Anda di halaman 1dari 7

AntiStreptolisinO(ASO)

Streptokokus grup A (Stretokokus beta hemolitik) dapat menghasilkan berbagai produk


ekstraseluler yang mampu merangsang pembentukan antibodi. Antibodi itu tidak
merusak kuman dan tidak mempunyai dampak perlindungan, tetapi adanya antibodi itu
dalam serum menunjukkan bahwa di dalam tubuh baru saja terdapat streptokokus yang
aktif. Antibodi yang dibentuk adalah : antistreptolisin O (ASO), antihialuronidase (AH),
antistreptokinase (anti-SK), anti-desoksiribonuklease B (AND-B) , dan anti nikotinamid
adenine dinukleotidase (anti-NADase)
Tes ASO paling banyak digunakan; hasil tes ini positif pada 80% faringitis streptokokus;
presentasi ini lebih rendah pada infeksi kulit. ASO muncul kira-kira 1-2 minggu setelah
infeksi streptokokus akut, memuncak 3-4 minggu setelah awitan, dan tetap tinggi selama
berbulan-bulan. Kadar ASO menurun sampai kadar sebelum sakit dalam waktu 6-12
bulan. ASO positif juga sering dijumpai pada glomerulonefritis, demam rematik,
enokarditis bakterial, dan scarlet fever. Banyak anak usia sekolah memiliki kadar titer
ASO yang lebih tinggi daripada anak usia pra sekolah dan dewasa.
Tes ASO yang tinggi (tunggal) memberi kesan adanya infeksi streptokokus yang baru
lewat atau sedang berjalan.
Nilai Rujukan
DEWASA : <>
ANAK : Bayi baru lahir : sama dengan dosis ibunya, Usia 2 5 tahun : < style="font-style:
italic;">Usia 12 19 tahun
Masalah Klinis
PENURUNAN KADAR : pengaruh obat (antibiotic)
PENINGKATAN KADAR : demam rematik akut, glomerulonefritis akut, infeksi
streptokokus pada saluran pernapasan atas, arthritis rheumatoid (kadarnya agak naik),
penyakit hati disertai dengan hiperglobulinemia, penyakit kolagen (kadarnya agak naik).
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Terapi antibiotik dapat menurunkan respon antibodi,
Peningkatan kadar dapat terjadi pada orang sehat.
Baca Juga Yang Ini
Tes Imuno-serologi
Antibodi Antikardiolipin (ACA)
Anti-Nuclear Antibodies (ANA)
Anti HBs
Antigen Permukaan Hepatitis B (HBsAg)
Antibodi Virus Hepatitis A (Anti HAV)
Profil Hepatitis
Faktor Reumatoid
Protein C-reaktif

ProfilHepatitis
Lima jenis virus hepatitis yang dapat dideteksi dengan uji laboratorium, yaitu : virus
hepatitis A (hepatitis A virus, HAV), virus hepatitis B (hepatitis B virus, HBV), virus
hepatitis C (hepatitis C virus, HCV), virus hepatitis D (hepatitis D virus, HDV), dan virus

