsi
agar bakteri dapat kontak dengan air limbah secara optimal, agar semua Lumpur
29

dapat tercampur dengan air limbah secara merata dan membantu tersuplainya
oksigen untuk pertumbuhan bakteri (Putri, 2012).
Air limbah selanjutnya di alirkan menuju bak clarifier yang memiliki volume
300 m3. Bak clarifier ini berfungsi untuk memisahkan lumpur aktif yang ikut
terbawa dari oxidation. Lumpur aktif ini akan diendapkan dan dikumpul dibawah
centre well oleh scrapper yang terdapat di bak clarifier, sedangkan air akan
mengalir secara over flow menuju ke saluran selanjutnya (Putri, 2012).
Limbah cair dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam
(Acidic) ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang ke
badan air maupun sebelum limbah masuk pada proses pengolahan, baik
pengolahan secara biologi maupun secara kimiawi, proses netralisasi tersebut
dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan
secara biologi, pH perlu dijaga pada kondisi antara pH 6,5-8,5, karena sebagian
besar microba aktif atau hidup pada kondisi pH tersebut. Netralisasi adalah
penambahan basa (alkali) pada limbah yang bersifat asam (pH 7) (Putri, 2012).
Lumpur yang telah berkumpul dimasukkan ke dalam sludge collector oleh alat
return sludge dan disirkulasikan kembali menuju ke bak oxidation ditch. Tetapi
jika lumpur tersebut sudah tidak bisa di uraikan kembali maka akan dialirkan
menuju drying bed. Lumpur yang berada di drying bed akan dikeringkan dan
tertahan di bagian permukaan dengan bantuan sinar matahari yang selanjutnya
akan dibuang. Sedangkan air yang masih terkandung dalam lumpur akan
disirkulasikan kembali ke bak equalization setelah pemeriksaan di control bed
(Putri, 2012).
Air yang mengalir secara over flow dari bak clarifier ada yang dialirkan
menuju sand filter untuk dijernihkan dari kotoran dan lumpur, kemudian dialirkan
menuju zeolit filter atau sand filter, kemudian air ditampung di recycled tank yang
berkapasitas 1500 L, air di recycled kemudian dialirkan menuju tanki carbon
filter yang berkapasitas 1000 L untuk menyaring kotoran-kotoran pada air, air
30

setelah melewati carbon filter tank selanjutnya ditampung di pressure tank,


kemudian air dari pressure tank dilakukan pelunakan di softener tank, air yang
telah dilakukan pelunakkan selanjutnya dialirkan melalui pipa yang terbagi
menjadi dua pipa, pipa pertama dialirkan menjadi general use sebagai kebutuhan
air di toilet, taman, mesjid, dan air pembersih mobil dan forklift. Adapula yang
langsung dialirkan menuju sungai setelah melewati Kolam indikator (kolam ikan),
sedangkan pipa yang kedua dialirkan untuk proses resin penukar ion yang
selanjutnya dialirkan menuju boiler (Putri, 2012).
Penanganan limbah cair pada industri minuman ringan (Soft Drink) memiliki
nilai baku mutu untuk standart limbah yang boleh dibuang ke lingkungan, nilai
baku mutu ini menjadi suatu persyaratan limbah dan dinilai aman untuk dibuang
ke lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Tabel 2. Baku Mutu Air Limbah Industri Minuman Ringan (Soft Drink)

Sumber : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1995.

2.5. Dampak Limbah pada Industri Soft Drink


Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi bentuk yang siap dikonsumsi terjadi
pula hasil sampingan berupa sampah atau limbah, baik berupa cair, padat maupun gas. Hal
ini wajar terjadi karena dalam setiap perubahan dari satu bentuk materi menjadi bentuk
lainnya tidak pernah terjadi perubahan yang efisien, selalu ada sisa yang disebut limbah.
Semua limbah ini akan dikembalikan ke lingkungan.
31

Para pelaku industri atau pelaku ekonomi yang kurang peduli pengelolaan lingkungan
yang yang akan meberikani dampak terhadap kesehatan dan terhadap lingkungan adalah
sebagai berikut :
2.5.1. Dampak terhadap kesehatan
Dampaknya yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi
bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a) Penyakit diare, penyakit ini terjadi karena mikroba yang berasal dari sampah
dengan pengelolaan yang tidak tepat.
b) Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap (Arief, 2012)

2.5.2. Dampak terhadap lingkungan


Cairan dari limbah-limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya
sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati sehingga
mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga mengkonsumsi
atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga menusia akan terkena
dampak limbah.baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain mencemari,
air lingkungan juga menimbulkan banjir karena banyak orang-orang yang
membuang limbah.rumah tangga ke sungai, sehingga pintu air mampet dan pada
waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air naik menggenangi rumahrumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para penduduk (Arief, 2012).
Pencemaran lingkungan yang berarti mengganggu kelestarian lingkungan akibat
turunnya kualitas air, tanah dan udara. Hampir sebagian besar industri minuman
ringan menyedot air tanah sebagai sumber bahan baku utama. Pengambilan air
tanah secara berlebihan dan tidak terkendali mengakibatkan antara lain :
a. Turunnya permukaan tanah
b. Peresapan air laut sehingga menyebabkan turunnya kualitas air tanah
Eksploitasi air tanah dalam jumlah tidak terkendali akan berpengaruh secara
langsung terhadap masyarakat sekitarnya yang menggunakan air tanah untuk
keperluan sehari-hari. Dampak lain adalah akibat limbah yang dihasilkan oleh
industri minuman ringan. Limbah cair yang berasal dari proses pencucian botol
karena pabrik minuman biasanya memanfaatkan kembali botol bekas. Sebagian
32