hepatitis E (hepatitis E virus, HEV). Virus hepatitis dapat dideteksi dengan pengujian
antigen serum, antibodi, DNA, RNA, dan/atau immunoglobulin (IgG dan IgM).
Perbedaan virus-virus hepatitis berdasarkan metode transmisi, masa inkubasi,; ikterik,
fase akut dan kronis dari penyakit, status carrier, imunitas, dan laju mortalitas adalah
sebagai berikut :
Virus Hepatitis A (HAV)
Virus hepatitis A terutama ditransmisikan lewat kontak fekal-oral. Ikterik merupakan tanda
awal HAV yang dapat terjadi beberapa hari setelah infeksi virus dan dapat berlangsung
selama 12 minggu. Antibodi terhadap HAV, yaitu IgM anti HAV dan IgG anti-HAV
digunakan untuk mengkonfirmasi fase infeksi hepatitis A. IgM anti-HAV mengindikasikan
fase akut infeksi (infeksi sedang berlangsung); muncul di awal infeksi dan menghilang
dalam 2-3 bulan. IgG anti-HAV muncul lebih lambat dan mengindikasikan fase
pemulihan, pasca infeksi, atau imunitas. Sekitar 45-50 % penderita HAV dapat memiliki
IgG anti-HAV yang menetap seumur hidupnya.
Virus Hepatitis B (HBV)
Virus hepatitis B jga disebut hepatitis serum. Terdapat berbagai uji serologik untuk
mendiagnosis HBV dan untuk mengetahui daya tular serta prognosis penderita. Uji-uji
yang tersedia secara komersial meliputi pemeriksaan antigen permukaan hepatitis B
(hepatitis B surface antigen, HBsAg), antibodi HBsAg (anti-HBs), antibodi inti hepatitis B
(anti HBc), antibodi IgM spesifik inti hepatitis B (IgM anti HBc), antigen e hepatitis B
(HBeAg), antibodi e hepatitis B (anti-HBe).
Antigen permukaan hepatitis (HBsAg)
Indikator paling awal untuk mendiagnosis infeksi virus hepatitis B adalah antigen
permukaan hepatitis B (HBsAg). Penanda serum ini dapat muncul sekitar 2 minggu
setelah penderita terinfeksi, dan akan tetap ada selama fase akut infeksi sampai
terbentuk anti-HBs. Jika penanda serum ini tetap ada selam 6 bulan, hepatitis dapat
menjadi kronis dan penderita dapat menjadi carrier. Vaksin hepatitis B tidak akan
menyebabkan HBsAg positif. Penderita HBsAg positif tidak boleh mendonorkan darah.
Antibodi antigen permukaan hepatitis B (anti-HBs)
Fase akut hepatitis B biasanya berlangsung selama 12 minggu, oleh karena itu HBsAg
tidak didapati dan terbentuk anti-HBs. Penanda serum ini mengindikasikan pemulihan
dan imunitas terhadp virus hepatitis B. IgM anti-HBs akan menentukan apakah penderita
masih dalam keadaan infeksius. Titer anti-HBs >10 mIU/ml dan tanpa keberadaan
HBsAg, menunjukkan bahwa penderita telah pulih dari infeksi HBV.
Antigen e hepatitis B (HBeAg)
Penanda serum ini hanya akan terjadi jika telah ditemukan HBsAg. Biasanya muncul 1
minggu setelah HBsAg ditemukan dan menghilang sebelum muncul anti-HBs. Jika
HBeAg serum masih ada setelah 10 minggu, penderita dinyatakan sebagai carrier kronis.
Antibodi antigen HBeAG (anti-HBe)
Bila terdapat anti-HBe, hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pemulihan dan
imunitas terhadap infeksi HBV.
Antibodi antigen inti (anti-HBc)
Anti HBc terjadi bersamaan dengan temuan HBsAg positif kira-kira 4-10 minggu pada
fase HBV akut. Peningkatan titer IgM anti-HBc mengindikasikan proses infeksi akut. AntiHBc dapat mendeteksi penderita yang telah terinfeksi HBV. Penanda serum ini dapat
tetap ada selama bertahun-tahun, dan penderita yang memiliki anti-HBc positif tidak
boleh mendonorkan darahnya.
Pemeriksaan anti-HBc dan IgM anti-HBc sangat bermanfaat untuk mendiagnosis infeksi
HBV selama window period antara hilangnya HBsAg dan munculnya anti-HBs.
Virus Hepatitis C (HCV)
Istilah HBC sebelumnya dikenal dengan sebutan hepatitis non-A non-B. Virus ini
ditransmisikan secara parenteral. Kasus ini lebih sering terjadi pada kasus pasca
transfusi, tetapi juga perlu dipertimbangkan pada ketergantungan obat, tusukan jarum,
hemodialisis, dan hemophilia. Kira-kira setengah dari kasus HCV akut menjadi carrier
kronis.
Antibodi virus hepatitis C (anti-HCV) : HCV dikonfirmasi dengan uji anti-HCV. Anti-HCV
tidak mengindikasikan imunitas seperti yang dihasilkan oleh anti-HBs dan anti-HBe.
Virus Hepatitis D (HDV)
Virus hepatitis D (delta) adalah suatu virus cacat yang hanya dapat menginfeksi
penderita yang sudah mengalami infeksi HBV aktif. Virus ini ditransmisikan secara
parenteral. Virus ini diselubungi oleh HBsAG, dan bergantung pada HBV untuk terjadinya

replikasi. Infeksi HDV biasanya berat dan terjadi 7-14 hari setelah infeksi HBV yang akut
dan parah. Infeksi HDV ini memiliki angka kejadian yang rendah, kecuali pada
penyalahgunaan obat intravena, dan penderita yang menerima transfusi ganda. Infeksi
HDV timbul sebagai fase akut HBV atau sebagai carrier kronis infeksi HBV. Dari semua
jenis infeksi hepatitis, HDV merupakan hepatitis fulminas serta menimbulkan angka
kematian yang tinggi.
Antigen Hepatitis D (HDAg) : Deteksi HDAg dan HDV-RNA mengindikasikan fase akut
HBV dan infeksi HDV. Ketika HBsAg hilang diikuti HDAg, anti-HDV timbul kemudian dan
dapat mengindikasikan hepatitis D kronis.
Virus Hepatitis E (HEV)
HEV ditransmisikan secara fekal-oral dan bukan parenteral. Hepatitis E terjadi akibat
meminum air yang tidak bersih dan juga saat bepergian ke daerah Meksiko, Rusia, India,
atau Afrika. Antibodi terhadap hepatitis E (anti-HEV) digunakan untuk mendeteksi infeksi
hepatitis E.
Dihimpun dari :
Kee, Joyce LeFever, 2007, alih bahasa : Sari Kurnianingsih et.al., Pedoman
Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik, edisi 6, EGC, Jakarta.
Sacher, Ronald A. & Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U. Pendit & Dewi
Wulandari, 2004, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi 11, EGC,
Jakarta.
Widmann, Frances K., alih bahasa : S. Boedina Kresno, dkk., 1992, Tinjauan Klinis Atas
Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC, Jakarta.

AntibodiVirusHepatitisA(AntiHAV)

Virus hepatitis A merupakan Enterovirus RNA berukuran 27


nm, bentuk kubus dan simetris. Penyakit hepatitis A dulu dinamakan hepatitis infeksiosa
atau hepatitis berinkubasi pendek. Penularan virus hampir selalu melalui jalur fekal-oral.
Masa inkubasi untuk HAV biasanya 2-6 minggu. HAV tidak tidak berhubungan dengan
penyakit hati kronis.

Diagnosis hepatitis A dibuat atas pengamatan klinis dan laboratorium. Penderita lesu,
anoreksia, demam dan mual. Aminotransferase dan bilirubinemia hampir selalu ada;
fosfatase alkali dan bilirubin direk sering tinggi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan uji
serologis.

IgM anti-HAV bermanfaat untuk mendiagnosis infeksi sedang terjadi. IgM anti-HAV
muncul pada awal infeksi dan menghilang dalam 2 sampai 3 bulan. IgG anti-HAV timbul
pada masa pasca infeksi atau pemulihan (>4 minggu), dan biasanya menetap sumur
hidup. Pemeriksaan untuk anti-HAV total sebaiknya digunakan untuk menyaring infeksi
lama dan pembuktian adanya imunitas pada orang yang mengunjungi daerah berisiko
tinggi atau melakukan pekerjaan berisiko tinggi.