besar volume dari kandungan air alkalin panas mengandung padatan terlarut. Dan
juga limbah cair yang berasal dari ceceran/tumpahan sirup dan cairan lainnya
selama proses pengadukan, pembotolan/pengalengan, pembersihan tangki, aliran
pengisian bahan baku. Sumber limbah cair lainnya berasal dari sistem pengolahan
air untuk bahan baku air dan dari peralatan mesin-mesin/bengkel berupa oli,
minyak atau lemak. Keseluruhan limbah cair ini akan mengakibatkan turunnya
kualitas air tanah yaitu meningkatnya pH, padatan tersuspensi dan BOD (Hery,
2010).
Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun
kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan
oleh industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil
dari industri tersebut tidak diolah dengan baik pasti akan berdampak negatif pada
lingkungan hidup jika tidak ada pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya
limbah padat di dalam lingkungan hidup maka dapat menimbulkan pencemaran
seperti :
1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3),
methan(CH4), CO2 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat
ditimbun dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim
hujan dan kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri
penghancur dalam suasana aerob/anaerob.
2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk,
akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi
NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat
mengakibatkan mabuk dan pusing.
3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang
dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan
air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.
4) Kerusakan permukaan tanah. Dari sebagian dampak-dampak limbah padat
diatas, ada beberapa dampak limbah lain yang ditinjau dari aspek yang
berbeda secara umum. (Arief, 2012)

33

Gambar 10. Pencemaran Air Sungai (Dude, 2009)

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Minuman ringan (soft drink) berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.52.4040 tentang Kategori Pangan adalah
minuman yang tidak mengandung alkohol yang merupakan minuman olahan dalam bentuk
bubuk atau cair dengan terdapat kandungan bahan makanan dan bahan tambahan lainnya
baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk konsumsi. Kandungan
yang terdapat dalam soft drink menurut Australian Beverages Council (2004) meliputi
carbonated water (air soda), bahan pemanis, bahan perasa, asam, kafein, dan pewarna.
Jenis-jenis limbah yang dihasilkan dari industri minuman ringan (soft drink) berupa
limbah padat dan limbah cair. Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat
proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah. Bagi
limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara
lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar. Limbah
cair yang berasal dari proses bottling line, syrup room (tanki sanitasi), dan water treatment
dan waste water treatment (back wash dan regenerasi) ditampung dan ditangani dengan
cara membuat suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi pabrik. Hasil
limbah produksi minuman ringan di industri ini dapat berdampak pada kesehatan seperti

34

timbulnya penyakit dan lingkungan sekitar seperti pencemaran pada tanah maupun air, jika
tidak diolah dengan baik dan benar.
3.2. Saran
Dari pembuatan paper ini diharapkan pemerintah ikut serta dalam pemantauan atau
pengawasan pengolahan limbah industri soft drink secara terus-menurus. Hal ini berguna
untuk meminilasir adanya pencemaran atau dampak dari pengolahan limbah secara tidak
baik. Kemudian untuk paper ini masih jauh dari sempurna diharapkan untuk ke depannya
ada yang lebih menyempurnakan pengetahuan tentang pengolahan limbah industri soft
drink ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, L.M. 2012. Pengelolaan Limbah Padat di Industri. Universitas Esa Unggul.
Australian

Beverages

Council

.2004.

What

is

Soft

Drink?.

http://www.australianbevarages.org/scripts/cgiip.exe/WService=ASP0002/ccms.r?
PageId=10053. Diakses Pada 6 November 2015.
Biroe, Banyu. 2012. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Institut Teknologi Sepuluh November
Surabaya.
Budi.

2011.

Clarifier

untuk

Pengolahan

Air

Limbah.

http://itrademarket.com/PT_MitraMutualindo/3163052/clarifier-untuk-pengolahan-airlimbah.html. Diakses Pada 6 November 2015.


Dude. 2009. Pencemaran Air Sungai di Bandung. Universitas Telkom Bandung.
Farmasi.

2011. Pengolahan Limbah Industri Minuman (Sirup). Universitas Gajah Mada.

Yogjakarta.

35

Hery. 2010.

Dampak

Lingkungan Akibat

Konsumsi

Minuman

Ringan.

w.blogspot.com/2010/01/dampak-lingkungan-akibat-konsumsi.html.

http://hery-

Diakses

Pada

November 2015.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1995. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
Industri. Nomor: KEP-51/ MENLH/10/1995. Kementrian Negara Lingkungan Hidup :
Jakarta
Nurmilasari, 2010. Limbah Cair Industri. Shizuoka University. Jepang.
Prasetya, Dani. 2011. Industri minuman ringan makin bergairah. Koran
Kontan.co.id. Jakarta
Putri, A.D. 2012. Makalah Pengantar Teknik Industri

PT. Coca-Cola Amatil Indonesia.

Universitas Islam Bandung. Jawa Barat.


Soenarno, S.M. 2011. Pengelolaan Limbah. Materi Pendidikan Konservasi Alam Bagi Guru
Sekolah Dasar di Sekitar Balai Taman Nasional Alas Purwo. The Indonesian Wildlife
Conservation Foundation (IWF): Jakarta.
Susanty, Idha. 2012. Peluang Usaha Souvenir Berbahan Limbah Kaleng
Bekas.

http://www.blogged.my/pingbar-494866-peluang-usaha-

souvenir-berbahan-limbah-kaleng-bekas.html.

Diakses

Pada

November 2015.
Utami, Subardo. 2013. Pengolahan dan Penanganan Limbah. SMK Negeri 7 Semarang.
Yanda, 2009. Pengolahan Limbah. Universitas Andalas. Padang.

36