PROSEDUR
Metode
Antibodi terhadap hepatitis A dapat ditemukan dengan tehnik immunoassay, seperti
enzyme immunoassay (EIA), enzyme linked immunoassay (ELISA), enzyme linked
fluorescent assay (ELFA), atau radioimmunoassay (RIA). Membuktikan adanya viremia
tidak mungkin, sedangkan untuk menyatakan virus dalam tinja diperlukan pemeriksaan
mikroskop elektron.
Spesimen
Spesimen yang digunakan untuk deteksi anti HAV adalah serum atau plasma (lithium
heparin, EDTA, dan sitrat). Kumpulkan 3-5 ml darah vena dalam tabung bertutup merah
(tanpa antikoagulan), tutup hijau (heparin), tutup ungu (EDTA) atau tutup biru (sitrat).
Pusingkan sampel darah, dan pisahkan serum atau plasma dari darah untuk diperiksa
laboratorium.
Tidak ada pembatasan asupan makanan atau cairan.
Spesimen hemolisis, lipemia, atau ikterik (hiperbilirubinemia) dapat mempengaruhi
pengujian. Jika memungkinkan, pengambilan sampel darah yang baru.
Spesimen dapat disimpan pada suhu 2-8oC sampai dengan 7 hari, dan untuk waktu
yang lama dapat disimpan beku pada suhu -25 6oC. Hindari pembekuan dan
pencairan (thawing) spesimen berkali-kali.
NILAI RUJUKAN
Tidak terdeteksi (negatif)
MASALAH KLINIS
Hasil positif : infeksi virus hepatitis A (HAV)
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium
Pigmentasi specimen (hemolisis, lipemia, ikterik) dapat mempengaruhi hasil
pembacaan

AntigenPermukaanHepatitisB(HBsAg)
Antigen permukaan virus hepatitis B (hepatitis B surface antigen, HBsAg) merupakan
material permukaan dari virus hepatitis B. Pada awalnya antigen ini dinamakan antigen
Australia karena pertama kalinya diisolasi oleh seorang dokter peneliti Amerika, Baruch
S. Blumberg dari serum orang Australia.
HBsAg merupakan petanda serologik infeksi virus hepatitis B pertama yang muncul di
dalam serum dan mulai terdeteksi antara 1 sampai 12 minggu pasca infeksi, mendahului
munculnya gejala klinik serta meningkatnya SGPT. Selanjutnya HBsAg merupakan satusatunya petanda serologik selama 3 5 minggu. Pada kasus yang sembuh, HBsAg akan
hilang antara 3 sampai 6 bulan pasca infeksi sedangkan pada kasus kronis, HBsAg akan
tetap terdeteksi sampai lebih dari 6 bulan. HBsAg positif yang persisten lebih dari 6 bulan
didefinisikan sebagai pembawa (carrier). Sekitar 10% penderita yang memiliki HBsAg
positif adalah carrier, dan hasil uji dapat tetap positif selam bertahun-tahun.
Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnosa infeksi virus hepatitis B, baik untuk
keperluan klinis maupun epidemiologik, skrining darah di unit-unit transfusi darah, serta
digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis. Pemeriksaan ini juga bermanfaat
untuk menetapkan bahwa hepatitis akut yang diderita disebabkan oleh virus B atau
superinfeksi dengan virus lain.
HBsAg positif dengan IgM anti HBc dan HBeAg positif menunjukkan infeksi virus
hepatitis B akut. HBsAg positif dengan IgG anti HBc dan HBeAg positif menunjukkan
infeksi virus hepatitis B kronis dengan replikasi aktif. HBsAg positif dengan IgG anti HBc
dan anti-HBe positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B kronis dengan replikasi
rendah.
Pemeriksaan HbsAg secara rutin dilakukan pada pendonor darah untuk mengidentifikasi
antigen hepatitis B. Transmisi hepatitis B melalui transfusi sudah hampir tidak terdapat
lagi berkat screening HbsAg pada darah pendonor. Namun, meskipun insiden hepatitis B
terkait transfusi sudah menurun, angka kejadian hepatitis B tetap tinggi. Hal ini terkait
dengan transmisi virus hepatitis B melalui beberapa jalur, yaitu parenteral, perinatal, atau
kontak seksual. Orang yang berisiko tinggi terkena infeksi hepatitis B adalah orang yang
bekerja di sarana kesehatan, ketergatungan obat, suka berganti-ganti pasangan seksual,
sering mendapat transfusi, hemodialisa, bayi baru lahir yang tertular dari ibunya yang
menderita hepatitis B.
PROSEDUR
Metode
HBsAg dalam darah dapat dideteksi dengan tehnik enzyme immunoassay (EIA), enzyme
linked immunoassay (ELISA), enzyme linked fluorescent assay (ELFA), atau
immunochromatography test (ICT).
Spesimen
Spesimen yang digunakan untuk deteksi HBsAg adalah serum atau plasma heparin.
Kumpulkan darah vena 3-5 ml dalam tabung tutup merah atau tutup kuning dengan gel
separator, atau dalam tabung tutup hijau (lithium heparin). Pusingkan sampel darah, lalu
pisahkan serum atau plasma untuk diperiksa laboratorium.
Spesimen yang ikterik (hiperbilirubin sampai dengan 500 mol/l), hemolisis (kadar
hemoglobin sampai dengan 270 mol/l), dan lipemik (sampai dengan 30 mg/dl) dapat
mempengaruhi hasil pembacaan.
Sampel dapat disimpan pada suhu 2-8oC selama 5 hari, atau -25 6oC sampai dengan 2
bulan.

NILAI RUJUKAN
Dewasa dan Anak-anak : Negatif
MASALAH KLINIS
HBsAg positif dijumpai pada : Hepatitis B, Hepatitis B kronis. Kurang Umum : Hemofilia,
sindrom Down, penyakit Hodgkin, leukemia. Pengaruh obat : ketergantungan obat.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium
Serum atau plasma ikterik, hemolisis, atau lipemik dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan.

AntiHBs
Anti HBs merupakan antibodi spesifik untuk HBsAg, muncul di darah 1 sampai 4 bulan
setelah terinfeksi virus hepatitis B. Anti HBs diinterpretasikan sebagai kekebalan atau
dalam masa penyembuhan penyakit hepatitis B. Antibodi ini memberikan perlindungan
terhadap penyakit hepatitis B.
Tes anti-Hbs positif juga dapat berarti seseorang pernah mendapat vaksin hepatitis B
atau immunoglobulin. Hal ini juga dapat terjadi pada bayi yang mendapat kekebalan dari
ibunya. Anti-Hbs posistif pada individu yang tidak pernah mendapat imunisasi hepatatitis
B menunjukkan bahwa individu tersebut pernah terinfeksi virus hepatitis B.
Dulu, diperkirakan HBsAg dan anti HBs tidak mungkin dijumpai bersama-sama, namun
ternyata sepertiga carrier HBsAg juga memiliki anti-HBs. Hal ini dapat disebabkan oleh
infeksi simultan dengan sub-tipe yang berbeda.
PROSEDUR
Metode
Anti-HBs dapat dideteksi dalam darah dengan beberapa tehnik imunoassay, diantaranya
seperti enzyme immunoassay atau enzyme linked fluorescent assay (ELFA). Pada tehnik
ELFA, anti-HBs dideteksi berdasarkan intensitas fluoresensi dari sampel setelah
penambahan substrat yang mengandung zat fluorescen.
Spesimen
Untuk mendeteksi anti-HBs dapat digunakan serum atau plasma heparin. Sebanyak 3-5
ml darah vena diambil dan dikumpulkan dalam tabung tutup merah atau tutup kuning
dengan gel separator, atau tabung tutup hijau (lithium heparin). Sampel darah
dipusingkan, lalu serum atau plasmanya dipisahkan untuk diperiksa laboratorium.
Setelah dipisahkan dari bekuan, sampel serum atau plasma dapat disimpan pada suhu
2-8'C dan dapat bertahan selama 5 hari. Jika disimpan pada suhu -25 6'C tahan selama
2 bulan.
Nilai Rujukan : Masalah Klinis : -

Faktor yang dapat memepengaruhi hasil laboratorium :


Sampel hemolisis, lipemia, dan hiperbilirubinemia.

Anda mungkin juga menyukai